DTA PERGI KE AMERIKA (4)

April 16, 2006
By

Jumat 14 April: Bisnis jalan seperti biasa

Jumat Agung: Hari wafatnya Tuhan Yesus. Jam 09 pagi. Mengenakan jins dan kemeja kasual lengan pendek, plus sepatu kets yang baru kubeli kemarin di wal-mart seharga 26 dollar, aku masuk kelas seperti biasa. Pelajaran pertama: reading. Pelajaran kedua: listening. Jam 11.00 persis pelajaran listening berakhir, aku bergegas menuju restoran buffee China King langgananku memanggul ransel (isinya? buku-buku-buku, kotak pinsil, 2 dua kamus bantal, 1 botol air minum, 1 payung bergagang kepala bebek). Namun kali ini aku tidak makan santai apalagi sambil membaca dan melamun. Aku juga tidak bisa mengambil buah sepuas-puasnya sehabis makan, sebab waktuku sempit sekali.

Sekarang sudah jam 11.40. Sebagaimana warta minggu lalu, hari ini kebaktian jumat agung diadakan jam 12.00 di gereja presbiterial (penyelenggaranya gabungan empat gereja: lutheran, first methodist, presbiterial, dan campus ministry). Letak gereja itu sendiri tak jauh dari tempatku biasa makan. Jadi walau aku buru-buru tapi tidak juga merasa begitu lelah memanggul ransel seberat nangka yang pohonnya ada di rumah mertuaku di Palembang. Ternyata, ketika aku sampai di dalam gereja yang dikelilingi kaca mosaik itu baru ada tiga orang uzur. Yang seorang, perempuan bertampang super serius, memakai jubah, kelak ketahuan ternyata pemain organ. Kakek dan nenek yang lain sibuk membaca kayaknya Alkitab atau merenung. Aku pun duduk paling pinggir, sebagaimana kebiasaanku, dan meletakkan ranselku di samping, dan memangku jaket. Puas memandang kaca mosaik, aku menatap lama meja altar dengan salib salib kecil yang diberi hiasan mahkota duri dan kain hitam dengan empat lilin dekatnya. Aku merunduk doa. Setiap kali aku menyebut satu nama satu titik air terbit di mata. Ya, dalam doa aku memanggil satu per satu nama anakku, nama istriku Martha, nama ibu kandungku yang sedang menyepi di Laguboti Toba, nama adik bungsuku yang sakit, nama-nama orang yang begitu baik kepadaku atau kuanggap pantas kudoakan karena mereka bergumul hebat. Setelah amin, lantas, aku melihat-lihat lagi sekeliling. Satu per satu pengunjung datang, sebagian besar masih segenerasi dengan si nenek serius pemain organ. Dan tak seorang pun bertampang Asia kayak aku. Namun sampai kebaktian dimulai kutaksir jumlah pengunjung tak sampai seratus orang (aku langsung membandingkannya dengan jumlah pengunjung gereja HKBP Rawamangun Jumat Agung yang bisa mencapai 1500 orang!). Kebaktian itu sendiri cuma 45 menit (aku membayangkan kebaktian kami minus perjamuan minus koor bisa satu setengah jam). Lagunya cuma dua pula. Yang paling aneh: tanpa kotbah. Hanya pembacaan kisah sengsara dari Injil Markus. Setiap kali satu bagian dibacakan lilin di atas meja altar dimatikan. Akhirnya empat lilin pun mati. Aku menunduk hormat. Takzim.

Sulit merumuskan perasaanku pulang dari kebaktian Jumat Agung hari kerja itu. Negara yang penduduknya mayoritas Kristen namun tidak menjadikan Jumat Agung sebagai libur nasional. Apa-apaan kataku. Jumat Agung tanpa Perjamuan Kudus? Rasanya ada yang hilang dari hidupku.

Aku tiba kembali di kelas jam 12.55. Persis jam 13.00 Jack Humbles masuk ke kelas dan mengajar grammar seperti biasa. Jam 15.00 aku meninggalkan kelas dan kembali ke perpustakaan bikin PR (Pekerjaan Rumah) dengan perasaan campur-baur. “Selamat Jumat Agung Amang Pendeta” bunyi sms Paska Manurung dari Jakarta. “Pa, Willy tidak mau ikut gereja tadi pagi karena mau nonton film kartun di Global Teve, katanya sekali ini aja” bunyi sms Martha. Aku senyum dapat hiburan kecil di Jumat murung.

Tapi kepalaku pusing, entah kenapa. Aku pulang ke rumah lantas tidur dan bangun kembali rupanya sudah jam 7 malam. Namun di luar langit masih terang-benderang. Perpustakaan senyap sepi. Hanya beberapa orang saja mahasiswa graduate memelototi komputer. Kemana mahluk-mahluk Ohio ini, tanyaku? Oh aku baru ingat ini weekend. Semua orang, kecuali aku, sudah terbang melayang bersenang-senang. Aku kembali merasa sunyi ini perih. Dan sepi itu nyeri sekali.

Bingung sendirian di kampus bak kota mati, aku pun buru-buru menelpon Eski. Tadi aku melihat jurnalis spesialis daerah konflik ini di perpustakaan. Kemanakah dia gerangan? Rupanya dia dengan beberapa anak Indonesia sedang makan dan ngobrol di warung Cina murah-meriah. Tunggu, kataku, lantas bergegas menyusul anak-anak negeriku: Eski, Sandra Nahder, Anis, Elis, Lina dan Wina. Di sanalah kami cerita utara-selatan dan timur-barat menghibur hati di negeri orang. Di luar hujan gerimis.

Sabtu 15 April Pesta Sakura

Jam 11.10. Kakiku sakit, terutama kelingkingku. Kayaknya digigit sepatu kets baruku itu. Jadinya aku kembali memakai sepatu sandal ala Spartakus yang kubawa dari Jakarta, mengikat kamera di pinggang, menggantung kunci dan dompet ID di leher, lantas berjalan santai menuju Ping Center. Hari ini Pesta Sakura. Katanya ini tradisi. Saban tahun, setiap musim semi, mahasiswa-mahasiswi asal Jepang mengadakan Pesta Sakura, merayakan datangnya bunga sakura atau musim semi. Di sepanjang bantaran sungai Hoking rupanya sudah lama sengaja ditanam pohon-pohon sakura, katanya sumbangan pemerintah Jepang. Pesta tahun ini sebagian bunganya sudah gugur, karena kerasnya tiupan angin beberapa hari terakhir. Tapi masih ada yang tersisa koq untuk foto-foto. Ditarik oleh magnet nusantara, anak-anak asal Indonesia segera duduk bareng. Ada Mas Adrian (anaknya Arief Budiman) dan Mbak Tiwi dengan putrinya Amira, Mas Putut Widjarnako (orang Mizan), Rudi (yang studi doktoral) dengan istrinya Erda, Farid (anak NU yang baru datang), Sandra Nahder (jangan sangka perempuan), Wina, Lina, Elis, Eski dan Yoga, serta Rauf (anaknya Imam Prasodjo yang datang khusus dari Henyon, Ohio Utara). Belakangan juga bergabung Winnie, perempuan Tanzania, sahabat Eski. Dan Qoshin. (sarjana perikanan yang beralih studi ke ilmu politik).

Berlangsung di taman terbuka, Pesta Sakura menampilkan berbagai atraksi khas Jepang: tabuh gendang ala kuil, tarian gadis berkimono, tarian jepang moderen (penarinya mancanegara, warna-warni), kerajinan khas jepang dan tentu saja menyajikan makanan jepang. Penyanyi utamanya: Kenji. Dia adalah mahasiswa Jepang yang sedang belajar bahasa Indonesia. Kemampuan menyanyinya menurutku selevel di bawahku. Namun keberanian dan kepercayaan diri serta semangatnya menyanyi sungguh luar biasa. Dan para pengunjung memberi aplaus yang meriah untuknya, apalagi anak-anak Indonesia yang semuanya mengenal Kenji, Kenji, Kenji! Ya lumayan jugalah hiburan rakyat di kampung Amerika.

Jam 16.00 pulang dari Pesta Sakura aku kembali ke perpustakaan melanjutkan pekerjaan rumah yang tersisa. Sepi sekali.

Minggu 16 April Paskah

Hujan masih rintik-rintik sewaktu aku berjalan kaki sendirian ke gereja Lutheran. Terlambat. Salahku sendiri. Semalaman aku sibuk mengirim SMS mengucapkan selamat Paskah kepada kawan2 sintua, pendeta dan naposo Rawamangun. Juga kepada Ibu Luhut dan Pak Soy yang bergereja di Jl. Jambu. Dan aku menerima begitu banyak sms. Menghibur sekaligus mengganggu tidur. Tapi sudahlah.

Aku kembali duduk di barisan belakang. Gereja Lutheran Athens tampak lebih ramai. Bunga lily putih penuh di altar. Manis sekali. Pagi itu yang kotbah kembali Pdt. Steve. Aku tak mengerti sama sekali apa yang dikatakannya. Aku cuma sibuk membaca warta jemaat. Namun seperti biasa, setiap minggu, pagi itu ada perjamuan kudus. Dan aku meneriman roti tubuh Tuhan dan anggur darahNya bahagia di pagi Paskah ini. Pulangnya semua jemaat termasuk aku makan bersama di ruang bawah. Pelayannya semua laki-laki anggota jemaat ini. Aku duduk bersama Mary Anne, Debra Siegrist dan suaminya Phil yang pernah di Jogja. Hatiku cukup bahagia.

Pulang gereja, aku diajak Mary Anne ke rumahnya makan siang Paskah. Musim semi. Aku diperkenalkan dengan Don. Tak berapa lama datang Friska, ahli nutrisi asal Zimbabwe. Kami pun makan Paskah. Sebelum makan Mary Anne mengajak kami berdoa. Sebagaimana tradisi keluarga mereka kami semua berdoa berpegangan tangan di sekeliling meja makan. Bruce yang memimpin doa. Dia tak lupa mendoakan aku, istri dan anak-anakku di Indonesia. Sungguh aku merasa didekatkan dengan mereka.

Aku tidak tahu persis nama makanan siang Paskah itu. Namun aku tahu itu gabungan roti, telur mata sapi, kue, melon, dan jus. Jamuan Paskah pun dilanjutkan dengan mencari acara telur Paskah. Tentu saja aku tidak ikut mencari. Selain sudah terlalu tua, aku ikut menyembunyikan atau lebih tepat meletakkan baik-baik telur2 plastik berisi hadiah dan coklat di rumput dan di gudang jerami bersama Don tadi.

Habis acara cari telur Paskah, persisnya menemani Any, Don mengajak aku keliling tanahnya. Kami naik mobil bak terbuka. Haley membawa mobil dan aku duduk disampingnya. Prof Don Fluoronoy dan cucunya Any sudah duluan naik dan duduk melonjor di bak belakang. Bruce suami Halley tinggal dengan mertuanya Mary Anne dan sahabat Afrika itu ngobrol di rumah. Mobil pun mendaki di bukit rumput berhutan pinus. Hijau mengasri. Tanah mereka luas sekali. Katanya 200 hektar. Dalam hatiku itu artinya dua kali kebun raya bogor. Ya ampun. Sebagian besar tidak diusahakan, hanya ditanami rumput. Lantas, kami berhenti di pinggir sebuah empang, di tepi hutan pinus. Dua ekor angsa liar berenang mengawal seekor anaknya. Any sibuk melempar palet memberi makan ikan. Don dan Halely sibuk membahas bahaya yang kemungkinan mengancam anak angsa liar itu: kura-kura. Aku lebih banyak diam, menatap dalam-dalam empang kecil berlatar belantara hijau nuansa ungu. Harmoni. Hatiku damai sekali. Kemudian Haley mengajak kami jalan lagi lebih ke puncak. Sepasang kalkun liar tampak lari terbirit-birit masuk hutan. Aku menghirup bau udara segar bercampur bau rumput dan pinus. Tiba-tiba aku ingin Kika, Nina, Willy dan Martha, dan semua sahabatku ada disini. Bersamaku damai. Bahagia Paskah.

SURAT NINA

untuk bapak sayang. untuk bapak. I LOVE YOU Bapak.

selamat paskah bapak. nina rindu sekali sama bapak cepat pulang dong. nina kangen sekali digarukin sama bapak. bapak cepat pulang dong dari amerika. berapa lama lagi bapak pulang dari amerika. kan amerika itu jauh.

bapak nina sudah mulai maju berenang di kolam renang orangtua. bapak mungkin lama dari amerika ke palembang. nina paling rindu sama bapak. walaupun bapak lama dari amerika untuk pulang ke palembang kita tetap sabar dan menunggu bapak pulang dari amerika ke palembang. nina sayang bapak. I LOVE YOU Bapak. nina kangen. bapak dari amerika bawa oleh-oleh ya. kika nina wili selalu doakan bapak supaya bapak mengerjakan tugas PR dengan benar dan bapak sehat selalu. bapak doakan nina kika wili selalu ya wili lancar membaca nina lincah berenang. sudah dulu ya. nina.

Home: http://rumametmet.com

Share on Facebook

3 Responses to DTA PERGI KE AMERIKA (4)

  1. tHA TORUZ on May 3, 2006 at 2:19 am

    Semalaman sibuk sms? wah aku gak keitung kawan ya? :-?

    Surat Nina mengharukan, pasti pelipur rindu paling ampuh….

    Salam sm Nina, walau mgkn dia gak ingat lagi aku siapa :-(

  2. Riris on May 9, 2006 at 6:41 pm

    Hayoo..
    makanan ikan itu palet atau pelet? hehehe…. :P

  3. arta on May 12, 2006 at 7:14 pm

    Wah…

    Mengahrukan…
    Aku jd kangen juga ama mamaku…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*