Merayakan Cinta Tak Bersyarat (1)

January 28, 2007
By

Nina, Wili dan Kika

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap


Pengantar: Pulang dari Ohio

Kupikir tadinya pulang dari masa sabatikal di Athens Ohio , aku langsung jadi orang sibuk, “penting” dengan jadwal pelayanan benar-benar padat, ternyata kenyataan yang ada terbalik-balik. Keputusanku untuk menunda program S3 dan ingin kembali ke jemaat saja sebagai pendeta resort, agar langsung terlibat lagi dalam dinamika kehidupan jemaat, tak mendapat respons positif dari petinggi hkbp. Merekalah yang paling tahu alasan sesungguhnya, tapi yang jelas aku “menganggur”. Ya menganggur, dalam arti tidak punya kedudukan yang jelas di gereja hkbp yang selalu mengaku besar ini kecuali sebagai anggota jemaat biasa. Ya sudahlah. Kenyataan memang tak selalu persis harapan. Cita-cita bisa tertunda. Jalan hidup penuh simpang dan kelokan, menurun atau mendaki, atau malah tiba-tiba buntu. Toh pengalaman imanku, sejak dulu, mengatakan, di depan dinding batu terjal sekali pun selalu ada saja berkat tersembunyi, dan selalu ada celah kecil bikinan Tuhan yang bisa dilalui. Lagi pula, seperti kata kawanku Gomar, Tuhan punya rasa humor yang sangat tinggi, Dia suka bermain teka-teki dan petak umpet, juga denganku.

Capek memikirkan prospekku sebagai pendeta di HKBP yang masih saja selalu merasa besar ini, aku secara sadar memilih kembali ke rumahku sendiri, kepada Martha dan kepada ketiga anakku: Kika, Nina, Wili. Mungkin, mungkin inilah maksud Tuhan itu: agar aku lebih dulu membayar hutangku kepada istri dan anak-anakku. Ya, bertahun-tahun aku sibuk mengurus jemaat, kini waktunya aku memberi perhatian penuh kepada mereka yang benar-benar mencintai dan mengharapkan aku, namun justru sering terabaikan: Istri dan anak-anakku sendiri. Okelah, kataku dalam hati. Itu juga baik bagiku. Sebab itu aku pun terbang ke Palembang , dimana ke-empat orang paling penting dalam hidupku menetap sementara.

Pelukan di Bandara Palembang
Dari balik kaca ruang tunggu Bandara Mahmud Baharuddin Palembang, aku menarik nafas dan menitikkan air mata, memandang Kika, Nina dan Wili spontan melonjak-lonjak dan bertepuk tangan begitu melihat bapaknya muncul di gerbang kota . Kika tampak tinggi langsing, Nina gendut, dan Wili sudah makin besar rupanya. Oh. Anak-anak yang pernah kami minta dengan doa itu begitu manisnya. Tak perduli orang banyak, mereka bertiga langsung berebut menyerbu dan aku balas memeluk ketiganya sekaligus dan bergantian. Martha, seperti biasa, berdiri senyum dan tenang, membiarkan anak-anak itu menggerayangi bapaknya melepas rindu. Aku tiba-tiba kembali merasa sebagai orang yang paling penting, terhormat dan bermakna di dunia ini.

Aku mencium pipi Martha, dia tampak agak lelah tapi kesanku dia bahagia dan bangga sebagai mama. Terus terang, aku bersyukur punya Martha. Selama kami pisah, karena studi dan kerja masing-masing, dialah yang memegang anak-anak. Dan dia pantas mendapat pujianku untuk itu. Aku tahu betul, program dokter spesialis kulit itu begitu penting baginya, tapi punya tiga anak yang sehat dan bahagia ternyata lebih penting lagi di hatinya. Sebab itu dia rela saban hari baru belajar jam sepuluh malam, setelah anak-anak tidur, dan setelah ia mengecek apakah PR dan tas sekolah mereka sudah beres untuk esoknya. Ah, betapa besar hutangku kepada Martha, kataku berulang dalam hati sepanjang jalan dari bandara menuju rumah, di tengah ramai celoteh anak-anak yang berlomba-lomba menceritakan kehebatan masing-masing kepada bapaknya, dan menuntut gantian dipangku. Tapi tiba-tiba Kika menciumi mukaku. Aku kangen sekali sama bapak, katanya. Mataku basah. Aku mengusap kepalanya. Nina sudah tidur bersandar di badanku. Wili bercerita tentang ikan-ikan patin di kolam yang diam-diam digoreng mbak Mira waktu aku di Amerika, dan terus-menerus menanyakan oleh-oleh apa untuknya.

Supir Keluarga
Bapak sudah pulang dari Amerika, oom Izaak libur saja bersantai-santai, biar bapak yang antar jemput kami, kata Wili kepada supir. Aku dan Martha tertawa. Ya sudah, kataku. Biar aku yang antar jemput anak-anak seminggu ini. Jadilah aku supir tak dibayar yang melakukan tugasnya dengan bangga dan sukacita. Tapi, masalahnya itu harus bangun pagi sebab anak-anak sudah masuk sekolah jam 07.15. Ya demi mereka, kurelakan mengorbankan jam tidurku yang paling nyenyak itu. Aku baru sadar kalau anak-anak bangga sekali rupanya diantar bapaknya sampai ke ruang kelas. Mungkin selama ini mereka agak kecil hati dan iri melihat banyak teman-temannya diantar jemput oleh ayahnya. Sementara bapak mereka sendiri sibuk dan jauh entah dimana. Dan kurasa Martha juga diam-diam sangat suka kalau diantar suaminya. Kini kerinduan itu pulih. Aku pun sudah mencicil sebagian hutangku.

Namun, aku tetap saja kesulitan menghapal jam-jam antar-jemput yang rumit itu. Wili dijemput jam 09.45. Makanan Kika dan Nina diantar jam 11.15. Nina dijemput jam 13, dan Kika dijemput kadang jam 14 kadang jam 15. Wili ingin ikut antar makanan kakak dan bermain lagi di sekolah sebentar. Nina dan Wili ingin ikut jemput Kika. Dan ketiganya ingin jemput Mama. Hari Rabu dan Sabtu, Kika dan Nina les bahasa Inggris jam 16. Tapi pesan Martha, mereka juga harus tidur siang, supaya malam tidak ngantuk bikin PR. Syukurlah ada Martha yang setiap saat bisa ditelpon di RS untuk menanyakan jam berapa les, jam berapa bimbel, jam berapa pulang dan sebagainya.

Wili Bisa Baca
Sebelum pulang dari Ohio , Martha sempat mengusulkan agar Wili, 4 tahun, les membaca. Oalah. Aku kurang setuju, masak membaca saja mesti les. Ada-ada saja sekolah jaman sekarang. Nanti aku yang ajari kataku tempo hari. Dan sekarang saatnya tiba. Aku mengajak Wili belajar membaca dengan bapak, dan dia sangat semangat. Aku teringat lagi buku Paolo Fraire, bagaimana mengajar petani-petani Brazil yang buta huruf cepat melek huruf. Semakin bermakna huruf semakin mudah mengajarkannya. Dan itu pernah kupraktekkan tahun 1986 di Kosarek, pedalaman Papua, waktu aku kuliah kerja nyata disana, dan efektif. Aku pun berpikir keras tentang dunia Wili. Aku ingin mulai pelajaran membaca itu dari dunianya: robot, lego, buku, macan, daniel, martha, kika dan nina. Aku memilih susunan kata dan kalimat yang sangat dikenal, dihayati dan bermakna baginya: Aku mau robot. Aku suka lego. Aku suka buku. Aku meminta dia memilih kata-kata yang hendak ditulis dan dibacanya. Kadang, aku menyuruh dia memilih buku cerita kesukaan yang selama ini dibacakan oleh Nina kepadanya. Eureka ! Berhasil. Wili dengan cepat mengeja kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dia bangga sekali bisa membaca. Lebih-lebih aku. Sepertinya ada dunia baru yang terbuka luas untuknya. Dan dampaknya luar biasa. Kesukaannya menonton film kartun langsung berkurang drastis, dan sekarang sibuk dengan buku. Dan aku dan Martha tak capek-capek lagi harus membacakan cerita sebelum tidur. Dia sudah bisa melakukannya untuk dirinya sendiri.

Bapak Tak Seluruhnya Benar
Aku suka sekali menyuruh dia diet. Menurutku Nina sudah terlalu gendut. Dan kata-kataku didengar oleh Kika dan Wili, dan mereka ikut-ikutan meledek Nina dan menyuruh dia diet. Entah bagaimana, kata-kataku bisa tertanam dalam-dalam di kepala Kika dan selalu diulang-ulangnya sambil tertawa, “dulu waktu kecil Nina paling sulit disuruh makan, sekarang sudah gede Nina paling sulit disuruh berhenti makan”. Rupanya diam-diam canda itu melukai hati Nina. Dan aku sangat menyesal telah melakukan kesalahan serius. Aku harus menebus kesalahanku, tekadku. Suatu hari, aku memanggil Nina, kami berdua di kamar. Aku mengaku salah padanya. “Bapak salah. Nina sangat manis. Gendut itu bukan jelek. Nina boleh gendut. Yang penting Nina tetap sehat dan lincah.” kataku mengaku dosa sambil memeluknya. Tiba-tiba mata anak itu berbinar-binar. Dia bahagia sekali. Aku lebih bahagia lagi merasa lepas dari dosaku. Setelah itu aku sengaja mengkoreksi pernyataanku di depan Kika dan Wili: boleh gendut, yang penting tetap sehat dan lincah! Selesai. Kika dan Wili berhenti meledek Nina. Dan Nina-ku “chubby” kembali percaya diri, bangga dan gembira dengan tubuh dan jiwanya.

Menghargai Karya Orang Lain
Kika sudah 7 tahun. Dia cantik dan pintar sekali, dan kayaknya dia sadar bahwa dia cantik dan pintar. Di kelas selalu juara-1, dipilih jadi ketua kelas, sering dipuji, sangat berbakat menggambar dan main piano, dan sangat komunikatif sehingga selalu berhasil mencuri perhatian orang lain. Menurut Martha dia hampir perfect, secara fisik dan psikis. Dan itu membuat kami waswas. Apalagi badannya sudah mulai tumbuh besar. Namun aku tak kepingin anakku menjadi sombong dan kemudian jatuh.

Suatu kali Nina menangis tersedu-sedu dan mengadu. Katanya mainan lego yang sudah dirangkainya dirusaki oleh Kika. Bagiku ini pelanggaran serius. Dari kecil, anak-anak ini sudah kami ajar jangan suka merusak. Jangan suka merobek kertas, membanting mainan, atau merusak karya orang lain. Aku pun memanggil Kika ke kamar ngomong berdua dengannya. Ini adalah ide Martha dan menurutku baik. Kami janji tidak akan memarahi anak-anak di depan orang lain. Di kamar, aku bertanya apa masalahnya, mengapa dia merusak mainan yang sudah dirangkai Nina. Kika tidak mengaku, katanya dengan nada tinggi, mainan itu jatuh. Kenapa jatuh kataku, Kika mau pindahin jawabnya. Kenapa kamu pindahin karya Nina, tanyaku lagi. Karena Kika mau tunjukin ke Opung. Kenapa kamu yang tunjukin karya Nina? Dia terdiam dan lantas menangis. Aku pusing. Aku tidak tahu apakah mainan itu terjatuh atau memang sengaja dijatuhkan. Aku cuma pesan, jangan merusak karya orang lain. Dia mengangguk sambil menangis. Tapi, aku belum puas. Aku mengkonfrontir pengakuannya kepada Nina, adiknya. Menurut Nina dia sudah bilang mainannya jangan dipindahin. Lantas? Aku menyuruh Kika meminta maaf kepada Nina.

Harga Sebuah Janji
Wili janji akan berhenti minum susu dari botol. Tadinya Martha tidak percaya, sebab mulai umur tiga dia sering ngomong akan berhenti tapi tak kunjung ditepati. Tapi kali ini rupanya dia serius. Menurutku ini kesempatan. Aku mengajak dia membuat perjanjian. Tandanya dengan berjabat tangan. Dia menyalamku, Martha, dan opungnya, juga Kika dan Nina sebagai saksi. Ajaib. Botol2 susu pun dibuang. Ternyata dia mematuhinya. Dia pun berjanji tidak akan memakai lagi bantal jelek, maskotnya. Dan dia mematuhinya. Aku sangat kagum. Kepada Martha kukatakan ini adalah salah satu modal besar anak-anak kita. Mereka menghargai janjinya. Tapi repotnya janji itu mengimbas ke kami. Anak-anak menuntut supaya aku juga mematuhi janji. Dan masalahnya aku kadang lupa janjiku, karena saking banyaknya, atau karna diucapkan terburu-buru untuk menyelesaikan masalah dengan jalan pintas. Celaka. Aku mengatakan kepada diriku agar tidak lagi mudah berjanji. Tapi sulit rupanya. :-)

(bersambung)

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

Tags: , , ,

17 Responses to Merayakan Cinta Tak Bersyarat (1)

  1. yunita nyit on January 28, 2007 at 9:35 pm

    Hebat !

  2. helga on January 28, 2007 at 11:01 pm

    Bermakna…bahkan lebih dari apa yang telah Amang Pendeta “tuangkan” dalam “My Blog” ini.

  3. daniel on January 29, 2007 at 1:47 am

    sangat menyentuh dan sangat bagus sekali..keluarga yang penuh damai sejahtera dan sukacita..

  4. 'MaRiaLiCiOuS' on January 29, 2007 at 2:20 am

    Aku terharu membaca blog Amang..
    You’re such a good Dad..
    Kyk cerita di film2…
    Wah, udah balik ke Jkt nih..
    Tp pas kmrn ga liat Amang kotbah soalnya aku Gereja jam 9.30.
    GBU Amang..

  5. Marshel on January 29, 2007 at 8:12 am

    Jadi inget salah satu perbincangan dgn teman…utk seumuran saya amang, pergumulan mencari jodoh masih menjadi topik utama hehehe…teman saya bilang “yg penting satu visi…itu dulu”.Melihat prototype keluarga amang…mirip2 kata teman saya itu hehehe. Well, amang kadang kita gak ngerti gimana sih jalan Tuhan itu.Kita akan tahu pada akhirnya, itu lebih bersifat kekal.Tapi saya sih bangga sama amang, suatu saat amang akan melayani jemaat besar bukan hanya dari ‘posisi’ tapi juga hati, dimana kami melihat bukan hanya kedudukan amang sbg pendeta tapi perilaku amang sbg pelayan Tuhan

  6. Harry on February 1, 2007 at 12:10 am

    heheheheh
    aku setuju tuh “mang…
    TUHAN emang senang bcanda,
    tapi bukan brarti kita nyerahKan??
    di perjuangin dong “mang utk tetap di HKBP RWMGN.
    mngkin dgn kta berjuang malah dapat ikan yg lebih BESAR dr yg sekarang, bahkan dari yg dulu..
    bukan begitu..??.^_________^.

  7. Berliana on February 1, 2007 at 2:36 am

    Senang bisa kasih comment untuk tulisan amang ini. Memang benar juga apa yang amang tulis, Tuhan kita suka becanda. Dan itu terjadi sama aku baru2 ini. Untuk memberi berkat kepada aku aza harus dikasih cobaan dulu. Aku pertamanya gak iklas tuch tapi setelah aku pikir2 rezeki kan Tuhan yang atur kalo mau hilang ya hilang saja dan kalo dia mau kasih tambah ya pasti ditambahin. Puji Tuhan tahun ini becandanya Tuhan buat aku dikasih berkat naik gaji Thanks ya Tuhan walau agak bingung kenapa coba harus ilang uang dulu baru dikasih berkat baru, mungkin Tuhan mau kita untuk menghargai pemberianNya yang kita dapatkan dengan berkorban lebih dahulu. Mudah2an dengan nganggur-nya amang, ada maksud becandanya Tuhan seperti yang aku alami. Mungkin Tuhan kita itu sedang mempersiapkan ladang yang besar & amang harus bersiap2 dari sekarang, jangan lengah karena merasa sudah hebat bisa menyelesaikan studynya di luar. Sorry yach amang bukan menjudge lho tapi sekedar mengingatkan. Ok maju terus dalam pelayanan di ladang Tuhan, amien GBU.

  8. shella on March 1, 2007 at 1:24 am

    Nama anak-nya Kika ya pak? sama seperti anak saya juga :) blog-nya bagus, terharu bacanya

  9. Luigi on March 24, 2007 at 3:41 am

    Inspiring, indeed :)

  10. Irma on April 3, 2007 at 4:43 am

    Mengesankan…mejadikan insiprasi klo uda punya anak hehehehe..
    Salam dari GSM Jatiwaringin..
    Kapan nih sermon bareng kita lagi…:)
    Thx amang…GBU n Your Family

  11. Ingrid on April 6, 2007 at 10:51 am

    Syaloom amang,
    Wah..banyak sekali pelajaran2 hidup berharga yang saya terima dari tulisan amang yang sering sekali terjadi dalam kehidupan sehari hari. Terimakasih amang untuk pengalaman2nya, ditunggu tulisan selanjutnya.. GBU

  12. Roulina on April 17, 2007 at 6:03 am

    Cerita2 keluarga ternyata lebih menarik dibanding cerita2 Amang yg laen buktinya yg kasi comment sampe 11. Amang salam ya buat willy, kasi tau aku fans beratnya. Hidup Willy. Buat Nina kita punya bbrp kesamaan : juara 2 gara2 temen, punya badan ndut.

    Amang napa gak bilang uda balik? kirain masi di Ohio (jadi malu ^_”).

  13. oktavia on April 19, 2007 at 10:12 pm

    hai amang tulisan2 pengalaman amang bersama keluarga sangat bagus lho, ditambah cara menulis amang yang cukup pro. Punya ide untuk bikin ciklit ?
    Wah dengan cerita2 diatas yang tidak terlalu rumit tapi punya arti mendalam kalau di kumpulkan dan dipublikasikan keeditor. Bisa laku tuh amang…aku dukung deh;-)

  14. tiur on April 20, 2007 at 8:03 am

    Yeah, I will be the first buyer…..
    make it happen through your dream and pray.
    When would you start Pdt. Harahap???. All the reader will support you……

  15. Roma on November 29, 2007 at 11:00 am

    You are my inspiration amang.
    All of your story…full of inspiration

    Thanks…

  16. Gloria on November 29, 2007 at 12:16 pm

    inspiring story.. :)

  17. pieter on March 17, 2008 at 1:39 pm

    he..he….. memang agak susah menepati janji yang terlalu banyak… banyak lupanya…he..he… janji adalah hutang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*