DTA PERGI KE AMERIKA (6)

May 13, 2006
By

air-mancur-alden-ou.JPG
5-6 Mei: Mother’s weekend

Kampung Athens sekonyong-konyong berubah. Kota kecil Amerika berbasis Ohio University penghuninya sebagian besar mahasiswa OU atau anak muda. Tapi hari ini Athens dipenuhi perempuan sepertiga atau setengah baya. Mom’s weekend! Tradisi Amerika, ibu-ibu dari berbagai kota datang mengunjungi putra-putrinya yang kuliah di kota atau negara bagian lain. Ramai. Sungguh lucu dan haru menyaksikan ibu dan anaknya yang sudah gede lalu-lalang bergandengan tangan di jalan-jalan kota. Sebagian besar ibu dan anak itu nyata-nyata mirip sekali. Jika anaknya gendut, ibunya gendut juga atau lebih gendut lagi. :-) Jika ibunya tinggi, anaknya tinggi juga atau lebih tinggi lagi. Like mother like daughter. Like mother like son. Asrama-asrama dan rumah-rumah kontrakan pun berlomba memasang poster dan spanduk menyambut para mama tercinta. Welcome Moms! Toko-toko Athens tidak mau kalah, selain menjual berbagai gift dan bunga juga melakukan sale atau obral! Kayaknya berhasil, di banyak toko aku melihat begitu banyak ibu dan anak belanja-belanja (aku percaya anak-anak kost atau asrama itu pastilah sukacita dan memakai azas manfaat mama datang!). Namun tak jarang juga aku melihat ibu dan anak ngomong serius di kafe atau saling memandang dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang mereka percakapkan. Kuduga pastilah sesuatu yang sangat penting bagi mereka. Malam harinya dimana-mana pesta. Ya, pesta! Ibu dan anak, dan kawan-kawannya sama-sama bermabuk-ria. Khusus yang satu ini sulit kupahami.

Sabtu 6 Mei: berburu buku

Walau indah mempesona, Athens tetaplah sebuah kota kecil. Bandingannya mungkin: Salatiga. Satu masalahnya bagiku, toko bukunya tidak lengkap, dan harganya selalu lebih mahal. Lantas bagaimana? Itu artinya aku harus berburu buku ke Columbus, ibukota negara bagian Ohio, satu setengah perjalanan dari Athens. Untung ada Lina Himawan dengan mobil barunya. Hari itu kami berempat: Lina, Eski, Yoga dan aku berburu buku di Half Price Book Store. Toko yang sangat besar ini menjual buku-buku bekas dengan harga sangat murah (dan juga mau membeli buku bekas dari siapa saja). Banyak buku berkualitas dipasang label satu atau dua dollar saja! Cuma kita harus teliti memilihnya. Itu artinya capek. Sebab jumlah bukunya luar biasa banyak. Aku terus terang mabuk melihat buku bagus berharga murah-meriah. Hari itu aku memborong buku untuk Kika-Nina-Wili. Menurutku bule-bule ini serius sekali membuat buku anak-anak. Selain isinya relevan dengan jiwa anak-anak, penampilannya luar biasa cemerlang. Ya menarik tidak hanya bagi anak-anak tapi juga orang dewasa. Sudah lama Martha dan aku mengkondisikan anak-anak dengan buku bahasa Inggris, sebab itu kami secara berkala selalu menyisihkan uang membeli buku anak-anak berbahasa Inggris. Sebagian bilingual. Di toko buku ini aku benar-benar berpesta menemukan begitu banyak buku bagus untuk Kika, Nina dan Wili. Bagaimana mengirimnya? Pokoknya beli dulu, perkara belakangan.

Pegal duduk lesehan tenggelam di sela-sela buku anak-anak satu ruang penuh, aku bangkit susah-payah dan berjalan terseok semutan. Aku juga ingin membeli buku untuk kepentinganku sendiri. Apa? Audible book atau audio cd. Satu set Alkitab bahasa Inggris versi KJV dalam bentuk CD, dan beberapa buku meditasi juga audible. Untuk melatih kupingku! (di saat kemudian, sering aku mendengar saja tanpa mengertinya, dan kadang sudah tertidur sebelum selesai mendengarnya, ya tak apalah, lama-lama aku juga bisa lebih baik kataku, semoga).

Selasa 9 Mei: Jack Humbles

Namanya Jack Humbles, 70 tahun, asalnya dari negara bagian Indiana, single, tidak punya cellphone, hobi mengamati burung, dan kalau berjalan, maaf, dengan hormat: sedikit pincang (yang terakhir dijadikannya keberuntungan, sebab sebagai orang yang mengantungi kartu parkir orang cacad ia selalu bisa mendapat tempat parkir paling dekat ke pintu masuk di banyak gedung). Tiga puluh tahun hidup laki-laki ini dihabiskannya mengajar bahasa Inggris, termasuk dua tahun di Arab Saudi. Sebelumnya dia adalah ahli Botani, pernah bekerja di Tanzania Afrika. Berbeda dengan banyak guru Amerika, penampilan Jack selalu formal: jas sport, dasi dan pantalon. Namun penampilan formalnya tak mengurangi kehangatan dan keramahan jiwanya, juga selera humornya. Menurutku Jack Humbles yang bertugas mengajar grammar adalah guru terbaik. Dia sangat menghayati dan mencintai pekerjaannya: mendidik orang mengerti dan trampil berbahasa Inggris. Kayaknya jiwanya sendiri yang memotivasi dirinya bekerja sebagai guru. Sebab itu dia selalu semangat dan tidak pernah lelah apalagi bosan mengajar murid-muridnya termasuk aku. Aku juga sangat kagum kepada ketelitiaannya: dia bisa menangkap setiap kesalahan satu huruf pun yang kuucapkan atau kutuliskan, dan memperbaikinya secara ramah. Tanpa nada merendahkan. Dia selalu memeriksa pekerjaan rumah muridnya (bukan membiarkannya). Dia selalu menyapa duluan muridnya. Hanya satu kali aku melihat Jack kelihatan sangat lelah, yaitu ketika kakak perempuannya meninggal dunia. Laki-laki Amerika ini tidak berhasil menyembunyikan kesedihannya, namun aku sangat hormat, sebab ia berusaha menyelesaikan tugasnya mengajar hari itu sebelum berangkat ke kampungnya Indiana melihat jenazah saudarinya.

Hari ini aku bersama tiga teman lain (Kong asal Korea, Irene asal Taiwan, Aki anak Jepang) ditraktir Jack Humbles makan pizza. Alasannya: melatih bahasa Inggris. Asyik sekali. Kami bisa makan pizza sepuasnya sambil mengobrol hangat dengan Jack. Dia berusaha sekuat tenaga mengerti apa yang dikatakan murid-muridnya, dan tak bosan-bosan memancing kami bicara dan membetulkan lafal bila salah ucap. Luar biasa. Pulang dari makan pizza, aku dan Jack kembali ke kelas. Dia kembali mengajar grammar seperti biasa. Dan aku menyimaknya.

Paradoks amerika

Amerika katanya negeri bebas, tapi menurutku, setelah di sini, Amerika justru negeri yang paling tidak bebas. UU Amerika mengatakan bebas memiliki senjata api, tetapi hampir di tiap gedung aku melihat gambar “pestol dicoret” yang berarti “dilarang membawa senjata” di pintunya. Lantas apa gunanya pistol jika kita tidak bebas membawanya? Amerika katanya, katanya, negeri seks bebas. Tapi aku tidak pernah melihat adegan seks di jalan. Tidak pernah melihat majalah Playboy atau Penthouse di pinggir jalan. Di toko2 majalah2 itu selalu dipasang di rak bagian atas dan ditutup. Orang tidak ada yang berani membuka-buka majalah tersebut di depan orang lain! Dan jangan harap anak-anak bisa membelinya. Pakaian mini menampakkan bagian tubuh? Ya, memang banyak perempuan, tua-muda, mengenakan celana pendek atau super pendek di sini (di pedalaman Papua, sebenarnya aku menemukan yang lebih mini). Namun anehnya, hukum Amerika mengganjar begitu berat orang yang melakukan pelecehan seksual bahkan pelecehan tanpa kata-kata. Tidak ada orang yang berani memandang tubuh orang lain lama-lama apalagi dengan pandangan nafsu, sebab bisa dianggap pelecehan dan diadukan ke polisi! Pernah ada kejadian “hebat”, seorang mahasiswa di lantai 1 perpustakaan menunjukkan kelaminnya kepada mahasiswi lain. Perilaku eksibisionis ini langsung menjadi urusan polisi. Laki-laki berkulit putih itu langsung diuber pihak berwajib. Besoknya aku melihat di banyak gedung langsung ditempel kertas bertulis: wanted. Syukurin! Katanya mahasiswa Amerika suka mabuk. Benar sekali. Apalaggi mahasiswa Ohio. Tapi, aku juga tidak pernah melihat orang minum di jalan. Paling-paling mahasiswa jalan olang-oleng pulang dari bar malam di akhir pekan. Minum alkohol di bawah usia 21 tahun bisa dipenjara. Bahkan, ketahuan membawa botor atau kaleng bir dalam keadaan terbuka di jalan bisa dipenjara. Bagaimana Indonesia?

Sabtu 13 Mei: new to you

Tahu apa yang sopan dan tidak sopan di Amerika menurutku tidak cukup. Aku ingin menemukan juga nilai-nilai Amerika. Apa yang dianggap paling berharga bagi orang-orang ini. Aku menemukan satu hal lagi: perubahan. Orang Amerika sangat menjunjung perubahan. Bahkan mungkin agak keterlaluan. Mereka cepat bosan dan ingin selalu yang baru. Menurut catatan survey sekali dalam 5 lima tahun hampir seluruh orang amerika pindah rumah. Mereka selalu ingin mengganti mobil, pakaian, sofa, barang elektronik, dan mungkin juga ingin mengganti suami/ istrinya (tingkat perceraian di negeri adidaya ini sangat tinggi, di atas 50%). Dan terus terang, aku mendapatkan keberuntungan dari nilai perubahan atau pergantian ini!

Di Athens ada satu toko. Namanya: New to you. Ini toko loak atau barang bekas. Biasanya orang Amerika membuang barang2nya yang sudah tidak disukainya di depan toko ini. Lantas toko akan memilah2nya dan menjualnya lagi dengan harga sangat murah. Katanya toko ini milik salah satu gereja. Kemarin aku ke sana, dengan perasaan campur aduk. Cemas, malu-malu dan penasaran. Namun hasilnya lumayan, aku menemukan sepotong jas wol masih sangat bagus, kebetulan pas benar dengan badanku, seharga 10 dollar. (waktu ke Lancester aku melihat di toko jas yang sama harganya 200 dollar). Ada lagi: gosokan atau seterikaan seharga 1 dollar. Juga T-shirt katun bermerk, masing2 2 dollar. Besoknya aku memakai jas loakan itu ke gereja. Dan banyak orang memujiku mengatakan aku sangat tampan. Hahahaha. I am very lucky man! :-)

Minggu 14 Mei : keluarga amerika

Sesuai janji, Debora dan suaminya Philips menjemput aku jam 16.30. Aku sudah menunggu di depan rumah, tak mau mereka menunggu. Minggu sore itu kami hendak ke rumah Sheila. Persis Mother’s Day. Perjalanan setengah jam naik mobil namun aku tidak tahu arah kemana. Debra membawa salad dan sebuah nenas. Aku sengaja membawa kipas batik, satu untuk Debora dan satu lagi untuk Sheila sebagai oleh-oleh. Rumah perempuan bernama Sheila yang kukenal di gereja Lutheran di tengah hutan pinus. Pemandangan itu indah sekali. Pohon pinusnya seperti yang ada di kartu-kartu natal dan juga mengingatkan aku kepada film-film Amerika yang pernah kusaksikan. Udara segar langsung membelai muka dan tubuhku begitu aku keluar mobil. Sheila sudah menunggu rupanya, dan tak sabar menyambut kami. Sheila memelukku dengan pelukan “big hug” ala Amerika, kemudian menggandengku ke rumah kayunya. Lantas Sheila memperkenalkan aku dengan suaminya Sam dan menyuruh Sam memperkenalkan bagian-bagian rumah mereka kepada kami, khususnya kepadaku. Rumah itu terbuat dari kayu. Ruang makan sekaligus dapurnya mempunyai sebuah jendela menghadap ke halaman rumput luas dengan pohon apel dan pohon anggur berlatar hutan pinus.

Sheila, Sam, Debra, Phillips, dan aku berjalan keliling hutan pinus berbau khas, melewati sebuah empang berlumut. Sepanjang jalan Sheila terus menggandengku dan memperkenalkan banyak hal: kuburan anjingnya, kuburan anaknya korban drugs, pohon, dan rumput beracun yang bila disentuh gatal. Perempuan itu sangat kocak walaupun kadang aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Namun bahasa tubuhnya jelas menunjukkan dia sangat hangat dan ramah. Selesai keliling halaman kami pun makan bersama. Sheila menghidangkan: kentang, steak, sayur, buah, plus salad dan kerupuk yang dibawa Debra. Makan malam ditutup dengan es krim dan apple pie. Namun acara belum selesai. Langit masih terang. Kami jalan kaki ke hutan, lebih jauh dari rumahnya. Aku terengah-engah, balasan jarang olahraga. Namun perempuan berusia 79 tahun bernama Sheila itu masih kuat dan sehat!

Senin 15 Mei: Immersion Course

Aku ke Ohio kursus intensif bahasa Inggris. Mahal sekali. Namun kuakui sangat berharga. Dari pagi hingga sore. Hampir dua bulan di Amerika ini aku menemukan bahasa Inggrisku tumbuh begitu pesat: seperti tanaman di musim penghujan. Aku jelas bahagia dan bangga. Kutemukan diriku tenggelam dalam bahasa Inggris. Immersion Course. Seperti orang yang menyelam. Bagiku belajar bahasa Inggris ini terus terang seperti hutang. Aku tidak pernah serius belajar bahasa Inggris sejak remaja. Bahkan pernah dalam setahun waktu di SMA aku cuma dua kali masuk pelajaran bahasa Inggris. Waktu itu aku bangga, sekarang aku menyesal. Dulu aku tidak perduli, namun sekarang bersyukur mendapatkan kesempatan sekali lagi menebus kebodohan masa muda. Cuma sekarang aku sudah sedikit lebih tua, dan lebih sulit menangkap kata-kata. Apa boleh buat.

Rabu 16 Mei : AIDS quilt

Jack mengajak aku, Irene dan Aki ke AIDS Quilt di Baker Center. Ball room Baker Center ditutupi potongan-potongan kain warna-warni dengan aneka sulaman dan lukisan mengenang para sahabat dan saudara yang sudah tiada karena AIDS. Ballroom Baker Center itu sendu dan muram sekali. Panitia melarang makan dan minum. Tidak ada yang tertawa atau berbicara keras. Mulut terkunci. Aku membaca hormat nama-nama mereka yang sudah meninggal karena mengidap HIV/ AIDS, dan mengeja doa-doa serta salam yang menyertai mereka dari orang2 yang mencintai mereka. Satu kalimat terngiang terus di telingaku: mereka tidak pernah mati selama kita mengenangnya……

Di antara korban HIV/AIDS itu ada juga mahasiswa OU dan beberapa ada juga anak-anak. Sedih sekali. Pikiranku melayang ke Jakarta. Aku teringat lagi beberapa warga HKBP Rawamangun yang meninggal karena HIV/ AIDS itu dan bagaimana keluarga berusaha merahasiakannya, sebab orang yang mengidap HIV/ AIDS selalu dicemooh sebagai “pendosa besar”. Aku kembali menghormat kepada kawan-kawanku di Indonesia yang ikhlas bekerja sebagai sukarelawan pendamping korban HIV/ AIDS, baik di HIV/ AIDS Center HKBP maupun di Biro Pemuda PGI. Betapa mulianya pekerjaan mereka, meneguhkan hati dan memulihkan kemanusiaan mereka yang terluka karena HIV/AIDS.

Aku memasang pita merah di dadaku, lantas mengikuti Jack ke luar tanpa suara.

Kamis 18 mei : Ama ni KNW

Palembang. Martha, istriku sedang sarapan. Ibu mertuaku bertanya siapa yang barusan menelponnya. Martha menjawab: bapak si Kika. (sesuai adat Batak, aku dipanggil dengan nama anak pertama). Tiba-tiba Nina, 6 tahun, berteriak protes: kenapa bapak Kika sih?! Bapak itu juga bapak Nina! Wili, 4 tahun, juga berteriak: Bapak Wili!!! Martha dan mertuaku tersenyum surprise, sekali lagi menyaksikan sikap kritis dan berani anak-anak jaman sekarang. Syukurlah Kika, putri sulung kami yang berusia 7 tahun, cepat tanggap, “ya bapak sama-sama: bapak Kika-Nina-Wili”. Akhirnya anak-anak buat perjanjian dengan mama dan opungnya, bahwa mulai pagi itu tidak ada lagi istilah “bapak Kika” tetapi diganti dengan “bapak Kika-Nina-Wili”, disingkat “bapak KNW”. Sorenya, Martha cerita kejadian pagi di Palembang. Aku benar-benar bangga dan bahagia. Anak-anakku yang masih kecil itu berani melakukan suatu perubahan kecil kultur Batak agar lebih egaliter! Kesetaraan atau persamaan hak!

Pesanku kepada Martha: kalau nanti aku mati, di nisanku juga harus ditulis: Pdt. Daniel Taruli Asi Harahap (ama ni Kika-Nina-Wili). :-)


Share on Facebook

4 Responses to DTA PERGI KE AMERIKA (6)

  1. Agan on October 4, 2006 at 10:47 pm

    ckckcckkck…mantap da !!!!

  2. nelly tobing on December 12, 2007 at 4:41 pm

    pak pendeta nelly jadi kepengin ketemu nih ama si lucu kika-nina-willi….pasti pak pendeta bahagia punya anak2 yang cerdik, lincah & smart kayak mereka.
    boleh tahan juga tuh sikap kritis & demokrasi mereka….
    salam deh buat mereka bertiga
    GBU

  3. Paul Tobing on January 23, 2008 at 4:13 pm

    Mungkin tanggal itu pas lagi Mother’s Day pak Pendeta. GBU

  4. Debbie Ht.barat on May 24, 2008 at 10:54 am

    AIDS Quilt
    Amang, memang seharusnya penderita AIDS jangan diasingkan oleh keluarga khususnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*