INFO BUKU

ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT — Kisah Pengembaraan Seorang Muda Belajar Teologi, Menjadi Pendeta dan Pribadi Otentik 

Oleh: Daniel Taruli Asi Harahap

anak-penyu-menggapai-laut2.jpg


Namaku Dani

Aku menyebut diriku Dani. Nama lengkapku di akta baptis Daniel Taruli Asi. Margaku Harahap. Di rumah aku dipanggil persis seperti aku menyebut diriku: Dani. Namun di sekolah aku dipanggil Daniel. Kadang-kadang untuk membuat aku marah, abang-abang dan kakakku memanggil aku: Landak. Hedgehoc. Dalihnya rambutku jigrak, menurut mereka mirip ekor landak. Sialan.

(Nanti setelah masuk STT kawan-kawanku memelesetkan namaku jadi si Denok. Tapi aneh, tidak ada seorang pun pernah memanggil aku Taruli Asi. Padahal nama itu penuh arti: kebagian belas kasih. Jauh hari kemudian, setelah jadi pendeta, malah aku tidak lagi dipanggil dengan namaku tetapi hanya marga di belakangnya ditambah gelar penghormat: amang. Artinya:bapak. Sebab menurut adat Batak tidak sopan menyebut seorang dewasa apalagi pendeta dengan nama kecilnya. Ya, sekarang aku Amang Harahap. Namun para pemuda yang merasa dekat denganku tetap menyebut aku Abang Daniel. Mereka sering ditegor parhalado karena dianggap kurang santun, namun aku sendiri bangga dan suka sebutan itu, sebab tidak banyak pendeta HKBP yang tetap disapa dengan sebutan egaliter: abang. Akhirnya jemaat HKBP memberi aku inisial baru: DTA. Terserahlah. Semua nama dan gelar itu (termasuk si Landak) bagiku sama saja. Semua menunjuk kepada pribadiku yang satu. Namun kurasa Tuhan memanggil aku dengan nama alkitabku: Daniel. Tanpa embel-embel lain. Itu berasal dari bahasa Ibrani. Artinya: Allah adalah hakimku.)


Ayahku Aminuddin

Ayahku bernama Aminuddin Harahap. Dari namanya ia pasti akan disangka Muslim, dan Islam yang fanatik. Tidak usah heran, sebab nama itu memang pemberian seorang panglima Aceh, saat kakekku menjadi guru atau encik di Kotaraja (Banda Aceh sekarang). Namun sejak kecil sampai mati dia seorang Kristen yang taat walau sangat jarang ke gereja. Waktu aku kecil saban pagi aku selalu melihat dia berdoa di balik pintu seperti malu-malu, dan malam dia berdoa komat-kamit di atas tempat tidurnya dengan kaki berselimut.


Ayah terakhir seorang staff asosiasi perusahaan perkebunan di Medan, yang kantornya berkubah hijau di sudut Jalan Pemuda. Masa kecilnya konon dilaluinya di Sibolga, membantu sepupunya, bapak si Erwin dan si Rinto, menjadi kuli anak gerobak dorong di pasar kota pelabuhan di pantai Barat Sumatera. Setelah tamat SMP (jaman itu namanya MULO) di usianya yang sangat muda, ayahku melanglang ke Palembang, dari sana ke Batavia, kemudian ke Banjarmasin, pindah ke Malang, balik lagi ke Jakarta, dan akhirnya menetap di Medan.


Ayahku seorang Angkola. Dia sangat santun apalagi kepada perempuan dan mau-mau saja diperdaya anak-anaknya. Lazimnya orang-orang kelahiran Sipirok dia pintar bicara dan mengambil hati orang, dan membuat dirinya dikasihani. Cita-citanya pernah tinggi namun entah kenapa kandas, sehingga dia hanya bisa berharap anak-anaknya maju, sukses, dan kaya secara materi. Satu lagi cara ayahku berharap: gambling, beli lotere. Kata-kata khasnya: jangan contoh bapak. Itu selalu dikatakannya sambil senyum.


Ibuku Toba

Ibuku Sereuli boru Hutabarat, dia kebalikan ayahku. Dia seorang perempuan tangguh kelahiran Tebing Tinggi Deli, yang ketika pecah perang mengungsi ke Laguboti. Ibuku bermarga Silindung, tetapi tidak tahu-menahu tentang Tarutung, tahunya hanya Toba Holbung, sebab di sanalah dia lama hidup. Persisnya di Lumban Bagasan Laguboti, kampung ibu kandungnya yaitu ompungku Boru Hutajulu, Nai Mutiara.

Sangat berbeda dengan ayahku, ibuku suka “berkelahi” dan bertengkar terang-terangan, apalagi jika menyangkut hak dan kebenaran. Ya, berbeda dengan kami-kami orang Batak dari Selatan, ibuku tidak akan segan-segan menuntut haknya, namun sebaliknya dia sangat jujur. Bahkan baginya kejujuran adalah segalanya, melebihi pentingnya ritus doa, bahkan jauh mengalahkan ambisi pemilikan materi. Kalau kuingat-ingat, sangat mengherankan bagiku waktu kecil kenapa dia bisa hidup tenang padahal hidupnya sangat susah secara ekonomi.

Sekarang ibuku sudah tua sekali. Umurnya 78 tahun. Badannya sudah renta, tetapi jiwanya sepertinya masih tegar dan dia tetap hidup mandiri. Luar biasa. Aku bangga sekali padanya, walau dalam banyak hal kini kami telah berbeda.

(Ibukulah yang mengajar aku tentang kebatakan dan menjadi Batak sesungguhnya. Menurutku dia pantas didengarkan, sebab dia besar di Toba dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana adat dijalankan di tanah asalnya, dan bagaaimana adat itu bergeser, berkembang atau menyimpang di tanah perantauan melewati berbagai jaman.

Dalam soal adat Batak ibuku boru Hutabarat jelas-jelas punya pendirian, logika dan nurani. Baginya adat bukan sekedar soal kebiasaan apalagi latah-latahan. Adat adalah prinsip berhubungan dengan sesama berdasarkan hormat, kejujuran, dan rasa sayang. Itulah yang membuat dia sering “membangkang” atas hal-hal yang dianggapnya tidak benar dalam kebatakan. Namun sekarang dia sudah tua, mungkin dia merasa kalah sebab itu memilih mending menjauh saja dari adat.

Ibuku sangat tidak suka melihat ulos diobral, ikan mas berjalan di depan hula-hula bergoyang-goyang, panortor bayaran, apalagi musik hingar-bingar yang tak memberi kesempatan orang berbicara. Dia paling marah jika eforus atau pendeta mau diulosi. Baginya itu penghinaan. Ulos tak pernah datang dari bawah alasannya. Ikan mas harus dibungkus apik dalam tandok dan dijunjung di kepala, bukan dibiarkan telanjang dipamer-pamerkan. Aku ingin sekali menulis buku tentang adat Batak yang kudengar dari Ibuku. Semoga aku berhasil sebelum dia mati. Itulah dedikasiku kepadanya, dan perempuan-perempuan Batak lain yang bukan saja setia tetapi berani mengkoreksi adat.)


Aku nomor lima

Katanya aku lahir di Jalan Sei Merah Medan tanggal 26 Agustus. Tahun 1963, saat negeri ini sedang susah. Waktu umurku baru sebulan katanya rumah ayah dan ibuku berlantai tanah beratap rumbia kebanjiran, mereka mendekap aku agar tak dibawa air. Sebelum aku lahir, mereka sudah punya tiga anak laki-laki dan satu anak perempuan. Sesudah aku, mereka punya satu lagi anak laki-laki. Jadilah kami enam bersaudara. Aku nomor lima. Ya, aku nomor lima hampir dalam segala hal urusan di rumah. Juga dalam soal pembagian, aku selalu di urutan ke lima. Ya sudahlah, itu bukan pilihan, tapi nasib tak terelakkan. Namun aku tak mau cerita soal abang-abangku, kakakku satu-satunya, dan adikku. Menurutku mereka harus menulis sendiri tentang dirinya. Sesuka hati mereka, seperti aku juga suka-sukaku menulis tentang diriku.


Rumah kampung Baru

Tentu saja aku tidak tahu-menahu soal rumah di Sei Merah itu. Aku masih bayi ketika di sana. Aku hanya tahu rumah kami di Kampung Baru, persisnya di kompleks penelitian perkebunan, dua kilometer sebelum Kebun Binatang Medan, tempat aku dibesarkan. Di kompleks perkebunan itu rumah kami nomor 3 dan bertingkat dua. Itu rumah yang terbesar sekaligus paling pudar. Seperti rumah-rumah lain di kompleks Rispa Medan, itu bangunan peninggalan kolonial Belanda. Katanya banyak hantunya, terutama hantu-hantu korban perang kemerdekaan. (aku tak pernah melihatnya, hanya sesekali saja mendengar suara-suara aneh yang tak jelas sumbernya). Letaknya di tengah-tengah, pede
sekali menghadap kantor utama. Di rumah tua yang melapuk ditelan usia inilah aku melewati masa anak-anak dan remajaku, sebelum aku mampu mengikuti jejak abang-abang dan kakakku keluar dari Medan ke Jakarta menyongsong hidup baru.


Rumah bertingkat dua itu dihuni oleh tiga keluarga. Ya satu rumah tiga keluarga. Unik sekali pembagiannya. Dua pertiga lantai bawah dihuni oleh seorang turunan Yahudi, Oom Salah Nama (begitulah kami menyapa dia, sebab namanya sama dengan istilah penis dalam bahasa Batak, risih sekali mengatakannya). Dua pertiga lantai atas keluarga kami yang tempati. Sementara sepertiga lantai bawah dan sepertiga lantai atas ditempati keluarga Oom Lo Kha Kiat (Cina Katolik asal Padang) yang kelak berganti nama menjadi Budiman Susilo. Tangga rumah itu hanya satu. Jadilah kami berbagi atau sharing dengan keluarga Lo Kha Kiat sejak tahun 1964. Sampai sekarang. Empat puluh tahun lebih tanpa
perkelahian.

Waktu aku kecil rumah kami dikelilingi banyak sekali pepohonan. Halaman depannya luas sekali. Jalan Katamso saat itu masih sepi sekali. Di depan kiri ada pohon mangga raksasa. Suatu ketika Medan pernah dihantam hujan es dan angin puting-beliung, pohon mangga itu tumbang. Setelah angin reda kami keluar, kami bukan hanya panen mangga asam dan kecil-kecil, tetapi juga menemukan banyak sekali bunglon dan ular hijau yang rupanya selama ini diam-diam bersarang di sana. Di samping kanan rumah ada pohon ketapang dan pala, di sana selalu ada burung ketilang. Di dekatnya ada pohon kemboja merah. Aku suka sekali mengumpulkan bunga-bunganya untuk merangkainya jadi kalung hawaii bersama anak-anak perempuan. Persis di depan rumah ada pohon akasia rindang bercabang tiga yang bunganya kuning berpilin-pilin. Sementara dekat gerbang masuk ada pohon kemuning dijalari bugenville jingga. Selanjutnya ada bunga merak kuning berjejer. Ada juga pohon manggis yang buahnya tak pernah matang di pohon (selalu diambil anak-anak saat mengkal dan dimakan pake sendok). Di sebelah kiri, ada pohon rambutan, yang batangnya berlubang dan dijalari tanaman merambat rimbun sekali, di atasnya bersarang burung gagak yang selalu berkoak-koak. Ngeri sekali.

Halaman rumah kami benar-benar luas, menyatu dengan halaman-halaman tetangga yang sama luasnya. Di sana ada banyak sekali mahluk dan tanaman yang bisa dijadikan mainan. Kadang kami memetik bunga kembang sepatu atau soka, hanya untuk menghisap sarinya yang manis-manis geli, atau menggigit daun muda jambu bol yang rasanya asam-asam kelat. Lain kali kami hanya memetik bunga raya, konghea, atau air mata pengantin untuk main jual-jualan. Namun hati-hati Pak Djasman. Dia sebenarnya tukang kebun, tapi bagi kami anak-anak dia adalah penguasa halaman. Aku dan
anak-anak lain takut sekali kepadanya, dia pernah mengurung aku dan Ari beberapa menit di garasi karena dianggap mengganggu kerjanya. Sebab itu kami anak-anak selalu main di halaman setelah dia pulang. Main apa saja. Tamtambuku. Loncat karet. Alip berondok. Sampai sore tiba. Tanda bubar adalah ratusan burung layang-layang terbang di udara. Namun bila capung-capung merendah itu artinya mau hujan.

Pemandangan kebun Belakang
Di belakang rumah kami ada kebun percobaan. Persis hutan. Dari sanalah musang datang pada saat-saat tertentu dengan bau pandan. Aku masih ingat bagaimana takutnya aku mendengar suara musang malam-malam bagaikan ayam. Kok-kok-kok. Kok-kok-kok. Apalagi aku beberapa kali melihat hewan berekor panjang itu naik ke atap rumah melalui talang air, untuk memangsa merpati milik abangku (mengakibatkan puluhan merpati lainnya lari dan tak pernah datang lagi).

Seperti sudah kuceritakan rumah kami di lantai dua. Kamar makannya di bagian belakang, terbuka, menghadap ke Timur. Di sanalah kami selalu sarapan roti meses dan minum susu coklat. (saat ekonomi kami jatuh sarapan berganti dengan kwietau polos serta teh manis). Sering-sering waktu kami sarapan rombongan burung terbang membentuk formasi dari arah terbitnya matahari (sorenya pulang lagi dari arah matahari terbenam). Saban kali burung-burung itu lewat kami selalu berteriak-teriak, “burung bangau bawa adik, burung bangau bawa adik”. Entah apa artinya. Saat itu pendidikan seks masih tabu, kepada kami selalu dikatakan bahwa adik bayi dibawa oleh burung bangau di kantong kain dijepit dengan paruhnya. Namun, aku masih ingat setiap pagi ada sepasang burung kuning kepodang bersiul-siul di dua puncak pohon kelapa. Namun tiba-tiba suaranya berhenti, sebab kereta api uap jurusan Medan-Delitua lewat dengan asap mengepul hitam. Kami akan bersorak-sorak gembira: Ajijole! Ajijole! (katanya itu nama tokoh kartun di harian Sinar Harapan, aku tak tahu apa hubungannya dengan kereta api kelutuk, aku hanya ikut-ikutan berteriak saja)


Masa kecilku pernah bahagia

Kuingat masa kecilku pernah penuh kebahagiaan. Aku pernah merasa kaya. Umur empat tahun aku punya pesawat mainan KLM yang digerakkan oleh batere, kelap-kelip lampu dan bunyi rauangannya membanggakan sekali. Aku juga punya banyak sekali mainan mobil-mobilan besi (yang kualitasnya jauh di atas buatan Cina masa kini). Aku sering dibelikan blok-blok kayu. Ulang tahunku pernah dirayakan di restoran Tiptop, yang masa itu tempat sisa-sisa Belanda dan Tionghoa kaya Medan berkumpul. Itu masa-masa sangat indah.

Namun aku lupa persisnya kapan, sesudah itu datanglah masa menurun. Keuangan keluarga kami menurun dan terus merosot. Aku tidak lagi merasa kaya, sebaliknya sangat miskin. Celakanya aku, dan kami semua, disekolahkan di Immanuel Medan, tempat para pejabat dan orang kaya Medan menyekolahkan anak-anaknya. Aku pun tanpa sadar menarik diriku ke dalam, menciptakan duniaku sendiri yang aman dari celaan dan pandangan sinis. Sejak itu kuingat aku tidak punya banyak kawan di sekolah. Aku lebih suka main sendiri atau bersama saudara-saudaraku di rumah, membuat kapal-kapalan dan pesawat-pesawat kertas, kereta kelos benang yang bisa jalan mendaki (kapan-kapan kuajari cara membuatnya), telepon kotak korek api, dan atau paling sering kulakukan mengumpulkan belalang, kotak-kotak rokok bekas, mengacak-acak sarang semut, memancing undur-undur di debu atau ikan gobi di parit pake seutas benang. Kadang aku bermain jual-jualan dan masak-masakan dengan anak-anak perempuan. Kadang aku sendirian saja mengumpulkan biji-biji flamboyan.

Catatan:

Selengkapnya bisa dibaca di buku: ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT – Kisah Pengembaraan Seorang Muda Belajar Teologi, Menjadi Pendeta dan Pribadi Otentik. Buku bisa dipesan langsung kepada penulis: harahapdaniel@yahoo.com

Harga Rp 40.000 per eksemplar + ongkos kirim 10% (Jawa) 20% (luar Jawa). Pembayaran dimuka dapat dikirimkan lewat Bank Central Asia KCP Taman Galaxi no rek: 5770392499 a.n. Daniel Taruli Asi Harahap atau No Rek. 125 000 562 7609 Bank Mandiri Cabang Taman Galaxi Bekasi a.n. Daniel Taruli Asi Harahap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *