18 April hari bersejarah
“Aku sedang bikin paper, tiba2 dicium Mama, mengingatkan ini hari ulang tahun pernikahan kita” bunyi sms istriku dari Palembang saat aku sedang istirahat pendek di antara dua sesi. Ya ampun, kataku tiba-tiba sadar. Ini tanggal 18 April rupanya. Delapan tahun atau sewindu lalu di sebuah gereja HKBP di kawasan Jakarta Timur, persisnya Pulomas, aku mengikat perjanjian seumur hidup dengan seorang perempuan bernama Martha boru Siregar. Isi perjanjian itu:
kami akan saling mengasihi dan setia dalam suka dan duka, dalam kelimpahan dan kekurangan, dalam sehat maupun sakit, sampai kematian memisahkan kami
. Ya, Martha dan aku sama-sama lupa tentang hari bersejarah kami. Terlalu sibuk? Dipisahkan oleh jarak ribuan mil? Kupandang cincin polos 22 karat di jari manis tangan tanganku, sudah 8 tahun dia ada di situ. Lantas, aku kembali masuk kelas melanjutkan kursus.
Namun ingatan akan hari perjanjian nikah kami ternyata mengganggu konsentrasi belajarku. Siang itu soal-soal grammar campur-aduk dengan pertanyaan-pertanyaan tentang makna pernikahan dan keluarga. Apakah kami bahagia, tanyaku. Apakah pernikahan kami cukup kuat untuk melangkah ke delapan tahun berikutnya, tanyaku lagi? Kurasa ya. Aku bahagia, menurutku. Rumah tangga kami baik, kami saling memahami, dan kami jarang bertengkar. Namun supaya adil, tentu aku harus menanyakan juga kepada Martha. Apakah dia bahagia? Dan kami berdua harus sama-sama bertanya kepada anak-anak: apakah mereka bahagia? Sebab kami tidak lagi ber-dua, tetapi sekarang ber-lima. Ada Kika, Nina, dan Wili. Tentu saja aku sadar anak-anakku tidak mampu menjawab pertanyaan itu sekarang. Mereka masih sangat kecil. Tapi apa yang akan dikatakan mereka tentang aku dan Martha sepuluh atau dua puluh tahun lagi?
25-27 April: Solo-Palembang-Ohio
“Aku sudah di gate cengkareng Pa, pesawat ke Solo jam 13.50″ bunyi SMS Martha persis ketika aku meninggalkan perpustakaan Alden karena terlalu mengantuk. Kulihat jamku: 00.05 a.m. tengah malam waktu Ohio. Aku menarik nafas dalam lantas pelan-pelan mengukir huruf membalas sms itu: “Selamat seminar Say! Tetap gembira dan hati-hati!” Aku ingin Martha menikmati perjalanannya mengikuti seminar Dermatologi (ilmu kesehatan kulit) di Solo, selain untuk kepentingan studinya kurasa dia juga butuh rekreasi kecil. Namun sesudahnya pikiranku beralih ke Palembang. Ya, kepada tiga anak kami yang tinggal di sana dengan Opungnya dan pembantu. Aku menarik nafas lagi, lebih dalam. Perasaanku rumit. Kakak iparku, bahasa batak inangbao-ku, yang tinggal di Bandung, sedang opname di Palembang. Istriku ke Solo. Sebagai guru besar di FK Unsri, ibu mertuaku sangat sibuk mengajar. Lantas bagaimana anak-anakku? Aku percaya Martha sudah mengkondisikan anak-anak dan mempersiapkan segalanya. Pengalaman, dia selalu mendahulukan anak-anak daripada dirinya. Saban hari dia bahkan baru belajar jika anak-anak kami sudah tidur (dan bahkan sesudah dia mengecek tas, buku, PR anak-anak). Kesungguhan dan penanggungannya sama sekali tak kuragukan. Tapi aku ingin mengecek juga keadaan anak2 ditinggal mamanya ke Solo. Tapi aku bertanya lagi apa gunanya. Memangnya aku bisa bikin apa dari Amerika. Kalaupun aku tahu anak2 menangis, berkelahi atau apapun apa yang bisa kulakukan? Akhirnya aku berdoa saja. Semoga Tuhan mengirim ribuan malaikatNya menjaga jiwa dan tubuh anak-anakku.
Namun malam itu aku susah tidur. Keluargaku terpencar di tiga tempat: Solo, Ohio dan Palembang. Ya, ampun. Tidak ada yang salah apalagi yang jahat diantara kami. Aku ke Ohio untuk belajar (perlu untuk masa depanku) dan Martha ke Solo untuk belajar (perlu juga untuk masa depannya) dan anak-anak kami di Palembang. Resiko? Pilihan hidup? Ya aku sadar ini resiko pilihan hidupku dan Martha. Tapi yang jelas, ini bukan pilihan anak-anak! Apakah mereka harus menanggung resiko keadaan yang bukan mereka pilih? Aku yakin perasaan istriku pasti lebih rusuh dari jiwaku. Aku tahu betul dia tidak suka keadaan ini. Cita-citanya sangat sederhana: punya keluarga bahagia. Lantas, apakah anak-anak bahagia jika bapaknya dimana dan mamanya dimana?
Besoknya, penasaran dan gelisah, aku mencoba menelpon ke Palembang, ingin mengecek keadaan anak-anak, tapi ngga ada yang mengangkat telpon. Aku agak panik. Akhirnya aku menelpon Martha ke Solo. Aku ingin tahu kabar anak-anak. Anak-anak baik kata Martha, melegakan perasaanku. Lantas Martha cerita Nina selalu menelpon dari kamar opungnya mengecek mamanya di Solo. Dan dia minta dikirimin oleh-oleh.Oh ya? Apa? Tanyaku penasaran ingin tahu Nina minta oleh-oleh apa. Lem! Jawab Martha pendek. Lem??? Ya!!! Kata Nina dia perlu lem untuk pekerjaan sekolahnya. Oalah. Kami sama-sama tertawa berlinang air mata. Aku mengingat lagi cerita Martha bagaimana Nina saban hari menghitung kalender kapan bapaknya pulang dari Amerika. Berhubung menghitung 180 hari itu sukar bagi anak kelas satu SD kayak Nina, dia selalu capek sebelum berhasil menyelesaikannya, lantas dia meminta Mbaknya menghitungkan untuknya, sementara dia duduk tenang bersandar di tempat tidur memandang kalender, sambil jauh menerawang.
26 April: Mesin potong rambut?
Di Amerika tenaga kerja sangat mahal, sebab itu banyak pekerjaan dilakukan oleh mesin dan komputer, antara lain: jual minuman ringan, snack, koran, bayar parkir, laundry dll. Salah satu mesin yang paling sering kugunakan adalah mesin kopi. Masukkan selembar uang satu dollar, lantas mesin itu akan menarik uang dollar kita. Pencet jenis kopi, ada enam belas macam. Aku selalu dan selalu saja pilih English Toffee. Pencet lagi mau pake krim atau gula. Pencet lagi tombol ukuran: besar atau kecil. Lantas pintu kecil terbuka: kopi sudah terhidang! Asyik. Mesin juga tak pernah lupa atau salah memberi uang kembalian.
Rambutku sudah panjang sejak dari Jakarta. Aku sudah lama kurang nyaman. Namun tidak tahu bagaimana memendekkanya. Disini semua pake mesin. Jangan-jangan potong rambut juga pake mesin: Masukkan kepala ke helm, pencet sana-sini, tiba-tiba rambut sudah rapih. Bagaimana kalau salah pencet, gurauku kepada teman-teman. Belum bisa kubayangkan jika kepalaku gundul sementara daguku penuh dengan jenggot. Namun aku tak perlu kuatir. Kata teman2 laki-laki asal Indonesia ada barber shop di bawah Bromley Hall. “Sayangnya tukang pangkas itu tidak cocok untuk pak Daniel hanya untuk kami-kami saja sebab ada banyak majalah kristen” katanya. Aku bingung. Kok majalah Kristen ngga cocok untukku malah cocok untuk mereka yang beragama Islam? Yang benar sajalah! Pulang dari laboratorium linguistik aku ke sana. Sepi tak ada orang. Aku pun dipersilahkan duduk. Persis seperti tukang pangkas waktu ku kecil di Medan. Dia pun tanya aku mau model apa? Aku bingung. Pengetahuan bahasa Inggrisku terbatas apalagi soal potong-memotong rambut. Akhirnya kubilang potong sajalah terserah. Laki-laki setengah baya pun itu mengambil guntingnya dan memotong rambutku persis seperti memotong semak. Kres kres kres. Aku pasrah tapi resah.
Namanya Steve. Aku membuka percakapan bertanya apakah dia bisa menebak aku dari mana? Tiga kali. kataku. Jepang, katanya. Salah. China? Salah lagi. Indonesia! Kataku. Kami pun cerita. Akhirnya aku mengaku Kristen, pendeta. Steve kaget ketika kukatakan bahwa gereja HKBP punya anggota 3 juta jiwa. Namun sementara dia memangkas, mataku melihat ke rak di belakang lewat cermin di depanku. Aku tiba-tiba saja tersenyum. Dari cermin aku jelas mengeja: Playboy, Penthouse, Maxim. Wow! Ini toh rupanya yang dikatakan teman-teman majalah “kristen” atau “rohani” itu. Tetapi, namun, bagaimana ya, aku sudah keburu mengaku pendeta. Rasanya malu juga jika meminta Steve mengambilkan salah satu majalah itu. Ya sudahlah.
Nasib atau memang ada Tangan tersembunyi yang menggagalkan niatku. Nanti di Indonesia saja kataku menghibur diri, bukankah Playboy edisi Indonesia sudah terbit.
Sabtu 29 april: farewell party
Ron segera berangkat ke Timor Leste. Kami anak-anak Indonesia yang suka ditolongnya ingin membuat pesta kejutan untuknya. Bekerja sama dengan Lori. Sebelum Ron dan Lori tiba kami berencana sudah ada di rumahnya dan mengejutkannya dengan balon, kue dan makan. Pasti surprise! Kesepakatan Lori akan menahan Ron di pasar dan kembali jam 11.15, sementara kami (Eski, Lina, Elis, Farid, Wina, Yoga, Rauf, Anis, dan aku) akan tiba sebelumnya. Namun skenario berubah. Kami salah jalan melulu dan berputar-putar kehilangan arah. Ketika tiba, Ron dan Lori rupanya sudah di rumah. Tapi kedatangan kami kayaknya cukup bikin Ron dan Lori surprise. Mungkin terutama haru. Kami bawa makanan Indonesia. Ada ayam goreng, gado-gado, tahu, dan salad. Aku bawa minuman jus. Ron dan Lori berkaca-kaca. Dia mengatakan ini bukan “good bye” tetapi “farewell”. Sebab kami sama2 punya harapan yang kuat untuk berjumpa lagi. Hari itu aku menyempatkan memberikan ulos kepada Ron dan Lori. Mereka begitu baik kepadaku. Dan kepada banyak anak-anak Indonesia. Aku ingin mereka bahagia sebab diberkati Tuhan. Itulah doaku ketika menyelimutkan ulos itu kepada mereka berdua. Air mata kami sama-sama menitik. Acara lantas dilanjutkan dengan keliling hutan di belakang rumah Ron dan Lori. Sebelum pulang kami berpelukan hangat. Namun ada satu yang kurang. Rupanya Eski memberitahu rencana surprise party itu kepada Christ, sahabat Ron sesama Amerika, tentu saja dengan catatan Ron tidak boleh tahu. Tapi waktu mabuk Christ tidak sadar memberitahu Ron tentang rencana kami! Dasar!
Rabu 3 mei : ulang tahun lina
Namanya Lina Himawan, asal Solo, suku Cina. Tamat dari Maryland sekarang Lina kerja di Ohio University. Lina punya mobil, dan masih baru. Lebih dari itu Lina menjadikan mobilnya sebagai tumpangan atau tebengan anak-anak Indonesia, termasuk aku. Salah satu keburukan kota Athens adalah transportasi publik. Disini tidak ada ojek, bajaj, mikrolet, apalagi metromini. Bus memang ada namun sangat jarang, dan aku sama sekali tidak tahu rute dan jadwalnya. Kemana-mana harus jalan kaki. Tidak apa sih? Namun untuk belanja kebutuhan sehari-hari ke Wal Mart apalagi jalan-jalan ke Columbus tentu tidak mungkin jalan kaki. Untung ada Lina.
Hari ini Lina ulang tahun. Beberapa hari yang lalu kami sepakat untuk merayakan ulang tahun orang spesial semacam Lina. Eski sudah membuat skenario untuk membuat surprise party di restoran India. Anis yang memesan tempat dan makanan. Elis membeli bunga dan kue tart. Farid membeli balon. Dan semua sepakat bahwa pada hari ulang tahun Lina tak satu pun mengucapkan selamat atau mengirim sms sebelum tiba saatnya. Kami menunggu di restoran India. Eski dan Lina belanja ke Wal Mart, rencananya Eski akan mengajak Lina makan berdua ke restoran India. Lama sekali kami menunggu. Namun semua sabar. Sampai akhirnya Lina muncul, dan sengaja disambut dengan kilauan blits bertubi-tubi, nyanyian panjang umur. Tampaknya dia benar-benar kaget bahwa semua orang ternyata ada bersamanya di hari ulang tahunnya, dan tidak melupakannya. Selamat ultah orang baik!
Bertemu Craig di perpustakaan Alden
Masalahku: aku selalu mengantuk jika belajar di kamar sendirian. Karena itu aku memilih perpustakaan Alden sebagai tempat belajar. Itu pun di lantai 2, di ruang belajar bersama yang terbuka 24 jam. (lantai lainnya terlalu sepi). Itu pun di pojok dengan kantin. Dan aku memilih di belakan dinding kaca. Dengan duduk di sana aku mendapat tiga keuntungan sekaligus. Pertama aku bisa melihat banyak orang lalu-lalang. Kedua: aku bisa cepat mengambil kopi atau memesan makanan. Atau minum lewat air minum gratis yang disediakan di pancuran. Ketiga: aku bisa menguping orang2 berbicara bahasa Inggris dan itu akan membantu aku (walau yang terjadi tidak selalu begitu, kadang orang2 malah lebih suka bicara dengan bahasa negeri asalnya: Tagalog, Cina, Jepang, Swahili, Spanyol dll)
Aku sedang duduk membikin PR. Seorang laki-laki Amerika duduk di dekatku dan tersenyum menegur. Aneh. Hai Daniel sapanya. Aku bingung sekali. Dimana gerangan aku berjumpa dengan orang ini. Hai kataku. Mungkin dia tahu aku bingung. “I am Craig”. Ya ampun. Ini adalah teman se rumahku. Aku tertawa. Di rumah prof Weckman ada 4 mahasiswa yang kost. Craig, Andy, dan seorang mahasiswa China, dan aku. Tapi kami praktis tidak pernah bertemu karena itu tidak saling mengenal. Cuma bilang halo atau hai-hai saja. Bahkan seumur hidup aku belum pernah melihat hidung Zhou. Kami sama sekali belum pernah berpapasan di tangga atau di pintu. Kesempatan ini kupakai bertanya kepada Craig. “Aku ketemu dia mungkin sekali tiga bulan” katanya. Ya sudahlah, kataku. Mungkin dia mirip binatang hantu.
Surat Kika
Tak ada hiburan yang lebih kuat daripada sms-sms dan surat-surat plus foto-foto dari Palembang. “BAPAK KIKA RINDU” bunyi sms siang itu. (malam di Palembang). “Kalau rindu bikin surat aja kepada Bapak”. “OKE TAPI PAKE SPIDOL MERAH YA?!” “Ya silahkan”. Surat berhias gambar dengan spidol merah itu buru2 difoto oleh Martha dan dikirim pake internet.
Kika Sayang Bapak.
Bapak! Kika rindu Bapak! Kapan Bapak pulang ke Palembang? Berapa hari lagi sih, Bapak pulang? Kika minta foto Bapak lagi ngerjain PR dan sekolahnya! Kika rindu dengan Bapak. Ini foto Kika! Pak! (gambar anak perempuan) Kika juga minta surat dan gambar dari Bapak lho! Bapak itu sebenarnya kangen ngga sih dengan Kika?
Bapak suka ngga ngerjain PR yang sulit dan susah itu sih Pak (tanda tanya) Bapak beliin buku cerita Bhs Indonesia dong, pak! Bapak kalau di Amerika di (gambar sekolah) bagus ngga sih. Pak nanti surat Kika ini dibalas ya, Pak! Jangan lupa yang tadi Kika minta ya? Dan jangan sampai lupa gambarnya ya! Dibalas lho pak surat dari Kika ini, ya Pak. Dadadadda Bapak! Dibalas, ya!!!!! Tanda tangan Kika.
5 Mei 2006 La Bamba
Jam 16.15 memanggul ransel, aku melangkah tergesa menuju taman dekat Nelson Dining Hall. Tadi Jack Humbles, guru grammarku, memberitahu aku bahwa ada konser Mexico merayakan hari kemerdekaan mereka dari Spanyol. Kupikir daripada ngga ada kerjaan di akhir pekan mending aku kesana. Benar. Dari jauh aku sudah mendengar irama khas musik Spanyol. Jack melambai. Dia sudah ada di sana dengan Aki mahasiswa Jepang dan Irene anak Taiwan. Udara hingar-bingar. Persis pesta Batak. Dua belas laki-laki bermuka kotak berambut cepak meniup trompet persis di depan mik. Penyanyinya bahkan seperti ingin menelan mik itu bulat-bulat. Dua set speaker raksasa yang dipasang di kiri dan di kanan, serta-merta menghantamkan suara musik itu ke telinga pengunjung yang tak seberapa jumlahnya. Aha. La Bamba. Tak ada kesempatan bicara. Hanya bergoyang. Aku pun langsung mengambil makanan. Lumayan. Makan gratis sambil duduk digoyang La Bamba. Tapi guruku Jack Humbles yang sudah berusia 70-an itu kayaknya tidak nyaman. Habis makan dia buru-buru permisi. Aku sebaliknya. Musik kuping pekak ngga karuan ini membawa aku hadir ke suasana pesta-pesta Batak di Jakarta. Apalagi gaya 12 laki-laki pemain trompet itu. Memakai bahasa remaja: Batak banget! Ya, 12 laki-laki berseragam rambut cepak sedikit berombak, kemeja putih lengan panjang, ikat pinggang putih, celana jins cutbrai berbelahan putih di bawah, dan sepatu kets! Persis ngga? Aku pun ikut bergoyang riang sambil duduk makan nasi goreng pake arcis, keju, dan daging, di bawah matahari terik.
para bailar la bamba,
para bailar la bamba se necesita una poca de gracia, una poca de gracia, y otra cosita……. yo no soy marinero, portisere, portisere….
Home : http://rumametmet.com
Share on Facebook
wow,,amang,,,
amazing ya adek2ku,,,anak2 amang,,,
mereka pribadi yang kuat menurut aku,,,
aku juga udah terbiasa di tinggal papaku pergi utk berlayar,,,
but i have a strong faith that Jesus always save him,,,and my brother too…
so,,,adek2 itu udah memiliki naluri kedewasaan yang cukup pd saat mereka msh kecill
amang sgt beruntung memiliki istri dan anak2 yg baik.
kiranya Tuhan Yesus memberkati pekerjaan amang dan inang,,,dan anak2,,,
God has blessed you with so many things …
He has granted you a wonderful and beloved wife which I’m sure God has put her from the first place to be the one you loved and I’m sure she has the same happiness like you do. If not, both of you wouldn’t get to the day you say ” I DO ” , right ?!?!?
You around by lovely kidz …
I can imagine how they feel. Seperate by miles away, can not see their great father, miss your presence, your hug, your kiss …
I once had that feeling before while my dad had to leave the fam coz of his official duties
But you are absolutely right !!!
We need to think the future. If God has planned you to go there, I’m sure He has prepared your beloved kidz to come to that day …
Have a great day Amang …
God Bless You …
Waiting your next solitude …
Bang Daniel! Small world krn tnyata teman SD Immanuel ku Jonathan, adiknya Abang ya!
++++++++++++
Aku baru bli buku nih Bang, judulnya “Saving Your Marriage Before It Starts” – Dr. Les Parrott II & Dr. Leslie Parrott. Satu bab-nya yg catch my attention adl “Sudahkah Anda Mengembangkan Kebiasaan Berbahagia?” Blum baca smua sih tapi point-nya “To be happy is OUR DECISION regardles the condition / situation surround us”.