GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (5)

Sebuah kesaksian seorang pendeta di masa konflik HKBP 1990-an

Oleh: Daniel T.A. Harahap

Kilas balik ke masa damai

Aku tak mau kau salah sangka seolah-olah kerjaku di Palembang hanyalah “berkelahi” dengan kelompok Tiara. Tidak. Aku ditempatkan di Palembang September 1991, tiga minggu sebelum gedung gereja HKBP terbesar di Indonesia ini diompoi, ditahbiskan oleh Eforus DR SAE Nababan, dan diresmikan oleh Gubernur Ramli Hasan Basri. Saat itu kami, termasuk mereka yang sekarang menjauh, margondang lima hari lima malam, berpesta besar merayakan selesainya gereja yang sangat besar dan megah (melampui besarnya HKBP Rawamangun!). Tentu saja aku saat itu lebih banyak diam manis-manis. Maklumlah aku pendeta baru. Tapi sesudah itu aku mulai bekerja di tengah-tengah pemuda. Mitraku adalah St RU Manurung, yang menjabat Ketua Dewan Naposobulung.


Kotbah teladan hidup

Seniorku Pdt Ben Parhusip adalah pendeta resor yang luar biasa. Dia pendeta yang sangat sederhana. Istrinya sederhana. Anak-anaknya bersahaja. Dia mengajar aku menjadi pendeta dengan teladan hidupnya. Terutama melalui kejujurannya mengenai uang dan kesetiaannya melakukan tugas kependetaan. Mungkin dalam hal berkotbah dia bukan orator yang hebat, namun kotbahnya sangat berisi karena dia bergumul dengan kotbahnya dan mempersiapkannya sungguh-sungguh. Terutama dia mengkotbahkan apa yang sungguh-sungguh dipercaya dan dilakukannya sendiri. Aku berhutang banyak sekali padanya. Kadang aku membayangkan dia adalah Abraham dan aku adalah Lot. Dalam kisah Alkitab Abraham selalu mempersilahkan Lot keponakannya memilih duluan dan sisanya baru untuknya. Jika ada berkat, Pdt Ben Parhusip, selalu memaksa kami mengambil duluan dan dia belakangan. Itu takkan bisa kulupakan. Bila ada undangan berkotbah di luar HKBP, apalagi di Pertamina atau di PT Pusri, entah kenapa dilimpahkannya kepadaku. (Jujur aku tak pernah lupa membagikan “berkat” yang kuterima dari sana kepadanya.) Uang-uang hamauliateon atau terima kasih dari jemaat kepada pendeta selalu dikumpulkan, nanti awal bulan dibagi-bagi kepada semua pendeta dan pelayan lainnya. Selama lima tahun aku dan Guru Huria SM Manullang ditunjuk sebagai petugas pembagi uang itu. Memang mengingat tanggungjawabnya yang lebih besar kami selalu memberikan dia lebih banyak, tapi dia selalu ingin bagi rata saja. Manalah bisa kataku.

Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan dari seniorku ini. Aku hanya mau mengatakan satu saja lagi, yang terpenting: tiap pagi sebelum jam tujuh aku pasti mendengar keluarga ini bernyanyi memuji Tuhan di meja makan. Bagaikan asap dupa yang naik ke surga yang ikut membawa doa-doaku naik ke sana.


Tim yang solid

Kami di HKBP Palembang memiliki tim yang bukan saja solid tetapi benar-benar kompak. Selain aku ada Pdt Lintong Saragih. Dia adalah pendeta tentara di Kodam Sriwijaya. Pangkatnya saat itu baru Kapten. Badannya sangat sehat dan atletis. Dia benar-benar pendeta sekaligus prajurit yang berdisiplin. Setelah appel dan melaksanakan tugasnya di Makodam dia selalu datang ke gereja HKBP Palembang dan masuk ke kantor kami dengan kemeja lengan pendek kotak-kotak dan celana hijau. Baju dinasnya digantungnya di mobil. Aku tak pernah satu kali pun melihat dia membawa pestol. Dia benar-benar seorang yang rendah hati dan ramah. Hobinya menarik: meminta sumbangan kepada para Kapolsek yang kebetulan Batak-Kristen dan bertugas di sepanjang sungai Musi untuk mau membelikan jemaat-jemaat pagaran yang miskin sebuah organ untuk dipakai mengiringi kebaktian. Kami selalu ketawa-ketawa.

Juga ada Pdt Riaulina Simanjuntak yang kelak berseberangan dengan ayahnya di Cirebon dalam masalah HKBP. Ada Diakones Delfrita Napitupulu yang kecil-kecil sangat berani. Dan ada Guru Huria SM Manullang. Setiap bulan kami arisan, berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Tak penting si empunya rumah sudah menikah atau belum, pokoknya pada gilirannya kumpul di rumahnya. Indah sekali. Keindahan persekutuan kami nampak jelas kepada jemaat. Mereka senang sekali melihat kami kompak dan padu. Aku masih ingat kata-kata Pdt Ben Parhusip: kita harus bersatu kalau tidak kita akan disaok oleh jemaat. Maksudnya: diaduk-aduk di kuali.

Pembinaan Pemuda

Sejak pertama Pdt Ben Parhusip memberikan tugas kepadaku untuk benar-benar membina pemuda. Pokoknya urus Naposobulung, tugas-tugas lain aku yang kerjakan. Itulah kata-katanya dan itu memang benar terjadi. Praktis aku tidak melakukan tugas-tugas lainnya. Hanya sesekali saja dia meminta aku mengubur orang mati. Petugas pemberkatan nikah dibuatnya bergilir.

Atas kepercayaan dan dukungan penuh Pdt Ben Parhusip lah aku mulai menggalang pembinaan pemuda HKBP di Palembang. Namun harus kusebut bukan aku yang memulainya, aku hanya tinggal meneruskan saja dan mengembangkan sedikit di sana-sini. Sebelum aku ada Pdt Nortje Lumbantoruan, Pdt Juaksa Simangunsong, Pdt Gomgom Aruan dan Pdt Mangara Siagian. Mereka adalah para perintis pelayanan pemuda di lembah sungai Musi ini.

HKBP Palembang memang unik. Gereja ini punya tradisi mengundang pendeta khusus pelayanan pemuda, yang biasa disebut Pendeta NHKBP. Setahuku di seluruh HKBP hanya ada 3(tiga) jemaat yang selalu punya pendeta pemuda, yaitu: HKBP Sudirman Medan, HKBP Kedongdong Surabaya, dan HKBP Palembang. Beberapa jemaat HKBP yang menjadi sentra pemuda dan mahasiswa seperti Bandung, Jakarta, Jogjakarta justru tidak mengenal pendeta NHKBP. Aneh.

Komisariat

Para naposo HKBP Palembang dibagi-bagi dalam enam komisariat, dengan memakai nama-nama tempat di Alkitab: Betlehem, Jerusalem, Gosen, Moria, Hermon, Nazareth. Terakhir aku menyumbang satu lagi: Efrata. Letaknya di kampus Universitas Sriwijaya Indralaya, 30 kilometer dari Palembang.

Komisariat-komisariat secara rutin mengadakan kebaktian dan PA (Pemahaman Alkitab) dua minggu sekali. Yang hadir rata-rata di tiap komisariat 20-30 orang. Bahkan di Nazareth yang terletak dekat kampus Unsri Bukit bisa mencapai 50 orang, dan di Efrata bahkan sampai 70 orang (duduk berhimpit-himpit di rumah kontrakan mahasiswa).

Setiap tahun komisariat-komisariat ini berlomba di kegiatan Pesta Kebangunan NHKBP. Saking fanatiknya membela komisariatnya tidak jarang terjadi pertengkaran atau bahkan perkelahian antar naposo di lapangan olahraga. Aku sendiri sebagai pendeta yang juga masih sangat muda menganggap itu hal biasa. Yang penting jangan berkelahi pakai alat, kataku. Toh nanti juga berdamai lagi. Namanya juga anak muda, enerjinya selalu berlebihan dan semangatnya luar biasa.

Selain mahasiswa dan penganggur, sebagian Naposobulung sudah bekerja, dan ada yang berprofesi sebagai polisi dan tentara dan mereka tentu saja ingin juga ikut berlomba. Namun berhubung mereka langsung datang dari tempat tugas dan berseragam, kadang pestolnya masih ikut di pinggang. Baju seragam berikut pestol itu harus dititip selama mereka bertanding volley. Pernah satu kali even aku menerima titipan tiga seragam dan tiga pestol di kamar tidurku. Hatiku sangat cemas menunggu pertandingan selesai dan anak-anak muda ini mengambil lagi miliknya yang berbahaya.

Latihan Kepemimpinan

Ada banyak sekali kegiatan naposo. Namun ada satu proyek kami yang paling berhasil: Latihan Kepemimpinan. Aku bersyukur di Palembang bertemu dengan sejumlah senior atau mantan naposobulung. Mereka benar-benar menjadi mitra kerjaku melayani pemuda. Aku harus menyebut nama-nama mereka: Robert Simanjuntak, Rusdi Ritonga, Simson Tampubolon, Marolop Nainggolan, Leo Hutabarat, Pola Pardede, Alm Arfaden Silaban, Shelly Tobing, Riman Sipahutar dan lain-lain. Kami adalah tim yang sangat bagus. Saban tahun, bahkan kadang dua kali setahun, kami mengadakan Latihan Kepemimpinan. Angkatan demi angkatan. (Sampai aku meninggalkan Palembang tahun 1996 kami menyelenggarakan tujuh angkatan.)

Alasan kami naposo HKBP harus punya nilai lebih di tengah-tengah masyarakat. Kami ingin membekali naposo dengan ketrampilan organisasi, komunikasi dan kepemimpinan. Juga kepribadian yang baik dan semangat persekutuan.

Sebab itu kami sungguh-sungguh melaksanakan Latihan Kepemimpinan ini dan terus memperbaiki metodenya sampai kami menemukan modul yang kami anggap paling pas dengan pemuda: partisipatif, dialogis, rekreatif, reflektif, banyak latihan ketrampilan dan minus ceramah.

(Menurutku, pemuda tidak butuh penceramah yang hebat-hebat dengan nama besar selangit, namun sangat butuh instruktur atau pelatih yang tekun dan bertangan dingin. Ya, mirip dengan pelatih basket atau paduan suara yang bukan hanya omong dua jam kemudian pergi, tetapi terus-menerus mendampingi tim sampai memperoleh kemenangan. Aku tak percaya ada paduan suara atau tim basket yang bisa menang hanya dengan mendengar ceramah. Sebab itu aku selalu menyadarkan kawan-kawanku pemuda agar jangan terpesona dengan nama-nama besar. Jangan juga pakai istilah pembicara sebab yang kita butuhkan pelatih dan pendamping setia.)

Belajar Komputer

Aku dapat hadiah PC atau komputer rakitan dari Mula, abangku. Tahun 1993 komputer masih dianggap barang mewah dan aku tidak tahu cara menghidupkannya. Sebab itu aku pun les komputer di MDP. Teman-teman sekelasku anak SMP. Instrukturnya menyapa aku Bapak. Aku tak malu. Pokoknya aku harus belajar komputer. Tapi aku hanya tiga minggu les, sebab kerjaku di gereja banyak sekali. Dalam hatiku yang penting aku tahu cara menyalakannya, nanti yang lain-lain kupelajari sendiri. Berhasil. Aku bangga sekali. Alasanku sebagai pendeta pemuda aku harus dua langkah di depan mereka. Hanya dengan begitulah aku dapat sungguh-sungguh menggerakkan dan memimpin mereka.


Teater Rena

Naposobulung memang sangat kreatif asal diberi lahan kondusif. Seorang mahasiswa kedokteran bernama Posma Siahaan (sekarang dia sudah dokter spesialis) punya hobi unik: teater. Dia membentuk Teater Rena, singkatan dari Remaja-Naposo. Salah satu anggotanya namanya Minar Siahaan. Dia kujumpai lagi kelak di HKBP Rawamangun. Aha. Main drama di gereja. Dampak teater ini luar biasa. Ibadah-ibadah khusus NHKBP Palembang khususnya Natal dan Paskah pun menjadi lain. Aku bekerjasama dengan Posma menyatukan drama dengan ibadah. Jadilah ibadah-ibadah teatrikal yang sangat hangat dan menyentuh. Naposo dan jemaat lain selalu penuh sesak menghadiri ibadah teatrikal itu. Aku bahagia sekali.

Paskah Subuh

Namun ada satu kegiatan yang sangat disukai oleh naposo tapi tak kusukai: Paskah Subuh. Naposo selalu ingin berkumpul mulai dari Sabtu sore sampai Minggu Subuh Kebangkitan Yesus. Sebenarnya ini tradisi gereja purba. Vigil easter. Tapi bagiku selalu problem. Aku paling tak kuat begadang dan selalu error kotbah minggu pagi jika kurang tidur. Lagi pula aku merasa tidak kuat harus menjaga lebih dua ratus orang anak muda begadang di kompleks gereja, bernyanyi-nyanyi dan PA. Sebagian besar mereka adalah pemuda baik, tapi tentu saja ada satu-dua naposo yang “nakal”, permisi dari rumah ke gereja malam-malam tapi nyatanya pergi entah kemana. Aku pun mencari akal. Akhirnya kuputuskan Paskah Subuh tetap jalan, tapi dipindahkan ke komisariat-komisariat, di rumah-rumah jemaat. Setiap komisariat didampingi oleh sintua dan natua-tua yang empunya rumah. Aku sendiri tenang-tenang tidur di rumahku mempersiapkan diri kotbah Minggu.

Ada tradisi di HKBP ke kuburan subuh-subuh di Minggu Paskah. Ceritanya panjang sekali. Nantilah kapan-kapan kuberi tahu. Alasan singkat untuk mengenangkan kebangkitan Yesus. Pertanyaanku selalu: mengapa mesti di kuburan? Kenapa tidak kebaktian di gereja saja. Aku sudah beberapa kali mengusulkan di Rapat Parhalado agar Kebaktian Subuh Paskah dilakukan di gereja saja. Itu lebih teologis. Kristus yang bangkit itu sekarang ada di gereja dan di masyarakat, bukan di kuburan sepi. Namun parhalado tidak setuju. Aku sebenarnya jengkel. Yang paling menolak ide pemindahan kebaktian itu ke gereja justru tidak pernah hadir dalam kebaktian paskah di kuburan. Mungkin karena dia tidak punya saudara yang dimakamkan di Palembang ini, mungkin juga ingin tidur nyenyak di rumahnya tapi tak mau mengubah tradisi ke kubur.

Suatu kali kami mengadakan kebaktian subuh di pekuburan Kenten. Dua ratus lebih naposo. Hanya segelintir orangtua. Bilangan jari. Aku berkotbah dari Injil. Yesus Tuhan yang kamu cari itu tidak ada di sini, dia ada di tengah-tengah kehidupan. Mari kita tinggalkan kuburan mencari Dia di tengah-tengah kenyataan hidup. Kami pun segera kembali ke gereja. Saat sermon aku protes keras. Holan hata, kataku. Artinya: asal bunyi. Sejak saat itulah kebaktian Paskah Subuh di Palembang tidak lagi dilakukan di kuburan Kenten, tetapi dalam gereja.

Dana seharusnya tidak masalah

Tak usah heran, sejak jaman dulu di HKBP anggaran untuk pelayanan pemuda sangat sulit keluar. Program naposo selalu dianggap menghabiskan uang gereja, termasuk di HKBP Palembang. Padahal kegiatan naposo kami banyak sekali dan beberapa diantaranya sangat butuh dana besar. Aku pun langsung turun tangan melakukan lobi mencairkan uang dari Bendahara. Janjiku pertanggungjawaban akan segera disampaikan paling lambat dua minggu sesudah kegiatan berakhir. Berhasil. Bendahara kommit mengeluarkan dana huria dan Naposo kommit membuat laporan.

(Sampai sekarang aku masih menyimpan laporan-laporan pertanggungjawaban naposo itu. Tingginya bila disusun hampir satu meter. Laporan-laporan itu dibundel rapih dan dijilid oleh naposo. Isilnya selain laporan kegiatan dan evaluasi, juga laporan keuangan termasuk kuitansi-kuitansi dan bon-bon pembelian yang semua diparaf. Hebat.)

Disamping dana huria naposo juga kerja keras mengumpulkan dana. Banyak sekali cara mengumpulkan dana. Antara lain meminta sumbangan langsung ke rumah-rumah jemaat. Itu tradisi. Namun ada sejumlah donatur tetap. Diantaranya pengusaha M Tampubolon, gelarnya Organda, yang sekaligus menjadi anggota Dewan Naposobulung. Dia penyandang dana tetap naposobulung dan sangat dekat secara pribadi denganku. (Namun setelah konflik kami berbeda jalan, putus jugalah dana dari beliau. Ya resiko.) Namun ada lagi sumber dana yang lain. Berhubung pelayanan pemuda di HKBP Palembang sudah lama sekali, telah terbentuk komunitas mantan naposobulung, mereka menjadi sumber dana NHKBP yang tak pernah kering. Senior-senior ini tak pernah jemu-jemu membantu naposobulung. Alasannya sedap sekali didengar: dulu kami juga susah sekali cari dana.

Kalau hanya meminta-minta saja tentu tak sedap. Malu juga hati ini. Ada ide lain: berjualan makanan dan minuman hari Minggu. Seorang naposo melobi perusahaan minuman agar meminjamkan cooler-nya ke gereja. Naposo bergantian menjaga stand. Laris manis. Aku bangga sekali melihat kerajinan dan kerendahan hati mereka.

Ya, mereka tak malu jualan di gereja untuk cari dana. Tapi marjin yang didapat dari menjual teh botol atau kue ringan sangat tipis sekali. Mereka ingin dapat banyak. Viktor Hutasoit kalau tak salah mengajukan ide bagaimana kalau menjual sangsang dan panggang. Tinggal ambil dari lapo di Bukit, kemas dalam bungkus-bungkus kecil, dan jual lagi dengan harga tinggi. Orang Batak sangat doyan makan sangsang dan panggang babi hari Minggu. Sukses. Tapi satu kali terjadi “kesalahan”. Minggu siang itu giliranku yang berkotbah. Kawan-kawanku naposo lupa bahwa aku selalu kotbah 15 menit (Pendeta Ressort 25 menit dan Praeses 40 menit). Kebaktian bubar namun sangsang dan panggang jualan naposo belum tiba. Mereka panik sekali. Pulang gereja mereka mengomel padaku karena panitia rugi besar. Kenapa Amang tidak memperpanjang waktu kotbah komplain mereka sambil ketawa. Syukurlah lagi-lagi ada senior naposo. Mereka urunan memborong sangsang dan panggang dagangan naposo dan lantas kami pun menikmatinya sama-sama.

Persembahan natura
Dana dari gereja sebenarnya sudah besar, tapi aktivitas naposo sangat atau kadang terlalu banyak. Dari mana lagi dana harus dicari? Aku ada ide. Natal sudah dekat. Kebaktian natal naposo selalu ramai. Bagaimana kalau kita mengumumkan persembahan natal tidak berbentuk uang, tetapi berbentuk natura persis persembahan Majus ke palungan Yesus? Semua setuju. Sosialisasi pun dilakukan gencar. Aku membujuk agar selain persembahan pribadi juga ada persembahan komisariat. Maksudku agar hasilnya banyak. :-) Natal pun tiba. Posma dan kawan-kawan kembali berdrama. Gedung lantai bawah diset menjadi padang Efrata dan gua Betlehem. Semua duduk di lantai lesehan diterangi cahaya lilin. Syahdu sekali. Selesai kotbah persembahan pun diantar. Macam-macam: kertas HVS, penjepit kertas, spidol, suling, bola basket, tip-ex, kursi lipat, gitar, dan lain-lain. Semua yang melihatnya terharu bahagia. Seluruh persembahan natura itu cukup dan bahkan lebih untuk memenuhi kebutuhan ATK Naposo dan pendeta NHKBP selama setahun.

Dan ada satu persembahan menggiurkan: sebuah komputer. Aku lupa dari mana sumbernya, apakah para senior atau salah satu komisariat. Pokoknya sejak itu Sekertariat Naposo memiliki komputer. (Catatan: itu tahun 1995 dan gereja HKBP Palembang sendiri belum memiliki komputer.)

Gereja pusat perjumpaan
Waktu aku datang ke Palembang tahun 1991 banyak sekali naposo terutama mahasiswa yang berkebaktian di gereja tetangga. Alasannya di sana lebih asyik, nyaman dan bergengsi. Aku diam saja, tapi dalam hatiku aku bertekad akan membawa anak-anak ini pulang ke rumah bapa-nya: HKBP. Caranya bagaimana?

Pertama-tama aku selalu mempersiapkan kotbahku untuk pemuda dengan lebih sungguh-sungguh. Pokoknya tiga kali lipat persiapanku kalau mau kotbah kepada orang tua. Berhasil sedikit. Para mahasiswa mulai menoleh bahwa di HKBP ada pengkotbah yang pantas untuk dilirik.

Kedua: aku menyediakan diriku menjadi ujung tombak naposo di Parhalado untuk memperjuangkan dana dan fasilitas bagi pemuda. Anak-anak ini mulai melihat bahwa ada pendeta rupanya yang mau membela mereka. Mereka memanggil kawan-kawannya semakin banyak.

Ketiga: aku menjadikan diriku kawan naposo. Memang aku kawan naposo, sebab umurku juga masih sangat muda (aku datang ke Palembang saat usia 28 tahun). Aku bermain dan bertengkar dan belajar bersama-sama. Hasilnya sebagian besar naposo pulang ke HKBP! Aku tahu naposo tidak suka diceramahi panjang-panjang, karena itu aku kotbah singkat-singkat saja, akibatnya mereka senang.

Keempat dan seterusnya: kami menjadikan gereja sebagai pusat perjumpaan pemuda. Pokoknya naposo kalau tidak punya kerjaan, lagi suntuk, atau pingin cari kawan pasti datang ke kompleks gereja HKBP Palembang. Titik pusat atau simpul perjumpaan pemuda. Ya, gereja telah jadi tempat yang sangat menyenangkan. Jadilah gereja ramai dari Senin sampai Minggu. Naposo begitu betah lama-lama di gereja. Lantas muncullah masalah baru: aku kesulitan menyuruh naposo pulang dari gereja! :-)

Bersambung Ke: Gereja Yang Luka & Tak Menyerah (6)

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

9 comments for “ GEREJA YANG LUKA & TAK MENYERAH (5) ”

  1. March 29, 2007 at 11:46 pm

    Seandainya setiap satu huria HKBP punya satu orang seperti amang, niscaya gereja kita jauh lebih baik. Seminggu kemarin aku dengar dari seorang sahabat, Persekuatuan kampus trisakti sudah dijurang perpisahan antara pro mengikuti Reformed Injili (Trisakti Grogol)atau Perkantas (Trisakti Rawasari+1 jurusan teknik-sy lupa) Yang sangat mengkhawatirkan adalah beberapa pencetus ide untuk pindah haluan ke GRII dahulunya adalah anak-anak muda HKBP yang telah pindah bergereja ke GRII setelah kuliah, bahkan salah satunya boru Simanjuntak. (Saya tulis berdasarkan penuturan seorang teman alumni trisakti yg juga NHKBP Taman Mini)
    Saya pikir ada sesuatu yang salah dalam HKBP.

  2. April 3, 2007 at 2:47 am

    >>Lantas muncullah masalah baru: aku kesulitan menyuruh naposo pulang dari gereja! :-)hahaha….Kalo yg ini aku demen. berlama2 di gereja bahkan gerja 2x di hari Minggu.

    >>Teater (pernah bergabung dgnnya meski sebentar aja padahal sebenarnya pengen ikut trus cuma karana sering diledekin akting yg kaku jdnya kuar. Paling suka liat FIRMAN TUHAN dibawakan dalam teater. Sifatnya 2 arah n membawa untuk benar2 memperhatiakna, berpikir, merenung n sekali lagi gak bikin jemaat boring apalagi sampe tertidur :))

    >>Pdt Ben Parhusip (apa beliau masi melayani di HKBP Palembang? seandainya aku bisa ikut duduk semeja dgn keluarga itu?

    >> Paskah di Kuburan? waktu SD aku pernah ikut kakakku yg kebetulan ikut Naposo ke keburun pagi2 buta jam 4. Trus di Kuburan acaranya nyanyi plus makan lampet. Entah apa maksudnya acara itu? setelah aku dewasa aku justru ingin melakukannya 1x lagi sebagai TERAPI. Kebetulan selama aku di Malang aku ditinggal pergi Ompung Doli n Sepupuku Ateng. Aku belum pernah ke kuburannya. Mungkin ritual Vigil Easter bisa menyembuhkan hati Uli yg luka sekaligus rindu ditinggal 2 orang yg sangat dicintainya. Ya, sama seperti Maria yg menunjukkan CINTA-nya kpd YESUS dgn mengunjungi kuburannya di hari ke-3 di pagi2 buta (meskipun di Alkitab tdk dituliskan apa tujuan Maria ke kuburan Yesus. Mungkin Vigil Easter awalnya punya tujuan khusus & suci Amang tapi setelah sampai di tanah Batak berubah haluan hahaha….LOL

    >> KEPEMIMPINAN. Gereja, Kampus, Perusahaan, Persekutuan lagi heboh2nya bikin acara training2 Kepemimpinan. Kebetulan Amang Kamis n Jumat kemaren aku ikut training “PEMIMPIN YG MELAYANI” yg diadakan GKI Klasis Madiun. Buatku acara ini banyak sekali membuka “jendela baru” ttg arti “pemimpin yg melayani”. bukan “pemimpin” seperti yg kupikirkan. Isi dari materi ini mungkin bisa menjawab sharing Amang di blogs “Gereja Yg Luka & Tak Pernah Meyerah (4)”.

    >>Sepertinya NHKBP PAlembang bener2 seru. Dulu pilihan UMPTNku kedua di Unsri. Eh…ternyata TUHAN berkata lain..taon 2000 Amang masi di Palembang?

    >> Sekarang aku tau kenapa TUHAN meloloskan pilihanku I di Malang bukan Palembang. “karena aku gak pernah suka ama Pendeta yg khotbahnya pendek buanget apalagi kalo cuma 15 menit…pasti aku selalu berpikir Pendeta itu malas baca buku”. hahahaha….CANDA Amang

  3. April 8, 2007 at 10:44 pm

    hwuahh!! saya jadi bernostalgia deh dgn masa2 di NHKBP Palembang. mau nulis di kolom “comment” ini ntar terlalu panjang deh 😀 Tapi yg pasti, aktivitas NHKBP Palembang (ketika itu)..SERU..SERU..dan SERU !!
    mudah2an aja tradisi positif seperti PORSENI (tahunan) tetap hidup sampai saat ini.
    GBU Amanguda & keluarga!
    ==obeth==

  4. Yan Ht.Soit
    January 2, 2008 at 12:39 pm

    Pdt Ben parhusip… seandainya di gereja kami ada pdt spt beliau,,,
    juga spt amang pdt Daniel yg selalu memberi inspirasi dari tulisan2 amang, terutama untuk saya pribadi, banyak hal yg telah saya dapatkan dari tulisan2 amang.

  5. March 30, 2008 at 6:16 pm

    Seandainya semua Pdt. mempunyai semangat dan ketulusan seperti anda tentu HKBP akan semakin maju.
    saya sangat terinspirasi dengan pengalaman-pengalaman anda.
    Sangat beruntung hari ini saya bisa membaca Tulisan anda ini :)

    Tuhan memberkati anda…

  6. Saor Silitonga
    May 6, 2008 at 9:41 am

    Bangkitkanlah ya TUHAN, warga HKBP yang senantiasa ingat Golgota, warga HKBP yang tidak lupa ‘apostel’ Nomensen, warga HKBP yang tidak alpha berbuat baik dan jadi berkat bagi bangsa kami….
    Horas Amang, semoga semakin kuat mengemban tugas teramat mulia ini.

  7. August 4, 2008 at 1:15 am

    Desember 2007 natalan NHKBP sebenarnya jadi moment yang baik untuk menggerakkan lagi teater Rena, Amang. Drama NHKBP lumayan bagus, tapi sepertinya mereka pengen teater insidental saja, kalau butuh baru dibuat, tidak menjadi suatu kelompok khusus. Ya, karena program itu harus arus bawah, kita menerima sajalah, gak sanggup lagi kalau harus ngotot hidupkan teater kalau yang naposonya sendiri gak hobby. Jaman sekarang lebih suka break dance atau ngerap, mungkin bisa dibuat pelayanan cara itu kali, ya? Makasih Amang, ada nama saya di tulisan Amang benar-benar kehormatan besar

    Daniel Harahap:
    Dokter spesialis penyakit dalam masih punya waktu mengurus drama dan teater? :-)

  8. PB Siahaan
    November 26, 2008 at 11:10 pm

    Oh,ya amang, sebagian naskah teater Rena dulu ada di:
    http://naskahgerejawiku.multiply.com/

  9. H. Sinaga
    November 21, 2009 at 2:25 pm

    Horas amang, saya anggota nhkbp komisariat nazareth Palembang thn 86-92, saya sangat senang baca tulisan-tulusan amang, kapan berkotbah di gereja kami hkbp Rogate?, sekedar koreksi nama pendeta NHKBP Paelmbang sebelumnya adalah Pdt. Jumontang Aruan, bukan Gomgom arus. Terimakasih.

    Daniel Harahap:
    Horas juga lae. Terima kasih atas koreksinya. Saya sekarang di Serpong. Ditunggu undangannya. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *