Merayakan Cinta Tak Bersyarat (3)

January 29, 2007
By

martha-daniel.JPG

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Dari Mana Aku Lahir?
Suatu hari aku menemukan buku mungil dan bagus, dengan judul menggoda: Dari mana aku lahir. Aku langsung membolak-balik halamannya, membaca seksama isinya dan memperhatikan gambar-gambarnya. Ini buku pendidikan seks yang bagus untuk anak-anak, kataku. Menjawab rasa ingin tahu dan penasaran anak-anak tentang asal-usulnya secara akurat dan bertanggungjawab. Menurut Martha kecuali gambar janin di rahim ibu yang lupa dibuat dalam posisi terbalik, buku itu sudah benar. Syukurlah Orde Baru tumbang, kalau tidak, buku semacam ini pasti sudah dilarang, kataku dalam hati. Aku pun membayarnya sembari senyum dan tidak lagi berpikir apa-apa.

Tapi betapa kagetnya aku, ternyata Kika, Nina dan Wili menyukai buku itu lebih dari apa yang kusangka. Mereka bukan hanya tertawa-tawa senang, tapi juga begitu antusias, bahagia kebangetan, dan membacanya bolak-balik tak bosan-bosannya sampai kertasnya lecek dan robek. Anak-anak pun segera punya kosa kata baru yang langsung melekat di kepalanya yang mungil: rahim. Hamil. Janin. Ya ampun. Aku mulai waswas dan sempat bertanya: apakah aku salah telah memberikan informasi terlalu dini? Tapi kupikir-pikir lagi tidak, sebab tanpa buku itu pun anak-anak akan mendapatkan ”info seks” dari teman-teman sekolahnya, dan aku yakin informasi dari buku yang ditulis seorang pendidik yang punya hati pasti lebih bertanggungjawab.

Insiden Uang Dalam Tas
Aku kembali ke Jakarta. Ada tugas pelayanan yang harus kukerjakan. Aku janji kepada anak-anak akan segera kembali lagi ke Palembang. Anak-anak menuntut memastikan tanggalnya, namun aku hanya bisa mengatakan: segera. Bapak jangan bohong, kata Wili. Emangnya bapak pernah bohong, jawabku membela diri.

Aku sedang di Jakarta sewaktu Martha menelpon ada insiden. Di dalam tas Nina ia menemukan dua lembar uang seribuan. Padahal dia merasa tidak pernah memberikan uang jajan kepada anak-anak. Pertanyaan: dari mana asal-usul uang ini. Nina cuma menjawab itu uangnya, namun tidak mau memberitahu dari mana. Namun dalam urusan rumah tangga dan keluarga Martha istriku setara perwira polwan berpengalaman. Dia pun melakukan investigasi. Pembantu rumah pun diinterogasi. Mbak Lita mengaku bahwa itu memang uang Nina, kemarin disembunyikannya di balik tumpukan pakaian yang sudah diseterika, namun rupanya Nina lupa, sehingga Lita mengembalikan lagi uang itu ke tas Nina. Wili tak tahu menahu. Tapi diam-diam Kika jadi informan mamanya: aku lihat di Sekolah Minggu Nina tidak masukin uang ke kantong persembahan.

Martha pun mencari akal bagaimana agar Nina mau jujur. Dia mengajak Nina ke kamar dan bertanya: dari mana uang Nina? Gadis kecilku lama tak menjawab. Mama tidak marah, yang penting Nina bilang dari mana Nina dapat uang, soalnya Mama tidak pernah memberikan uang kepada Nina. Gadis kecilku langsung memeluk mamanya dan menangis sekuat-kuatnya. P-e-r-s-e-m-b-a-h-a-n! Perasaan Martha jatuh, Nina menangis layu, ia tampak begitu sedih dan malu. Martha membujuknya. Ya lain kali jangan ya. Itu uang persembahan untuk Tuhan, itu bukan hak Nina.

Mendengar cerita ini perasaanku campur aduk, antara lucu, haru, dan juga siaga. Aku ingat biografi Jimmy Carter yang pernah mencuri uang persembahan Sekolah Minggu dan dipukuli ayahnya. Aku juga ingat bahwa waktu kecil aku juga sudah ahli dalam hal mengkorupsi uang belanja, walaupun selalu saja tertangkap.

Rapat Keluarga: Tiga Agenda Utama
Tiga hari berselang, aku kembali ke Palembang dan mengundang rapat keluarga: Martha, Kika, Nina dan Wili, dan aku sebagai ketua rapat. Nina langsung mengambil kertas dan bolpen, ia ditunjuk sebagai notulis. Wili gelisah. Dia tahu rapat keluarga selalu diadakan bila ada masalah. Aku menawarkan usulan agenda rapat. Ke-tiga anak itu serempak koor: masalah uang jajan. Martha mengusulkan: masalah keengganan menyalam orang lain (anak-anak kami sejak dulu sangat sulit menyalam orang lain, dan cuek). Aku sendiri mengajukan topik membereskan buku cerita dan mainan.

Aku dan Martha sepakat tidak mau menyinggung lagi insiden penyelewengan uang persembahan, tapi langsung ke akarnya: keinginan punya uang jajan. Dalam hal ini Martha dan aku sebenarnya berbeda pendapat. Istriku sangat tidak setuju anak-anak mendapat uang jajan. Argumennya: anak-anak sudah dilengkapi segalanya, kantin sekolah tidak hiegenis banyak “junk food” atau “makanan sampah”, dan anak-anak harus belajar hemat. Suatu argument yang sangat valid dari seorang Mama yang kebetulan berprofesi dokter. Tapi aku punya alasan lain, jaman sudah berubah, teman-teman mereka semua mendapat uang jajan (bahkan sebagian dalam jumlah keterlaluan), itu membuat anak-anak suka iri dan kecil hati. Alasan lain: anak-anak perlu juga melek uang.

Aku dan Martha berdebat. Rapat satu lawan empat. Sebab sudah pasti anak-anak mendukung aku soal uang jajan ini. Akhirnya Martha setuju dengan sejumlah syarat: anak-anak mendapat uang jajan hari Rabu dan Sabtu. Syarat lain: Mama harus tahu uang itu dibelikan apa. Tambahan: sebagian uang harus ditabung. Satu lagi: Wili belum boleh pegang uang, masih TK, sebab itu uang dipegang Izak supir. Wili protes, tapi Mama bersikeras. Berapa jumlah uangnya, tanya Nina bak seorang sekertaris yang ingin notulennya akurat. Rp 5000 jawabku cepat. Martha melotot. Tapi keputusan sudah diambil.

Anak Kami Enggan Menyalam dan Menyapa
Agenda kedua didominasi oleh Martha. Mama suka malu karena kalian begitu sulit menyalam dan menyapa orang lain: saudara-saudara, teman dan guru mama, juga guru kalian di sekolah. Aku diam. Dalam hatiku kalau Kika, Nina dan Wili enggan menyalam dan menyapa orang lain, yang paling malu seharusnya mereka sendiri, bukan aku atau Martha. Toh aku sangat suka menyalam orang lain. Tanya saja jemaat HKBP, kataku dalam hati. Tapi tentu saja tak kukatakan, karena pasti Martha marah. Anak-anak diam. Wili gelisah. Dia tahu bahwa itu paling ditujukan untuknya. Karena kemarin dia menepis tangan guru Nina, dan tadi pagi harus dipaksa mamanya mencari guru Nina untuk meminta maaf dan menyalam secara khusus. Kalian harus sopan dan ramah. Jangan sombong. Petuah Martha. Anak-anak pun janji. Aku menambahkan tips: kalau menyalam orang, lihat muka orang yang disalam!

Efek Uang Jajan
Seminggu sesudah rapat keluarga, aku bertengkar kecil dengan Martha. Anak-anak sering tidak menghabiskan bekal makanan yang dibawa dari rumah. Alasannya kenyang. Martha mengatakan ini akibat uang jajan. Kita mesti tinjau lagi, katanya. Itu keputusan rapat, mengubahnya mesti dalam rapat juga, kataku persis seperti yang sering kukatakan kepada para parhalado HKBP. Tidak! Pokoknya uang jajan pending, veto Martha. Aku mengalah saja. Bahasa Palembang: kecikkan bala! Aku ingat di Dewan Keamanan PBB juga ada negara adidaya yang punya hak veto, yang bisa mengalahkan suara mayoritas. Tapi diam-diam aku menanyain anak-anak mengapa mereka tidak menghabiskan bekal yang sudah disiapkan Mama, sehingga Mama tidak mau kasih lagi uang jajan. Alasannya: kenyang. Lupa. Ya sudahlah kataku memperkecil masalahku dengan istriku.

Tapi ada soal lain lebih serius. Tadinya aku cuma penasaran ingin tahu kemana saja anak-anak memakai uang jajannya. Teh kotak. Uang-uangan kertas. Gelembung balon. Dan satu lagi yang mengejutkan dari Nina: lotere Kimpop. Tanpa rasa bersalah. Nina bercerita dia suka beli lotere Kimpop. Harganya Rp 1000, hadiahnya Rp 6.000. Tapi kata Mbak penjualnya, kalau tidak menang, ngga boleh nangis! Nina pernah menang? Nggak! Aku menahan tawa. Anakku umur enam tahun sudah bisa judi. Oalah. Aku tidak marah, tapi kukatakan lembut bahwa membeli lotere itu tidak baik, uangnya ditabung saja supaya banyak. Tapi kepada Martha kutegaskan besok aku akan ke sekolah mengecek. Benar, di dinding kantin sekolah, kulihat lotere Kimpop digantung. Aku tak mengatakan apa-apa kepada penjaga kantin, tapi langsung menuju kantor principal, kepala sekolah. Bapak tahu item apa saja yang dijual di kantin, tanyaku santun hormat. Beliau menjawab jujur: tidak. Disana dijual lotere, dan saya sebagai orangtua murid keberatan, sebab itu mengajarkan anak-anak berpikir gambling dan spekulatip. Kepala sekolah kaget. Dia berjanji akan segera membereskan masalah itu. Aku pun pulang dengan lega. Dua hari kemudian kutanya Nina apakah di kantin masih ada jual Kimpop, anak itu menggeleng: tidak ada. Diam-diam aku pun tersenyum penuh kemenangan.

Aku Tidak Suka Buah
Aku bolak-balik Jakarta-Palembang. Martha menelpon mengadu bahwa Wili tidak mau sama sekali makan buah. Dan dia meminta bantuan Bapak agar langsung ngomong di telepon kepada Wili. Aku sebenarnya kurang suka kalau Martha membuat aku jadi “centeng” untuk menghadapi anak-anak agar mau menurut. Tapi mungkin dia sudah hampir habis akal menghadapi anak laki-laki satu ini yang sedang dalam tahap melawan. Dan aku sadar, demokrasi dan kebebasan yang kami terapkan di rumah, menambah rumitnya proses pengambilan keputusan. Kukatakan kepada Martha itu masih lebih baik daripada keputusan yang dipasakan. “Wili, kamu ngomong sendiri sama Bapak!” terdengar suara Martha berteriak. Apa sih, jawab Wili seenaknya dengan gaya cueknya.

“Ada masalah apa Wili?” “ Mama paksa-paksa aku makan buah. “

“Kamu ngga suka buah?” “ Ya, aku ngga suka buah .”

Aku menarik nafas sambil berpikir bagaimana mencari win-win solution, agar kami sama-sama menang.

“Oke Wili” kataku. “Ada banyak buah: semangka, melon, mangga, nangka, apel, anggur dll. Kamu suka yang mana? Sebab anak-anak harus makan buah supaya sehat dan besar.” “ Aku ngga suka semuanya, ” jawabnya dari ujung telepon.

“Ngga bisa begitu. Mesti pilih satu. Terserah Wili mau buah apa saja,” kataku tidak mau mengalah juga. Wili terdiam sesaat lantas berkata tegas: “ Oke. Aku cuma mau minum air jeruk. Itu perjanjiannya. Titik. Bilang ama Mama! ” katanya, lantas meletakkan gagang telepon.

Aku terpana sesaat lantas tertawa sendiri, kemudian balik lagi menelpon istriku ke Palembang. Dia sudah setuju minum air jeruk setiap sore. Ya sudahlah say, itulah dulu, kataku kepada Martha, besok-besok kita negosiasi lagi. Aku pun melanjutkan pekerjaanku, tugasku sebagai juru runding kurasa sudah maksimal walau tak optimal. :-)

(bersambung)

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , , ,

7 Responses to Merayakan Cinta Tak Bersyarat (3)

  1. helga on January 29, 2007 at 8:34 pm

    Kisah yang menarik dan lucu:)

  2. -Panriani- on January 30, 2007 at 12:46 am

    waaa.. aji gile!! nih amang, dah ngenalin info sex sedini mungkin ke anak2? apa gak terlalu prematur deh? emang sekarang jaman edan.. apa aja bisa kejadian.. tp aku gak kebayang deh anak2 umur 7-8 th kaya kika-nina ngomong “hamil, janin, dll”.. ggrrr!! ntar pegimane ya jelasin info ini ke boru ku?? gak kebayang juga 7-8 th yad??

    waaa.. unik juga kalo bu pdt. “ngajar” anak2 gak ngasih uang jajan. ehhhmm.. apa anak2 gak protes ya? bisa gitu nerimo.. bener kaya amang pikir n bilang. anak SD jaman sekarang uang jajannya per hari kaya uang jajan SMU ku dulu, minimum 5,000 perak. emang bakalan nyekek kayanya.. tp mending “pelan2 anak2 kan juga perlu melek uang”, biar kagak gaptek, eh kagak norak megang uang gituuu.. heheeeehhee.. asal jangan dijajanin, ditabung di celengan2 kaya jaman dulu tuh, bentuk ayam/babi yang dari tanah liat, heheee.. masih ada gak ya sekarang (yg kl udah penuh ama uang resehan, trus dituker ama uang keras rupiah yang gedean trsu dibikin buku tabungan anak2 gitu)..

    trus.. kesan yang kudapat setelah baca bagian 1-3 ini.. amang ini pengarang buku YANG LUMAYAN OK!!! HAHAHHHAA.. maksute nulis cerita berurutan gitu, jadi gak bolak-balik nulis waktu kejadian cerita ini.. lumayan tuh, bisa direkomendasi bikin buku… heheee..

    ditunggu bagian ke4nya.

  3. Ingrid on January 30, 2007 at 4:49 am

    Hi, Amang!
    Cuma mau bilang kalo ga ada kesaksian yg more powerful (bukan “lebih more powerful”. Soalnya dr sisi tata bahasa manapun, ini salah, hehe..) dari kesaksian kata2 selaen kesaksian hidup.

    Cheers,
    Ingrid Na70

  4. Lenny Imoets on January 30, 2007 at 6:06 am

    hal2 yg sprti tu emg shrsna anak2 tau sjak dini,palg mslh bgm ada klahiran…..jd inget buku agenda pninggalan opungku,coz dr agenda tu la aku tau silsilahku bhkan hr lahir,baptis,sidi smua ank2 opung n cucu2na…..
    kgen euy ma opungku……
    hehehehe…….

    klo jajan???ehm…..emg shrsna anak2 ga dbiasain jajan dini,bsa2 mreka jd mata duitan,yg ada ank2 shrsna diajarin nabung….
    yaaa….klo dlu kmi tuh plgan uang jajanna cmn 50rp,SD…SMP 500rp…tp uang tabungan lain lg…….jd slain mngenal uang jajan jg tau mnabung……bnr kan bang???

  5. Tiesmin on March 29, 2007 at 8:25 pm

    Makasih Bang, buat sharingnya…jadi berkat banget buat saya.
    sungguh2 Makasih yaaa..
    Tuhan Yesus berkati…

  6. Miss Hutapea on January 9, 2008 at 3:05 pm

    Note untuk Willy..

    Will, sewaktu aku kecil, aku paling tidak suka minum susu..
    jadi Mama ku memberikan aku susu dengan rasa yang berbeda setiap hari..dari rasa vanilla, coklat, strawberry, mocca sampai rasa pisang..:)
    dan kamu tahu, sekarang..aku paling suka sama yang namanya susu!
    semua jenis susu pasti aku suka! :)
    so, kamu minta saja sama mama kamu berbagai macam jenis buah..
    jadi tiap hari kamu makan buah yang berbeda-beda..
    jadi ngak bosen..
    dan percaya deh sama aku, buah itu enakkkk banget! :)

  7. pieter on March 17, 2008 at 1:18 pm

    Salut deh.. penerapan demokrasi secara dini di keluarga amang… hebat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*