Almanak Rabu 7 Mei 2014: Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. (2 Korintus 11:3) Rasul Paulus mengibaratkan jemaat Korintus seorang gadis yang baru…
Share on FacebookAda Atau Tiada Tanda: Percayalah Kepada Tuhan
Almanak Selasa 6 Mei 2014: “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” (Yesaya 7:11) Ada kalanya kita menghadapi suatu pilihan sulit atau bahkan…
Share on FacebookKenali Sang Pencipta Melalui KaryaNya
Almanak Senin 6 Maret 2014: Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. (Roma 1:20) Semua kita menyukai pemandangan alam yang…
Share on FacebookTuhan Ingin Semua Sejahtera dan Cerdas
Almanak Jumat 2 Mei 2014: Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. (1 Timotius 2:4) Hari ini 2 Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Bagaimana kita seyogianya merayakannya? Pertama-tama tentu mensyukuri pendidikan yang kita dan anak-anak kita…
Share on FacebookTuhan Sayang Kepada Buruh. Juga Pengusaha.
Almanak Kamis 1 Mei 2014: Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. (Mazmur 111:4) Hari ini 1 Mei adalah Hari Buruh. Seperti biasa kaum buruh akan merayakan Hari Buruh dengan demonstrasi damai menuntut hak-haknya dan sekaligus menggalang…
Share on FacebookMeminta Tuhan Mengintervensi Pemilihan Presiden
Almanak Rabu 30 April 2014: Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. (Yeremia 3:15) Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tinggal dua bulan lagi. Partai-partai sedang sibuk negosiasi untuk berkoalisi memajukan…
Share on FacebookTuhan Mendengar Jeritan Pekerja: Pelajaran dari Kitab Keluaran 3
Dalam Kitab Keluaran pasal 3, kita menemukan salah satu momen paling dramatis dalam sejarah keselamatan. Di padang gurun Sinai, Musa sedang menggembalakan ternak mertuanya ketika ia berjumpa dengan semak duri yang menyala tetapi tidak terbakar. Sebelum memperkenalkan diri, Allah justru lebih dulu menyatakan, "Aku telah melihat kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar jeritan mereka" (Keluaran 3:7). Urutan ini sangat penting: Allah melihat lebih dulu, baru kemudian memperkenalkan diri-Nya.
Refleksi atas Keluaran 3 bukan sekadar kajian tentang masa lalu. Di zaman modern, kita melihat jutaan pekerja yang menjerit dalam berbagai bentuk: buruh pabrik dengan upah yang tidak layak, guru honorer yang mengajar dengan penghasilan minim, pengemudi ojek daring yang kelelahan demi target aplikasi, hingga petani yang lahannya dirampas korporasi. Mereka adalah saudara-saudara kita yang masih menantikan pembebasan.
Tulisan ini ingin menelusuri narasi Keluaran 3 sebagai cermin untuk melihat realitas pekerja di zaman kita. Kita akan menyelami konteks perbudakan di Mesir, merenungkan teologi tentang Allah yang mendengar, mengidentifikasi martabat pekerja dalam Alkitab, hingga merenungkan panggilan pembebasan sebagai tanggung jawab komunitas iman hari ini.
Konteks Perbudakan dan Penderitaan Pekerja di Mesir
Untuk memahami Keluaran 3 dengan benar, kita perlu melihat konteks yang lebih luas. Berabad-abad setelah keturunan Yakub menetap di Mesir dengan baik, muncul seorang raja baru yang tidak mengenal Yusuf. Keturunan Israel pun diperbudak dan dijadikan pekerja paksa untuk membangun kota-kota perbekalan seperti Pitom dan Raamses. Pengerahan keras ini mengubah identitas mereka dari saudara-saudara yang merdeka menjadi budak yang melayani mesin produksi kerajaan.
Penduduk Israel tidak hanya bekerja keras, tetapi juga diawasi dengan kejam. Mandor-mandor Mesir menambah beban mereka dengan berbagai cara. Teks Ibrani menggunakan kata "tsa'aqah" untuk menggambarkan jeritan mereka, sebuah kata yang menunjukkan keluhan mendalam dari penderitaan yang sudah tidak tertahankan. Kata yang sama juga muncul dalam konteks lain, menekankan bahwa jeritan pekerja yang tertindas memiliki bobot moral dan spiritual yang berat.
Allah tidak menutup telinga terhadap jeritan ini. Keluaran 2:23-24 mencatat bahwa keluh kesah mereka naik kepada Allah, dan Allah mendengar. Kata "naik" bukan berarti Allah berada di tempat yang jauh dan perlu dijangkau, melainkan menekankan intensitas dan keputusasaan jeritan tersebut. Allah yang Mahatinggi tidak menganggap rendah tangisan orang kecil.
Jeritan yang Naik ke Hadapan Allah
Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah: apakah Allah benar-benar mendengar setiap jeritan? Teologi Alkitab memberikan jawaban yang jelas. Mazmur 34:18 menyatakan, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." Kedekatan ini bukan sekadar kedekatan fisik, melainkan kedekatan dalam bentuk solidaritas dan komitmen. Allah tidak berdiri jauh di menara gading, melainkan turun, terlibat, dan bertindak.
Perhatikan bahwa dalam Keluaran 3:7, Allah menggunakan empat kata kerja berurutan: melihat, melihat, mendengar, dan mengetahui. Pengulangan kata "melihat" menekankan bahwa Allah tidak buta terhadap ketidakadilan. Banyak orang mungkin berpikir bahwa Allah sedang sibuk dengan urusan-urusan besar di sorga dan melupakan penderitaan manusia kecil di bumi. Teks ini dengan tegas membantah anggapan tersebut.
Komunitas Kristen perlu mengembangkan sensitivitas yang sama. Ketika kita berpapasan dengan pengemis di perempatan jalan, membaca berita PHK massal, atau mendengar curhat teman yang bekerja di lingkungan yang tidak sehat, kita dipanggil untuk melihat dan mendengar. Doa adalah langkah pertama, tetapi seharusnya tidak berhenti di situ.
Identitas Pekerja dalam Narasi Alkitabiah
Alkitab memberikan martabat yang sangat tinggi kepada pekerja. Sejak awal penciptaan, Allah sendiri bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Yesus, yang sering dikenal sebagai Guru dan Penyembuh, juga dikenal sebagai "tukang kayu" (Markus 6:3). Bahkan Allah memilih Musa, yang sedang menggembalakan domba, untuk memimpin pembebasan umat-Nya. Tidak ada pekerjaan yang dipandang rendah dalam ekonomi Kerajaan Allah.
Menarik bahwa Allah memanggil Musa bukan ketika ia berada di istana Firaun, melainkan ketika ia sedang menggembalakan domba. Pemimpin besar Israel ini menghabiskan 40 tahun di padang gurun sebagai gembala sebelum dipanggil menjadi pembebas. Ini mengajarkan bahwa pekerjaan sederhana bukan berarti tidak penting. Allah dapat berbicara di mana saja, termasuk di tempat kerja yang paling biasa.
Dalam konteks kekinian, hal ini menjadi pengingat bahwa martabat seorang pekerja tidak ditentukan oleh jabatan atau penghasilan. Namun sayangnya, banyak pekerja yang juga tergoda oleh janji-janji palsu. Industri yang menawarkan mesin pokie berlisensi dengan iming-iming kekayaan instan sering kali menyasar kelompok pekerja yang sedang dalam tekanan. Janji pembebasan instan ini sebenarnya merupakan bentuk perbudakan baru yang memperparah penderitaan. Komunitas iman perlu melihat para pekerja sebagai mitra yang perlu dilindungi dari eksploitasi.
Sistem Dunia Modern dan Jeritan yang Tidak Kunjung Reda
Meskipun perbudakan secara formal telah dihapuskan, jeritan pekerja masih terus terdengar dalam bentuk yang berbeda. Eksploitasi terjadi di berbagai industri, dari pekerja pabrik garmen di Asia Tenggara dengan upah murah, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri yang mengalami kekerasan dan penipuan. Sistem ekonomi yang tidak adil sering kali menjadikan pekerja sebagai roda penggerak yang bisa diganti kapan saja.
Industri yang lebih halus namun sama berbahayanya adalah yang mengeksploitasi keputusasaan ekonomi orang-orang kecil. Sistem yang mengiklankan permainan kartu digital dengan janji kemenangan besar sering kali menyasar mereka yang sedang dalam tekanan finansial. Fenomena ini adalah wajah baru dari sistem Firaun yang mengambil keuntungan dari keputusasaan orang lain, menjanjikan kekayaan instan namun justru memperparah penderitaan.
Komunitas gereja perlu membangun ruang di mana para pekerja dapat berbagi cerita dan menemukan perlindungan. Solidaritas bukan sekadar slogan, melainkan komitmen nyata untuk hadir di tengah penderitaan.
Pendidikan dan Pembebasan sebagai Panggilan Komunitas Iman
Salah satu bentuk pembebasan yang sering terabaikan adalah pendidikan. Penguasa-penguasa di zaman dahulu memahami bahwa untuk mempertahankan kontrol, mereka harus membatasi akses pengetahuan bagi kelompok yang dikuasai. Dalam konteks Indonesia, pendidikan yang membebaskan menjadi semakin penting di tengah komersialisasi pendidikan yang membuat banyak keluarga pekerja tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka dengan layak.
Pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai Kerajaan Allah menekankan pada pembentukan karakter, bukan sekadar transfer informasi. Lembaga pendidikan yang berintegritas dapat menjadi ruang di mana generasi muda belajar melihat sesamanya sebagai ciptaan Allah yang bermartabat. Di kelas, mereka belajar matematika dan bahasa, sekaligus mempraktikkan bagaimana menjadi tetangga yang baik, pekerja yang jujur, dan warga negara yang bertanggung jawab.
Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dan mengajarkan mereka hukum Allah yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Pendidikan adalah kelanjutan dari misi pembebasan. Ketika seorang anak dari keluarga pekerja dapat mengenyam pendidikan yang bermutu, kita sedang menuliskan kisah Keluaran 3 dalam versi yang lebih baru.
Langkah Nyata untuk Komunitas Iman
Untuk menghayati pesan Keluaran 3 secara konkret, komunitas iman dapat mempertimbangkan beberapa langkah praktis berikut:
- Mengunjungi dan mendengarkan cerita para pekerja di lingkungan sekitar, baik di pasar, pabrik, maupun komunitas marginal.
- Mendukung koperasi dan usaha bersama yang memberdayakan pekerja dengan sistem yang adil dan transparan.
- Mengadvokasi regulasi ketenagakerjaan yang lebih manusiawi melalui jalur yang tersedia secara individu maupun kolektif.
- Menjadi mentor atau pengajar sukarela bagi anak-anak pekerja yang kesulitan mengakses pendidikan berkualitas.
- Mendoakan para pekerja secara khusus dalam ibadah mingguan, menyebut profesi mereka sebagai panggilan yang bermartabat.
Marilah kita menjadi komunitas yang peka terhadap firman Tuhan dan tanggap terhadap jeritan saudara-saudara kita. Seperti Musa yang dipanggil untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Allah, kita juga diutus untuk menjadi tanda pembebasan di tengah dunia yang masih penuh dengan ketimpangan. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan untuk sesama pekerja adalah bagian dari narasi besar Keluaran 3 yang masih terus berlanjut hingga hari ini.