Sebuah kesaksian seorang pendeta tentang konflik HKBP 1990-an
Oleh: Daniel T.A. Harahap
Membangunkan macan tidur
Demi keamanan dan ketertiban masyarakat Muspida Sumsel sepakat bahwa Palembang dalam masalah HKBP adalah status quo. Maksudnya masing-masing pihak tetap berada di posisi masing-masing sampai masalah HKBP dapat dituntaskan di pusat. Mungkin pemerintah daerah dan aparat keamanan setempat menyadari konflik HKBP
adalah masalah nasional dan bukan lokal, sehingga tentu saja tidak mungkin mengharapkan penyelesaian dapat dilakukan di Palembang. Satu-satunya yang dapat dilakukan di daerah ini hanyalah mencegah terjadinya konflik terbuka yang pasti akan mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat sebagaimana terjadi di tempat lain. Namun di lubuk hati aku ingat lagi “kode buntut” di notes intel Kodam: 80 banding 20. Pejabat-pejabat pemerintah (sipil dan militer) di sini tidak berani ambil resiko mendukung Kelompok Tiara sesuai dengan garis komando walaupun merekalah yang diakui Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Agama Tarmizi Thahir sebagai HKBP yang sah. Jika perbandingan pendukung pro Aturan versus Tiara di Palembang hampir sama besarnya, katakanlah 50 banding 50 aku yakin situasinya pasti terbalik. Ini politik Bung! Dalam politik persoalan bukan siapa yang benar atau baik, tetapi siapa yang kuat dan besarlah yang didukung.
(Ini pelajaran sangat berharga bagi generasi muda HKBP: kalau kau mau gereja HKBP diperhitungkan oleh pemerintah negeri ini maka HKBP harus benar-benar menunjukkan dirinya kuat, berharga dan berguna bagi bangsa ini, karena itu pantas diperhitungkan. Sebagai gereja tidak ada gunanya HKBP atau gereja-gereja lain di Indonesia merengek-rengek atau menghiba-iba kepada kekuatan politik mana pun. Satu lagi yang mau kukatakan: gereja jangan cengeng!)
Sejak konflik HKBP pecah tahun 1993 seluruh gedung gereja di wilayah Palembang dan Plaju berada di bawah “kendali” kami. Jujur saja sikap status quo itu tentu saja menguntungkan kami. Kami bisa melakukan seluruh aktivitas gereja dengan “normal”. Namun Pendeta Ben Parhusip memang benar-benar pintar. Dia tahu betul sikap pemerintah Sumsel ini bisa saja sesewaktu berubah, karena itu dia membuat sebuah strategi yang menurutku relevan sepanjang waktu:
konsolidasi terus-menerus. Alat konsolidasi gereja itu hanya satu: pelayanan. Sebab itu dia terus-menerus mengajak kami kerja-keras melaksanakan program dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaat.
Sebelum konflik pecah sebenarnya kami sudah melakukan pembinaan dan pelayanan jemaat secara intensif, kini kami melakukannya lebih intensif lagi. Dalam hati kami pembinaan dan pelayanan intensif ini sangat diperlukan untuk mengalihkan perhatian agar enerji jemaat tidak terkuras habis oleh konflik ini, sehingga tak punya daya lagi memikirkan hal-hal substansial lainnya seperti pertumbuhan rohani, pelayanan sosial dan pembinaan generasi muda dan lain-lain. Ya, kami sadar betul konflik organisasi dimana-mana sangatlah potensial merusak iman dan moralitas dan kami tidak mau hal
itu terjadi. Karena itu berbeda dengan di banyak jemaat lain, semasa konflik kami tetap melaksanakan seluruh pelayanan gereja sebaik-baiknya. Hasilnya jemaat tetap bertumbuh. Hasil lain: masalah internal bisa diminimalisir sehingga tidak bisa dimanfaatkan pihak lain yang ingin mengacau.
Namun ada permintaan Kantor Pusat Pro Aturan agar penahbisan pendeta dapat dilakukan di Palembang. Sebelum penahbisan itu ada kursus atau Latihan Persiapan Penahbisan (LPP) bagi pelayan-pelayan yang hendak ditahbiskan. Penahbisan pendeta dan pelayan lain di Palembang? Wow. Ini tantangan baru. Kami gamang. Di satu pihak HKBP Palembang sepanjang sejarah belum pernah mendapatkan kehormatan menjadi “tuan rumah” upacara penahbisan pendeta (kata “tuan rumah” harus diberi tanda petik, sebab secara teologis tuan rumah gereja adalah Kristus dan jemaat adalah tamu, bukan sebaliknya). Selain itu tidak bisa dipungkiri sebagian jemaat sudah lama sangat rindu
mendatangkan eforus SAE Nababan ke Palembang, sebab sejak konflik pecah beliau tidak pernah punya kesempatan berkunjung ke sini. Kantor Pusat pro Aturan sendiri mengharapkan penahbisan dapat dilakukan di Palembang karena kondisi di sini dianggap aman. Penahbisan harus dilakukan, selain kebutuhan pelayanan juga untuk membuktikan bahwa eforus DR SAE Nababan masih memiliki legitimasi sebagai pemimpin gereja sesuai konstitusi HKBP.
Namun di pihak lain, kami terus terang saja sangat mengkuatirkan penahbisan pendeta di Palembang dapat mengganggu suasana “harmonis” yang sudah terbina selama ini. Yang kami takutkan sebenarnya bukan kelompok Tiara tetapi pemerintah daerah dan aparat keamanan di Sumatera Selatan yang kemungkinan besar berubah dari “kawan” menjadi “lawan” diakibatkan even penahbisan ini. Sebab menurut kami dalam hal menyangkut DR SAE Nababan pemerintah daerah Sumsel dan Pusat sejalan: sama-sama tidak menghendakinya.
Permintaan Kantor Pusat Pro Aturan itu pun dibawakan oleh pendeta Ben Parhusip ke Rapat Parhalado. Semua anggota Parhalado setuju penahbisan dilakukan di Palembang dengan catatan agar rencana itu tetap dikoordinasikan namun dengan pihak pemerintah Sumsel dan Polda yang selama ini membantu terciptanya keamanan di HKBP Palembang.
Payakabung
Gereja Pentakosta memiliki sebuah retreat center merangkap sekolah pendeta di Payakabung kira-kira 40 km dari Palembang. Kampusnya sangat luas dipagar tembok tinggi dengan pohon-pohon pepaya dibaliknya dan tanpa papan nama. Tempat itu sangat tersembunyi, dikelilingi oleh kebun karet dan sawit, dan benar-benar jauh dari pemukiman penduduk. Pdt JK Siwi, pendeta Pantekosta dan tokoh oikoumene terkenal di Palembang, sudah setuju kami menyewa pusat retret Payakabung untuk tempat Latihan Persiapan Penahbisan (LPP) bagi para pendeta, guru huria, bibelvrouw dan diakones HKBP.
Para calon pelayan yang hendak ditahbiskan itu pun tiba di kompleks HKBP Palembang menggunakan bus besar diiringi tiga mobil Kijang yang ditumpangi staaf Kantor Pusat Pro Aturan. Perasaanku campur aduk. Aku gembira berjumpa kembali dengan kawan-kawanku pro Aturan sebab kami sudah lama sekali tak berjumpa. Namun pada pihak lain aku juga cemas. Palembang walau tampak aman sebenarnya tetap bagai api dalam sekam, yang tiba-tiba bisa marak apalagi bila
ditiup angin. Kini kami sendiri yang menghembus sekam itu. Sebab itu agar tidak menarik perhatian jemaat (terutama polisi) kami pun buru-buru menggiring rombongan dari Tarutung itu meninggalkan kompleks gereja HKBP Palembang menuju Payakabung.
Kunjungan ke Wakapolda
Latihan Persiapan Penahbisan (LPP) adalah tugas Kantor Pusat, dan staff Kantor Pusat sudah siap untuk itu. Kami hanya menyediakan tempat dan fasilitas saja. Namun kami punya tugas lain: melobi pemerintah dan Polisi. Bertiga, Pdt Ben Parhusip dan DR BIT Tamba serta aku sendiri, kami pun menghadap Wakapolda Brigjen Pol Iskandar. St BIT
Tamba mengenal beliau sangat baik, kalau tak salah Wakapolda itu bekas muridnya, mungkin sebab itu juga kami diterima hormat dan ramah di ruang kerjanya. Setelah basa-basi sejenak tentang situasi keamanan Sumatera Selatan dan mengucapkan terima kasih atas peran Polda Sumsel menjaga keamanan HKBP Palembang kami pun menyampaikan keinginan kami: meminta restu Polda untuk hajatan besar penahbisan pendeta HKBP yang dipimpin oleh Eforus SAE
Nababan. Wakapolda benar-benar perwira tinggi intelek dan santun. Dia tidak terang-terangan menampik namun mengatakan harus mengkoordinasikannya dengan Kapolda, lantas kemudian memberi ceramah singkat pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban yang sudah terpelihara selama ini. Aku menangkap kesan tersirat beliau sebenarnya keberatan, namun mungkin sungkan mengatakannya secara terus-terang kepada DR BIT Tamba. Alasan keberatan
itu hanya satu: kehadiran DR SAE Nababan.
Pulang dari pertemuan kami mengobrol. Aku menyampaikan kesan yang kudapat bahwa ganjalan satu-satunya penahbisan ini adalah DR SAE Nababan. Namun Aturan mengatakan penahbisan tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Itu tugas Eforus yang tidak bisa diwakilkan. Eforus kami adalah DR SAE Nababan. Atas saran St DR BIT Tamba kami pun membuat surat resmi kepada Kapolda dengan tembusan kepada Pangdam dan Gubernur berikut semua jajaran instansi terkait untuk memohonkan restu dan penjagaan keamanan kepada rencana penahbisan pendeta dan pelayan lain HKBP itu. Kami sengaja tidak meminta ijin namun restu, sebab untuk menahbiskan pendeta tidak diperlukan ijin pemerintah. Itu wewenang gereja. Yang penting kami lapor secara resmi tentang adanya suatu kegiatan besar dalam rangka penjagaan keamanan. Tidak ada jawaban tertulis. Yang ada malah intel-intel yang selama ini sudah jarang datang kembali bermunculan lagi di kompleks HKBP Palembang. Namun kini mereka tak ramah lagi.
Pertemuan dengan Gubernur Sumatera Selatan
Latihan Persiapan Penahbisan (LPP) terus berjalan di Payakabung dibawah bimbingan para Staff Kantor Pusat dan Praeses. Namun setiap perkembangan negosiasi kami dengan Polda terus kami beritahukan kepada Staff Kantor Pusat. Sejak awal aku sudah memberi sinyal bahwa Polda sepertinya sulit bergeming. Namun kami belum mau menyerah.
Upaya terakhir adalah Gubernur. Dia adalah “penguasa tunggal” daerah. Pak BAS Tobing pun mengontak Gubernur Ramli, sahabatnya, mengatakan bahwa para pendeta HKBP Palembang ingin bertemu. Seingatku rombongan kami lima orang. Gubernur sangat ramah dan hangat. Beliau didampingi oleh Kaditsospol. Kami pun mengajukan permohonan agar Gubernur merestui HKBP menyelenggarakan hajatan besar penahbisan pendeta di Palembang. Gubernur tampak menarik nafas berulang-ulang. Aku ingat betul kata-katanya, “apakah yang menahbiskan harus Pak SAE Nababan
dan tidak bisa diwakilkan kepada orang lain?”. Kami menjawab “ya”. Dia tampak sangat sulit berbicara. Akhirnya dia berkata lembut, “janganlah, kita sudah bagus menjaga kerukunan, kalau mengenai kursus calon pendeta ya biarkan saja, itu kan kegiatan pendidikan. Namun kalau boleh Pak SAE Nababan jangan dulu hadir di Palembang.” Aku menarik nafas. Sejak awal pertemuan aku terus menyimak ucapan Gubernur, kata demi kata, memperhatikan raut wajah dan bahasa tubuhnya. Hasilnya aku mengambil kesimpulan beliau tidak mau mundur seinci pun menyangkut kehadiran DR SAE Nababan.
Entah ide dari mana, tiba-tiba aku menyelutuk mengambil kesempatan “Pak Gubernur, bagaimana kalau besok-besok DR PWT Simanjuntak atau DR SM Siahaan yang datang ke Palembang?”. Beliau tersentak dari duduknya dan menjawab tegas. “Tidak. Tidak bisa juga. Kita harus adil. Kalau Pak SAE Nababan tidak bisa hadir di Palembang maka Pak Simanjuntak juga tidak bisa. Catat itu Kaditsospol. Kita Pemerintah Sumsel netral dan adil.” Aku merasa Pdt Ben Parhusip diam-diam menginjak ujung sepatuku sambil senyum, kayaknya dia tahu betul apa yang ada dalam hatiku. Kami kalah sekarang tetapi besok pasti menang.
(Catatan: sampai rekonsiliasi ditandatangani tahun 1998 DR PWT Simanjuntak tidak pernah datang ke Palembang. Gubernur Sumsel benar-benar memenuhi janjinya bertindak netral dan adil.)
Diinterogasi di Polres Kayuagung
Esoknya kami menerima undangan Kapolres Kayu Agung. Kota itu terletak 90 km dari Palembang dan pengamanan Payakabung ada di bawah kendalinya. Dengan mobil minibus tua Pdt Ben Parhusip kami pun ke sana. Mula-mula kami diterima Kapolres ramah di ruang kerjanya, namun entah bagaimana, ada telepon masuk, perasaanku dari
Wakapoltabes Palembang, entahlah, aku langsung curiga pasti ada sesuatu, dan benar rupanya, setelah telepon itu kami dibawa ke ruang belakang Mapolres dan diinterogasi terpisah. Tadinya kami undangan sekarang kami berubah jadi tersangka. Pertanyaan-pertanyaan menyelidik bintara pemeriksa itu banyak sekali dan macam-macam serta aneh-aneh. Kata demi kata diketik. Aku takut sekali salah omong, apalagi kami tidak didampingi pengacara. Waktu itu belum ada ponsel, jarak Kayu Agung – Palembang 90 kilometer, kami tidak bisa menghubungi siapapun. Aku hanya pasrah saja berdoa.
Jam satu siang tiba-tiba seorang petugas mendatangi kami ke ruang periksa. Kami dipanggil lagi oleh Kapolres. Suasana sudah berubah lagi. Aneh sekali. Kami diterima di ruang kerja dan di sana sudah ada nasi bungkus. Kapolres balik ramah. Petugas yang memeriksa kami tampak kebingungan. Berkas BAP itu disuruh Kapolres dibawa kembali ke belakang. “Tidak perlu. Tidak usah ditandatangani” katanya. Lantas dia bercerita bahwa baru saja menerima telepon dari Kaditsospol Sumsel yang mengatakan pesan Bapak Gubernur agar kegiatan LPP dibiarkan sampai selesai dan agar kami diperlakukan dengan baik.
Sampai sekarang aku tidak tahu siapa yang memberitahu gubernur bahwa kami sedang diperiksa di Polres Kayu Agung. Yang jelas aku menarik nafas lega walaupun raga dan jiwaku sangat lelah. Nasi bungkus itu kami makan dengan tak berselera. Kapolres mencoba ramah dan aku berusaha susah-payah ramah juga. Sesudah itu kami pamit. Mobil tua Pdt Ben Parhusip pun susah-payah kembali ke Palembang. Aku takut sekali mobil itu mogok. Abangku bilang mobil ini sudah dua kali ke Toba sebab itu aku tenang saja. Maksudnya untuk memuji kekuatan mobilnya namun malah membuat aku kian takut. Lantas aku bercanda saja: abang sih terlalu jujur, akibatnya mengganti mobil saja susah.
Rapat Rahasia
Malam itu kami rapat di salah satu ruang. Kompleks Payakabung aman, pintu kami biarkan terbuka. Dari staff kantor pusat Pdt STP Siahaan, Pdt Gomar, Pdt Ramlan Hutahaean, Pdt Siter Hutasoit, Pdt Janter Tambunan, seingatku juga ada Pdt WTP Simarmata dan Praeses Faber Simatupang. Mereka menanyakan hasil lobi kami ke Polda dan Gubernur. Kami menyampaikan bahwa Gubernur dan Kapolda tidak mau mundur seinci pun. Keadaan di Palembang sudah panas. Kelompok Tiara bertekad menggagalkan penahbisan. Bahkan rumor yang berkembang preman dari Laguboti sudah datang dan pengusaha DL Sitorus juga sudah mendatangkan orang-orangnya dari Riau untuk ikut menggagalkan penahbisan. Rumor kedatangan preman dari luar itu membuat “orang-orang kuat” Palembang tersinggung. Para preman dari Sungai Batang dan Bom Baru juga sudah siap mengamankan Palembang.
Gomar mengatakan kalau memang Gubernur tidak mau mundur sedikit pun artinya itu sudah tidak mungkin lagi melakukan penahbisan di Palembang. Kita harus mencari tempat lain. Kita tidak mau Gubernur dan Polda disini menjadi lawan kalian. Pertemuan dua pihak pun selesai. Aku dan Pdt Ben Parhusip keluar. Staff Kantor Pusat melanjutkan pertemuan tertutup. Setelah pertemuan selesai, Gomar sebagai Sekertaris Pembinaan mendatangi aku meminta
agar aku mengurus evakuasi calon pendeta yang ditahbiskan. Tapi dia minta agar ini benar-benar dirahasiakan. “Kemana tujuannya,” tanyaku. “Jakarta” jawabnya pendek.
Karna Rahmat
Aku pusing sekali memikirkan bagaimana caranya memindahkan 30 orang calon pendeta dari Payakabung tanpa
ketahuan. Kami sudah diawasi oleh Polres Kayu Agung. Saban hari ada saja intel yang datang ke kampus ini sekedar menengok. Kadang mereka cuma keliling-keliling kampus saja dengan motor. Perasaanku semua mata aparat kemanan sedang tertuju kepada kami.
Aku mengajak Hendry Hutabarat, supir Kantor Pusat, melakukan survey. Pikiranku bus tentu tidak boleh berangkat dari kampus Payakabung, namun mesti dari satu titik yang dirahasiakan. Palembang? Itu terlalu ramai, riskan sekali. Terminal Indralaya? Itu juga ramai dan lagi pula itu jelas-jelas kawasan Polres Kayu Agung. Aku lantas mengajak Hendry bergerak ke arah Prabumulih mencari-cari lokasi yang bisa dijadikan pos pemberangkatan. Kebun sawit atau kebun karet? Itu sunyi sekali. Kalau ada puluhan orang anak muda kumpul di situ tentu malah menarik perhatian orang yang lewat. Tambal ban? Ah itu punya orang Batak. Susah kalau di situ. Pastilah dia nanti akan banyak tanya-tanya. Akhirnya aku menemukan sebuah tempat ideal: sebuah restoran Minang, aku lupa namanya, di desa Cambai, sembilan kilometer sebelum Prabumulih. Restoran itu besar dan luas, jauh dari pemukiman, diapit hutan karet, di sampingnya ada gubuk-gubuk istirahat. Satu lagi: itu bukan wilayah Polres Kayuagung. (dalam hatiku intel-intel itu pasti urusannnya banyak sekali tak cuma HKBP, dia tidak mungkin mencari keluar wilayah kerjanya.) Aha. Ini dia yang kucari.
Tempat pemberangkatan sudah ada. Bersama Hendry kami pun balik arah ke Palembang mencari bus. Jarak Prabumulih – Palembang 90 kilometer. Capek sekali. Aku tak mengerti soal bus. Namun otakku mengatakan sebaiknya jangan bus
yang supir dan kernetnya Batak. Tiba-tiba aku ingat Bus Karina. Perkiraanku itu bus orang Minang (di kemudian hari aku baru tahu dari kawan2 rupanya supirnya Batak juga). Aku pun mencarter sebuah bus ke Jakarta. Kataku “untuk
membawa rombongan mahasiswa ke Jakarta yang habis KKN di Prabumulih, besok jemput di restoran Minang di Cambai jam 12.” Ongkos carter pun langsung kulunasi. “Siapa nama bapak?” Aku bingung. Siapa ya? Sejak bolak-balik dipanggil karena urusan konflik HKBP namaku sudah terkenal di polisi, apalagi wajahku. Akhirnya kusebut saja seenaknya: “Karna Rahmat.” Ya terjemahan bebas sola gratia. Artinya: hanya oleh rahmat.
Pagi-pagi sekali. Staff kantor pusat diam-diam menghilang. Yang tinggal hanyalah Sekertaris Pembinaan Pdt Gomar Gultom sebagai penanggungjawab LPP. Aku pun mengatur evakuasi. Gomar sudah memberikan aku sejumlah uang untuk dibagi-bagikan kepada semua calon pendeta yang hendak diberangkatkan. “Pokoknya ikut aku dan diam. Nanti kalian akan diantar satu per satu ke suatu tempat dan tunggu di sana. Ini uang, makan masing-masing, dan jangan ngomong banyak.” pesanku tegas dan jelas. Adik-adikku ini mengangguk. Mungkin mereka juga sudah ketakutan. Beberapa hari ini keadaan memang sudah tegang. Apalagi mereka sedang di kampung orang, jika ada apa-apa tentu tak tahu mau lari kemana.
Bersama Hendry aku pun mengantar empat-empat orang ke pos Cambai dengan mobil kijang. Kadang kami berpura-pura dulu ke arah Palembang kemudian tiba-tiba berbalik lagi. Ya, aku takut sekali dibuntuti. Jarak restoran Minang itu ke kampus lebih sepuluh kilometer. Demikianlah kami bolak-balik sampai semua selesai. Mulut ku benar-benar terkatup menahan rasa tegang dan takut.
Bus pesananku tiba persis jam 12. Aku berusaha tenang dan menyuruh semua calon pendeta, guru huria dan bibelvrouw yang hendak ditahbiskan itu segera naik ke bus. Tak ada seorang pun yang berani bertanya mau dibawa kemana. Aku dan Hendry berdiri tak jauh dari bus. Perasaanku rumit sekali, aku ingin semua langsung naik, dan bus bisa segera lari menghilang di belantara hutan lintas Sumatera sebelum polisi datang membuyarkan semua rencana kami. Namun entah kenapa perasaanku proses pemberangkatan itu begitu lambat dan lambat sekali, dan itu membuat aku berkeringat dingin. Akhirnya, akhirnya bus itu berangkat juga. Aku berdiri bagai patung di pelataran debu Restoran Cambai itu dihembus asap knalpot bus. Ayo pergilah cepat-cepat kataku dalam hati. Kami persis seperti pelarian di negeri sendiri. Kami orang baik-baik tetapi harus bersembunyi.
“Kalau kalian bisa selamat sampai Jakarta itu hanya karena rahmat Tuhan!”, teriakku keras-keras membalas lambaian adik-adikku.
Penahbisan gagal di Palembang
Aku pulang lagi ke Payakabung. Masih ada tiga puluh orang lagi yang tinggal. Mereka adalah rombongan LPP 2 yang baru akan ditahbiskan tahun depan. Semua lantas kubawa ke rumahku. Bersesak-sesak. Kemudian Gomar dan Hendry pun
pamit pergi. Kami berpelukan. Perasaanku ngeri sekali. Gereja HKBP Palembang sudah ramai. Selain anggota jemaat yang ingin tahu acara penahbisan besok juga beberapa polisi berseragam dan berbaju preman. Naposo sangat sibuk. Banyak sekali yang bertanya kepadaku apakah penahbisan jadi besok? Aku hanya menjawab: kita lihat besok saja. Bagaimana dengan spanduk? “Naikkan” kataku. Naposo pun menaikkan spanduk dengan tulisan “selamat datang Ompu i Eforus DR SAE Nababan” ke teras atas gereja dibawah pengawasan polisi. Aku senyum kecut.
Namun diam-diam aku membisikkan kepada dua orang tentang hal yang sesungguhnya, yaitu PY Pardede dan BIT Tamba. Aku tak ingin kami dianggap bermain-main atau membohongi parhalado. Sebab itu aku harus memberitahu rahasia itu kepada dua orang yang bisa jadi saksi di kemudian hari. “Tempat penahbisan sedang dipersiapkan di
tempat lain, tetapi biarlah moncong meriam tetap diarahkan ke kita,” kataku sambil meminta mereka diam. Mereka hanya mengangguk dan tak bertanya macam-macam.
Sabtu siang. Telepon rumahku berdering. Dari balik sana terdengar suara Kadit Intelpam Polda Kol Harahap dengan nada tinggi mengancam akan menangkapku. Oh Tuhan! Aku hanya bisa berdoa. Perasaanku sepertinya saatku sudah tiba. Kemarin kawan-kawanku yang ditangkap sekarang mungkin giliranku. Tapi sebelum ditangkap mending aku datang ke sana pikirku. Sendiri. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bukan penjahat. Aku orang baik-baik dan bertugas sebagai pendeta. Aku tidak salah, karena itu untuk apa takut? Ya, aku tak salah, tapi ternyata aku takut juga.
Aku sudah biasa ke Mapolda Sumsel ini dan langsung masuk ke Kaditintelpam. Petugas jaga di bawah sudah mengenalku. Kadit Intelpam yang kebetulan bermarga sama denganku ini tampak sangar atau seram sekali. Tak ada senyumnya sama sekali. “Dimana kau sembunyikan pendeta-pendeta itu?!” katanya dengan nada keras menggertak.
Aku tak mau digertak, lantas aku pun menjawab hampir sama kerasnya: “di rumahku! Kenapa rupanya?” Memang para pendeta itu di rumahku. Aku tak bohong. Aku hanya tidak mengatakan seluruh kebenaran. (Menurutku dia tidak perlu tahu bahwa calon pendeta yang hendak ditahbis itu ada dua macam, ada yang ditahbis tahun ini dan sebagian tahun depan. Yang di rumahku sekarang adalah yang akan ditahbis tahun depan, sementara yang benar-benar hendak ditahbis minggu ini sudah pergi entah kemana.)
Melihat aku tak bisa digertak nada suara Abangku ini menurun. “Palembang besok akan kacau. Kami sudah menahan rombongan preman di Kertapati dan Betung.” katanya. Lantas dia memberikan instruksi macam-macam kepada anak buahnya untuk mengantisipasi kerusuhan besok. Merasa urusanku sudah selesai, aku pun pamit pulang. Tiba-tiba dia bertanya: “dimana DR SAE Nababan?” Aku tahu itu metode perwira intel kawakan yang selau mendapatkan keterangan yang paling benar di akhir percakapan. Aku tak mau terpancing, tapi aku tak mau juga menyusahkan abangku ini sebab dia baik padaku. Kami bertatapan lama, “aku tidak tahu, pokoknya tidak disini” jawabku. Wajahnya tampak lega dan dia mengulurkan tangannya dan aku menyambut jabat tangannya. Ya aku tak bohong. Memang aku tak tahu dimana Eforus Nababan sekarang. “Pokoknya dia tidak ada di sini.”
Pulang dari Mapolda aku menginstruksikan semua calon pendeta pulang siang itu juga. Mereka sangat terperanjat. Keadaan berubah cepat sekali. Aku takut sekali Palembang besok benar-benar tumpah darah. Itu bisa jadi mimpi buruk seumur hidupku. Aku pun segera menelpon bus Sipirok Dolok Hole mencarter satu mobil ke Tarutung siang ini juga. Oke. Bus ada. Aku pun tak mau buang-buang waktu, segera membawa mereka ke stasiun SDH.
Namun entah kenapa bus itu lama sekali baru berangkat. Ada-ada saja masalahnya. Ban. Mesin. Kenek. Aku gelisah sekali. Dalam hatiku orang Batak sudah puluhan tahun main di transportasi tapi tak pernah bisa jadi profesional. Bagaimana mau maju? Ah dasar! Aku terus-menerus melihat jam. Rasanya lambat sekali. Akhirnya semua beres juga. Namun giliran bus mau berangkat, seorang calon bibelvrouw malah tak kelihatan. Bus pun gagal berangkat lagi. Kami bukan hanya lama sekali menunggu namun capek sekali mencari-carinya. Tiba-tiba si bibelvrouw muncul melenggang tanpa rasa bersalah sehabis belanja oleh-oleh. Aku benar-benar sudah di ujung tanduk. Kemarahanku pun meledak. Maaf, aku tak bisa menahan emosiku. Aku membentaknya keras dan kasar. Dia menangis. Aku pura-pura tak perduli. Keadaan sudah sangat genting dan aku tak mau dipusingkan lagi dengan soal-soal kecil.
Bus SDH itu pun berangkat menuju Tarutung. Aku pun lari pulang lagi ke gereja. Rumahku sudah sepi. Kosong. Lantas aku menelpon lagi Kolonel Harahap. “Semua orang kami sudah tidak ada di Palembang! Jika besok ada yang bikin rusuh, itu bukan orang kami ya?!” “Terima kasih Pak Pendeta.” balasnya, “aku akan bersihkan semua.” Aku diam saja. Aku tak mengerti apa yang hendak dibersihkannya.
Malam itu banyak sekali polisi berjaga-jaga di kompleks gereja HKBP Palembang. Mereka memeriksa semua sudut gereja. Mereka tampak tegang. Rumor yang berkembang mengatakan kami menyembunyikan DR SAE Nababan, sebab itu mereka melacak semua hotel dan penginapan. Kosong. Lebih aneh lagi, katanya kami membuat terowongan rahasia di belakang gereja. Ada-ada saja. Emangnya mau perang?
Ada cerita menarik. Gereja HKBP Palembang selama ini hanya punya satu tangga yaitu di depan. Bagiku
itu riskan sekali. Aku selalu kesulitan naik ke gereja atau meninggalkan gereja bila ada yang tiba-tiba perlu
sementara kebaktian sedang berlangsung sebab akan kelihatan jemaat. Aku mengusulkan agar dibangun tangga di belakang. Menurut St B Siregar tangga besi itu sebenarnya sudah lama ada, disimpan di gudang, tinggal memasang saja.
Pasanglah, kataku. Rupanya pemasangan tangga besi itu dianggap bukti keseriusan kami menyelenggarakan penahbisan di Palembang. Polisi tampaknya panik. Tangga itu dipotret-potret dan disebut tangga rahasia. Aku diam saja. Dasar paranoid, kataku dalam hati.
Minggu keesokam harinya. Sebelum kebaktian minggu dimulai polisi berseragam sudah memenuhi kompleks gereja HKBP Palembang. Tak jauh dari kompleks, tentara berseragam loreng siap-siap membantu. Di belakang gereja juga ada polisi lengkap dengan anjing pelacaknya, mungkin mereka kuatir kami akan menyelundupkan Eforus dari pagar belakang. Manalah mungkin pikirku. Aku diam saja dan duduk tenang sepanjang kebaktian. Ini benar-benar anti klimaks. Tak ada terjadi satu apapun dalam kebaktian. Semua berjalan seperti kebaktian minggu biasa. Beberapa orangtua calon pendeta yang sudah terlanjur datang ke Palembang marah-marah karena merasa diperdaya. Mereka datang khusus ke Palembang hendak menghadiri penahbisan anaknya menjadi pendeta, namun tidak terjadi apa-apa dan tidak ada satu pun yang tahu apa alasannya. Aku tetap membisu.
Persis para sintua sedang berdoa di konsistori, seorang naposo menjumpaiku dan mengatakan ada telepon untukku di rumah. (Saat itu belum ada ponsel). Aku pun lari ke rumahku yang terletak di samping gereja. Rupanya dari Sekertaris Pembinaan Pdt Gomar Gultom. Dia mengatakan terima kasih kepada kami semua dan memberitahukan bahwa penahbisan pendeta sudah selesai dilakukan di HKBP Pulomas. “Sampaikan salam kami kepada semua Parhalado dan Jemaat HKBP Palembang.” Aku merinding, bulu kudukku berdiri. Air mataku menetes karena bahagia.
Aku lari lagi ke gereja. Parhalado masih sibuk menghitung uang persembahan. Aku pun mengumumkan bahwa penahbisan sudah dilakukan di HKBP Pulomas. Parhalado terperanjat hampir tak percaya. Punguan Ina masih latihan di atas. Aku pun menyampaikan kepada mereka berita itu. Para Ina Parari Kamis, kawan-kawan setia kami ini, spontan bertepuk tangan, berpeluk-pelukan dengan air mata bercucuran. Kemudian mereka turun dari gereja sambil bernyanyi dan menari-nari lagu perjuangan kami “Setia setia Sampai Akhir”. Di bawah jemaat masih ramai . Mereka sangat bingung menyaksikan para Ina Parari Kamis bernyanyi dan menari gembira sekali. Apa yang terjadi? Penahbisan sudah terjadi di HKBP Pulomas! Seluruh jemaat yang masih tinggal ikut bernyanyi dan menari gembira. Setia, setialah, setia sampai akhir! Tiba-tiba kulihat polisi dan intel satu per satu surut meninggalkan kompleks HKBP Palembang.
Kerumunan jemaat masih sangat ramai membicarakan peristiwa dramatis itu. Aku lantas segera menghilang, tak ingin jadi pusat perhatian. Namun, besoknya kudengar dari Pdt Parhusip, seorang intel yang kebetulan Batak mengatakan di arisan, “kami sudah dilego pdt Harahap”. Aku hanya ketawa kecil. (Lego adalah istilah anak-anak di Medan dalam permainan sepak bola, maksudnya menggiring bola melewati beberapa lawan sekaligus lantas memasukkannya ke gawang dengan cantik sekali.) Skor 5 – 0 untuk kami.
Kisah ini adalah tuturan kawan-kawanku dan kakakku yang kebetulan tinggal di Pulomas. Para calon pendeta yang hendak ditahbiskan itu benar-benar bingung dan buta, mereka sungguh tidak tahu hendak dibawa kemana. Hanya percaya dan menurut saja. Bermacam perasaan jadi satu: cemas, takut dan tegang serta sendu. Istilah mereka kami seperti permen yang dibungkus. Berhubung sebagian besar belum pernah ke Palembang dan juga dalam keadaan tegang, mereka benar-benar mengalami disorientasi. Mereka baru sadar sedang menuju Jakarta sewaktu bus hendak menyeberang naik ferry Selat Sunda. Tapi perjalanan belum berakhir, bus tidak berhenti di Jakarta, namun menuju salah satu villa di Puncak. Sampai Minggu pagi sebelum penahbisan mereka tidak tahu hendak ditahbiskan dimana. Jemaat HKBP Pulomas pun tak tahu bahwa penahbisan pendeta akan dilakukan di sana. Hanya pendeta dan beberapa
parhalado. Menurut tuturan kakakku, mereka kaget sekali ketika datang kebaktian melihat banyak sekali pendeta berjubah hitam. Rupanya ada penahbisan.
Masa itu adalah jaman Orde Baru. Pemerintah yang sedang berkuasa bertekad menggagalkan penahbisan itu, berapapun harganya, sebab penahbisan itu akan menjadi bukti bahwa Eforus DR SAE Nababan masih legitim sebagai pemimpin gereja HKBP, dan mereka tak mau itu. Sebab itu jaman dulu segala yang baik dan benar pun terpaksa harus dirahasiakan. Manusia boleh-boleh saja punya banyak rancangan, namun keputusan akhir Tuhan yang menentukan.
(bersambung)
Gereja Yang Luka & Tak Menyerah (8)
Home: http://rumametmet.com
Share on Facebook
Aduh….
inang bibelvrouw itu bikin gregetan deh….
Amang pernah ketemu dia lagi gak,Mang?
Kisah yang sangat meyentuh hati karena didasari akan ketulusan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar dikebiri oleh rezim yang tidak mengerti akan kehidupan rakyat-nya.
Berbuatlah kebaikan untuk semua orang karena hasil-nya akan kita tuai dikemudian hari.
Tuhan memberkati.
saya tetap yakin, yang benar yang di lindungi Yesus, dan itu memang terjadi,
kita tetap setia sampai akhir untuk selamanya.
Tuhan Yesus Memberkati.
bagian ini (7) menunjukkan kuasa-Nya benar-benar ada ya Amang
senang bisa membaca tulisan seorang Pdt yg bisa bikin terhanyut, sedih, kesal, marah, bahagia..
dari bagian pertama sampai ke tujuh ini baru 2 nama Pdt yg saya kenal, dan pernah melayani di acara RNHKBP Slipi (jan-okt 09), senang bisa kenal dan berinteraksi dgn Pdt yg ikut andil dalam mempertahankan HKBP tetap menjadi HKBP
ga sabar ada kisah menghanyutkan apalagi di bagian2 berikutnya..
Pak Pdt DTA, kisah ini merupakan sejarah, saya kira ini baru satu episode saja dari kisah yang panjang tentang konflik HKBP. Harap saya agar kisahkan juga yang lainnya (tentu masih ada) tentang konflik HKBP yang Pak DTA alami. Juga, kiranya siapapun dari versi manapun (SSA dan Tiara) yang masih memiliki dan menyimpan kisah konflik HKBP tempo doeloe agar sudi mengungkapkannya. Bukanlah maksud pemaparan kisah untuk menguak luka dan bukan pula untuk mengungkapkan yang ini benar dan yang lain salah, karena peristiwa itu telah berlalu. Biarkanlah kisah itu bisa diketahui banyak jemaat juga pangula, sehingga dimasa depan bila ada permasalahan di HKBP maka jemaat dan pangula bisa menyelesaikannya dengan baik dan arif dengan bercermin pada sejarah. Pak DTA, terima kasih atas kisah ini, ditunggu kisah lainnya.
Daniel Harahap:
Pak Elman, saya bukan sejarawan dan saya juga tidak menulis sejarah. Saya hanya menuliskan apa yang saya rasakan dan alami pada suatu periode yang sulit di masa lalu. Ini catatan pribadi. Sebab itu saya akui sangat subjektif. Saya sadar betul ada (dan sudah ada) beberapa orang yang tidak setuju dengan apa yang saya tuliskan termasuk yang dulu “sekelompok” dengan saya. Namun saya menulis dengan jujur. Apalagi saya merasa sudah berdamai dengan masa lalu. Namun sebagai sebuah memoar pribadi tulisan saya tetap penuh keterbatasan. Sebab itu berulang kali saya katakan: anggaplah apa yang saya tuliskan separuh kebenaran. Separuh lagi agar dicari dan ditemukan dalam orang-orang lain. Saya setuju dengan Pak Elman, agar banyak orang menuliskan pengalaman dan pikirannya tentang konflik HKBP kemarin. Dan biarlah generasi berikut yang membuat kesimpulan dan menilai kita.