Cupkikan Buku:
ANAK PENYU MENGGAPAI LAUT
Pengembaraan seorang muda belajar Teologi, menjadi pendeta dan pribadi otentik
Oleh: Daniel T.A. Harahap
1988: Pulang ke HKBP
Agustus Delapan-delapan. Hanya beberapa detik setelah diwisuda di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Proklamasi 27, aku sudah mengambil keputusan: pulang ke HKBP. Pokoknya: pulang ke HKBP. Ya, sekarang aku Sarjana Theologia, disingkat STh. Bangga sekali. Di belakang namaku kini aku boleh menulis tiga huruf pengangkat status: STh. Selain itu aku juga lulus dengan predikat
sangat memuaskan
. Bahkan kata DR Victor Tanja kepada kawan-kawanku, Daniel, maksudnya aku, nyaris
cum laude
. Artinya hampir. Ya, sudahlah, aku sangat senang bisa mengakhiri semua pergumulan panjang, lima tahun, di kampus teologi yang suka disebut-sebut orang liberal ini. Soal penghargaan
cum laude
, biarlah itu diberikan kepada mahasiswa yang memang benar-benar tekun dan rajin belajar. Kepada Rainny Hutabarat dan Sintje Latuputty. Aku tidak berhak untuk itu. Aku hanya seorang mahasiswa yang suka sok pintar dan terutama tidak disiplin. Aku lebih banyak bermain ketimbang belajar, lebih kerap nonton film di bioskop Megaria daripada berdoa.
Tapi sekarang aku mau jadi pendeta. Aku akan segera melapor ke Kantor Pusat HKBP di Pearaja-Tarutung untuk menjalani praktek pendeta atau masa magang. Catatan: sebelum ditahbiskan dua tahun lagi, aku juga sudah boleh menambahkan enam huruf lagi di depan namaku: Kdt.Pdt. Singkatan dari Kandidat Pendeta. Betapa berwibawanya, kubayang-bayangkan. Pergumulanku di kampus tuntas sudah. Aku benar-benar puas, terutama puas bermain. Puas pula berkawan. Ini waktu untuk sesuatu yang lebih serius.
Ayahku sampai mati bertahan di HKBP, karena itu aku juga akan bertahan di HKBP. Tapi konsekuensinya aku harus pulang kampung. Meninggalkan metropolitan Jakarta dengan segala kemegahan dan kenikmatannya, kembali ke Tarutung. Ah, yang benar saja. Abang-abang dan kakakku dapat mainan untuk menggoda: kau serius mau ke Pearaja-Tarutung, dan ditempatkan di kampung-kampung sana? Ya. Kenapa nggak di Jakarta saja. Kan lebih senang dan nikmat? Tidak. Ya sudahlah, selamat bertulang! Nanti kami kirimi pun majalah-majalah bekas kami baca.
Seumur hidup aku belum pernah menyaksikan ada pendeta mati kelaparan, sebab itu aku tidak takut pulang dan hidup di kampung. Aku segera membeli tiket kapal KM Rinjani. Uangnya tentu saja lagi-lagi dari abangku. Mereka orang-orang tak kaya tapi murah hati kepada adiknya yang memilih jalan hidup ganjil: jadi pendeta. Aku kurang tahu apakah uang-uang yang selalu diberikan kepadaku selama ini berlampiran permohonan doa untuk mereka. Pokoknya aku senang-senang saja menerimanya. Buku-buku, yang kukumpulkan selama lima tahun, sebagian pemberian abangku Roni yang mengatakan sudah bosan miskin ingin berbisnis saja karena itu mewariskan seluruh bukunya yang banyak padaku, juga buku-buku yang kubeli tanpa mikir selama aku jadi mahasiswa kaya karena jadi “anak asuh” ahli ginjal Dr. RP Sidabutar, sudah dipak rapih-rapih dalam kardus-kardus Gudang Garam, dititip di rumah kakakku, nanti akan menyusul
dikirim. Aku hanya membawa ransel besar biruku, berisi pakaian-pakaian, sepatu, Alkitab sampul coklat muda, Bibel bahasa Batak dan Buku Ende. Jangan lupa: satu setel jas yang barusan kujahit di Taylor Pasar Sunan Giri, untuk keperluan wisuda terutama persiapan jadi pendeta. Sebab manalah ada pendeta hkbp yang tidak punya jas. Namun masih ada lagi: sepatu kulit dan beberapa buku tafsir Alkitab. Itu sudah cukup. Selamat tinggal Jakarta. Selamat tinggal Megaria.
Solidarity Forever!
***
Mengawali arung masa depan
Terik siang menyengat pelabuhan Tanjung Priuk. Bersama ratusan penumpang KM Rinjani jurusan Belawan aku berdiri berdesakan, bersandar di pagar kapal yang berminyak. Di bawah sana di dermaga, dan di seberang di anjungan terminal bertingkat, ratusan pengantar berdiri berdesakan juga. Sebagian berpayung menahan panas. Yang tak punya payung atau topi cukup melindungi ubun-ubunnya dengan sapu tangan segi empat. Sementara itu tiap-tiap jendela dek bawah pastilah juga sudah diisi satu wajah culun. Suasana benar-benar semarak, lucu menghibur. Para pengantar maupun penumpang kapal saling mendada, sambil berteriak sekeras-kerasnya memanggil nama saudaranya atau kekasihnya. Atau mengacung-acungkan sapu tangan, tas, atau apa saja yang ada di tangannya, agar diri ini mudah dikenali diantara kerumunan manusia yang menyemut. Suitan-suitan panjang tak henti saling berjawab. Sementara itu, para penumpang yang merasa datang telat
masionjatan
, berdesak-desakan meraih tangga kapal, saling adu kuat dan cepat dengan kuli-kuli yang membopong koper-koper kulit imitasi, kardus-kardus berikat tali rafia, kaleng Khong Guan extra large, dan buntalan-buntalan besar dari kain. Gadis-gadis yang terjepit mengumpat. Seorang perempuan setengah baya malah mencoba memanjat pagar tangga, sambil tetap mengepit kuat-kuat tasnya di ketiak. Beberapa orang pemuda sudah duluan berhasil melakukannya. Mungkin prinsipnya siapa cepat dia mendapat. Atau cuma sekedar mau duluan, dan tak sabar menunggu antrian.
Aku mencoba mengenali abang dan kakakku diantara kerumunan orang banyak. Mereka ada di anjungan terminal pengantar. Mata kami sudah saling bertemu. Aku pun merasa tenang. Seorang penumpang tampak melemparkan bungkusan dari atas kapal, yang serta-merta ditangkap sigap di bawah. Horeee. Berhasil. Para kuli pelabuhan ikut gembira. Sebutir jeruk dibalas dilempar dari bawah, tapi lemparannya rupanya kurang akurat, jeruk itu malah membentur dinding kapal dan jatuh ke laut. Dicoba lagi, berhasil. Aduh senangnya.
Aku masih terus bersandar di pagar kapal menikmati pemandangan gaduh pelabuhan yang mengasyikkan ini. Beberapa penumpang menjatuhkan gulungan pita dari atas, kepada sanaknya yang sengaja mendekat ke bibir dermaga, pita itu pun lantas diulur, masing-masing memegang satu ujungnya, membentuk tali kasih penaut rasa. Cinta Rakyat ala filem India. Para penumpang yang telat, dipacu cemas lari buru-buru naik ke tangga kapal yang sudah terangkat beberapa puluh senti di atas permukaan lantai dermaga.
Tiba-tiba klakson panjang KM Rinjani berbunyi. Dua kali. Suaranya begitu keras, bergema ke langit luas, terdengar jauh melewati pagar-pagar pelabuhan. Tapi itu terasa bunyi yang pilu sekali. Tanda kapal hendak berangkat. Saatnya harus berpisah. Hiruk-pikuk pelabuhan pun mendadak sontak berhenti dan berganti dengan keheningan. Korps Band Kapal yang mengambil tempat di koridor lantai tiga pun segera melantunkan lagu lama Teluk Bayur, ya himne upacara perpisahan kapal penumpang jurusan Tanjung Priuk-Belawan. Dan itu adalah momen yang paling sedih, saat yang selalu ditunggu-tunggu:
selamat tinggal teluk bayur permai
daku pergi jauh ke negeri seberang
……………………………………….
selamat tinggal kasihku yang tercinta
do’akan agarku cepat kembali
ku harapkan suratmu……..
lambaian tanganmu kurasakan pilu didada
kasih sayangku bertambah padamu
air mata berlinang… tak terasakan olehku
nantikanlah aku di teluk bayur
Angin menghembus lembut ibarat sedang mengurapi kapal yang hendak berlayar dengan dupa minyak dan bau laut. Kelasi-kelasi berdiri gagah di anjungan dan di posisi masing-masing, bersikap takzim kepada sebuah ritus perpisahan yang selalu berulang, kali ini Tanjung Priuk kemarin dulu di Belawan, namun tetap saja mengundang air mata keharuan. KM Rinjani ditarik paksa menjauhi dermaga beton bersangga ban-ban raksasa. Di dekatku, seorang perempuan bergaya Par-ari Kamis, bersanggul cemara, scarf ungu penutup kepala, tak kuat memandang kerumunan manusia yang melambai-lambai di dermaga dan terminal, dia menutup mukanya dengan saputangan handuknya menangis terisak-isak. Sepasang pengantin baru mesra terus berangkulan. Ribuan pasang mata basah tak ingin berhenti saling menatap.
Upacara perpisahan itu entah kenapa terasa khidmat sekali. Tak ada lagi tawa-canda, desak-desakan, adu cepat di tangga. Yang tinggal hanyalah siulan-siulan panjang menyayat, teriak parau memanggil nama-nama orang tercinta, dan tentu saja tangan-tangan melambai pasrah. Air mata pun bercucuran. Di mana-mana. Sama-sama sedih memang, tapi selalu jauh lebih sedih yang ditinggal ketimbang yang pergi. Pita-pita merah penghubung dua hati yang semula kendur itu pun kian regang kian tegang dan akhirnya benar-benar putus terpisah jadi dua. Meliuk sebentar, kemudian jatuh. Seuntai menggantung di sini, seuntai lagi tergeletak di sana, dipisah laut dalam. Resmilah sudah sebuah perpisahan. Aduh, alangkah sedihnya. Air mataku pun ikut berlinang.
Pelabuhan Tanjung Priuk tampak makin kecil, dan kian mengecil saja, sampai tinggal satu titik hitam yang hanya mampu dibayangkan. Tangan-tangan ini sudah berhenti melambai. KM Rinjani terasa berbelok dan kemudian berhenti sejenak. Membunyikan sekali lagi klakson panjangnya, seakan hendak memberi salam, permisi mengarung laut terbentang yang selalu diliputi misteri dengan sikap santun dan hormat. Ya, persis bagai kura-kura raksasa yang berenang lambat menggendong semua anak-anaknya dengan satu tekad selamat sampai tujuan.
Kapal sudah di tengah-tengah lautan. Angin pun kian deras. Kencang sekali. Satu per satu penumpang sudah masuk ke kamarnya. Tapi aku malah pindah ke anjungan menyongsong angin, menyambut masa depanku yang baru.
***
Jelang malam. Khusus kali ini aku dibelikan abangku tiket kelas-1. Sendiri. Bebas, sedikit mewah dan bergengsi. Aku juga sudah kenyang makan sore. Tentu saja di ruang makan kelas-1 yang jendela-jendelanya menghadap laut biru, meja-meja makannya putih bersih dengan kelasi-kelasi tua berpakaian necis rapih. Menu hari ini: ikan tongkol, telur sambal dan buncis. Plus kopi.
Di anjungan angin sudah terlalu keras. Aku pun pindah ke buritan, memesan supermie dan teh manis panas yang seakan telah menjadi sebuah tradisi. Mesin kapal tak kunjung lelah. Suara-suara ombak pecah tak habis-habisnya. KM Rinjani terus mengarung laut malam menuju satu titik nun jauh di depan: Belawan. Gerbang Medan, kota kelahiranku tercinta.
Malam makin malam. Gelap berganti pekat. Bulan tak kelihatan. Tiba-tiba terdengar pengumuman lewat corong pengeras suara: seorang ibu mengaku kehilangan anak gadisnya. Tiga lelaki yang duduk sama-sama merokok di dekatku tanpa suara tiba-tiba serempak tertawa memecah konsentrasi sepi buritan.
“Atik na laho do marhallet di ginjang-ginjangan, bereng ma jo tangkas,”
komentar yang seorang dengan logat Batak Toba yang kental. Renunganku buyar seketika. Aku ikut ketawa, sebelum tenggelam lagi di keheningan lamun dalam, menatap sejenak masa lalu.
***
1983: Panggilan di tengah malam
Lima tahun yang silam. Usiaku belum genap 20 tahun. Masih belia sekali. Di kamar belakang 2m x 3m di rumah Pulomas aku berdoa. Gelisah. Aku harus mengambil keputusan. Sekarang juga, tapi takut. Aku terlalu lemah. Bagaimana kalau aku hidup miskin? Apakah aku harus kehilangan kebebasan dan kemudaanku? Ah kejam sekali. Tapi desakan di dada ini begitu kuat dan aku tidak sanggup meredamnya lagi.
Ya, sudah lama sebenarnya ada keinginan di hatiku untuk menjadi pendeta. Tapi aku takut dan juga malu, sebab itu tak mau mengakuinya. Jujur saja, aku takut miskin. Aku takut kehilangan kebebasan. Aku tak mau kehilangan masa mudaku. Sebab itu keinginan menjadi pendeta itu bukan saja tak pernah kuceritakan kepada siapapun, malah selalu ingin kubunuh.
Tahun lalu aku mencoba masuk ke Psikologi, kupikir itu kan mirip-mirip dengan Teologi, tapi kenyataan aku gagal. Akibatnya, hampir setahun aku menganggur. Ya, kau harus jadi pendeta. Tidak, kataku. Kucoba melenyapkan keinginan jadi pendeta itu saban muncul, tapi ia selalu timbul. Selama menganggur aku menyibukkan diri dengan Bimbingan Test di KSM, aktiv di kelompok pemuda marga Hutabarat (sebab aku bere-nya), luar biasa sibuk sebagai naposo HKBP Pulomas, atau apa saja yang bisa membuat aku melupakannya. Berhasil, tapi hanya sebentar. Sebab saban kali aku ke gereja hari Minggu, rasa bersalah itu terbit lagi di dalam hatiku. Dan kini aku merasa seperti Yunus di Alkitab, yang hendak melarikan diri ke Tarsus.
Tapi malam itu aku merasa didesak. Susah menceritakannya dengan kata-kata. Aku merasa ditekan, dan tekanan itu begitu kerasnya. Seolah ada yang sedang memaksaku untuk mengambil keputusan. Sekarang juga. Akhirnya aku berkata: Aku butuh tanda, ya Tuhan. Berilah aku, tanda. Kalau memang Engkau memanggilku menjadi pendeta, berilah aku sebuah pertanda.
Aku lantas mengambil Alkitab berhuruf besar, bersampul coklat muda, yang ada di kamarku, yang hampir tak pernah kubaca karena merasa sudah tahu isinya. (Aku tiga belas tahun sekolah kristen, di Immanuel Medan, setiap hari ada pelajaran agama pagi, dan dua kali seminggu ada pelajaran agama. Aku tidak begitu butuh lagi Alkitab itu sehari-hari, pikirku.)
Tunjukkanlah aku sebuah ayat yang menunjukkan Engkau memanggil aku jadi hambaMu, kataku dalam doa ragu bercampur takut. Aku menutup Alkitab itu dan memejamkan mataku. Buku Suci itu lama kudekap. Lantas kubuka begitu saja. Ya ampun. Entah kenapa aku langsung membaca petikan Injil Lukas: “Ikutlah Aku, Kau akan Kujadikan Penjala manusia”. Aku merinding. Gemetaran sendiri. Kedua telapak tanganku basah dan dingin sekali. Ampunilah dosaku, ya Tuhan.
Tapi aku segera mengatakan kepada diriku ini hanya sebuah kebetulan. Aku akan berdoa lagi, minta tanda yang sesungguhnya. Aku mau menjadi hambaMu, sungguh aku mau jadi pendeta, tapi tunjukkanlah aku sebuah tanda. Aku menutup mataku dan membuka Alkitab itu lagi. Mataku langsung tertumbuk kepada kata-kata yang sama, tapi di Injil Matius: “Ikutlah Aku, Kau akan Kujadikan Penjala manusia”. Jantungku langsung gedebak-gedebuk. Darahku berdesir. Aku takut sekali, seperti orang yang hendak mati saja. Mungkinkah dua kali terjadi kebetulan berturut-turut, tanyaku. Kebetulan tambah kebetulan, adalah sungguh betul. Tapi, ah tidak.
Aku lantas berdoa lagi. Semakin takut. Aku adalah pendosa besar. Bolehkah aku meminta satu kali lagi tanda, Tuhan? Ya, supaya aku bisa percaya. Kalau memang benar Engkau memanggilku aku akan masuk ke teologia. Kuseka mataku yang basah. Tapi aku buru-buru menghentikan doaku. Bagaimana kalau seandainya nanti benar? Ngeri sekali. Aku pun cuma bisa berputar-putar di kamarku yang sempit itu. Duduk dan berdiri. Jalan kesana-kemari. Tapi nyala api kegelisahan di dada ini sudah terlalu lama, aku harus menuntaskannya. Sekarang.
Aku pun mencoba duduk lagi di samping tempat tidurku. Berdoa lagi meminta tanda untuk ketiga kalinya. Aku menutup Alkitab itu, memejamkan mata, dan kemudian membukanya lagi. Tidak ada petunjuk atau tanda apa-apa. Syukurlah. Berarti yang tadi bukan tanda. Aku tidak dipanggil menjadi pendeta. Aku bebas memilih jalan lain. Tapi, entah kenapa tiba-tiba mataku diseret ke sebuah ayat: “Angkatan yang jahat ini meminta tanda. Kepadanya tidak akan diberikan lagi tanda, kecuali tanda Yunus.” Aku menangis. Kata-kata itu benar-benar ditujukan untukku. Ya untukku. Akulah Yunus itu. Aku takut dibuang Tuhan ke laut. Seluruh sendiku rasanya lepas. Tenagaku telah hilang sama sekali. Aku menyerah. Rebah. “Ya, aku ikut Engkau, Tuhan! Aku mau menjadi hambaMu! Aku janji, tapi kuatkanlah aku” doaku berkali-kali menyerah. Pasrah.
Namun entah kenapa begitu aku menyerah dan mau mengikutNya tiba-tiba saja hatiku diliputi damai yang begitu sentosa. Bahagia sekali. Keheningan yang misterius. Hening di luar hening di dalam jiwa. Inikah misteri keagungan kehadiran Yang Ilahi yang tak terungkapkan kata itu, tanyaku berulang-ulang dalam hati. Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Tapi, jiwaku sekarang terasa lepas dan ringan sekali. Dan malam itu aku merasa terlalu dekat dengan hadiratNya, yang mengakibatkan aku begitu takut bercampur hormat.
(bersambung)
Home: http://rumametmet.com
Catatan:
Buku Anak Penyu Menggapai Laut dapat diperoleh di jaringan toko buku Gramedia atau dapat dipesan langsung kepada Daniel T.A. Harahap email: harahapdaniel@rumametmet.com atau dta_harahap@rumametmet.com. Harga Rp 40.000 per eksemplar ditambah ongkos kirim 10% (Jawa) dan 20% (luar Jawa).
Share on Facebook
Horas Amang Pendeta Harahap,
Syaloom,,
Amang Aku mendoakan supaya pelayanan amang dimanapun tempatnya menjadi sangat berharga buat Jemaat Hkbp, jangan menyerah dengan perubahan yg amang analogikan di FS Amang, karena aku Mengenal Amang walaupun hanya sebentar, Amang tidak pernah membeda-bedakan yang Amang bisa bantu, Aku yakin Amang dapat membuat kemajuan disetiap pelayanan Amang. Maju pantang Mundur.GBU
Aq tunggu Amang kelanjutannya:-)
S’pertinya seruuu nih, mslhnya ada sedikit persamaan dengan pengalamanku minta tanda sama Tuhan, singkatnya…aq justru diingatkan dengan ayat sidiku : “Barang siapa mengakui(confess-King James Version) AKU di depan manusia, AKU juga akan mengakuinya di depan BAPAKU yg di Sorga”… bedanya, Amang sudah “sukses” menjadi Pendeta s’mentara aq skrg status pengangguran yg berusaha untuk mencari pekerjaan lagi…dan juga masih disertai keinginan untuk menjadi seorang Konselor/Psikolog/Pendeta
Hehehe…
Saran-Q, kalo tulisan Amang ini sudah rampung, alangkah baiknya, kalo diterbitkan dalam sebuah buku
Aq yakin pasti bermanfaat buat org lain, kususnya org2x yg tidak memiliki keberanian u/ mengambil keputusan untuk menjadi seorang Pendeta
I Hope so …:-)
IMMANUEL
Amang..
Hmm…aku ngak sabar untuk untuk sequel ke-2 nya….:)
Salam kenal ito, aha do kabar ? Senang sekali bisa berkenalan dengan seorang yang mengasihi Tuhan Yesus… seperti itoku ini…
Doaku, kiranya semua menjadi nyata dan indah pada waktunya, sebagaimana yang Tuhan sudah renda bagi setiap orang yang percaya kepadaNYA.
Salam manis untuk eda dan anak2 ito yang manis2.
Oh ya, saya dulu kenalan dengan suami di HKBP Rawamangun lho pada tahun 1982, tapi karena patuh sama calon mertua yang kala itu katanya lagi sakit dan ngga bisa datang ke jakarta, maka saya & suami menikah di HKBP Sidorame Medan tahun 1992, walau sebenarnya saya jemaat Gereja Assembly of God di Gedung Kenanga, Senen Raya No.46. (Sekali2 kalau ada waktu datanglah ke gereja kami itu To ..).
Oke ito, kalau ada rencana ke USA, sempatkan datang tu huta nami da…..
God bless u always…
Ny. Vera Pangaribuan
Kenapa ya saya jadi tertarik membaca tulisan-tulisan amang Harapap ini, setiap q ke warnet pasti q ga absen ngeliat tulisan-tulisannya. selamat berkarya ya amang di HKBP na Bolon i. Sukses buat amang!!! Tulisannya dilanjutin trus ya amang.
Sangat Motivatif…!!!!
DULU, Saya salah satu orang yang Kurang SREG dengan kata-kata AYAT PANGGILAN apalagi kalo di tanya AYAT EMAS. Apa kita harus mirip seorang pencari kerja yang mendapat pangilan dari salah satu perusahaan dan lantas harus bawa surat panggilan nya(he..he..).Buat saya sangat sederhana, KITAB suci yang saya yakini sebagai WAHYU ALLAH,seluruh kitab dari kejadian sampai wahyu adalah satu panggilan yang harus saya praktekkan dalam HIDUP, seluruh ayat adalah ayat EMAS yang sangat berharga untuk saya bagikan bagi sesama saya.
SEKARANG, Masih tetap seperti yang dulu…Dalam sejarah Hidupku yang panjang,saya dan teman-temanku memilih untuk menbuat satu perahu kecil yang bertolak DARI DERMAGA KE LAUT LUAS, keluar dari RUANG NYAMAN.Kami kembali harus mengali ayat demi ayat untuk kujadikan KOMPAS dan PETA dalam mengarungi SAMUDERA yang penuh ombak pemikiran yang menyesatkan,topan trend hidup yang mematikan, bahkan arus deras modernisasi yang bisa menghanyutkan……
Aku sangat tertarik sekali dengan tulisan Amang ini..
Kalo boleh tau sekarang amang pendeta di gereja HKBP mana ya..?
Soalnya aku pengen dengar khotbahnya Amang…
Horas Amang,
Aku udah baca buku anak penyu menggapai laut. Ceritanya menarik dan mengalir sekali. Banyak cerita2 yang menyentuh hati dan menguatkan iman. Membuat kita bercermin bahwa di luar sana masih banyak hal-hal baru yang harus kita pahami. Tetap semangat melayani Tuhan dan tetap berkarya. Ditunggu tulisan2 berikutnya.
Daniel Harahap:
Thx atas sanjungannya. Kalau ada yang belum punya, bisa pesan langsung harahapdaniel@rumametmet.com Harga Rp 40.000 tambah ongkos kirim 20%.
transformasi misi di suku kanibal Yali