Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
KIKA BATAL MENARI
Kika melapor kepada Mama bahwa dia batal tampil menari di Palembang Indah Mall. Kata Bu Guru, Kika sudah ikut paduan suara, sementara Gaby belum ikut apa-apa, jadinya Kika digantikan Gaby. Martha, mamanya sempat cemas bahwa Kika akan kecil hati. Dia sudah beberapa kali ikut latihan menari, dan dia sangat senang dan bangga. Penjelasan Martha kepadaku, mungkin alasan sebenarnya karena Kika memang kurang lentik menari, gerakannya kaku, tapi Bu Guru membuat alasan yang rasional agar dia dan terutama kami orangtuanya tak sakit hati. Aku tertawa sambil mengingat diriku sendiri yang selalu kaku jika olahraga atau main drama. Ya, baguslah kataku. Kika juga harus belajar bahwa tidak dalam segala hal dia pintar dan trampil. Aku sendiri sudah melihat kegiatan ekstra kurikuler Kika sudah terlalu banyak: pramuka, paduan suara, main piano, dan badminton. Kita tidak mungkin menjadi segala-galanya dan meraih semua-muanya.
Aku masih di Jakarta. Dari telpon kudengar Nina sakit. Badannya panas. Dan dia mimisan. Tadi siang dia main dengan Wili dalam mobil Opung yang parkir di bawah awning depan rumah. Mungkin kepanasan, kata istriku. Suaranya sendiri terdengar begitu lesu sewaktu ngomong denganku. Aku minta disambungkan dengan Wili. Halo. Nina kenapa, Wili? Nina sakit. Pengap. Apa? Pengap. Ya, tadi
Aku menarik nafas. Pikiranku menerawang macam-macam. Main dalam mobil dengan kaca tertutup rapat di bawah terik siang? Ya ampun, untung saja anakku tidak mati lemas.
Malamnya Martha menjelaskan lagi bahwa dia sudah menegur supir dan pembantu, kenapa mengijinkan anak-anak main dalam mobil. Kebetulan dia belum pulang, dan Opung sedang istirahat. Ya, kataku menegaskan, pokoknya larang anak-anak main dalam mobil. Wili rupanya merasa bersalah. Dialah yang mengajak kakaknya main dalam mobil. Sekarang kakaknya terbaring kuyu sekali. Dan dia ketakutan ketika tiba-tiba melihat darah menetes dari hidung Nina. Kata Martha, Wili terus menunggui kakaknya di tempat tidur, sambil mengusap-usap kepala Nina, persis seperti yang biasa kulakukan kepadanya. Ya begitulah hidup, kataku. Yang penting kita harus lebih hati-hati. Bahaya bisa terjadi di rumah sendiri.
Nina belum pulih benar. Kika tampil paduan suara bahasa Mandarin di Palembang Indah Mall. Wili menari Tari Anjing. Empat anak lelaki dan
Mal adalah pusat hiburan yang sangat menawan dan menggoda. Membawa anak-anak ke Mal berarti biaya ekstra. Dan itu tidak sedikit. Anak-anak sangat kepingin main di Time Zone, alasannya sudah lama sekali tidak main di
Lewat SMS aku mengatakan kepada Martha agar Nina dibelikan buku saja, minimal satu, sebagai kompensasi dia tidak punya peran apa-apa di pentas sekolah. Martha dengan hati dag-dig-dug pun mengajak ketiga anak itu ke toko buku di lantai dasar. Namun masuk ke toko buku, bagi anak-anakkami adalah sebuah pesta besar. Sejak dulu aku dan Martha sepakat untuk tidak terlalu membatasi pengeluaran khusus untuk buku cerita anak-anak. Itu jendela-jendela kecerdasan mereka. Tapi kondisi sekarang sangat sulit. Aku, terus terang sudah tiga bulan tidak lagi menerima gaji dari HKBP, sementara Martha masih kuliah dan hanya sesekali saja praktek. Tapi tentu saja anak-anak tidak tahu itu. Wili, yang sudah pintar membaca, dan punya hobi baru baca buku, segera keliling
hunting
, dengan cepat menangkap empat buku hiu dan planet kesukaanya di rak, lantas mendekapnya di dada.
Hati Martha diiris. Dia sungguh tidak ingin mengecewakan Wili. Namun Martha juga sadar persis berapa uang yang ada. Dan istriku memilih untuk jujur kepada anak-anak. Dia berbisik kepada Wili bahwa Mama tidak punya uang yang cukup sekarang, nanti kita juga masih harus makan di KFC, karena itu dia membujuk Wili agar kapan-kapan saja kita beli bukunya. Pokoknya Wili tandai aja, kapan-kapan kita ambil. Anak itu menurut. Dia mengangguk diam. Tapi tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan istriku melihat Wili harus melepaskan lagi buku yang sudah sempat didekapnya erat, meletakkannya hati-hati di rak, kemudian memegang tangan Mamanya keluar dari toko buku itu dengan tangan hampa, tanpa suara. Perasaanku sendiri mendengarnya, jujur, seperti dihantam bata.
Tapi pertolongan Tuhan memang selalu tak terduga. Berkat pasti turun di saat kita menyerah. Tak dinyana, Tuhan mengirimkan berkatnya kepadaku malam itu juga. Persis seperti Dia mengirim burung gagak kepada Elia di musim kering di sungai Kerit. Aku segera menelpon Martha malam itu juga. Besok, ambillah buku kesukaan Wili itu, Say, uangnya pagi-pagi kutransfer. Sore harinya mereka kembali lagi ke Mall dan langsung ke toko kemarin untuk menebus kesedihan semalam. Empat buku hiu dan planet pilihan Wili itu masih tergeletak rapih di tempat Wili kemarin mengembalikannya.
Desember sudah tiba. Ini saatnya memasang pohon natal dan gua natal. Sayang, aku belum bisa juga ke
Tapi gua Betlehem tanggungjawab Kika, Nina dan Wili. Anak-anak bersorak. Mereka pun sibuk bukan kepalang. Namun ada yang ganjil dengan Gua Natal itu. Isinya bukan hanya Bayi Yesus, Gembala dan Domba, tetapi juga macan tutul, gajah, badak, jerapah, mobil jeep, truk berisi kelereng, power ranger dan spiderman. Di atas gua para Barbie dan anak-anaknya duduk santai bergaya bak malaikat efrata. Dipenuhi dengan semua mainan Kika, Nina dan Wili, Gua Natal Yesus di rumah kami menjadi tidak karu-karuan, aneh lucu, tapi yang pasti menyenangkan anak-anak, yang sedang merayakan kelahiran bayi bernama Yesus.
Penerimaan rapor. Kika kembali juara-1. Wili meloncat juara-2 (tadinya tidak juara) namun mengaku kepada kakak-kakaknya juara-1. Nina juara-4. Ya, Nina juara empat. Kika tidak ada masalah. Dia kayaknya memang sudah menduga hasilnya. Namun Martha dan aku mengingatkan dia agar rendah hati, sebab mempertahankan juara pertama lebih sulit daripada merebutnya. Wili pantas mendapat pujian, dan dia bangga sekali, walaupun bohongnya sulit dibenarkan apapun alasannya. Sebab itu aku berfokus kepada Nina. Dia tampak tidak begitu gembira dan lebih banyak diam. Aku merasa ada sesuatu yang jadi beban anak ini. Instingku berjalan. Aku menanyakan kepada Martha, Ilva (anak yang suka menyontek dan memusuhi Nina) juara berapa? Juara-2, kata istriku. Oh, ini rupanya masalahnya.
Aku segera menganggap situasi ini sebagai kesempatan emas mengajarkan kepada anak-anak kami nilai yang lebih penting dan hakiki. Aku segera berpidato di depan ketiga anakku dan istriku: jadi juara itu memang hebat. Kita harus belajar serius supaya nilainya bagus dan jadi juara. Tapi ada yang lebih hebat: jadi anak yang jujur. Nina pernah menyontek di kelas? TIDAK, katanya sambil menggeleng. Kutanya sekali lagi menegaskan, Nina pernah ngga nyontek waktu ujian? Tidak, katanya. Kika dan Wili juga mengaku tidak pernah menyontek. Kataku: berarti Nina hebat. Kalian anak-anak hebat. Juara hebat, tapi jujur lebih hebat! Kucium dan kupeluk Nina lama. Dia tetap diam. Aku menarik nafas. Nanti Bapak ajarin Nina, pasti lain kali Nina bisa juara-1 atau 2. Nina gadis kecilku senyum tersipu. Kamu cantik sekali, Nina!
(bersambung)
Home : http://rumametmet.com
Share on Facebook
Ninaaaa..
aku juga punya pengalaman yang sama dengan kamu..
hanya bedanya kamu mengenai rangking dikelas klo aku mengenai lomba menari.
Sewaktu aku kelas 4 SD,..aku ikut lomba ballet dan pada saat pengumuman siapa yang bisa masuk ke final, namaku tidak tersebut..
tetapi temanku yang suka isengin aku (dan teman-teman yang lain) masuk final…
Huhuhu..
setibanya dirumah, aku menangis ngak berhenti2..
ngak rela, ngak rela, ngak rela…:(
Tapi Bapakku bilang..
itu berarti, aku harus berlatih ballet lebih rajin lagi dan yang terpenting..
harus tetap menjadi anak yang baik, supaya selalu banyak teman..
..
dan kata2 itu benar banget…:)