Merayakan Cinta Tak Bersyarat (6)

January 31, 2007
By

adsc_0018.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

RETRET NATAL DI BANDUNG

Natal akan tiba. Inang mertuaku, opung anak-anakku, mengajak kami liburan natal di Bandung. Beliau mendapat fasilitas villa di Lembang. Dan di Bandung ada iparku, Tulang Totok dan Nantulang Linggas yang super budiman. Iparku yang lain dari Medan, Tulang Coki dan Nantulang Vivi, juga datang, dan ketemu di Bandung. Aku akan bergabung dengan “kloter” Palembang di Jakarta. Opung sudah memfasilitasi segalanya. Semua dana ditanggung IMF (Inang Monetary Fund) hahaha. Kami anak-anak dan cucu-cucu tinggal datang saja dan bersuka-ria. Bagi anak-anak ini adalah pesta besar, hampir mirip undangan pendahuluan masuk surga. Tiga hari sebelum berangkat mereka sudah susah tidur. Dua hari sebelum hari H, koper-koper sudah beres. Tadinya Barbie-barbie dan robot-robot juga mau ikut, tapi dilarang oleh Mama. Juga tas koper sekolah dan buku-buku cerita dan krayon. Kita bukan mau pindah, kata Martha, kepada anak-anakku, menyaksikan mereka memasukkan seluruh pakaian yang ada dan harta-benda kekayaannya ke dalam koper. Mbak Lita, pembantu dan pengasuh anak-anak kami ikut serta. Dia sudah trampil dan tahu betul apa yang diinginkan istriku. Antara lain: memasukkan susu bubuk ke kantong-kantong plastik kecil, sesuai jumlah hari libur, frekuensi minum susu per hari, dan jumlah anak, serta cadangan. Total: (8 hari x 3 gelas x 3 anak) + (3 x 3 cadangan).

Aku sendiri, jujur, sebenarnya kurang bergairah. Aku lagi punya pergumulan dengan statusku yang tidak jelas sebagai pendeta HKBP. Dan pergumulanku bukan hanya belum selesai, bahkan menguat. Tapi aku juga tidak ingin mengecewakan banyak orang, terutama anak-anakku. Kami: keluargaku dari istriku, rasanya belum pernah natalan bersama. Anak-anak sudah bermimpi liburan besar ke Jakarta, Bandung, dan Lembang. Kepala mereka sudah padat dengan sejumlah rencana asyik menarik. Martha sendiri tidak bisa penuh ikut liburan. Dia hanya bisa tanggal 24-25 Desember, dan lantas disambung lagi nanti 30-31 Desember. Selang di antara dua tanggal itu Martha harus pulang lagi ke Palembang untuk kuliah dan kerja di RS. Itu artinya anak-anak mesti aku yang pegang, walau ada Mbak Lita. Itu artinya aku harus ikut berwisata natal, bergembira bersama, mengalahkan keinginan hatiku merenung sendiri saja di Galaxi.

Syukurlah Lembang di saat Natal tidak terlalu ramai. Tidak seperti Puncak. Udara dingin berkabut, dan villa yang kami tempati penuh dengan pohon pinus, yang diam-diam ternyata mendukung meditasiku. Sementara anak-anak bermain, ibu-ibu asyik ber-FO berbelanja-ria, dan bapak-bapak merokok sambil main laptop, aku memilih peran jadi tukang potret. Kebetulan aku membawa kamera bagus dari Ohio, dan aku hobi memotret candid moments, ya, moment yang jujur. Selain itu aku juga bisa menyembunyikan sebagian mukaku yang murung di balik kamera Nikon itu. Martha sepertinya tahu kondisi hatiku. Aku juga tahu dia sedang punya beban tugas yang sangat berat sebagai residen kulit. Namun berbeda dengan kami berdua, anak-anak begitu girang, senang dan lepas. Mereka betul-betul menikmati liburan natal ini. Apalagi ketemu Gwen, sepupu dari Medan. Syukur mereka hapal pesan khas Bapak saat rekreasi anak-anak: boleh gembira tapi jangan mabok. Ya, Wili juga hapal pesan itu: jangan mabok!

Tanggal 24 Desember malam kami secara sadar tidak bergereja, dan memilih tetap di Lembang. Sangat sulit membawa anak-anak kecil malam-malam ke gereja yang pasti penuh sesak dan meluber. Apalagi di kota lain. Aku juga tidak merasa begitu bersalah, sebab secara teologis, menurut kalender liturgi, sesungguhnya pesta natal bukan tanggal 24 malam tetapi tanggal 25. Tapi, jujur, tetap saja aku merasa kesepian. Kayaknya ada yang hilang dalam diriku. Bagi seorang pendeta sepertiku, natal adalah saat istimewa, dan itu kurasakan betul selama belasan tahun pelayananku. Natal adalah hari yang paling sibuk dan lelah sekaligus menyenangkan dan membanggakan. Tapi natal tahun ini aku tidak sibuk dan tidak lelah. Apakah aku masih tetap senang dan bangga? Aku merasa sunyi.

Sebelum menikah dengan Martha, masih sebagai pendeta pemuda di Palembang pun, saban natal rumahku kebanjiran parcel. Bukan hanya aku, tapi para naposo juga bersukacita, sebab mereka tahu parcel itu pastilah takkan lupa kubagikan untuk mereka. Juga untuk satpam dan penjaga gereja. Kartu-kartu natal (di HKBP di dalamnya selalu diselipkan uang hehehe) mengalir pelan tapi tak berhenti, dan itu pun selalu kupotong sebagian bagi pegawai gereja yang sering terlupakan, dan mahasiswa anak-anak rantau. Dan satu lagi, mungkin manusiawi: setiap pendeta pasti bangga berbunga-bunga jika naik mimbar di depan lautan ribuan manusia yang haus akan firman. Apalagi jika kita berhasil mempersembahkan kotbah terbaik untuk mengisi jiwa mereka di hari besar natal. Tapi sekarang semua itu hilang lenyap. Ya, lenyap seketika. Ah, aku tidak boleh bohong, mungkin tidak semua hilang, sebab toh masih ada beberapa orang baik yang entah kenapa mau susah-payah mencariku sekedar untuk membagikan sukacita natalnya.

Tanggal 24 Desember, jam 23.45 malam. Villa Lembang. Malam sunyi senyap. Anak-anak sudah tertidur lelap karena kecapean seharian bermain. Martha juga sudah tidur. Sendirian, aku berdoa menghadap Allahku, yang pernah memanggil aku jadi hamba anakNya. Aku berterima kasih sebab aku masih memiliki Dia yang mau lahir di tempat yang rendah itu. Aku juga berterima kasih sebab aku masih memiliki jiwaku, memiliki istriku Martha yang cantik, baik dan sangat bersahaja, dan memiliki anak-anakku yang ajaib: Kika Nina Wili. Sumber bahagiaku yang tak pernah kering. Aku mau merayakan cinta kami yang ikhlas, penerimaan tak bersyarat, dan harapan yang tak kunjung padam yang ada di tengah-tengah kami. Sebab itu aku mengatakan dalam doaku, aku ikhlas menerima keadaan ini. Aku tidak mengeluh. Tapi aku butuh bantuan Tuhan memakai pergumulan ini sebagai peluang menempa ulang diriku menjadi baru lagi.

Jam 00.00. Aku mendengar suara lonceng natal bergema halus dalam doaku. Aku merinding sendiri, sujud takzim, takut berpadu hormat di hadapan hadirat Allahku. Natal telah tiba. Juruslamatku telah lahir. Aku pun membangunkan Martha dari tidur nyenyaknya, dan mengajaknya berdoa berdua. Dia tampak lelah dan mengantuk sekali. Dingin Lembang menusuk-nusuk. Anak-anak lelap dibalik selimut. Cuma aku dan Martha yang berjaga, namun hati kami begitu lelah dan lemah. Kami pun berdoa untuk rumah tangga kami, untuk anak-anak pemberianNya: Kika, Nina dan Wili, untuk kelanjutan studi Martha, dan juga untuk masa depan kependetaanku. Juga untuk orang-orang yang mengasihi-dikasihi kami. Secara khusus, kami berdoa bagi semua saudara dan kawan-kawan yang sedang mengalami pergumulan batin dan tidak seberuntung kami. Selesai doa di malam kudus itu, kucium Martha, dan menyuruh dia langsung tidur lagi. Aku pun segera jatuh tidur pulas sambil memeluk Kika yang menggigil kedinginan. Di luar hujan deras.


BERGEREJA SAMA-SAMA

Bagi kebanyakan orang, barangkali itu hanyalah sesuatu yang biasa. Tapi bagi keluarga pendeta sepertiku bergereja bersama adalah kesempatan langka. Apalagi saat natal. Sejak menikah dengan Martha aku belum pernah duduk sama-sama dengannya di bangku gereja saat natal, apalagi lengkap dengan anak-anak di samping. Itu kerinduan dan kecemburuan Martha bertahun-tahun: duduk bersama suaminya di bangku gereja. Kini Tuhan memberikannya. Dan aku terhibur. Kami memilih merayakan natal di HKBP Bandung. Tadinya iparku sempat bertanya, pilih kebaktian pagi jam 7 atau siang jam 11 (maksud sebenarnya: pilih ibadah kelompok yang mana), sebab dia tahu dulu aku saat konflik HKBP ada di kubu SSA. Terserah, kataku, sama saja. Kami pun memilih jam 11, sebab ada waktu banyak untuk bangun pagi, sarapan dan berkemas, serta jalan dari Lembang. Pdt Simbolon yang berdiri di depan gereja menyambut jemaat tampak surprise dan tersenyum ramah melihatku. Bah, na dison do pandita i? Aku tertawa dan menyalamnya. Kami sekeluarga duduk sebaris. Mulai dari kiri: Nina, Bapak, Wili, Kika, dan Mama. Kebaktian berbahasa Batak.

Gereja penuh sesak. Orang-orang berpakaian bagus. Berjas lengkap dan berkebaya baru. Tidak lupa pake whitening atau pemutih wajah, pemerah pipi, dan rambut keluaran salon subuh. Beberapa lelaki tampang khas Batak setengah tua berjas merah marum dan bersepatu putih. Anak-anak muda gagah berpakaian kasual. Para gadis Batak Bandung trendi modis. Aku senyum sendiri. Aku menghayati betul suasana ini, dan tidak pernah mengganggu konsentrasiku berdoa. Kika menyanyikan Halalas ni roha Godang semangat. Wili sibuk menggambar pesawat tempur. Nina, seperti biasa, mirip mamanya, diam tenang, bagaikan air teluk dalam. Entah apa yang ada dalam benak mereka berdua.

Jam 12.30. Kami tidak bisa ikut perjamuan kudus. Martha harus pulang ke Palembang. Berlima kami pun menuju Bandung Super Mall untuk mengantar Martha ke bus menuju bandara Cengkareng diantar oleh Inangbaoku Linggas yang super baik. Mertuaku dan keluarga Iparku yang lain tinggal. Tapi ada masalah baru. Alas sepatu Kika tiba-tiba lepas, dan itu membuatnya sulit berjalan, sebab itu aku menggandengnya rapat, sehingga dia bisa menyeret kakinya pelan dan tidak ketahuan. Persis seperti jalan Paskibraka di tangga Istana. Dan anak-anak belum makan siang dan sudah lapar sekali. Tapi untunglah waktu masih ada. Bus berangkat jam 2 siang. Selagi kami makan, mertuaku dan para iparku yang lain datang bergabung. Mereka baru selesai ikut perjamuan. Aku pun mengajak Wili turun ke bawah mengantar Mama ke bus Primajasa yang akan langsung ke Bandara Cengkareng. Ya, kami harus berpisah di hari Natal bahagia. Mama, jangan lupa hati-hati, pesan Wili.

JUMPA DI MUTIARA

Keesokan harinya, aku, Kika, Nina dan Wili, serta Mbak Lita pamit sebentar ke Jakarta. Mertuaku dan dua iparku yang lain tinggal di Bandung. Ya keluarga dari pihakku sendiri sebagian besar di Jakarta. Juga ibu kandungku, Opung Cibinong, yang sudah berumur 78. Tapi ibuku memang sangat simpel dan nyeleneh, kayakku (lebih tepat aku yang meniru dia). Nggak usah jauh-jauh ke Cibinong, kita jumpa di Mutiara saja. Maksudnya di rumah kakak perempuanku yang tinggal berdua dengan adik mama, Opung kecil di Jalan Mutiara Pulomas. Tahu bahwa “rombongan sirkus” dari Palembang sedang turun dari Bandung, abangku sulung Mula dan putrinya Riri juga sengaja datang ke Mutiara. Juga Roni abangku yang lain dengan anak bungsunya Edwin. Ramailah suasana. Kika, Nina dan Wili bertepuk tangan. Sudah lama sekali mereka tidak jumpa dengan saudara-saudara Bapak. Suasana beda lagi. Kakak perempuanku Ibeth, namboru, sangat sayang kepada anak-anak. Dia sudah siap menerima kedatangan para ponakan dengan segala kerepotan yang bakal ditimbulkannya. Termasuk kasur-kasur untuk tidur, kertas-kertas untuk digambari. Dan tentu saja ambil cuti dari kantor.

Aku menitipkan anak-anak semalam di Mutiara, dan pergi menyendiri ke Galaxi, untuk melamun dan merenung diriku sendiri. Aku yakin di tangan namborunya anak-anak bukan hanya aman, tetapi juga pesta. Lagi pula ada Mbak Lita yang sudah teruji mengurus “tiga panda” kecil ini. Laporan kakakku, anak-anak manis-manis dan baik-baik saja. Riri yang sudah hampir menikah juga ikut menginap. Laporan kakakku semua baik-baik dan gembira-gembira. Kika sibuk di komputer mengetik lagu Mandarin. Nina dan Wili berebut globe, bola dunia. Wili susah tidur, dan baru masuk kamar setelah diancam akan dilapori ke Bapak. Agar HP tidak dimainin, namboru menyembunyikannya. Tapi Nina berhasil melacak keberadaannya dengan menghubunginya lewat telpon rumah. Namboru tidak marah hanya tertawa-tawa saja.

HOUSTON DAN PESAWAT-PESAWAT ANTARIKSANYA

Menurut Mula, keponakan-keponakannya ini seperti pesawat-pesawat antariksa NASA. Menjelajah kemana-mana tapi tetap di bawah kendali Houston. Nama pusat kendali anak-anak itu: Mama. Ya, istriku memang di Palembang, dan bergadang menyelesaikan tugas-tugas program dokter spesialisnya. Tapi dia tak pernah bisa lupa mengontrol anak-anaknya yang seringkali berpergian jauh ke luar kota. Ada tiga hal yang selalu diceknya: tidur siang, minum susu, dan makan. Anak-anak juga rupanya sudah tahu hal itu kebiasaan Mamanya. Dan jawabnya hanya ada satu: YA. YA. YA.

HADIAH NATAL AMANGTUA

Amangtua Mula memberikan hadiah Rp 50 ribu kepada setiap anak: Kika, Nina dan Wili. Dulu sebelum berangkat ke Amerika, aku sudah pernah memberikan “kursus uang kilat” kepada anak-anak ini. Yaitu tentang nilai-nilai uang. Maksudnya supaya mereka tahu bahwa uang itu berharga, susah dicari, dan harus dipakai baik-baik, dan sebagian ditabung. Dan anak-anak juga punya banyak sekali uang-uangan kertas bergambar Barbie dan Spiderman yang mereka beli di kantin sekolah dan disimpan di dompet (pernah sekali hendak dipakai Wili jajan). Mereka sangat gembira dapat uang sungguhan dengan jumlah signifikan. Pesan Amangtua: untuk beli buku. Kami pun ke Gramedia Matraman. Aku mengajak Mbak Lita ikut. Aku ingin mengajar anak-anak bahwa uang itu berharga dan karena itu harus dibelikan juga sesuatu yang bermakna. Pesanku: masing-masing silahkan cari sendiri buku yang disukainya, pokoknya tidak boleh lebih dari lima puluh ribu, dan nanti pergi bayar sendiri ke kasir.

Kika, Nina dan Wili pun sibuk memilah-milah dan memilih-milih. Ada banyak keinginan tapi ada batasan kemampuan. Pilihan terus gonti-ganti. Ambil ini letakkan itu. Sebentar-sebentar mereka meminta bantuan Mbak Lita menghitung apakah harga buku-buku yang mereka pilih tidak melebihi jumlah kuota. Aku sengaja menjauh. Aku tahu bahwa anak-anak itu kepingin membeli sebanyak-banyaknya, tapi juga kepingin ada sisa uang yang bisa dipakai jajan. Biarin saja, kataku dalam hati, di kantongku sendiri sebenarnya lagi cukup banyak uang, tapi sengaja tak kukeluarkan demi sebuah pelatihan.

Hampir sejam, akhirnya anak-anak selesai menentukan pilihan. Masing-masing sudah mendekap beberapa buku di dadanya. Bayarlah sendiri kataku. Mereka tertawa. Belum pernah anak-anak ini sendirian menghadap kasir. Kika berdiri di depan, di belakangnya Nina, menyusul Wili. Aku berdiri beberapa meter di dekat mereka. Kasir Gramedia agak kaget melihat tiga anak kecil antri hendak membayar buku dengan uang lembaran biru di tangan masing-masing. Sepasang keluarga di belakang antrian tersenyum melihat pemandangan lucu ini. Kika mendapat kembalian persis Rp 10 ribu. Nina juga. Wili mendapat Rp 8.300. Aku pura-pura tak melihat. Kika yang polos itu langsung memberikan kembalian kepadaku, simpan Pak supaya nggak hilang. Tapi Nina dan Wili langsung memasukkan sisa uang ke kantong celana jinsnya. Aku diam, tak kasih komentar, dan mengajak mereka pergi.

(bersambung)

Home : http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , , ,

2 Responses to Merayakan Cinta Tak Bersyarat (6)

  1. Riri on January 31, 2007 at 8:27 pm

    uda,
    aku juga kalo nari jelek banget! Kaku kaya robot! Berarti itu emang turunan keluarga ya, gak luwes kalo nari, hehehehe….

  2. -Panriani- on February 1, 2007 at 12:47 am

    ehm.. amang tuh mesti bersyukur lho.. mesti status gak jejas di hkbp, tapi kan masih ada hal yang bisa diambil hikahnya, kaya jadi deket ama anak2 n istri. emang buat laki2 yang udah jadi kepala keluarga palagi dah punya anak “ini” jadi pergumulan berat kali ya. ehhhmm.. tp pengalaman “kami” bicara, walo jalannya pahit, ada hal yang manis kami dapat. pernah suami setelah resign dari kantornya krn nyaris bangkrut terpaksa “menjadi suami ikut istri” ke lampung. bener2 bosen. kerjaannya mancing terus di pesisir kalianda. saban hari cuma dapet ikan simba kecil2 yang dia klaim “udah besar n hebat banget”; n sidejobnya jadi asisten gigi, pegangin senter kl ada pasen cabut gigi yang sulit. tak dinyana, selang 2 minggu, ada tawaran kerja di bangkok dari ex customernya, and there we are…!!! even i had to sacrificed my career as a dentist that will be received as PNS dentist automatically, but it’s okay. so, cheer up, amang!! (huueee, gaya, ngotbahin pdt jembolan!!!) gak ada suatu hal yang mubajir kalo kita lakuin buat keluarga!! kebersamaan dalam keluarga yang lengkap itu sungguh indah kan amang??!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*