Oleh:
Pdt Daniel T.A. Harahap
Boleh Salah Tapi Jangan Bohong
Kini giliran Kika menangis. Aku dan Martha sedang makan siang. Dia mengadu sambil menunjukkan lembar-lembar buku gambarnya yang penuh coret-coretan gambar goresan tangan Wili. Namun menurut Kika adiknya Wili tidak mau mengaku. Bahkan tidak perduli terhadap komplain kakaknya, dan asyik bermain dengan robotnya. Sebenarnya Martha dan aku sudah mengajari tiga anak ini agar menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri, dan tidak gampang-gampang mengadu dan meminta bantuan bapak atau mama menyelesaikan masalah-masalah mereka. Kami tak mau, bila orangtuanya tidak ada, apalagi bila kelak mereka dewasa, dan aku atau Martha sudah tiada, mereka tidak bisa menyelesaikan masalah mereka sebagai kakak-beradik, karena selalu tergantung kepada orangtua sejak kecil. Mereka harus bisa berhubungan langsung tanpa melalui mama atau bapak. Lagi pula aku juga merasa capek kalau saban hari harus menjadi mediator, wasit atau juri untuk persoalan-persoalan yang kuanggap sepele. Tapi kali ini Wili sudah kebangetan. Ia tampak cuek sekali, seolah-olah tidak ada masalah sama sekali. Akupun terpaksa menghentikan makan siangku dan memanggil Wili sambil menunjukkan buku gambar Kika yang penuh coretan gambar sekenanya, memakai bahasa anak-anak sekarang: Wili banget.
“Ini gambar siapa?”, tanyaku dengan suara rendah. Wili tak menjawab.
“Ini gambar siapa?”, tanyaku berusaha mempertahankan suaraku rendah dan tenang. Wili tak menjawab juga.
“Ini gambar siapa, Wili?” tanyaku untuk ketiga kalinya, tetap dengan nada rendah yang sama. Wili masih tak menjawab juga.
Aku menarik nafas berulang untuk mengendalikan emosiku. Aku harus memenangkan anak laki-lakiku ini, tekadku. Aku bertanya lagi, “kalau memang ini gambar wili, bilang aja ya, dan kalau bukan bilang aja bukan” kataku menatapnya dalam-dalam, sambil menyampaikan pesan tersirat aku sayang padanya. Matanya mulai berkaca-kaca dan dia mulai menggigit bibirnya. Martha diam menarik nafas, menunggu apa yang terjadi. Beberapa saat hening tak ada suara. Wili tetap memandangku membisu. Jawablah, kalau memang wili yang bikin bilang ya, kalau bukan wili bilang aja bukan. Akhirnya dia menjawab lirih: Wili! Terima kasih Tuhan, doaku dalam hati, anakku menang! Ya, anakku menang melawan dirinya sendiri. Aku mengangguk pelan meneguhkan pengakuannya yang jujur. Pergilah minta maaf kepada Kika, kataku lembut. Dia pun segera berlari mencari Kika. Rupanya yang dicari sedang di toilet.
Wili mengetuk pintu toilet, “Kika, Wili minta maaf!” teriaknya.
Dari dalam terdengar suara berteriak, “tapi lain kali jangan ya”.
“Ya”, jawab Wili. Selesai.
Aku memeluk Wili kuat-kuat dan menggendongnya ke halaman. Dia menjatuhkan kepalanya ke bahuku. “Kita boleh salah Amang, tapi tidak boleh bohong” kataku berulang pelan. Ya, salah itu biasa, tapi jangan bohong, kataku kepada diriku juga.
Peneguhan Nina
Syukur kepada Tuhan, kini aku punya waktu yang banyak memperhatikan pertumbuhan anak-anak, juga melakukan konsolidasi ulang cinta kami dengan Martha. Nina sudah dua kali menangis di sekolah. Katanya dia dimusuhi oleh Ilva (bukan nama sebenarnya), dan Ilva menyuruh anak-anak perempuan di kelas IIB untuk ikut memusuhi Nina. Martha istriku emosi, dia tidak rela anaknya dimusuhi tanpa melakukan kesalahan. Aku pun sebenarnya emosi, tapi aku mengajak istriku untuk tenang dan tidak buru-buru melakukan intervensi. Ini masalah Nina, dan dia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri. Aku ingin Nina bertumbuh. Inilah kenyataan hidup, sekolah adalah cerminan realitas social, dan anak-anak harus belajar merespons realitas itu dan belajar survive, kataku memberi ceramah kepada istriku, yang ogah-ogahan mendengarkan dan kayaknya juga mulai jengkel kepadaku.
Apa masalahnya? Tanyaku kepada Nina. Sengaja tidak kutanya siapa yang salah, tetapi apa masalahnya. Nina bercerita bahwa Ilva suka diam-diam bertanya kepadanya saat ujian, kadang bisik kadang melempar secarik kertas, tapi Nina tidak mau memberitahukannya, dan itu membuat Ilva marah. Ada masalah lain? Ya. Nina disuruh Pak Wagiman mencatat siapa anak-anak yang berisik di kelas, Ilva salah satunya, akibatnya Ilva dimarahin guru, dan dia memusuhi Nina. Ilva juga bohong. Pak Guru Tanya siapa yang puasa, Ilva tunjuk tangan, padahal Nina lihat dia jajan di kantin. Nina bilang aja, kamu bohong. Dia marah, jelaskan Nina baik sekali. Oh itu rupanya, kataku sambil senyum. Wah anakku masih kelas dua SD sudah harus terlibat dengan dilemma etis. Ya, konflik antara kebenaran dan persahabatan. Dia harus memilih prioritas, berdasarkan nurani, akal budi dan keadaan, lanjutku memberi ceramah kepada Martha. Tapi tampaknya istriku sudah malas mendengar kuliahku, dia hanya ingin persoalan Nina cepat selesai. Aku berpikir keras bagaimana metode meneguhkan boruku yang satu ini, agar lebih percaya diri, berani dan trampil menyelesaikan masalahnya.
“Siapa yang lebih pintar, Nina atau Ilva?” “Nina!”
“Siapa yang lebih cantik, Nina atau Ilva?” Dia senyum malu-malu. “Nina!”
“Siapa yang badannya lebih besar, Nina atau Ilva?”
Suaraku makin keras: “
Nina!”
“Lantas kenapa Nina takut kepada Ilva?” Dia diam. “Atau Nina mau belajar karate, seperti Mama dulu waktu kecil?” “Nggak!” “
“Ya sudah, pokoknya lawan saja, kalau dia musuhi kamu. Jangan mau nangis, nanti dia senang.” Rupanya diam-diam Wili menguping, “nanti aku pukul Ilva!” katanya membela kakaknya. “Diam Wili, kamu ngga usah ikut campur!” bentak Martha. Wili tertawa dan lari terbirit-birit keluar kamar membawa robotnya. Aku tertawa.
Kerja Bakti dan Mi Spesial
Libur Lebaran tiba. Artinya pembantu mudik juga. Anak-anak libur namun celakanya Martha tetap kuliah. Aku pun mempersiapkan diri untuk mengatasi masalah ini. Diam-diam di kepalaku sudah ada konsep: liburan hemat. Ya, bagaimana mengisi hari-hari libur dengan biaya murah. Apa itu? Membereskan buku dan mainan. Sudah lama sebenarnya kami sudah sepakat bahwa tanggungjawab anak-anak adalah membereskan buku dan mainan. Satu lagi: mengangkat tas dari mobil dan menyimpan sepatu. Tapi dasar anak-anak, mereka suka lupa. Besok kita kerja bakti membereskan kamar, kataku. Anak-anak bersorak. Oke. Besoknya, pagi-pagi, setelah Martha pergi, dan setelah anak-anak selesai mandi dan sarapan kami pun mulai proyek pembersihan itu. Pertama-tama kita memindahkan buku, kataku. Tadinya perpustakaan anak-anak menyatu dengan kamar tidur. Namun itu membuat buku selalu berserakan diatas sprei, dibalik bantal, dan dibawah kolong tempat tidur. Bercampur mainan Wili. Dan keadaan itu sesuatu yang paling tidak disukai istriku, walaupun bagiku, jujur, tidak masalah.
Kerja bakti pun dimulai dengan sukacita dan semangat. Tapi lama-lama capek juga. Tapi, aku tekad kerja ini harus tuntas. Aku baru sadar koleksi buku anak-anak sudah banyak sekali rupanya. Kata Kika lebih banyak dari perpustakaan di sekolahnya. Kami pun memakai sistem estafet memindahkan buku ke kamar depan yang selama ini jadi tempat menyimpan mainan. Syukurlah Nina adalah teman bekerja yang baik, dia mewarisi bakat bersih-bersih dari mamanya. Tapi Wili selalu lari dari tugas, dan berkali-kali harus diteriakin kakak-kakaknya untuk ikut kerja. Akhirnya memang beres juga.
Namun ada satu lagi masalah: membereskan mainan yang sudah bercampur-aduk. Baju-baju dan segala perabotan tetek-bengek Barbie-Barbie punya Kika dan Nina, robot-robot dan mobil-mobilan Wili, lego dll dll yang jumlahnya lebih dari tiga bakul. Tadinya kami sudah sepakat setiap mainan disimpan di satu tempat berbeda. Tapi dasar anak-anak, dalam waktu singkat semuanya campur-aduk. Sebagian lagi terselip di bawah kolong, dibalik lipatan sofa, di kamar tidur. Wili tampak sudah lesu. Ia sudah tak bergairah bekerja bakti. Tapi mainannya yang paling banyak. Dan kakaknya menuntut dia harus ikut kerja. Aku sudah kasihan kepadanya, tapi aku juga tak mau moral kerja kedua anak perempuan itu runtuh karena perlakuan yang beda kepada anak laki-laki kecil ini.
Akhirnya jam 11 siang semua tuntas. Kami berempat bertepuk tangan. Aku janji akan memasak mie special. Anak-anak bersorak-girang dan duduk tak sabaran di meja makan. Aku pun memasak tiga mie instant dan menceplok telur ke dalamnya dan menghidangkannya panas-panas. Semua makan begitu lahap. Pulang dari RS, Wili melapor bahwa tadi Bapak masak mie special. Martha senyum. Apanya yang special sih, tanyanya penasaran, melihat bungkus2 mie instant masih di meja dapur. Koki yang memasaknya! Jawabku tertawa.
Mencuci Baju Itu Indah
Pembantu mudik. Martha harus mencuci pakaian, dan dia mengajak Kika dan Nina mencuci baju mereka masing2. Anak2 itu sangat gembira mendapat pengalaman baru. Itu artinya bermain air dan busa deterjen. Wili sebenarnya mau ikut, tapi mungkin mamanya takut dia tergelincir, sehingga dia belum diijinkan mendapatkan kesempatan istimewa: mencuci pakaian sendiri. Aku senyum melihat Kika dan Nina membantu Mama mencuci. Mereka bangga sekali. Kenangku, sejak kecil aku sudah bisa mencuci bajuku sendiri, terutama baju kesukaanku, yang ingin kupakai berulang-ulang. Dan aku belum bisa melupakan sedih eh indahnya mencuci pakaian persis malam natal , sambil bersenandung Malam Kudus, saat itu Martha hamil, dan pembantu juga tak ada. Sebab itu aku menonton saja, sambil menitipkan bajuku kepada dua anak perempuanku.
Rendang, Telur Dadar Istimewa dan Resep Yang Gagal
Dari SD kelas 6, bila ditinggal ibuku, aku selalu memilih memasak. Abangku Ari memilih menyapu dan mengepel, suatu pekerjaan yang paling kuhindarkan sampai saat ini. Memasak artinya perlu belanja. Dan aku juga sangat hobi belanja, terutama barang-barang yang tidak ada di daftar belanja Martha. Aku tahu istriku tidak begitu suka kalau aku belanja, sebab aku suka membeli lebih dari apa yang dipesan. Dan Martha juga tidak begitu suka aku di dapur. Sebab menurutnya dapur jadi berantakan. Dan satu lagi: bahan menjadi lebih cepat habis. Tapi berhubung pembantu tak ada, aku leluasa. Namun berada di dapur sempit dengan tiga anak yang terlalu kagum kepada bapaknya, dan kepingin tahu dan mencoba hampir segala hal bukanlah hal mudah. Tapi, terus terang aku juga kembang jika dipuji-puji anakku. Jadi kubiarkan saja mereka di sana, sambil sesekali mengingatkan jangan terlalu dekat ke kompor. Dan jangan main pisau.
Aku memilih memasak rendang. Selain karena sudah teruji dan terpuji, rendang bisa tahan lama, dan aku bisa menghemat tenaga. Tapi makan malam anak-anak juga minta telur istimewa. Sebenarnya itu hanyalah telur dadar biasa, tak ada yang istimewa, kecuali telurnya lima atau enam butir atau lebih, dimasak dengan api yang sangat kecil sehingga tebal dan lembut. Tapi kadang aku suka eksperimen. Di lemari kulihat ada ikan teri Medan, kiriman nantulang Vivi. Aku mencampurnya ke telur. Tapi, supaya padat, kumasukkan juga tepung terigu. Ternyata adonannya menjadi sangat keras dan sulit dimakan. Maaf, salah resep, kataku. Anak-anak tertawa-tawa melihat kegagalanku. “Kalau bapak koki restoran, bapak sudah dipecat!” celutuk Nina spontan, sambil menjauhkan telur itu dari piringnya. Aku senyum masam. Ya, salah resep, kataku. Diam-diam telur istimewa yang gagal total itu kukasih ke Tifo dan Taro. Anjing penjaga rumah yang setia ini ternyata sangat lahap menyantapnya. Lantas aku pun buru-buru menyembunyikan kulit-kulit telur itu agar jangan sempat dilihat Martha dan menjadi sumber masalah baru. Tapi begitu mamanya pulang Wili langsung melapor, “Mama, bapak tadi masak salah resep!” Oke, besok Bapak akan masak sup jagung super, janjiku. Anak-anak bertepuk tangan. Kulihat Martha menginspeksi dapur, dan aku pun menyambar majalah Tempo dan diam-diam masuk ke kamar tidur.
(bersambung)
Share on Facebook
Tags:
cerita keluarga
,
keluarga batak kristen moderen
,
pendidikan anak-anak dalam keluarga
,
rumah tangga kristen
,
spiritualitas keluarga
waaaa..senengnya mbaca blog abang..tdnya sy gi psiapan bt ujian bsk,trus ada email masuk update-an blog ini..break sbntr,sy baca,wah synya jadi seneng&gembira stlh penat hmpr 1harian..=D
kenapa amang pdt. worried banget seh krn nina a little bit ndut? it’s ok lagi.. mananya juga anak2. aku protes nih sebage mantan bocah yang dulu juga “sehat” kaya nina.. dulu ampe dikatain “dut-dut lang kecapi pentil, gendut pulang bawa tahi upiill..” ama abangku sendiri. wekzz.. nyebelin abis kan!!? lagian selama sehat n lincah, nina yang sekarang kan lucuuu. still cute kok. ;=)
ditunggu part III nya asap!! heheeee..
Ceritanya bagus banget Amang kadang bikin terharu hikks, kadang bikin senyum2 sendiri,kayaknya udah bisa bikin buku judulnya : Berkomunikasi efektif dan menyenangkan dengan sang anak, hehe. Ntar kalo bukunya laku,traktir ngopi ya;)becanda!Salam dari Paul juga,yang pasti kita yang ngajak amang ngopi2 tapi sambil menikmati pempek asli palembang enak juga (haha kayaknya kita tetep ngga mau rugi ya;) Take care and Gbu..Dona&Paul
wah…. pengalaman amang bisa dijadikan bahan referensi unyuk mendidik anak saya di rumah yang juga lagi nakal-nakalnya… he…he…