Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Cita-citaku Kok Berubah-ubah
Wili masih empat tahun. Nanti bulan Maret lima tahun. Aku suka bercanda bilang aku kepingin dia jadi pendeta, namun mamanya kesanku memang benar-benar kepingin dia juga jadi dokter. Wili kayaknya bingung, dia mengatakan, kalau begitu aku jadi superman saja. Tapi, beberapa waktu lalu cita-citanya sudah berganti: dia kepingin jadi penyelam. Mungkin karena sering menonton film ikan hiu dan paus. Tapi sekarang sudah berubah lagi, dia ingin jadi pengawas bangunan. Dan terakhir, dia memilih jadi kepala tower bandara yang berhak mengatur lalu-lintas penerbangan. Kami sendiri sebenarnya tidak memaksa anak-anak. Mereka bebas menjadi dirinya sendiri. Seperti aku dan Martha juga bebas menjadi diri kami masing-masing. Tapi tadi Wili datang kepadaku mengeluh kenapa cita-citanya bisa berubah-ubah terus. Aku tertawa. Ya nggak apa-apa Amang. Kalau masih kecil boleh cita-cita boleh berubah-ubah, nanti kalau sudah besar ya jangan berubah lagi. Wili mau jadi pendeta kan? Nggak mau! Aku mau jadi arsitek yang bangun bandara.
POTRET DIRI
Aku pernah membaca artikel pembentukan kepribadian tentang potret diri. Ya, belajar melukis diri sendiri. Dalam retret-retret aku sangat suka menggunakan metode ini sebagai entry poin mengajar anak-anak juga orang dewasa mengenal dirinya sendiri. Sebab itu waktu datang kemarin aku sengaja memberikan anak-anak buku gambar dan krayon baru. Masing-masing melukis potretnya. Nanti ada hadiahnya. Kika memang sangat suka menggambar potret kami sekeluarga. Tapi Wili kayaknya hanya tergiur iming-iming hadiah. Dia suka menggambar, tapi menurutku nggak pernah tuntas, nggak pernah diwarnai. Mungkin dia masih terlalu kecil untuk belajar menyelesaikan suatu kerja sampai tuntas. Namun kali ini dia mau bersusah-payah menyelesaikan gambarnya, diselingi berapa kali istirahat. Tapi nanti difoto ya, dimasukin ke komputer bapak, bikin jadi wall paper. Potret itu pun jadi. Hasil gambar Nina juga bagus. Mana hadiahnya Pak? Ya, nanti Bapak kirim. Janji ya? Bapak nggak bohong kan? Nggak.
Apa Saja Yang Bapak Tidak Bisa
Bapak tidak harus sempurna. Aku tidak pernah menunjukkan di depan istri dan anak-anakku bahwa aku mahluk yang sempurna, yang bisa melakukan atau jadi segala-galanya. Dulu waktu kuliah di Teologi Jakarta, aku belajar dari guruku bahwa berpura-pura menjadi malaikat itu sangat meletihkan bagi diri sendiri, dan memuakkan bagi orang lain. Sebab itu aku rileks saja apa adanya di depan istri dan anak-anakku. Juga di depan jemaat. Wibawaku sebagai Bapak bukan tergantung kepada kesempurnaanku, tetapi kepada kekuatan cinta dan kesetiaanku. Aku ingin mencintai anak-anakku bukan karena mereka pintar, baik, atau menurut, tetapi karena mereka anakku. Dan aku pun mengharapkan mereka sayang padaku bukan karena aku sempurna tak bercacad, tapi karena aku adalah Bapaknya.
Aku juga sengaja dan sadar menunjukkan kepada anak yang tiga ini bahwa Mama juga punya sejumlah kelebihan dibanding Bapak. Aku mengaku bahwa yang mengajari Bapak bawa mobil itu adalah Mama waktu pacaran. Kika dan Nina sangat senang mengetahui hal itu. Mungkin seperti mendengar gossip bagus. Mama ahli dalam kedokteran. Mama juga lebih tekun belajar dibanding Bapak. Mama bisa berenang dan bisa juga main organ. Tapi Mama kurang bisa menggambar.
Tentu saja dalam banyak hal, atau hampir segala hal, aku melampaui Kika, Nina dan Wili. Dan itu membuat mereka kagum. Tapi aku juga secara sadar ingin menunjukkan bahwa mereka juga punya kelebihan dibanding aku Bapaknya. Minimal dalam tiga hal: Bahasa Mandarin, main piano dan berenang. Tiga-tiganya aku nol besar. Sementara mereka mampu melakukannya. Aneh, anak-anak senang juga rupanya mengetahui kelemahan Bapaknya. Mungkin semacam kesenangan Rakyat mengetahui kelemahan Penguasa. Ya, aku memang bukan Otoritas yang sempurna. Wili sangat suka mengulang-ulang apa yang tak bisa kulakukan itu dengan tertawa-tawa. Syukurlah aku sudah lama terbiasa mentertawakan diriku sendiri.
Ada Tidak Ada Polisi
Pake safety belt, Amang, kataku kepada Wili saat pulang sekolah, dan dia duduk di depan. Selalu. Ah, ngga usah. Pake safety belt Amamg. Ah, ngga usah, kan ngga ada polisi! Ada atau tidak ada polisi, tetap harus pakai, kataku. Lihat tuh, apa Wili bilang, kan ngga ada polisi, katanya begitu kami melewati Rambang. Ini peraturan lalu lintas. Safety belt itu artinya ikat pengaman, gunanya supaya Wili tidak terantuk ke dashboard kalau Bapak tiba-tiba merem. Aku sadar bahwa menurut Kohlberg, memang anak usia 4 tahun selalu melihat moralitas berdasarkan ganjaran. Bila diberi hadiah, itu artinya dia baik. Bila dihukum, itu artinya dia salah. Tapi, kupikir tak salah juga aku menjelaskan moralitas yang lebih tinggi. Mungkin suatu saat kelak berguna untuknya, pikirku. Ada tidak ada polisi, kamu tetap harus pake safety belt. Ada atau tidak ada Guru, kamu tidak boleh menyontek. Ada atau tidak ada Mama, kamu jangan berantem dengan Kika atau Nina. Begitu, kataku. Dia tak berkomentar. Kami sudah sampai di Simpang Sekip, lampu kuning berkedip dan kemudian merah, aku bisa saja meneruskan mobil seperti kebanyakan orang, atau terkadang kulakukan. Tapi aku tiba-tiba sadar ceramahku barusan. Ada atau tidak ada polisi, berhenti di lampu merah Bapak!
Kika Delapan Tahun
21 JANUARI Kika genap delapan tahun. Jauh-jauh hari kami sudah sepakat dengan Martha bahwa ulang tahun tidak setiap tahun dirayakan. Cukuplah sekali dua tahun. Untuk memudahkan setiap umur ganjil. Itu artinya tahun ini Kika tidak dirayakan di sekolah atau di Mc Donald seperti tahun kemarin, tapi cukup di rumah saja. Tidak mengundang siapa-siapa. Hanya Bapak, Mama, Nina dan Wili, Mbak Mira dan Mbak Lita (dua yang terakhir adalah pembantu rumah). Tadinya kami sempat waswas Kika bakal kecewa. Sebab banyak undangan berarti banyak hadiah. Banyak kebanggaan. Tapi Martha menjelaskan kepada Kika. Ternyata Kika dengan mudah mengerti dan menerima. Aku jadi semakin yakin saja kepada kekuatan komunikasi dan cinta. Anak-anakku sangat mudah diberikan pengertian. Mereka bisa menerima penjelasan.
Ulang tahun Kika jatuh persis hari Minggu. Kami pun bergereja sama-sama. Seperti biasa Wili sibuk menggambar selama kebaktian. Kika serius, menurut Martha dia suka membanding-bandingkan pengkotbah dengan Bapaknya. Nina diam-diam makan wafer. Pulang gereja Kika mengajak buru-buru pulang. Dia sudah tak sabaran membuka kado-kado, termasuk dari Namboru, Tulang/Nantulang Bandung dan tentu saja Opung. Tapi aku dan Martha harus bezuk melihat dokter gigiku, sahabatku, yang sedang opname. Lantas pergi mengambil kue ulang tahun yang sudah dipesan kemarin. Kesepakatan pesta ultah dimulai jam 12. Aku dan Martha tiba persis di rumah jam 12. Kika benar-benar tak sabar lagi. Kok lama sekali sih? Lho janjinya kan jam 12, Bapak dan Mama tidak telat.
Dia belum mengganti gaun gerejanya. Itu gaun ulang tahun 2006. Tahun ini tidak ada gaun pesta. Kue pun dipasang di meja dengan lilin angka 8 di atasnya. Kedua Mbak dipanggil bergabung. Nina tetap pake daster rumahnya. Tunggu, kata Kika. Rupanya dia ke kamar mengambil sayap bidadari pesta ulang tahun yang lama, lengkap tiaranya, dan memakainya. Aku dan Martha tertawa trenyuh. Tapi Martha lebih trenyuh lagi melihat Nina dan Wili yang selalu melirik tumpukan kado untuk Kika di bawah meja. Happy Birthday to You. Panjang umurnya, tiup lilinnya, potong kuenya. Hiphip hura! Sekarang saat membuka kado. Lumayan banyak. Ini saat yang paling membuat Martha salah tingkah. Momen ini saban-saban selalu berulang: ada satu anak yang begitu gembira dan bahagia, dan ada dua anak lain berdiam diri. Aku mengatakan kepada Martha itu soal biasa. Lumrah. Anak-anak harus melatih dirinya menunggu gilirannya menerima kado, yaitu pada saat ulang tahunnya sendiri. Segala sesuatu ada masanya, kataku mengutip Pengkotbah. Tetapi istriku Martha tetap saja tidak bisa kuat menghadapi tatapan mata anak-anak yang terdiam dan menelan ludah menyaksikan luapan kebahagiaan saudaranya. Sebab itu Mama selalu saja menyiapkan dua kado kecil sederhana bagi dua anak yang sedang tidak ultah. Katanya sekedar hadiah hiburan.
Rambut Peterpan
Pulang sekolah, aku mengajak Wili potong rambut. Di Salon Frans. Rambut Wili sudah panjang sekali, dan sudah lama Martha menyuruh aku membawanya potong rambut, tapi baru kali ini aku sempat. Wili mau potong kayak bagaimana tanyaku di jalan. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu apa-apa soal perambutan. Sayangnya aku juga lupa bertanya kepada Martha maunya kayak apa. Sebab seringkali yang lebih berkepentingan, bukanlah si anak, tetapi Mamanya. Dan aku belum lupa dua tahun yang lalu, istriku ngomel-omel di rumah, begitu melihat Wili botak pulang dari barber shop bersamaku. Padahal itu permintaan anaknya sendiri, dan dia senang sekali. Aku mau yang rambutnya naik-naik itu lho Pak! Katanya. Gimana? Ya, yang atasnya ada naik-naiknya. Oalah.
Sampai di salon dia duduk di bangku. Tenang sekali. Stylist yang biasa memotong rambut Wili itu bertanya padaku: mau model bagaimana Pak? Katanya sih model rambut yang naik-naik itu. Tapi jangan yang aneh-aneh ya, lanjutku, tiba-tiba teringat komunitas punk yang suka nongkrong di pojok ruko galaxi. Ya model anak-anak sekarang saja, Pak. Ala Peter Pan. Apa? Ya terserahlah, pokoknya bikin yang bagus saja.
Jam dua kami pun menjemput Mama. Sebelumnya menjemput Kika dan Nina. Kedua anak perempuan itu tertawa-tawa melihat muka Wili yang berubah. Kesanku lebih jantan. Tapi entahlah, masih ada penilik akhir. Begitu melihat Wili di tempat parkir RS, Martha sangat kaget. Ia berhenti sebentar memandang lama-lama muka anaknya sebelum memeluknya. Dia hanya senyum tak mengatakan apa-apa. Aku menunggu-nunggu dengan sedikit berdebar apalah yang bakal terjadi. Kami sampai rumah. Sore. Malam tiba. Dia tidak kasih komen apa-apa. Aku jadi berpikir jangan-jangan, diam-diam, Mama memang suka Peter Pan.
Bapak Merokok
Aku kembali kepada kebiasaan buruk lamaku: merokok. Kebiasaan yang tidak disukai Martha istriku. Juga kebiasaan yang jelas-jelas tidak pernah bisa mendapatkan pembenaran teologis atau medis, kecuali atas nama kebebasan yang kurang bertanggungjawab. Sebab itu aku merokok diam-diam, di luar rumah, jauh dari pandangan Martha dan anak-anak. Martha juga tahu. Bau keringatku tentu tidak bisa dibohongi. Tapi dia diam saja. Mungkin dia tahu aku sedang punya masalah dan tidak suka buka pertengkaran. Atau dia tahu aku sulit dilarang. Dia selalu halus menasihati: jaga kesehatan. Ya, kataku. Yang paling repot adalah Wili punya kebiasaan baru, aku tidak tahu apakah itu diam-diam berhubungan denganku. Dia selalu membacakan pesan pemerintah di iklan rokok saban kali kami melintas di bawah billboard iklan rokok: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Saking seringnya membacanya dia sudah hapal dan selalu mengulang-ulangnya. Aku pura-pura tidak tahu saja dan berusaha bersikap sewajar mungkin. Lagi pula kurasa anak-anak tidak tahu aku merokok.
Malam itu aku sedang di tepi kolam ikan lele, di belakang rumah di Palembang. Selain memang aku suka sekali melihat ikan-ikan itu bertumbuh dan makan rakus, itu tempat yang paling aman untuk merokok tenang-tenang dan diam-diam. Tapi rupanya ada sepasang mata bola yang sedang mengawasiku. Dan aku tidak tahu, sebab lampu kamar makan sudah dimatikan.
Aku masuk ke kamar tidur dengan tenang. Kika dan Nina sedang belajar. Martha baru selesai mandi. Wili tiduran di kasur. Tiba-tiba anak laki-laki itu tertawa: bapak merokok! Aku lihat Bapak merokok! Apa? Aku ikut tertawa malu-malu kucing tua. Martha langsung memasang kuping baik-baik. Nah lho! Wili tertawa memandangku. Aku sebenarnya tidak mau membantahnya. Aku tahu tidak bagus bagi anak-anak, juga bagi diriku, kalau aku bohong. Sebab itu aku tertawa saja dan berusaha mengalihkan perhatian. Tapi Wili tidak mau dialihkan. Pokoknya Bapak merokok. Walaupun Bapak bilang Bapak nggak merokok, Wili tetap bilang Bapak merokok! Martha mendapat kawan dan pendukung kuat. Aku mencium Wili, kemudian masuk ke kamar mandi.
(sementara selesai, itu dulu, kapan-kapan disambung lagi)
Terima kasih Tuhan
Terima kasih Mama, Kika, Nina dan Wili sayang! I love you all.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Kupersembahkan Blog ini kepada semua Papa dan Mama di dunia, keluarga-keluarga muda yang ingin membangun rumah tak sempurna tapi bahagia. Juga calon-calon suami dan istri, calon papa dan mama. Juga kepada guru-guru Sekolah Minggu, guru TK dan SD, yang saban saat berhadapan dengan anak-anak pemilik masa depan. Secara khusus, kupersembahkan blog ini kepada kawan-kawanku laki-laki Batak perkasa, raja-raja merdeka, yang dipanggil oleh Tuhan dan Sejarah menjadi suami, ayah, dan sahabat yang memerdekakan dan membahagiakan. Hidup begitu indah. Kita tidak harus sempurna untuk dapat merayakan cinta dan penerimaan tak bersyarat! (Pdt Daniel T.A. Harahap, seorang suami dan ayah dari tiga anak jawaban doa)
Home : http://rumametmet.com
Share on Facebook
bagusan wili jadi dokter aja!! kalo berandai2 wili digedein badannya, trus dibikin bewok kaya bapaknya… ehhhmmm.. gak pantes ahhh!!! hahaaa.. pantesan jadi dokter!! anakku ntar kuarahkan jadi dokter gigi, amang. ntar kita besanan ya?? wili harahap – nathania br. siregar?? hehhheee…
(lha.. ending nya kok tibang gitu… wa!! pembaca kecewa nih, ada banyak hal yang “belum dikupas tuntas”… kagak terima!!! kudu dilanjutin lagi noohhh, amang. ditunggu lho!!
makasih ya, amang buat curhatan ini. so simple, daily story but it has deeply meant much to me.
Amang, blog_nya bagus banget dan aku berterima kasih aku bisa belajar dan akan terus belajar utk ttp setia dlm pergumulan bersama dgn Tuhan. Salam buat inang, kika, nina, dan wili …. ya …. God bless u
Amang, terima kasih ya…. Saya banyak belajar dari blog yg Amang buat. Jgn berhenti berkarya, jangan berhenti menulis dan jangan berhenti menggambar. Hehehe….
Tuhan Yesus memberkati Amang sekeluarga.
Hal biasa yang dituliskan dengan luar biasa. Pengalaman kecil yang akan menjadi batu sentuhan bagi calon ayah, ibu pun yang telah jadi ayah ibu.
so nice, apalagi kalau calon PH yang akan juga menjadi ayah membaca ini.hehe…
Keteduhan dan kenyamanan selalu terasa jika mampir di rumametmet, berbagai cerita tersedia dan membuat saya selalu menyempatkan diri untuk singgah. Suguhannya sangat mengundang selera untuk membaca lagi dan lagi….kadang bikin sedih , kadang bikin senyum namun tak jarang memaksa saya untuk merenung…suasana rumametmet sangat mengasyikan.
Ngomong-ngomong soal rokok : ” Apakah Amang pendeta sudah menemukan formula yang afdol untuk berhenti merokok ? ” Dalam hal ini masalah yang saya hadapi sangat mirip dengan Amang, anak saya yang kelas dua SD sering membacakan warning yang tertulis pada bungkus rokok saya . Sumgguh saya tidak bisa memberi jawaban pembenaran atas sikap saya tentang rokok padahal “sikap jujur” adalah motto yang selalu saya usahakan terjadi dalam rumah tangga saya.
Tulisan tentang “Bapak merokok” telah berkali-kali saya baca dan sampai saat ini belum menemukan kesimpukan, meski saya sering merenungkan : TIDAK ADA YANG HARAM , TETAPI TIDAK SEMUANYA BERGUNA ( ? ) Namun kebiasaan buruk in belum bisa saya hentikan sama sekali walau kalau sudah batuk-batuk bisa saya redam untuk beberapa hari , jika Amang telah menemukan tipsnya dan berhasil , mohon disharing. Salam untuk Ito yang boru Regar , Kika , Nina dan Wili…..
Daniel Harahap:
Tidak ada pembenaran apa pun yang dapat saya dan Lae dilakukan. Terima saja omelannya, dan…..
Saya tidak bisa bohong, karena istri saya, ipar saya, dan saudara saya, dan juga anggota jemaat saya membaca Ruma Metmet. Jujur saya lagi merokok, dan karena itu sering diomeli oleh istri dan anak-anak.
Aku bukan perokok. Pernah mencoba, tapi tidak menemukan kenikmatan merokok.Temanku dulu perokok berat. Sewaktu dia pergi sekolah lagi, dia sudah lama berhenti merokok. Banyak yang tanya apa caranya. Dia hanya berkata “cara untuk berhenti merokok adalah: TIDAK MEROKOK!” Tapi dia pernah kutangkap basah mencium-cium batang rokok yang tidak menyala. Aku katakan “Pren, jangan mencoba membuat deal dengan setan. Pasti kita kalah.” Dia senyum, karena dialah yang pertama kali bilang itu kepadaku. Kayaknya akhir-akhir ini dia membuat deal dengan setan lagi, karena dia kalah..Maka dari itu kukatakan lagi: “Bertobatlah!”
Horas Amang
Maulite Godang, puji Tuhan, blognya sangat membangun, tambah lagi donk amang tentang pendidikan keluarga, cara mendidik anak etc.
Tuhan memberkati amang dan keluarga