Archive for the ‘KISAH SAHABAT’ Category

Kenangan Dari Foto Masa Kecil

Wednesday, June 10th, 2009

Oleh: Sal Hutahaean

Beberapa waktu lalu ketika saya pulang ke Laguboti, saya iseng-iseng membuka album foto-foto lama di rumah. Yang paling menariki adalah foto-foto hitam putih yang lucu-lucu. Yang terbanyak tentu adalah foto rame-rame, terutama foto suasana nikah, kemudian foto orang meninggal lengkap dengan wajah mayat yang kaku, foto kakak-kakak saya bergaya artis entah itu di kuburan, di pantai, atau di depan gereja, dan foto makan-makan dengan fokus foto terarah pada makanan di dalam panci. Lalu ada juga foto diri kami waktu kecil yang tak kalah lucunya.

Dari seluruhnya itu, yang paling menarik hati saya adalah satu foto diri saya semasa kecil berpose dengan seseorang. Seingatku foto itu adalah ketika saya masih kelas 3 atau 4 SD dan teman yang berdiri cengengesan di sampingku di dalam foto itu adalah (more…)

Share on Facebook

Hari Ini & Tujuh Tahun Yang Lalu

Wednesday, April 29th, 2009

Oleh: Ingkan Tiara Simanjuntak.

28 April 2002. Mama ulang tahun hari ini. Hari libur pula. Senang hatiku, turun tangga ke kamar makan membawa kado untuk Mama. Mama sudah di bawah dengan secangkir kopi dan rokok kesukaannya. Setelah cium pipi kiri-kanan aku bertanya, “Kemana Bapak, Ma?”, jawab Mama, “Oh, lagi ganti plat mobil, kak. Nanti kita rencana mau ke lontong sayur Kemanggisan, untuk makan siang kita, dan keluarga Onkel No, mereka mau bawa cheesecake lho untuk ulang taun Mama”. Aku mengangguk senang, dan pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi. Kembali ke ruang makan, ngobrol dengan Mama, Ompung.

Kejadian selanjutnya berlangsung cepat sekali. (more…)

Share on Facebook

Work With Words

Monday, March 2nd, 2009

laptop-dan-kopi.jpg

Oleh: Mula Harahap

Kemarin (Sabtu) saya menjadi fasilitator pelatihan menulis pemuda GKI (Sinode Wilayah Jateng) Klasis Jakarta II. Diluar sepengetahuan saya ternyata Pdt. Daniel Harahap juga mereka undang menjadi fasilitator. Karena itu jadilah kami berdua abang-beradik menjadi pemandu dalam pelatihan tersebut.

Pelatihan tersebut diselenggarakan di Yakoma-PGI (Pelayanan Komunikasi untuk Masyarakat dari Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia). Pengorganisasian penyelenggaraan dilakukan oleh pemuda-pemuda tersebut. Yakoma hanya menyediakan tempat, teh/kopi. Ada pun konsumsi makan siang, mereka beli sendiri secara urunan. (more…)

Share on Facebook

Dua Kejadian Di Kampung Kami

Monday, December 1st, 2008

Oleh: Erwinthon Napitupulu

 

kampung-buka-tanah-lembang.JPG

Selasa Malam, 25 November 2008

Minggu ini di kampung kami ada dua kejadian menyedihkan.

Kejadian pertama, Mang Mumu kehilangan satu dari dua ekor sapinya. Sapi perahnya sekarat hari Jumat lalu. Dan seperti kebiasaan di kampung, ketika sapi sekarat, jagallah yang bekerja mengambil nyawanya. Daripada keburu mati, sapi yang sekarat masih bisa dihargai 4,5 juta, hanya sekitar 30% dari harga pasaran seeokor sapi perah sekarang, 13 jutaan.

Awal bulan ini Mang Mumu masih memiliki 3 ekor sapi. Dan sebenarnya dengan tiga ekor sapi, ia bisa memperoleh pendapatan yang cukup meskipun minim untuk menghidupi keluarganya. Namun minggu pertama bulan ini ia harus merelakan seekor sapinya untuk dijual, untuk membiayai pengobatan ayahnya, Aki Ena (79 tahun), di rumah sakit AURI Ciumbuleuit. Minggu pagi, saya sempat mengamati Mang Mumu mengangkut rumput makanan sapi dari kebon kami. Ia kelihatan murung. “Kehilangan sapi, bagi pemilik sapi yang mencari nafkah dari perahan susu, tidak kalah menyedihkan dari kehilangan anggota keluarga”, (more…)

Share on Facebook

4000 Komen Itu Berharga & Banyak

Saturday, November 15th, 2008

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

jeruk-1.jpg

Hari ini komen Ruma Metmet menembus angka 4000 buah. Ruma Metmet sendiri genap setahun baru 26 November yang akan datang. Bagi saya, melampaui jumlah pengunjung yang sekarang kurang lebih 800-900 per hari kerja (400-500 orang di akhir pekan dan hari libur) , komen-komen inilah yang paling menyenangkan sekaligus membahagiakan hati.

Jujur, komen-komen dari para kawan dan handai taulan ini jugalah yang membuat juga Ruma Metmet ini semakin ramai dan hidup. Ya, kadang saya membayangkan Ruma Metmet ini tidak lagi sebuah bale sunyi di pinggir telaga, namun sudah lebih mirip lepau sederhana yang terselip di belantara kota dimana banyak orang datang untuk berdiskusi, berdebat, “bertengkar” atau sekadar bercakap-cakap tak terlalu penting dengan sesamanya. Ya, di sebuah kehidupan moderen yang sarat dengan problematika dan dinamika yang sering melelahkan mungkin ini suatu kebutuhan dan Ruma Metmet adalah satu tempat memenuhinya.

Selain berterima kasih, saya pikir saya juga harus meminta maaf. (more…)

Share on Facebook

Pendeta & Komputer

Friday, October 24th, 2008

pdt-daniel-ta-harahap-palembang-1996.JPG

Oleh: Mula Harahap

Di pertengahan tahun 90-an, dalam perjalanan bermobil ke Medan, saya mampir satu malam di rumah seorang pendeta muda di kompleks HKBP Jl. Mayor Ruslan–Palembang.

Sepanjang malam itu kami ngobrol ngalor-ngidul. Entah mengapa, pembicaraan kami juga menyerempet ke soal gereja dan teknologi komunikasi/informasi. “Kau harus menguasai teknologi komputer,” kata saya berteori kepada pendeta itu. “Sebagian dari masa depan gereja akan sangat tergantung pada hal tersebut….”

Tentu saja pendeta itu hanya diam menatap saya. Tapi, saya rasa, saya tahu apa yang sedang berkecamuk di benak pendeta miskin dari sebuah organisasi gereja yang bernama HKBP itu. Karena itu kepada pendeta itu langsung saya katakan, “Nanti sepulang dari Medan akan saya kirim satu perangkat komputer. Pakailah itu untuk belajar…”

Saya berani berkata begitu karena waktu itu saya memang masih cukup “kaya” dan dipercaya oleh Cina-cina di Glodok sana. Apalagi, menurut pikiran saya, yang dibutuhkan oleh pendeta itu tokh hanyalah sebuah “komputer jangkrik” (more…)

Share on Facebook

Sebuah Paviliun di Jalan Timor

Wednesday, October 15th, 2008

kikaopung-br-hutabarat.JPG

Oleh: Mula Harahap

Ompung mempunyai seorang putera (saya memanggilnya tulang) yang setelah menamatkan MULO di Medan (sebelum kedatangan Jepang) melanjutkan pendidikannya di AMS Yogyakarta. Selama masa pengungsian di Laguboti, yaitu pada masa Penjahan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, kontak antara Ompung dan puteranya terputus. Karena itu bukan main senangnya Ompung ketika selesai Penyerahan Kedaulatan ia menerima surat dari Tulang yang mengabarkan keadaan dirinya baik-baik saja. Dan di dalam suratnya bahkan Tulang mengabarkan bahwa dia telah menikah, bekerja dan menetap di Jakarta. Tulang mengundang Ompung untuk meninggalkan Laguboti dan menetap saja di Jakarta.

Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Ompung Lelaki jatuh sakit, meninggal dan dikebumikan di Laguboti. Sementara itu dua puteri Ompung telah pula menikah dan tinggal di kota lain. Karena itu dengan berbagai pertimbangan, terutama masa depan bagi 3 puterinya yang masih remaja (salah satu di antaranya adalah ibu saya), Ompung pun memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. (more…)

Share on Facebook

Bapak & Sindrom Pensiun

Thursday, August 21st, 2008

Oleh: Anne Yurico

pensiun-1.jpg

Suatu hari bapak berkata kepadaku “riko, bapak mau kursus montir motor dulu”
“Hah? Apa bapak bisa?” tanyaku.
“Bisalah, bapak kan mengerti mesin”, katanya. “Tapi bapak kan sudah tua, dan sekarang teknologi motor sudah modern, manalah bapak bisa mengikutinya” lanjutku.
Tapi bapak tetap bersikukuh, untuk mengikuti kursus itu. “Dua kali seminggu selama tiga bulan dan biaya nya pun murah”, itu katanya.

Itulah ide pertama bapak untuk menjalani masa hidupnya setelah pensiun, sebenarnya bukan pensiun, karena
istilah pensiun itu hanya ada untuk pegawai negeri setahuku, sementara bapak bekerja di perusahaan swasta. Cita-citanya setelah kursus dan pensiun, bapak mau membuka bengkel motor di Rantau Parapat. Waktu aku bertanya mengapa harus di Rantau Parapat, toh di Jakarta atau di Bandung juga bisa. Bapak menjawab, sudah banyak bengkel motor di kota-kota besar ini, sekalianlah biar dekat dengan ompung dan namborumu. Bapak akhirnya menjalani kursus itu dengan rajin, itu laporan mamak kepadaku, karena aku tidak melihatnya langsung, mereka tinggal di Bandung sementara aku di Jakarta.

Lalu suatu saat bapak meneleponku “Riko, bapak sudah selesai kursus nih, hebat lho” katanya.
“Apanya yang hebat pak?” (more…)

Share on Facebook

Satu Hari Minggu di Serpong

Thursday, May 15th, 2008

Pelantikan Pendeta Daniel Harahap

gereja-hkbp-serpong-photo-by-dta.JPG

Oleh: Alof

Setelah Padre Daniel Taruli Asi Harahap yang populer dengan inisial DTA mengabarkan melalui milis hkbp bahwa beliau akan dilantik sebagai Pendeta Resort di HKBP Serpong pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, eh pada tanggal 9 Maret 2008 jam 09.00 WIB, aku langsung menyampaikan euangelion alias berita gembira tersebut kepada para laeku (3 orang sepupu istriku, para lelaki bujangan yang mendaku sebagai high quality jomblo) yang dahulu pernah di-pendeta-i oleh DTA di HKBP Palembang.

Tentu saja aku merasa wajib memberitahu mereka, karena mereka mengaku kenal dekat pada DTA dan sangat mengagumi beliau. Dengan senang hati pula mereka menyatakan mau mengawaniku ke acara tersebut. Sehingga, pada tanggal 8 Maret 2008 malam, kami pun mengikrarkan janji untuk berangkat ke Serpong keesokan harinya pada pukul 07.30 WIB.

Keesokan paginya, tahu-tahu hatiku tergerak rasa iba melihat mobil yang kotor setelah kehujanan di jalan semalam. Timbullah niat tulus untuk memandikan kendaraan yang selama beberapa tahun terakhir setia membawaku ke mana pun aku ingin. Melihat jam yang jarum-jarumnya baru berkisar di angka 7, maka aku pun langsung menunaikan niat tak terbendung tersebut.

Saking asiknya membersihkan mobil, tidak terasa jarum jam sudah merangsek ke angka 8 ketika aku menggulung selang air. (more…)

Share on Facebook

Dendam Kesumat Dari Masa Kecil

Sunday, May 11th, 2008

 sunmaidraisins.jpg

Oleh: Mula Harahap
http://mulaharahap.wordpress.com

Angan-angan, cita-cita atau dendam kesumat di masa kanak-kanak memang selalu menarik untuk dikenang.

Seorang teman saya berkata, “Salah satu angan-angan saya dulu adalah, mampu membeli anggur kelas satu berbotol-botol dan tape-recorder Sony untuk memutar lagu rohani Holan Sada Do Na Ringkot–Hanya Satu Yang Berarti Bagiku Dalam Hidup Ini….”

Sampai saya duduk di bangku kelas 4 atau 5 SD saya belum pernah makan kismis. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Boleh jadi perekonomian Indonesia ketika itu memang belum berkembang seperti sekarang. Barang-barang import–termasuk kismis–masih sangat langka dan mahal harganya. Boleh jadi juga karena ekonomi keluarga. Atau boleh jadi juga, seperti kata orang Batak, “Mardomu ma i sude–Semua itu campur-baur….”

Saya pernah ngiler sekali melihat seorang teman sekelas duduk memakan kismis sekotak kecil. “Bagilah sedikit,” kata saya kepadanya. Teman saya memang baik. Diberinya beberapa butir kepada saya. Dengan penuh takzim butiran itu saya masukkan ke mulut dan saya kunyah perlahan- lahan.

Tapi tidak semua dari butiran kismis yang diberikan oleh teman itu saya makan. Diam-diam beberapa butir saya masukkan ke kantong. (more…)

Share on Facebook

Ibuku Demam Berdarah

Sunday, May 11th, 2008

toba_batak_in200.jpg

Oleh: Sal Hutahaean

Saya sedang merenung-renung, padahal seharusnya saya bekerja. Kemarin saya ditelepon, ibu sedang dirawat di jakarta, demam berdarah. Saya merenung-renung. Demam berdarah tentulah penyakit yang cukup berat bagi seorang ibu berusia delapan puluh empat tahun. Tetapi sore tadi saya ditelepon lagi, ternyata ibu sudah relatif pulih, bilangan trombosit sudah naik, dan telah diijinkan dokter kembali ke rumah.

Ibu memang perempuan luar biasa, paling tidak begitulah pandangan saya. Jarang sakit, punya energi yang besar untuk mengerjakan apa saja. Tahun lalu ibu tergelincir di dapur, sempat sulit berjalan hingga beberapa hari, kami sudah khawatir dan sudah berencana membeli kursi roda, tetapi ternyata ibu bisa pulih, berjalan normal sebagaimana biasa.

Kadang-kadang saya berpikir, kesehatan dan daya tahan tubuh ibu ada kaitannya dengan sikap hidupnya yang selalu berpasrah diri pada Tuhan. Ibu selalu tenang menghadapi masalah apa pun. Ibu senang berdoa, ia sangat yakin bahwa Jesus mengatur semua langkah kehidupan keluarganya, ia hanya sekedar menjalani saja. Lagu kesukaannya adalah “Holan Jesus do hubaen donganku”.

Sekali watu ibu menceritakan dengan bangga, ia pernah menyanyikan lagu itu di atas panggung. Di sebuah hotel di Manado! Saya penasaran dan agak khawatir, jangan-jangan ibu sudah mulai (more…)

Share on Facebook

Parubat-ubat

Friday, April 25th, 2008

Oleh : Lambas Siregar

Ingat Bona Pasogit ingat masa kanak-kanak kami sampai remaja terukir indah. Setiap minggu selalu ada onan atau pasar sekali sepekan yang sangat ramai. Dari penjual sembako, poccal/pecal, mi gomak ee que jadi ngiler ni, sendol, apalagi kue-kuean martabak. Wah buanyakk kali tahe termasuk pinahan lobu. Alm Bapak saya tukang jahit juga tak ketinggalan meramaikan bersama barisan lapo buka lebar-lebar ”talak songon lappak ni gaol “.

Di antara para pedagang yang didominasi para ina, terdapatlah kelompok ” bisnismen ” yaitu Parubat-ubat dengan seperangkat alat sound systemnya yang pintar menghibur mengolah kata dan perasaan orang sambil menjual obat . Banyak orang jadi tertarik lewat guyonan atau atraksi krobat, sulap, karate bahkan janji-janji parubat-ubat. Katanya nanti akan ditunjukkan ular besar. (more…)

Share on Facebook

Saya dan Kura-kura Saya

Monday, April 21st, 2008

mula-harahap.JPG

Oleh: Mula Harahap

Saya rasa para pedagang yang selalu berkerumun di depan pagar SD (terutama SD Negeri yang marjinal itu) adalah manusia yang paling kreatif dan inovatif. Mereka selalu tahu bagaimana caranya memberi nilai tambah kepada sebuah barang, yang oleh orang dewasa sebenarnya sudah dianggap tak berguna, sehingga di mata anak-anak kecil yang penuh imajinasi dan fantasi, barang tersebut menjadi sesuatu yang istimewa.

Ketika anak lelaki saya masih duduk di bangku SD saya selalu geleng-geleng kepala melihat oleh-oleh yang dibawanya pulang dari sekolah, dan yang dibelanjakannya dengan uang jajannya yang kecil itu.

Sekali waktu anak saya membawa sebuah “gramafon”. Dan yang dimaksud dengan gramafon adalah sebuah kotak dari karton (corrugated paper) dan di tengahnya ada sebuah pringan hitam yang didudukkan di atas sebuah paku.

Piringan hitam yang tampaknya adalah bahan propaganda sebuah kelompok kekristenan itu pasti diperoleh si pedagang dengan cuma-cuma. Bila piringan hitam itu diputar dengan tangan maka akan terdengarlah suara–seperti dalam filem kartun Woody Woodpecker–yang mengatakan,”Jesus loves you…..Jesus loves you….Jesus loves you….”

Karena yang dipakai untuk mengikuti alur pada piringan hitam itu adalah paku biasa (bukan jarum khusus untuk gramofon) tentu saja alur piringan hitam itu jadi cepat “jebol” dan hanya mengeluarkan suara yang sama secara berulang-ulang.

Bisanya suara yang berulang-ulang itu pun hanya bisa terdengar sampai menjelang anak saya mandi sore (karena, setelah itu alur piringan hitam tersebut sudah semakin rusak). Dan tamatlah usia gramofon itu. (more…)

Share on Facebook

Mamak

Friday, April 18th, 2008

pasar-jdp.jpg

Oleh: Anne Yurico

Di dekat rumahku ada carrefour baru  (bagaimana sebenarnya melafalkan kata carrefour ini?) , sebuah pasar swalayan nan megah, bisa belanja sambil berekreasi. Tanpa keringat karena ada pendingin udara.  Tanpa becek karena lantai dari keramik. Tanpa tangan pegal karena ada troli (keranjang dorong yang ada rodanya). Nikmat sekali. Harum pula. Untuk membayar di kasir orang-orang rela mengantri berjam-jam, walaupun beberapa keranjang belanjaan yang kulihat, hanya terisi makanan-makanan yang sebenarnya banyak dijual di toko kelontongan, misalnya mie instan, kecap, minuman botol, dan minyak goreng.

Ketika pasar tradisional mulai berkurang peminatnya, tetapi mamak, tante dan inangtuaku tetap setia dengan pasar tradisional. “Tak ada mudar ayam kampung untuk ayam gota, andeliman pun tak ada” itu kata mamak kalau aku mengajaknya untuk belanja di pasar swalayan. Atau kadang-kadang dia berkata “ih… janganlah kau belanja disana inang, yang udah lamanya itu dipajang, banyak pengawetnya”. (more…)

Share on Facebook