ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT (6)

March 4, 2007
By

anak-penyu-menggapai-laut2.jpg

Cuplikan buku:

ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT

Kisah Perjalanan seorang Muda Belajar Teologi, Menjadi Pendeta dan Pribadi Otentik

Oleh : Daniel T.A. Harahap

Mobil gratis tanpa sandaran kepala

Lampu 1 Belawan. KM Rinjani yang kutumpangi melayar pelan tak bersuara. Aku berdiri tak sabaran di tepi pagar kapal. Aku ingin segera mendarat, seketika tiba di Pearaja-Tarutung, dan langsung menjalani praktek pendeta di HKBP yang kucinta. Aku hanya ingin mampir sebentar saja di rumahku di Kampung Baru Medan. Sekedar say hello kepada Ibuku, sebelum menunaikan tugas mulia sebagai kandidat pendeta. Namun sepertinya keinginanku yang menyala-nyala itu sulit terlaksana. Ke Tarutung bus hanya ada sore hari, mencarter taksi terlalu mahal dan bila sampai kantor juga sudah tutup. Namun kini ada tawaran naik mobil koran: Suara Pembaruan. Gratis. Kepala perwakilannya bapatuaku, dan salah satu mobilnya yang bawa sepupuku Ooi. Mobil itu berangkat dari Medan jam 22 malam dan tiba di Tarutung biasanya jam 7 pagi. Aku akhirnya mengiyakan walau hati sungguh-sungguh tak sabar. Gelisah sebab malam datang terlambat. Yang jelas akhirnya aku jadi menumpang mobil koran yang ngebut menjadi-jadi di malam buta, seolah-olah jalan raya lintas Toba ini milik amangboru kami. Namun sebentar-sebentar mobil itu merem mendadak, karena ada segepok koran yang mesti diantar, atau tepatnya dilemparkan, ke agen-agen kecil di lintasan Medan-Tarutung. Demi hemat beberapa puluh ribu rupiah, atau entah demi apa, aku rela sepanjang malam disiksa kantuk tanpa sandaran kepala. Ya sudahlah, terlanjur mau murah.

Melamar jadi Pendeta.

Kami tiba di Tarutung jam setengah tujuh pagi. Aku masih punya banyak waktu untuk sarapan pagi lampet dan cuci muka di Restoran Karya di simpang empat. Berbunga-bunga, aku pun naik beca mesin ditarik vespa ke Kantor Pusat HKBP: Bukit Pearaja. Perasaanku sedang naik ke Gunung Sion saja, kota suci HKBP. Impian indah nan mulia. Kantor sepi. Bunga dahlia. Bangunan utamanya tampak megah. Lima tahun lalu aku pernah kemari, sewaktu hendak mengurus rekomendasi masuk STT Jakarta, bangunannya masih kayu beratap ijuk dan berlantai kayu enau. Unik sekali. Saat itu kuingat yang menyambutku adalah Pdt Dr Adelbert Sitompul. Dia sedang menyapu halaman kantor. Ramah. Kupikir tadinya dia pegawai biasa. Di kemudian hari aku baru tahu dia adalah seorang suci yang sedang menjalani “hukuman” yang dijatuhkan orang-orang berdosa. Ngeri.

Aku pun mencari ruang Biro Personalia. Yang menerimaku sekarang Pdt Adian Tobing. Orangnya putih bersih. Wajahnya lembut dan suaranya pelan, tapi kesanku dia dingin sekali. (dua tahun ke depan aku baru mengenal dia: ramah dan santun). Bayangan indah-ku tentang HKBP mulai bergetar. Ia memberiku secarik kertas tentang syarat-syarat menjadi pendeta HKBP. Antara lain: membuat surat lamaran di atas segel, pas foto sepenuh badan, surat bebas G30S PKI, surat berkelakukan baik dari polisi, fotokopi surat baptis dan sidi, dan uang pendaftaran Rp 30.000. Lantas ia diam lagi. Aku mulai salah tingkah. Ia tetap diam tak bereaksi. Aku makin salah tingkah. Lantas aku pun buru-buru permisi pulang. Bayanganku tentang keindahan menjadi pendeta buyar dibenturkan dengan realitas pagi ini.

Aku anggota HKBP. Dulu aku masuk STT Jakarta dengan rekomendasi Jemaat HKBP Pulomas juga rekomendasi Pucuk Pimpinan HKBP Eforus HKBP GHM Siahaan. Kini lima tahu berikutnya, sesudah aku tammat STT, aku diwajibkan bikin lamaran lagi untuk jadi pendeta HKBP. Aku tak paham kenapa aku harus melamar lagi hendak bekerja di rumahku sendiri. Di atas kertas segel pula lagi. Pagi itu juga aku langsung pulang lemas menumpang Inda Taxi menuju Medan. Bunga hatiku layu setelah mekar sesaat.

Sampai di Medan aku bergumul hebat. Surat lamaran kubuat dengan hati terpaksa. (nanti setelah aku jadi pendeta aku baru sadar bahwa surat lamaran ini penting, agar aku lebih rendah hati: bukan HKBP yang membutuhkan aku, tetapi sebaliknya akulah yang membutuhkan HKBP). Tapi bagaimana dengan persyaratan lainnya. Aku tetap sulit menerimanya. Surat bebas G30S PKI? Aku lahir tahun 1963. Itu artinya umurku baru dua tahun sewaktu peristiwa itu terjadi. Bagaimana mungkin aku terlibat? Aneh-aneh saja. Keluargaku tak satupun berkiprah di politik, apalagi menjadi PKI. Tapi ada soal lain, hati nuraniku menolak. Mengapa gereja harus membutuhkan surat bebas G 30S PKI? Seandainya, seandainyalah aku komunis, dan mengaku bertobat dan mengikut Yesus, apakah aku ditolak menjadi pendeta? Paulus si pembunuh saja bisa menjadi rasul.

Lantas surat kelakukan baik dari polisi? Apa urusan polisi mengeluarkan surat berkelakukan baik untuk seorang calon pendeta? Ini urusan moral, polisi hanya berhak mengurus hukum dan bukan moral. Lagi pula, bagaimana mungkin polisi (jaman itu) yang tidak berkelakuan baik berani-beraninya mengeluarkan surat keberlakukan baik seorang warga masyarakat? Aneh. Seandainya mereka meminta surat berkelakukan baik dari Rektor STT atau pendeta HKBP Pulomas aku dapat memahami. Mereka kenal aku. Mereka guru-guruku. Ada lagi. Untuk apa pula foto sepenuh badan itu? Seandainya kakiku hanya sebelah apakah lantas aku tidak bisa menjadi pendeta? Aku mau jadi pendeta kok bukan pramugari. Makin aneh saja gereja HKBP ini. Lantas uang pendaftaran. Aku bukannya tidak punya uang, tetapi sulit kuterima untuk menjadi pendeta harus membayar. Ini soal prinsip. Ya, prinsip! Kalau HKBP minta hati dan tenagaku, kuberikan seluruhnya, namun kalau gereja ini meminta uang dari calon pendetanya, aku harus katakan: tidak!

Surat lamaran kukirim balik minus lampiran aneh-aneh itu. Akibatnya sudah diduga, lama aku tak dipanggil-panggil. Aku pun terkatung-katung di Medan di rumah Ibuku, tak punya kesibukan kecuali menjaga air PAM yang hanya hidup waktu malam. Namun, entah bagaimana Eforus SAE Nababan bisa tahu tentang aku. Secara kebetulan dia bertemu dengan Roni, abangku, dan bertanya mengapa aku belum kembali ke HKBP. Roni menjelaskan tentang persyaratan aneh-aneh itu. Eforus mengatakan itu bukan policy pimpinan, tetapi kebijakan di tingkat staff. Dua hari kemudian aku menerima surat mengikuti orientasi dari Kantor Pusat HKBP. Dan anehnya, aku bisa juga masuk orientasi tanpa melengkapi persyaratan aneh-aneh itu. Ternyata di HKBP semua bisa diatur juga pikirku.

Sibolga Julu

Aku terlambat. Orientasi tinggal dua hari. Aku langsung menerima Surat Penugasan: ditempatkan sebagai calon pendeta di HKBP Sibolga Julu. Aku belum kenal sama sekali Sibolga. Apalagi hulunya. Tapi aku agak tenang, karena disana aku tahu ada amangboruku, marga Panjaitan, yang jadi Kepala Depnaker kabupaten. Namboruku langsung sangat senang aku ditempatkan di Sibolga. Maklumlah aku paraman -nya. Dia sangat bangga kepada kami para paraman -nya, dia selalu mengkaitkan kami dengan ito -nya, ayahku. Hampir seminggu aku tinggal senang-senang di rumah amangboru -ku di Kota, berhubung gereja belum siap tentang tempat tinggalku. Aku bersyukur juga, kuanggap ini semacam masa penyesuaian.

Sibolga Julu adalah sebuah perkampungan di pintu masuk halaman kota “mati” Sibolga. Pemandangannya indah sekali. Dari sini kita bisa memandang Teluk Sibolga atau nama lain Teluk Tapian na Uli, tapi walau dekat laut udara di sini dingin, sebab kampung ini dikelilingi gunung yang masih menghutan lebat. Bila angin laut kebetulan bertiup kita masih bisa mendengar sendu klakson kapal nan jauh. Tapi masyarakat Sibolga Julu sangat sederhana. Petani-petani karet yang kalah. Pegawai-pegawai kecil. Para pensiunan dan pemuda pengangguran. Orang-orang kaya Sibolga tidak ada yang kebaktian di HKBP Sibolga Julu, mereka berhimpun di HKBP Sibolga Kota, atau ke GKPI sana. Tapi aku suka gereja ini pada pandangan pertama. Mungkin karena pemandangannya yang luar biasa indah, paduan gunung dan laut, plus udara segar dingin. Terutama bagiku: air sejuk yang melimpah-ruah.


Waktuku tiba. Aku dikabari sudah boleh pindah ke Sibolga Julu, katanya tempat sudah disiapkan. Namboruku pun sibuk sekali mengurus “panjaean” atau pemandirianku. Dia membelikan aku kompor walau bukan cap Butterfly, melengkapi aku dengan peralatan masak (panci, kuali, piring, gelas dan sendok), membelikan aku beras seperempat karung, dan bahkan menyediakan segala tetek-bengek (gula, garam, teh, kopi, cabe, bawang, jahe dll). Komplit. Pulang jam kantor, aku pun diantar amangboru dan namboru ke Sibolga Julu ke rumah baruku menggunakan VW Safarinya.

Yang kumaksud dengan rumah baruku itu sebenarnya separuh bangunan tua, yang terletak di samping atas gereja lama Sibolga Julu (bayangkan daerah berbukit) yang sudah mau rubuh. Separuh bangunan digunakan untuk kantor, separuh lagi untuk kediamanku. Kedua peruntukan itu disekat tripleks setinggi dua meter, sehingga suara dari sebelah sana dan sebelah sini bisa saling mendengar. Kamar tidurnya ada satu. Kamar satu lagi tergembok, entah apa isinya. Kemudian ada dapur yang warnanya menghitam oleh jelaga lama. Di sampingnya ada toilet yang dingin sekali, dan di belakang rumah ada halaman tak terlalu luas yang berbatasan dengan tebing gunung. Di situ ada pancuran yang airnya membual deras 24 jam. Persis di tengah-tengah bangunan sebenarnya ada sumur tua ditutup kayu. Sampai pindah aku tak berani mengintip isi sumur besar itu. Begitulah. Melihat kondisi tempat tinggalku itu namboruku tampak sangat prihatin. Ngewi kali, katanya. Maklumlah dia kekurangan vitamin-R, persis seperti ayahku. Jadi huruf R selalu digantinya jadi W. :-) Tapi aku menganggap rumah ini jauh lebih baik dari yang pernah kutempati di pedalaman Papua. Ini sudah hebat. Aku senang tinggal di sini.


KOTBAH SULUNG BERBAHASA BATAK

Minggunya aku diperkenalkan dan harus memperkenalkan diri di tengah-tengah kebaktian minggu berbahasa Batak. Semua kata-kata yang harus kuucapkan kutulis dan kuhapal mati. Aman. Aku berhasil merapal. Tapi minggu berikutnya aku sudah harus kotbah Bahasa Batak. Alamakjang. Kali ini aku benar-benar panik. Seumur hidup aku belum pernah berkotbah bahasa Batak. Bahasa Batakku parah sekali. Maklumlah aku lahir di Medan. Orang Medan saat itu tidak pernah berbahasa Batak. Aku memang pernah belajar bahasa Batak selama pergaulanku di Pulomas Jakarta, tetapi bahasaku kasar dan jorok sekali. Akibatnya semalaman aku tidak bisa tidur memikirkannya. Aku tidak ingin kotbah sulungku gagal. Itu bisa menjadi kesan pertama yang jelek sekali dan berakhir fatal. Akhirnya semua kotbahku kutuliskan dan sebagian kuhapal mati. Saat kotbah kulihat jemaat memperhatikanku, diam, dan sebagian manggut-manggut. Mereka tenang. Berarti aku berhasil berkotbah menggunakan Bahasa Batak. Tapi kalau kuingat-ingat lagi sekarang kotbah sulungku itu, aku sungguh malu.

PARHALADO SISUAN BULU

Aku masih muda sekali. Umurku 25 tahun. Aku culun. Cungkring. Belum menikah pula lagi. Tapi saban minggu aku harus duduk semeja dengan para parhalado yang sudah tua dan ubanan dan berkarat di Sibolga Julu ini. Mereka, yang dalam istilah HKBP, selalu disebut sebagai sisuan bulu atau “penanam bambu”, maksudnya orang-orang yang punya andil dan “saham” besar di jemaat tua ini. Namun entah kenapa aku betah bersama mereka. Aku tidak mengalami kesulitan beradaptasi. Sepertinya mereka, orang-orang tua sitotas nambur atau penebah embun di jalan bersemak ini menerimaku baik dan ramah sekali. Juga hormat. Aku disapa sebagai Amang. Bapa. Aku bangga sekali dituakan. Ya, wajarlah aku laki-laki. Saat muda senang dituakan, setelah tua ingin dianggap muda. Namaku di jemaat selalu ditulis sebagai Kandidat Pendeta Daniel Harahap.

Semua menurutku berjalan normal dan wajar. Aku rileks sekali bergaul dengan para sintua juga perempuan-perempuan tua par-ari Kamis. Tapi aku baru tahu di kemudian hari, kenapa aku tidak mengalami hambatan di Sibolga Julu ini. Seorang sintua muda mengatakan rahasianya kepadaku, katanya: aku hormat sekali kepada orang-orang tua ini, dan mereka terkesan sekali. Katanya aku walaupun calon pendeta tamatan Jakarta selalu memberikan orang tua kursiku, selalu duluan memberi salam, sangat santun bertutur, dan lain-lain pujian yang membuat hidungku kembang-kempis. Bangga. Padahal aku merasa sikapku selama ini biasa-biasa saja. Normal. Bahkan jelaskannya lagi, orang-orang tua itulah yang membela ketika aku, terutama penampilanku, apalagi gaya rambutku yang tidak seperti pangkas pendeta, dikritik sebagian orang. Mereka seakan berkoor: Na burju do i. Maksudnya: aku orang baik. Penampilanku jangan diributkan. Hahaha. Aku dapat satu kata kunci pencerahan: kalau mau berhasil di HKBP hormatilah orang tua. Bahasa Bataknya: parsangapi ma angka natorasmu .

PENDETA RESORTKU PERTAMA

Pendeta Ressortku di Sibolga Julu namanya Armijn Sihite. Badannya kekar, apalagi lengan atasnya. Berisi. Matanya bulat dan tajam. Suaranya menggentarkan. Di sermon dia selalu menarik nafas seperti banteng yang siap menanduk. Tapi dia sangat baik kepadaku. Dia selalu memanggil aku: anggia . Adik. Menurutku dia orang jujur. Dia punya cita-cita memajukan HKBP. Tapi aku mendapat kesan bahwa dia tidak cocok dengan Praeses kami dan hampir tak pernah berkomunikasi secara informal. Aku pura-pura tidak tahu saja. Namun ada soal lain, sepertinya dia juga kesulitan berkomunikasi dengan Eforus SAE Nababan. Dugaanku benar. Enam bulan kemudian tiba-tiba dia dicabut dari Sibolga Julu dan dipindah ke Seminari Sipoholon. Penggantinya tidak dikirim. HKBP Sibolga Julu kosong dan dipegang langsung oleh Praeses. Katanya dia terlibat gerakan “par-ritrit”, yaitu kelompok mantan Sekjen PM Sihombing yang ingin menggulingkan Eforus Nababan. Aku sedih sekali. Jujur, aku tak melihat dia punya kesalahan.

GAJI PERTAMA

Tak terasa sebulan sudah aku di Sibolga Julu. Ini waktu menerima gaji. Bendahara kami sintua, marga Simamora, badannya kecil, dia selalu naik honda bebek, dengan tas ecolak diikat di belakang motornya. Dia sangat rajin berkantor. Pendeta selalu berkantor di rumahnya, maklumlah jemaat kampung, tak banyak kegiatan. Bendahara satu-satunya yang rutin datang ke kantor yang tidak pernah dibuka jendelanya itu. Aku pun menerima gaji sesuai surat penugasan Kantor Pusat. Besarnya: Rp 52.000,- (lima puluh dua ribu rupiah). Tahun 1986. Aku tertawa geli. (sewaktu mahasiswa Teologi di Jakarta aku menerima beasiswa dari Dr RP Sidabutar Rp 250 ribu per bulan). Ya sudahlah, apa mau dikata. Semua ini pilihanku. Namun sekedar sebagai bandingan, temanku tamat dari Fakultas Hukum UKI yang bersamaan tammat denganku, diterima kerja di bank swasta menerima gaji pertama Rp 1 juta. Langit dan bumi memang jauh. Antara Jakarta dan Sibolga ada jurang.

Tapi mujizat memang benar-benar ada. Aku tidak pernah meminta-minta. Juga tidak mencuri (selain kesempatan juga tidak ada). Namun aku bisa hidup berkecukupan di Sibolga Julu ini. Kesaksianku itu berkat Tuhan. Benar kata Alkitab, pertolongan Tuhan tidak pernah bisa diduga, tapi tak pernah terlambat. Kadang ada orang mengantar sayuran dan pisang ke rumah. Kadang lauk. Di sini kemana-mana aku berjalan kaki, tak perlu ongkos. Aku juga bebas sekali meminjam sepeda motor Guru Huria Nikanor Bancin. Sebab itu aku sebenarnya tidak butuh banyak uang. Candaku selalu, di rumahku ada “mujizat” seperti di kampung Sarfat dalam cerita Perjanjian Lama, beras di rumahku tidak pernah berkehabisan berbulan-bulan, apalagi bawang dan jahe. Mau tahu rahasianya? Soalnya aku jarang sekali masak. Jadi pantas saja beras itu tak pernah habis. Aku lebih suka makan mie Cina bikinan Batak di tepi sungai dekat jembatan Sibolga Julu, yang daging babinya dikasih pewarna merah terlalu banyak dan karena itu rasanya pahit. :-)

NASI BELUM MATANG, AKU HARUS PERGI

Tapi makan di warung setiap hari perlu uang banyak. Sebab itu aku harus memaksa diri masak sendiri. Tidak ada masalah. Sejak SD aku trampil masak nasi (walau sangat malas mengepel). Aku pun menyalakan api di dapurku. Minyak tanah habis. Kayu masih basah karena kuletakkan di luar selama ini. Dapurku pun berasap hebat. Mataku perih sekali. Tapi aku terus berjuang menghidupkan api. Berhasil. Namun, tiba-tiba aku dipanggil, katanya ada jemaat yang meninggal, dan harus ke sana menemani pendeta resort. Oala. Padahal nasiku belum matang. Akhirnya periuk itu kuangkat saja, dan apinya kusiram. Asap membubung di seluruh rumahku. Sorenya setelah pulang, aku sudah tak berselera lagi menyalakan api melanjutkan memasak nasi itu. Aku memilih tidur dengan perut berbunyi.

BELAJAR MENGUBUR ORANG MATI

Lonceng gereja dipalu lambat. Itu artinya ada jemaat yang meninggal dunia. Banyaknya bunyi lonceng menunjukkan umur yang mati. Besoknya aku disuruh pendeta ressort mengubur orang mati. Aku belum pernah. Agenda sudah kupelajari. Tapi aku gembira. Ini pengalaman baru. Namun aku baru tahu bahwa di sini orang mati dikubur di bukit-bukit. Kita harus jalan kaki mendaki. Aku merasa letih sekali, maklumlah aku jarang olahraga. Pemuda ngos-ngosan. Namun bukan itu yang paling sulit. Sepanjang jalan bersemak banyak salohot . Itu sejenis rumput liar yang bunga-bunganya seperti duri suka lengket di celana. Pulang dari kuburan kita harus mencabuti rumput2 itu. Apalagi jasku bukan wol benaran, salohot itu gampang sekali lengket namun susah sekali dibersihkan.

Namun kali berikut ada masalah lain. Cuaca mendung. Namun pidato-pidato upacara pemberangkatan jenazah tidak terpengaruh cuaca, tetap saja terlalu panjang. Biasalah. Aku heran kenapa orang-orang Batak ini suka sekali ngomong. Berulang-ulang. Tidak ada titik. Tidak ada juga yang mendengarkan. Seperti orang ngomong sendiri dan bangga sendiri. Akhirnya aku menyelutuk, “molo marpidato songon i ma ganjangna hamu, alai tong do iba annon tu gambo-gambo i”. Maksudku: kalau pidato kalian itu panjang sekali, tapi giliran ke lumpur kuburan kan hanya aku saja. Benar. Hujan turun deras sekali. Hanya keluarga dan sintua dan aku yang naik ke bukit kubur. Orang-orang yang berpidato itu tenang-tenang tinggal di rumah. Aku susah sekali. Jasku basah. Salohot. Lumpur. Bukan hanya jas tunggalku, tetapi juga agendaku basah, sebagian hurufnya luntur. Padahal itulah satu-satunya buku Agenda Ibadahku.

Pulang kuburan sudah larut sore. Aku sedih sekali. Jas biruku kuyup. Ini satu-satunya jasku, sementara besok hari Minggu. Alangkah malangnya. Akhirnya jas biru itu kulap hati-hati dengan handuk basah, minimal bercak-bercak merah lumpurnya hilang. Tapi aku tidak punya kipas angin untuk mengeringkannya, karena itu besoknya jas itu masih lembab. Aku mencari akal. Jas harus diseterika. Akibatnya sudah bisa diduga: bau keringat goreng. Alamak. Jas apek itu lantas kuangin-anginkan agar baunya tidak begitu menyengat. Tapi lembabnya tetap. Badanku bergidik tak nyaman begitu mengenakannya. Panas-panas dingin. Tapi sudahlah hiburku kepada diri sendiri. Siapa suruh jadi pendeta, di HKBP pula?

SINTUA SIPALU GIRING-GIRING

Marganya Lumban Tobing. Aku lupa namanya. Rambutnya lebih gondrong dari aku. Ke gereja dia selalu berkemeja batik yang dibalut jas beda warna dengan celana, tak lupa pakai gesper tebal. Dia digelari: sintua sipalu giring-giring . Si tukang pukul lonceng. Dia sintua, tapi merangkap bekerja di gereja sebagai pembersih sekaligus pemotong rumput. Kupikir dia sesama orang susah. Dia tak pernah omong di sermon. Tak pernah juga mau menghitung durung2 atau uang persembahan. Alasannya: nanti aku dicurigai. Aku diam menyimaknya: sedih jadi orang miskin kataku dalam hati. Padahal bakat mencuri itu bukan monopoli orang miskin, bahkan lebih banyak berkembang di orang kaya.

Umur Sintua Tobing tentu saja jauh di atasku, dia punya anak yang sudah sekolah, namun dia sahabatku. Kami suka ngobrol, tidak hanya hari Minggu. Sehari-hari aku suka menemani dia memotong rumput halaman gereja yang selebar lapangan sepakbola. Ya, dari kecil aku selalu suka melihat orang memotong rumput. Apalagi melihat belalang-belalang berloncatan karena tidak suka rumahnya dibabat bersih. Tapi Sintua Tobing tidak begitu suka kalau aku ada dekatnya ketika dia memotong rumput. Nanti aku dimarahi, katanya. Kenapa? Pendeta tidak pantas memotong rumput. Siapa bilang, kataku. Kadang2 aku ingin mencoba mesinnya, tapi dia tak pernah mengijinkannya. Alasannya klasik: tidak pantas. Tapi suatu kali dia tidak bisa menolak, sebab dia memotong rumput depan rumahku. Ini rumahku. Lomongku . Artinya: suka-sukaku. Tangki mesin babat itu pun kupanggul dan gagangnya coba kupegang kuat agar baling-balingnya tidak menyambar ke sana kemari. Susah sekali rupanya. Potonganku tidak pernah bisa rata. Kadang kena tanah. Kadang mendesing karena batu. Dia duduk merokok di tangga tertawa-tawa. Akhirnya aku menyerah. Rumput depan rumahku dan kantor gereja bocel-bocel. St Tobing sahabatku dengan senang hati mengulang membabat rumput itu untuk merapihkannya lagi.

ULAR DI DALAM RUMAH BIAWAK DI HALAMAN

Sudah kukatakan tadi, Pendeta Armijn Sihite dipindahkan ke Seminari Sipoholon.. Pendeta resort kami kosong, sementara dipegang oleh Praeses. Artinya rumah dinas pendeta resort juga kosong. Praeses menyuruh aku pindah ke sana. Rumah itu luas dan besar sekali. Kamar tidurnya lima. Tapi isinya bagaikan kepompong kosong. Tak ada sama sekali.

Suatu ketika, pagi-pagi aku bangun kaget sekali. Di pojok kamar tidurku, dekat pintu ada ular. Ular! Aku tak tahu jenis apa. Warnanya hitam, kepalanya merah, segitiga. Bentuk segitiga kepala ular sedari kecil kutahu menunjukkan ular itu berbisa. Berbahaya. Aku tak berani keluar kamar. Ular itu sepertinya memandangku. Matilah aku. Ada sapu tapi dekat pintu, tak jauh dari ular itu. Celaka. Akhirnya aku menjulurkan kakiku, mencoba meraih sapu, tapi takut sekali kalau ular itu langsung memagut betisku. Kedua tanganku pun kucengkeram ke kasur. Lantas kakiku kujulur pelan panjang sekali. Hati-hati meraih. Huh.Desah nafasku. Syukur, gagang sapu berhasil kujepit dengan jari kakiku dan tidak jatuh. Kini aku punya senjata sapu. Tapi aku ingat lagi kepercayaan penduduk di Medan, waktu aku kecil, ular tak boleh dibunuh di rumah. Pantang. Tapi ular ini masuk ke kamar tidurku. Ini benar-benar pelanggaran teritorial. Aku tak perduli keyakinan lama itu. Sambil duduk di kasur aku pun siap-siap beraksi dengan sapu. Ular itu mendesis, mengangkat kepala. Ya Tuhan. Aku takut ular itu meloncat atau menyemburkan bisanya. Aku lantas jongkok di atas kasur. Siaga dan mengambil ancang-ancang. Gedebuk. Ular kupukul. Badannya menggeliat. Puk. Kupukul lagi. Keras. Kena. Selesai. Lantas ular itu kuseret dengan sapu dan serta-merta kucampakkan ke semak halaman depan. Aman. Aku menghela nafas lega, dan pergi ke pasar.

Siang harinya, saat aku pulang naposo sibuk di depan rumahku. Katanya ada ular. Hari itu mereka sudah menangkap tiga ekor ular di halaman. Aku menggigil dan buru-buru masuk rumah, memeriksa semua ruang dan celah. Tak ada. Sejak hari itu sapu itu selalu berdiri di samping tempat tidurku.

Sibolga Julu memang kampung rimba. Pagi-pagi aku mendengar teriakan. Robar! Robar! Aku tak mengerti. Kulihat banyak pemuda sibuk mengejar-ngejar dan menggebah semak. Ada apa? Robar! Apa itu? Biawak. Oalah. Aku tertawa geli. Ini memang kebun binatang. Kemarin ular, sekarang robar , besok monyet, atau jangan-jangan harimau tanyaku dalam hati. Aku tak tertarik mengejar biawak. Tapi mataku melihat ada yang aneh lagi di dapur. Lipan. Panjangnya lebih dua puluh senti. Segera kuhabisi. Kubakar. Aku mencium bau lipan bakar ternyata mirip sekali dengan udang gurih. :-)

(bersambung)

namboru = saudara perempuan ayah
amangboru = suami saudara perempuan ayah
paraman = panggilan seorang perempuan kepada anak laki-laki saudaranya laki-laki
ito = saudara kandung berlainan jenis kelamin
sisuan bulu = istilah untuk para perintis kampung/ jemaat
sitotas nambur = istilah untuk para perintis
salohot = sejenis rumput liar yang durinya suka menempel di pakaian
robar = biawak

Home: http://rumametmet.com

Catatan: Buku Anak Penyu Menggapai Laut dapat diperoleh di jaringan toko buku Gramedia atau dapat dipesan langsung kepada Daniel T.A. Harahap email: harahapdaniel@rumametmet.com atau dta_harahap@rumametmet.com. Harga Rp 40.000 per eksemplar ditambah ongkos kirim 10% (Jawa) dan 20% (luar Jawa).

Share on Facebook

Tags: , , , , , , , ,

8 Responses to ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT (6)

  1. Ingrid on March 5, 2007 at 5:39 am

    Ada hal yg aku ga setuju sama pemikiran Amang. N aku ga tau apakah itu masih berlaku sampe sekarang buat Amang.
    Menurutku, emang HANYA orang miskin yg SELALU mencuri. TIDAK peduli berapa angka nominal dari total hartanya; dari 0 – …. (fill in the blanks).
    Aku?? Hehehe.. Dalam materi, sampe hari ini aku bisa bilang aku kaya (ga tau kalo besok aku tiba2 merasa miskin). Kalo utk hal ilmu, rasanya aku pengen slalu miskin biar slalu punya alasan utk “mencuri”.
    =)

  2. Nainggolan, Jr on January 15, 2008 at 6:58 pm

    Ku baca semuanya, aku jadi teringat dengan kampung halaman ku di Sibolga Julu.
    hahahaha…..

    Tapi sekarang sudah nggak gitu lagi Amang. Semuanya sudah bagus kok…
    Sekali-kali Amang datang lah k Sibolga Julu biar makan mie kita….
    hhahahahaah…..

    GBU

  3. Tohap on February 11, 2008 at 3:34 pm

    Hmm menarik sekali amang .. (panggilan amang ini sy gunakan terakhir kalinya 7 thn y lalu). Sy jd berminat sekali dgn kelanjutannya.
    Jaman remaja sy dl, sy pengagum SAE Nababan (amang py biografi atau tulisan y berhubungan dgn beliau?). Sekarang sy tdk tahu menahu sedikit pun dgn HKBP (ha.ha.ha jd curhat neh..)
    Thx amang.

  4. Delora L.Toruan on July 23, 2008 at 8:26 pm

    Setelah membaca cuplikan buku amang saya langsung terbayang kampung halaman mertua di Sibolga, awal karir yang cukup baik karena ditempatkan pada lingkungan yang orang bataknya agak halus dalam bertutur kata. Saya belum membaca buku amang tp saya akan mencoba untuk membacanya.

    Dari cuplikan yang saya baca amang menceritakan tentang awal karir masa mudanya, bagaimana bila amang mencantumkan foto masa muda menjadi pendeta dengan jas birunya dengan suasana pedesaan di Sibolga…. (keren kali ya mang )

    Daniel Harahap:
    Wah foto-foto masa muda saya ada dimana ya?! Berceceran. Kayaknya mesti kerja keras dan cari modal dulu mengumpulkannya dan mendigitalkannya supaya bisa masuk ke web. :-)

  5. saurdot on September 11, 2008 at 1:54 pm

    Akhirnya, saya selesai membaca buku ini dengan tuntas. Buku ini akan segera saya beli, karena memang belum beli. Pengalaman indah dalam buku ini dapat saya nikmati karena kebaikan lae ‘kandungku’ (saudara ipar) yang meminjamkan bukunya. “Terima kasih lae”.
    Ditengah kesibukan sehari-hari, saya selalu ingin mencuri waktu untuk menyelesaikannya karena pengen tahu lebih banyak tentang perjalanan hidup seorang ‘manusia’ yang merdeka namun takut akan TUHAN.
    Bagi yang belum membaca, saranku “BACALAH!!!”. Ketika anda mulai, anda tidak sadar telah mengakhirinya.
    Bagian per bagian ditulis dengan baik dan penuh makna. Lucu dan Lugas. Namun, terkadang mata berair dengan sendirinya karena terharu hanyut dalam untaian cerita yang indah. Di lain episode, tersenyum geli karena penulis sedang usil dan menganggapnya biasa-biasa saja.
    Nah ini dia. Berani! Banyak hal yang diungkap (menurut versinya) tanpa takut konsekuensi bila buku itu dibaca oleh orang yang terlibat dalam peristiwa yang bersangkutan, apalagi beberapa diantaranya adalah orang-orang hebat dalam karirnya. Sebuah otobiografi yang jujur. Penulis menceritakan hidupnya apa adanya. Sering dia menyentil yang ada disekelilingnya, namun dia tidak lupa pernah mentertawakan dan mengolok-olok dirinya. Namun bagiku, semua itu meninggalkan pelajaran berharga.
    Aku kagum kepada penulisnya.
    Aku sedang menunggu buku-buku berikutnya.
    Doaku, “Tuhan memberkatimu dan menyertai terus pelayananmu Amang DTA Harahap”.

  6. James Siahaan on January 17, 2009 at 9:23 pm

    Horas amang dan salam kenal ..
    Apakah saya bisa pesan bukunya karena ditempat saya balikpapan, tidak ada yang jual buku ini

    Horas, James

    Daniel Harahap:
    Dengan senang hati. Kirimkan saja alamatnya ke harahapdaniel@rumametmet.com Harga bukunya cuma Rp 40.000 tambah ongkos kirim 20%. Dapat ditransfer ke: nomor rekening yang ada di halaman depan blog ini.

  7. Rejeki Parningotan Sipahutar on November 20, 2009 at 8:22 am

    Horas Amang dan salam kenal. Trimakasih atas sharing kehidupan dan info bukunya :)
    Kasih dari Tuhan kita Yesus Kristus akan selalu menyertai umat-Nya dan Pelayan Firman-Nya.

  8. Marlyn Tamba on April 24, 2010 at 7:37 pm

    horas amang… buku “Anak Penyu Menggapai Laut ini” sdh ada di toko buku atau blm??? klo sudah ada, di toko buku mana ya??? mauliate godang amang// :)

    Daniel harahap:
    Tadinya dijual di toko buku Gramedia, namun sekarang tidak lagi. Jika ingin, bisa langsung pesan ke penulisnya. :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*