ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT (5)

February 28, 2007
By

anak-penyu-menggapai-laut1.jpg

Cuplikan Buku Anak Penyu Menggapai Laut

Pengembaraan seorang muda belajar Teologi, menjadi pendeta dan pribadi otentik.

Oleh : Daniel T.A. Harahap

Naik capung di langit Jayawijaya

Jam 10.30 WIT. Wamena. Pinggang dan bahuku terikat erat di bangku depan pesawat Cessna milik MAF (Mission Aviation Fellowship). Baling-baling pesawat itu sudah berputar kencang sekali. Mike meletakkan kopinya di atas kokpit, membetulkan letak kaca mata gelapnya, dan lantas tersenyum. Lelaki yang tadi membantu Mike mengisi avtur pesawat mengangkat jempolnya, kemudian berjalan mundur menjauhi pesawat. Aku menahan nafas. Pesawat capung itu pun bergerak pelan ke ujung landasan, berhenti sejenak mengumpulkan tenaga, lantas lari sekencang-kencangnya di landas pacu berangin. Tiba-tiba saja aku merasa tubuh dan jiwaku sudah melayang-layang di atas lembah Baliem, Jayawijaya.

Aku kecut tapi excited sekali. Seumur hidup aku belum pernah naik pesawat kecil, yang sewaktu kanak-kanak kami sebut “pesawat capung”. Bangga campur gemetar. Takut-takut nikmat. Pesawat mungil itu menari-nari di sela-sela pegunungan belantara Jayawijaya. Perasaanku pesawat itu terbang rendah sekali, sepertinya hanya beberapa puluh meter di atas kanopi, dan itu membuat aku takut sekali suatu saat dia menabrak pepohonan dan kami berempat segera remuk berkeping-keping. Namun kadang tiba-tiba saja kami malah terbang menaik tinggi mengatasi gunung, lari terbirit-birit menghindar gumpalan awan putih, kemudian balik terbang merendah kembali sehingga aku bebas menikmati alur-alur sungai jernih gemercik atau kawanan burung terbang. Persis bermain-main. Ya, perasaanku, aku ibarat seekor burung kecil yang sedang belajar terbang mengudara di atas angkasa tak berbatas, setiap saat bisa saja jatuh, dan yang paling kukuatirkan aku dinyatakan hilang di tengah rimba pedalaman Papua ini.

Sabar, Bapa, kita cari sekali lagi, kata pilot bernama Mike. Aku tak mengerti apa yang dicarinya. Katanya lubang awan, supaya kami bisa mendarat. Lubang awan? Pesawat mungil itu pun menengadahkan moncongnya ke langit, terbang naik, kemudian memutar jauh sekali lagi. Aku tak bisa melihat apa-apa di bawah kecuali gumpalan-gumpalan awan tebal. Tiba-tiba pesawat itu menukik cepat sekali. Aku hanya mampu berdoa pasrah: Tuhan selamatkan jiwaku. Gedebruk, pesawat itu terasa menyentuh bidang keras, kemudian lari terguncang-guncang dan melompat-lompat kecil. Aku melihat di depanku membentang landasan tanah merah di tengah rimba hijau. Kita sudah sampai Bapa, kata Mike, senyum dan lantas menghirup kopinya nikmat sekali. Terima kasih Pak, kataku.

Aku segera dibantu Mike melepaskan sabukku. Oala. Di luar pesawat rupanya banyak sekali orang berkerumun. Wajah-wajah bulat, mata bening, rambut keriting, tubuh-tubuh hitam dan telanjang. Ya ampun. Seumur hidup aku belum pernah dikerumuni oleh laki-laki dan perempuan yang hanya menutupi kelaminnya saja. Mereka menebar senyum ramah dengan gigi-gigi putihnya. Ya Tuhan, dimanakah aku berada? Aku berdiri terpana menyaksikan pemandangan aneh bin ajaib ini. Rasanya aku sedang berada di dunia fantasi saja.

Seorang lelaki berkaos oblong menghampiriku: “Selamat datang di pintu surga”, sambutnya sambil senyum. Dia adalah Pdt. Herman Saut, pendeta penginjil di pos Apahapsili, lembah Yali Jayawijaya. Aku membalas senyum dan jabat tangannya, kemudian permisi sejenak mengeluarkan ranselku. Pdt Herman dan Mike tampak akrab, mereka ngobrol. Namun rupanya ada masalah: ada penumpang jatuh dan tidak ketahuan dimana. Apa? Dari Wamena selain aku, ada seorang perempuan dan anaknya, dan selain itu seekor babi. Yang terakhir ini tadi dimasukkan ke bagasi bawah pesawat, dan setelah mendarat tidak ditemukan. Mungkin babi itu jatuh entah dimana. Mike geleng-geleng kepala, penduduk yang mengerumuni kami terdengar riuh mungkin mendiskusikan insiden babi jatuh itu. Aku senyum geli. Baru kali ini aku terbang bersama seekor babi, namun sayang sekali ia bernasib nahas.

Namun Mike sudah siap-siap terbang lagi. Mantan pilot pesawat tempur AS di perang Vietnam ini tampak sangat menghayati tugasnya sebagai pilot pesawat missi di pedalaman Papua. Wajahnya yang kemerah-merahan tak pernah lekang dari senyum keramahan. Dari balik jendela pesawat tampak ia melambai. Pesawat capungku itu pun terbang lagi dan menghilang dibalik bukit diantar ratusan tatap mata kagum dan ingin tahu. Pdt Herman Saut lantas mengajakku ke rumahnya yang terletak di atas bukit kecil tak jauh dari landasan. Seorang pemuda dengan sukarela membantu membawa ranselku. Aku baru sadar landasan itu memang benar-benar dari tanah dan tanpa menara pengawas, dan yang paling menakutkan berada di bibir jurang dalam. Syukurlah Tuhan masih baik kepadaku.

Apahapsili hanyalah persinggahanku. Aku masih harus terbang lagi besok kurang lebih dua puluh menit ke timur. Namun malam ini aku dijamu oleh Keluarga Pdt Herman Saut di rumah kayunya. Dia bercerita banyak tentang kehidupan penginjil di pedalaman Papua. Konon pos Angguruk dibuka oleh seorang missionaris Jerman bernama Gunther Kreiss. Dia diturunkan dengan heli memakai tali. Namun belum sampai ke tanah sang missionaris sudah dihujani panah dan tombak, dan karena itu dalam keadaan luka-luka ditarik kembali dan segera dilarikan ke Biak lantas dari sana diterbangkan ke RS Singapura. Beberapa bulan kemudian Gunther Kreiss sembuh, dia datang lagi ke Angguruk, dan diterjunkan lagi ke hutan belantara itu. Dan ia berhasil membuka isolasi berabad-abad suku Yali dari dunia luar, dan memperkenalkan Injil kepada mereka.

Kumbang Besi

Keesokan harinya aku harus berangkat lagi. Sebuah helikopter mungil sudah dipanggil khusus untuk mengantar aku ke posku di Kosarek, di lembah Yalimo dekat perbatasan PNG. Pilotnya juga Amerika, aku lupa namanya, katanya juga mantan tentara AS di Vietnam, dan juga ramah, dan fasih berbahasa Indonesia. Ia membantuku mengikatkan tali sabuk di pinggang dan bahu. Diantar lambaian tangan Pdt Herman Saut dan puluhan penduduk Apahapsili, kumbang besi itu pun segera terangkat dari tanah, dan mengayun sesaat, kemudian terbang ke arah Timur, melintas padang kanguru, sungai-sungai bening, dan rimba tropika Jayawijaya yang luar biasa indah, namun sayang tak sepenuhnya bisa kunikmati karena aku takut sekali mati.

Kosarek, Kosarek kau yang terkecil di lembah Yali

Aku tiba di Kosarek siang hari mendung berawan, disambut oleh hampir seratus orang yang sebagian besar menurutku berpakaian sangat aneh. Laki-lakinya bertelanjang dada, mengenakan gulungan rotan di pinggang, dan koteka atau penutup penis. Perempuannya juga bertelanjang dada, dan hanya mengenakan cawat rumput sangat minim. Beberapa orang mengenakan pakaian “moderen” kumal lusuh. Aku menarik nafas dan mengatakan kepada diriku berulang-ulang agar tidak memberikan penilaian moral kepada apa yang kuanggap aneh ini. Aku akan belajar menerima semua keasingan ini secara ikhlas, mencoba memahaminya dan bersimpati.


Seorang lelaki atletis, berbaju olahraga biru, berjanggut, menyambutku. “Selamat datang di Kosarek. Saya Pdt Max Kafiar”. Aku pun mengulurkan tanganku, “saya Daniel Harahap, mahasiswa STT”. “Ya, kami sangat senang, ini pertama kali seorang mahasiswa STT berpraktek di pedalaman Papua”.


Sambil berjalan diiringi oleh penduduk desa yang ingin tahu, Pdy Max menceritakan kepadaku bahwa Kosarek adalah sebuah Pos Pekabaran Injil yang baru saja dibuka sepuluh tahun lalu, kira-kira tahun 1976, sebab itu kondisinya benar-benar minim. Terletak di lembah Yalimo di urat pegunungan Jayawijaya, Kosarek dihuni oleh suku Mek. Ya namanya suku Mek. Sebelum Injil datang membuka isolasi berabad-abad, suku Mek benar-benar masih hidup di jaman batu. Mereka belum mengenal logam, apalagi plastik. Suku ini membangun rumah-rumahnya (honay) yang terbuat dari rotan dan gelagah di atas urat-urat gunung, dan hidup dari berburu, mengumpul hasil hutan, dan bercocok tanam sederhana.

Kosarek sendiri terdiri dari belasan kampung kecil yang dibangun di atas punggung bukit-bukit yang berjarak tempuh tiga sampai dua belas jam. Namun jangan bayangkan Kosarek sebuah desa seperti di Jawa atau Sumatera. Kosarek benar-benar terpencil, hanya bisa dijangkau dengan pesawat capung atau heli kumbang tadi. (katanya penduduk asli bisa jalan kaki dari Wamena tiga hari tiga malam melewati gunung salju). Disini tidak ada sekolah, tidak ada puskesmas, tidak ada listrik dan tidak ada telepon, tidak ada polisi, tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa, kecuali kita, gereja. Aku menghela nafas dan mengulang-ulang kalimat itu dalam hatiku bagai litani: di sini tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa kecuali gereja.


Sendiri di dunia

Oleh Pdt Max Kafiar aku diberikan sebuah pondok kayu berukuran 4 x 6 meter, yang terpisah kurang lebih seratus meter dari rumahnya di bukit di atas lapangan terbang. Pondok itu berlantai tanah dikeraskan, dindingnya batang-batang kayu dibelah, sementara atapnya terbuat dari seng. Pondok terdiri dari sebuah “ruang tidur”, sebuah “ruang tamu” dan “dapur”. Sengaja kuberi “tanda petik” karena kondisinya yang sungguh-sungguh minim. Aku langsung membayangkan pondok Robinson Crouse yang hidup sendirian di pulau terpencil. Perabotannya hanyalah sebuah bale-bale dan meja yang ditempelkan ke dinding, semua dari kayu tanpa amplas apalagi pelitur. Listrik hanya ada dalam mimpi. Air harus diusung dari jeram kecil di atas bukit belakang rumah. Ya, itulah milikku di pedalaman Papua ini. Aku ikhlas di hati.

Merah senja berganti biru gelap malam. Suara-suara burung sore tak terdengar lagi. Aku pun masuk ke pondokku. Pesan Pdt Max Kafiar: jangan kunci dapur. Aku tak mengerti apa maksudnya, namun kuturuti saja. Tapi, ruang tamu kugrendel dengan palang kayu. Lantas aku ku menyalakan lilin yang sudah kupersiapkan dari Jayapura. Terdiam. Merenung dan melamun sendiri. Begini ini rupanya pedalaman Papua, kataku dalam hati. Ini sudah tahun 1986: namun di pedalaman sini masih jaman batu. Alangkah prihatinnya. Alangkah jauhnya. Aku teringat lagi pertemuan tiga hari lalu di Jayapura, di kantor Sinode GKI Irian Jaya. Kami ada tiga orang mahasiswa STT Jakarta yang nekad berpraktek lapangan ke Irian (sebutan Papua jaman itu). Yaitu: Rimma Siahaan, cewek Batak beraksen Toli-toli dan Cliff Sahetappy, si Ambon penyanyi. Sekertaris Umum Sinode Pdt Karl Erari menawarkan kepada kami memilih sendiri tempat praktek, sebab Irian luas sekali. Cliff langsung memilih Biak, entah kenapa dia memilihnya. Rimma mengatakan terserah, dan dia dipilihkan di kampung air di danau Sentani, tak jauh dari Jayapura, mungkin karena dia perempuan. Terakhir aku ditanya: aku hanya ingin punya pengalaman hidup di pedalaman. Pdt Sawen Ketua Sinode tertawa, “oh bagus, besok pagi bisa langsung berangkat, ada satu pos Pekabaran Injil yang belum sepuluh tahun dibuka, itu tempat bagus, namanya Kosarek, di lembah Yalimo, sudah dekat ke Papua Nugini”. Jadilah aku berangkat ke Kosarek ini. Sebab itu aku tak ingin mengeluhkan apalagi menyesali kondisi apapun yang kujumpai sebagai konsekuensi pilihan sendiri. Tapi kenapa malam ini begitu gelap dan sunyi?

Aku tidak mau bohong, aku sangat takut. Ya, aku ciut sekali. Ketakutan seorang yang merasa sendiri di tengah kegelapan dan dunia asing. Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali. Perasaanku di luar sana ada terlalu banyak bunyi, dan aku tidak tahu itu bunyi apa, dan celakanya bunyi-bunyi aneh itu sangat dekat, bahkan terasa mengais-ais dinding, mendebar atap juga mengorek lantai dari bawah tanah. Aku langsung membayangkan bermacam-macam binatang buas: harimau, beruang, singa, dan badak. Ampun ngerinya. Tapi bodoh sekali. Mana ada di Papua binatang-bintang itu kataku sambil senyum sendiri. Lantas itu bunyi apa? Hantu-hantu hutan belantara? Aku tak percaya hantu, tapi siapa tahu. Ular? Itu yang paling kutakutkan dan itu nyata-nyata ada di sini. Aku pernah mendengar cerita tentang ular berkaki di hutan Irian. Bagaimana kalau ular berkakiu itu nanti masuk lewat celah dinding dan menyelusup ke kantong tidurku? Mengenakan sweater, kupluk dan celana training aku meringkuk dalam sleeping bag dan berdoa semoga Tuhan ada di sini.

Pasar perjumpaan

Pagi tiba. Udara masih dingin sekali. Aku pun keluar pondokku, terasa segar sekali. Matahari bersinar dari balik bukit menghangatkan tubuh dan jiwaku. Suasana ramai sekali. Burung-burung nuri hijau dan merah ribut sekali di pohon dekat pondok. Aku tiba-tiba merasa seperti berada di Taman Firdaus, sebelum Adam dan Hawa berbuat dosa. Namun ada pemandangan unik. Aku melihat iring-iringan orang berjalan dari segala penjuru, menuju satu titik: lapangan terbang. Ada apa gerangan, tanyaku.

Kata Pdt Kafiar yang datang menjengukku ini hari pasar, dilakukan sekali seminggu, saban Jumat. Mari kita lihat! Masyarakat suku Mek dari kampung-kampung yang jauh turun ke “pusat desa” membawa hasil kebun dan buruannya. Pisang, talas, ubi jalar, singkong, daging babi dan tembakau, dan macam-macam lain digelar di tanah. Aku langsung gembira. Ini even menarik sekali. Transaksi pasar ternyata bisa dilakukan dengan dua cara: barter atau dengan uang. Gereja sudah memperkenalkan uang kepada penduduk asli dan mereka sudah menggunakannya sebagai alat tukar.

Aku pun ikut bergabung di antara kerumunan penjual merangkap pembeli. Asyik sekali melihat-lihat, tapi saban-saban aku merasa geli tersenggol koteka. Aku juga tidak berani terlalu dekat dengan perempuan-perempuan mengenakan monokini dari anyaman rumput. Aku bingung mau beli apa. Mataku tak habis pikir melihat mereka juga menjual daging kuskus, burung merpati mahkota, dan nuri hijau. Oala. Apa mereka tidak tahu ini binatang langka yang harus dilindungi? Bingung tidak tahu mau belanja apa, akhirnya aku membeli pisang dua tandan (baca: dua tandan) dan ubi jalar entah berapa kilo. Harganya murah sekali. Tapi, aku balik lagi ke pasar itu. Kupikir aku tidak mungkin hanya makan pisang dan ubi. Aku pun membeli daging babi dan jantung pisang. Aku tiba-tiba saja ingat, entah dimana, aku pernah makan daging babi cincang dan jantung pisang, lezat sekali. Pahit-pahit manis.


(Siangnya aku pun masak: daging babi cincang campur jantung pisang! Air liurku langsung terbit bahkan sebelum masakan itu jadi. Lezat sekali. Namun malamnya perutku melilit. Benar-benar melilit, sepanjang malam. Kapok.)

Kampus baru teologi

Sewaktu aku datang, Kosarek belum sepuluh tahun dibuka. Karena itu kontak dengan dunia luar masih sangat minim. Di Kosarek belum ada domba, ayam, sapi. Juga tak ada padi, sebab itu tidak ada beras. Minyak tanah dan minyak goreng (untuk pendeta penginjil) didatangkan dari Wamena atau langsung Jayapura dengan pesawat missi. Gereja punya sebuah toko kecil menjual parang, cangkul, pisau, sekop, panci, garam, sabun, margarin, minyak tanah, dan lilin. Sebelumnya penduduk tidak mengenal sama sekali benda-benda itu. Apa yang harus kulakukan disini? Aku bingung sekali. Rasanya semua pengetahuan dan kepintaranku yang kubawa dari Jakarta runtuh dan remuk seketika dibenturkan dengan realitas hidup pedalaman ini.

Bagaimana pula mengajar Alkitab kepada suku Mek? Menurut Pdt Max Alkitab bahasa Mek baru saja diterjemahkan, dan baru ada Injil Lukas. Bagaimana aku bisa menceritakan tentang Yesus kepada suku yang baru keluar dari isolasi ribuan tahun ini? Yesus Pokok Anggur yang benar? Mereka sama sekali tidak kenal pohon anggur. Yesus Anak Domba Allah? Mereka juga tidak tahu apakah itu domba. Kekudusan pernikahan dan hidup berkeluarga? Mereka hidup di honay terpisah. Laki-laki berkumpul di satu honay dan perempuan yang sudah beranak tinggal di honay masing-masing dengan anaknya yang masih bayi dan babi-babi, dan hanya bertemu saat-saat khusus di ladang atau hutan untuk berhubungan seks. Lantas apa yang mesti kuajarkan? Tidak ada. Aku tidak perlu mengajar di sini, aku justru yang harus belajar lagi: tentang hidup, manusia, alam dan Tuhan. Ya, Kosarek tersedia sebagai kampus baru teologi bagiku.

(bersambung)

Home: http://rumametmet.com

Catatan: Buku Anak Penyu Menggapai Laut dapat diperoleh di jaringan toko buku Gramedia atau dapat dipesan langsung kepada Daniel T.A. Harahap email: harahapdaniel@rumametmet.com atau dta_harahap@rumametmet.com. Harga Rp 40.000 per eksemplar ditambah ongkos kirim 10% (Jawa) dan 20% (luar Jawa).

Share on Facebook

Tags: , , , , , , , ,

5 Responses to ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT (5)

  1. Pahala Panjaitan on November 26, 2007 at 4:15 am

    Tanggal. bulan dan tahun kejadiannya kurang lengkap

  2. daniel harahap on November 26, 2007 at 4:58 am

    bagaimana kalau beli bukunya aja di gramedia, pahala :-)

  3. japarmen on November 26, 2007 at 10:43 pm

    Iya lae Pahala, saya juga sudah punya dan juga telah selesai membaca bukunya, sederhana dan sangat jujur pengutaraannya. Salah satu buku yang menurut saya perlu dibaca oleh siapapun juga. Saya sering membaca buku, tapi saya baru rasakan membaca buku seolah saya bersama penulisnya ikut di dalamnya melalui semua yang tertulis di buku itu, pada buku ini.
    Horas…..

  4. OTTYS KAMBUE on October 1, 2009 at 4:30 pm

    horas….
    wan nangkae…..

    salam dalam kasih kristus, saya senang membaca cuplikan buku tentang anak penyu menggapi laut dan saya sangat senang, ucapamn selamat dalam bahasa mek Kosarek yang saya dahulukan adalah merupakan keterharuan saya tentang kampungku Ko0sarek yang ditulis oleh Pdt. Daniel Harahap.
    syallom bagi anda sebab kesaksian Pdt. Daniel Merupakan sangat luar biasa, saya sebagai anak kosarek sangat senang dan bergembira karena kampungku yang sulit sekali di kunjungi oleh orang kota tetapi hal ini merupakan hal yang sangat luar biasa

    Daniel Harahap:
    Ottys, aduh saya masih bisa membayangkan keindahan Kosarek walau sudah 25 tahun berlalu. Kapan lagi saya bisa ke sana ya? Negeri sejuta jeram. Kampung-kampung di urat gunung. Mata-mata yang bening dan tajam. Kwaneng! Oh. Sampaikan salam dan doa saya untuk semua sahabat Kosarek.

  5. ronald kabak on January 28, 2011 at 1:34 pm

    SAYA SEORANG ANAK YALIMECK SANGAT SENANG..

    Daniel Harahap:
    Wai! :-)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*