GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (8)

April 3, 2007
By

Sebuah kesaksian seorang pendeta tentang konflik HKBP 1990-an

Oleh: Daniel T.A. Harahap

Seminar Globalisasi

27 Juli 1996. Puncak Pesta Kebangunan NHKBP Palembang diisi dengan Seminar Sehari berjudul: Ketahanan Pemuda Menghadapi Globalisasi. Acara dimulai tepat jam 09.00 dihadiri kurang-lebih 300 orang pemuda termasuk undangan dari gereja tetangga. Ya kami sangat ingin pemuda HKBP bukan saja memahami baik tetapi benar-benar siap menghadapi globalisasi yang telah, sedang dan akan datang menggelombang serta mengubah segalanya. Panitia telah mengundang para narasumber guna membantu pemuda memandang globalisasi dari berbagai perspektif. Namun ada satu hal menarik yang ditunggu-tunggu: presentasi internet.

Atas saran dan sarana Simson Tampubolon, seorang bekas aktivis naposobulung HKBP Pabrik Tenun Medan yang pindah kerja ke Palembang, Naposo HKBP Palembang mendapat kesempatan melihat langsung apa sebenarnya mahluk yang bernama internet itu. Kau jangan tertawa. Tahun 1996 internet masih sangat langka dan dianggap mewah, boleh tanya kepada orang-orang yang lebih tua, namun naposo HKBP Palembang telah mendapatkannya. Suatu lembaga pendidikan komputer dan provider diPalembangdiundang presentasi. Pesanku: mereka cukup menjelaskan dan menunjukkan apa dan bagaimana internet secara teknis, mengenai soal moral atau etika jangan disinggung sebab itu tugas dan tanggungjawabku sebagai pendeta. Layar multimedia pun dipasang dan kabel ditarik dari kantor gereja. Semua penasaran. Presenter bertanya kepadaku: apakah dia boleh menunjukkan salah satu situs porno hanya sekedar sebagai contoh? Aku menjawab, “boleh, tapi jangan lama-lama, cukup sekedar tahu saja.” :-)

Gereja Lama diduduki

Seminar yang memikat itu baru saja berjalan ketika aku mendengar berita mengejutkan. Kelompok Tiara menduduki gereja lama. Sebagai informasi HKBP Palembang punya dua gedung gereja. Yang pertama di Jalan Sakyakirti. Gereja itu sudah lama tidak terpakai dan dibiarkan kosong tak terawat. Yang kedua gereja baru di Jalan Mayor Ruslan. Gereja baru itu besar dan megah dan halamannya sangat luas. Di bawahnya ada gedung serba guna. Seluruh aktivitas sekarang dilakukan di kompleks gereja baru di Jalan Mayor Ruslan. Naposo sendiri sudah memiliki sebuah sekertariat di gereja baru, persis di samping kantin sekolah Yapon lengkap dengan fasilitas sebuah telepon umum koin yang bisa berdering.

Kabar pendudukan gereja lama oleh kelompok Tiara segera menyebar. Anggota jemaat pendukung kami pun berdatangan ke kompleks gereja: Laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Namun berhubung di gedung serba guna seminar kebangunan naposo masih berlangsung, mereka semua duduk-duduk saja mengobrol di teras dan halaman sekaligus menunggu-nunggu arahan. Konsentrasiku langsung pecah. Di satu pihak aku sangat sadar pentingnya seminar ini bagi para pemuda, namun di pihak lain pikiranku sudah tidak tertuju kepada seminar ini melainkan kepada masalah konflik HKBP. Begitulah aku bolak-balik, sebentar di dalam gedung sebentar ikut ngobrol di luar bersama orang tua-tua.

Siang. Anggota jemaat yang datang sudah semakin banyak. Mereka tidak sabaran lagi ingin ramai-ramai ke gereja lama membubarkan kelompok yang dianggap melanggar kesepakatan status quo itu. Mereka belum bisa melupakan gagalnya rencana penahbisan pendeta diPalembangyang juga disebabkan oleh status quo itu. Dari antara jemaat yang sangat semangat itu adalah Kapten Pol Simarmata. Dia polisi aktiv di bagian reserse, namun entah kenapa sejak awal tidak pernah takut menunjukkan secara terang-terangan dirinya pro SSA. Itu membuat kami para pendeta sangat kuatir.

Selain itu ada yang menggelikan. Yang paling emosional ingin segera membubarkan kelompok Tiara dari gereja lama justru orang tua-tua, yang menurutku jangankan berkelahi namun berjalan saja pun sudah susah dan karena itu harus dipapah. Juga Ibu-ibu rumah tangga. Mereka terus gelisah menunggu-nunggu saatnya bertindak. Akhirnya aku berdiskusi dengan Pdt Ben Parhusi, para pendeta lain serta parhalado. Semua sepakat gereja lama harus diambil lagi. Namun bagaimana? Seminar belum selesai. “Tunggulah sebentar lagi” kataku.

Pengepungan pertama

Jam 16.30 sesuai kesepakatan dengan Parhalado dan pengurus Naposobulung serta Panitia, aku pun masuk ke ruang serba guna mengumumkan dengan penuh penyesalan dan permohonan maaf kepada para undangan khususnya dari gereja-gereja tetangga bahwa seminar harus dihentikan. HKBP sedang menghadapi masalah. Seminar pun langsung bubar. Presenter MDP buru-buru menggulung layarnya dan para pemuda HKBP berhamburan keluar.Parajemaat sudah mulai bergerak berjalan kaki. Aku benar-benar tidak sempat melakukan koordinasi dan buru-buru menggabungkan diri.

Dari luar gereja lama tampak sepi. Jendela-jendela tertutup. Mereka melakukan aktivitas di dalam. Perkiraanku jumlah orang di dalam hanya 30 orang. Sementara jumlah kami yang datang lebih dari seratus limapuluh orang. Jika terjadi konflik fisik kupikir kami menang dengan mudah. Apalagi dua jalan di depan gereja sudah kami tutup. Tapi apa
akibatnya? Aku bersyukur rombongan kami sangat tertib dan mudah diatur. Tak ada yang berteriak-teriak, memaki-maki, apalagi bertindak sendiri. Semua tenang menunggu arahan, mengisi waktu duduk mengobrol sesamanya sambil sesekali bercanda.

Sudah bisa diduga pihak polisi pun segera datang. Jumlahnya tak banyak. Seorang perwira Intelpam Poltabes lantas mengajak kami kedua belah pihak negosiasi di warung depan gereja. Negosiasi pun dilakukan sambil dikerumuni jemaat dan masyarakat yang ingin tahu. Dari kelompok Aturan aku dan Pdt Ben Parhusip, dan seperti biasa dia menyuruh aku jadi jurubicara. (Mungkin alasannya dia kurang pintar bicara, hanya pintar kerja saja, jangan-jangan aku sebaliknya). Aku pun memainkan peranku dengan baik sebagai negosiator. Terus terang aku merasa punya bakat untuk itu. Ada dua argumen kukedepankan. Pertama: kesepakatan Muspida Sumsel bahwa Palembang status quo. Masing-masing pihak tetap pada posisinya sampai masalah HKBP dituntaskan di Pusat. Namun fakta kini kelompok Tiara melanggar kesepakatan. Kedua: untuk menguatkan argumen pertama, aku mengingatkan bahwa jumlah kami lebih banyak secara signifikan. Aku sengaja tidak mengungkit-ungkit masalah Aturan, karena kupikir tidak ada gunanya, toh polisi itu tidak tahu apa-apa soal Aturan HKBP. Kesanku polisi yang memediasi kami dapat menerima argumenku, itu bisa kubaca dari raut muka dan sikap tubuhnya. Sebaliknya, jubir kelompok Tiara bertahan bahwa mereka adalah HKBP yang sah yang diakui oleh Pemerintah Pusat cq Menteri Agama. Selain itu gereja lama ini kosong dan terlantar dan mereka ingin membersihkan dan menggunakannya.

Negosiasi alot. Aku tak mau mundur sedikit pun dari posisi status quo yang disepakati Muspida Sumsel. Sengaja kutambahkan bahwa kemarin sewaktu rencana penahbisan kelompok kami sudah mau mengalah, karena itu kami sekarang tidak mau lagi mundur. Perwira polisi dari Poltabes ini mengambil sikap netral berempati, namun aku mendapat kesan dia terjepit, sepertinya ada kekuatan yang menekannya diam-diam. Percakapan benar-benar alot dan beberapa kali terputus, karena si perwira minta ijin melakukan koordinasi dengan atasnnya. Aku terus-menerus menghela nafas untuk mengendalikan diriku agar kata-kata yang keluar dari bibirku tak ada yang salah, dan bisa dipakai menyerang balik.

Namun diam-diam aku membisikkan kepada beberapa naposo dan jemaat agar memanggil lebih banyak lagi pendukung kami datang. Aku sadar betul psikologi perundingan. Kekuatan juru runding bukan hanya ditentukan kepintarannya berbicara dan adu argumen, tetapi terutama peta kekuatan di lapangan. Aku ingin secara halus meyakinkan pihak keamanan bahwa suara kami harus diperhitungkan.

Menjelang jam 6 sore kami dipanggil lagi. Perwira Poltabes itu meminta rombongan kami pulang. Mereka berjanji bahwa kelompok Tiara yang ada di dalam juga akan pulang. Aku tak mau percaya begitu saja. Lantas aku pun bertanya jam berapa? Perwira polisi itu tidak menjawab. Aku menarik nafas. Ini benar-benar perang urat syaraf. Jika kami tidak mengikuti sarannya, maka citra kami akan jelek, kami bisa-bisa dikatakan tidak menuruti saran pihak keamanan. Nanti seandainya ada apa-apa tentulah kami yang dipersalahkan. Namun bila kami mengikuti begitu saja sarannya, apa jaminan bahwa kelompok Tiara juga akan pulang?

Berhubung polisi itu tidak bisa memberi jadwal pasti aku menetapkan sendiri deadline. “Pokoknya kami tunggu sampai jam sembilan malam. Bila polisi tidak mau membubarkan maka kami yang membubarkan” kataku sedikit berbau nada mengancam. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri berbicara empat mata dengannya, “Pak tolong sampaikan kepada atasan, kalau empat puluh orang dianggap potensial bikin rusuh, bagaimana dengan empat ratus orang”. Tetapi sesuai saran polisi rombongan kami pun patuh pulang ke gereja Mayor Ruslan. Mungkin dipikir polisi kami akan bubar sendirinya. Namun ternyata rombongan itu kami bukan saja tetap sabar menunggu di gereja baru, melainkan memanggil lebih banyak lagi anggota jemaat datang. Apalagi ina-ina, sepertinya senang sekali ramai-ramai.

Perasaanku sendiri tidak menentu. Aku tidak bisa memastikan apa yang bakal terjadi malam nanti. Aku tidak kuatir soal pribadiku bila konflik fisik. Kawan-kawanku naposo sudah siap di depan. Namun berapa harga yang mesti kami bayar? Maksudku bukan soal uang, berapa besar pengorbanan yang harus ditanggung? Aku tidak menginginkan ada korban luka apalagi nyawa diPalembang, dari pihak mana pun, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Konflik ini sudah jadi perangkap bagi kami semua. Untunglah Martha pacarku, tiba-tiba datang. Dia sedang koas di RSUP Palembang dan kebetulan tidak jaga. Aku sedikit terhibur. Aku meminta dibelikan jus mangga. Kataku setengah bercanda, “siapa tahu nanti malam aku mati, aku kepingin minum jus dulu”. Dia tidak suka mendengar kalimat itu, namun dia pergi mencari yang kuminta. Perasaanku itulah jus mangga paling sedap di dunia. Sampai hari ini. :-)

Namun ada masalah baru. St TH Sihombing, salah satu pendukung pro Aturan yang paling gigih, sejak pagi dipanggil ke Poltabes dan sampai malam ini tidak pulang-pulang. Rupanya dia ditahan. Kelak di kemudian hari kami tahu penahanan ini adalah kreasi seorang perwira di Poltabes pendukung Tiara tanpa koordinasi dengan atasan. Seorang sintua kami, dr. Theresia Lumbantoruan (suatu saat kelak beliau menjadi ibu mertuaku), menawarkan jasa menghubungi Kadit Intelpam Polda yang baru Kolonel Muharram yang
dikenalnya secara baik secara pribadi. St TH Sihombing pun segera dibebaskan.

Pengepungan kedua

Jam sembilan malam tak ada tanda-tanda sama sekali polisi membubarkan kelompok Tiara yang menduduki gereja lama. Kami sudah bertekad bulat: Polisi tidak mau membubarkan maka kamilah yang akan membubarkannya. Namun, atas saran pendeta Ben Parhusip, kami naik dulu ke dalam gereja, untuk bernyanyi dan berdoa. Aku membacakan Injil tentang harga mengikut Yesus dan mengajak jemaat menyanyikan BE 223 Husomba Ho Tuhan. Pdt Ben Parhusip berdoa. Sebelum rombongan turun aku mengingatkan: “tidak ada satu orang pun yang boleh membawa senjata, batu atau kayu. Tidak ada satu orang pun yang boleh bertindak sendiri. Tunggu arahan!”

Malam sudah naik. Kami benar-benar didesak waktu.Parajemaat dari sore sudah tidak sabaran hendak lekas-lekas berangkat. Aku tidak sempat lagi koordinasi secara matang dengan kawan-kawan. Aku hanya bisa memesankan kepada aktivis naposo agar menyebar dan mengenali seandainya ada penyusup ke dalam barisan.

Rombongan yang berjumlah kurang-lebih 500 orang itu berjalan kaki tenang dan hening. Aku sempat beberapa kali menoleh ke belakang mau melihat ujung barisan yang sangat panjang itu. Kami sengaja memutar arah agar tidak melewati pemukiman penduduk. Ya kami harus tetap menunjukkan bahwa di saat konflik sekali pun kami adalah orang-orang santun.

Sewaktu kami tiba di jalan depan gereja lama sudah banyak sekali polisi anti huruhara lengkap dengan helm, tameng dan pentungan. Dekatnya sebuah panser parkir. Aku bergidik ngeri. Malam. Aku tak bisa melihat jelas muka orang-orang. Namun di belakang polisi aku melihat banyak pasukan loreng. Seorang naposo membisikkan bahwa Komandan Korem Kolonel Ryamirzad Ryacudu juga ada di situ, duduk dalam jeep, mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi. Rombongan kami semua sudah berhenti persis di depan gereja lama. Tertib dan tenang. Lantas apa yang akan terjadi? Aku tak berani membayangkannya. Aku hanya bisa berdoa dalam hati agar Tuhan kasihan melihat kami.

Seorang perwira berseragam loreng mendatangi kami. Aku mengenalnya sebagai Komandan Kodim Palembang tapi lupa namanya. Dia Muslim. Kami pernah sekali diundang ke kantornya dan beliau sangat hormat dan santun. Rupanya dia masih mengenal aku.

“Pak Harahap kan?” Aku mengangguk.
“Siapa pemimpin rombongan dari gereja Mayor Ruslan?”
Aku menjawab spontan “saya”. Dia memandangku.
“Bapak bisa meminta rombongan mundur enam meter ke belakang?” tanyanya.
“Bisa” kataku. Melalui pengeras suara aku meminta rombongan kami mundur dan
duduk tenang, sengaja kutambahkan anak kalimat “kita semua orang baik-baik yang mengendakikota ini aman dan tenteram.” Semua rombongan kami mundur enam meter ke belakang, lantas diam lagi menunggu.Suasana tegang sekali. Lantas Dandim itu berkata “Bapak tenangkan rombongan. Biar kami yang bertindak.” Aku baru tahu di kemudian hari rupanya Dandim itu sedang mengetesku. Dia sengaja menyuruh aku memundurkan rombongan dan ternyata rombongan kami mau mundur. Pikirnya jika rombongan yang sedang marah ini mau disuruh mundur tentu mereka juga mau jika disuruh maju menyerbu. Sebab itu pihak keamanan tidak mau mengambil resiko sedikit pun.

Beberapa meter di depanku aku melihat Dandim tampak bersoal-jawab dengan seorang pendeta pendukung Pro Tiara. Aku tidak tahu isi percakapan mereka, namun aku melihat kawanku pendeta yang pro Tiara itu tiba-tiba ditempeleng oleh Komandan Kodim itu. Plak. Aku menggigit bibirku. Dia yang ditampar tapi entah kenapa perasaanku sakit sekali. Aku tidak suka keaadaan ini.

Tiba-tiba aku mendengar aba-aba komando. Pasukan polisi anti huru-hara bertameng itu pun bergerak bagaikan robot-robot menakutkan di kegelapan malam bercahaya pendar-pendar lampu sirene. Lampu gereja lama tiba-tiba tampak dipadamkan. Aku mendengar suara gaduh. Suara gebukan-gebukan pentung. Suara perempuan menjerit-jerit. Aku tak tahan mendengarnya. Aku yakin mereka tidak dikerasi atau digebuki oleh polisi itu, sebab mereka adalah kelompok HKBP yang diakui dan didukung pemerintah pusat, tetapi yang jelas mereka sedang dipaksa pergi. Suara sirene mobil taktis terdengar meraung-raung keras membawa kelompok Tiara ke suatu tempat. Semua kami diam membisu menyaksikan adegan pengusiran paksa itu. Raung sirene mobil taktis yang mengungsikan “lawan-lawan” kami itu makin sayup lantas hilang lenyap. Aku sekonyong-konyong merasa sunyi.

Rombongan kami pun pulang lagi ke gereja HKBP. Makan bersama. Aku tak bergairah dan lebih banyak diam. Suara sirene dan jeritan-jeritan perempuan itu masih terus mengiang-ngiang di telingaku. Aku merasa bersalah. Rasa bersalah itu begitu kuat sehingga aku tak mampu menahannya. Alih-alih merasa menang dan bangga, aku merasa sepi, seperti seorang diri dipadangkubur yang sunyi. Aku sengaja pulang lebih awal ke rumahku. Aku ingin menyendiri.

(Malam itu aku menelpon abangku sekedar untuk bercerita tentang kejadian di HKBP. Namun malah dia yang balik menyampaikan berita. Katanya Jakarta rusuh.Adabanyak sekali korban. Pagi-pagi tadi Markas PDI Pro Mega di Jalan Diponegoro diserbu oleh pendukung Suryadi didukung preman dan aparat keamanan dan sesudahnyaJakartahangus terbakar dan disusul penangkapan besar-besaran. 27 Juli 1996. Aku semakin takut.)

Aku mau menyampaikan kebenaran kepada murid-muridku sekaligus kawan-kawanku generasi muda HKBP sekarang, dengarlah baik-baik kata-kataku: dalam perang saudara tidak ada satu orang pun dari antara kita yang menang sebab kita semua akan kalah secara memedihkan. Ingatlah, tiap-tiap hal yang kauanggap “kemenangan”-mu bukan saja tidak memberimu rasa bangga, tetapi malah semakin menorehkan luka jiwamu semakin dalam. Tertanda: Daniel T.A. Harahap.

Bersambung Ke: Gereja Yang Luka & Tak Menyerah (9)

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , , , , ,

3 Responses to GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (8)

  1. Daniel on April 3, 2007 at 7:20 am

    Konflik HKBP Taman Mini juga mengajarkan hal yang serupa bang. Waktu pihak yng satu mengklaim kemenangan terhadap pihak lainnya mereka tidak sadar bahwa mereka membuat gereja jauh dari kewibawaannya, mereka tidak sadar bahwa konsistori cuma jadi ajang dagelan politik untuk merebut kekuasaan. Yang jadi korban: Naposo atau anak-anak mereka yang ikut saling membenci dan pelayanan yang tidak berjalan.

  2. Rudy Sihombing on February 19, 2008 at 3:35 pm

    Pada saat tersebut (Perang DIponegoro, 27 Juli 96= PDI vs ORBA), jemaat HKBP Serpong masih menempati Ruko-Ruko (karena HKBP belum dapat menempati gereja yang dibangunnya, kelak inang Pdt br Regar dengan militan mulai menempati rumah di gereja dan mengaktifkan gereja) . Ruko sebelah hancur kaca-kacanya. Ruko berlantai 3 yang dipakai gereja juga sebagai rumah pendeta.

    Inang Pdt br Regar bersikutat untuk tetap menjagai gereja pada saat malam kerusuhan pertama. Tapi pada malam selanjutnya kami amankan untuk tinggal di rumah kami, karena khawatir dengan anak kecil putri inang Pdendeta

  3. Sary on March 5, 2008 at 11:04 am

    rumah saya ada didalam kompleks gereja, waktu itu saya dan adik saya sampai diungsikan oleh bapak, karena takut jadi korban lemparan batu dari jemaat yg ga bisa masuk gereja.
    sekarang senang rasanya ngeliat hkbp udah aman dan bersatu lagi.
    hidup HKBP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*