Sebuah kesaksian seorang pendeta tentang konflik HKBP 1990-an dan Reformasi
Oleh: Daniel T.A. Harahap
Refleksi Ulang Gerakan Mahasiswa
Soeharto sudah jatuh yang lantas digantikan Habibie. Namun mahasiswa masih terus saja demonstrasi. Menurut aku pribadi seharusnya tidak lagi, sebab tugas mereka sebagai penjaga moral bangsa sudah selesai (sementara) dan itu artinya mereka harus kembali ke kampus belajar lagi. Jika mereka terus-terusan demo aku sangat kuatir mereka akan ditunggangi kelompok-kelompok yang ingin berkuasa. Tapi kawan-kawan mahasiswa rupanya berpikir lain.
Kesanku mula-mula mahasiswa tidak ingin memberi kuitansi kosong kepada pemerintahan baru yang bisa diisi sesukanya, namun lama-lama aku berpikir jangan-jangan, semoga aku salah, mereka sudah tergoda ingin ikut-ikutan bermain kekuasaan. Jika kecurigaanku benar, semoga saja tidak, ini adalah suatu pertanda buruk yang menjadi awal kegagalan reformasi. Namun yang jelas, demo-demo mahasiswa yang tak kunjung usai dibalas aparat dengan kekerasan berlipat. Mahasiswa pun korban lagi. Terjadilah peristiwa Semanggi sampai dua kali. Aku hanya mengikuti kejadian itu lewat televisi swasta dengan gundah.
Mengurus negara dan menjalankan roda pemerintahan menurutku bukan tugas mahasiswa. Itu urusan politikus dan partai-partai. Tugas mahasiswa hanya mendesak agar agenda reformasi dijalankan, tidak perduli siapa yang berada di puncak kekuasaan. Selain itu mahasiswa juga harus sadar diri mereka masih sangat muda dan harus belajar banyak lagi sebelum terjun ke dalam pertandingan politik sehat mengambil kekuasaan. Mahasiswa juga harus rendah hati dan jangan sampai mengklaim merekalah satu-satunya atau yang paling berjasa menumbangkan rejim Orde Baru, sebab sebelum mereka bergerak ada daftar panjang aktivis pro demokrasi yang berjuang tak kenal lelah tanpa jadi berita media massa dan dianggap pahlawan.
Sebagai gerakan moral menurutku ada 3(tiga) yang tetap harus dijaga oleh mahasiswa: pertama idealisme. Bahwa mahasiswa berpikir luhur atau ideal, jujur, dan tidak memiliki kepentingan pribadi atau kelompok. Kedua: menjaga jarak dengan kekuasaan. Mahasiswa harus tetap bersikap menjaga jarak dengan kekuasaan dan partai-partai politik yang ingin merebut kesempatan berkuasa. Ketiga: melakukan otokritik. Mahasiswa harus berani rendah hati dan berani melakukan kritik ke dalam dirinya sendiri.
Mobiltas gerakan mahasiswa Setiap jaman memiliki anak-anaknya sendiri. Mahasiswa yang baru masuk kuliah tahun 1999 tentu tidak bisa diharapkan sama dengan mahasiswa yang mengalami demo menentang Soeharto sebelum 1998. Sebab itu jangan terpaku dengan romantika masa lalu. Tugas mahasiswa adalah menyongsong masa depan. Mahasiswa angkatan 1998 (jika boleh disebut demikian) telah melakukan tugasnya memaksa Soeharto mundur dan membuka jalan kepada pemerintahan reformasi. Mahasiswa sesudah 1998 mempunyai panggilan yang berbeda lagi dan tidak harus menggantungkan diri kepada senior-seniornya yang sudah tamat dan sebagian sudah menikmati nikmatnya berkuasa.
Mahasiswa jaman sekarang harus merumuskan sendiri tugasnya. Tapi aku ingin memberi satu masukan. Menurutku salah satu tantangan sekarang dan di masa depan adalah mengerasnya politik etnis dan keagamaan. Mahasiswa mungkin suatu ketika harus kembali berdiri di garda depan membantu bangsa ini keluar dari kesempitan pola dan cara berpikirnya.
AGENDA REFORMASI
Aku merenung dan bertanya pada diriku sendiri: apa sebenarnya yang dituntut mahasiswa Angkatan 1998 dan sebelumnya para aktivis LSM pro demokrasi? Secara singkat aku menjawab sendiri: Soeharto turun. Lebih konkret: Soeharto diadili.
Tapi aku bertanya lagi: Soeharto sudah turun dan diadili (walaupun kayaknya pengadilan
ecek-ecek) lantas kita mau apa? Sebagai seorang teolog yang sudah tidak remaja lagi, aku membiarkan diriku tenggelam dalam permenungan panjang tentang reformasi.
Aku sangat setuju dan mendukung demo-demo menurunkan rejim Soeharto. Malah menurutku seharusnya sudah dari dulu-dulu. Tapi menurunkan seorang penguasa lalim, walaupun signifikan, hanya satu langkah dalam suatu perjuangan panjang. Langkah berikutnya apa? Jika agenda-agenda (baca: hal-hal yang harus dikerjakan) ke depan tidak jelas, bisa-bisa negara ini akan kacau-balau, apalagi jika Soeharto bikin politik bumi hangus ala Batak: ndang di au ndang di ho, tagonan di begu. Tidak untukmu tidak untukku, lebih baik dimakan hantu. Atau ala Jawa: mati satu mati semua. Lupa aku bahasa Jawanya.
Apa sesungguhnya agenda reformasi? Jika kita perhatikan seksama spanduk, poster, dan orasi mahasiswa, serta diskusi-diskusi ada banyak sekali. Bahkan terlalu banyak yang harus dikerjakan di era reformasi ini. Bisa-bisa saking banyaknya agenda itu orang tidak tahu lagi prioritas, dan lebih celaka lagi jika tidak tahu bahwa agenda yang satu bertentangan dengan agenda lainnya.
Namun menurutku sendiri ada 4 (empat) agenda utama reformasi, yaitu: (1) pemberantasan korupsi. (2) demokrasi (3) gerakan pendidikan (4) pluralisme Indonesia. Itu cukup untuk mengubah Indonesia.
Agenda pertama: pemberantasan korupsi
Adagium Lord Acton yang termashur itu mengatakan “power tend to be corrupt”, kekuasaan cenderung membusuk. Maksudnya siapapun manusia tanpa kecuali, termasuk mahasiswa, ibu rumah tangga, pendeta, penginjil atau pemimpin persekutuan kampus, yang berkuasa akan cenderung menyalahgunakan kekuasaan itu. Pemahaman itu berakar dalam Alkitab yang mengatakan bahwa semua manusia berdosa. Jangan anggap remeh. Dosa artinya bukan sekedar melakukan yang jahat, tetapi memiliki potensi, bakat dan kecenderungan melakukan yang jahat. Potensi, bakat dan kecenderungan melakukan yang jahat itu dibawa manusia sejak lahir, melekat terus dalam dirinya sampai mati, dan tidak bisa sepenuhnya dihilangkannya. (Karena itulah Alkitab mengatakan manusia tidak dapat meraih surga dengan prestasi kesalehannya sendiri.)
Mulai dari diri sendiri
Apa konsekuensi pemahaman ini bagi agenda pemberantasan korupsi? Pemberantasan korupsi artinya perlawanan terhadap diri sendiri. Yaitu: perjuangan melawan potensi, bakat dan kecenderungan korupsi yang ada dalam diri sendiri. Sebab itu menurutku gerakan pemberantasan korupsi harus dimulai dari pribadi dan bergerak ke lingkungan terdekat. Namun masalahnya banyak orang apalagi Kristen yang sudah “hidup baru” tidak percaya bahwa dirinya dan orang-orang terdekatnya juga berpotensi, berbakat, dan punya kecenderungan menyelewengkan uang!
Organisasi pemuda dan mahasiswa harus belajar memberantas potensi, kecenderungan dan bakat korupsi dari dirinya sendiri. Inilah kritikku yang paling besar kepada gerakan mahasiswa. Aku tak mengatakan mahasiswa dan pemuda sebagai orang-orang jahat, tetapi pengalamanku sebagai pendeta pemuda dan mahasiswa, membuat aku berkesimpulan pemuda (termasuk mahasiswa di dalamnya) seringkali tidak kritis kepada dirinya sendiri, apalagi kepada kawan-kawannya sejenis (kelamin, hobi, ideologi, klub, persekutuan, dll). Pertanyaanku: bagaimana mungkin kita mengkritik pengelolaan keuangan negara sementara keuangan organisasi kita sendiri tidak rapih, tidak transparan dan tidak akuntabel? Aku sering melihat mahasiswa mengenakan jaket almamater berdiri di pintu jalan tol dengan kotak sumbangan terbuka untuk reformasi atau bencana alam. Kukatakan kepada adik-adikuku, di gereja kami persembahan setiap minggu dicatat, ditandatangani, diumumkan ke publik, dan diverifikasi, tetapi tetap saja ada kebocoran. Bagaimana pula dengan sumbangan yang tidak tercatat dan tidak dilaporkan? Aku tak percaya mahasiswa lebih kudus dari pada kami HKBP yang suka dicela karena sering bertengkar soal uang ini. Ingat baik-baik: adagium Lord Acton juga berlaku kepada pemuda dan mahasiswa. Power tend to be corrupt! Seorang mahasiswa demonstran mengatakan jujur padaku: “sumbangan yang kuterima langsung kubelikan jins baru”. Aku hanya ketawa merasa pendapatku memang benar adanya.
Mulai dari yang paling mudah Di sebuah radio swasta dan di pertemuan raya pemuda gereja (PRPG) di Kinasih, aku mengatakan pemberantasan korupsi harus mulai dari hal-hal konkret dan mudah. Mengapa? Karena sulit sekali memberantas korupsi. Sebab itulah Mohamad Hatta sudah mengatakan tahun 1950-an korupsi telah jadi budaya. Apa yang dimaksud cara yang mudah?
Jika kaubelanja di supermarket dan dikasi permen sebagai kembalian belanja, tolaklah terang-terangan, dengan suara keras agar terdengar orang lain, dan panggillah manajernya untuk mengajarkan kepadanya bahwa yang dilakukannya salah. Jika kau diturunkan oleh kenek metromini Batak satu kilometer sebelum terminal sebab dia buru-buru ingin balik arah, jangan mau dan kalau dia tetap ngotot mintalah ongkosmu kembali. Jika kau memarkir mobil di gedung dan tidak dikasih tanda terimanya, mintalah kepada petugasnya. Jika kau membayar uang PLN atau PAM dan pembayaranmu dibulatkan, mintalah uang receh hakmu. Atau jika pembayaranmu langsung ditambahkan dengan sumbangan tanpa meminta persetujuanmu, tolaklah. Sebelum aku lupa, jika kau membayar gaji pembantumu, suruhlah dia menandatangani kuitansi. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Percayalah, bila kau sudah terlatih melawan korupsi kecil maka kau akan berani melawan korupsi besar. Rajin beribadah rajin korupsi?
Kembali ke soal HKBP, menurutku gereja ini juga dipanggil Tuhan agar ikut dalam pemberantasan korupsi ini. Menurut survey lembaga internasional, Indonesia yang suka mengaku religius ini ternyata juara korupsi se dunia. Apa konsekuensi logis pernyataan itu? Orang-orang beragama ternyata suka korupsi. Atau kalau dibalik, para koruptor itu ternyata orang-orang yang taat beragama. Doa dan korupsi artinya berlangsung simultan. Berdoa sambil tipu-tipu?
Jujur, aku melihat gereja-gereja termasuk HKBP ambigu atau gamang dalam soal pemberantasan korupsi ini. Di satu pihak mungkin gereja menyadari uang sangat perlu untuk membiayai pelayanan, namun di lain pihak gereja tahu juga bahwa Tuhan tidak suka jemaatNya korupsi (istilah halus dari mencuri). Lantas bagaimana? Gereja pura-pura tidak tahu saja. Atau anggap dan nyatakan saja korupsi itu soal pribadi dan tergantung kepada pribadi masing-masing. Gereja aman. Atau ada cara lain, belokkan saja perhatian dan fokus jemaat dari masalah-masalah dunia (baca: pemberantasan korupsi) ke perkara-perkara surga (doa semalam suntuk dan nyanyi sampe pagi). Ini sangat gampang dilakukan, karena orang Kristen mewarisi pemahaman yang memisahkan secara absolut hal-hal rohani dari jasmani, surgawi dan duniawi. Jika tidak diberi tahu maka orang Kristen tidak akan pernah tahu memberantas korupsi sama mulianya dengan pergi menginjili.
Teologi sukses dan materialisme Batak
Namun ada soal lebih mendasar, yaitu teologi (refleksi sistematis terhadap iman) tentang uang. Aku tidak tahu dari mana asal-usulnya, tetapi telah berkembang Teologi Sukses, yang mengajarkan kesuksesan terutama dalam hal kepemilikan
materi sebagai bukti kuat berkat Allah. Artinya: jika seorang kaya secara materi itu adalah bukti dia adalah orang yang diberkati Allah. Sebaliknya: jika seseorang miskin bagaimanapun baiknya dia, kemiskinan itu menunjukkan dia masih kurang atau tidak diberkati Allah. Ya ampun!
Pertanyaan pekerjaan rumah: jika seseorang menjadi kaya-raya dengan cara mencuri atau menipu orang lain atau negara, mengambil yang bukan haknya, atau memperkaya dirinya dengan cara merusak kehidupan alam, apakah orang itu masih dapat disebut orang yang diberkati Allah? Ayo tidak usah malu-malu, jawablah! (jangan-jangan kau tetap mengatakan YA.)
Bagi HKBP sendiri agenda pemberantasan korupsi ini benar-benar sulit. Mengapa? Sebab 99% warga HKBP adalah orang Batak yang nyata-nyata mewarisi kultur Batak yang justru sangat mementingkan kepemilikan materi. Itu nampak melalui salah satu filsafat hidup Batak: menjadi kaya (mamora). Yang buat semakin repot materialisme tradisional Batak ini berjumpa dengan paham materialisme dan hedonisme Barat yang disebar-luaskan melalui media cetak dan elektronik. Makin kental dan keras sajalah keinginan kaya itu dalam diri si Batak.
Sudah disinggung di atas, secara umum orang Batak ingin kaya. Ya silahkan. Itu sah dan baik-baik saja. Namun sebagian orang ingin kaya mendadak, seketika, dan tanpa prosedur susah-payah. Tunggu dulu! Bagaimana mungkin? Kecuali karena kau dapat warisan, bagaimana jalannya kau bisa kaya mendadak secara mudah tanpa harus melakukan yang jahat?
Empat cara efektif memberantas korupsi
Mari kita lihat kembali ke soal pemberantasan korupsi di negara ini. Menurutku, kalau kausetuju, ada empat cara yang paling efektif memberantas korupsi. Mari bersama-sama memperjuangkannya tak kenal lelah. (Catat baik-baik siapa tokoh yang tidak setuju dan selidiki kenapa dia tidak setuju).
Pertama:
perjuangkanlah azas pembuktian terbalik dalam kasus korupsi
.
Jika seseorang dituduh korupsi, maka dia sendirilah yang harus membuktikan bahwa kekayaannya diperolehnya secara sah (misalnya karena dia dapat warisan atau lotere atau karena usaha lain.)
Kedua:
doronglah agar negara ini menghidupkan kembali Komite Pemeriksa Kekayaan Pejabat Penyelenggara Negara. Desaklah agar semua pejabat publik (termasuk anggota DPR) wajib melaporkan kekayaannya di awal masa jabatan, setiap tahun, dan di akhir masa jabatannya. Mari kita lihat apa yang terjadi!
Ketiga:
doronglah agar negara ini dapat segera memberlakukan Sistem Identitas Tunggal bagi warga negara RI. Setiap warga negara hanya punya satu nomor identitas (Paspor, KTP, Jaminan Sosial dll). Nomor itulah yang dipakai untuk membuka rekening bank. Aku yakin akan banyak sekali orang yang panik kebingungan menyembunyikan harta
jarahannya.
Keempat:
mulailah memeriksa para guru dan kepala sekolah serta rektor. Aku yakin sesudahnya, para pendidik ini akan berdiri di garda terdepan pemberantasan korupsi. Itu akan efektif sekali.
Pesan moral: aku ingin menitipkan empat pernyataan di atas kepada generasi muda HKBP agar didoakan saban Jumat di persekutuan-persekutuan kampus dimana kalian aktif. Mau kan? Aku percaya jika persekutuan kalian cukup beriman kepada Kristus tak ada alasan untuk tak setuju denganku tentang empat strategi di atas.
Akuntabilitas dan transparansi keuangan
Pemberantasan korupsi tidak bisa dilakukan secara emosional, hanya dengan marah-marah atau memaki-maki orang lain. Kita perlu kerja kerasa yang sangat sistematis. Pemberantasan korupsi mensyaratkan mekanisme akuntabilitas dan transparansi dalam keuangan. Itu berlaku di tingkat negara namun juga di masyarakat luas. Keuangan negara itu sangat rumit. Aku mengaku tidak paham menjelaskannya, namun aku tetap berpendapat bagaimanapun rumitnya keuangan negara tetap harus dikelola secara akuntabel dan transparan. Sebab itu mari kita langsung ke gereja saja, atau ke persekutuan doa kampus/ kantor.
Gereja adalah persekutuan orang-orang beriman, yang dipanggil dan diutus Tuhan, dan dijanjikan masuk surga berdasarkan penebusan Kristus, namun gereja tak bisa tidak juga bersentuhan atau berurusan dengan uang. Aku tahu ini topik yang kurang disukai oleh banyak orang Kristen karena dianggap tabu (baca: suka dilakukan diam-diam, namun tak boleh dibicarakan terang-terangan) dan bisa mengurangi kekudusan gereja. Ada-ada saja.
Menurutku kita harus serius membicarakan bagaimana mengelola keuangan gereja yang kita katakana milik Tuhan itu. Di sini ada dua kata kunci: akuntabilitas dan transparansi. Ilmu Keuangan telah mengajarkan kita tentang prinsip-prinsip keuangan yang baik. Antara lain: memisahkan fungsi-fungsi agar memudahkan pengawasan dan mencegah penyimpangan. Ingat sekali lagi: kita adalah orang berdosa, yang juga punya potensi, bakat dan kecenderungan jahat juga di bidang keuangan. (Jangan pernah berpikir bahwa pendeta atau bendahara gereja atau persekutuan kampusmu itu adalah mahluk suci, lugu, dan tak tahu menyenangkan diri dengan cara tidak sah.)
Itulah sebabnya Ilmu Keuangan (yang menurutku berakar dalam Alkitab) sejak dulu mengajarkan kita bahwa bendahara tidak boleh merangkap pemegang buku keuangan. Ada yang memegang uang, namun ada yang mencatat dan membukukannya. Bahkan si bendahara yang baik hati namun berdosa itu juga tidak diijinkan memegang uang dalam jumlah besar. Uang milik Tuhan itu harus disimpan di bank. Namun, bank penyimpanan uang tidak boleh sembarangan, tetapi ditentukan berdasarkan keputusan rapat atau aturan. Itu pun belum cukup, uang tidak boleh disimpan atas nama pribadi si bendahara atau pendeta, namun nama organisasi. Namun celah masih harus ditutup lagi. bendahara tidak boleh mengambil uang itu sendirian, harus dengan sepengetahuan ketua majelis. Semua transaksi harus tertulis, dibuat rangkap, kalau perlu tiga sampai empat, agar makin banyak mata dan hati yang ikut menjaganya. Selanjutnya pengelolaan semua uang itu sendiri harus dilaporkan secara terbuka sehingga jemaat tahu keadaan dan perkembangannya. Laporan keuangan gereja itu beserta bukti-bukti yang sah diperiksa oleh tim audit. Rumit? Tidak juga. Namun begitulah caranya gereja (yang mengaku masih berdosa ini) menjaga harta Tuhannya. Aku ingin mengusik: bagaimana uang Tuhan dijaga di gerejamu atau di persekutuan doa kampusmu? Coba selidiki seksama.
Pesan moral:
semua orang yang merasa dirinya bukan Tuhan wajib bikin laporan keuangan secara berkala, tertulis, dilengkapi tanda-tanda bukti yang sah dari pihak ketiga.
(bersambung)
Home: http://rumametmet.com
Share on Facebook
Aduuuh….
Pucciiiiing bacanya…
Berat bgt.
Amang cerita ttg KNW lagi dong…. Aku fans nya Kika nih….
Aku baru ingat lagi, aku pernah liat Amang waktu aku & teman2 kampus lg ‘menjenguk’ Gedung MPR/DPR. Dalam hatiku waktu itu: “Lho, koq ada Amang Harahap? ikut demo juga rupanya dia…” hehe…
tapi aku ga negor, pikirku, paling Amang ini lupa sama aku… 😀
Ingin menambah sedikit tentang kekuasaan (POWER). Menurut Lord Acton (jujur saya belum pernah baca) “Power tend to be corrupt” namun menurut pendapat Paul Tillich (Buku: Cinta, Kekuasan, dan Keadailan) secara ontologis Kekuasaan pada dasarnya bersifat baik. Hanya saja Kekuasaan (POWER)secara hakiki selalu berhubungan dengan Cinta dan Keadilan dan bukan semata-mataa Daya Paksa (FORCE). Kekuasaan tanpa daya paksa adalah hampa, Kekuasaan hanya berisi Daya Paksa (Force) bersifat destruktif. Jika saya tidak salah tangkap pernyataan Tillich (karena bukunya sulit dicerna:)) dapat dicontohkan bahwa Tuhan Maha Kuasa, namun kekuasaan Tuhan tidaklah bersifat destruktif karena selain itu Tuhan juga Maha Kasih dan Maha Adil dan ketiganya dijalnkan dalam satu perbuatan(pemabahasan Kasih dan Adil inipun sangat rumit dicerna :))—Ah dasar Tillich, terlalu rumit kalo ngomong sesuatu bang (aku juga takut salah tangkap)—
Kesimpulan: Gereja HKBP dan Penguasa cenderung melakukan sesuatu hanya dengan Daya Paksa (Force) yang tidak diikuti oleh Keadailan (retributif, disributif, proporsional serta kreatif (unsur kreatif adalah cinta)) sehingga cendeung terjadi “Abuse of Power” dalam melaksanakan pekerjaannya.
saya setuju adakan pembaharuan terutama didalam hal korupsi. karena hal ini sudah menyerap lama didalam society/community kita.
himbauan sederhana mulailah dari diri kita sendiri. (contohnya gak usah ditulis disini nanti kepanjangan…ya).
kalau sudah ke goverment system diperlukan outstanding leadership people that fear of God.
hhhmm.. melewati hari minggu cerah dgn melahap blog2 ini serasa menikmati khotbah minggu dgn secangkir coffee latte hangat di pojok gerai kopi yg nyaman.. menghanyutkan, mendebarkan dan cerdas, seraya tak pernah lupa mengajak berdialektika..
masih setia menanti “cerita” ttg rekonsiliasi HKBP..
Horas amang,
Saya juga warga HKBP Uskup Agung Sugiopranoto Medan yang merupakan “pemekaran” dari gereja jalan Sudirman Medan pada saat konflik dulu.
Saya sangat tertarik dengan tulisan amang yang ini. Karena disini saya mulai melihat perpecahan HKBP bukan merupakan fenomena yang tidak terstruktur, tapi merupakan buah dari sistem yang komponen-komponennya sangat buruk yang ada di dalam lingkungan/negara yang sama bobroknya.
Tapi sayang tulisan ini masih tidak berbentuk dokumen utuh.
Saya mohon ijin untuk mengarsipkan serial ini sebagai bahan bacaan saya.
Terima kasih dan Tuhan berkati.
Horas,
Fred Situmeang
Horas Amang
Saya sudah baca beberap artikel tulisan Amang , tapi belum semua komentar saya : baik dan bagus sebagai bahan informasi yang benar , khususnya bagi jemaat HKBP. Harapan kita bersama . . . . . . rekeningnya sudah benar Amang ?. I will inform to another that you have it, thank u
Pola
Tulisan bagus Amang, cuma saya ingin menyatakan bahwa bukan orang batak saja yang ingin menjadi kaya, keinginan seperti itu milik semua orang. Saya tidak mengerti apa yang dimaksud dengan filsafat. Namun, menurut saya kalaupun saya harus salah sebut, filsafat nya orang batak adalah “Dalihan Na Tolu” alias Somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru. Jadi keinginan “mamora” adalah atau salah satu dari berbagai ragam keinginan dan sangat tergantung dari orangnya secara umum. (Nahum Stumorang, jelas menyatakan itu dalam lagunya Alusi Au, dia menginginkan tidak lebih hanya holong ni roha dari pacarnya).
Banyak juga memang keinginan “mamora” itu dinyatakan dalam umpasa batak. Namun semuanya selalu ditutup dengan Parhorason Panggabean nasian Tuhanta parholong roha I. Amang sudah lebih pintar mengartikan Parhorason Panggabean i.
PROGRAM BERANTAS KORUPSI :
SATU : Pembuktian Terbalik
DUA : Komite Pemeriksa Kekayaan Pejabat Penyelenggara Negara.
TIGA : Sistem Identitas Tunggal
EMPAT : mulailah memeriksa para guru dan kepala sekolah serta rektor.
Saya mau tambahkan 2 lagi :
LIMA : OTONOMI DAN KEMANDIRIAN EKONOMI DESA
Target korupsi ada dua, pertama mencuri dana APBN/APBN. Kedua menyangkut suap dalam proses pembuatan policy dan kebijakan yang menguntungkan seseorang /kelompok tertentu, bahkan merugikan kepentingan publik/rakyat. Lalu pembuat kebijakan (pejabat birokrat plus politisi) dapat ‘upah’ dari yang diuntungkan. Yang kedua sulit memberantasnya,…semuanya berlansung seolah2 tidak ada aturan hukum yang dilanggar.
Contoh gamblang soal ini adalah kebijakan tentang pengaturan kontent acara2 Televisi. Sebagian besar cara televisi kita sangat tidak mendidik bahkan pembodohan….. Di Amerika saja sebagai negara yang paling liberal di dunia, peraturan tentang TV mencapai lebih 1000 lembar !!
Kalau kita cukup dengan puluhan lembar…beginilah akibatnya…stasiun2 televisi ‘patuh’ kok pada aturan…toh tidak ada yang di langgar. Saya yakin ini terjadi karena kekuatan ‘lobby uang’ dari industri televisi kita, jadinya kebijakan pro kepentingan dan perlindungan rakyat tak bisa lahir-lahir. Misalnya acara untuk anak-anak tidak boleh dibawakan oleh anak-anak.
Nah kalau yang pertama lebih mudah. Inti strateginya, kurangi saja sumber uang (APBN/D) yang bisa dicuri oleh para birokrat dan politisi korup kita. Sebagian Dana APBN/APBD itu diserahkan lansung ke komunitas warga desa untuk dikelola oleh mereka sendiri secara SWA-KELOLA.
Seperti dana pembangunan dan pemeliharaan jalan desa/kecamatan, pembangunan dan biaya operasional sekolah dan puskesmas, program pertanian/ perternakan rakyat dan usaha kecil menengah..dan sebagainya. Juga modal talangan untuk koperasi-koperasi…..
Dampaknya akan ganda, mengurangi jumlah sumber uang untuk dikorupsi dan sekaligus pemberdayaan rakyat dalam ekonomi.
KEENAM : PERIKSA PAJAK PENGHASILAN (PPh) PRIBADI
para birokrat dan politisi
Perangkat hukum perpajakannya sebenarnya sudah lengkap. Masalahnya aparat Pajak justru melihat dan memanfaatkan ini sebagai sumber KKN-nya. Setiap orang terutama yang kaya harus diperiksa pembayaran pajak penghasilan pribadinya (PPh).
Menurut peraturan tidak mungkin orang kaya dalam 10 tahun kekayaannya mencapai 10 millyard, tapi bayar PPh-nya selama 10 tahun cuma 1 milyard, harusnya minimal kira-kira 5 milyard !!. Orang ini jadi prioritas diduga ber-KKN, atau menjalankan usaha2 illegal….bandar judi, narkotika, perdagangan perempuan, dsb
Cuma memang ini semakin mudah bila didukung Sistem Indentitas Tunggal. Agar tidak ada lagi orang punya KTP 49 buah….untuk menyembunyikan kekayaannya.
HKBP gereja yang sangat besar dari segi jumlah jemaat. Otomatis butuh keorganisasian yang besar pula. HKBP juga gereja yang berangkat dari komunitas budaya dan suku.
Gereja khatolik Roma Vatikan jauh lebih besar lagi, bahkan menjadi organisasi paling besar didunia, baik dibanding organisasi2 sosial (non-profit) maupun Coca-cala ataupun Microsoft.
Saya menduga faktor ke-organisasi-an menjadi faktor penyebab penting HKBP mengalami kondisi ini. Keuangan hanya akibat dari hal ini. HKBP adalah aliran Protestan, beda jauh dengan dengan aliran katholik tentunya. Organisasi katholik memang mengandalkan struktur komando yang kuat, protestan tidaklah demikian. Di Protestan memang ada gerakan oikemene, tapi bukan untuk memperkokoh sifat komando.
Ada dua contoh bisa kita ambil tentang kelemahan HKBP. Pertama jabatan Sintua sampai batas umur 65 tahun. Kedua Posisi anak muda (Naposo Bulung = belum menikah) yang marjinal. Akibat kedua hal ini, HKBP sebenarnya telah ‘melanggar’ falsafah dasarnya sendiri sebagai aliran Protestan yang harusnya dinamis dan egaliter serta partisipasi jemaat yang besar…
Saya tidak mengerti apa alasannya jabatan Sintua tidak dipilih untuk periode tertentu saja. Selain tidak sehat, juga membatasi kesempatan (partisipasi) jemaat yang lain. Di Katholik saja hanya Paus menjabat sampai ajal menjemputnya…tapi alasan dan tradisi dibalik itu sangat kuat dan mendasar. Paus hanya ditempatkan sebagai simbol kehadiran fisik Tuhan Yesus didunia dan mengurus hal-hal yang bersifat sangat strategis (seruan kenabian). Operasional organisasi sehari berjalan tanpa campur tangan beliau.
Memang budaya dan adat batak sampai saat ini tidak/belum memberi ‘posisi’ yang layak bagi anak muda (yang belum kawin). Bahkan jaman dulu, kalau anak-muda meninggal, kuburkan saja dengan cepat-cepat…secara adat tidak ada artinya !!.
Budaya ini saya kira terbawa ke-dalam budaya HKPB….Naposo Bulung tidak dianggap atau mendapat perlakukan marjinal. Naposo Bulung sekedar sebagai pelengkap atau direspon secara reaktif saat mereka marah-marah ataupun pindah ke-gereja lain. Posisi mereka sekedar bantu-bantu dan menyemarakkan kegiatan gereja.
Saya kira pandangan gereja seperti ini harus diubah, tidak lagi ‘under-estimate’ terhadap kemampuan Naposo Bulung. Mereka hanya butuh ‘ruang’ yang lebih besar dan memperoleh tingkat kepercayaan yang lebih tinggi untuk bertumbuh. Mereka hanya butuh Pendeta yang khusus melayani anak-muda. Mereka hanya butuh dibuka akses untuk mengadakan pengumpulan dana sendiri. Dan kebebasan untuk menyusun dan melaksanakan program/kegiatan mereka sendiri. Kebutuhan mereka berbeda dengan kita yang sudah bekeluarga….
Jadi kongkritnya usulan saya, pertama jabatan Sintua harus bersifat periodik. Kedua kemandirian organisasi Naposo Bulung (NHKBP) harus dibangun.
Koq topiknya jadi korupsi. Tapi OK lah. Korupsi yang dibahas penulis dan komentator hanya menganggap pelakunya adalah aparat negara. Anda-anda tidak melihat korupsi yang dilakukan swasta dan malah oleh gereja. Coba kita inventarisasi dulu dimana saja korupsi terjadi. Jai usulan 4 poin atau jadi 6 poin diatas hampir tidak berguna
Apa kabar amang ? apa kabar kawan-kawan dari Palembang?
sangat menarik membaca blog ini, walaupun belum semua. Ternyata banyak sekali yang saya tidak tahu kejadian sebenarnya yang kita alami di palembang. Maklum pada saat-saat kritis tersebut kami sudah pindah ke prabumulih. Saya akan sering baca blog ini. Mudah-mudahan kita semua bisa menarik pelajaran yang sangat berharga dari konflik HKBP ini. Untuk membuktikan niat baik kita sudah berdamai, saya aktif di koor ama yang jelas-jelas pendukung tiara. Indah sekali rasanya bisa bergabung dengan kawan-kawan di Duri dan mereka juga sangat respek dengan kita dan latar belakang kita di permasalahan HKBP. Perbedaan ini yang membuat kita saling menghargai.
Amang dimana sekarang aktif melayani?
korupsi di gereja?, saya teringat dulu ketika Naposo di HKBP —- ( dihapus ), setiap tahun anggaran naposo saja puluhan juta maka dibuatlah berbagai program yang sebenarnya tidak relevan membangun kemajuan rohani seperti kompetisi basket, kunjungan gereja ke berbagai tempat “jalan-jalan” bahkan tour ke Bali dan Yogyakarta (sorry saya tidak ikut loo),retreat dan main kartu dan bilyard, dan lain-lain yang sengaja dimanfaatkan sang ketua untuk dapat uang tak halal. Dan beberapa naposo sebenarnya hanya menikmati enaknya ikut-ikut saja. Terbukti beberapa mereka sebenarnya malas beribadah,malas ikut PA, tiap hari nongkrong di gereja, ngakk tau tujuan hidupnya.bahkan sang ketua hidupnya tidak beres. Bayangkan gereja menjadi tempat menyalurkan hasrat -hasrat duniawi yang dibungkus kegiatan gereja. Inilah cerita tentang Yudas yang selalu jaga jarak dengan Tuhan Yesus walaupun dia muridnya, Yudas selalu mencari kesempatan kuntungan duniawi,bahkan Yudas jarang ngomong dan sama sekali tidak pernah menyapa sebutan Tuhan buat Yesus. Gereja seharusnya lebih ketat untuk menjaga orang-orang dan kegiatan programnya. fokuslah keprogram pengajaran dan kebangunan rohani, maaf saya memberi masukan.
daniel t.a. harahap:
fokus saya selalu ada dua: tugas panggilan gereja (pelayanan, kesaksian, persekutuan, dan pendidikan) dan organisasi yang mendukung pelaksanaan tugas panggilan itu. di dalamnya termasuk: sistem keuangan yang transparan, akuntabel dan akurat.
memberi masukan tidak perlu meminta maaf.
Selamat pagi, komentar ini sebenarnya tidak sengaja saya baca, lagi searching mengenai korupsi. Begini dari pada lama termenung, bingung kondisi reformasi sekarang, kami berencana ingin membuat kegiatan pendidikan pencegahan korupsi untuk pemuda dan mahasiswa, saya rasa ini juga salah satu upaya kita memberikan pemahaman mengenai korupsi.
Saya minta saran dari pak pendeta mengenai ini?
Terima Kasih
menjaga jarak dengan kekuasan – ini salah satu alasan terbentuknya famred
satu lagi tuntutan utama mahasiswa setelah soeharto lengser: adili soeharto demi keadilan rakyat.
Ya..ya…korupsi sudah berurat dan berakar, tidak hanya di lembaga pemerintahan juga swasta dan gereja.
Mungkin gereja juga perlu bersikap tentang dana/sumbangan untuk pembangunan gereja…tidak asal terima saja.
Di beberapa lembaga swadaya masyarakat mensyaratkan bahwa Kriteria Donatur sebagai berikut :
• Sumber yang halal (tidak dari judi, korupsi, prostitusi, atau sumber2 yang sejenis).
• Tidak mengatur, prinsip kesetaraan.
• Tidak dari produsen rokok dan miras.
Tidak ada ikatan/syarat yang bernuansa SARA dan Politik
Mungkin bisa diterapkan di gereja.
Horas amang !! Tulisan-tulisan amang cukup bagus, tapi itu kan tulisan yang dirasakan langsung dan ditulis versi sendiri (buah pikiran sendiri). Mungkin… jika teman-teman dulu (teman-teman melayani di NHKBP Palembang periode 1991 – 1998 cth: Ribanto Hutagalung, Jerry Simanungkalit, Herbin Sitorus, Lina Silalahi, Christine Tambunan, Togi Siburian, Kardinal Manik, Moses Pasaribu, Pittor Hutajulu, dll), kembali lagi berkumpul bersama mengumpulkan data, fakta dan buah pikirannya untuk melengkapi tulisan amang ini, bukan tidak mungkin tulisan amang akan lebih bagus lagi, tajam dan terpercaya. Salut.. buat amang. Pro demokrasi, bebas berpendapat dan menentukan pilihan. Terimakasih atas balasan email yang pernah saya kirim. Mari kita bangun kembali HKBP yang tercinta. Salam dari Kalimantan Tengah, kab. Lamandau, PT. Sumber Mahardika Graha (Triputra Agro Persada Group). Thanks.
Daniel Harahap:
Horas Herwin! Apa kabar? Gereja yang Luka ini memang bukan buku sejarah, tetapi hanya sebuah catatan pribadi, apa yang pernah saya alami, rasakan dan pikirkan. Itu pun tak lengkap (sebab ada banyak sekali bagian yang terlupakan). Di awal tulisan saya juga telah mengatakan: anggaplah tulisan ini hanya separuh kebenaran. Separuhnya lagi silahkan dicari dan ditemukan dari pihak-pihak lainnya, terutama yang pada masa lalu berbeda pendapat dan sikap dengan saya.
Jika kawan-kawan eks naposo HKBP Palembang atau “para budak yapon” mau menuliskan catatan, kesan dan pesannya di jaman TI sekarang tidak harus kumpul), tidak hanya “masa-masa sukar hkbp” tetapi “masa-masa indah dan damai” di HKBP Palembang tahun 1990-an tentu kehidupan kita akan sangat diperkaya. Bagaimana kalau Erwin memulainya?
Catatan: nama-nama itu masih saya bisa tambah daftarnya: Robert Simanjuntak, St. Jauhari Simanjuntak, Rahtama Simanjuntak, Enjos Simanjuntak, Juliani Pangaribuan, Metta Tampubolon, Antoni Panjaitan, Teddy Batubara & Lena Sihotang, Ivan Lumbantoruan, Julius dan Gerhard Manurung, Simson Tampubolon, Marolop Nainggolan, Helen Simanjuntak & Helen Simanjuntak, Adil Simanjuntak, Linda Lubis dan Bedman Nababan dll dll (sebentar lagi partangiangan wijk di rumah saya, nanti saya tambah lagi……) dll dll
ada lagi amang: Jimer Hutagalung, Sensus Lumbantobing, Musa dan Jansen Silalahi, Henry Aritonang, Petrus Tambunan, Erwin Manurung, Loyse Luciana Lumbantobing (Ice Tobing), Shelly dan Nata Tobing dll dll dll. Selamat berpartangiangan amang. Khotbah masih tetap 15 menit kan ??
Hi Amang,
Salam hangat dari jauh. Saya kagum dengan tulisan-tulisan, buku, rumametmet dan semua karya besar Amang.
Malam ini secara tidak sengaja saya teringat kembali dengan Amang dan Herwin Butar-butar. Saya telusuri lewat google, dan akhirnya jatuh ke halaman ini. Saya bersyukur bisa menemukan sahabat lama, Amang dan Herwin yang baru menyelesaikan suatu diskusi kecil tentang NHKBP Palembang dua hari lalu.
Saya berharap Amang bisa memberi saya alamat email Herwin, atau mudah-mudahan Herwin saat ini masih terjaga dan sedang berada di dalam ruang rumametmet.
nhkbp palembang ini, kebanyakan orang batak ya !!
Jawabannya : Ya iiya laaah
Saya sangat salut dengan komentar Lae Lambas ini menyoroti topik korupsi. Yang Lae sebut lae tidak ikut, bisa saja itu saya dan bisa juga teman-teman lain yang jelas bukan Lambas Siregar.
Mudah2an lah Lae kita dapat berbuat lebih baik ke depannya. Tapi kalau sy lihat Lae memposting komentar ini pada hari Rabu 05 Mar 08 jam 08.15 am. Mudah2an saat itu Lae sedang cuti. Karena itu kan jam kerja.
MET SIANG AMANG!! SAYA BARU BUKA LAGI PINTU RUMA METMET INI, DI DALAM SAYA KETEMU NAMA GERHARD MANURUNG, TAPI SAYA TIDAK TAHU DIA BERADA DI RUANGAN MANA. APAKAH SAYA BISA DIBANTU UNTUK MENDAPATKAN ALAMAT RUANGANNYA AMANG ?? BIASO KANCE LAMO KITO, BUDAK YAPON.
KRITIK DAN SARAN KEPADA HKBP
1. HKBP ADALAH GEREJA, bukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Oleh sebab itu yang dibutuhkan oleh jemaat HKBP adalah pelayan yang takut akan Tuhan, bukan hanya pelayan yang memiliki gelar Prof. DR, MTh.
2. HKBP ADALAH GEREJA, bukan partai politik. Oleh sebab itu HKBP harus memiliki sis tem pemilihan pimpinan tersendiri, baik di tingkat pusat, distrik maupun resort, yang berbeda dengan sistem pemilihan yang ada di dunia ini.
3. HKBP ADALAH GEREJA, bukan lembaga pelestarian budaya Batak. Tujuan dari dipeliranya adat batak oleh para missionaris dari Jerman adalah agar supaya orang Batak bisa menerima 100% Firman Tuhan yang mereka bawa. Itu adalah salah satu strategi penginjilan untuk memenangkan Kristus di hati para suku primitif. Sebab jika missi mereka dimaksudkan untuk memusnahkan adat Batak, otomatis missi mereka akan menemui kegagalan 100%. Sekarang di usianya yang hampir mendekati 150 tahun, HKBP harus mampu merumuskan adat Batak yang baru dan benar-benar Kristen.
4. HKBP ADALAH GEREJA, bukan panggung kehormatan orang-orang Batak. Belakangan ini banyak orang Batak yang ingin mencari nama melalui pelayanan yang mereka berikan kepada gereja HKBP. Hal ini didasari oleh ajaran ompunta sijolojolo tubu yang mengatakan “hagabeon (balita), hamoraon (harta) dan HASANGAPON (tahta)”. Padahal Alkitab dengan tegas mengatakan, “Janganlah kamu gila hormat….” (Galatia 6). Itulah dampak negatif dari adanya dualisme tuan dalam gereja HKBP, yakni Tuhan Debata dan ompunta sijolojolo tubu. Sehingga sangat sulit sekali orang Batak meninggalkan warisan dari ompunta sijolojolo tubu berupa parbadaan. Walaupun sudah Kristen dan berdomisili di Amerika, sai tong marbada halak Batak i.
Agus KP Panggabean,
Itulah dampak negatif dari adanya dualisme tuan dalam gereja HKBP, yakni Tuhan Debata dan ompunta sijolojolo tubu. Sehingga sangat sulit sekali orang Batak meninggalkan warisan dari ompunta sijolojolo tubu berupa parbadaan. Walaupun sudah Kristen dan berdomisili di Amerika, sai tong marbada halak Batak i.
JP Manalu,
Bisakah lae Panggabean memberikan penjelasan tambahan mengenai pernyataan dualisme tuan dalam gereja HKBP dan Tuhan Debata dan ompunta sijolo-jolo tubu?.
Supaya diskusi ini bisa berlanjut dengan baik saya ingin bertanya dulu kepada lae Agus KP Panggabean, yakni :
1. Apakah lae sidi (marguru malua) di HKBP dan mengikuti sebagian besar materi ajar yang disampaikan pengajar dengan baik?
2. Apakah lae terdaftar bergereja di HKBP dan mengikuti secara rutin ibadah di HKBP serta mengikuti khotbah dan lagu-lagu pujian (dan menghayatinya dengan baik) yang dikumandangkan?
Jika jawabannya adalah tidak, hemat saya, belajar lagi-lah dulu lae dengan baik tentang HKBP baru kita berdiskusi panjang lebar. Jika lae berkenan saya bersedia berdiskusi dengan lae di forum ini (jika diperkenankan tuan rumah) atau melalui japri via email : JP_Manalu@rumametmet.com .
Horas.
Syaloom Amang !
Kami saat ini sedang dalam proses “terpilih” menjadi pelayan di gereja HKBP, alias learning sintua. Setelah membaca artikel amang dan melihat mekanisme penyetoran guguan ke “pusat” yang begitu flexible alias seperti tak ada standard baku (akuntabilitasnya diragukan),Kami mau menanya 2 Hal.
1. Apakah HKBP itu punya system untuk memaksa gereja-gereja
naungannya untuk berlaku jujur dalam menyampaikan guguan ke
“pusat”
2. System pemeriksaan keuangan di gereja HKBP tempat kami menja-
di ruas/parhalado, memakai istilah “Verifikasi”. Dimana yang
dipakai adalah azas pencocokan (mis. biaya belanja/pengelua-
ran cukup dibuktikan dengan kwitansi)tanpa memperhatikan azas
kepatutan atau kepantasan dan kewajaran.Dapatkah system peme-
riksaan keuangan ini digantikan dengan system audit. (kami
bukan ahli akuntansi) tapi dapat merasakan sinyal sinyal ke
tidak transparan-an dalam proses pengelolaan uang huria.
Terimakasih atas perkenaan amang menjelaskannya. Tuhan memberkati.
Syaloom.