Archive for the ‘MASYARAKAT & NEGARA’ Category

Gereja dan Rayap di Hari Bumi

Thursday, April 22nd, 2010

rayap.jpg

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Kebetulan atau betul-betul di Hari Bumi. Tiga potongan raksasa kusen gereja kami diganti dengan yang baru. Mengapa? Karena kusen yang lama sudah habis dimakan rayap. Benar-benar habis. Memakai bahasa pendeta di pemakaman: telah kembali menjadi tanah secara hurufiah.

Sambil memandang tukang-tukang memasang kusen baru yang diberi cat merah, katanya anti rayap, saya memandang ke sekeliling. Menurut cerita kawan-kawan sepuluh tahun lalu Serpong masih hutan karet. Dimana-mana pepohonan (more…)

Share on Facebook

Adat Mendahulukan Perempuan

Wednesday, April 21st, 2010

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Sebagai gereja yang beranggotakan mayoritas Batak mau tak mau banyak kebiasaan di gereja kami HKBP sedikit-banyak pengaruh dari budaya Batak. Salah satu contoh kecil misalnya: kebiasaan atau adat mempersilakan para bapak (baca: laki-laki beristri, beranak dan apalagi bercucu, atau punya kedudukan tinggi) untuk duluan mengambil makanan.

Dalam acara-acara gereja termasuk partangiangan wijk, jika ada acara bersantap, maka biasanya ibu-ibu Batak ini secara sukacita mengambil posisi sebagai “parhobas” atau pelayan, atau minimal duduk tenang membiarkan seluruh deretan para lelaki mengambil makanan duluan. Barulah mereka makan. Jika makanan disajikan dalam kotak maka para ibu-ibu HKBP yang Batak tulen ini pun dengan sukacita mengoper atau menggeser lagi kotak makanan yang sudah diberikan kepadanya kepada para lelaki yang belum kebagian. (dan biasanya si lelaki tanpa wajah bersalah menerimanya. oala). :-) (more…)

Share on Facebook

Cintailah Tuhan. Cintailah Pohon.

Thursday, March 25th, 2010

hkbp-sagala-samosir.jpg 

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Kali ini saya terpaksa mengalah. Pohon kupu-kupu yang saya tanam di tengah halaman HKBP Serpong dan telah mencapai tinggi empat meter  harus dipindahkan karena dianggap mengganggu mobilitas kendaraan (baca: mobil). Maklumlah lahan parkir gereja kami yang luas sudah terasa sangat sempit, karena sering tidak mampu lagi menampung seluruh kekayaan mobil milik anggota jemaat. Namun saya berkali-kali memberi wanti-wanti (singot-singot) kepada tukang yang membetulkan pelataran parkir agar pohon kupu-kupu itu jangan sampai mati. Namun melihat caranya memindahkan pohon itu (karena keterbatasan waktu) saya pikir hanya doa sajalah yang dapat menyelamatkan pohon kupu-kupu malang itu. Ya semoga pohon itu mendapat belas kasihan Tuhan, doa saya. (more…)

Share on Facebook

Pelecehan di Rumah Tuhan

Thursday, February 18th, 2010

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Sekali lagi, saya tidak ingin membahas secara khusus kasus yang terjadi di Sekolah Bibelvrouw Laguboti  yang diliput oleh televisi dan membuat semua warga  jemaat maupun pelayan HKBP risih dan miris. Saya percaya Pimpinan gereja HKBP dan Rapat Pendeta HKBP se Distrik Toba akan mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan benar dan adil. Sebab itu kita tunggu dan doakan saja.

Namun di pihak lain, sebagaimana posting sebelumnya, saya juga tidak ingin hanya sekadar merasa malu, marah-marah dan mencak-mencak atas kasus pelecehan yang terjadi di awal tahun ini apalagi di waktu-waktu sebelumnya. Saya ingin kita melakukan sesuatu yang konkret untuk meminimalisasi atau mencegah sekuat tenaga pelecehan apalagi pemerkosaan dimana saja termasuk di rumah Tuhan ini. Tanpa bermaksud merendahkan penderitaan korban, meringankan masalah apalagi memberi pengampunan murah meriah, saya harus mengatakan bahwa pelecehan seksual  sesungguhnya bukanlah baru kali ini terjadi di likungan komunitas keagamaan. Berita media cetak maupun elektronik telah sering mengungkapkan kasus-kasus serupa di gereja dan agama lain bahkan yang lebih parah dibanding yang terjadi di sekolah HKBP kemarin.  Artinya semua manusia (beragama) memang pada dasarnya tidak kebal dari  penyimpangan juga penyalahgunaan wewenang demi pemuasan hasrat seksual.

Gereja HKBP (baca:Huria Kristen Batak Protestan) terkenal sangat menjunjung hukum Tuhan yang ketujuh: Jangan berzinah. Pelanggaran hukum ketujuh secara spesifik menikah di luar ketentuan gereja  atau hamil di luar pernikahan yang sah dihukum seberat-beratnya dengan pengucilan atau ekskomunikasi. Bahasa Bataknya: dipabali sian huria (dikeluarkan dari keangotaan gereja). (more…)

Share on Facebook

Selamat Jalan Gus Dur

Wednesday, December 30th, 2009

selamat-jalan-gus-dur.JPG

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Pesan Natal 2009

Thursday, December 24th, 2009

selamat-natal-2009-rumametmet.JPG

Share on Facebook

Tolong! Saya Korban Salah Pencet.

Friday, December 11th, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Pagi ini, kalau tak ada urusan terlalu penting, jangan dekat2 saya. Mengapa? Saya lagi jengkel kel dan dongkol kol. Hampir saja pitam tam. :-( Apa pasal? Barusan saya mengetes menelpon nomor ponsel saya sendiri dari kantor gereja berhubung ada teman yang mengatakan sulit sekali menghubungi saya. Betapa kagetnya saya tiba-tiba saya mendengar bunyi ringtone sebuah lagu. Padahal seumur hidup maksudnya sejak mengenal ponsel saya tidak pernah suka mengubah-ubah ringtone ponsel saya apalagi bergenit-genit dengan lagu.

Tiba-tiba saya teringat kejadian kemarin. (more…)

Share on Facebook

Jangan Lupa Mengepel

Wednesday, December 9th, 2009

hari-raya-anti-korupsi.JPG

Share on Facebook

Nenek Minah

Saturday, November 21st, 2009

copy-of-minah.jpg

Share on Facebook

Sapi No 435

Friday, November 20th, 2009

Pukul 19.25. Malam terasa sangat basah. Saya sedang dalam perjalanan menuju tempat kebaktian di kawasan BSD. Seperti biasa saya menyalakan radio Elshinta walaupun malam itu  sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan info lalu lintas. Menjelang German Centre tiba-tiba saya mendengar Elshinta menyiarkan berita gawat: seekor sapi dikabarkan telah jatuh dan melarikan diri dari mobil yang membawanya tak jauh dari pintu tol Pondok Ranji. Saya tersentak dan memasang kuping baik-baik. Saya pun serius menyimak percakapan Elshinta dengan pemilik sapi, seperti layaknya mendengar rekaman percakapan Anggodo yang dibuka di Sidang Majelis Konstitusi.

Sapi itu berwarna putih. Di punggungnya ada cap nomor 435. Menurut pengakuan pemilik yang kalau tak salah bernama Pak Rego sapi dibawa dari Jonggol dengan mobil L300. Seluruhnya ada empat sapi. Empat sapi dibawa naik mobil L300?  Ya ampun. Tanya penyiar radio. Saya senyum sendiri. Tidak terlalu besar kok sapinya. Namun jelang pintu tol sapi roboh. Yang seekor langsung melarikan diri. Arah mana Pak? Diperkirakan ke arah BSD. Supir membiarkannya sebab harus menjaga tiga sapi yang lain. Oke kami akan koordinasi dengan petugas tol.  Sapinya sudah ketemu? Belum. Oh sapi yang malang. Dimanakah engkau? Jangan menyeberang sebab itu membahayakan dirimu dan  juga pengendara jalan, kata saya dalam hati. Tiba-tiba: gedebuk. Mobil saya terguncang keras.  Saya kaget sekali. Apa gerangan? Kayaknya saya menabrak batas jalan. Oh. Dasar sapi! :-)

Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

Seminar Bolon Halak Hita

Monday, November 9th, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Sabtu ini 14 November 2009  di Hotel Borobudur, Panitia Pembangunan HKBP Serpong memfasilitasi Seminar Bolon Hakristenon, Hamajuon & Habatahon.  Persiapan-persiapan teknis untuk kelancaran seminar besar ini terus dilakukan. Panitia juga telah mendapatkan konfimasi ulang kehadiran para tokoh sebagai pembicara. Sebagaimana pernah saya sampaikan Eforus HKBP Ompu i Pdt DR Bonar Napitupulu mengatakan akan hadir. Jenderal Luhut Panjaitan Senin lalu di kantor beliau saat menerima Panitia juga menyatakan hadir dan menjanjikan dukungan kepada HKBP Serpong. Dua antropolog dan sosiolog Batak, Prof Hotman Siahaan dari Unair Surabaya dan Prof BAS Simanjuntak dari Medan juga menyatakan akan hadir. Dua tokoh yang sebelumnya menyatakan siap hadir memohon maaf karena tugas negara yang tidak bisa dieelakkan hanya dapat mengirimkan makalahnya. Yaitu: Edwin Situmorang, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara. Satu lagi: Raden Pardede yang tiba-tiba mendapat tugas dari Presiden ke Eropah. Namun  tokoh politik Trimedya Panjaitan, ekonom Jisman Simanjuntak, pengusaha senior Soy Pardede dan teolog Jan Aritonang serta birokrat Dr Sahala Lumban Gaol menyatakan siap hadir menyukseskan Seminar. Dan satu lagi Jansen Sinamo juga telah siap memoderatori Seminar ini.

Anda sudah mencatatkan diri untuk ikut? Beta ma, asa manghatai hita. (more…)

Share on Facebook

Saya Cicak

Friday, November 6th, 2009

saya-cicak.jpg

Share on Facebook

JANGAN LUPA

Wednesday, November 4th, 2009

cicak-1.jpg

Share on Facebook

HKBP Salembaran: Kehidupan Di tengah Kematian

Tuesday, August 25th, 2009

copy-of-dsc_0594.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Terletak di kawasan Teluk Naga Kecamatan Kosambi, beberapa kilometer dari ujung landasan Soekarno Hatta Cengkareng, gereja HKBP Salembaran berdiri di tengah-tengah pekuburan. Menurut Pdt Zending Sinurat yang melayani di sana, pada awalnya gereja HKBP berdiri di tengah pemukiman  namun ditentang oleh warga masyarakat sekitarnya. Seorang tokoh masyarakat di sana menawarkan: jika mau aman pindahkan saja gereja ke kawasan pekuburan. Dijamin tidak akan diganggu. Warga HKBP menanggapi usulan itu secara hurufiah. Bangunan gereja yang terbuat dari kayu pun langsung diangkut ke lokasi yang ditunjuk. Kini bangunan lama itu digunakan untuk konsistori. Waktu berjalan. Gereja  baru  pun telah berdiri di tengah-tengah pekuburan itu, menyimbolkan kehidupan di antara kematian.

hkbp-salembaran-2.JPG

hkbp-salembaran-3.JPG

Kembali ke halaman depan:

Share on Facebook

Ndi Inangmi!

Friday, August 7th, 2009

danau-toba-dan-meat-dipandang-dari-gurgur-1.JPG

Bagaimana agar danau Toba lestari? Bagaimana agar air danau Toba tetap bening bebas dari sampah dan polusi? Bagaimana agar air danau tetap terjaga kuantitas dan kualitasnya? Menurut saya tidak cukup hanya dengan himbauan atau membuat peraturan. Orang Batak seluruhnya - tidak hanya yang tinggal di sekitar danau itu - harus merumuskan kembali hubungan batinnya dengan danau besar itu. Sudah sangat lama danau itu dirusak, dijadikan kolam percobaan dan eksperimen segala macam, dikotori dan dieksploitasi dengan semena-mena. Menurut saya orang Batak harus mengaku dosanya dan bertobat. Merusak dan mengotori danau Toba sama saja dengan memperkosa Ibu kandung sendiri.

Maaf, mungkin ungkapan ini terasa sangat provokatif dan vulgar. Namun saya kira pas. Kita harus kembali mengaku (more…)

Share on Facebook