Sebuah kesaksian seorang pendeta tentang konflik HKBP
Oleh: Daniel T.A. Harahap
Sinode HKBP rusuh
28 November 1992 malam. Sinode Godang HKBP rusuh dibawah pengawalan ketat polisi dan tentara. Aneh namun nyata. Sekelompok pendeta terus-menerus menginterupsi persidangan, berteriak-teriak tidak karuan, mengacung-acungkan tangan, serta menuding-nuding Eforus HKBP Ompu i Pdt DR Soritua Nababan. Pendeta-pendeta tua terpaku diam di tempat duduknya seakan tak percaya akan apa yang sedang disaksikannya. Para penatua, anggota jemaat berhati awam,
menggigil dan gemetar. Sidang orang-orang kudus telah berubah menjadi kegaduhan dan kebencian. Para pendeta yang saban hari Minggu membuka kedua tangannya menyampaikan berkat kini berdiri mengepalkan tinjunya kepada Eforus, pemimpin gereja yang diaku dilantik dengan urapan Tuhan, jabatan yang sudah lebih seratus tahun dihormati sebagai pelindung spiritual dua juta umat Kristen-Batak di Indonesia dan dunia.
Beberapa orang pendeta muda nekad maju meringsek meja pimpinan. Seorang diantaranya mengangkat kursi sidang hendak melemparkan kursi itu bersama amarahnya yang tak terbendung. Polisi dan tentara berseragam yang mengelilingi ruangan sidang berdiri melipat tangan di dada. Sidang gereja itu benar-benar tidak terkendali. Kacau. Buntu. Sesuai rencana? Kapten Paris Ginting, perwira intel Kodim Tarutung, akhirnya menyuruh Eforus meninggalkan sinode, namun yang bersangkutan menyempatkan diri menskorsnya untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya, sebelum mengikuti perintah tentara meninggalkan kompleks Sipoholon. Lantas Komandan Korem Kawal Samudera Kolonel Daniel Toding pun mengambil-alih kepemimpinan sidang sinode HKBP, ditemani Sekjen Pdt OPT Simorangkir dan mengumumkan kepemimpinan gereja HKBP vakum.
Pjs Eforus bentukan pemerintah
Dua hari sebelum Natal, persisnya pada tanggal 23 Desember 1992, Ketua Bakorstanasda Sumatera bagian Utara yang
sekaligus merupakan Pangdam Bukit Barisan Mayjend Pramono mengeluarkan Surat Keputusan mengangkat Pdt DR Sountilon Siahaan sebagai Pjs Eforus HKBP. Seminggu berikutnya, 30 Desember 1992, Mayjen Pramono melantik anggota Parhalado Pusat itu sebagai Pjs Eforus HKBP. Tugas pemimpin gereja bentukan lembaga tentara itu adalah mengadakan Sinode Istimewa. Dalihnya demi keamanan dan ketertiban, serta mengisi kekosongan. Gereja HKBP pun serta-merta terbelah dua. Sebagian jemaat menganggap SK Bakorstanasda itu bukan saja diperlukan untuk mengganti pemimpin gereja yang dianggap “lalim” tetapi juga merupakan suatu perintah yang tak terbantahkan. Sebab pada jaman itu kekuasaan pemerintah dianggap sama atau mirip dengan kekuasaan Tuhan. Namun sebagian lagi justru menuding SK Ketua Bakorstanasda itu sebagai bentuk campur tangan negara ke dalam kehidupan agama. Ya, suatu arogansi kekuasaan negara yang dipertontonkan secara telanjang di depan rakyatnya. Di antara dua pendapat itu ada mayoritas jemaat yang diam membisu, menolak dalam hati namun tak berani menyatakan pendapatnya secara terbuka apalagi membelanya, atau sebaliknya tidak perduli dengan HKBP, atau malah tak tahu-menahu karena peristiwa itu berlangsung sangat jauh di kampung Tarutung. Namun yang jelas HKBP yang merupakan gereja protestan terbesar di Asia Tenggara ini telah robek, suka atau tak suka, sengaja atau tak sengaja siapa.
Malam ini sunyi sekali
Medio Januari. Jam 1 dinihari sudah lewat. Berdua dengan Pdt Ben Parhusip, aku duduk di teras gereja HKBP Palembang. Satpam gereja kami sudah lama terlelap di posnya. Anjing-anjing milik Pdt Parhusip tidur-tiduran di tengah halaman gereja yang luas dan diterangi lampu merkuri. Aku merasa sunyi sekali. Kami sama-sama membisu.
”Abang pergi ke Sinode Istimewa?” tanyaku memecah sunyi.
Pdt Ben Parhusip lama tak menjawab. Aku pun kembali diam.
“Marsak hian rohangku” katanya lirih.
Aku menarik nafas panjang. Perasaanku juga sama gundahnya.
“Aku punya keluarga” katanya tiba-tiba hampir tak terdengar.
Aku menggigit bibir. Perasaanku pedih sekali mendengarnya. Aku merasakan ungkapan itu keluar dari hatinya yang paling dalam. Dia punya istri dan empat orang anak, yang paling kecil masih SD, yang harus diselamatkannya.
Tiba-tiba di kepalaku terbayang lagi pertemuan tadi siang. Aku diajak oleh Pdt Ben Parhusip dan Praeses Amir Hasan Silitonga memenuhi undangan Komandan Polisi Militer Kodam Sriwijaya Koonel Purba. Di Markasnya yang ada patung Gajah Mada di depannya, beliau menanyakan apakah kami para pendeta HKBP Palembang pergi ke Sinode Istimewa. Tiket sudah disiapkan katanya. Pdt Ben Parhusip menjawab santun Sinode Istimewa itu tidak sesuai dengan konstitusi HKBP. Sebab menurut konstitusi HKBP Eforus Soritua Nababan yang berhak mengundang Sinode Istimewa.
Komandan Pomdam lantas mengatakan berarti kami berbeda ide dengannya. Beliau mempersilahkan kami minum teh manis hangat yang telah disajikan, dan sesudahnya kami tak bicara banyak lagi. Basa-basi. Kemudian pamit. Di jalan aku mengatakan kepada kedua seniorku, “Bang, perasaanku kita sedang berhadapan dengan mesin perang Orde Baru. Tidak ada urusan Polisi Militer dengan Sinode Godang HKBP. Tapi kalau seorang Komandan Polisi Militer di Palembang sudah menyuruh kita pergi ke sinode, itu artinya ada perintah dari Jakarta.” Ah ngeri sekali. Aku tak sanggup membayangkan apa akibatnya jika kami coba-coba berhadapan dengan mesin perang yang sudah sangat teruji membunuh dan menghabisi lawan. Tapi sebaliknya, melawan nurani sendiri?
Aku takut. Hatiku sungguh-sungguh ciut. Kepalaku berkecamuk dengan bayang-bayang menakutkan. Penjara gelap dan dingin. Sel penuh nyamuk. Piring kaleng nasi basi dan kecoak. Sorot lampu interogasi. Jari kaki diinjak kursi. Aku mencoba mengalihkan pikiranku dan mengingat-ingat Tuhan yang maha kuasa. Tak pernah sepenuhnya berhasil. Aku bergidik membayangkan besi dingin menempel di kepalaku yang siap kapan saja menyalak membuat otakku terburai. Ah. Tidak. Tidak. Aku tidak kuat, Tuhan.
Namun dalam hatiku seniorku ini pastilah lebih takut lagi. Dia tidak sendiri tapi punya istri dan anak-anak yang juga harus
diselamatkan. Aku lebih bebas sebab aku masih sendiri. Aku tak punya tanggungjawab kecuali diriku sendiri. Ya, aku bisa lari meninggalkan kependetaan ini. Tapi bagaimana dengan hati kecil ini? Entahlah. Aku benar-benar tak mengerti dan tak
punya solusi.
Malam semakin sunyi. Jam dua dinihari. Aku melihat bayang-bayang di kejauhan. Rupanya istri Pdt Ben Parhusip datang. Aku biasa memanggilnya kakak. Dia seorang perempuan sederhana dan polos yang sangat mengagumkan. Rendah hati. Punya kepribadian sendiri. Empat ekor anjingnya mengikut dia mendekati kami. Na dison do hamu na dua (di sini rupanya kalian berdua), sapanya, kemudian duduk di pinggir ubin teras gereja bersama kami sampai jelang subuh.
Sinode Istimewa
11-13 Januari 1993. Sinode Istimewa HKBP yang diprakarsai oleh pemerintah diadakan di Hotel “bintang lima” Tiara Medan. Pengundangnya Pjs Eforus Pdt SM Siahaan yang mendapat mandat dari Pangdam/ Ketua Bakorstanasda Pramono. Dananya aku tidak tahu dari mana. Sinode itu tentu saja aman-tenteram. Pada masa itu pemerintah terbiasa menggunakan “tangan besi” untuk menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat. Apalagi saat itu menjelang Sidang Umum MPR. Ya, masa itu Sidang umum MPR adalah sebuah even sakral yang sama sekali tidak boleh ternoda oleh gangguan keamanan sekecil apapun. Sebab itu sudah pasti tidak ada yang berani mengganggu-gugat Sinode Istimewa yang jelas-jelas diprakarsai oleh suatu lembaga super koordinasi keamanan yang sangat berkuku di negeri ini: Bakorstanasda. Dulu namanya: Kopkamtib. (Aku bahagia pada akhirnya HKBP Palembang dan Plaju serta Praeses Sumbasel mengambil keputusan untuk tidak menghadiri Sinode Istimewa di Hotel Tiara Medan.)
Sinode Istimewa pun menelurkan produknya yaitu kepemimpinan baru HKBP: Eforus Pdt DR PWT Simanjuntak dan Sekjen Pdt DR Sountilon Siahaan. Yang pertama aku tak pernah mengenalnya secara pribadi. Yang kuingat hanyalah sewaktu Rapat Pendeta lalu DR PWT Simanjuntak berdasi merah menyala, dengan kemeja putih dan celana hitam plus kaca mata gelap. Gagah. Katanya dia baru mendapat doktor dari Heidelberg Jerman. Yang kedua, juga tak kukenal secara pribadi walau aku lebih sering mendengar namanya disebut-sebut orang. Aku hanya sekali bertemu dengannya saat Rapat Persetia (Persatuan Sekolah Teologia Indonesia) di Salatiga, saat aku Ketua Senat Mahasiswa STT Jakarta. Kesanku pertama dia tinggi gagah seperti Belanda, necis tapi tak kehilangan aksen Bataknya, pintar namun agak emosional . Selebihnya aku tak tahu apa-apa.
Namun yang jelas Sinode Istimewa ini membuat aku merasa kependetaanku yang baru seumur jagung di HKBP sudah tidak berguna. Aku ingin angkat kaki saja pulang ke Jakarta. Semangatku jadi pendeta HKBP telah lenyap. Tak ada lagi kebanggaan. Yang ada dalam diriku hanyalah kemarahan seorang yang merasa dicurangi. Aku kalah telak.
(Saat awal perpecahan HKBP itu aku masih muda sekali. Umurku belum genap 30 tahun. Aku belum paham benar tentang hal-ikhwal hubungan gereja dan negara. Aku belum sepenuhnya mengerti bahwa gereja harus independen,
mengambil jarak dari kekuasaan politik dan ekonomi, dan tidak boleh menjadi sub-ordinat atau perpanjangan tangan pemerintah atau lembaga dunia lainnya. Namun hati kecilku telah mengatakan campur tangan pemerintah ke dalam kehidupan gereja salah. Aku membayangkannya seperti ini: Ibu dan Ayah kami bertengkar. Ibu kami sangat dominan dan sering berkata kasar, sehingga ayahku sangat sakit hati dan merasa disingkirkan. Dia lantas memanggil Ketua RT membereskan keluarga kami. Alih-alih membereskan Pak RT malah memperkosa ibuku di depan mata anak-anaknya
kemudian mengusirnya dari rumah, dan ayahku ketawa-ketawa senang.)
Serah terima Praeses.
Sinode Istimewa HKBP di Medan membentuk kepemimpinan gereja HKBP yang baru sebelum kepemimpinan yang lama berlalu. Inilah masalahnya. Dualisme kepemimpinan. Eforus baru mendapat dukungan penuh pemerintah, yang pada jaman itu nyata-nyata modal utama bagi organisasi atau lembaga apa saja yang ada di negeri ini termasuk gereja.
Sementara itu eforus lama mengklaim mendapat legitimasi konstitusi gereja dan hati nurani untuk bertahan dan meneruskan wewenangnya. Akibatnya sudah bisa diduga. Pendeta dan juga jemaat HKBP terbelah menjadi dua kubu yang berhadap-hadapan dengan tangan terkepal.
Aku sadar betul, bagi dua pertiga pendeta HKBP Sinode Istimewa sudah final. Secara faktual dan juridis kepemimpinan HKBP sudah berganti. Sebab itu loyalitas pun harus ditunjukkan kepada Pimpinan HKBP yang baru. Lagi pula siapa yang berani menentang keputusan pemerintah? (tahun 1990-an kekuasaan Suharto sedang di puncak kejayaannya) . Tapi bagiku sendiri Sinode Istimewa tetap tidak absah. Aku tidak sanggup merumuskannya dengan jernih saat itu. Namun aku tidak bisa menerima pergantian yang dipaksakan ini apapun alasannya.
Terus terang, hatiku kurang suka gaya Eforus Nababan. Menurutku gayanya “angkuh” dan “kasar”, walaupun dia sangat berdisiplin dan brilyan serta penuh kharisma. Mungkin dia sudah terlalu lama di Eropah dan kehilangan psikologi Bataknya sehingga banyak sekali orang yang sakit hati kepadanya, bukan hanya pendeta tetapi juga elit-elit Batak anggota jemaat HKBP di Jakarta dan Medan, hanya karena persoalan-persoalan sepele yang sebetulnya tidak prinsipil. Tapi aku juga tidak setuju jika dia disingkirkan dengan meminjam tangan penguasa. Menurutku itu bukan saja tidak benar tetapi juga tidak baik dan tidak bertanggungjawab. (Di kemudian hari aku berpikir mungkin penguasa Orde Baru-lah yang meminjam tangan pendeta HKBP untuk menyingkirkan Eforus Nababan. Atau saling meminjam dan menunggang.)
Siang itu aku sengaja ke Kantor Praeses. Aku mendengar jadwal serah-terima dan pelantikan Praeses Sumbagsel sudah diedarkan oleh Kantor Pusat HKBP (dukungan pemerintah). Aku ingin tahu bagaimana sikap Praeses kami. Amang serah terima, tanyaku menyelidik. Praeses Amir Hasan Silitonga menjawab “beha bahenon”. Artinya apa boleh buat.
Wajahnya letih layu. Perasaanku bapakku ini tiba-tiba tampak tua sekali. Aku hanya bisa diam membisu. Namun hatiku protes kenapa orang tua ini mudah sekali menyerah. Kalah sebelum berjuang. Tapi aku ingat lagi omongan Pdt Ben Parhusip, “aku punya keluarga”. Ya terserahlah. Aku memang harus belajar menghormati keputusan Pdt Amir Hasan Silitonga, tapi perasaanku tetap bergejolak di dalam. Menurutku harusnya ada jalan lain bagi Praeses untuk melawan. Minimal membiarkan serah-terima sepihak untuk mengurangi legitimasi Praeses baru, dan memberi kami kesempatan melawan. Tapi itu tidak dilakukan dan aku tidak bisa bilang apa-apa. Alasannya jemaat nanti terpecah. Kubilang dalam hatiku HKBP memang sudah ibarat mangkok yang retak, tak bisa tidak, harus dibelah dulu baru bisa disatukan lagi.
Sabtu pagi sampai siang. Serah-terima jabatan Praeses tiba. Pagi-pagi aku mendengar bunyi sirene masuk ke halaman
gereja. Sekjen pilihan Sinode Istimewa Pdt Sountilon Siahaan datang dengan pengawalan polisi. Aku meringkuk berselimut di tempat tidurku. Hatiku sudah kukeraskan tak mau hadir. Pikirku aku tidak punya urusan di sana. Memakai bahasa jaman sekarang: emangnya gua pikirin. Namun jelang siang aku keluar rumah dan mengintip dari jauh saja mencoba mengenali siapa saja pendeta dan jemaat yang hadir di sana.
Krans duka di salib altar
Ini hari Sabtu. Naposobulung seperti biasa sangat ramai di gereja. Mereka bertanya sikapku tentang Praeses baru yang akan dilantik besok. Kukatakan aku tidak setuju Sinode Istimewa dan semua produk yang dihasilkannya. Tapi aku mengaku tidak punya kekuatan. Mereka bertanya bagaimana kalau aku dipecat? Ya, apa boleh buat kataku. Itu
resiko. Paling-paling akan kembali ke Jakarta bergabung dengan abang-abangku belajar jadi penerbit buku. Atau jualan buah dan bunga, kataku sambil ketawa meringis. (menjual buah dan bunga adalah cita-citaku yang kedua setelah pendeta). Banyak naposo menyayangkan sikapku yang menurut mereka terlalu berani menentang arus, lebih parah lagi suatu langkah bunuh diri. Namun beberapa orang terang-terangan memujiku dan berjanji mendukungku. Aku merasa dikuatkan.
Sabtu sore itu beberapa orang aktivis naposo kumpul di rumahku, yang lain bermain di sekertariat naposo dan di halaman gereja. Naposo harus melakukan sesuatu sebagai protes. Ya, naposo harus melawan. Aku tidak tahu dari mana asal ide perlawanan itu. Tapi yang jelas aku sangat setuju. Bagaimana caranya? Besok hari Minggu saat pelantikan praeses naposobulung boikot menyanyi. Pake baju hitam. Demo pake poster. Gembosi ban mobil. Dan banyak ide gila lain yang aku sendiri tak yakin mereka akan berani mewujudkannya. Tapi tiba-tiba aku mendapat ide. Kita naikkan saja krans bunga duka ke salib di altar gereja!. Itu menunjukkan bahwa kita sedang berduka dengan keadaan gereja HKBP.
Kawan-kawanku setuju dan menganggap itu ide menarik. Cabe rawit. Kecil tapi menggigit. Namun selain menaikkan bunga ke salib mereka sepakat mengkampanyekan agar semua naposo besok ke gereja mengenakan pakaian hitam. Lantas kami pun pergi dengan mobil Marolop ke Toko Bunga di Jalan Bangau. Dia kawan karibku sejak SMP di Medan, kami berjumpa lagi di Palembang. Namun menunggu malam, krans besar dengan pita ungu bertuliskan “turut berdukacita” itu disimpan di dapur rumahku.
Malamnya Naposo latihan koor. Hanya enam orang yang tahu rencana kami. Johari Simanjuntak, ketua naposo, kebetulan kerja di Suara Pembaruan, lantas pura-pura sibuk menyetel mobil pikup kantornya persis di depan pos satpam. Maksudnya agar menghalangi pandangan satpam ke tangga gereja. Aku diam-diam mematikan lampu halaman. Robert dan Marolop pun mengendap-endap naik ke gereja yang terletak di lantai dua. Aku menunggu di belakang gereja dekat tempat pembuatan peti mati yang persis depan rumahku. Marolop pun mengulur tali lewat jendela yang langsung kusambut dan kuikatkan ke bunga itu. Lantas bunga duka itu pun dikerek perlahan dalam gelap diiringi detak jantung. Namun aku senyum sendiri membayangkan suasana heboh yang besok bakal terjadi. Setelah bunga hilang dari pandangan, aku pun pindah lagi ke depan gereja berlagak tak ada masalah. Ya, memang tak ada masalah.
Jam 12 malam. Kompleks gereja HKBP Palembang sudah sepi. Aku baru saja hendak jatuh tidur. Tiba-tiba aku mendengar pintu rumahku diketuk. Rusdi Ritonga dan Robert Simanjuntak datang. Muka mereka tegang. Keadaan gawat! Lapor mereka dengan muka tegang. Apanya yang gawat, tanyaku. Polisi berjaga-jaga di luar. Mobil patroli terus-menerus keliling. Pihak keamanan rupanya sudah mencium naposo mau bikin gerakan. Rusdi bahkan mengaku telah diancam. Jika besok terjadi kerusuhan saat pelantikan maka dia yang pertama ditangkap. Namun aktivis KNPI ini mengaku sudah bikin surat selebaran agar naposo menjaga ketertiban dan keamanan. Maksudnya untuk mengantisipasi segala keadaan, jika besok rusuh kami punya dalih bahwa naposo mendukung ketertiban dan keamanan. Pintar sekali kataku dalam hati. Namun bagaimana kalau bunga itu kita turunkan saja, Pak Pendeta, tawar Rusdi melemah. Aku menarik nafas dalam. Robert sama sekali tidak berkomentar. Diam-diam aku mulai kecut. Bayanganku sesudah atau bahkan sebelum Rusdi aku yang dipenjara. Terus terang aku belum siap untuk keadaan itu. Tapi sebaliknya hatiku tidak juga mau menyerah begitu saja. Bunga itulah satu-satunya tanda perlawanan kami. Jika bunga itu diturunkan ya tidak ada apa-apa. Kami artinya bertekuk-lutut menyerah tanpa syarat. Itu akan memalukan dan menyakitkan sekali. Akhirnya aku memutuskan: Yang terjadi terjadilah. Aku tanggungjawab, kataku tegas. Robert mendukung. Rusdi diam. Mereka pun buru-buru pamit pulang sebelum terlihat petugas keamanan.
Namun sesudah kedua aktivis naposo itu pulang aku tak bisa tidur. Gelisah. Jantungku kembang-kempis. Aku ketakutan. Perasaanku pintuku tinggal menunggu saat diketuk. Polisi akan datang menciduk. Aku lelah bergumul. Harus ada sebuah tanda perlawanan kataku berulang-ulang kepada diriku. Sekecil apapun. Orang banyak harus tahu bahwa ada sekelompok orang walaupun sedikit yang tidak setuju. Pemberitahuan itu penting. Tapi bagaimana? Aku takut dan lemah sekali. Aku tak sanggup memikul konsekuensi penolakan ini. Aku berulang kali berdoa namun hatiku tetap gelisah. Tak ada jawaban. Aku makin gelisah.
Jam lima pagi.
Aku terbangun. Satpam gereja kami masih tidur. Ya satpam gereja kami hobi sekali tidur. Aku melihat tidak ada polisi dalam kompleks gereja. Aman. Aku pun naik ke gereja yang terletak di lantai dua dengan penasaran. Pagar atas gereja terkunci namun aku dengan mudah meloncatnya, sementara pintu samping sudah baling dimakan matahari sehingga bisa dibuka tanpa kunci. Aku ingin melihat keadaan sebenarnya sebelum mengambil keputusan meneruskan atau menghentikan perlawanan ini. Perasaanku campur-aduk. Namun yang dominan rasa takut.
Dalam remang-remang subuh aku melihat bayangan krans besar di salib di atas altar. TURUT BERDUKACITA. Ya Tuhan! Krans ungkapan batinku yang terdalam itu sudah ikut tersalib di atas sana. Aku tak habis pikir bagaimana Marolop dan Robert mampu menaikkan krans bunga itu. Salib itu perasaanku tingginya lebih dari lima meter. Aku senyum kecil. Bangga. Kecut. Nekad. Namun tiba-tiba aku sadar kedua kawanku lupa menyimpan tangga. Aku tak ingin bunga tanda duka itu diturunkan sebelum kebaktian pelantikan berlangsung. Kami sudah capek-capek. Sebab itu buru2 kusembunyikan tangga itu dibalik teras samping gereja, lantas aku pun turun lagi. Pagi masih gelap.
Minggu pagi. Sebelum jemaat ramai hadir di kebaktian minggu pagi dimulai aku pun sengaja menghilang. Sejak beberapa hari lalu sudah kukatakan kepada pendeta Ben Parhusip aku tidak mau menghadiri serah-terima praeses. Itu tanda protesku. Sebab itu aku jalan-jalan saja dengan motor bebekku keliling Palembang menghilangkan rasa takut dengan terpaan angin pagi. Namun hatiku tetap dagdigdug.
Bermula dari sebuah awal
Sorenya kami ketemu di hotel Sanjaya. Rusdi yang traktir. Aku sama sekali belum pernah minum kopi di hotel berbintang satu-satunya di kota sungai Musi ini. Tapi aku lebih penasaran ingin mendengar berita apa yang terjadi tadi pagi. Ternyata aku kecewa. Kebaktian pelantikan Praeses aman-aman dan lancar-lancar saja. Gereja penuh dengan polisi. Seorang perwira Brimob bahkan membawa anjing pelacak untuk memeriksa semua sudut gereja sampai toilet-toilet. Katanya anak-anak Sekolah Minggu ketakutan dan terbirit-birit melihat anjing jenis herder itu. Untung tidak ada yang digigit. Ada-ada saja. Robert mengeluhkan naposo tidak konsekuen pake baju hitam. Menurutnya naposo yang berbaju hitam tak sampai sepuluh orang. Padahal malamnya semua janji memakai baju hitam. Dasar pengecut! Musa memilih keluar dari kebaktian persis saat pelantikan dan sempat menjadi pusat perhatian jemaat yang hadir. Namun yang ikut dia keluar hanya dua orang. Aku menyesali kenapa orang-orang suka memilih jadi penakut.
Tapi syukurlah krans bunga yang kami pasang ternyata jadi masalah besar. Aku tak perlu terlalu kecewa. Seperti istilah sahabatku Marolop, minimal ada tanda kecil bahwa kita tidak setuju. Aku pun mengajak kawan-kawanku aktivis untuk menjadikan krans bunga ini awal sebuah gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak konstitusional. Gerakan ini harus jadi bola salju kecil yang digelindingkan dari atas bukit, makin lama makin besar hingga tak tertahan lagi. Semua kawan-kawanku aktivis naposo sepakat melakukan sosialisasi penolakan Sinode Istimewa Tiara dan semua produknya. Kami pun bubar dengan tekad yang lebih terorganisir, sekaligus kenangan makan pisang goreng pake keju di hotel berbintang.
Peluru sedikit jangan tembakkan sekaligus
Pulang dari pertemuan dengan aktivis naposo, aku menjumpai Pdt Ben Parhusip di rumahnya. Dia tampak dingin dan marah sekali. Kami sudah dua tahun lebih sama-sama, belum pernah dia bersikap sedingin dan semarah ini terhadapku.
“Aha do ula-ulam? Susa ahu dibahen ho” katanya. Ya sori. Semua itu tanggungjawabku kataku dan duduk di sampingnya.
Dia diam. Wajahnya merah menghitam menahan marah. Namun aku tahu sebagian besar kemarahan itu bukan ditujukan kepadaku. Hubungan kami selama ini terlalu baik. Namun istrinya, kakakku, malah ketawa-ketawa senang. Bunga duka itu rupanya membuatnya geli dan terhibur. Namun Pdt Ben Parhusip mengatakan Sekjen menganggap krans bunga itu penghinaan kepada pimpinan HKBP yang sah. Sebab itu katanya aku harus diusut. Mendengar itulah Pdt Ben Parhusip sangat murung. Seorang perwira Brimob Batak (bukan anggota HKBP, aku tidak tahu apa hubungannya dengan masalah HKBP) dengan suara menggertak mengatakan krans di salib itu adalah pekerjaan para bandit dan preman. Dia mengancam akan segera menangkap gerombolan pengacau ini. Para parhalado HKBP Palembang katanya langsung merasa gerah dengan ancaman itu. Pdt Ben Parhusip sangat gusar. Dia membantah. Tidak mungkin preman atau bandit yang bikin krans duka di salib saat pelantikan itu, pasti naposobulung HKBP sendiri, murid-murid dan anak-anaknya. Itu artinya tanggungjawabnya sebagai pendeta resort. Aku kagum. Menurutku seniorku ini selalu ragu, tapi tidak dalam hal tanggungjawab. Dalam soal yang terakhir ini dia tak pernah ragu memikulnya di pundaknya apapun resikonya. Hebat.
Seperti biasa kalau aku datang, Inang pendeta menghidangkan kopi di gelas-gelas sederhana aneka macam. Ya, aku sangat terkesan. Keluarga pendeta HKBP yang satu ini sangat sederhana. Pantas kucontoh. Namun tiba-tiba aku melihat sikap Pdt Ben Parhusip sangat berubah. Dia menjadi rileks. Entah apa yang membuatnya. Jangan-jangan dia baru mendapat wahyu. Aku masih ingat kata-katanya: Peluru kita sedikit sekali, jangan tembakkan sekaligus. Aku menjawab ya.
Menggelindingkan penolakan
Para aktivis naposo HKBP Palembang bergerak cepat. Mereka membagi diri dalam kelompok-kelompok kecil melobi para jemaat terutama orang tua-tua agar menolak Sinode Istimewa Tiara dan segala produknya. Aku memberikan daftar key persons atau “orang-orang kunci” yang harus didekati mereka. Atas undangan naposo pertemuan informal jemaat pun diselenggarakan di gereja lama. Tentu saja aku tidak hadir di sana. Namun aku terus memonitor seksama. Menurut kawan-kawan aktivis naposo, diantara orang-orang tua yang hadir hanya beberapa orang saja yang terang-terangan mendukung gerakan penolakan yang digelindingkan naposo ini. Antara lain PY Pardede, seorang pengusaha ekspor gula. Yang lain ragu, gamang dan takut. Satu hal: orang tua-tua ini sangat mengkuatirkan bahwa HKBP Palembang pecah. Buntut dari pertemuan ini beberapa orang tua atau sepuh, anggota HKBP Palembang khusus datang menjumpai Pdt Ben Parhusip meminta agar beliau bijak dan mengutamakan keutuhan jemaat. Sekaligus mengingatkan naposobulung. Namun aku mendapat kesan, yang paling mereka kuatirkan sebenarnya bukan gereja HKBP tetapi adalah keutuhan persekutuan marga-marga dan adat. (Apa boleh buat, defakto di hati banyak jemaat HKBP sebenarnya marga dan adat lebih penting dari gereja. Persis pameo: orang Batak lebih suka dibilang tak ber-Tuhan ketimbang tak ber-adat. Kristen apaan itu? Itu artinya kami harus kerja lebih keras.)
Truk Fuso
Minggu senja kira-kira jam sembilan belas. Sehabis kebaktian naposo. Halaman depan gereja masih ramai. Johari tiba-tiba melapor sambil ketawa-ketawa bahwa barang-barang Praeses baru Pdt Pantas Marpaung datang dengan truk fuso. Mereka sudah mencegat truk raksasa itu tidak boleh masuk. Kami sudah tutup gerbang. Aku bilang satpam truk tidak boleh masuk sebelum ada perintah dari Pdt Harahap, katanya tanpa meminta konfirmasi sebelumnya padaku. Oalah. Aku merasa di fait acoompli tapi tidak bisa bilang apa-apa. Hari sudah gelap. Aku tak bisa melihat jelas. Namun ada sebuah truk besar parkir persis depan gereja. Beberapa naposo tampak berjaga-jaga di gerbang. Diantaranya Novel Situmorang. Aku tak bisa berpikir panjang. Aku sudah disandera anak-anak muda ini untuk memimpin langsung perlawanan. Terus terang aku ciut sekali. Tapi tidak ada jalan mundur. Bola salju sudah menggelinding tak terbendung. Salah siapa? Salahku sendiri.
Kompleks gereja HKBP Palembang makin ramai. Anak-anak muda tidak pulang, bahkan memanggil kawan-kawannya yang lain agar datang membala. Beberapa sintua berbisik mendukung tindakan naposo. Salah satunya St PM Silaban. Tak lama kemudian, Praeses Pdt Pantas Marpaung datang, didampingi beberapa orang yang tak begitu kukenal. Satpam menolak membuka pintu. Mereka mungkin segan kepadaku, tetapi kupikir mereka lebih takut kepada naposo. Praeses baru berdiri dibalik gerbang didampingi beberapa orang. Aku menghampirinya. Saya Praeses yang sah. Saya sudah serah-terima dan dilantik, katanya. Aku belum pernah mengenalnya sama sekali. Bebanku psikologis tidak terlalu besar menghadapinya. Maaf Bang, kataku, ini bukan persoalan kita pribadi, kita berbeda pendapat soal HKBP, maaf aku tidak bisa kasi barang-barang Abang masuk. Tangaku sengaja kukatup di depan mukaku.
Pintu gerbang gereja pun diambil-alih oleh naposo dari tangan satpam. Anak-anak ini tampak senang dan rileks sekali. Ketawa-ketawa. Bercanda gembira. Mungkin bagi mereka berkelahi mirip rekreasi. Celaka. Aku berusaha setegar mungkin. Aku tak ingin tampak lemah di depan anak-anak muda ini. Ya, aku tidak boleh tampak ragu dan lemah. Namun akulah yang paling tahu bagaimana hati dan kakiku gemetar lunglai. Malam itu puluhan naposo begadang di gereja. Makan malam datang, entah siapa yang menyiapkan. Ya biasalah, dalam konflik dana selalu mudah berkeluaran. Bagi naposo ini jelas semakin mengasyikkan. Jam dua belas malam aku permisi masuk rumah. Tidur.
Pendeta Harahap hendak ditabrak!
Senin sore. Praeses Pantas Marpaung datang dengan mobil Kijang biru. Mereka memaksa hendak masuk kompleks gereja. Naposo tidak ada. Mereka sudah pulang untuk kuliah dan lain-lain urusannya. Satpam ragu membuka gerbang. Seorang anggota rombongan Praeses menghardik agar gerbang dibuka. Kijang itu pun menderum dan masuk dengan kecepatan tinggi. Aku meloncat ke samping, menghindar agar tidak ditabrak. Saat itu persis anak-anak katekisasi bubar. Mereka melihat aku meloncat dan terjerembab ke samping pos satpam. Terdengar teriak remaja-remaja perempuan. Kejadian itu langsung menjadi gossip besar. Anak-anak remaja ini pulang dan memberitahu orangtuanya bahwa pendeta Harahap hendak ditabrak oleh pendukung praeses baru. Tiba-tiba saja angin segera bertiup kencang mendukung kami. Naposobulung dan anggota jemaat segera berdatangan ke gereja ingin tahu keadaanku dan kembali menguasai pintu. Praeses Marpaung gagal membawa masuk truk dan pulang. Aku lebih banyak diam. Kuingat truk fuso berisi barang itu tiga hari teronggok di sana, sebelum akhirnya pergi entah kemana.
(Sebenarnya saat itu pun, apalagi sekarang ini, aku tidak percaya bahwa mereka sengaja hendak menabrak aku. Jalan di gerbang gereja itu agak menaik dan mungkin saja si supir panik dan menggas tinggi. Tapi dalam konflik setiap kesalahan “lawan” berarti kemenangan di pihak kita. Jujur saja, saat itu aku tak berniat mengkoreksi rumor pendeta Harahap hendak ditabrak itu. Kubiarkan saja rumor itu berkembang, walaupun aku juga tak berniat gembar-gembor. Namun yang pasti simpati jemaat semakin membesar kepada kami).
Bersambung ke: Gereja Yang Luka & Tak Menyerah (2)
marsak hian rohangku = sangat susah hatiku
na dison do hamu na dua = di sini rupanya kalian berdua
beha bahenon = apa boleh buat
aha do ula-ulam? = apakah yang telah kau lakukan?
susa ahu dibahen ho = hatiku susah kaubikin
wah bagus amang…
Saya senang membaca sejarah yang seperti ini, menambah semangat bagi pemuda untuk melakukan pelayanan yang lebih lagi dengan versi nya pada masa sekarang..
Memang ini luka lama amang tapi luka nya ampe sekarang engga sembuh2 karena di bandung sampai sekarang engga tuntas2..
kalau bisa jika amang tahu diceritakan juga awalnya mengapa sinode godang thn 92 jadi rusuh sampai mengundang pemerintah untuk campur tangan??apa benar karena sae nababan yang tak mau turun, dan apa benar bahwa ephorus sae nababan tidak pernah melaporkan laporan keuangannya??
Ditunggu amang lanjutan keduanya..
Horas!
Wah, saya senang sekali membaca tulisan anda. Meski (menurut saya) subjektif, namun kisah ini sangat menarik dan menggugah rasa ingin tahu saya.
Walaupun saya bukan anggota jemaat HKBP dan bukan orang BATAK, tapi saya tertarik untuk mengetahui “sejarah kelam” HKBP tersebut.
Saya menunggu “kisah” selanjutnya…
Membaca postingan kali ini sperti membawaku pulang ke 13thn lalu.. Aku ingat bahwa aku adl salah seorang anak Sekolah Minggu yg heran & ketakutan waktu polisi masuk gereja dgn anking2nya.. akupun masih ingat crita tentang perebutan pintu gerbang HKBP Resor Palembang, kebetulan bapak juga kan Sintua saat itu..
Kelam, pedih, malu, kecewa, dan perasaan dikhiananti adl perasaan sebagaian besar jemaat saat itu.. Bapakku samapai memilih tdk bergeraja di HKBP selama “konflik” berlangsung. Maklum,profesinya sbg PNS membuat posisinya terjepit..
Semoga tak akan pernah terulang..
Ditunggu cerita lanjutannya Amang..
Greeting,
saya tunggu cerita bersambung dari Pdt. Harahap. Ini sangat menarik sekali, dan menambah wawasan saya sebagai pengikut YESUS KRISTUS.
Emmanuel untuk Pdt.Harahap dan keluarga
Saya hanya dapat berdoa, kiranya pada waktunya kita semua, baik yang terlibat lansung atau tidak dapat mengerti mengapa Tuhan Yesus mengijinkan semua ini terjadi diantara sesama orang2 yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan jurus’lamatnya.
Biarlah kasih dan kesetiaanNya akan memampukan kita untuk belajar dari semua yang telah terjadi dan membuka hati serendah2nya untuk menerima pembentukan yang terbaik hanya dariNYA, sampai kemulaiaanNYA dinyatakan…..
Salam kasih dan maju terus dalam kasih dan kerendahan hati……
Vera,
New Hampshire.
Apa yang dilakukan oleh abang disini adalah sebuah managemant knowledge yang sangat menarik. cerita dari satu sisi tentang konflik HKBP dimasa lalu yang kebanyakan dari kita tidak pernah tahu sampai tingkat bawah. Mungkin suatu saat orang2 yang pernah terlibat harus menceritakan versinya masing-masing, bukan untuk membuat kerusuhan kembali tapi untuk meluruskan sejarah gereja kita hingga suatu saat geraja kita bisa maju kedepan dengan lebih baik . Atau sangat mungkin jika suatu saat HKBP membuat buku mengenai sejarah kelamnya, sebagai terapi menuju gereja yang lebih baik.
wah amang….panjang skali ceritanya. Tapi ceita amang belum mengungkapkan penyebab keretakan HKBP. Ada yg bilang HKBP pecah gara Eporus SAE Nababan mau mengganti kata “huria” dari HKBP,tul gak?
Amang,
Ini utangku kucicil, tapi sedikit dulu dan belum signifikan, hehehe…karena belum baca semua
Yang ini enaknya dipublish aja. * Supaya meng-encourage- orang berani bersuara untuk kebenaran*
“Angkat topi buat Amang atas krans salib tanda berdukacita”
Btw, aku setuju dg Daniel on March 23. Kadang membongkar benang kusut masalah perlu u/ memecahkan persoalan. Macam saat kita diminta menjabarkan kembali rumus fisika yg sudah ringkas supaya bisa mengerti logika berpikirnya dan tangkas menjawab soal tanpa perlu payah-payah menghapal rumus.
Cerita yang sangat menarik amang….
Aku ucapin terimakasih atas ulasan tentang hal-hal yang menjadi pemicu masalah yang terjadi di gereja kita tercinta HKBP.
Kalau amang bilang pendeta kita kurang profesional (atau kalau boleh dibilang kurang terampil) dalam menyampaikan kotbah, mungkin ada benarnya, karena memang tidak diaplikasikan dengan kejadian masa kini, dimana kita pemuda justru masih ingin tau sebenarnya apa makna sesungguhnya yang tersembunyi dibalik ayat-ayat alkitab itu ?
Sebagai bahan perbandingan mungkin aku bisa sedikit beritahu, aku dulu pernah mengikuti kebaktian di Gereja karismatik (karena kebetulan aku berhalangan untuk gereja hari Minggu di HKBP). Disana aku tau arti kalimat Yesus “Hancurkan bait Allah ini rata dengan tanah, dan dalam 3 hari aku dapat membangunnya kembali” (pada saat Yesus marah di Bait Suci dan Selama tiga hari tiga malam Yunus berada di perut ikan paus, hal itu berarti, tentang kematian Yesus dan akan bangkit kembali pada hari yang ke tiga.
Nah sebenarnya hal-hal yang seperti itu yang kita perlukan amang.
Aku dengar-dengar belakangan ini, untuk masuk ke STT di Pematang Siantar sekarang ini sudah ada permainan uang “KOLUSI”, mungkin itu bisa menjadi hal yang menjadikan kualitas pendeta kita dibawah standar HKBP itu sendiri.
Aku ucapin terimakasih banyak sama amang telah menerbitkan tulisan ini, sehingga kita Naposo gereja bisa tau sedikit tentang “PERJUANGAN” HKBP hingga kini masih berdiri tegar.
Mungkin sedikit banyak amang sudah memiliki alamat FS organisasi NHKBP, mungkin amang bisa memberikan konseling On-Line buat kita (hehehe.h.ehe.ehe.heh)
Aku harap amang jangan berhenti berkarya, teruslah melayani
coz You’ll Never Walk Alone
GBU ‘n Ur Family
membaca postingan uda ini membuka luka lama juga bagi saya..pendapat saya, yang terpenting adalah Beribadah kepada Tuhan. So, harus nya yang menjadi pusat adalah Tuhan Yesus, sang kepala gereja, bukan pendeta apalagi eforus nya. Bukannya segala hal yang dari datang dari Tuhan mendatangkan damai sejahtera? So,instead of it. It doesn’t come from God.
But anyway, yang lama sudah berlalu sesungguhnya yang baru sudah datang, Mulialah nama Tuhan.
Gbu Uda dan keluarga
cheers,
Rista Purba
Bang Daniel, setelah membaca Gereja yg luka dan tak menyerah jadi sedih apalagi pas Abang tulis bahwa di Almanak HKBP th 2007 tidak ada hal yg dicatat untuk periode tahun tertentu. Untung Abang mau menullisnya di sini. Ini perlu, biar generasi muda di kalangan HKBP tau apa yg terjadi saat itu. Benar salahnya itu nomor sekian, yg namanya sejarah, biar buruk sekalipun, harus diingat biar bisa dijadikan acuan di masa datang.
Aku sendiri mengalami banyak hal-hal yg tak enak selama masa perpecahan HKBP(bahkan dalam masa rekonsiliasi hal tak enak ini terus berlanjut), dan waktu itu cukup dapet informasi yg banyak karena adekku, sangat aktif dalam menolak campur tangan pemerintah dalam urusan gereja.
vox populi vox Dei, dan pada akhirnya HKBP palembang menentukan sikap untuk independen kan amang. Semoga kejadian itu menjadi pembelajaran bagi kita Bangso Kristen Batak Amang.
Walaupun hal itu menjadi coreng bagi Bangso Batak, tapi setidaknya kedepan kita sadar menjadi orang Kristen sejati itu tidaklah mudah. Memang butuh perjuangan, kalau bukan generasi muda siapa lagi yang menjadi agen kontrol bagi Gereja, Bangsa dan Negara.
Tetap Semangat Amang dalam pelayanan dan pencerahan bagi kaum muda amang
HORAS
Bagaimana caranya agar tulisan seperti ini bisa kita dapatkan dari kelompok TIARA? Apa sih kebaikan kelompok TIARA, terutama dari pendeta-pendetanya?
Sejarah memang lebih menarik jika dilihat dari sudut pandang korban dan bukan dari sudut pandang pemenang..
Jangan kita terlalu mendiskreditkan seseorang atau sekelompok orang. Siapa sih yang tau kebenaran dan keadilan sesungguhnya? Hanya Tuhan yang tau, mari kita kubur masa lalu itu. Luka batin,luka fisik dan mental kita bawa ke Yesus Raja Gereja untuk disembuhkan. Kita bangun HKBP menuju kebaikan.
Bacaan yg bgus sekali amang harahap. sangat menarik untuk kita melihat kelanjutannya. meskipun sudah lama tapi baik untuk dibaca drpd baca majalah atau komik hehee
Semagat HKBP semangat Pdt. DTA Harahap, M.Th
Syalom,
Semoga Amang Pendeta Daniel T. Harahap dilindungi Tuhan kita Yesus Kristus.
Sejarah ini belum diperlukan saat ini, karena sejarah subyektif ini hanya akan mengungkit luka lama, pada saat itu Amang sebagai Pendeta diperbantukan (atau mungkin Capen) alangkah indahnya idea Amang memberikan contoh “kasih” dan mengasihi musuh tetapi kenyataannya mengelompokan generasi penerus (NHKBP – Ressort Palembang).
Mauliate
Ir. Edward Simanjuntak/br.Silaban