Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap
Nangka Penyulut Perang
Aku baru saja pulang menjemput Kika. Kedua adiknya, Nina dan Wili di rumah. Martha belum pulang dari RS. Opung juga masih di RS. Tapi ada yang aneh. Rumah sangat hening, tak ada mahluk menyambut di pintu. Aku curiga ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Wili kutemukan duduk di kasur kamar tidur tengah dengan wajah mengundang tanya. Nina di kamar tidur belakang, berselimut, berbaring menatap langit-langit. Semua diam. Semua tak bersuara.
Aku mendekati Nina. Ia menutup matanya dan membuang muka. Ada apa Inang? Dia tak menjawab. Nina sakit? Dia menggeleng. Tiba-tiba Wili datang mengambil bantal guling dan selimut, kemudian pergi lagi dan tidur sendirian di kamar sebelah. Aneh sekali. Ada apa Amang? Wili menggeleng. Aku mengatur nafas. Ya sudahlah, tidurlah Amang, kataku. Tapi, aku segera menghampiri pembantu menanyakan apa yang terjadi. Biasa Pak. Berantem. Apa? Ya, berantem!
Aku menyelidik. Apa awal masalahnya? Si Mira lantas menceritakan panjang-lebar: Nina makan nangka, yang baru dipetik dari pohon di belakang, lantas menyodor-nyodorkan potongan buah nangka itu ke mulut Wili. Adiknya sangat tidak suka bau nangka. Wili menghindar. Namun Nina mengejar-ejar Wili sambil membawa sepotong nangka. Wili berteriak-teriak menolak. Tapi kemudian dia tiba-tiba membalas. Dia mengambil bantal dari kamar tidur dan melemparkannya ke Nina. Kakaknya tidak menerima, dan balas melempar. Wili memukul Nina. Kakaknya membalas dan lari ke kamar tidur dan menguncinya dari dalam. Wili menggedor-gedor. Kemudian kedengaran bapak pulang, anak-anak langsung diam. Lelah sekali aku mengatur nafasku mendengar kisah nangka dan perang bantal itu.
Sore harinya peristiwa itu kuceritakan kepada Martha. Menurutku ini harus diatasi. Mama dari pagi sampai jelang sore tidak di rumah. Bapak sering di Jakarta. Anak-anak harus bisa hidup damai sesamanya. Aku memanggil rapat darurat. Ya: rapat luar biasa. Kali ini di meja makan. Semua duduk, kataku tegas. Aku mengambil tiga potong kertas dan tiga bolpen. Ayo masing2 tulis bagaimana caranya agar kalian tidak berantem di rumah, apalagi kalau mama, bapak dan opung tidak ada. Anak-anak itu senyum kecut. Aku memasang wajah serius penuh wibawa. Semua pikir baik-baik dan tulis sebanyak-banyaknya! Kita harus bisa mengatasi masalah perkelahian ini. Tapi Wili belum lancar menulis, sebab itu aku menyuruh dia membisikkan ke mamanya, agar Mama yang bantu menuliskan pikirannya.
Setelah lima belas menit, aku minta masing2 anak membacakan pendapatnya. Aku dan Martha menahan senyum mendengar anak-anak gantian membacakan pikiran-pikiran mengatasi perkelahian kakak-adik: jangan merebut buku dari tangan orang lain. Gantian pake mainan. Jangan teriak-teriak. Kalau mau minjam punya orang permisi dulu. Kalau main jangan curang. Makanan dibagi. Jangan pelit. Jangan main pukul. Blablabla. Blablabla. Bagus kataku. Sekarang semua tandatangani kertas masing2. Wili juga, Pak? Ya. Kepada Nina dan Kika kugarisbawahi: jangan main kunci kamar!
Anak Gadisku Mulai Besar
Kika dan Nina sudah tumbuh menjadi gadis junior. Wajah mereka cantik dan badan mereka bagus. Dan itu membuat Martha dan aku mulai cemas. Aku tidak mau anak gadisku mengalami pelecehan atau kekerasan, yang bisa menjadi trauma seumur hidup, dan mimpi buruk bagiku. Syukurlah, sekolah membuat aturan semua anak perempuan memakai hotpant juga dibalik rok seragam di bawah lutut. Alasannya, kata istriku agar anak-anak perempuan bebas bermain. Walaupun menurut mertuaku yang juga dokter kulit itu kurang sehat. Tapi ada satu lagi. Mereka sering les. Dan banyak anak selalu mengganti pakaian seragam dengan pakaian bebas. Alasan Kika panas memakai seragam. Tapi, aku tahu betul, dia kepingin gaya dan modis seperti teman-temannya. Oke-oke aja sih. Namun aku tidak begitu sejahtera anak-anak selalu berganti pakaian di ruang kelas sekolah, apalagi di mobil. Apalagi sekolah tidak menyediakan ruang ganti yang memadai. Akhirnya Martha dan aku sepakat membujuk Kika dan Nina agar tidak usah mengganti baju seragam walaupun les atau bimbel sampai sore jam 3. Kalian sudah gede. Tidak baik kalau ganti baju dilihat-lihat banyak orang. Anak-anak perempuan itu menerima.
Itu Tidak Adil
Ada satu kata yang sudah menjadi darah daging anak-anak kami: adil. Semua harus adil. Aku dan Martha sejak awal setuju menjunjung prinsip adil itu. Tapi menerapkan konsep keadilan ke dalam praktek berumah-tangga sangat sulit. Keadilan lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Apalagi konsep keadilan anak-anak masih mirip komunis: sama rata sama rasa. Mana mungkinlah itu di dunia yang kompleks ini. Namun ada juga teknik mengatasinya: bergiliran. Dan anak-anak sudah tahu dan menghayati makna bergiliran. Jika hari ini Kika duduk di depan, maka besok Nina, dan selanjutnya Wili. Jika kemarin Kika diajak opung ke Bandung, maka besok ke Medan yang diajak Nina, dan kesempatan berikutnya Wili. Beberapa hal seperti buku cerita dan mainan lego dianggap “kepentingan umum”, dijadikan milik bersama, dan memakainya juga harus gantian.
Tapi anak-anak sering mengartikan keadilan begitu harafiah. Bukan hanya kuantitas dan kualitas. Kadang sekedar, bentuk, corak dan warna juga dipermasalahkan. Ada tiga handuk: pink, biru, hijau. Kika dan Nina ngotot sama-sama mau pink. Wili protes kenapa kue ultahnya kotak, sementara Nina tempo hari bulat. Kika komplain kenapa Nina diajak mama fotokopi, sementara dia tidak. Tak bisa kubayangkan betapa pusingnya istriku Martha sehari-hari mengatasi problema keadilan yang tidak realistis ini. Aku sendiri sering sakit kepala. Apalagi Wili komplain sebab sebagai anak bungsu kenapa dia selalu di urutan nomor buntut dalam urusan pergiliran. Kataku ini seperti lingkaran, selalu berulang, jadi tak ada yang didepan dan di belakang. Tapi dia belum puas juga, kenapa sih aku lahir nomor-3, tanyanya. Untuk satu hal ini aku tak punya jawaban.
Jam 15. Mama, Kika dan Nina baru pulang dari mall. Masing2 mendapat satu celana panjang jins baru. Nina sangat gembira. Tapi Kika kecut dan langsung masuk kamar. Dia langsung memeluk aku dan menangis terisak-isak. Tidak adil! Tidak adil! Tangisnya begitu mengiris hati. Aku terkejut. Apa yang tidak adil, tanyaku. Nina punya celana panjang yang banyak, Kika punya hanya dua. Aku belum mengerti. Tunggu, kataku, lantas keluar menjumpai Martha untuk menanyakan apa masalah.
Martha menjelaskan masing2 mendapat satu celana, tapi Kika protes, sebab celana Nina sudah banyak. Kenapa bisa lebih banyak tanyaku heran, sebab kami selama ini selalu bersikap adil. Mamanya senyum. Ya, kan celana Kika kalau sudah sempit walaupun masih bagus turun ke adiknya. Jadinya celana Nina semakin hari semakin banyak. Masih terisak-iak, Kika tiba-tiba datang dan mengajak aku memeriksa lemari baju Nina untuk menunjukkan “kesenjangan sosial” itu. Aku menghela nafas. Masalah keadilan memang selalu rumit, kataku dalam hati. Tapi aku sadar: No justice no peace! Tidak ada keadilan tidak akan ada damai.
Lantas bagaimana? Aku mengatakan kepada Martha biar aku yang menghandel masalah ini. Aku pun mengajak Nina ngomong dan menjelaskan duduk perkaranya. Celana Nina sudah banyak sekali, sebab Nina juga menerima celana Kika yang sudah tidak bisa dipakainya. Tapi Kika celana panjang jinsnya tinggal dua. Nina setuju kan kalau Mama belikan Kika celana satu lagi? Nina mengangguk ikhlas. Beres. Aku mengatakan kepada Kika: sudah berhenti menangis, Kika dapat satu celana lagi. Senyum anak gadis sulungku pun mekar kembali.
Belajar Agama Mestinya Menyenangkan
Martha hakikatnya sangat rajin dan tekun melatih anak-anak mengulang pelajaran di sekolah. Dia bahkan menyediakan waktu saban hari, di sela-sela pekerjaan dan kuliahnya yang super padat di RS, untuk membuat soal-soal bagi Kika dan Nina. Tapi ada dua mata pelajaran dimana dia menyerah. Pertama: Bahasa Mandarin. Dia mengaku kepada Kika dan Nina bahwa Mama dia tidak tahu apa-apa, sebab itu anak-anak harus belajar sendiri. Syukurlah nilai Bahasa Mandarin Kika dan Nina selalu di atas 80. Kedua: pelajaran Agama. Itu diserahkan kepada Bapak, apalagi jika aku sedang di Palembang. Mungkin dianggapnya pendeta lebih pantas mengajar Agama ketimbang residen kulit. Atau, jangan-jangan dia memang tidak tahu banyak juga tentang Alkitab. Aku sendiri menerima tugas ini dengan sukacita, tapi bukan tanpa beban. Pertama: menurutku pelajaran Agama untuk anak-anak SD seharusnya adalah bentuk seni tuturan cerita yang indah dan bukan menghapal nama-nama tokoh Alkitab, nama kota dan desa di Timur Tengah kuno, atau menghapal ayat-ayat yang gurunya sendiri tidak bisa mengingatnya. Itulah sebabnya aku susah-susah membelikan anak-anak Alkitab bergambar yang begitu indah, dengan bahasa yang sangat sederhana. Juga buku-buku cerita Alkitab yang mengundang mata dan jiwa masuk ke dalamnya.
Tapi kurikulum sekolah mengharuskan anak-anak menghapal agama. Ya, agama hapalan. Ini dilemma. Jika aku bertahan dengan prinsipku nilai Agama anak-anak akan jatuh, dan itu bisa-bisa membuat mereka tinggal kelas. Tapi, jika aku mengikuti begitu saja kemauan guru-guru agama (dan pemerintah) ini aku harus melawan nuraniku sendiri. Oh sulitnya nasibku. Tapi aku gembira, sebab anak-anak tanpa disuruh-suruh sangat suka membaca Alkitab bergambar (bukan Alkitab standard LAI yang kulitnya plastik hitam dan hurufnya kecil-kecil itu). Mereka benar-benar menikmatinya. Harapku cerita-cerita mulia itu akan meresap dan tertanam dalam jiwa mereka, dan kelak setelah dewasa, akan menjadi kerangka atau frame yang kukuh bagi mereka membangun pemahaman dan sikap teologisnya merespons realitas. Tapi bagaimana dengan ayat-ayat panjang yang tetap harus dihapal Kika?
Aku ada ide. Kika sangat hobi menggambar. Kusuruh saja dia melukis indah ayat-ayat Alkitab itu dengan tangannya, dan mewarnainya bagus-bagus, dan menempelnya di dinding kamar. Aha. Dia langsung hapal ayat-ayat itu dengan mudah, sekaligus bangga dengan karya imannya. Tapi Nina tetap saja kesulitan menghapal siapa suami siapa, siapa istri siapa, dan siapa anak siapa dalam Alkitab. Aku pun mengambil kertas besar dan menggambar garis silsilah dari Abraham, Ishak dan Yakub dengan 12 anaknya. Dan kebetulan aku menghapal semua nama anak laki-laki Yakub itu (plus nama anak perempuannya: Dina). Tapi Nina cukup kritis. Yakub punya anak, tentu dia punya istri. Siapa? Aku terdiam sebentar. Kemudian aku menyebut empat nama istri Yakub: Lea, Rahel, Bilha dan Zilpa. Nina bertanya: kok banyak banget sih istrinya? Aku tertawa, ya jaman dulu begitu sayang, sekarang tidak lagi. Sudah deh Pak, satu aja kita tulis istrinya, katanya. Oh jangan, kalau empat ya mesti ditulis empat. Nina diam.
Aku baru saja selesai melatih Nina belajar Agama ketika Wili datang membawa pertanyaannya sendiri: Bapak, kok aku nggak bisa melihat Tuhan Yesus? Aku meletakkan koran di tanganku. Mimiknya serius. Apa? Wili ngga bisa melihat Tuhan Yesus, kuulangi pertanyaannya menegaskan. Ya jawabnya. Tidak apa-apa Amang, bapak juga ngga bisa melihat Tuhan Yesus kok. Tak bisa kita lihat tapi Dia ada. Aku pun buru-buru merem diriku untuk tidak memberi kuliah dogmatika kepada anak empat tahun. Aku tidak tahu apakah jawabanku cukup memuaskannya, tapi kulihat dia langsung pergi dan sibuk lagi dengan robot spiderman kesayangannya. Kini giliranku yang bingung dan bertanya-tanya.
(bersambung)
Home:
http://rumametmet.com
Share on Facebook
Tags:
cerita keluarga
,
keluarga batak kristen moderen
,
pendidikan anak-anak dalam keluarga
,
rumah tangga kristen
,
spiritualitas keluarga
Memang benar…kata “adil” sulit untuk prakteknya
kok celana2 panjang kika bisa ditampung / muat ama nina? heheeee.. enakan jadi ade dong, banyak stok baju n celana2 sisa dafri kakak2nya..
ehm.. willy cukup kritis buat anak 4 th. bisa nanya kenapa willy bisa jadi anak ke3 bukan ke1? dan dia tanya kenapa dia gak bisa liat yesus?? ;=D
ha..ha..ha… mendidik anak memang punya seni tersendiri amang yah…
hehehehe….jd teringat masa kecil.aq dengan vina…adikku hanya berjarak 1 thn.taulah anak perempuan…prinsip adilnya kekeuh bgt.mknya mama selalu membelikan baju…atau lainnya dgn model dan warna yang sama.mknya kami terlihat spt kembar.tp seiring waktu…kedewasaan telah mengubah konsep tsb.konsep ADIL…berubah menjadi kalo memang adikku lebih membutuhkan ya…dengan rela hati aq tidak menuntut.kan belum tentu barang itu menjadi sesuatu yang penting juga untukku…drpd mubazir..
dr semua yang amang tulis di rumah metmet, bagian ini paling m’buat emosiku meletup2..hehehe..
Anakku, Pascal yang berumur 4,5 tahun pernah ‘ngambek’ ngga mau sekolah Minggu, tapi ngga mau juga ditinggal Papa Mamanya ke Gereja. Akhirnya setelah janji ngga akan ribut, kami bawa lah dia ke dalam kebaktian. Pas waktu mau mulai , dia liat amang liturgos (yang kebetulan brewokan) membuka kebaktian. Terus dia tiba-tiba tepuk tangan sambil ngomong setengah berteriak (padahal udah janji ngga akan ribut), “Mama! Aku bisa liat Tuhan Yesus! Itu kan? Yang di depan kan? Di bawah salib itu?”
Daniel Harahap: