Tentang Perayaan Natal: Surat Terbuka
SURAT TERBUKA KEPADA KETUA RAPAT PENDETA HKBP: TENTANG PERAYAAN NATAL
Ketua Rapat Pendeta HKBP yang terhormat,
Tak lama lagi Natal akan tiba. Dan sejak beberapa minggu lalu gereja - kita para pendeta dan anggota-anggota kita secara pribadi dan kelompok - telah mulai sibuk lagi mempersiapkan diri menghadapi perayaan Natal atau Kelahiran Tuhan Yesus Kristus ini. Saya pikir kita para pendeta telah memiliki pemahaman yang sama bahwa ada dan banyak yang harus diluruskan dalam perayaan-perayaan Natal di gereja kita dan yang melibatkan anggota jemaat kita HKBP. Satu hal yang paling mendasar adalah menyangkut waktu perayaan natal yang sudah lama sekali - dan kita sadari - menyimpang dari kalender liturgi atau ibadah gereja. Bukan hanya kita pendeta, namun banyak warga HKBP pun sesungguhnya telah menyadari bahwa menurut kalender liturgi gereja saat-saat perayaan Natal atau biasa disebut Masa Raya Natal adalah tanggal 25 Desember sampai dengan 6 Januari (Hari Epifanias). Sebelum tanggal 25 Desember empat minggu berturut-turut kita merayakan Minggu Adven yang mengingatkan kita akan penantian Israel akan Sang Juruslamat dan sekaligus penantian kita akan kedatangan Kristus kedua kalinya kelak.
Kita ketahui dan pahami bersama bahwa minggu Adven pertama kita tandai dengan menyalakan satu lilin. Minggu Adven kedua kita nyalakan dua lilin. Minggu Adven ketiga, kita nyalakan tiga lilin dan minggu Adven ke empat kita nyalakan empat lilin. Keempat lilin itu adalah simbol pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian kita. Masa Adven sebab itu jelas adalah masa persiapan dan permenungan dan belum merupakan saat untuk berpesta Natal. Tanpa ingin menyalahkan siapa-siapa, namun kenyataan menunjukkan bahwa kalender liturgi gereja yang sangat baik menggambarkan sejarah keselamatan, telah menjadi kacau dan berantakan karena ketidaksetiaan kita mengikutinya. Pada minggu-minggu Adven telah terjadi (dan begitu banyak terjadi) perayaan Natal. Akibatnya masa Adven sebagai masa permenungan akan pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian pun menjadi hilang maknanya. Contoh yang kita alami hampir saban tahun: pada hari ini kita merayakan natal namun besok minggunya kita kembali merayakan adven dan lusanya merayakan natal lagi.
Dampak lain dari pengingkaran kita akan masa Adven sebagai masa permenungan (dan bukan masa berpesta) adalah Natal pun kehilangan makna sejatinya. Sebab Natal pada hakikatnya hanya dapat dihayati oleh orang-orang yang berharap, bertobat dan bersukacita serta menanti-nanti kepada Kristus. Berhubung kita tidak lagi sungguh-sungguh ber-Adven maka kita pun menjadi tidak serius ber-Natal. Akibatnya Natal pun jatuh menjadi sekadar pesta hiruk-pikuk, seremonial konsumtif dan pemborosan belaka. Itulah yang terjadi selama bertahun-tahun dan kita dengan jujur mengakui ikut terlibat di dalamnya atau membiarkannya.
Ketua Rapat Pendeta Yth,
Pada tahun 2011 gereja kita HKBP akan merayakan Jubileum ke 150 tahun. Menurut kami inilah momentum atau saat yang paling tepat bagi kita untuk kembali kepada kebenaran. Marilah kita memberanikan diri mengambil keputusan untuk kembali ke liturgi gereja, salah satu wujudnya adalah kembali merayakan minggu-minggu Adven sebagai minggu permenungan pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian. Sebab itu kami menyarankan melalui Ketua agar Rapat Pendeta HKBP yang akan datang mengambil keputusan yang berani dan ikhlas, kembali kepada kebenaran dan keindahan liturgi gereja.
Secara kongkret: saya menyarankan agar Rapat Pendeta HKBP sebagai pemegang otoritas tertinggi dalam hal dogma dan ajaran mengambil keputusan melarang semua kegiatan pesta natal di lingkungan HKBP sebelum tanggal 25 Desember dan sesudah tanggal 6 Januari (Hari Raya Epifanias). Sejalan dengan itu maka pemasangan simbol-simbol natal di gereja, antara lain pohon natal, juga baru dilakukan tanggal 24 Desember dan telah diakhiri sebelum tanggal 6 Januari. Saya pikir secara substansial kita semua sepakat bahwa memang itulah sesungguhnya saat-saat perayaan Natal menurut kalender ibadah. Sebab itu yang menjadi persoalan bagi kita adalah bagaimana menjelaskannya kepada warga jemaat agar hal ini dipahami dan diterima. Untuk menghindarkan kekacauan di jemaat-jemaat, saya menyarankan agar keputusan ini dibuat di Rapat Pendeta terdekat, namun pelaksanaannya efektif mulai tahun 2009 atau paling lambat tahun 2010.
Ketua Rapat Pendeta Yth,
Demikianlah surat ini saya sampaikan secara terbuka. Harapan saya sebelum Jubileum ke 150 Tahun HKBP kita telah dapat kembali ke rel yang benar dalam hal merayakan Natal dan Adven ini. Saya percaya bahwa dengan kembali kepada kalender liturgi ini kita HKBP secara khususnya dan umat Kristen umumnya akan mendapat berkat yang berlimpah-ruah dari Allah dan dari AnakNya Tuhan Yesus Kristus melalui permenungan Adven yang tulus dan perayaan Natal yang sungguh-sungguh.
Serpong Tangerang, 11 Oktober 2008
Salam, doa dan hormat kami,
Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
(salah seorang pendeta HKBP, kini melayani di HKBP Serpong Tangerang)
Tembusan disampaikan dengan hormat kepada: Eforus HKBP Ompu i Pdt DR Bonar Napitupulu
October 11th, 2008 at 4:45 pm
Bravo!
October 11th, 2008 at 5:30 pm
Mohon maaf sebelumnya. Saya bukan seorang pendeta tapi berusaha (baca: manjugulhon) memberi pendapat.
Ia pandapothu SANGAT SETUJU KALAU PERAYAAN NATAL DIADAKAN MULAI TGL 25 DESEMBER SAMPAI 6 JANUARI.
Mauliate godang. Ditambai angka dongan ma.
October 11th, 2008 at 10:08 pm
Terlepas dari bagaimana nanti tanggapan Rapat Pendeta/Pimpinan HKBP, bagaimana dengan Pak Pendeta sendiri?
Apakah Pak Pendeta akan konsekwen menolak undangan kelompok/persekutuan apa pun untuk memimpin ibadah Perayaan Natal yang diadakan sebelum 25 Desember?
Daniel Harahap:
Menunggu ada keputusan Rapat Pendeta HKBP ada beberapa hal yang saya lakukan:
Pertama: sebagai pendeta jemaat dalam banyak hal saya tidak bisa bertindak sendiri namun harus meminta persetujuan eforus, praeses, rapat pendeta dan rapat majelis. Sebab itu menyangkut perayaan natal yang dilakukan unit2 jemaat HKBP Serpong sebelum tanggal 25 Desember tentu tidak bisa saya tolak, artinya suka atau tak suka akan saya layani. Namun saya akan tetap menyuarakan baik melalui mimbar maupun berbagai kesempatan bahwa perayaan natal yang sesungguhnya harus dilakukan antara 25 Desember s/d 6 Januari. Namun jika tahun 2009 Rapat Pendeta HKBP mengambil keputusan melarang natal sebelum 25 Desember, tentu saja saya akan segera memberlakukannya di jemaat.
Kedua: jika ada permintaan pelayanan kotbah diluar HKBP Serpong sebelum tanggal 25 Desember yang bukan merupakan kewajiban saya langsung tentu akan saya tolak. Namun jujur beberapa bulan lalu saya sudah sempat terikat melayani natal di dua tempat di luar HKBP pada tanggal 8 dan 20 Desember nanti. Tentu saja apa yang sudah sempat saya sepakati di waktu lalu tidak mungkin saya batalkan lagi.
Ketiga: pohon natal di rumah saya akan saya pasang tanggal 24 Desember. Namun berhubung belum ada keputusan rapat pendeta hkbp, tentu saja saya tidak akan melarang pohon natal di gereja dipasang sebelum 24 Desember.
October 11th, 2008 at 10:38 pm
Saya harap pemegang otoritas tertinggi HKBP membaca surat ini dengan hati dan pikiran yang terbuka dan segera menindaklanjutinya.
(Hermin, yang sangat merindukan makna “pengharapan, pertobatan , sukacita dan penantian” )
Daniel Harahap:
Hanya informasi, yang harus menindaklanjuti surat ini bukan Eforus, tetapi Ketua Rapat Pendeta HKBP. Di gereja kita menyangkut ajaran atau dogma pengambil keputusan tertinggi adalah Rapat Pendeta HKBP. Doakanlah dan dukunglah Rapat Pendeta HKBP tidak sekadar membenarkan kebiasaan, tetapi berani memulai membiasakan kebenaran.
October 11th, 2008 at 11:12 pm
Usul amang baik, tapi saya lebih setuju Rapat Pendeta HKBP tidak langsung mengambil keputusan melarang semua kegiatan pesta natal di lingkungan HKBP sebelum tanggal 25 Desember dan sesudah tanggal 6 Januari (Hari Raya Epifanias), melainkan mengambil keputusan terlebih dahulu untuk memberikan sosialisasi dan pemahaman yang benar kepada jemaat HKBP mengenai hal tersebut.
Daniel Harahap:
Setuju. Jika dibaca surat saya mengusulkan senadainya kepusan diambil namun tetap efektif di tahun 2009 atau 2010. Perlu masa penyesuaian dan penjemaatan agar tidak menimbulkan kekacauan.
October 11th, 2008 at 11:27 pm
Menurut saya persoalannya adalah ketaatan kita pada apa yang kita terima yaitu: Kalender Gerejawi. Kita merayakan Advent, lantas mengapa kita harus “pajolojolohon” merayakan Natal kalau memang di Almanak tertulis Natal baru dirayakan tanggal 25 Desember. Atau supaya kita tidak usah pusing-pusing diatur oleh kalender gerejawi, sepakat saja HKBP tidak usah mempergunakan kalender gerejawi, jadi tidak ada Advent, tidak ada Peringatan orang meninggal, dlsb. Rayakanlah Natal menurut tanggal yang telah kita sepakati dan terima bersama sebagai gereja. Jadi saya setuju kepada amang DTA, kalau HKBP mau kembali ke jatidirinya, ya kembalilah kepada kalender gerejawi dan kepada apa yang telah kita sepakati bersama.
Daniel Harahap:
Supaya lebih komplit kacaunya rayakan saja Paskah, Kenaikan Yesus dan Turunnya Roh Kudus juga di bulan Desember.
October 12th, 2008 at 3:24 am
Natal memang dirayakan tanggal 25 Desember oleh Kristen Protestan, termasuk HKBP.. Saudara kita di Eropa Timur ( yang beragam Kristen Orthodox) kalau tidak salah merayakan Natal tanggal 7 Januari. Bukan kah yang terpenting adalah Esensi Natal itu sendiri. Bahwa hari itu adalah Hari Kelahiran Dia.. Dan kita merayakannya dengan suka cita, karena pada saat itu Juru Selamat manusia telah lahir, dan nantinya akan mengajarkan kebaikan ke dunia..
Tanggal dan sebagainya hanyalah seremonial… Semangat kasih dalam Natal jauh lebih penting…
Daniel Harahap:
Kenapa tidak merayakan Paskah dan Hari Turunnya Roh Kudus di bulan Desember? Bukankah yang pentingnya esensinya?
Ada-ada saja.
Kenapa tidak merayakan natal tanggal 17 Agustus atau minggu keempat Maret atau cocokkan saja dengan Lebaran?
Setahu saya gereja ortodoks tidak merayakan natal tanggal 7 januari. Tanggal 6 Januari adalah hari raya epifania atau hari raya tiga raja dari Timur baik di gereja ortodoks, katolik maupun hkbp dll sesuai kalender liturgi.
October 12th, 2008 at 10:10 am
Sejak dulu HKBP sudah setuju dan memahami Perayaan Natal adalah dimulai tgl 25 Desember, dan saya ingat Pendeta kami di kampung setiap memimpin ibadah “natal” sebelum tgl 25 Desember selalu menyapa jemaat dengan sapaan “salamat maradvent ma dihita”. Usul saya kalau memang amang Daniel sudah “terlanjur” menerima bookingan jemaat untuk memimpin ibadah “natal” di bawah tgl 25. Amang kasi usul ama panitianya untuk membuat ayat-ayat liturgi yg isinya sampai BERITA PENGHARAPAN kedatangan Mesias dan tanpa nyanyian Malam Kudus, mungkin bisa diganti nyanyian Adven yg tidak kalah syahdunya. Unang holan sai paimaima sian pusat ate amang.. ai huria pe jongjong, tarlumobi HKBP mamungka sian toru do dungi dilayani pusat. Ra molo da denggan jala dibagasan HASINTONGAN do dang pola ingkon paimaimaon……..
Daniel Harahap:
Menurut saya mengucapkan selamat adven pada saat perayaan natal adalah rancu. Perayaan natal ya perayaan natal. Peringatan Adven ya peringatan Adven.
October 12th, 2008 at 2:19 pm
Sekedar masukan………… Pengalaman tingki pembentukan Panitia Natal Hampir semua anggota/jemaat tahu bahwasanya Natal adalah tanggal 25 Des. dan bagusnya dirayakan sesudahnya. Pertanyaannya : 1. Haruskah Perayaan Natal dibatasi dirayakan di Huria saja tanpa harus ada Panitia Natal Dongan sahuta, marga, sikkola minggu, remaja, Parende Ama, Parende Ina , Instansi, lingkungan kerja, dongan saparmeaman dna.
2. Jika tidak .. Cukupkah waktu dan tempat merayakannya kalau hanya boleh dirayakan dengan interval waktu 26 sampai 7 januari? Sementara kalau kita check di gereja maupun gedung yang biasa buat perayaan mungkin sudah full dari tanggal 1 des sampai (biasanya maks 30 des )
4. Panitia Juga akan kesulitan mencari waktu “Pengkotbah” jika dalam waktu sesingkat itu. Bukankah pada bulan Desember juga ” Pengkotbah” mendapat ” Extra Pelayanan ” alias Full Booking ? Dan juga bagi sebagian orang termasuk warga HKBP barangkali menjadikan perayaan tsb sekaligus Panen Rejeki ( gedung, catering, percetakan, dsb?? )
3. Jika dirayakan di bulan Januari biasanya sudah berubah nama menjadi “Pesta Bona Taon ” yang kadang juga diadakan sampai bulan Maret
4. Saya malah sangat setuju kalau boleh dirayakan ( Natal dan Hari raya juga ) diluar bulan biasanya ( dibagi dua ) sehingga tidak kesulitan untuk actualisasi kehidupan sehari hari cari Tiket Mahal, harga sembako yang melangit dna. Tapi mungkinkah ??
5. Intinya Semua Perayaan Natal (kurang pas kalau perayaan Advent )menginginkan Perubahan kearah KEBAIKAN masalah waktunya jadi maju atau mundur itu barangkali karena kemajuan/kecanggihan zaman………. mauliate
October 12th, 2008 at 5:01 pm
Las roha amang manjaha surat muna on. Ai nang pe so huria ni HKBP iba alai diuju haetekon rodi saonari, sai tontong do sukkun-sukkun di roha taringot tu akka huria-huria na marpesta natal di tikki masa advent. songon na nidok ni amang i, boasa ma ikkon marpestai di tikki masa-masa renungan.
Alai nabinoto, nagumodang alasanna ima asa godang jolma mangihuthon ulaon pesta i.. molo dibaen dung tgl 25 ai nga moru jolma namarhuria. Adong muse mandok, asa songon na asing tu katolik ninna (alana katolik di hutanta biasa mambaen pesta natal dung tgl 25). Alasan aha muse ma on inna rohakki sipata.. hehehe..
Songoni ma jolo amang tanggapan sian iba, horas jala gabe, sai dipatolhas Tuhan i sude akka rencana nauli, ungkap akka roha ni amanta pandita dohot pangula ni huria na asing, asa adong sada ni roha tu hadengganonta saluhutna. horas..
Daniel Harahap:
Tatangianghon ma Amang asa barani angka hurianta mulak tu kalender ni liturgi. Gurungku najolo mandok: holan angka na satia maradven do na boi manghilalahon balga ni las ni roha ni hatutubu ni Jesus i.
October 12th, 2008 at 6:53 pm
Tanggapan untuk Inang atau Amang Menanti:
1. Perayaan Natal menurut kalender Gerejawi menurut yang saya pahami dari paparan Amang DTA dimulai dari jemaat HKBP. Menurut hemat saya, HKBP tidak dapat memaksakan pelaksanaan kalender gerejawi yang diakuinya dalam lingkup marga, instansi atau pemerintahan yang tidak mengatur pelaksanaan kalender gerejawi. Tapi selama perayaan Natal itu adalah perayaan Natal di HKBP (kategorial), gereja HKBP memiliki kalender gerejawi dimana Adven dirayakan menurut rentang waktu tertentu seperti juga Natal yang memiliki rentang waktu tertentu pula. Jadi, mari! bagi yang merasa jemaat HKBP untuk turut terhadap tata cara liturgis (1 Kor 14:40).
2. Saya pikir untuk masalah gedung tidak ada persoalan untuk punguan2 marga atau instansi dlsb. Ketentuan kalender gerejawi berlaku untuk gereja-gereja yang mengakuinya. Kalau suatu gereja atau punguan marga memiliki pemahaman berbeda tentang Adven atau Natal, tidak menjadi masalah. Saya pernah menghadiri Natal sebuah instansi yang dirayakan sebelum tanggal 25 Desember, yang juga dihadiri oleh warga Katolik, yang notabene hanya merayakan Natal setelah tanggal 25 Desember.
3. Memang sulit ketika makna Natal berubah menjadi ajang panen rejeki baik bagi kami para pengkhotbah maupun pengusaha katering. Tapi sebagai pengkhotbah, saya pribadi memahami Natal sebagai ibadah, peringatan, dan momen perenungan sama seperti saya merayakan Paskah (yang kurang populer dari Natal). Jadi tolong untuk tidak mengidentikkan karya keselamatan Kristus (yang jauh dari kemeriahan itu) dengan panen rejeki.
4. Lagi-lagi, Natal adalah karya keselamatan Allah yang terbesar bagi manusia melalui Kristus yang menjadi manusia dan turut menderita bersama manusia. Jadi menurut saya tidak ada hubungannya dengan tiket mudik dan harga Sembako yang melangit.
5. Ketika saya melayani di HKBP Sidoarjo, Jawa Timur (setahun yang lalu), saya berusaha mengajak seluruh jemaat HKBP Sidoarjo & kategorial untuk memahami makna Natal itu sendiri. Hasilnya cukup memuaskan, saat itu semua seksi sepakat merayakan Natal di gereja setelah tanggal 25 Desember, dan tidak ada masalah waktu itu. Walaupun saya tetap berkhotbah di punguan marga, instansi dan wijk (sebelum 25 Desember), karena saya beranggapan mereka tidak memiliki kalender gerejawi yang sama.
6. Sama seperti Amang DTA, saya sering risih ketika pada perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember saya sudah bernyanyi: “Nunga jumpang muse ari Pesta i, hatutubu ni Tuhanta Jesus i,” (BE 57:1) kemudian pada hari Minggunya (Minggu Advent) saya bernyanyi:”Hamuna na porsea i, sai tomu Tuhan Jesus i, pahehe rohamuna; Jonok do ari pesta ni saluhut huriana i, dsa (BE 44:1). Ai na dia do, nantoari nunga marari pesta, hape sadarion manjangkon ari pesta muse?
October 12th, 2008 at 7:43 pm
saran yg baik. tetapi sesama anggota rapat pendeta ‘dilarang saling mendahului.’ alangkah lebih tepatnya bila usul ini didiskusikan dulu di dalam rapat tertinggi tersebut. itulah menurut saya etika ‘profesional’ dimana-mana. sebab hal yang amang pendeta usulkan ini sesungguhnya bukan hal-hal yang dapat diputuskan secara demokratis (suara terbanyak) tetapi melalui pergulatan teologis. jadi kurang ‘une’ lah kalau dilemparkan melalui surat terbuka (sedangkan paus saja hati-hati sekali bila melontarkan surat terbuka).
jangan sampai seperti permasalahan hisab dalam penentuan dimulainya ramadhan dan lebaran. jemaat nanti jadi bingung. apalagi yang ada di huta-huta, yang tidak baca internet. akibat ketidakseimbangan informasi, mereka terlongo-longo sebab tiba-tiba mereka disodori adanya wacana natal sebelum dan sesudah 25 desember. masih banyak kan wacana lain yg lebih penting?
Daniel Harahap:
Masalah kalender liturgi ini sudah lama sekali menjadi bahan diskusi dan studi, dan sebenarnya secara umum para pendeta hkbp sepakat bahwa merayakan natal sebelum tanggal 25 Desember adalah tidak sejalan dengan liturgi yang dipahami dan dihayati hkbp. Pertimbangan selama ini membiarkan natal selama masa adven tidak teologis, tetapi lebih karena faktor-faktor non teologis. Mengapa surat terbuka? Karena saya berharap agar warga jemaat HKBP ikut menggumulinya dan sebab itu akan lebih mudah menerimanya jika rapat pendeta memutuskannya. Jika pak atau “bu gokkon” menganggap ada wacana lain ya silahkan saja diutarakan, namun saya melihat pengembalian natal ke rel ini juga sangat penting dan mendesak dengan berbagai alasan yang saya kemukakan di surat.
Satu lagi: yang paling “heppot” dan “gintal” merayakan natal secepatnya, sebanyaknya dan semewah-mewahnya justru orang kota, sebab itu kemungkinan penolakan bukan datang dari jemaat desa tetapi kota metropolitan seperti jakarta.
October 12th, 2008 at 11:30 pm
Surat terbuka untuk Bapak DTA.
Tradisi HKBP yang saya alami tentang natal-natal yang dilakukan oleh sekolah-sekolah (dULU DISANA pEMDA TIDAK PERNAH MERAYAKAN NATAL BERSAMA) khususnuya di hitaan sifatnya adalah adventus (menurut pemahaman saya). tanggal 24 Desember Malam adalah natal umum merupakan puncak dari seluruh natal-natal parsial. Pada malam itu seluruh orang lengkap dengan baju barunya datang bernatal di Gereja.
Untuk penambahan pengetahuan bapak DTA, di kampung kami pada tanggal 24 desember dan 25 Desember setiap rumah tidak menyediakan kembang loyang dll atau memotong ayam DAN KELUARGA TIDAK BERKUMUPUL. Natal di kampung bagi HKBP lebih banyak tentang Gaba-gaba dan pajojorhon Festival yang dicampur dengan makanan, minuman enak dan keramaian lebih banyak pada malam 31 Desember 12.00 dan 1 januari , disinilah ayam dipotong, kue-kuean dan minuman disajikan dan terjadilah saling maaf memaafkan setelah dinyanyikan naung salpu taon na buruk i, dan di pangarantoan on tradisi ini masih dilakukan oleh keluarga saya.
Saya nggak tau persisnya Bapak DTA ini lahir dan besar dimana. Saya berasal dari kampung dan anak seorang almarhum mantan Wakil Guru Huria. Tradisi HKBP yang saya pernah alami dan sangat indah adalah pada saat menjelang 12.00 31 Desember saya dengan Bapak saya pergi jalan kaki ke Geraja pakai Mantel (overcoat burjer) karena di Balige jaman dulu sangat dingin untuk mamamalu lonceng gereja/giring-giring pertanda pergantian tahun. Yang aneh bagi saya adalah Why is it so important tu Bapak DTA untuk mengeluarkan Fatwa tentang perayaan natal??? Dan ada kecenderungan dari Bapak ini untuk lebih bergaya Top Down dalam bergereja???. Bapak DTA yang terhormat, kami hormat sama Pendeta dan aparatuturnya karena kami mau, bukan karena kami diatur untuk itu!. Apa yang mau saya sampaikan adalah jadilah Pendeta yang Toman, Porman jala gabe siitiruan asa gabe tabba hormat nmi tu hamu angka Pandita ni HKBP, apa bila tidak unang pola salahaon hamu ruas i molo hurang dihargai jala hurang hormat hamu Pandita i di mata ni ruas i.
Daniel Harahap:
Saran saya kepada Pak Salngam:
Pertama: belajarlah lagi tentang tata ibadah hkbp secara khusus kalender ibadah hkbp.
Kedua: belajarlah lagi membedakan makna natal dan tahun baru
Ketiga: belajarlah lagi tentang aturan hkbp khususnya tugas dan tanggungjawab rapat pendeta dibidang ajaran
Keempat: belajar juga tentang membedakan urusan gereja dan urusan pribadi.
October 13th, 2008 at 2:30 am
HHmmmm, Natal pas 17 Agustus, Natal sama dengan lebaran? Atau Natal dan Paskah digabung? Kalau bisa semangat Natal ada tiap hari. Jadi Dunia menjadi damai dan tempat yang lebih baik untuk hidup….
Tidak apa2 juga kalau keputusan gereja nanti menetapkan natal pada hari tertentu.. Memang sudah seharusnya seperti itu. cheers
October 13th, 2008 at 4:43 am
Catatan pro pak Salngam:
1. Sepertinya bapak kurang memahami makna Natal dan Tahun Baru ya. Yang dipermasalahkan Natal, koq yang dibahas malam tahun baruan.
2. Respon untuk kalimat bapak ini: “Bapak DTA yang terhormat, kami hormat sama Pendeta dan aparatuturnya karena kami mau, bukan karena kami diatur untuk itu!” Seharusnya menjadi Kristen yang baik taat kepada hamba Tuhan atau pelayan tidak cukup hanya karena mau, tetapi karena kita diajarkan Alkitab untuk taat kepada pemimpin apalagi kepada para pelayan. Silahkan baca Ibrani 13:7.
3. Saya pikir amang DTA tidak mengeluarkan Fatwa, dan gereja sendiri sepertinya tidak pernah mengenal istilah Fatwa. Yang ada paling surat penggembalaan. Yang hendak dijelaskan di surat terbuka amang DTA adalah kembali kepada semangat ajaran yang diterima oleh HKBP. HKBP dalam almanaknya menuliskan bahwa Advent ada 4 minggu, tapi kenapa sudah ada yang bernatal pada masa-masa Advent? Sama seperti kita kuliah, masih semester 1 koq sudah dikasih pelajaran semester 2. Kira2 begitu, maaf itu pemahaman saya orang awam. Jadi kalau ada jemaat yang kurang hormat kepada pendetanya karena pendetanya berkata benar (secara ajaran), siapa yang salah ya?
October 13th, 2008 at 6:13 am
Untuk Fro7, kenapa hanya semangat Natal yang harus ada tiap hari, kenapa tidak sekalian semangat Paskah atau kenaikan Kristus? Sepertinya Natal lebih penting dari perayaan lainnya.
October 13th, 2008 at 7:20 am
Dalam menetapkan keputusan, Rapat Pendeta HKBP sebaiknya mempelajari dulu kenyataan yang ada di lapangan (di jemaat-jemaat). Tahun lalu kami di HKBP sa-ressort Batam, telah disepakati tidak boleh ada perayaan natal sebelum natal 25. Tetapi yang terjadi malah ada perayaan Advent, yang isi acaranya liturgi natal pada umunya, hanya waktu penyalaan jumlah lilinnya disesuaikan dengan advent yang keberapa pada saat itu. Kalau boleh para theolog kami, bisa merancang konsep liturgi perayaan Advent yang sesungguhnya. Karena bagi para perantau yang akan mudik sebelum tanggal 25 tidak mungkin lagi bersama-sama dengan kelompoknya di Batam, merayakan momentum desember yang memang selalu mengharukan, karena hanya setahun sekali natal ini. Sebagai info: Saking banyaknya kelompok yang merayakan natal, gereja full jadwal, akhirnya ada perusahaaan di batam yang merayakan natal tanggal 30 November. Ini Kenyataannya. Kalau perlu diadakan seminar, atau pembinaan, pengarahan bagi para panitia natal, atau panitia advent.
October 13th, 2008 at 9:38 am
Syalom buat semua pencinta Rumametmet !
Pembahasan mengenai waktu yang tepat untuk perayaan Natal ini sepertinya mulai menghangat. Tetapi, kita semua harus mengingat bahwa tema kelahiran Yesus Kristus (kalau nggak salah) adalah “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi, damai sejahtera di bumi bagi orang yang berkenaan kepadaNya”. Untuk itu, mohon Bapak/Ibu yang membuat pernyataan, analisa atau sejenisnya tetap harus berpedoman kepada “Damai sejahtera” dan “Kemuliaan Allah”. Terima Kasih
October 13th, 2008 at 9:44 am
kalau memang mau dibuat christmas in april or july, why not? atau tiap hari kalau perlu
saya setuju dengan pendapat fro7, esensi dari natal itu yang paling penting, bukan sekedar ritual-ritual perayaan.
Daniel Harahap:
Sebagai pendapat dan sikap pribadi boleh-boleh saja. Tapi gereja tidak bisa seenaknya. HKBP masih memakai kalender ibadah atau kalender liturgi yang disusun sedemikian untuk membantu jemaat menghayati sejarah keselamatan. Salah satu ketetapan dalam kalender itu adalah ada empat minggu adven sebelum natal yang hendak mengingatkan jemaat akan penantian umat purba yang begitu panjang akan kedatangan Sang Juruslamat, sekaligus penantian gereja akan kedatangan Kristus kembali kelak. Pada masa penantian itu jugalah gereja hendak menyatukan dirinya berdoa bersama semua orang yang sedang menanti-nantikan kedatangan Tuhan ke dalam hidupnya dan jawaban Tuhan atas pergumulan dan kerinduannya. Pertanyaan saya: apakah Anda mau menafikan semua itu?
October 13th, 2008 at 10:16 am
Pro Bapak DTA dan Bapak Antonio.
Melakukan parmahanion adalah tugas panggilan Gereja dari para Pendeta dan Partohonan. Membawa gembala ke padang rumput yang lomak adalah perbuatan terpuji. Membawa napinarmahanan tu tempat na koring dan tidak ada rumput akan kurang mendapat restu dari pemilik. Saya tidak tau persis lagi apa yang dimaksudkan dengan Aturan Peraturan HKBP saat ini.
Tata ibadah di Gereja HKBP kami, setahu saya sampai sekarang juga tidak berubah selama masa-masa adventus dan deimikian juga tetap masih pakai almanak HKBP, natal sekolah minggu, Natal remaja masih tetap juga dilakukan selama pra Natal Umum.
Yang saya komentari adalah ikut campurnya Pendeta dalam perayaan/pesta natal yang dilakukan oleh Kantor-kantor, marga dsb.
Menurut saya pesta tersebut adalah Festival, tidak ada kaitannya dengan kalender HKBP. HKBP khususnya jemaatnya terkenal dengan ke pragmatisannya
Jika Bapak Antonio kurang faham tentang read between the line, biar lah saya jelaskan, kenapa saya Bandingkan dengan Natal dan Tahun Baru adalah karena apa yang dilakukan dalam pesta-pesta tersebut adalah benar-benar tradisi festive/ fiesta/pesta rakyat bukan makna teologisnya.
Nomensen menurut saya adalah penganut Teologi kontekstual. Demikian juga kebanyakan orang HKBP sekarang. Apakah anda yakin aturan perauran yang dibuat itu sudah maha sempurna???. Wallahualam. Jika saya berdebat dengan orang Advent tentang tanggal 25 Des. selalu saya jawab (logically) apakah tanggal itu pasti atau tidak bukan itu yang penting, tapi kenyataan Jesus pernah lahir di Betlehem kira-kira 2008 tahun lalu. Peace. Tuhan memberkati.
Daniel Harahap:
saya tidak pernah ingin mencampuri apa yang bukan menjadi tanggungjawab dan wewenang saya. Jika saya membuat surat kepada Ketua Rapat Pendeta HKBP agar mengagendakan dan mengambil keputusan tentang tatacara pelaksanaan natal di HKBP itu tepat. Sebab menurut Aturan HKBP yang berwenang merumuskan ajaran dan dogma termasuk tentang kalender ibadah adalah Rapat Pendeta. Namun tidak terbersit pun sedikit dalam pikiran saya ingin mencampuri natal kantor, perusahaan, marga atau kampung. Itu bukan urusan dan tanggungjawab HKBP. Namun HKBP berhak dan wajib mengatur pelaksanaan natal di dalam lingkup HKBP, termasuk SM, remaja dan pemuda, dan unit2 HKBP lainnya. Forum pengambilan keputusan tertinggi untuk itu ada di Rapat Pendeta.
Pertama: Pak Salngam salah baca.
Kedua: saya juga tidak mengatakan aturan HKBP sempurna. Namun sebagai gereja HKBP harus memiliki dan menegakkan aturannya termasuk dalam hal pengaturan waktu ibadah. Dalam Almanak dan Agenda Ibadah HKBP (siapa anggota HKBP yang berani mengatakan kedua dokumen ini tidak sah, tidak benar dan tidak perlu dipatuhi? ayo tunjuk tangan!
diatur tentang waktu-waktu perayaan gerejawi mulai dari Adven, Natal, Epifanias, Pra-Paskah, Jumat Agung, Paskah, Kenaikan, Pentakosta, Trinitatis, dan masa-masa sesudah Trinitatis. Pertanyaan saya kenapa Adven dilanggar sementara HKBP patuh kepada pelaksanaan kalender ibadah lainnya?
Ketiga: penetapan masa raya Natal 25 Desember s/d 6 Januari tidak mengatakan bahwa Yesus persis lahir tanggal 25 Desember jam 00.00 pulak lagi. Namun leluhur gereja telah bergumul beratus tahun menyusun masa-masa perayaan gerejawi dan menetapkan natal tanggal 25 Desember. Sebenarnya perayaan yang paling penting adalah Paskah atau kebangkitan Yesus, sebab itulah yang dirayakan pertama kali dan sampai sekarang dirayakan setiap minggu (Hari Minggu = hari Tuhan). Natal baru dirayakan abad ke-empat. Namun kini Natal telah menggeser Paskah, dan celakanya menghilangkan masa Adven sebagai masa permenungan, doa dan pertobatan.
Saya cuma seorang pendeta kecil. Saya hanya mengajak Rapat Pendeta HKBP bergumul dan mengambil keputusan dan belum tentu Rapat itu menerima saran saya. Bahasa Medan: apalah awak ini.
Namun sebagai seorang pendeta dan pribadi saya sudah mengambil keputusan: walaupun Rapat Pendeta HKBP belum mengambil keputusan saya akan menolak jika ada perusahaan, departemen, kantor, punguan yang meminta saya melayani natal sebelum tanggal 25 Desember. Dalam hal itu saya berhak penuh. Namun berhubung saya bukan hanya pribadi tetapi juga pendeta jemaat, maka sebelum ada keputusan resmi maka ibadah natal di jemaat HKBP sebelum tanggal 25 akan saya layani juga sebagai bagian dari tugas saya. Namun saya tidak akan jemu-jemunya mengatakan bahwa mari kita kembali ke rel. Mari kita hormati minggu Adven sebagai masa doa dan permenungan, penantian dan harapan. Seperti kata teman saya Muna di milis, mari kita pakai masa adven untuk menyatukan doa dan rintihan dengan jemaat yang menanti-nantikan Tuhan memberikan anak, mempertemukannya dengan kekasihnya, menyembuhkannya dan menjawab pergumulannya.
October 13th, 2008 at 10:34 am
Mengikuti silang pendapat dalam menanggapi kalender gereja hkbp tentang NATAL kami mencoba tanya-jawab:
1. Jadi yang dilakukan hkbp selama ini apakah tidak sesuai dengan kalender gereja yang sudah ditentukan oleh pusat? kalau dari uraian pak DTA ini sudah tidak sesuai.
2. Kalau memang itu sudah tidak pada tempatnya, kenapa pusat yang baru saja bersinode tidak mengangkat case ini untuk diperbaiki? seperti kita ketahui dari hasil sinode lebih fokus kepada figur pimpinan pusat dst
3. Siapa sebenarnya ditingkat gereja yang menentukan tata ibadah setiap minggu/bulan atau tahun? yang kami amati adalah rapat sintua/sermon setiap minggunya
4. Apakah almanak yang menurut pengertian kami merupakan kalender gereja di hkbp bisa dirubah2 disesuaikan dengan sikon dalam pelaksanaannya? ya bisa nyatanya demikian.
Dari pemahaman kami seperti diatas, sebaiknya para uluan dimasing2 gereja hkbp/pak pendeta memulai melaksanakan perayaan natal sesuai dengan kalender gereja saja, tidak perlu menunggu ada rapat pendeta untuk mempertimbangkan hal itu, karena belum tentu juga nanti ditanggapi dan menunggu seperti yang disebutkan oleh pak DTA tahun 2010. Jika ada pihak2 yang keberatan digereja masing2 ini merupakan tugas penggembalaan dari masing2 uluan agar jemat mengerti.
Dan merayakan natal dengan perkategorial/seksi dimasing2 gereja juga menurut hemat kami tidak perlu karena tidak efisien dari segi waktu dan biaya.
Pak DTA sebagai yang telah melansir surat terbuka ini dapat memulai digerejanya dan tentu akan banyak nanti gereja hkbp lainnya yang akan ikut, percayalah dan nyatanya juga sudah ada gereja hkbp yang demikian. Terimakasih kepada pak DTA yang telah banyak memberi kami, mungkin banyak jemaat juga, hal2 yang belum diketahui tentang tataibadah di gereja hkpb diluar renungan2 tentunya. Maju terus para reformist HKBP.
Daniel Harahap:
Jawaban no (1): perayaan natal selama masa adven yang terjadi selama ini memang tidak sesuai dengan kalender ibadah HKBP. Titik.
Jawaban no (2): menyangkut dogma atau ajaran, dan tata ibadah, bukan wewenang sinode godang tetapi rapat pendeta hkbp.
Jawaban no (3): tata ibadah ditentukan oleh rapat pendeta hkbp berdasarkan pemahamannya tentang liturgi atau konsepsi teologis tentang ibadah yang benar dan baik.
Jawaban no (4): almanak tidak bisa diubah-ubah. Konstitusi HKBP mengatakan pelaksanaan ibadah (termasuk bacaan alkitab) harus sesuai almanak.
Horas.
October 13th, 2008 at 11:02 am
Faktanya memang perayaan natal di gereja2 hkbp telah dimulai sejak minggu pertama bln Desember, sulit untuk mencari tau dimana awal salahnya dan siapa yang memulainya, persis seperti di umpasa ni halak hita” na pinungka ni na parjolo siihuthonnon ni na parpudi”, untuk merubah hasomalon yang sudah dianggap sebagai sesuatu yang benar memang tidak gampang.
Tantangan terbesar, apakah para pendeta selaku uluan ni huria sepakat dan memiliki pemahaman yang sama dengan yang amang DTA utarakan?
Ai molo ruas biasana mangoloi do ta angka aha na nidongkon ni Panditana. Kami setuju apabila perayaan natal yang diadakan oleh masing2 seksi di huria disatukan/digabung dan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember(selama ini perayaan natal tanggal 26 Desember sangat memprihatinkan dari sisi animo ruas untuk datang ke perayaan tersebut.
Daniel Harahap:
Ya setuju. Kita selama ini cenderung membenarkan kebiasaan. Saatnya memulai membiasakan kebenaran.
October 13th, 2008 at 12:54 pm
Saya yakin semua pendeta HKBP tau perayaan natal boleh dilaksanakan setelah tanggal 25 Desember. Cuma sekarang, masalahnya bagaimana mengembalikan hal ini ke jalur yg benar. Walaupun tau, tapi cukup sulit untuk menyamakan persepsi di tubuh HKBP. Bukan nya saya mau berpikir negatif, banyak pihak yg mengambil keuntungan dari perayaan natal sebelum tgl 25 Desember. He…he..he!
Saya sendiri sering menghadiri perayaan natal sebelum tgl 25 Desember, dimana pengkotbah nya adalah Saudara Ephorus.
October 13th, 2008 at 1:59 pm
Horas..
Negara ini memiliki ratusan Undang-undang dan aturan, tapi jarang di laksanakan secara utuh, padu dan menyeluruh…
kenapa ??
karena tidak sesuai dengan kontekstual dan aspirasi seluruh rakyat..
jadinya, undang-undang itu tetap ada dan terlantar.
tak pernah murni dan tak pernah konsekwen.
aturan HKBP…???
Apalagi …
Mari kita cek dan ricek saja..
tradisi HKBP, kredo am ke Lutheran, liturgika, dan aturan -aturan dari zaman Van asselt , Nomensen bahkan sampai Ephorus sekarang…
berapa jumlah nya..???
berapa jumlah yang di jalankan ?
Saya masih punya file dokument itu secara kronologis..
dan saya juga memiliki fakta terhadap ketidak konsistenan aturan-aturan tersebut…
Lantas mau apa kita ini ???
BERDOA SAJA.
October 13th, 2008 at 2:01 pm
Keempat lilin yang dinyalakan sebelum 25 Des adalah simbol pengharapan, pertobatan, sukacita dan penantian kita.
Dalam Liturgi Natal (PANOMPAON, BAGA-BAGA, HATUTUBU, PENGHARAPAN?) Natal identik dengan “kelahiran” (Tuhan Yesus), “Ulang Tahun”. Setiap saat jemaat diajarkan untuk tetap lahir Yesus di dalam hatinya, bahkan ke empat seremonial diatas setiap khotbah disosialisasikan. HKBP dan gereja lainnya yang saya tau merayakan Natal itu tetap pada tanggal 24 Desember s/d 30 Desember. Tanggal 31 Des. digunakan untuk Ujung Taon (Jujur Taon). Terlepas dari yang merayakan Natal sebelum tanggal 24 Des, tujuan utamanya kebanyakan untuk mensosialisasikan Natal dan mempererat serta memperbanyak pengetahuan tentang Natal. Bahkan memberikan kesempatan turut ambil bagian setiap anggota punguan/kumpulan dalam kegiatan Natal tersebut (Contoh “Marliturgi”). Apa HKBP dan gereja lainnya bisa memberikan waktu untuk jemaatnya mendapat kesempatan “Pajojorhon” dalam kurun waktu kalender HKBP tersebut?.
Apakah mungkin yang amang DTA maksudkan adalah penggunaan GEDUNG GEREJA HKBP oleh punguan / kumpulan / kegorial-kategorial sebelum 24 Des.?
Atau supaya Pendeta-pendeta HKBP jangan melayani Khotbah Natal jika diminta oleh punguan/kumpulan tersebut?
Yang pasti selama pengamatan saya HKBP mengikuti kalender HKBP yang sudah ada.
Namun demikian perlu argument yang kuat untuk menggolkan permintaan ini ke pimpinan HKBP. Tentu dengan catatan, semakin hilang tentang kelahiran Yesus dihati umat Kristiani yang diminta setiap saat di hati kita harus lahir Yesus Kristus. Sedangkan ULTAH orangtua bisa dirayakan sebulan setelah lewat tanggal lahirnya karena menunggu anakdan cucunya bisa bersatu berkumpul. (Hanya Input ke DTA dan HKBP).
October 13th, 2008 at 4:42 pm
suatu terobosan yang sangat revolusioner dari seorang pendeta HKBP. maju terus amang. memang pasti banyak yang kontra karena ini masalah tradisi yang mendarah daging, tidak perduli apakah tradisi melanggar kalender gerejawi atau tidak. meskipun tidak mudah merubah yang telah menjadi tradisi beratus tahun.., hampir di semua gereja protestan pula. tapi yang penting bola itu sudah digelindingkan. wacana sudah dibuka, dan harus dibagi ke banyak orang.
Daniel Harahap:
Walaupun saya nanti gagal mengubah HKBP dalam hal natal ini, minimal saya telah berhasil mengubah diri saya.
October 13th, 2008 at 5:00 pm
Catatan kecil untuk diskusi ini:
1. Saya cukup terganggu dengan berbagai pernyataan: “Yang penting Yesus lahir di hati kita, tidak peduli tanggal berapa pun itu dirayakan.” Harus dicatat bahwa Yesus kita adalah Yesus sejarah yang pernah lahir di Betlehem, mati dan bangkit pada suatu waktu tertentu. Menafikan fakta sejarah kelahiran Yesus jelas suatu kesalahan besar dalam kekristenan.
2. Ketika kita tidak menganggap tahun gerejawi sebagai suatu hal yang penting (tergantikan oleh hingar bingar Natal termasuk dengan bisnis katering dan derasnya tawaran khotbah) maka gereja akan kehilangan jati dirinya. Ini juga akan mengakibatkan semakin banyaknya umat Kristen yang kebingungan dalam hidup Kristianinya. mengapa? Karena gereja tidak memiliki pakem yang jelas. Bayangkan jika kita tidak terlalu mempersoalkan urutan Adven dan Natal. Kemudian itu berarti seharusnya kita juga tidak perlu mempersoalkan urutan Jumat Agung dan Paskah. Bisa saja suatu saat kita merayakan Paskah terlebih dahulu (karena lebih meriah dengan telur paskahnya), baru tiga hari kemudian kita rayakan wafatnya Almasih. Lantas kita berdalih: yang penting makna Paskahnya atau yang penting Yesus bangkit di hati kita.
3. Banyak dari antara kita yang memang menurut saya telah terbelokkan pemahamannya mengenai Natal: dari sebuah peringatan dan permenungan menjadi budaya konsumerisme & hedonisme. Saya tidak salahkan kita, karena ini merupakan sebuah dampak globalisasi. Namun gereja harus tetap menyuarakan kebenaran ajarannya walaupun memperoleh tantangan dari berbagai fenomena jaman ini. Selamat berjuang untuk Amang DTA bagi sebuah kebenaran ajaran. Rasul Paulus mengatakan: “Jerih payahmu tidak sia-sia.”
October 13th, 2008 at 5:45 pm
Gabe jala Horas ma dihita,
Prinsipnya masa Adven adalah saat-saat yang berkesan menjelang Natal Kelahiran sang Juru selamatku (eh kita2 deh).Mengubah tangal pelaksanaan perayaan Natal di HKBP adalah privelege HKBP, shg konteksnya jelas dan tidak terkontamiasi dgn faham yg penting kan esesnsinya. Artinya Rapat Pendeta HKBP silahkan di rangrangi asa diberlakukan di internal HKBP. Ini jelas Penting tetapi tidak Mendesak.Tolong jangan amang DTA dijadikan martir untuk hal seperti ini. Karena kalo pun ini diterapkan,tetap masih mengemuka pertanyaan: Ibadah itu nantinya hanya Seremonial atau Sejati (sesuai dgn kerinduan Tuhan yang kita sembah)??? Kita tetap kembalikan kepada kita masing2kan. Mari berandai2: Kalo ternyata dgn menerapkan Kebenaran ini banyak atau ada ruas yang mundur dari HKBP karena merasa tidak nyaman kan nggak ada masalah. HKBP harus maju, kompak dan yakin se yakinnya dgn menu pelayanannya.Jadi Amang DTA sdh benar tapi slowdown ajalah spy konteksnya tidak lari. Surat sdh dilayangkan kita2 sdh mahfum inti pesannya dan sikon (Capek dhe) na poltang dijolota. Aku berikrar dan berterimakasih Hata na Uli hatana denggan na nilehon Aman DTA bohanonku ma martonga ni jabu untuk dipraktekkan ditahun 2008 ini juga. Don’t wait until tomorrow what you can do today.
October 13th, 2008 at 5:57 pm
Perayaan Natal agar dilaksanakan sesudah 25 Desember sudah lama sekali saya dengar, mungkin sekitar 16 tahun yang lalu ketika menjadi pengajar SM di salah satu HKBP. Itu dimulai pada masa SAE Nababan menjabat sebagai Ephorus HKBP. Saat itu banyak yang pro-kontra, dan perdebatan ‘tersembunyi’ di kalangan pendeta HKBP sendiri pun ada. Namun kami saat itu, karena merasa sebagai jemaat HKBP dan Guru SM, harus ikut dengan ketentuan baru itu walaupun saat itu ada perasaan aneh (mungkin karena tiba-tiba berubah). Akhirnya Natal SM dilaksanakan sesudah Natal Umum dari sebelumnya SM selalu bernatal di bawah tanggal 25 Des. Katanya, sampai saat ini Perayaan Natal SM masih terus mengikuti ketentuan itu (saya tidak lagi pengajar SM). Tapi ada imbas yang aneh, yaitu muncullah istilah Pesta Advent, misalnya Pesta Advent Ina. Sampai saat ini, saya mendapati bahwa acara itu tidak terlalu berbeda jauh dengan Acara Natal dalam kemasan sama cuman tanpa lagu “Sonang ni Borngin na i”. Masih ada saja lagu-lagu natal yang ‘tak sengaja’ masuk dalam acara. Jadi apa bedanya, ya? Malah jadi amburadul begitu. Dalam pikirku, Mereka sebenarnya mau ber-Pesta Natal, tapi waktu sesudah 25 Des sangat terbatas menjelang Tahun Baru. Merayakan Natal di bulan Januari? Kayaknya orang HKBP masih aneh menerimanya. Jadi hanya ada tgl 26, 27, 28, 29, dan 30 Des. 2 hari untuk
Naposo dan SM (kalo di tempat saya dulu, utk SM 2 hari), ditambah sandainya dua hari itu Hari Sabtu dan Minggu (Amang DTA tidak setuju hari Sabtu dan Minggu dipake ibadah natal). Belum lagi seperti saya di kantor selalu berperayaan di atas 25 Des. Sebaiknya bagaimana? Jawaban yang logis, ‘Sudahlah, cukuplah 25 Des itu saja utk Ama dan Ina!’ Kalo masih pengen banget pajojorhon atau mengenang natal, ikutilah kebaktian/perayaan natal di gereja lain yang ibadah gerejawinya masih bertoleransi dengan Natal ‘kapan saja bisa’.
Begitulah keadaannya apabila rapat Pendeta menyetujui “Perayaan Natal” dengan konteks ‘teratur’.
Namun saya perlu bersaksi, saya masih mengenang terus Natal-Natal ketika saya masih anak-anak yang sungguh indah sampai saat ini, walaupun saya tidak tahu aturan dan peraturan HKBP sebelumnya.
October 13th, 2008 at 7:22 pm
Horas Amang,
Saya hanya menyampaikan pendapat saya saja apakah kalau kita mengikuti seluruh aturan - aturan yang ada dengan benar membuat kita bisa disebut orang -orang yang beriman. Apakah kita tak lebih baik berserah diri & merendahkan diri kita kehadapan Tuhan setiap hari dan minta pengampunan kepadaNya daripada kita mempersoalkan masa - masa perayaan ? Mohon maaf Amang kalau saya salah.
October 13th, 2008 at 10:48 pm
Postingan Pak Pdt Andar Pasaribu tgl 12 dan 13 (di atas) sangat membantu bagi saya dalam mendapatkan secara lebih jelas lagi pemahaman yang benar tentang topik yang ramai didiskusikan — kalendar gerejawi serta makna minggu-minggu Advent dan perayaan Natal.
Terima kasih Pak Pdt Andar Pasaribu.
Terima kasih juga kepada Pak Pdt Jan Calvin Pindo (GKI) yang telah berbagi pengalamannya di dalam postingan yang lain.
Dan terima kasih Pak Pdt DTA yang telah mengangkat topik yang penting ini dan memposting surat terbukanya.
Semoga Bapak-Bapak Pendeta bersama seluruh ibu/bapak pendeta lainnya berhasil menegakkan secara benar kalendar gerejawi demi kemuliaan TUHAN dan dalam pertumbuhan iman warga jemaat.
October 13th, 2008 at 11:10 pm
Horas Amang,
Saya kok malah seteuju dengan Fro 7, Bukankah perayaan natal itu buatan manusia, mengapa kita harus mendogmatiskan semuanya itu . Saya mungkin tidak mempunyai latar belakang teologia tapi logika berpikir saya sih mengatakan demikian, menurut saya Tuhan Jesus juga ngak marah:-)
Saya memang dari dulu ingin bertanya masalah ini, karena dari kecil kami di Bandung selalu merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember, nah ketika pindah ke Bogor, perayaan Natal diadakan harus setelah tanggal 25 Desember. Yang saya alami dan dengarkan adalah bahwa, apabila perayaan dilakukan setelah tanggal 25, banyak anak sekolah minggu yang selama kurang lebih 2 bulan berlatih pada akhirnya tidak dapat tampil pajojorhon karena harus pulang kampung (kelihatannya kecewa juga), dan banyak kategorial yang tidak dapat membuat acara karena jadwalnya begitu padat di gereja..belum kalau ada natalan Sektor..Saya sih berpikir kegembiraan natal harus juga dirasakan oleh anak2 kita (maklum saya ibu2) dan semua kategorial yang ada di Gereja..Demikian juga pohon natal, saya malah mulai memasang dari awal Desember dan membukannya di akhir Januari..bahkan ada yang sepanjang tahun saya pasang..saya bukan ingin bersaing dengan mall, tapi saya ingin suasana dan lagu2 natal yang kami putar di rumah memberi semangat baru kepada kami semua..saya yakin setiap orang punya kenangan tersendiri terhadap lagu2 (koesplus)..bahkan serasa berada di masa dimana Ayah ibu kita masih ada dan menyuruh memasang pohon natal bersama sama (maklum anak yatim piatu). Bahkan anak saya pernah bertanya ketika kami jalan2 ke pertokoan melihat banyaknya pohon natal dipasang ” kok gereja kita tidak merayakan natal Bu.” Saya juga bingung jawabnya apa..Ini sih curhat ibu2. Saya malah takut nantinya anak2 ini berpikir bahwa mall atau hotel/toko merayakan natal lebih baik dari pada gereja (he.he)..coba liturgi ada di mall, koor ada..gimana dong ini..
Lepas dari pro dan kontra saya sih melihatnya kalau dari sisi memaknai arti natal, seharusnya kita merayakan natal setiap hari, tapi kalau dari sisi perayaan ya bisa aja sebelum atau sesudah tanggal 25..
Mauliate.
October 13th, 2008 at 11:24 pm
Waduh membahas kapan Perayaan Natal yang tepat kayaknya jadi panjang bgt…tolong buat semuanya jangan sampai ribut gara2 tanggal doang… Jangan membuat ALLAH jadi menangis yah karena lihat umat pilihan-NYA ribut gara2 tanggal doank…
Gimana klo kalender sampai saat ini gak ada sama sekali? Kita mau ngerayain Natal tgl brp?
Klo menurut saya bukan tanggal berapanya, pestanya bagaimana, pakaiannya apa, atau dekorasinya gmn yang dilihat ALLAH…tapi ALLAH lebih melihat kedalaman hati kita….Sudah siapkah kita menerima sang Juruselamat lahir? Berapa byk jemaat yang rindu untuk menantikan sang Juruselamat? Berapa byk manusia yang percaya bahwa YESUS KRISTUS adalah Juruselamat?
Karena ALLAH menciptakan kita bukan untuk berpesta pora atau sibuk mikirin kapan tanggal yang tepat buat melakukan perayaan natal diluar tgl 25 Desember, akan tetapi ALLAH menciptakan kita semua untuk memperluas kerajaan ALLAH di dunia ini.
Bagi aku pribadi, natal itu setiap hari….bukan tgl 25 Desember aja.
ALLAH juga gak pernah ngasih tau tgl berapa YESUS KRISTUS lahir. Wong tanggal itu manusia sendiri yang buat itu, ALLAH cuma memberikan gambaran suasana pada saat kelahiran sang Juruselamat, nah manusia lah yang menerka2. Dan yang namanya masa adven pun itu adalah sepanjang masa bukan hanya 4 minggu saja….Baca dari kitab perjanjian lama sama perjanjian baru…berapa lama mereka menantikan sang Juruselamat dari mulai Adam dan Hawa melakukan dosa sampai Yesus dilahirkan….
Jadi tidak usah lagi dipermasalahkan tgl berapa perayaan Natal yang benar.
“Peraturan Gerejawi itu penting tapi Peraturan dari ALLAH jauh lebih penting”.
“Yang harus direnungkan sekarang adalah Sudah siapkah kita semua menerima kedatangan sang Juruselamat kedua kalinya ke dunia ini”.
October 14th, 2008 at 1:21 am
Pro Rissa:
Rissa, yang harus dirayakan setiap minggu dan setiap hari itu bukan natal (kelahiran Yesus) tetapi paskah (kebangkitan Kristus). Kita berkumpul di gereja setiap minggu merayakan kebangkitan Tuhan. Pemahaman natal setiap hari adalah sesat.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa Yesus lahir tanggal 25 Desember. Yang saya katakan, sebagaimana dianut HKBP (silahkan periksa Almanak, Agenda, dan Aturan HKBP) bahwa gereja menetapkan masa perayaan natal tanggal 25 Desember. Saya tidak akan lelah-lelah mengatakan: mengapa kita merayakan Natal saat Adven? Itu sama saja jika saudara-saudara Muslim merayaka Idul Fitri dan berhalal-bilhalal saat bulan Ramadhan.
Itu sama dengan jika kita merayakan Jumat Agung sesudah Minggu Paskah. Itu sama artinya dengan: suka-suka.
Peraturan Allah? Dimana Rissa membaca Allah membuat peraturan bisa merayakan Natal kapan saja? Jangan-jangan itu peraturan Rissa sendiri.
Menurut saya orang Kristen yang tidak mau menghayati Advent sama sekali tidak mampu menghayati penantian umat yang sangat panjang akan kedatangan Juruslamat. Dan karena itu juga bohong mau menanti-nantikan kristus datang kembali. Serius. 
October 14th, 2008 at 1:22 am
Pro Joice Butar-butar:
Inang, dalam hal ini orang Bogor itu lebih benar dari orang Bandung.
October 14th, 2008 at 8:27 am
Kalau pesta ulang tahun orang jarang dirayakan sebelum hari H, sebab takut nanti sebelum genap sudah dipanggil duluan, sehingga sering dirayakan pada hari “H” dan sesudahnya. Kalau Perayaan ulang Tahun Kemerdekaan, Ulang tahun Daerah,Kota ,Dan Institusi sering di mulai beberapa hari sebelum hari “H” dan puncak acaranya yaitu persis di tanggal hari ulang tahunnya, ini sesuai dengan kebiasaan sehari-hari, dan selama ini sering juga saya dengar sebelum natal 25 Desember, selalu ada pengumuman, mengatakan bahwa pada tanggal sebelum tgl 25 Des kita akan mengadakan pesta Advent untuk SM,RENA dll di gereja.
Artinya mereka tentunya sudah mengerti akan perbedaan natal dan Advent. Sekarang yang menjadi pertanyaan saya apakah salah pesta anvent(pesta menyambut hari natal) ?, Kalau pesta Advent kira-kira acara yang seperti apa yang seharusnya format acaranya?
terus ada pertanyaan lagi,kalau di daerah sumatera utara perayaan Tahun baru yang paling heboh dirayakan setiap keluarga, dan termasuk acara kunjungan dan silaturahmi, sementara di daerah lain justru kebanyakan pada acara natal tersebut, sebenarnya makna tahun baru apakah hanya karena pergantian tahun, atau ada makna khusus bagi orang kristen mohon sekalian penjelasannya.
Daniel Harahap:
Adven itu saat permenungan dan bukan saat berpesta. Adven masa hening, saat teduh, dan waktu menyepi untuk berdoa dan merenung. Sebab itu istilah “pesta adven” yang kini populer di HKBP salah kaprah. Tentang tahun baru nanti saya coba tuliskan di posting terpisah.
October 14th, 2008 at 9:02 am
Saya sependapat dengan amang. Menurut saya Natal memang seharusnya diadakan setelah tanggal 25 desember setiap tahunnya. Saya juga terkadang jadi kecewa sendiri melihat minggu2 Advent yang akhirnya terlewatkan begitu saja tanpa ada kesan hanya karena adanya perayaan2 Natal setiap minggunya di bulan Desember.
Namun saya juga tidak bisa berbuat apa2 karna memang di setiap gereja termasuk gereja saya juga memiliki beragam kategorial (Ama, Ina, Naposo, Remaja, dan ASM) yang merayakan Natal dengan berbeda waktunya dan menurut Rapat Huria yang saya hadiri, Pendeta dan Parhalado Huria saya juga punya alasan mengapa mereka membuat tanggal perayaan Natal setiap kategorial ada yang sebelum tanggal 25 Desember. Mereka menyatakan bahwa akan lebih baik apabila setiap minggunya di bulan Desember ada sukacita Natal di Gereja kami.
Dan sekali lagi saya hanyalah seorang Remaja di HKBP Sr. Sawah dan mau tidak mau saya hanya bisa mengikuti kalender Huria yang telah di tetapkan setiap awal tahunnya.
Saya juga sangat mengharapkan Rapat HKBP dapat mempertimbangkan tentang artikel dan surat yang Amang buat ini agar di tahun yang akan datang kita semua dapat merayakan Natal sesuai dengan waktu yang seharusnya (25 Desember s/d 6 Januari) dan kita juga dapat tetap memaknai Minggu2 Advent yang seharusnya menjadi persiapan kita dalam menghadapi Kelahiran Yesus yang kita rayakan melalui perayaan Natal..
October 14th, 2008 at 12:53 pm
Inilah HKBP, kebanyakan ribut hal-hal yang tidak perlu. Miskin essensi… padahal di akar rumput jemaatnya memiliki banyak kegelisahan yang tidak pernah bisa ditangkap oleh HKBP.
Daniel Harahap:
Saya berani menduga Anda tidak termasuk orang yang saban minggu setia ke gereja HKBP dan saban hari baca Almanak HKBP.
October 14th, 2008 at 2:23 pm
Polemik merayakan Natal pada masa adventus yg diangkat oleh amang DTA, menurut saya tdk boleh hanya dibahas dlm lingkup HKBP. Apa lah artinya jika HKBP (bersama ruasnya) benar-2 memahami bahwa natal pada masa advent salah, namun dlm kehidupan sosialnya dia hrs ikut(terpaksa) merayakan dgn tetangga/rekan kerja stm/marga yg lain (mungkin di tempat lain/gereja lain). Harusnya ini digumuli tidak hanya oleh HKBP namun hrs oleh smua gereja yg ada. 9(berapa gereja yg ada ya…?) Toh tidak bijak untuk mengatakan tidak usah dihadiri.
Lagian keberatan Amang DTA kan didasarkan pada Kalender gerejawi (konon yg dipakai HKBP), Toh gereja tetap melaksanakan ibadah minggu raya sesuai dgn kalender gerejawi (yg dianut HKBP). Kenapa justru tidak memikirkan kemampuan/kehebatan Teologia untuk membelokkan segala sesuatu,(bahasa kerennya “merohanikan”) .Teologi yg gak ada aja bisa di bikin ada, (saya ingat teologi karet busa yg Amang DTA wacanakan). Ingat Rasul paulus pun membelokkan makna penyembahan orang Roma menjadi penyembahan yg lebih rohani (kepada Allah yg tidak dikenal). Mula Jadi na Bolon di rohanikan menjadi Allah yang alfa dan Omega dan yang Akbar. Bahkan Perayaan Natal sendiri pun asalnya dari perayaan Dewa Matahari yg dirohanikan oleh Konstantin. Konon pula kalau persoalannya hanya tanggal doang. Seperti yang dikatakan orang, bahwa Perayaan keagamaan sdh dikomersialkan orang, so what gitu loh. saya pikir teologia disini bisa memainkan peranannya, ya minimal untuk mewaraskan orang yg sdh keblinger. Tugas siapa itu,… Ya seperti yg Amang katakan, kalau di HKBP kita ini, ya tugas Pendetalah.
Namun Natal Staf HKBP dan Pimpinannya di Pearaja tgl 18 Desember pulak. Ah massam sajalah ini….. Botul tdk sih Pendeta HKBP ini botul-botul memahami bahwa sanya Natal tdk dirayakan pada masa Advent seperti yang dilansir Amang DTA.
October 14th, 2008 at 3:01 pm
hmm..sejujurnya saya kurang peduli mengapa gereja HKBP merayakan natal sebelum tanggal 25 des. berbeda dengan saudara kita yang beragama katolik yang merayakan Natal setelah melewati tanggal 24 des..tetapi setelah membaca paparan yang disampaikan pak pdt saya jadi mengerti dan tau apa sebenarnya yang terjadi.
walaupun ada pro dan kontra dalam mendiskusikan hal ini, hendaknya kita mau menyikapi dengan kepala dingin. intinya saya menyampaikan terimakasih kepada pak pdt yang telah memberikan informasi tentang pemahaman tersebut; dan saya mau melihat kondisi ini sebagai bentuk pendewasaan jemaat terhadap perubahan ke arah yang lebih baik (kembali ke rel)
secara sederhana saya juga akan meneruskan informasi ini (mensosialisasikan) kepada keluarga dan orang-orang terdekat. terimakasih.
October 14th, 2008 at 5:00 pm
Di Lingkungan saya, teman-teman yang katolik juga tidak protes/ membantah bila perayaan Natal sblm 25 Des. Bahkan ketika di STM kami di bahas apakah akan merayakan Natal, eh… malah mereka tuh yg getol mengatakan untuk dilaksanakan, tanggalnya… malah sebelum 25 Des. Toh.. Katolik yg katanya tidak melakukan perayaan Natal seblum 25 Des juga gak ketat-2 amat.
Dalam Perayaan Natal Oikumene yg dilakukan di kota kami, juga sblum 25 Des, dihadiri dan diikuti oleh umat katolik dan para pastur katolik.
Kami juga pernah merayakan Natal sblum 25 Des di Aula Gereja Katolik, toh mereka welcome aja tuh.
Point yang ingin saya sampaikan janganlah keinginan untuk”memfatwa Haram” Natal sebelum 25 Des justru membuahkan keresahan, malah membuahkan kebingungan. Kembali saya menawarkan Baharui kembali makna natal tsb sekalipun di lakukan sblum 25 Des. Yah… mau bilang apa lagi, Natal tdk hanya jadi komoditinya HKBP, tetapi sdh jadi komoditi dunia. Jepang yang mayoritas beragama Shinto saja, sejak awal Des sudh dihirukkan oleh hingar bingarnya suasana Natal.
Usulan buat amang DTA, silahkan saja wacana ttg perayaan Natal ini di agendakan di RP ya.. tapi lihatlah banyaknya kesulitan dan tantangan yang ada dilapangan. Namun menurut saya masih banyak yg juga perlu di agendakan. Masalah patik paopathon saja pun kita HKBP ini sdh tak sesuai dgn Bibel. Anehnya, tak satu pun Pdt HKBP yg saya tahu mau menggumulinya. Apa karena nggak ngefek ya…? Entah lah….
Daniel Harahap:
Pernah lihat wanita katolik atau pemuda katolik merayakan natal sebelum 25 desember di gerejaNya? (pake band hingar-bingar dan jingkrak2 di altar pulak lagi)?
Sebenarnya jika telah diputuskan dalam Rapat Pendeta tidak akan terlalu banyak kesulitan lagi mengembalikan masa perayaan natal sesuai kalender ibadah. Yang diperkukan hanya penjelasan atau penjemaatan keputusan itu dengan baik. Jika warga HKBP yang sadar atau melek kalender ibadah mendukung maka prosesnya akan lebih cepat lagi. Pada masa lalu (kesaksian ibu saya yang kini berusia 80 tahun) di kampung juga orang baru bernatal tanggal 24 desember malam dengan acara: manutung lilin. Malam natal itu jemaat belum pakai baju baru dan pagi sampai siang setengah hari masih bekerja di sawah. Namun kemudian setelah jemaat pindah ke kota rarat atau meleberlah perayaan natal itu dan celakanya dianggap kebenaran.
October 14th, 2008 at 5:48 pm
Amang, yang bilang tentang natal itu tiap hari yah Pendeta juga kok, aku mendengar sewaktu aku masih di sekolah minggu dan sampai aku SMP hal itu pun masih dibilangin… Aku sich mengatakan dari yang dibilang Pendeta ke aku, klo ditanya siapa nama pendetanya jelas aku sudah tidak mengingatnya…
But yang pasti mau kapan pun natal itu diadakan bagi aku gak masalah selama tidak menyedihkan hati ALLAH BAPA di SORGA…
Klo ngomongin masalah Natal, Adven dll gak akan ada habisnya…yang ada akan tambah bingung…dan banyak pro dan kontra…
Daniel Harahap:
Saya mau mengatakan pendapat itu salah. Yang harus dirayakan setiap hari, setiap minggu dan setiap saat bukan natal tetapi Paskah atau kebangkitan Tuhan. Sebab itulah kita berkumpul setiap hari Minggu, yaitu untuk merayakan kebangkitan Tuhan.
Syukurlah Rissa suydah lupa siapa pendeta yang mengatakannya.
October 14th, 2008 at 11:53 pm
[…] tidak kurang juga orang yang mendukung saran DTA sebagaimana terbaca dalam komentar-komentar di situsnya. Sebab, sesungguhnya, yang diajukan DTA bukanlah gagasan yang sama sekali baru sehingga layak […]
October 15th, 2008 at 5:41 am
Janganlah seperti orang2 FARISI, membebankan aturan-aturan yang sebenarnya secara pribadi tidak mereka hayati demi Kemulian ALLAH. Kita yakini bahwa kita di-BENAR-kan bukan karena kebaikan kita melakukan tata upacara gereja dan adat istiadat sebagainya. Tapi oleh karena BELAS KASIH TUHAN YESUS yang rela sengsara dan wafat di kayu salib demi umat manusia. Maka BERSUKA CITALAH ’senantiasa’ dalam Tuhan oleh karena kasih setianya (bukan hanya pada saat/moment tertentu saja). Natal hanya moment, tapi wujud KASIH natal lah yang terutama. - 1 KOLOSE 2: 16-17 -
Daniel Harahap:
Perayaan Natal justru telah terlalu banyak dan menjadi beban dan melelahkan bagi banyak orang. Kita mau mengembalikan perayaan natal ke waktunya yang tepat. Juga ke tempatnya yang utama: keluarga dan gereja.
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan (Filipi 4:4) bukan berarti ber-pesta natallah setiap saat!
October 15th, 2008 at 8:30 am
Melihat beragamnya komentar ini dari pembaca, menandakan kurangnya kita jemaat belajar dalam pemahaman secara rohani termasuk ajaran dari bapak-bapak gereja tentang pentingnya kontemplasi/ permenungan sekaligus transformasi pandangan tentang hakekat Natal. Inilah masalah utama kita bahwa banyak Natal telah banyak dirayakan secara sekuler,hedonis,konsumtif dan belanja-belanja sekaligus malpraktek kejahatan . Ada yang menganggap natal sebagai ulang tahun, komoditi dagang, pesta hura-hura, poya-poya atau mabuk-mabukan, cari hallet, travel/ liburan, bisnis entertain hotel dgn para artis dan natal mafia preman wah.. terlalu banyak yang semuanya memuakkan citra Kekristenan alias menjadi skandal rohani. Bukankah Natal adalah urusan kerohanian? Lalu buat apa merayakan natal banyak-banyak? Apakah nama Tuhan Yesus dimuliakan dan disenangkan?
Untuk itulah tulisan Amang DTA dan komen Amang Andar ini sangat mendesak untuk di paparkan supaya kita jemaat menghargai dan memahami/belajar pentingnya keteraturan bukan membebankan kita aturan-aturan yang tidak bertanggung jawab dan menghindari kita dari penyelewengan rohani .
Mari berubah merayakan natal secara teratur bahwa momen natal adalah perayaan komitmen kita menyonsong/masa Advent sampai menerima kehadiran Allah di bumi sebagai gambaran pertobatan kita. Perayaan Natal juga adalah perayaan pekerjaan Roh Kudus terbesar menurunkan Sang Firman menjadi Manusia Tuhan Yesus Kristus untuk itu Marilah kita lebih sungguh-sungguh membaca, belajar menggali isi Firman Tuhan.
Ok nanti kita sambung..
October 15th, 2008 at 8:50 am
Daniel Harahap pro Joice Butar-butar:
Inang, dalam hal ini orang Bogor itu lebih benar dari orang Bandung.
Nalom (RN):
Tapi orang Bandung itu jauh lebih memahami apa yang diinginkan ruasnya. Sama seperti Allah yg tak egois untuk mempertahankan keIllahianNya agar dapat lahir dan hidup bersama/menjadi manusia.
Daniel Harahap:
Atau jangan-jangan kita sudah berprinsip: benar atau salah yang penting puas?
Lho, kita ini beribadah mau memuaskan jemaat atau memuliakan Allah sih?
October 15th, 2008 at 9:02 am
Marilah coba lihat, komentar-komentar orang yang sepertinya “kontra” dng usulan Amang DTA, sama sekali bukannya tak memahami apa yang diwacanakan. Tapi kesemuanya hampir menyatakan, bagaimana bisa memaknai Natal dengan lbh baik. Jangan lah pula alasan kemewahan/mubazir, penghaburan dana, itu yang dijadikan alasan untuk menjudge perayaan natal sblm 25 Des haram. Saya pribadi tdk keberatan hal ini dibawakan dalam RP, tentunya dengan bijak dan arif juga melihat apa yang ada di tingkat jemaat/awam. Tapi ada hal-hal yg lebih penting dari sekadar natal di masa advent.
Daniel Harahap:
Melarang natal sebelum 25 Desember sama maknanya dengan melarang Perayaan Kebangkitan sebelum Jumat Agung. Atau di kalangan Muslim: melarang halal bil halal di bulan Ramadhan. Masih belum jelas juga? Oala.
Ini bukan soal haram halal.
October 15th, 2008 at 11:43 am
Setuju Amang… Kalau sdh dimulai HKBP (sbg organisasi gereja Protestan terbesar) mudah mudahan akan diikuti gereja lain…
Kalau sdh begitu, saya tdk akan capek lagi meyakinkan panitia Natal di punguan marga dan di kantorku supaya tdk membuat acara Natal diawal bulan Desember setiap tahunnya. Sebagai pegawai dan anggota, saya wajib mengikuti kegiatan di punguan Marga dan kantor tapi sebagai warga Gereja Katolik, saya tidak bisa, akhirnya saya membuat keputusan tdk mau berpartisipasi di kepanitiaan cukup hadir pd saat acara Natal doang, i think it’s better than if i refuse. Mungkin org kantor atau punguan marga menganggap saya fanatik dengan aturan gereja Katolik yang melarang perayaan Natal sebelum tgl 25 namun saya berprinsip, aturan dibuat untuk ditaati bukan utk dilanggar. Apa gunanya dibuat aturan kalau memang untuk dilanggar…?? Saya bukan fanatik, kalau saya fanatik, mungkin saya tidak akan sering membaca tulisan amang Pdt DTA Harahap. Apalagi yang utama dalam ajaran Kristen bukanlah kelahiran namun Kebangkitan krn Kebangkitan ini lah Iman kita.
Setuju buat amang, bhw sebelum tgl 25 desember adalah masa Adven (penantian, pertobatan). Istilah kasarnya, sebelum tgl 25 Desember, Maria masih dalam perjalanan untuk di sensus di Bethlehem (penuh derita) kok kita sdh bersorak gembira…?? Sebab itu kita mencoba menghayati apa yg dialami oleh keluarga Kudus selama dlm perjalanan mereka, kita turut serta dalam penderitaan mereka. Saat ini lah kita diuji, apakah memang kita setia dlm penderitaan, apakah kita hanya ikut DIA pd saat bersorak gembira.
Tetaplah semangat amang Pdt DTA Harahap, jangan pesimis walaupun ada anekdot bhw “NABI selalu ditolak di kampungnya sendiri”
October 15th, 2008 at 11:47 am
Memang tidak mudah membuat orang menerima suatu perubahan, sekalipun perubahan itu adalah sesuatu yang dikembalikan ke jalur yang benar. Ada yang bilang yang penting esensi Natal gak penting tanggalnya, semangat natal harus ada tiap hari, bahkan ada yang bilang ribut2 untuk hal yang gak penting ( ah.. yang benar saja, masa mengikuti aturan dan keteraturan itu gak penting ! Jangan2 masalah yang sering timbul karena kita ingin mudahnya saja dan cenderung tidak mengikuti aturan dan keteraturan ).
Sebaiknya postingan ini dibaca satu paket dengan postingan “Adven : Apa dan Kenapa Perlu”, sehingga kita lebih dapat memahami makna Adven yang selama ini sangat kabur, karena kita sudah sibuk berpesta natal di sana-sini dan tak ingat untuk melakukan perenungan tentang pertobatan, pengharapan, sukacita dan penantian.
Jujur, tahun ini mungkin saya lebih bisa merasakan makna sukacita Natal karena saya sudah mendapatkan pemahaman yang sangat dalam mengenai masa-masa Adven (thanks untuk postingannya Amang) .
October 15th, 2008 at 12:01 pm
Sambungan:
Perayaan Natal bukankah dari namanya saja sudah merupakan bentuk perayaan momentum sejarah? Berarti ada proses kronologi waktu yaitu rancangan keselamatan Allah, mulai dari nubuatan/ penantian para nabi sampai penggenapan yang disaksikan para rasul-rasul. Jadi tidak mungkin dong kita memaknai perayaan Natal dengan baik tanpa mengikuti jejak langkah proses ibadah spritual meta narasi ini yaitu (masa Advent sampai Natal).
Memang perayaan Natal banyak mengalami penetrasi budaya dunia pesta/festival, jadi jemaat cenderung lebih mempersiapkan semarak pestanya daripada tujuan Natal : kemajuan di bidang partondion. Ibarat pasangan muda yang mau menikah, kebanyakan lebih sibuk mempersiapkan pesta pamasu-masuon daripada mempersiapkan dasar parsaripeon. Adalah lebih baik kita membatasi jumlah perayaan Natal karena setiap kelompok kategorial marga, dongan sahuta, arisan saompung, ale-ale,dll punya semangat tidak mau ketinggalan tampil.
Dalam perayaan Natal, Acara Ibadah lebih utama daripada hiburan dan tata ibadah lebih baik ringkas/pendek untuk menjaga suasana lebih hikmat. Jauhkan kasak kusuk ngorol di luar dan di dalam selama ibadah atau sibuk mau salaman, mau markoor, mau tampil pajojorhon atau lihat artis padahal acara utama yaitu kotbah hanya seperti sampingan. Dan jangan lupa panitia memberi pertanggung jawaban masalah keuangan Natal yang akurat.
October 15th, 2008 at 1:40 pm
Ha..ha..Amang ini belain orang Bogor..ya..anak saya bilang..ya..nggak bisa pulang kampung dong..(kok jadi kepentingan pribadi ya..he..he.) sudah lah..saya mah baca renungan hariannya aja..klo soal natal ini kelihatannya nggak sepaham kita he..he..boleh kan..But, I’m glad HKBP got you..you’re still the best..for me..God bless Ruma Metmet.
Daniel Harahap:
Lebih dekat ke suasana Betlehem.
Soal kalender ibadah dan masa perayaan natal serta pentingnya adven saya masih berdoa Inang rela berubah setelah membaca banyak tulisan di sini. Saya sedang meminta Pdt Bonar Tobing, ahli liturgi kita dari STT HKBP, untuk menuliskan tentang tahun gerejawi atau kalender ibadah. Nanti kalau sudah dikirim saya posting semakin memperkaya kita.
Inang, sekalian natalan di kampung saja.
October 15th, 2008 at 9:59 pm
Bagaimana kalau Almanaknya yang dirubah, minggu-minggu yang dinamai untuk 52 Minggu (seperti passion, rogate, ephipania dll) ditata ulang. Adventus !, II, III, IV digeser pada bulan Nopember??. Dan Mingu-mingu I, II, III dan IV Desember dibuat menjadi masa-masa natal (Chrismas Weeks/masa natal)?. Aturan /almanak /kalender kan dibuat oleh pembuat aturan. Kalau memang susah biarlah seperti itu dan tampaknya kegairahan jemaat HKBp toh tidak terganggu gara-gara ada natal kategorial pada masa-masa advent?? Natal Kategorial secara agenda/timetable malah menurut saya hanyalah sampiran tapi kenangannya khususnya anak-anak dan remaja kesannya sangat mendalam ( Untuk sekedar informasi buat bapak DTA malah di pargodungan HKBP Balige Gereja untuk Naposo Bulung malah terpisah karena disana dimungkinkan).
Menurut saya sangat aneh malah kalau merayakan Natal pada bulan Januari (Sudah lewat pergantian Tahun), malah di Negara yang terdiri dari 4 musim sudah dalam proses pergantian musim (remmber easons Greetings). Prayaan Natal pada minggu-minggu setelah 25 Desember menurut yang saya amati roh Natalnya sudah nyaris hilang secara psikologis karena sudah anti klimaks karena klimaksnya adalah pada tanggal 25 Desember (di beberapa Gerea Protestan lainnya dan katholik24 Des. Jam.00). Perayaan Natal Kategorial menurut saya adalah semacam exercices untuk malam 24 Desembernya (HKBP malah melakukannya sebelum jam 12 malam bahkan dibeberapa Gereja 2 session: Jam 17.00 Bahasa Batak dan Jam 20 :00 Bahasa Indonesia) kenapa hal ini sekalian tidak dipersoalkan kalau mau dengan presisi waktu dan tanggal???. Lihat saja misalnya tanggal 26 Desember (Natal ke-II) gregetnya sudah hilang.
Pembuat aturan biasanya membuat aturan berdasarkan fakta yang tidak memberatkan pada pelaksanaannya, tapi ada alasan pragmatisme dan alasan kepraktisan sehingga memenuhi rasa kepuasan yang tinggi (highest satisfaction. Dan dibeberapa Gereja di USA pada saat ini malah sudah memakai teori-teori marketing yang bisa memuaskan pelanngan/jemaahnya tentu secara rohaniah. Dan filosofi ini sangat kental untuk umat Protestan!!.
Yang saya pernah baca dalam teori Pembangunan Ekonomi salah satu ciri masyarakat yang dinamis, dan konon katanya hampir semua negara maju di dunia ini - latar belakang agamanya adalah yang ber- Etika Protestanisme yang tinggi. Etika Protestanisme tidak menganut aturan untuk aturan tapi aturan yang dapat mencapai hasil akhr (Means to an end bukan means to the means).
Janganlah kita bersengketa hanya masalah semantik tapi hendaklah kita bersengketa khususnya kepada diri kita terhadap buah-biah roh yang kita hasilkan. Sudahkah kehadiran HKBP di Indonesia ini telah dirasakan kehadirannya/ eksistensinya oleh lingkungannya??, sudahkah jemaat HKBP telah menjadi garam dan terang dimulai dari keluarganya? Malah menurut saya tolonglah dibangun citra HKBP yang gemar gontok-gontokan untuk sekedar sebuah aturan menjadi aebuah gereja yang perlu diteladani. Jadilah HKBP seharusnya menjadi pohon yang teduh (bukan makudnya hariara parbeguan), yang dapat memberikan kepuasan bathin, sumber inspirasi dan yang mencerahkan demi kemajuan jasmani dan rohani.
October 16th, 2008 at 1:22 am
Numpang nanya Pak Pdt DTA dan Ibu/Bapak lainnya.
1. Konfesi HKBP tahun 1951 Pasal 11 tentang Tata Gereja antara lain menyatakan, “Kita menyaksikan: Di dalam Gereja perlu ada tata-gereja yang berazaskan Alkitab. Sebab tata-gereja ialah saluran untuk memberikan ketertiban dan sejahtera di dalam Gereja…. (dst)”
Apakah Konfesi 1951 Pasal 11 ini masih berlaku? Dan bila masih berlaku, apakah pengertian tata-gereja di dalam Konfesi ini mencakup pula kalendar Liturgi Gereja?
2. Apakah Kalendar Liturgi Gereja bukan sesuatu yang harus ditaati dengan antara lain menjaga kesesuaian segala praktek terhadap Kalendar Gerejawi itu walaupun belum ada keputusan Rapat Pendeta seperti yang diusulkan Pak Pdt DTA dalam surat terbukanya di atas?
Daniel Harahap:
(1) Pengakuan Iman atau Konfessi HKBP 1951 pasal 11 maupun Konfessi HKBP 1996 pasal 10 tentang Tata Gereja masih berlaku.
(2) Tata Gereja HKBP pasal 5 butir 1 mengatur tentang pelaksanaan Ibadah di HKBP harus menggunakan Almanak dan Agenda HKBP. Pasal 5 butir 8 mengatur tentang hari-hari raya yang dipestakan oleh HKBP.
Dalam melaksanakan ibadah jelas HKBP harus menggunakan Almanak dan Agenda HKBP. Di kedua dokumen itulah diatur tentang kalender ibadah. Keputusan Rapat Pendeta dibutuhkan untuk menegaskan dan menggarisbawahi apa yang sudah ditetapkan sebab penyimpangan sudah terlalu jauh dan lama.
October 16th, 2008 at 3:12 am
Pro Amang Salngam:
1. Saya usulkan membaca tulisan Pdt Joas Adiprasetya di web ini juga. Saya melihat Amang sepertinya belum memahami sejarah penyusunan kalender gerejawi yang sudah dipergumulkan ratusan tahun. Jadi kalau usul Amang untuk mengganti penanggalan (kalender) gerejawi di Almanak HKBP, janganlah Amang sampaikan di luaran sana (biarlah cukup disini saja), bisa ditertawakan jemaat lain kita nanti Amang. So tung didok halakan annon: “Botul ma hamu Batak jala ruas….., ari Natal dohot Advent pe naeng diganti-ganti hamu.”
2. Merespon pernyataan Amang di atas: “Dan dibeberapa Gereja di USA pada saat ini malah sudah memakai teori-teori marketing yang bisa memuaskan pelanggan/ jemaahnya tentu secara rohaniah. Dan filosofi ini sangat kental untuk umat Protestan!!”. Dalam konteks kalender gerejawi, ini betul tetapi bukan kepada gereja-gereja yang beraliran Lutheran dimana HKBP termasuk di dalamnya. Saya alumni di sebuah seminari Lutheran di Minnesota, USA. Disana kita tidak akan pernah menemukan ucapan: “Selamat Natal” jika belum tanggal 24 atau 25 Desember. Yang ada hanya ucapan selamat Advent (Have a Blessed Advent). Seluruh jemaat Protestan beraliran Lutheran, Methodis, Calvinis, dll sangat taat kepada aturan kalender gerejawi Advent - Natal, kecuali gereja beraliran Pentakostal dan Karismatik. Saat ini saya di Jerman, juga sedang studi. Suasana serupa di USA juga saya temukan di Jerman ini. Gereja beraliran Protestan tidak akan merayakan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Disamping itu harus juga jelas, bahwa Gereja terpanggil bukan untuk memuaskan jemaat atau pelanggan (menurut istilah Amang), tetapi Gereja terpanggil untuk memuaskan dan memuliakan Tuhan.
3. Masalah gereja gontok-gontokan menurut saya (seperti postingan saya di atas), analisa saya adalah karena beberapa warga jemaat dan pelayan tidak lagi taat kepada sistem (kalender gerejawi, aturan peraturan dan Alkitab). Ketika kita tidak mau lagi diatur oleh sistem yang telah kita sepakati bersama, akibatnya kita kehilangan pegangan dan terjadilah gontok2an. Lagi menurut saya, yang gontok2an bukan hanya HKBP tetapi masih banyak jemaat lain non-HKBP. Konflik adalah suatu dinamika berjemaat yang sudah terjadi bahkan ketika jemaat mula2 masih digembalakan oleh para rasul. Solusi: Marilah kita benar-benar merenungkan makna setiap kalender gerejawi dengan penuh takzim, jangan meloncat-loncat, jangan pongah dan jangan mengejar kemeriahan semata. Mengenai resolusi konflik di jemaat, saya pikir harus dibahas tersendiri, karena saya juga tidak mau loncat-loncat membahas sesuatu.
October 17th, 2008 at 10:38 pm
Pro Pak Andar.
Mengapa orang terutama Pesta Natal marga-marga, perkumpulan dll dilaksanakan Pra 25 Desember???. Apakah Bapak-Bapak pengurus Gereja (sekarang Pendeta sebagai uluan Gereja!!!???) pernah melakukan risetnya??? (Mudah-mudahan pernah).
Saya memang tidak pernah melakukan riset akan hal tersebut. Namun dari beberapa kasus boleh saya sampaikan:
1. Para perantau banyak yang pulang kampung untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di kampungnya.
2. Para orang kaya banyak melakukan tur Natal dan tauun baru ke Luar negeri atau tempat-tempat turis di dalam negeri.
3. Para kelompok marga ingin merayakan Natal bersama-sama dengan anggota kelompoknya.
4. Natal menurut mereka kurang afdol kalau dilaksanakan pada bulan Januari apalagi pada bulan-bulan setelah itu.
5. Para Pegawai sudah banyak mengambil Cuti Tahunan (12 hari) terhitung mundur Minggu Pertama Januari .
6. Natal yang paling afdol buat mereka di dalam kelompok indahnya antara 1 Desember s.d 24 Desember karena Spiritnya lebih indah (Lihat saja Silent night sudah mulai dinyanyikan di mal-mal dan di mobil-mbil pribadipun stock lagu-lagu natal sudah mulai terdengar.
Tentang merubah Almanak HKBP seperti saya sebutkan kalau toh memang tidak lagi bisa dirubah karena sudah sangat baku (Ratusan tahun) ya jangan dirubah!!!, tapi kepentingan masyarakat tadi juga jangan di nafikkan!!!.
Konon katanya Gereja-geraja di Jerman (Lutheran, Kalvin dsb) sudah banyak yang bangkrut hanya diisi kalaupun ada hanya diisi oleh orang-orang tua!!! (tolong juga HKBP jangan samapai seperti itu). Di Jakarta ini jemaat HKBP telah banyak yang pergi ke Gereja Kharismatik (Alasan mereka khotbah para pengkhotbah di HKBP tidak bermutu!!).
Waktu saya pernah belajar pendidikan Agama di SMP tahun 1969-1972. Seorang guru agama (HKBP) mengatakan, apa yang menjadi advantage dari pola keberagamaan kita ini adalah ke praktisannya, tidak ada hubungannya dengan ketaatan dll tapi hanya karena Sola Fide saja. Dengan demikian improvisasi Natal kategorial saja menurut saya bukanlah tidak menghargai masa-masa Advent. And it’s not a big deal.
Walaupun saya mengucapkan Selamat Natal di Pesta-pesta Natal kategorial , setiap Minggu Advent I, II, III dan IV tetap juga saya khusuk mengikutinya. Dan klimaks natal saya adalah tetap Pada Malam natal 24 Desember dan 25 Desember siangnya (meminjam istilah Bapak-Bapak tentang urutan tanggal).
Yang indah memang tentang HKBP/Lutheran adalah semua minggu itu diberi makna berikut dengan nama-nama minggunya selama setahun (kalau bisa seyogianya setiap tahun juga diberi makna jika dimungkinkan biar lebih mantab). Tidak seperti di Kharismatik semua minggu adalah sama (bahkan ada yang berminggu 2xseminggu).
Dari apa yang Bapak-bapak usulkan ini saya menjadi lebih tidak paham mengapa pada jaman Ephorus Ds TS Sihombing dan GHM Siahaan perayaan kategorial ini ada. Persoalan ini muncul konon katanya pada jamannya Ephorus Dr SAE Nababan. Apakah para ephorus terdahulu itu tidak faham tentang almanak?
Saya adalah jemaat HKBP yang rindu belajar dari para pendeta HKBP, dan saya akan sangat puas bila diajajar oleh Pendeta yang Ekselent dalam berfikir dan menelorkan ide-ide. I’ve seen and attented many kind of churches tapi pusok saya adalah HKBP. Tapi saya geli juga kalau ada ide yang aneh-aneh, khususnya di HKBP.
October 18th, 2008 at 3:26 am
Pro pak Salngam:
1. Maaf, lagi2 saya berkesimpulan kalan bapak belum membaca seluruh koment saya sebelumnya. Yang saya batasi hanya perayaan Natal di lingkungan jemaat HKBP. HKBP memiliki Almanak dimana tertulis: tanggal 25 Desember adalah pesta Natal Parjolo. Lalu kalau Natal dirayakan sebelum tanggal 25 Desember, itu namanya pesta Natal keberapa? Kemudian, saya juga sudah mengatakan bahwa pesta Natal lingkungan, instansi, sekolah, yang tidak ada kaitannya dengan HKBP, itu bukan urusan HKBP, karena tidak semua karyawan kantor (misalnya) yang gerejanya memiliki kalender gerejawi seperti HKBP.
2. Dari uraian bapak memang semakin jelas bahwa makna Natal tidak lebih sekedar keafdolan, kepraktisan dan tur Natal dan tahun baru. Ini yang harus diluruskan karena bapak sama sekali tidak menyebutkan bayi kudus yang seharusnya dirayakan itu. Lagi2 makna Natal dan bayi kudus itu terhilang oleh kemeriahan sebagai produk dari konsumerisme dan kapitalisme (menurut bapak Natal terukur juga melalui lagu silent night di Mal dan di mobil2).
3. Bangkrutnya gereja di Jerman bukan karena mereka tidak mengikuti kalender gerejawi, tapi karena berbagai faktor, salah satunya karena negeri ini sudah terlalu makmur sehingga mereka merasa tidak perlu lagi mengalami penyertaan Tuhan. Untuk itu, kita perlu kembali ke akar liturgi kita, memberi makna sebagai orang Kristen melalui kelender gerejawi dan Alkitab tentunya. Indonesia pun kalau nanti makmur suatu saat, lalu gereja2 larut & sibuk merayakan Natal ala kapitalisme dan konsumerisme, tidak menutup kemungkinan akan ditinggalkan jemaatnya karena gereja hanya berperan sebagai panggung hiburan yang tidak memberi penghiburan.
4. Lho katanya bapak mau belajar dari pendeta HKBP, tapi kenapa tidak mau belajar mengenai ide yang menurut bapak aneh? Bukan belajar donk namanya. Menurut kami ide ini bukan hal yang baru dan aneh. Perayaan Advent & Natal sudah berlangsung ratusan tahun. Menurut penelitian seorang ahli liturgika HKBP (mudah2an saya tidak salah), perayaan Natal yang semrawut di kalangan masyarakat Kristen Batak baru berlangsung sekitar tahun 1960-an, jadi belum lama. Sebelumnya, orang2 Kristen Batak begitu taat merayakan Advent dan Natal pada waktunya. Pengkhotbah 3:1 mengatakan: “Segala sesuatu ada waktunya.” Saya memahaminya: “Jangan rayakan Natal kalau belum waktunya.” Jadi kami adalah para pendeta yang justru mau merevisi sebuah kebiasaan yang justru menurut kami aneh, yaitu merayakan sesuatu tidak pada waktunya.
5. Konon menurut yang saya dengar IL Nommensen dulu selalu membuat orang mengantuk kalau berkhotbah. Tapi kenapa HKBP justru berbuah saat kepemimpinannya ya? Jadi kualitas khotbah menurut saya bukan hal yang membuat banyak jemaat HKBP “jajan rohani” ke gereja lain. Lalu kenapa? Mungkin karena justru gereja sering tidak konsisten dalam berbagai hal termasuk dalam tidak mentaati kalender gerejawinya sendiri.
October 18th, 2008 at 10:20 am
Kayaknya issue ini menjadi hangat sekali ya. Terutama di ruas dan Parhalado HKBP. Saya kebetulan ruasnya GPIB (namun memiliki hubungan historis yang sangat kuat dengan HKBP (Dibaptis, Sidhi dan Pemberkatan Nikah di HKBP).
Pemahaman saya terhadap masalah ini adalah permasalahan yang muncul diakibatkan Perayaan Natal yang bertentangan dengan Kalender Gereja HKBP plus liturgis Adventus pada masa pra-25 Desember. Untuk itu saya mencoba untuk meberikan pandangan sbb :
1. Kalau enggak salah (berarti benar ?!?) peristiwa-peristiwa “kristiani” (saya enggak mendapat istilah yang pas) yang ada di Alkitab Perjanjian Baru meliputi : Kelahiran, Kematian, Kebangkitan, Kenaikan dan Turunnya Roh Kudus. ( Adventus dimana ya ?)
2. Tanggal kelahirannya Yesus yang pasti masih menjadi tanya sangat besar, namun kita sudah memiliki konsensus dan cenderung “mengimani” tanggal 25 Des sbg “birthday” dari Yesus Kristus. Dalam merayakan ulang tahun Yesus ini, saya melihat tidak ada yang menjadi persoalan besar apalagi persoalan yang menyangkut keimanan kita terhadap Sang Bayi Kudus, kalau ada pihak yang merayakannya sebelum tanggal 25 des - yang menurut pemahaman saya bersifat menyambut sesuatu yang sudah pasti (Yesus sudah lahirkan 2008 tahun yang lalu) - ataupun jika itu dirayakan pas tanggal 25 Des atau sesudahnya - yang lagi-lagi menurut saya, bersifat merayakan.
3. Kalau kemudian perayaan itu bertentangan dengan kalender gereja HKBP dan liturgi adventus, mohon maaf kalu saya katakan, menurut pendapat subyektif saya “kayaknya ada yang salah dengan kalender gereja dan liturgis adventus tsb. Why ???Apakah kita masih menunggu kelahiran Yesus ??? Apakah masa adventus ada dalam perjanjanjian Baru ??? Bukankan liturgi adventus itu adalah tradisi kristen purba di perancis yang sangat erat hubungannya dengan tradisi yahudi. Dimana orang melakukan puasa untuk menggambarkan penderitaan dalam menanti kehadirian sang juru selamat. Kalau kemudian liturgi Adventus itu dipahami sebagai penantian akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Apakah Yesus akan datang yang kedua kali pada tanggal 25 Des tahun ?????? Sehingga kita menghitung mundur 4 minggu dari tanggal 25 des untuk menetapkan liturgi adventus yang minggu I - IV. Bukankah kita every day, every minute waiting for it ?. Bukankah kita berbuat baik, memanifestasi iman percaya dan melakukan semua yang dikotbahkan Pdt (Pak DTA dkk) untuk menyambut kedatangan Sang Juru Selamat yang kedua kali. What is so special on 4 week before 25 Dec. Pls kindly share it to us ?.Kalau saya boleh menyimpulkan, semuanya itu tidak lebih dari “simbolisasi”. Lalu apa yang kita perdebatkan kalau ternyata semua itu tidak lebih dan tidak kurang dari sebuah simbol. Apakah Yesus meminta kita untuk merayakan kelahiranNya, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ? (Kayaknya enggak ya ?) Apakah salah kalau merayakannya - sebelum atau sesudah tanggal 25 Des ? (kayaknya enggak juga khan ?). “Mungkin” yang Yesus mau, kita mengingat kelahirannya dengan mengingat “orang lain” (Correct me if I’m wrong ?) every day and every minute and before 25 Dec as well. Lalu apa yang terjadi dengan Kalender Gereja HKBP, GPIB dll. (Gus Dur bilang : “Itu saja kok repot !”) Bukankah itu semuanya “by design”. Kalau begitu ya “redesign”. Kalau Pak DTA dkk mau meminta kita merubah apa yang sudah terjadi ! Apakah kita tak bisa memenita Mereka untuk juga kembali berpikir secara theologis, secara praxis, secara humanis dan is - is yang lain (makin banyak makin baik).
Daniel Harahap:
Jika ya dimana? Setahu saya GPIB justru sudah lebih berhasil daripada HKBP kembali ke kalender liturgi. Dan saya justru ingin belajar dari GPIB bagaimana mengembalikan kalender gerejawi atau kalender liturgi dengan “smooth”. Berhubung Anda mengatakan lahir, baptis, sidi dan menikah di HKBP sebagai pendeta HKBP saya boleh kan mengingatkan: baik-baiklah di gereja. Banyak-banyak membaca dan belajar.
Saya mau tanya: Anda sungguh-sungguh anggota GPIB?
October 18th, 2008 at 1:47 pm
Karena Pak DTA tanya, maka saya tak berani untuk tidak menjawab. Kalau sungguh-sungguh anggota GPIB dalam pengertian menjalanan semua aturan dan dogma GPIB maka saya akan menjawab “heaven knows ?”. Tapi kalau ditanya terdaftar sebagai anggota GPIB, maka saya memberanikan diri menjawab “ya”. Saya kebetulan terdaftar sebagai Jemaat GPIB Immanuel di Pekanbaru. Terimaksih untuk nasehatnya. Don’t worry pak dta. I won’t let you and hkbp down. BTW. Saya juga mau ingatkan agar pak dta baik-baik juga membina Jemaat.
Daniel Harahap:
Saya bertanya apakah Anda benar anggota GPIB karena saya tahu GPIB sangat serius dengan kalender liturgi atau tahun gerejawi, sementara Anda (kesan saya, silahkan koreksi) tak menganggapnya penting.
October 18th, 2008 at 9:58 pm
Hallo, Amang…yang sabar yah Amang atas comment semua orang tentang surat Amang…aku percaya kok Amang punya maksud yang baik… dan aku juga bersyukur pada TUHAN karena DIA telah memberikan kepada jemaat HKBP seorang Pendeta yang mau mengoreksi segala kesalahan yang sudah terjadi sejak berpuluh2 atau bahkan ratusan tahun yang lalu di dalam gereja kita tercinta ini… dan aku juga mengucapkan terima kasih ke Amang atas semua penjelasannya ttg Natal dan Adven…terima kasih karena udah mau membuka diri buat kritikan yang ada…terima kasih udah mau menjawab pertanyaan aku, walaupun kadang masih ada yang gak aku mengerti…. Tetaplah tersenyum walau orang2 membuat Amang jengkel dan tetap menjadi Teladan bagi semua umat Kristen….khususnya jemaat HKBP….dan tetap menjadi tempat curhatnya anak muda yah Amang….
Daniel Harahap:
Agnes, penyimpangan dalam perayaan natal setahu saya belum sampai empat puluh tahun. Jadi masih bisa diperbaiki. Yang penting sabar. Hari ini untuk kelima kalinya dalam sebulan ini saya menolak lagi permintaan kotbah natal sebelum 25 desember. Sebenarnya dari segi finansial, jika saya menerimanya sangat membantu kami. Namun saya sudah tekad tidak akan berpesta natal selama masa adven (kecuali untuk anak-anak SM HKBP Serpong) sebagai tanda kesungguhan saya menyatukan doa dan batin dengan semua jemaat yang sedang merintih dan menantikan-nantikan Tuhan: menyembuhkan, mengaruniakan anak, mempertemukan dengan jodoh, memulihkan rumah tangga dan pernikahan, mendamaikan keluarga dan berbagai pergumulan lain.
October 19th, 2008 at 4:15 pm
Bpk Pdt Andar
Justru karena saya telah membaca kontent yang Bapa maksudkan. Puluhan tahun natal kategorial dilaksanakan nothing happenned di HKBP, Tuhan tampaknya tidak menunjukkan kemurkaanNya karena sekedar Natal Kategorial before Christmas Day!. Justru Bapak tampaknya lamban menterjemah dan memahami jemaat awam seperti Saya. Dan tampaknya juga Bapak tidak membaca seluruh comment saya, karena kalian para pendeta tidak konsisten, kenapa kalian berpesta natal (Casus HKBP Jln. Jambu dan beberapa Gereja HKBP Besar di Jakarta) menyelenggarakan pesta Natal pada malam 24 Desember 2 sessi: Jm 17.00 dan 20.00
(berarti belum tanggal 25 Desember) dan Katholik konsisten melakukannya tanggal 24 Desember jam 24.00 (tanggal 25 Desember)!!!???.
Sepengetahuan saya IL Nomensen sangat concern dengan kebiasaan dengan Stylenya orang Batak.
Bapak-Bapak ini boleh jadi mau berbuat sesuatu untuk merubah tabiat orang Batak, menurut saya itu sah-sah saja (mudah-mudahan berhasil). Namun perlu diingat merubah tabiat orang Batak apalagi tidak mengerti akarnya orang Batak bisa juga berakibat Fatal.
Sepengatahuan saya di kampung tidak ada pesta-pesta Natal baik marga maupun kantor-kantor. Hal itu terjadi di kOTA-KOTA bESAR KHUSUSNYA jAKARTA. Natal pra 25 Desember pada jaman saya sering dilakukan oleh sekolah-sekolah baik SD, SMP dan SMA. ———– del ————–
Daniel Harahap:
Catatan: komentar yang tidak berhubungan dengan topik Natal dihapus.
October 19th, 2008 at 9:16 pm
Benar Pak DTA, perayaan Natal dirayakan semasa saya anak-anak dahulu di kampung adalah malam 25 Desember dan 26 Desember, sekarang saja anak-anak saya sudah mereyakan Natal padahal masih minggu Advent. Saya rasa baik juga perayaan Natal dikembalikan ke 25 Desember mulai merayakan Natal agar persiapan kita untuk menyambut Natal bisa lebih khusuk dan merindukan kehadiran Natal, Menurut saya perayaan Natal zaman sekarang semakin tidak bermakna karena terlalu banyak acara Natal yang dihadiri setiap tahunnya.
October 19th, 2008 at 9:44 pm
1.Kepada seluruh pecinta rumametmet, saya menganjurkan untuk membaca dahulu semua pertanyaan dan tanggapan yg telah terlebih dulu ada. Berpendapat itu baik, tapi bila apa yg sudah ditanyakan orang sebelum kita dan telah ditanggapi amang DTA, sebaiknya tidak perlu ditanyakan lagi. Tapi kejarlah dengan pertanyaan yg berbasis tanggapan dr amang DTA tersebut sehingga wawasan dan cakupan diskusi menjadi mendalam.
2.Sama dengan DTA, saya sudah tahun ke empat tidak merayakan natal sebelum tanggal 25 des. Sekalipun natal dari pihak simatua, tetap saya menolak untuk hadir.
3.Sayang sekali, ini yang sesungguhnya tidak disinggung di topik ini, yaitu:pada saat natal, sudahkah anda sekalian membayar “zakat fitrah” bagi kaum yg kurang beruntung dari kita, seperti Elim. Perhatikanlah Almanak HKBP setiap tanggal 25 des kita semua mandurung tu jolo, dan durung-durung itu diperuntukkan untuk siapa? Jadi, pada hari itu kita semestinya membayar “zakat”, bukan mengumpulkan kolekte seperti biasanya pada hari minggu.
NB:mohon amang DTA memberi penjelasan sedikit, mangapa di HKBP tidak ditekankan agar jemaat mambayar “zakat fitrah”.
Daniel Harahap:
(1) Ruma Metmet ini bukan forum pengambilan keputusan termasuk soal Adven dan Natal. Kita disini hanya berdiskusi. Pengambilan keputusan di Rapat Parhalado dan Rapat Pendeta. Jadi tidak usahlah terlalu tegang di sini. Jika memang serius ingin mewujudkannya sampaikanlah pendapat di forum gereja masing-masing.
(2) Kita tidak kenal zakat. Yang ada hanyalah: persembahan.
October 20th, 2008 at 3:26 am
Pro pak Salngam lagi:
1. Perhatikan dulu baik2 Almanak bapak (saya harap bapak punya Almanak HKBP). Tanggal 24 Desember tertulis: “Parpunguan Bodari Parningotan di Hatutubu ni Tuhan Yesus.” Jadi kan memang sudah tertulis disitu agar jemaat HKBP berkumpul (marpungu) di malam hari untuk mengingat kelahiran Yesus Kristus. Itu pertemuan (parpunguan) bukan pesta. Jadi di Jl. Jambu & banyak gereja lain berkumpul di tanggal 24 Desember tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah kalau ada yang merayakan Natal mulai tanggal 1 Desember (misalnya), karena di almanak HKBP tertulis itu masih minggu Advent. Saya bingung, apa beratnya mengikuti yang tertulis. Kemudian jika kita ganti perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember itu dengan perayaan Advent apa salahnya? Kasian kali lah Advent itu, tidak ada yang mau merayakannya.
2. Saya memang harus lamban memahami aspirasi jemaat kalau memang itu tidak seturut dengan kebenaran yang dipahami oleh gereja. Lagipula ini bukan masalah kemurkaan Tuhan, tetapi apakah kita mau hidup dalam keteraturan seperti yang disuarakan rasul Paulus dalam 1 Kor 14: 40 & Pengkhotbah 3:1. Saya mau hidup dalam keteraturan dan tugas saya sebagai pendeta adalah menyuarakan kepada jemaat untuk juga mau hidup secara teratur, walau banyak perlawanan. Tapi itu sudah resiko saya menjadi pendeta. Atau bagaimana bapak memahami ayat2 diatas dihubungkan dengan konteks Advent dan Natal? Mohon pencerahan!
3. Komen bapak: “Nommensen sangat concern dengan style-nya orang Batak.” Betul sekali! tapi tidak dalam segala hal. Dalam beberapa hal Nommensen justru banyak mendobrak kebiasaan orang Batak yang salah waktu itu termasuk melarang kebiasaan yang sudah banyak bercampur dengan penyembahan berhala. Saya pikir seluruh tabiat (bukan tabiat orang Batak saja) kalau memang perlu dirubah, itu harus dirubah. Itu tugas kita kan sebagai orang Kristen, untuk terus menerus mau berubah (Rom 12:2). Jadi walaupun harus fatal akibatnya, itu sudah menjadi hidup orang Kristen, untuk mau dirubah dan berubah.
October 20th, 2008 at 2:34 pm
Pro Rissa:
Rissa, yang harus dirayakan setiap minggu dan setiap hari itu bukan natal (kelahiran Yesus) tetapi paskah (kebangkitan Kristus). Kita berkumpul di gereja setiap minggu merayakan kebangkitan Tuhan. Pemahaman natal setiap hari adalah sesat.
Waduh…., kalau sudah bicara SESAT, saya tidak ikutan. Masalahnya yang kita anggap sesat itu, juga mengatakan kita SESAT dan bahkan akan saling menyesatkan satu dengan yang lain. Masalahnya sesama penjahat juga saling mengasihi, dan saling mengaku dan menyembunyikan kejahatannya.
Ditambah lagi PERAYAAN PASKAH.
Hari menjelang penyaliban Kristus mereka berpestapora dan puas dengan keberhasilan penyaliban tersebut. Kalau itu yang perlu dirayakan, sudah tidak nyambung lagi pengetahuanku sampai kesitu. Karena saya hanya seorang Ahli Peneliti Muda bidang Aerodinamika.
Bisa saja tafsiran itu berkembang supaya umat Kristiani ikutan merayakan supaya puas dengan penyaliban tersebut (saya tidak tau ini SESAT atau TIDAK). Sementara kelahiran Yesus disambut soraksorai bergembira oleh gembala dan dunia termasuk didalam hati saya sampai saat ini. Terimakasih dan saya berhenti mengkomentari tentang perayaan natal sebelum 25 desember, karena ilmu dan iman saya belum ada se bulirsesawi. (www.bulirsesawi@gmail.com, stgmaludin@yahoo.co.id, bulirsesawi.blogspot.com.).
October 20th, 2008 at 2:35 pm
Sebenarnya tidak ada yang lelah walaupun perayaan Natal dilaksanakan sebulan penuh, karena yang merayakannya seara parsial .Menjadi beban bagi banyak orang?, kenapa menjadi beban ???? Beban dari segi biaya? tidak juga, khusus sm hanya bingkisan Natal senilai +/-Rp.10.000/anak, kategorial hanya lappet dan kopi. jadi tidak menjadi beban.
Malahan sebaliknya dengan mengikuti perayaan Natal kelelahan dan beban kita selama setahun malah hilang berganti dengan suasana kegembiraan.
saya hanya berharap usulan perayaan Natal setelah 25 Desember jangan sampai terjadi dan sampai terdengar oleh orang2 berjenggot, karena bila sampai terjadi dan terdengar oleh orang2 berjenggot, maka orang yang merayakan sebelum 25 desember akan di razia dan Gerejanya ditutup. Mungkin juga pengamen yang menyanyikan lagu Natal di bis, mal, penjual kaset dan cd akan dilarang memutar lagu Natal sebelum 25 Des. Juga pohon Natal terbesar tidak akan ditemui lagi di mal serta kebiasaan keluarga menghias pohon Natal tidak ada lagi, jadi makna Natal tidak akan terasa lagi.
Maka dari itu biarkanlah Lagu Natal berkumandang selama bulan Desember sepanjang hari dan juga gunakan stiap kesempatan untuk merayakan Natal dimanapun di Negara ini kapanpun dan oleh siapapun, mumpung masih bisa dan tidak diganggu pihak2 yang berseberangan.
Oleh karena itu janganlah ragu merayakan Natal sebelum 25 Desember,Baca Lukas 2 Ayat 10 .
October 20th, 2008 at 6:50 pm
Catatan untuk bapak Warman:
Saya pikir Lukas 2:10 tidak ada hubungannya dengan perayaan Natal sebelum atau sesudah tanggal 25 Desember 2008. Justru melalui Lukas 2:10, penantian Advent karena segala ketakutan, kekhawatiran dan penantian umat akan kedatangan Juruselamat digenapi di dalam Natal. Tanpa Advent, bagaimana mungkin kita merasakan ketakutan dan penantian? itu penafsiran dari beberapa teolog yang saya kenal. Intinya, Lukas 2:10 mengajak kita untuk mengalami masa Advent agar kita lebih mampu memahami bagaimana rasanya khawatir, sabar menunggu dan merasakan penderitaan umat Tuhan, tapi malaikat mengatakan: “Jangan Takut”, karena Juruselamat sudah tiba.
October 21st, 2008 at 1:31 am
Stop…stop…stop…gak usah dibahas lagilah…tunggu aja keputusan Rapat Parhalado dan Rapat Pendeta hasilnya bagaimana…
Apapun yang diputuskan dalam Rapat Pendeta mengenai Pelaksanaan Perayaan Natal adalah keputusan yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat…
Udah…mendingan kita semua berdoa biar surat yang udah Amang kirimkan dibahas dalam rapat tersebut… Dan hasil rapatnya tidak merugikan semua umat Kristen khususnya jemaat HKBP.
Ciayo Amang Pdt. Daniel TA Harahap…
October 22nd, 2008 at 1:29 am
Bapak Andar
Itulah hebatnya kalau punya blog. Jika ada yang tidak sesuai dengan pikiran kita dan akan mengganggu, cukup dengan alasan if you do not like it make your own blog. Banyak reasoning mengapa, dan mengapa orang melaksanakan natal sebelum pra 25 Desember (just for practical meaning) tapi mohon maaf Bapak menjadi misinterpretated karena sudah kena gunting sensornya Bapak DTA. Rupanya Bapak DTA ini hanya menyenangi komentar yang menyenangkan hatinya!!!. For me brainstorming even it cause pain it will bring happiness. No pain without gain. Peace.
Daniel Harahap:
Komen Bapak yang saya potong tidak ada hubungannya dengan argumentasi merayakan Natal sebelum 25 Desember tetapi hanya umpatan kepada kami pendeta dengan memakai tiga tanda seru (!!!).
October 22nd, 2008 at 8:38 am
Kita perlu lebih banyak lagi belajar menyampaikan pendapat secara santun.
Tidak ada salahnya untuk MEWACANAKAN perubahan peraturan (termasuk: peraturan gereja). Akan tetapi tentu gagasan perubahan itu sebaiknya didukung argumentasi yang kuat. Dan dalam hal menyangkut peraturan gereja: tentu sebaiknya didukung juga oleh argumentasi teologis.
Akan tetapi adalah sulit untuk diterima bila ada yang menyampaikan ajakan (apalagi secara terbuka) untuk melanggar peraturan gereja (termasuk: ajakan untuk melanggar atau mengabaikan kalendar gerejawi).
October 22nd, 2008 at 1:49 pm
Saya sudah membaca semua isi materi ini dan juga komentarnya. Masalah substansi memang ranah para pendeta dan masalah pragmatis ranah para jemaat. Kita memang merayakan natal harus lah taat pada asas dan sejarah natal itu sendiri yang diawali dengan masa penantian atau adven, namun kita juga tidak bisa melepas kepentingan merayakan natal ditilik dari sudut waktu, organisasi dan kepentingan, karena kita tidak bisa terlepas dari kepentingan pribadi di luar HKBP dan sebagai jemaat HKBP.
Saya sebagai jemaat HKBP harus tunduk pada aturan yang berlaku yang diputuskan secara jernih, jujur, benar dan sudah dilakukan riset sebelumnya untuk meneliti kemanfaatan, ketepatan dan aspek lainnya. Namun kita juga harus membuka mata dengan adanya fakta-fakta yang dapat mempengaruhi keberadaan akan perayaan natal itu sendiri.
Saya tidak meragukan kualitas amang DTA dalam hal ini, namun saya kuatir, apakah ini sudah banyak diuji di depan publik atau ruas yang berbagai profesi atau bukan hanya parhalado yang beberepa orang itu. Saya hanya kuatir, terjadinya kontra persepsi antara legalitas teoritis didasari keimanan dengan aspek manfaat natal itu sendiri.
Pak Salngam banyak mengomentari dari aspek budaya yang menyangkut dinamika ruas itu sendiri. Sementara Pak Andar dan amang DTA sendiri banyak menganut teori legalitas dengan pendekatan sejarah dan juga keimanan. Saya kira keduanya sama-sama benar dan juga mungkin keduanya juga memiliki kelemahan. Jadi tidak ada yang benar secara absolut.
October 22nd, 2008 at 9:33 pm
Horas kita semuanya, topik yg disajikan sepertinya tidak menemukan tujuan, malahan membuat kita semakin bingung dan tanda tanya apa maksud Amang ini dengan memberikan topik ini. (topiknya bagus tp terlampau dipaksakan)
Saya tertarik dengan komentar Ricard.hutahaean , kenapa pd saat natal kita hanya hura2 atau pesta2, benar memang itu adalah pesta , tapi menurut saya kelahiran Jesus adalah kesederhanaan dan setelah Jesus lahir banyak kasih dan membantu orang , baik sakit ,mati dll, bukankah lebih baik kita merubah topik ini gimana natal 2008 ini kita banyak melihat orang lain : memberi persepuluhan , melakukan sosial , melihat orang yg tdk punya, kalau kita hanya memikirkan selera dan ego kita
jadi marilah kita sama-sama melihat natal sebagai bagian dari melihat atau membantu orang. bukan pesta2 atau pidato yg pakai jas baru dan pejabat2 HKBP lagi (parartaon, Parhalado yg udah de sama sama tau kita , individunya maksudku) yg sekarang banyak yg munafik.
Daniel Harahap:
Lho, bukankah maksud saya mengembalikan masa-masa Adven agar sebagian biaya2 pesta natal bisa disumbangkan?
October 23rd, 2008 at 12:02 am
Pro Pak Salngam:
1. Saya setuju sekali kepada pemilik blog ini yang harus tetap menjaga etika mengingat kita semua adalah pengikut Kristus yang seharusnya tahu mengungkapkan idenya secara bebas tetapi tetap sopan dan bertanggung jawab.
2. Saya hanya mengajak kita untuk hidup di dalam suatu bentuk keteraturan. Jujur! dengan menolak perayaan Natal pra 25 Desember, itu akan merugikan khususnya bagi saya sebagai pendeta secara finansial. Tetapi saya pribadi memiliki komitmen, bahwa gereja yang benar adalah ketika para pelayan dan jemaatnya mau hidup di dalam suatu etika liturgi yang telah kita terima bersama. Bagi kita umat Kristiani, kepatuhan pada liturgi dan tata ibadah harus mengalahkan segala kepentingan lainnya. Natal menurut saya akan sangat dalam maknanya jika kita tidak sekedar pongah (meminjam istilah bapak Salngam: karena cuti karyawan, lagu-lagu natal atau tiket pesawat) merayakannya.
3. Makna Natal akan semakin berarti jika umat mau mengerti kepada seruan malaikat yang mengatakan: “Hari ini telah lahir bagimu, Juruselamat di kota Daud.” Kata: “Hari ini” jelas sekali hendak mengatakan bahwa setiap perayaan termasuk Natal memiliki suatu pemahaman teologis tentang waktu, ada masa tertentu kapan kita seharusnya lebih banyak merayakan kelahiran itu, bukan setiap hari tetapi hari ini. Mengapa umat Muslim dan Katolik (termasuk banyak juga jemaat Protestan lainnya) mampu memahami waktu dan tahu kapan harus berhari raya?
4. Lantas ada yang mengatakan, kita seharusnya merayakan Natal setiap hari. Pertanyaan saya, apakah kita tidak perlu merayakan Paskah, Kenaikan dan turunnya Roh Kudus setiap hari? Ini jelas fanatisme sempit dalam memahami sebuah perayaan. Kita harus merayakan kehidupan di dalam Kristus setiap hari, itu yang benar! Karena Kristus bukan hanya lahir, tetapi mati, bangkit, naik dan bertahta di sorga.
5. Bagi saya tiada ayat yang lebih mudah dipahami selain kata-kata rasul Paulus: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.” Tanpa mengabaikan makna Natal, saya hendak mengajak kita sekalian untuk tetap berimbang dalam merayakan seluruh perayaan termasuk Advent & Paskah. Tapi kalau mau ditanya, perayaan mana yang terbesar bagi iman saya sebagai Kristen? sampai detik ini saya tetap mengatakan: bukan Natal, tapi Paskah.
October 23rd, 2008 at 4:20 pm
Menarik aku membaca rumametmet , mudah-mudahan berguna untuk kita.
saya setuju bahwah topik ini menarik tp terlampau dipaksa. amang yg blm terlampau sy kenal , amang pendeta dimana ya ?? .Amang apa sebetulnya yg harus kita buat pd natal ini , pesta hura-hura, atau membantu orang yg kekurangan??
Amang aku agak kurang yakin hal-hal yg baik akan terjadi di hkbp , krn banyakan did alam telah dihuni oleh oknum-oknum yg tidak mau melihat orang lain,sebetulnya HKBP punya orang2 baik, tapi kekuasaan tanda kutip lebih kuat, contoh :
1. tidak mau melihat jemaatnya yg membutuhkan
2. oknum HKBP selalu mendekati orang yg mampu , yg kurang di cuekin
3. Pemilihan pengurus aja telah bernuansa politik ( voting dan kelompok, ini voting yg telah lobi-lobi dulu, atau spy yg tdk disuksi tersingkir, ) , mudah-mudahan di gereja amang tdk begitu ya!!
4. banyak oknum digereja yg munafik atau tidak bisa dipercaya , kalau lihat sekilas seperti orang benar, tp didalammi hanya topeng.
5. Kalau di HKBP berbuat yg baik akan dikecilkan , karena akan mengganggu bagian yg selama ini pegang kekuasaan.
6. Sebagian jemaat yg terkecilkan , dan tdk akan lg bergereja di HKBP tp pihak gereja tdk akan pernah memanggil malahan membiarkan krn dianggap bisa mengganggu kekuasaan.( biasanya penguasa adalah yg menganggap banyak bekerja di gereja walaupun itu paksan, tp bisa ditutup-tutupi seolah-olah dari dalam hati melayani.
7. Biasanya yg punya jabatan digereja yg berduit dan punya sekolah S1 , S2 dan S tingkat atas , jd dengan itu semua dia bisa berkuasa dan menganggap paling pintar sedunia,
8.Tidak bisa dikritik , menganggap paling oke
9. Kita terlampu segan mengingati orang yg salah, pd hal kita disuruh mengatakan yg benar.
Ini hanya unek-unek , mudah-mudahan di gereja yg amang pimpin tdk ada begitu , aku yakin amang akan konsekkwen dengan tulisan amang.
krn dari tulisan amang banyak yg tertarik ide-ide amang, tapi klw amang melakukan begitu, apa kata dunia.b ravo amang. kembali ke Natal mudah-mudahan kita lebih melihat orang dan merasakan.
Daniel Harahap:
Kalau tentang proses pengambilan berdasarkan voting, saya termasuk yang menyetujui dan melakukannya, karena sesuai Aturan HKBP. Proses voting tak sempurna namun tetap lebih baik daripada main tunjuk.
October 23rd, 2008 at 8:17 pm
bagus itu masukan dari pea , paling tdk kita bercermin dan memperbaiki .
gimanapun HKBP mempunyai banyak umat jadi harus bisa adil dan bijak sana. mengutamakan kebenaran.
benar memang sering yg tdk punya terpinggirkan malahan tdk digubris, mau datang gereja atau tdk ngak masalah. tp kalau yg berduit dicarii atau ditanyai.
yang duduk di organisasi gereja tdk peka , terlampau merasa paling tinggi.
paling pintar.( maksudku oknumnya)
kalau voting aku tidak mengerti, setau aku di DPR itu ,tp kalau di gereja ada ya merekalah itu, kalau bernuasansa politik biar aja dosa mereka itu.
tapi intinya marilah kita lihat yg benar , karena banyak jg sekarang dari depan benar tapi dari dalamnya busuk , bahasa politik , yg lg trend di tv politik busuk.bukan di HKBP maksudku.
bagus ide amang itu mengenai natal sesudah advend , tapi perlu kembali dilihat lebih jauh karena natal telah menjadi budaya, maksudku gimana disosislisasikan kembali agar tau fokusnya.
Tapi kenapa kalu kita bernatal begitu-begitu aja, maksudku kurang menyentuh, apa cuma aku yg gitu amang, mudah-mudahan. horas
mudah-mudahan natal tahun ini lebih bermakna terutama di HKBP yg kita cintai.
October 23rd, 2008 at 11:43 pm
Pro Bapak Pdt Andar.
About “Parpunguan Bodari Parningotan di Hatutubu ni Tuhan Yesus”. Yang Bapa sampaikan apakah artinya itu?. Apakah artinya bukan Peringatan Lahirnya Tuhan Jesus Kristus, atau saya yang kurang faham Bahasa Batak???. Dan di HKBP kami baik yang jam 17.00 dan yang jam 20.00 Pendeta selalau mengakhiri kebaktian Natalnya (acara jam 20.00 biasanya pakai Bahasa Indonesia dan dalam susunan acara disebut KEBAKTIAN NATAL!!!???) dengan kata-kata “SELAMAT NATAL MA DI HITA SUDENA”, laos masijalangan ma hita-sama hita. Hape ndang jatuh dope tanggal 25 Desember. Angka sintua dohot Pandita pe huroa ndang apala si jaha almanak ate di gareja nami i???.
Begiitulah dahlu, nanti saya dibilang kurang santun. Mohon maaf, aku adalah par Balige, kami kurang diajar memperhalus bahasa alana sala do ninna memperhalus bahasa molo di hutanami. Songon umpama ni halak Batak Risi-risi hata ni jolma, lamot-lamot hatani begu. Sampai sekarang saya pikir saya masih jolma!!!. Mudah-mudahan tidak pernah berubah. Peace. Tuhan memberkati.
October 24th, 2008 at 3:12 am
Pro Bapak Salngam.
1. Saya pikir kita boleh sepakat untuk tidak sependapat dalam topik ini. Saya juga sedang mencari korelasi antara santun berbicara dengan isu kedaerahan. Seorang sahabat saya adalah orang Balige tulen, dia mengajar etika komunikasi. Kesimpulan saya, masih sangat banyak orang Balige yang santun dalam berbicara walaupun tanpa kehilangan makna. Di samping itu, apakah semua orang yang halus dalam berbicara dapat dikategorikan dengan begu? Wah bisa2 marah nanti orang-orang yang halus bicaranya kalau disetarakan dengan begu. Tapi mudah2an bukan itu yang bapak maksud. Kalau bapak punya Alkitab, dalam Galatia dikatakan salah satu buah2 roh adalah kelemahlembutan. Jadi saya harap, jangan membuat sebuah generalisasi jika belum berdasarkan penelitian secara ilmiah!
2. Sekedar share pengalaman, di beberapa jemaat yang pernah saya layani, saya selalu mengatakan kepada parhalado jika saya berkhotbah tanggal 24 Desember malam, agar menulisan dalam tata ibadah dan mengucapkan: “Selamat Menyambut Natal,” bukan “Selamat Natal.” Nampaknya semuanya berjalan lancar dan baik2 saja.
Daniel Harahap:
Kesaksian Ibu saya yang kini berusia 80 tahun, pada masa remajanya di Laguboti Toba mereka masih bekerja di sawah pada tanggal 24 Desember, namun setengah hari. Malamnya mereka ke gereja untuk “manutung lilin” namun belum memakai baju baru. Pesta Natal adalah besoknya. Saya pikir hal ini sesuai dengan kalender gereja. Perayaan Natal sesungguhnya adalah tanggal 25 Desember. Namun pergeseran terjadi. Banyak orang menganggap bahwa ibadah tanggal 24 Desember itulah puncak pesta natal. Ini PR gereja kita.
Saya pikir perdebatan soal natal dan adven ini sudah cukup. Kita disini bukan untuk mengambil keputusan. Terima kasih untuk semuanya.
October 24th, 2008 at 11:25 am
Saya pernah ditegur oleh mendiang ‘inang pangintubu’-ku karena dalam suatu pembicaraan saya mengulang-ulang pendapat seolah-olah yang dijelaskan belum dimengerti kawan bicara, padahal sebenarnya sudah ada perbedaan pendapat. Teguran diberikan setelah selesai pembicaraan yang tak berujung dan tak berkesimpulan. Debat kusir. “Belajarlah bicara efisien, Amang!” (saya terjemahkan ke kalimat yang sopan).
Menurutku, demi efisiensi penggunaan lahan rumametmet sebaiknya ‘parjabu’ boleh menggunting pendapat yang sama untuk topik yang sama yang bersumber dari satu orang. Ndang gabe pencerahan na ni dapot, malah berkesan pemaksaan kehendak.
October 28th, 2008 at 8:31 am
Ada tertulis;
1 Petrus 4:11 Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.
Mudah-mudahan apa yang dilakukan Amang ini adalah sesuai apa yang tertulis pada Lukas 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”
Apabila memang Amang menganggap bahwa Peringatan Natal yang ada sekarang (bertumpukan/bersinggungan) dengan Perayaan Advent, maka semuanya itu mungkin karena Matius 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
Hanya pertanyaannya, kenapa musti ayam yang disalahkan ketika ayam tidak bertelur, kenapa angin laut yang disalahkan ketika ombak menghantam perahu, mengapa hujan yang disalahkan ketika banjir menghantam. mengapa tidak peringatan advennya yang diperpendek masanya agar perayaan Natal bisa sebelum natal.
Daniel Harahap:
Putra bungsu kami Wili pernah memohon dengan menangis kepada saya agar diijinkan membuka kado dari Tulangnya sehari sebelum tanggal ulang tahunnya. Hati saya sebenarnya sudah luluh, namun menurut saya anak kami yang berusia 7 tahun itu harus belajar sabar dan mampu menunda kesenangan. Saya tetap mengatakan: tidak. Akhirnya dia tertidur sambil memeluk kado dari Tulang masih dalam keadaan terbungkus dan membukanya keesokan harinya setelah bangun persis pada tanggal ulang tahunnya. Apa yang terjadi? Sukacitanya benar-benar meluap karena berhasil melewati masa penantian itu. Dan saya yakin itu akan sangat berharga baginya kelak setelah dewasa.
Kisah lain: di sebuah konseling seorang pemuda bertanya: apakah dia boleh melakukan hubungan seks dengan calon istrinya (toh waktu pernikahan sudah dekat, tinggal sebulan lagi, dan undangan sudah disebar kemana-mana)? Saya menjawab: tidak. Tapi kalau kamu sungguh tidak sabar lagi dan tetap memaksa ingin melakukannya sebelum hari pernikahan, saya tidak bisa mencegahnya.
Pesan moral: belajarlah bersabar dan menunda kesenangan.
October 29th, 2008 at 2:45 pm
Wah..seru bgt ya baca semua pendapat2 di atas.. ! kelihatan sekali bahwa kita semua ingin terus mencari kehendak Allah disini.. (mudah2an saya tidak salah)
Saya si bkn jemaat HKBP, tp saya sempat lho memikirkan apa yang Amang bilang. Masa2 Advent mmg jarang terpublikasikan dengan benar bg jemaat awam, mereka hanya tahu ada lilin yang terpasang setiap minggunya. Jujur saja, dulu saya jg kurang tahu Minggu Advent itu apa? tp setelah ikut dalam pelayanan mahasiswa, saya semakin banyak mengerti firman Tuhan.
Di GBKP sendiri..khususnya di gereja saya di Medan, kami masih srg ngerayain Natal sblm tgl 25. Phn Natal jg uda dipasang tepat bln 12.. tp blm ada yang protes tuch Amang? Pengen sih Natal itu dirayain serentak untuk pertama kalinya pa tgl 25 Des, tp saya hanya bs ikut aturan lama..
Harapan saya setiap kita yang telah mengenal Tuhan dan KebenaranNya, janganlah takut untuk menyatakan apa yang benar, bukan menurut kita, tp oleh karena kepekaan mendengar suara Tuhan…
Semoga Amang pun demikian, juga kita Hamba2 Tuhan yang lainnya…semakin luar biasa dipakai Tuhan dan semakin rendah hati untuk menyatakan kebenaranNya.
November 17th, 2008 at 5:59 pm
Horas amang,
Menarik juga nie perdebatannya. Menurut saya, ajakan amang DTA tidak salah, tp sebenarnya perayaan sebelum tgl 25 di gereja HKBP terjadi di kebanyakan di kota-kota besar.
Terkadang jadwal, jarak yang jauh, serta kerinduan merayakan natal bersama rekan2 sesama (banyak artinya: bisa sesama naposo, sesama ASM, sesama ina, dll) yang mempunyai ikatan batin lebih kuat membuat kita sebagai jemaat akhirnya memutuskan bernatal sebelum tanggal 25.
Kalau boleh saya analisa, sebagian besar bisa meluangkan waktunya untuk perayaan hanya di hari jumat malam atau sabtu malam, dimana bila melihat jarak antara tgl 26 des - 6 jan sangat sempit, sementara gerejanya hanya 1.
Mungkin hal ini juga perlu jadi pertimbangan amang. Janganlah disamakan dengan di kampung, karena jumlah penduduk kampung dan kota pun sudah berbeda dan amang juga mengambil pengalaman dari natoras amang yg sudah berumur 80 tahun(??) dimana penduduknya belum sebanyak sekarang…
Mungkin bisa dicarikan suatu solusi amang, bukan suatu suatu keputusan yang akhirnya akan membuat orang mengalihkan perayaannya di luar HKBP.
Bukankah keflexibelan itu yang membedakan dengan umat katolik (correct me if I’m wrong)?
Daniel Harahap:
Salah satu solusinya: lebih banyak merayakan paskah saja.
November 27th, 2008 at 2:38 am
Karena Alkitab sendiri tidak menuliskan tanggal kelahiran Yesus yang pasti, maka peristiwa perayaan natal merupakan peristiwa yang dirayakan sejak tahun 1100. Perayaan ini menjadi mentradisi dan oleh para pakar teologi menyusun tata cara merayakannya dengan memulai dari masa-masa adventus 4 Minggu. Dan hal ini diikuti oleh orang Kristen yang kemudian. Namun belakangan ini tradisi Natal lebih menonjol dari tradisi Adventus. Apakah menjadi berdosa jika orang Kristen lebih menonjolkan perayaan Natal? Dan orang yang merayakan Adventus adalah orang yang paling benar? Bukan soal dosa dan tidak berdosa dalam hal ini yang menjadi fokus kita. Tetapi bagaimanakah kita menjadikan Kristus lahir terus-menerus di hati kita itulah Natal itu sendiri. Perayaan itu hanyalah merupakan sarana untuk mengingatkan kita untuk kembali melahirkan Yesus di hati kita. Oleh sebab itu, janganlah kita habiskan energi kita hanya membahas seputar kapan sebaiknya Natal kita rayakan? Yang terpenting adalah lahirkah Yesus di hati kita setiap saat atau hanya pada bulan Desember saja Yesus mengisi hati kita masing-masing.
Daniel Harahap:
Kalimat terakhir menyesatkan. Yang benar Yesus lahir di Betlehem pada masa pemerintahan Kaisar Agustus dan Kirenius menjadi wali negeri Siria. Peristiwa kelahiran Yesus adalah peristiwa historis (walau tidak diketahui tanggalnya). Jangan dibuat kelahiran Yesus menjadi abstrak. Merayakan Natal mengikuti kalender (baca: bukan suka-suka) tidak berarti mengabaikan Yesus di hari-hari lain. Satu lagi: yang harus dirayakan setiap minggu adalah kebangkitan Yesus!
November 27th, 2008 at 8:03 am
setuju banget natal dilaksanakan pada tgl 25 s/d 6 Januari, sosialisasi dan pelaksanaan sbb: natal kategorial hanya sekolah minggu 2 kali dan natal bersama(naposo/remaja,ama,ina,wilayah) satu kali, jadi natal dilaksanakan hanya memakan waktu 3 hari .dan juga dapat memangkas biaya natal yg begitu besar, seperti salah satu HKBP di Jaktim biaya Natalnya 110 juta rph. kan lebih baik dipergunakan sebagian utk pelayanan diakonia atau disumbangkan memperbaiki gereja yang tidak mampu.
November 27th, 2008 at 4:51 pm
Ahhh…tapek dech….
Pendeta ama jemaat sama aja, saling memaksakan pendapat. Lebih baik tunggu keputusan dari pimpinan (atau rapat pendeta dech….) jadi tidak perlu sampai tegang urat leher.
December 22nd, 2008 at 8:59 am
Boleh donk nimbrung dikit, saya adalah warga GPIB. Artikel blog ini memang belum saya caba seutuhnya tapi saya hanya tertarik dengan salah satu komentar pengunjungnya mengenai masa advent. Di GPIB saat ini sudah tidak diperbolehkan merayakan perayaan natal sebelum tanggal 25, dengan alasan itu adalah masa penantian. Tentu saja semua alasan dan dasar teologisnya sudah dipikirkan sebelumnya. Dan d GPIBpun pro dan kontra tetap saja ada tetapi ketika hal itu di putuskan maka apapun alasan kita menolak yah tetap harus menghormati keputusan bersama.
Maaf rasanya Pendeta Daniel Harahap pernah melayani di Palembang yah….
Daniel Harahap:
Saya di Palembang 1991-1996. Saya sudah mulai tua: kita sudah pernah bertemu?
October 13th, 2009 at 2:36 am
Kepada bapak pelayan di HKBP….kami dari jemaat HKBP Limbong Sagala) yang sedang kuliah di medan membuat paniatia natal tuk kami rayakan bersama orang tua kami dikampung. kami ingin mengambil tema tentang keadaan alam di negara kita ini (gempa) tapi kami kesulitan untuk mendapatkan bahan. kami minta tolong kepada bapak ibu pelayan hkbp untuk mencari naskah tentang itu……kami berharap bantuan bapak…..klo boleh bersama drama…..terima kasih….
Daniel Harahap:
Kenapa tidak membuat Natal bertema lingkungan saja? Misalnya Natal dan pemulihan alam pulau Samosir dan Danau Toba?