Archive for the ‘NATAL: KISAH-KISAH NYATA’ Category
Friday, January 1st, 2010
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Kita bernatal dan bertahun baru di jaman teknologi ponsel dan jaman internet. Itu adalah berkat. Minimal lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. Sebab itu mari mensyukuri dan memanfaatkan teknologi ponsel dan internet ini memeriahkan dan menguatkan hari natal dan tahun baru kita.
Jika dahulu kita harus menunggu berhari-hari (atau mungkin lebih) kartu ucapan natal kita tiba di tangan kekasih atau saudara, maka dengan SMS (more…)
Share on Facebook
Posted in NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 8 Comments »
Friday, January 1st, 2010

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Jam di kamar tamu yang biasa dipakai untuk urusan berangkat ke sekolah telah menunjuk pukul 00.00. Namun jam di kamar tidur masih pukul 23.45. Wili, mungkin karena tak sabar lagi mengusulkan agar memakai jam kamar tamu saja. Yang lain keberatan sebab semua tahu jam itu sengaja dicepatkan. Itu artinya ini belum tahun baru. Kertas acara ibadah yang dibagikan tadi di gereja disetting untuk kebaktian tahun baru. “Ah sama saja” kata Wili. (more…)
Share on Facebook
Posted in AUTOBIOGRAFI DTA, KELUARGA DTA SEHARI-HARI, NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 10 Comments »
Friday, December 25th, 2009

Terbuat dari buah rambutan, manggis, nenas, belimbing dan pisang, pohon natal HKBP Serpong tahun 2009 ini adalah simbol dari iman dan kehidupan yang berbuah dalam Kristus. Jika ingin bersama-sama menikmatinya datanglah dalam Ibadah Natal 26 Desember 2009 besok pukul 10.00 WIB.
Share on Facebook
Posted in GALERI FOTO, HKBP SERPONG, NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 17 Comments »
Wednesday, December 23rd, 2009
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Nunga rade be HKBP Serpong manomunomu Pesta Hatutubu ni Tuhanta Jesus. Nunga dipabolak be tenda na marplafon muse di alaman ni garejanta. Satongkinari ro ma karosi na sinewa asa sonang sude ruas hundul sogot. Sinangkap ni roha marsogot di parnangkok ni mata ni ari pajongjongon ma gabagaba. Nunga sahat be tu gareja piga karung rambutan, jala borngin annon ro ma gaol dohot honas. Tu aha i? Hupabotohon hami ma: taon on sian parbue ni angka suansuanan ma gabagaba ni garejanta na di serpong: rambutan, gaol, honas molo boi dohot manggis nang pinasa pe. Dibagasan rohanami gombaran ni haporseaon dohot hangoluan ni hakristenonta do gabagaba i na ingkon marparbue. Jala nunga satolop hami bindahononhon eh daion ma gabagaba i di pesta natal paduahon di tanggal 26 dung simpul marindahan na las dohot minum aek sitiotio.
Pinuji ma Tuhan i, tiur do ari sadarion. Nunga dijomur be angka taganing sipangkeon sogot asa tio ninna panghulingna. Angka tiang ni gareja i pe nunga digorga. Anggo angka bungabunga di langgatan sogot pe nikarejoan asa unang pintor malos. Ulos ragi idup tu langgatan nunga dipinjom. Aha muse? Lampet eh pohulpohul nunga diparade saribu biji asa adong saotik ubat male saluhut ruas ni Tuhanta na ro tu bagas joroNa.
Gonghon sipaimaon joujou sialusan. Nunga mardalan be gonghon sian Sipalua i jala nunga ro be joujouNa tu hita. Jadi ro be ma hamu tu garejanta marsogot. Asa rap manutung lilin hita huhut martangiang. Asa marlas ni roha hita huhut marsomba tu Tuhan. Asa taendehon Nunga jumpang muse ari pesta i dohot Sonang ni bornginna i.
Horas tondi madingin. Pir tondi matogu.
Share on Facebook
Posted in BATAK KRISTEN SEHARI-HARI, HATA BATAK, HKBP SERPONG, INJIL, BATAK & MODERNITAS, NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 8 Comments »
Monday, December 21st, 2009
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Semua tidak direncanakan sebelumnya apalagi diharap. Pohon Natal di rumah kami yang tadinya berwarna pinky ceria atau fanta hahaha tiba-tiba berubah warna sebagian jadi ungu lembayung. Warna keagungan ilahi. Oh.
Ibu kami yang berusia 81 tahun - Gisella buyutnya memanggilnya dengan nama Nantulang Tongkat - kemarin dulu telah dibawa ke Rumah Sakit Cikini. Pikiran Ibu memang masih cukup terang, namun tubuh uzurnya telah benar-benar aus. Mengutip syair lagu Buku Ende 204:3 kata Ibu: “nunga lam buruk dagingki, nengel pinggol, rambon mata, majal panghilalaanki, dila so malo marhata tanda ajalhi naeng ro Jesus tioponku do”. (ketika tubuhku sudah semakin tua, telingaku sulit mendengar, mataku rabun, perasaanku tumpul, lidahku tak pandai berkata tanda ajalku akan tiba, Yesuslah yang kupegang).
Ketika kami bawa ke RS Cikini menjumpai dr Tunggul Situmorang, Ibu sudah tidak sanggup lagi berjalan (more…)
Share on Facebook
Posted in AUTOBIOGRAFI DTA, KELUARGA DTA SEHARI-HARI, NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 15 Comments »
Thursday, December 17th, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Sejujurnya, perdebatan di dalam keluarga kami belum selesai apakah warna dominan pohon natal itu pink (jaman dulu disebut merah jambu) atau fanta. Menurut Martha dan dua anak-anak (Wili kayaknya tidak begitu perduli) adalah pink sementara saya bersikukuh mengatakannya merah fanta.
Sebagaimana tahun-tahun silam, pada awalnya kami berdiskusi (kadang sulit dibedakan dengan bertengkar) tentang tema natal di rumah kami tahun ini. Wili mengusulkan tema tahun ini adalah: belajar. Apa? Ya, belajar. Anak-anak sedang dan akan belajar. Saya langsung setuju. Di benak saya langsung tergambar sebuah pohon natal yang digantungi dengan hiasan-hiasan berupa pinsil, serutan, penghapus dan penggaris. Alangkah unik dan otentik. Nina dan Kika awalnya setuju. Namun mereka berpikir mau dikemanakan hiasan-hiasan natal itu sesudahnya atau bagaimana kalau tamu datang tertarik dan mengambilnya. Dalam perkembangan kedua anak gadis itu kayaknya berubah pikiran. (more…)
Share on Facebook
Posted in NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 9 Comments »
Monday, December 14th, 2009

Kami nyalakan tiga lilin di altar gereja
sebagai tanda minggu adven ketiga.
Natal sudah semakin dekat.
Penantian belum berakhir juga.
Namun sukacita sudah tak tertahankan lagi,
keluar dari hati yang bening.
Pdt Daniel T.A. Harahap


Share on Facebook
Posted in GALERI FOTO, HKBP SERPONG, NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 1 Comment »
Sunday, December 6th, 2009
Hari ini kita telah memasuki Minggu Adven kedua:
Marilah kita memakai masa penantian ini untuk
semakin membersihkan dan memurnikan hati.
Sambil terus menaikkan doa-doa Adven:
Ya Tuhan, datanglah dan sembuhkanlah kami.
Ya Tuhan, datanglah dan jawablah kerinduan kami.
Ya Tuhan, datanglah dan pulihkanlah hidup kami.
Ya Tuhan, datanglah dan bebaskanlah kami!
.




Share on Facebook
Posted in HKBP SERPONG, NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA | 5 Comments »
Sunday, November 29th, 2009
RENUNGAN ADVEN PERTAMA

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Hari ini kita telah masuk ke Minggu Adven pertama. Sesuai kalender ibadah gereja sebelum tiba di Hari Raya Natal maka kita harus melewati empat minggu Adven atau minggu penantian. Hari ini kita mulai menyalakan lilin Adven atau lilin penantian sekaligus pengharapan kita itu.
Apakah sesungguhnya makna Adven itu bagi kita sehingga kita harus menjalani empat pekan berturut-turut?
Pertama: (dalam arti yang paling sederhana) Adven adalah masa persiapan Natal. Sebelum kita sampai ke pesta yang mulia, yaitu perayaan kelahiran Tuhan Yesus Kristus, kita harus mempersiapkan diri sungguh-sungguh selama empat minggu. Suatu pesta besar membutuhkan persiapan dari segala segi. Natal adalah pesta besar, sebab itu juga butuh persiapan. Namun yang utama dalam natal bukanlah persiapan teknis atau fisik, dana, makanan dan pakaian, perlengkapan dan asesori, namun terutama persiapan hati dan roh kita sendiri. Pertanyaan: apa dan bagaimana kita mempersiapkan hati dan roh kita menyambut Natal itu? (more…)
Share on Facebook
Posted in KOTBAH MINGGU INI, NATAL: KISAH-KISAH NYATA, Uncategorized | 3 Comments »
Friday, November 27th, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Memang belum sampai dua puluh kali. Namun saya catat sudah belasan kali saya mengatakan kalimat di atas sejak September lalu kepada orang yang meminta saya berkotbah di perayaan natal kantor, perusahaan, rumah sakit, punguan marga dan keluarganya Desember nanti. Berhubung semua perayaan itu dilakukan sebelum tanggal 24 Desember malam atau menurut kalender gereja masih di masa Adven, saya (dengan kemauan dan kerelaan sendiri, tanpa paksaan siapapun) menolaknya. Berusaha santun, hanya inilah kata-kata yang bisa saya ucapkan: Maaf, saya tidak merayakan natal di masa Adven. Saya merasa terhormat, terima kasih atas undangannya.
Bagi saya merayakan Natal di masa Adven (penantian) sama saja dengan memetik buah sebelum matang, berpesta sebelum hari ulang tahun, atau maaf ibarat melakukan hubungan seks sebelum pernikahan. Bagi saudara-saudara Muslim itu sama dengan berhalal bilhalal di bulan Ramadan. Itu jelas salah apapun alasannya. Lantas mengapa harus dilakukan?
Tahun silam, (more…)
Share on Facebook
Posted in NATAL - TANYA-JAWAB, NATAL: KISAH-KISAH NYATA, PEMBINAAN WARGA GEREJA | 35 Comments »