Archive for the ‘AUTOBIOGRAFI DTA’ Category

Ibadah Pergantian Tahun Di Rumah Kami. :-)

Friday, January 1st, 2010

ibadah-pergantian-tahun-dikamar-kikanina.JPG
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Jam di kamar tamu yang biasa dipakai untuk urusan berangkat ke sekolah telah menunjuk pukul 00.00. Namun  jam di kamar tidur masih pukul 23.45. Wili, mungkin karena tak sabar lagi mengusulkan agar memakai jam kamar tamu saja. Yang lain keberatan sebab semua tahu jam itu sengaja dicepatkan. Itu artinya ini belum tahun baru. Kertas acara ibadah yang dibagikan tadi di gereja disetting untuk kebaktian tahun baru. “Ah sama saja” kata Wili. (more…)

Share on Facebook

Pohon Natal Kami Berubah Jadi Ungu

Monday, December 21st, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

nantulang-tongkat2.JPG

Semua tidak direncanakan sebelumnya apalagi diharap. Pohon Natal di rumah kami yang tadinya  berwarna pinky ceria atau fanta hahaha tiba-tiba berubah warna sebagian jadi ungu lembayung. Warna keagungan ilahi. Oh.

Ibu kami yang berusia 81 tahun - Gisella buyutnya memanggilnya dengan nama Nantulang Tongkat -  kemarin dulu telah dibawa  ke Rumah Sakit Cikini. Pikiran Ibu memang masih cukup terang, namun tubuh uzurnya telah benar-benar aus. Mengutip syair lagu Buku Ende 204:3 kata Ibu: “nunga lam buruk dagingki, nengel pinggol, rambon mata, majal panghilalaanki, dila so malo marhata tanda ajalhi naeng ro Jesus tioponku do”. (ketika tubuhku sudah semakin tua, telingaku sulit mendengar, mataku rabun, perasaanku tumpul, lidahku tak pandai berkata tanda ajalku akan tiba, Yesuslah yang kupegang).

Ketika kami bawa ke RS Cikini menjumpai dr Tunggul Situmorang, Ibu sudah tidak sanggup lagi berjalan (more…)

Share on Facebook

Tolong! Saya Korban Salah Pencet.

Friday, December 11th, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Pagi ini, kalau tak ada urusan terlalu penting, jangan dekat2 saya. Mengapa? Saya lagi jengkel kel dan dongkol kol. Hampir saja pitam tam. :-( Apa pasal? Barusan saya mengetes menelpon nomor ponsel saya sendiri dari kantor gereja berhubung ada teman yang mengatakan sulit sekali menghubungi saya. Betapa kagetnya saya tiba-tiba saya mendengar bunyi ringtone sebuah lagu. Padahal seumur hidup maksudnya sejak mengenal ponsel saya tidak pernah suka mengubah-ubah ringtone ponsel saya apalagi bergenit-genit dengan lagu.

Tiba-tiba saya teringat kejadian kemarin. (more…)

Share on Facebook

Persiapan Ulangan Sumatif Di Rumah Kami :-)

Sunday, November 29th, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

motor-motoran-willy.JPGIni hari ini libur nasional: Jumat Idul Adha. Pukul setengah enam pagi Martha sudah saya antar ke gereja. Si Mama hendak rekreasi dengan teman-temannya sekaum Punguan Ina gereja HKBP Serpong ke Bandung. Dan selayaknya Ibu-ibu yang baik di dunia Martha juga sudah memberikan amanat apa yang harus kami dan terutama anak-anak lakukan sepanjang hari ini. Yaitu: belajar! Tidak ada main!

Mulai hari Senin besok anak-anak akan test sumatif. Jujur, istilah ini baru saya dengar setelah setua ini. Maksudnya rupanya ulangan semester. Sebab itulah perintah si Mama kepada anak-anak hari ini tidak boleh bermain. Khususnya tidak ada main komputer, lebih spesifik tidak ada main farmville, cafeworld, kungfu pet dan berbagai permainan internet lain. Bagaimana kalau main lego? Tidak. Barbie? Tidak! Nonton televisi? Tidak. Pokoknya belajar! Oh alangkah sulitnya tugas saya hari ini, kata saya dalam hati. Tapi saya diam saja. Sebagai seorang suami yang bijak saya tidak mau cari gara-gara dengan istri pagi-pagi sekali. :-) (more…)

Share on Facebook

Gunung Sindur: Kemewahan Yang Tersisa

Saturday, November 21st, 2009

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Jumat malam 20 November.  Dari halamannya yang penuh pepohonan Gereja HKBP Gunung Sindur tampak terang-benderang oleh cahaya neon. Saya memarkir mobil di bawah pohon rambutan. Belasan motor sudah nampak diparkir di halaman bawah. Beberapa sintua dan anggota jemaat tampak sibuk menggeser-geser kursi-kursi plastik gereja agar rapi dengan menimbulkan suara berderek-derek. Saya langsung masuk konsistori. Seorang sintua langsung menawarkan bandrek yang serta-merta saya jawab iya. Bandrek hangat pun datang disertai ketupat. Wow. Rasanya Tahun Baru makin dekat saja. Seperti biasa para sintua Gunung Sindur yang sebagian besar par-tambal  itu langsung terlibat dalam canda khas dan ledek-ledekan menggelitik.  Lewat jendela konsistori yang terbuka lebar saya tertegun melihat cahaya berpendar di empang (milik orang) di belakang gereja. Seandainya empang itu milik gereja alangkah indahnya! Tapi berhubung bukan atau belum, cukuplah saya menikmati keindahannya saja.

Tepat pukul delapan malam, (more…)

Share on Facebook