Catatan-catatan Rumah
Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
MENGUJI KEBERANIAN DI DUFAN
Opung Palembang dan para tulang/ nantulang turun ke Jakarta dari Bandung. Khusus ke Dufan. Ya Dunia Fantasi Ancol. Mama tentu saja tidak ikut, sebab masih kerja di Palembang. Aku juga sudah lama sekali tidak ke Dufan ini. Terakhir kali kuingat saat Martha hamil, mengandung Kika, dan berhubung dia hamil kami hanya bisa jalan-jalan dan masuk ke Istana Boneka. Aku kembali jadi tukang potret keluarga sekaligus penjaga anak dan barang. Kika dan Nina memaksa naik roller coaster. Mulanya aku tidak setuju. Ngeri sekali perasaanku. Tapi mereka ngotot. Nantilah, kataku, coba yang lain dulu. Ditemani Nantulang Linggas mereka pun naik kapal ayun Kora-kora. Aku cuma pernah sekali naik kapal ayun itu, dulu waktu mahasiswa, dan perutku sakit sekali, sejak itu aku kapok. Tapi kedua anak perempuanku gembira bukan kepalang. Mereka malah naik dua kali dan tertawa-tawa, dan ketagihan lagi. Aku surprise. Naik roller coaster! Aku ragu, tapi kulihat muka Kika dan Nina yakin sekali ingin mencobanya. Ya sudah, pergilah.
Ditemani Tulang Coki dan nantulang Linggas, mereka pun menghampiri kereta penguji nyali itu. Wili, 4 tahun, bersamaku tinggal. Kalau takut, berteriak ya Pak? Tanya Nina. Ya, kataku. Seumur hidup aku belum pernah naik mesin plintir manusia itu. Dan aku tidak punya niat mencobanya. Setengah bercanda kukatakan kepada mertuaku, persoalanku sudah banyak, aku nggak mau menambah penderitaan lagi di atas roller coaster.
Hatiku ciut sebenarnya begitu melihat Kika dan Nina mengambil tempat duduk. Tapi naluri fotograferku tak tertahan. Aku menyiapkan kamera dengan lensa zoom untuk menangkap momen mendebarkan itu. Kereta pun berderak, pelan dan makin cepat, kemudian meliuk, memutar 360 derajad, berpilin dan meluncur dahsyat. Teriakan takut bercampur gembira meledak di angkasa. Selesai. Satu menit tapi mampu membuat jantung hampir berhenti. Aku menarik nafas. Thanks God. Kika dan Nina menghampirku. Wajah mereka bangga sekali. Terutama Nina. Aku mencium dan memeluk mereka. Kalian anak-anak pemberani! Hebat. Kami mau lagi, kata keduanya! Tidak, kataku. Cukup sayang, lain kali saja.
PERANG BINTANG API DI ISTANA BUNGA
Malam Tahun Baru. Martha sudah bergabung lagi. Kami pindah ke sebuah villa di kawasan Istana Bunga, masih di Lembang. Inang mertuaku, seorang guru besar kulit, memang benar-benar arif. Beliau tahu bahwa anak-anaknya sudah dewasa, berumah tangga, dan punya jalan hidup masing-masing. Dan beliau sadar semua keluarga anaknya punya pergumulan dan masalah. Sebab itu dia membiarkan saja kami seadanya dan kadang seenaknya. Tidak ada upacara petuah, tidak ada nasihat, apalagi perintah. Hubungan kami sesama anak juga sangat wajar dan tidak perlu dibuat-buat. Kami saling menyayang, tapi kami juga sadar bahwa masing-masing orang harus bertanggungjawab akan diri dan keluarganya sendiri.
Malam itu kegiatan utama adalah dengan bakar ikan dan ayam. Sebenarnya ini adalah hobiku, tapi terus terang aku lagi tak bersemangat. Aku hanya menonton saja. Martha mungkin tahu aku lagi tidak mood, ia tidak kasih komentar apa-apa. Tapi anak-anak tetap gembira. Bermain bakar-bakar ikan dan ayam di tengah dinginnya malam adalah suatu peluang yang hanya sesekali datang. Namun malam itu ada hiburan lain. Istana Bunga: perang kembang api. Remaja-remaja anak pemilik villa-villa mewah di kawasan elit ini berlomba menembakkan kembang api ke udara malam. Dentuman dan desingan mesiu terdengar dari segala arah. Bagai perang bintang saja. Malam menjadi terang gemilang oleh warna-warni cahaya. Luar biasa sekali. Aku tidak tahu berapa ratus juta yang mereka habiskan malam ini. Menurut seorang penjaga villa, tahun lalu pemilik villa putih tak jauh dari tempat kami, yang agaknya menjadi pemenang malam ini, menghanguskan empat puluh lima juta. Kami, terutama anak-anakku mendapat hiburan gratis Malam Tahun Baru. Aku sendiri tidak bisa bilang apa-apa. Negeri miskin ini memang punya cukup banyak orang kaya. Menurutku pesta kembang api di Istana Bunga ini jauh lebih spektakuler dari apa yang kulihat saat Perayaan Kemerdekaan AS 4 Juli lalu di Athens Ohio.
Lewat jam 00.00 sesudah pesta api surut kami masuk ke villa, duduk lesehan, melingkar rileks, dan menyanyikan lagu khas pergantian tahun Batak: Naung Moru do Muse Sataon. Tak ada kotbah, tapi ada tiga orang yang ditunjuk memimpin doa keluarga: Kika, Tulang Totok iparku tertua, dan Opung. Singkat, padat dan bermakna. Aku memangku Wili menghangatkan tubuhnya. Doa ditutup dengan nyanyian Debatangku do Donganku. Lantas kami pun bersalam-salaman. Sebagian bercium-ciuman. Malam itu aku tidur lelap sambil memeluk Nina.
Paginya jam sembilan kami pun siap-siap pulang. Liburan sudah usai. Terima kasih kepada Opung yang sudah mengeluarkan begitu banyak dana liburan. Mertuaku, dan kami berlima semobil. Iparku dari Medan di mobil yang lain, sementara par-Bandung belakangan pulang. Anak-anak tampak puas dan bahagia sekali.
MENDAFTAR SUKACITA
Di jalan menuju Bandara aku sengaja bertanya kepada anak-anak apa saja yang menggembirakan selama liburan ini. Mereka berlomba mendaftarkan sukacitanya: jalan-jalan ke dufan, nginap di hotel, main di singgasana pradana, dapat hadiah dari amangtua, ketemu namboru dan opung, beli barbie dan robot dll dll. Dan lain lain. Lantas kutanya lagi: apa saja yang tidak menggembirakan selama liburan ini. Ada juga, walau tak seberapa. Kika mengatakan berebut shower dengan Wili. Nina bilang jatuh waktu main di Dufan. Dan menurut Wili: sebab kembang apinya hanya bisa dipegang, tidak bisa dilempar ke udara! Pesta memang tak bisa selamanya. Liburan usai anak-anak, kalian harus siap-siap sekolah lagi. Kami berpisah di bandara Cengkareng, sebab aku ada tugas pelayanan tanggal 2 esoknya.
ENAKNYA KALAU TETAP SAMA-SAMA
Pesta sudah usai. Anak-anak masih ada sisa libur tiga hari lagi. Tapi suasana benar-benar tidak enak. Penyakit Post Christmas! Keengganan kembali ke realitas. Suasana sepi tak bergairah. Namun tak ada pilihan selain maju ke depan meneruskan perjalanan. Live must go on! Martha mengkondisikan agar bisa hidup kembali normal, dan siap-siap balik ke rutinitas semula: sekolah dan bikin PR. Kika tiba-tiba menangis lagi makan. Katanya ia kangen sekali dengan Bapak. Enak kalau kita tetap sama-sama katanya kepada Mama. Aku mau pakai baju bapak.
SURAT KIKA
Surat untuk Bapak
Halo Bapak! Apa kabar?
Bapak, Kika disuruh tidur siang sama mama
Tapi Kika nggak bisa tidur terus. Kayak mana sih caranya?
Soalnya begitu lihat Nina dan Wili main, Kika jadi kepingin main deh
Jadi nggak tidur siang.
Kalau Bapak pernah nggak tidur siang setelah pulang tugas dari gereja?
Kalau Bapak rindu nggak sama Kika?
Kalau Kika rindu sama Bapak.
Oh ya Kika hampir lupa bilang.
Bapak, Kika sudah bikinin gambar Kika, Nina, Wili di dalam amplop
Jadi kalau Bapak kangen bapak bisa langsung liat gambar yang Kika buat.
Bapak kalau di rumah Opung Theresia suka motret-motret
Kalau Bapak di rumah Opung Cibinong suka motret-motret juga nggak?
Kalau suka motret apa?
Kalau di rumah Opung Cibinong sekarang masih banyak tikusnya nggak?
Kan dulu terakhir kali Kika ke rumah Opung Cibinong kan banyak tikus.
Sekarang masih ada nggak tikusnya?
Bapak kalau di rumah biasanya ngapain sih?
Kalau Kika biasanya nonton kartun, main lego sama main piano.
Udah dulu ya dibalas ya surat Kika.
Dada…
Kika
PELAJARAN MAMA SULIT
Martha sedang puyeng-puyengnya di box Allergi & Immunologi. Kemarin dia sengaja mengumpulkan anak-anak di kamar dan menjelaskan bahwa Mama sedang menghadapi pelajaran yang sangat sulit, sebab itu dia meminta pengertian anak-anak, supaya jangan mereka jangan bertengkar dan supaya bisa belajar sendiri sementara, agar Mama bisa konsentrasi. Anak-anak mau mengerti. Wili bertanya: pelajaran mama sulit ya, tapi Mama bisa ngga ngerjainnya? Ya bisa, Wili doakanlah. Kika menimpali: Mama mau kalau Kika bantu bikinkan soal-soal latihan? Oh terima kasih Kika, ngga usah, kata Martha tak bisa menahan senyum.
Sesudahnya anak-anak jauh lebih tenang dan tertib. Mereka bisa mengerti juga rupanya keadaan Mama dan mau mendukung. Tapi ketiganya tetap saja belajar di kamar yang sama dengan Mamanya. Ada yang di lantai dan ada yang di kasur. Wili terus menggambar, dan sesekali meminta kertas yang harusnya dipakai untuk mem-print jurnal dan laporan kasus.
BELAJAR PERKALIAN DAN PECAHAN
Sesuai janjiku, aku datang tiga hari sebelum ulang tahun Kika. Seperti biasa: dijemput di Bandara. Ritme hidup anak-anak sudah benar-benar normal. Guru-guru pun telah memberikan lagi PR. Berhubung istriku sedang pusing-pusingnya dengan Allergi dan Immunologi, aku mengambil-alih tugas mengajari anak-anak, terutama Kika dan Nina. Mbak Lita membantu mengawasi Wili membuat huruf sambung f,g,h dan i.
Nina kesulitan menghapal perkalian. Dia cemas. Gampang, kataku. Nanti Bapak ajarin. Emangnya Bapak bisa hapal perkalian sampai 10? Bisa. Bahkan juga perkalian 11 dan 12. Wah, hebat, kata Nina memujiku. Aku pun membuat soal-soal perkalian. Sengaja kubalik-balik dan kuacak. Nina dapat nilai 80. Oke kita latih lagi. Tenang saja, gampang, semua orang bisa menghapal perkalian, kataku mensugesti. Dia percaya. Aku meminjam spidol warna-warni Martha, dan melukis balon-balon besar di kertas. Sekarang Nina isi balon-balon ini dengan perkalian 6 s/d 10 lantas warnai bagus-bagus. Nulisnya mesti pelan dan rapih!
Kika minta diajarin pecahan. Kika nggak ngerti. Oh gampang, kataku penuh percaya diri. Aku punya prinsip, kalau bisa dipermudah untuk apa dipersulit. Aku mengambil sepotong kue sisa Tahun Baru. Coba kita bagi dua, persis sama besarnya. Dia melakukannya dengan cepat. Ini namanya 1/2 dan ini namanya 1/2. Coba bagi tiga. Ini 1/3, 1/3, dan ini 1/3. Wili ikut nimbrung. Dikiranya Bapak dan Kika sedang bermain. Ya memang sedang bermain dengan angka. Bagaimana kalau 2/3? Aku menyatukan lagi dua potong kue itu. Ini namanya 2/3 dan yang ini 1/3.
Oh gampang rupanya kata Kika meniru Bapaknya.
Malamnya, setelah semua anak-anak tertidur aku memeriksa lagi soal-soal yang kuberikan kepada Kika. Ternyata hasil penghitungan pecahan itu salah semua. Kika dapat nilai O. Aku menggaruk-garuk kepala. Kalau sudah begini hasilnya yang salah siapa. Murid atau gurunya? Aku yakin yang salah adalah gurunya.
(bersambung)
Home : http://rumametmet.com
Share on Facebook
hueeeeehuuuueee!!! kora2!! yang pertama kunaekin bareng temen2 se-geng setelah balik dr puskesmas serpong, n langsung muntah!!!! setelah turun. memalukan banget!! ampe diketawain bocah 7 th waktu itu (tahun 2002).. palagi roller coaster!! alamak!! makasih dah!!
tuh kan, amang baru tau kan.. anak2 dah mule gede.. dan pastinya!!! perasaan kangen dr anak2 tuh dateng.. lewat pertanyaan,” bapak kapan datangnya?” ato “kika mo pake baju bapak”.. ato, mending amang jadi pdt hkbp resort di sum sel aja?? gak bisa yak? ato ribet prosedurnya kaya birokrasi di kantor2 pemerintah gitu?? biar full time bisa 1 rumah, ketemu saban ari ama anak2? kesian lagi.. umur2 segini, anak2 tuh lagi nyari profil bapaknya n pengen deket ama bapaknya..
London baru aja gempa bumi..Tumben2an :>
Housemate q ketakutan, sdngkn aq sndri ktawa ngakak ngebaca ttg ‘belajar perkalian n pecahan’. Kocak habiesss…..
Thx amang