GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (6)

March 28, 2007
By

Sebuah kesaksian seorang pendeta di masa konflik HKBP 1993-1998

Oleh: Daniel T.A. Harahap

Berkat tersembunyi

Konflik HKBP memporak-porandakan tidak saja gereja HKBP tetapi juga tatanan masyarakat dan kultur Batak yang menyatu, jalin-menjalin, dengan gereja suku ini. Korban luka dan bahkan telah tewas berjatuhan. Banyak orang kehilangan rumah, pekerjaan dan mata pencaharian, juga gerejanya. Dan semua orang yang cinta HKBP, dari kelompok mana pun itu, sangat menderita. Warga HKBP yang mencoba setia di HKBP lebih menderita lagi karena sebagian saudaranya “melarikan diri” meninggalkan HKBP melakukan eksodus ke gereja-gereja lain dengan berbagai alasan: takut, malu, tak mau susah atau ingin beribadah nyaman dan aman, dan lain sebagainya. Jika alasan mereka pergi dari HKBP saat konflik adalah karena takut atau tak kuat menghadapi ancaman atau tekanan aku dapat memahaminya, namun jika karena merasa malu, kupikir aku berpikir jangan-jangan mereka memang tidak pernah sayang kepada gereja ini. Biarlah mereka pergi dengan sejahtera. Imanku mengatakan Kristus, Raja Gereja, masih bertahan di gereja HKBP sebab itu aku juga akan tetap bertahan di HKBP selama Dia ada.

Namun sesungguhnya konflik atau krisis HKBP tidak melulu kisah sedih. Aku adalah saksi di masa-masa sulit ini ternyata ada begitu banyak berkat Tuhan di tempat tersembunyi. Itulah yang sering disebut: blessing in disguise.

Spiritualitas Baru

Satu berkat besar yang diterima oleh HKBP adalah munculnya spiritualitas baru warga HKBP. Selama ini ber-HKBP kadang mirip ber-arisan belaka, kumpul-kumpul dan nyanyi-nyanyi serta ngobrol. Namun konflik gereja yang nyata-nyata melibatkan pemerintah (sipil dan militer) ini telah menyadarkan warga HKBP ternyata ada sisi lain iman Kristiani, yaitu salib dan penderitaan. Ada harga yang harus dibayar untuk menjadi murid Kristus, bukan dengan uang tetapi dengan ketaatan tak bersyarat kepada Tuhan.

Aku bersyukur, sebab menurutku krisis HKBP ini telah mendorong banyak warga HKBP termasuk para pendeta agar lebih tekun berdoa dan membaca Alkitab, bukan hanya untuk meminta berkat Allah sebanyak-banyaknya tetapi juga mencari kehendakNya. Mengapa Allah membiarkan penderitaan ini? Dimanakah Allah ketika puluhan pendeta HKBP diusir paksa dari rumahnya oleh kelompok bersenjata pentung kayu dan besi yang terang-terangan didukung oleh polisi dan tentara? Di manakah Kristus ketika hampir 500 orang pendeta dan warga HKBP (termasuk ibu-ibu) ditangkapi dan ditahan tanpa prosedur di Sumatera Utara, dipukuli dan disiksa hanya karena menolak campur tangan pemerintah ke dalam kehidupan gereja? Apakah sesungguhnya yang disabdakan Allah tentang krisis gereja terbesar di Indonesia ini?


Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong para pendeta dan sintua, terutama mungkin di kalangan pro Aturan yang paling
banyak mengalami kekerasan untuk mulai berteologi atau merefleksikan secara sistematis imannya. Bergereja ternyata bukan sekedar beribadah dengan aman, tenang dan nyaman. Bergereja bisa berarti menderita. Dan mereka yang menderita karena memperjuangkan pengakuan iman, konstitusi, independensi gereja ini bertanya: sampai kapan Tuhan? Berapa lama lagi ya Allah?

Ibadah-ibadah HKBP khususnya kelompok SSA tidak lagi merupakan seremoni kosong atau ritus ulangan, tetapi benar-benar menjadi sebuah pujian, pengakuan, permohonan dan penyembahan yang tulus, khusuk, hangat, semarak dan spontan di tengah realitas sosial-politik yang tidak memihak kepada mereka. Lagu-lagu dari Buku Ende kini bukan lagi rapalan tetapi ekspresi hati orang-orang yang merasa tak berdaya. Bisakah kau ikut merasakan hati keluarga pendeta HKBP di kampung menyanyikan lagu di bawah ini sebelum para preman dikawal polisi dan tentara Republik mengobrak-abrik rumah mereka, mencampakkan semua barang-barang milik mereka keluar, dan memaksa mereka pergi?

Husomba Ho Tuhan, tangihon au
SangkapMu tongtong pasaut tu au
Lam ganda baeonMi holong ni rohangki
Sai lam gandai holong tu Ho.

Kusembah Kau Tuhan, dengarkanlah aku
Jadilah kehendakMu bagiku
Tambahkan kasih dalam hatiku
Tambahkanlah kasih kepadaMu.

Tapi sebaliknya, apa yang kaukatakan melihat ratusan ibu-ibu petani desa beribadah di jalan raya karena gerejanya sudah diambil paksa oleh kelompok bersenjata, namun tetap menyanyi-nyanyi gembira sambil menari-nari khas Batak sebelum pasukan polisi datang menyerbu dan membubarkan paksa dan menghalau?

Setia, setialah, setia sampai mati!
Tuhan Yesus memanggil, setia sampai mati!
Apakah jawabanmu? Setia sampai mati!
Setialah, setialah, setia sampai mati!

Krisis ini juga membuka bungkus-bungkus atau topeng-topeng yang selama ini menjadi citra HKBP bertahun-tahun. Dikarenakan konflik kami pendeta-pendeta HKBP, terutama kelompok pro Aturan, tidak lagi menganggap jas dan dasi serta seremoni sebagai sesuatu yang maha penting. Sebab yang sejati telah ditemukan: kesetiaan dan ketaatan kepada Allah sampai mati. Juga kesabaran menanti-nantikan pertolongan Tuhan. Semua itu berkat Tuhan di masa sulit ini.

(Di Sumatera Utara kelompok pro Aturan sebagian besar diusir secara paksa dari gerejanya, bahkan sebagian dari kampungnya sendiri hanya karena menolak mengakui DR PWT Simanjuntak dan DR SM Siahaan sebagai eforus dan sekjen HKBP yang sah. Mereka akhirnya beribadah di tenda-tenda darurat yang dalam bahasa Batak parlape-lapean yang dibangun di lahan-lahan kosong di pinggir kampung atau di sawah-sawah kering. Kadang-kadang mereka beribadah di jalan raya dibawah todongan senjata aparat keamanan. Aku mendengar kisah-kisah yang sangat haru dan indah dari “gereja darurat” ini dan ada sedikit rasa iri aku tidak di sana.


Tiba-tiba saja warga HKBP disadarkan bahwa gereja bukanlah gedungnya, tetapi persekutuan yang terbentuk oleh kesaksiannya. Parlape-lapean adalah sungguh-sungguh gereja. Di sana firman Tuhan diberitakan dan sakramen
dilayankan. Menurutku ini adalah modal besar bagi pengembangan suatu teologi baru HKBP, sebab selama ini HKBP terlalu terpesona dengan gedung. Semakin besar dan megah gedungnya seolah dianggap semakin mencerminkan surga. Ada-ada saja. Namun dalam konflik gedung tak lagi menentukan. Gereja HKBP sedang bergerak dari statis menjadi dinamis, dari lembaga menjadi gerakan, berubah dari batu menjadi roda, dan dari mati menjadi hidup. Bukankah ini pantas disyukuri?)

Media alternatif

Pada masa konflik itu hampir semua media cetak dan satu-satunya media elektronik (saat itu belum ada televisi swasta, yang ada hanya TVRI) dikuasai pemerintah dan tentu saja otomatis menjadi corong pemerintah (yang sedang berkuasa). Berita-berita tentang HKBP yang dimuat di koran-koran apalagi di TVRI jelas-jelas saja untuk mendukung kepentingan pemerintah. Masyarakat Indonesia benar-benar dihalang-halangi mendapatkan informasi yang seimbang atau cover both side. Seingatku hanya majalah Tempo yang masih objektif memberitakan kasus HKBP. Sebab itu bagi kami yang
menolak campur tangan pemerintah terhadap kehidupan gereja jelas saja tidak memiliki sumber informasi yang cukup untuk memberitakan apa yang sesungguhnya terjadi di HKBP kepada masyarakat luas, apalagi di kota-kota besar. (Di kampung-kampung Tapanuli berita menjalar dari mulut ke mulut dengan rasa takut.) Namun bukan berarti saluran komunikasi tertutup sama sekali.

Tiba-tiba saja bermunculan media alternatif antara lain “koran” fotokopi bagaikan jamur di musim hujan. Media-media alternatif itu merupakan prakarsa dan swadaya jemaat. Isinya terutama: laporan kronologi peristiwa penggusuran atau penyerbuan yang dilakukan kelompok Tiara dengan dukungan polisi dan tentara. Bentuknya fotokopian. Seringkali fotokopi atas fotokopi sehingga sangat sulit dibaca. Namun semua berita dilalap habis sebab jemaat sangat haus akan informasi yang benar yang tidak bisa didapatkan di media cetak resmi, apalagi yang namanya TVRI. Aku masih ingat
apapun berita yang kufoto kopi habis ludes seperti kacang goreng diambil parhalado dan jemaat. Selanjutnya mereka memperbanyaknya sendiri dan menyebarkannya lagi.

Partisipasi warga

Sebelum konflik, menurutku HKBP adalah gereja parhalado. Maksudnya parhalado adalah satu-satunya yang berperan dan menentukan di HKBP. Namun di saat konflik warga maju ke depan dan kembali berperan seperti di tahun 1950-an, terutama kaum muda. Bisa dimaklumi dalam konflik fisik tentulah yang dapat maju di depan adalah anak-anak muda sebab mereka masih kuat dan punya nyali. Tapi jangan lupa, pendukung fanatik dan paling berani kelompok pro Aturan justru ibu-ibu atau ina-ina yang tinggal di desa-desa. Mereka kadang rela meninggalkan pencariannya di sawah atau onan hanya untuk mengikuti kebaktian raya Setia Sampai Akhir yang jelas-jelas bakal dihadang polisi dan tentara. Mereka bukanlah orang-orang yang berpendidikan tinggi apalagi kaya secara ekonomi, namun mereka tahu yang benar dan mau memperjuangkan apa yang dianggapnya benar itu.

Konflik HKBP menyadarkan banyak pihak tentang pentingnya warga gereja ini. Mereka bukanlah para penonton atau penggembira, tetapi anggota gereja yang punya hak dan kewajiban serta tanggungjawab. Mereka ingin berperan dan terlibat dalam proses kehidupan bergereja dan bukan hanya dimintai sumbangannya saja.

Hubungan Baru Injil & Budaya

Secara formal HKBP adalah gereja terbuka. Namun fakta menunjukkan HKBP adalah gereja suku. 90% warga HKBP berasal dari suku Batak. Karena itu krisis HKBP tak bisa tidak juga menjadi krisis suku Batak. Sebelum konflik orang HKBP lebih bangga sebagai Batak ketimbang sebagai Kristen. Mereka lebih marah disebut tidak beradat daripada dikatakan tidak beragama. Namun konflik besar 1990 an telah mengubahnya. HKBP telah menjadi ikatan yang sangat kuat melampaui ikatan berdasarkan marga atau kampung asal.

Selanjutnya konflik ini juga jelas-jelas telah mencairkan ketegangan antar marga dan luat yang sebelumnya menjadi “api dalam sekam” di HKBP. Di kubu Tiara ada DR SM Siahaan namun di kubu Pro Aturan ada Pdt STP Siahaan. Di sini DR SAE Nababan di sana ada Pdt Tionggar Nababan. Di sana DR PWT Simanjuntak di sini Praeses Washington Simanjuntak. Di Palembang ada Pdt Pantas Marpaung di Siantar ada Praeses HS Marpaung. Sebagian orang menyesali “retaknya”
kekerabatan marga-marga, tetapi sebagian lagi mensyukuri menguatnya hubungan berdasarkan iman gereja. Ya, menurutku telah terbentuk sebuah ikatan parhahamaranggion baru di HKBP, yang berdasarkan gereja, tanpa harus menghilangkan ikatan-ikatan lama. Bagiku itu jelas-jelas pemerkayaan kehidupan komunitas Kristen-Batak.

Sikap kritis kepada kekuasaan

Puluhan tahun warga HKBP, sama seperti bagian-bagian masyarakat Indonesia lain, hidup di bawah rejim otoritarian yang sangat represif kepada rakyatnya sendiri yang berbeda pendapat dengannya. Sebelum krisis HKBP kesadaran warga kepada hubungan gereja dan negara sangatlah rendah. Pemerintah dianggap mutlak benar dan tak pernah salah. Namun krisis HKBP menyadarkan banyak orang HKBP pemerintah bukan Allah dan bukan sempurna. Pemerintah adalah lembaga manusia yang bisa khilaf, salah dan bahkan suatu ketika menjadi kejam dan jahat. Itu artinya pemerintah harus diingatkan, dibatasi dan diawasi.

(Menurutku inilah kontribusi HKBP bagi masyarakat dan bangsa Indonesia demokratis. Jauh hari sebelum Reformasi 1998 warga HKBP telah mempersoalkan legitimasi pemerintahan Orde Baru. Sebelum banyak orang di Jakarta berani turun ke jalan, warga HKBP telah berani turun ke jalan menyuarakan aspirasinya. HKBP benar-benar ikut menyumbang kepada reformasi, proses demokratisasi dan pemberdayaan rakyat negeri ini. Luka-luka HKBP telah ikut
menyembuhkan bangsa dan negara ini. Itu artinya krisis HKBP tahun 1990-an bukanlah kesia-siaan.)

Gereja akar rumput

Ada berkat besar lain di saat krisis HKBP. Kantor Pusat Pearaja lumpuh total. Defakto Kantor Pearaja memang dikuasai kelompok Tiara (karena didukung polisi dan tentara). Namun aku mendapatkan suatu penglihatan luar biasa. Tiga ribu jemaat HKBP di seantero Indonesia tetap eksis: baik kelompok SSA maupun Tiara. Ini adalah realitas HKBP yang sesungguhnya. Sejak itulah aku disadarkan kekuatan HKBP sebenarnya bukan terletak di Kantor Pusat tetapi di jemaat-jemaat, di akar-akar rumput. Jika memang benar ada operator Orde Baru yang ingin menaklukkan HKBP dan melakukan penghancuran gereja suku terbesar di Indonesia ini secara sistematis (sebenarnya aku tidak terlalu suka teori konspirasi) maka dia salah hitung. Jemaat-jemaat HKBP yang tersebar itu sangat otonom dan independen, termasuk dari segi dana.

Aku bahagia sekali. Inilah rupanya yang membuat HKBP tidak akan bisa dikooptasi sampai kapan pun. Dipikir banyak orang dengan mengganti eforus masalah HKBP selesai, atau HKBP lantas dapat didikte dan dikendalikan. Ternyata tidak. Begitu kantor pusat diduduki jemaat-jemaat HKBP yang jumlahnya 3000-an ini langsung berdiri sendiri dan menjadi kekuatan otonom yang siap berjuang bersama-sama hanya berdasarkan kesamaan visi dan komitmen.

Aku mau mengatakan kepada generasi muda HKBP inilah modal terbesar kita: desentralitas HKBP. Itu sangat sesuai dengan semangat jaman moderen – kultur internet – dimana tidak satu pun berlagak pengendali utama. Semua unit adalah simpul yang penting. Jika warga HKBP berhasil mentransformasi semangat desentralitas ini dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kebudayaan juga ekonomi juga spiritual, aku yakin gereja ini dapat menyumbang besar sekali bagi kehidupan Indonesia majemuk yang moderen.


Pesan moral:
Jangan terlalu sedih dengan konflik HKBP, dan terutama jangan malu menjadi anggota HKBP. :-)

Bersambung Ke: Gereja Yang Luka & Tak Menyerah (7)

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , , , , ,

6 Responses to GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (6)

  1. Michael on March 30, 2007 at 2:39 am

    Kalo boleh sih, dipaparkan dari sudut pandang dan pengetahuan Amang juga penyebab retaknya gerejaku yang pernah luka dan tak menyerah ini, Amang… agar kita semua tau gambaran kasar kenapa bisa jadi begitu… :)
    Konspirasi kah? Murni karena karakter seseorang kah? Masalah keuangan? Ambisi seorang menteri kah?

    Saya pikir juga Amang gak usah sungkan untuk menyebut nama (setidaknya inisial kali ya) orang-orang yang berada dibalik peristiwa ini, karena keliatannya gak mungkin juga itu semua adalah “karya” dari DR. SMS dan DR. PWTS. Pasti ada permainan lainnya… :)

    Tapi kalo emang udah ada sambungan tulisan Amang mengenai kasus ini, dan menyertakan permintaan saya ini, ya mohon diabaikan saja Amang…

    Salam,
    Dari saya, seorang jemaat di gereja besar dan kaya di Jakarta yang MUNAFIK! Hehehe…

    PS: Pengklasifikasian “Munafik” itu (dalam episode ke-IV), menurut saya, sebenarnya terlalu men-generalisir, Amang.
    Memang ada yang munafik, tapi ada juga yang memang meletakkan keberpihakannya kepada salah satu kubu namun tak mau ikut-ikutan bermain kekerasan… :)
    Ah sudahlah, saya tak mau berperang kata-kata dengan Amang Harahap! Hehehe… :)

  2. tiur on March 31, 2007 at 9:57 am

    thank you for your blog…as you may know I love to read this …..
    may God always lead and shine you in everything include your lovely family.

    In Him,
    tiur

  3. tiur on March 31, 2007 at 10:01 am

    oohhh, iya….I’m away for spring break….
    wishing you a good happy easter to Pdt.Harahap and family.

  4. -Panriani- on April 5, 2007 at 11:23 pm

    enggak ko!!! aku gak malu jadi jemaat hkbp. biar aku gedeg ama ina2 “maksain ndiri” yg kl natal necis abis dr sanggul, kebayanya “marsilok-silok” dijembrengin emas.. juga aku gak suka parhalado ato anak2 parhalado kesannya “eksklusif” duduk di bangku depan rawamangun..
    karena aku batak. opungku alm. sihombing pdt dulu di pahae (di mana yak itu? deket tarutung apa?).. ach, itu kan bukan alasan kenapa aku tetep bertahan jadi huria hkbp. aku bukan huria yg berdasarkan keturunan. tp kiranya hkbp bisa membangun “roh” semua jemaatnya yach, amang, bukan cuma dr perkumpulan2 naomi na matua, ato ina2 par ari kamis, tp juga lewat naposo DAN ANAK2 SEKOLAH MINGGU!!! KAN ANAK2 MASA DEPAN BANGSA!!!

  5. Rudy Sihombing on February 20, 2008 at 10:43 am

    Kebenaran mestinya bukan hanya dari satu sudut pandang. Saya meyakini apa yang amang Daniel ceritakan.

    Tetapi gimana sih kira-kira cerita dari kubu Tiara seperti DR PWT Simanjuntaki DL Sitorus, DR SM Siahaan, Pdt Tionggar Nababan. Pdt Pantas Marpaung.
    Saya masih belum memahami cara berpikir mereka-mereka.

    Sedangkan kalau saya menilai SAE Nababan adalah seperti lokomotif atau mesin mobil baru dengan kecepatan dan kapsitas besar. Ketika mobil/sistem itu diajak berjalan cepat di era globalisasi, maka mobil tersebut menjadi rusak parah.

    Mudah mudahan amang Daniel, jika sudah saatnya dipanggil memikul beban kepemimpinan HKBP telah disiapkan olehNya.

  6. lambas siregar on March 25, 2008 at 7:56 am

    Pro Rudy Sihombing : Op SAE Nababan dengan kehandalannya sebagai tokoh gereja dunia, ingin membawa HKBP MAJU tapi sistemnya sudah terlalu kusut bahkan rusak sebagian maka kepemimpinanya banyak dirongrong dari dalam dan dari luar yang tidak mau dan tahan terhadap gerakan reformasi HKBP yang dibuatnya. Saya terbalik dengan anda mengenai mobil sebagai analog buat beliau karena berbeda dengan apa yang saya amati dengan seksama sebagai aktifis yang pernah bertemu dan mewawancarai OP SAE Nababan di rumahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*