Pewarta Atau Pengajar Firman
Almanak Senin 16 November 2009:
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (2 Timotius 4:2)
Tuhan Allah memberikan firman atau perkataanNya kepada semua umatNya, bukan hanya kepada segelintir orang. Firman Tuhan bukan privilese atau hak istimewa sekelompok orang (pendeta, penginjil dan penatua). Tidak ada satu orang atau golongan pun yang dapat memonopoli firman Tuhan, menyatakan dirinya satu-satunya agen, jurubicara atau wakil Tuhan. Kita akui, memang untuk ketertiban banyak gereja membuat aturan bahwa hanya pelayan tahbisanlah yang boleh berkotbah di mimbar gereja saat ibadah, namun di rumahnya dan di kehidupan sehari-hari semua orang beriman boleh dan bahkan harus menyampaikan firman Tuhan yang didengarnya.
Dengan pemahaman diataslah nasihat Rasul Paulus kepada muridnya Timotius menjadi relevan dan berlaku juga untuk semua orang beriman jaman sekarang. Tidak hanya untuk para pendeta, penatua atau penginjil.
Ada dua hal yang dapat kita lakukan dengan firman itu. Pertama: memberitakan. Disini kita diibaratkan sebagai pewarta atau reporter, atau lebih tepat saksi dan duta yang diutus Tuhan menyampaikan pesan dan amanatNya. Sebagai pewarta, saksi dan duta yang setia tentu kita harus menyampaikan pesan itu dengan terang dan jelas supaya orang lain menangkap dan memahaminya dengan tepat. Alih-alih membesarkan diri sendiri maka kita disuruh memberitakan pesan Tuhan dengan jernih dan baik.
Kedua: mengajarkan. Disini kita diibaratkan sebagai guru yang mendapatkan tugas mengajarkan firman Tuhan. Sebelum dapat mengajarkannya maka tentu firman Tuhan itu harus benar-benar kita pahami dan hayati. Sebab bagaimana kita dapat mengajarkan sesuatu yang tidak kita pahami dan hayati? Selanjutnya kegiatan mengajar tidak bisa dilakukan secara asal-asalan melainkan dengan sepenuh hati. Pengajaran hanya dapat dilakukan dengan ketekunan, kesabaran dan keberanian.
Doa:
Ya Allah, terima kasih atas firman yang Kausampaikan kepada kami. FirmanMu adalah kehidupan dan kekuatan kami. Tanpa firmanMu kami dan hidup kami akan meranggas, layu dan mati. Berilah kami Roh Kudus dan mampukanlah kami meneruskan, mewartakan dan mengajarkan firmanMu kepada orang-orang sekitar kami, khususnya mereka yang Kaupercayakan kepada kami. Dalam Kristus. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
November 16th, 2009 at 7:29 am
Pewarta harus faham dengan apa yang akan diwartakan. Karena itu diperlukan ketekunan untuk mendengar, membaca, dan mendalami firman Tuhan, agar jangan salah dalam mewartakan. Mewartakan boleh berarti “memberi”. Tidak ada orang di dunia ini yang mampu memberi tanpa memiliki.
November 16th, 2009 at 7:33 am
Terimakasih buat renungan hari ini.Selama ini yg sering saya pikirkan adalah biarlah hidup dan perbuatan saya menjadi saksi Kristus bagi orang lain.Tapi melalui renungan hari ini diingatkan bahwa ternyata kalau memang mungkin untuk mengajarkan firman Tuhan kepada orang lain akan lebih baik.Otomatis yang terutama adalah pemahaman yang baik dengan tuntunan Roh Kudus,jangan sok tahu ate Amang:)
November 16th, 2009 at 8:14 am
Sada hadengganon na adong di HKBP i ma paraturan na ingkon parhalado partohonan na boi marjamita di langgatan. Pinomatna, na songon on boi mangorui angka parjamita “instan” ala jumolo dihaposi roha ni uluan huria do sasahalak i na suman do marjamita manang ndang. Molo di ruar langgatan, boi ma marjamita ala ngolunta pe boi do gabe sada jamita na denggan tu angka dongan na humaliangta.
Horas jala gabe! Lam tahaholongi ma HKBP, tamulai sian hurianta be.
November 16th, 2009 at 9:17 am
Selain tugas mewartakan, tugas melaksanakan Firman Tuhan juga bukan hanya tugas para pendeta, missionaris, bibelvrouw, evangelis, sintua, dll. Jadi bertutur kata dengan sopan, tidak main judi, tidak mabuk, tidak memfitnah bukan hanya tugas para hamba Tuhan. Umat Tuhan juga harus melakukannya.
November 16th, 2009 at 6:12 pm
Bagi kita yang telah Dipercaya untuk memberitakan dan mengajarkan hal2 yang baik dan tidak baik, hendaknya jangan pernah lelah dan capek,setiap saat kapanpun dan dimanapun.
Ada banyak orangtua saat ini yang takut bicara pada anaknya, dari pada ribut begitu alasannya, kalau sudah begini hasilnya pasti kurang baik.
Kita sudah Dipercaya untuk membimbing mereka jadi mulailah pembelajaran itu sejak mereka sangat kecil, sesibuk apapun para ibu hendaknya menyiapkan makanan anak2nya sendiri, menyuapinya sebelum berangkat kerja, lalu mengontrolnya di siang hari dan menyuapi lagi disore hari,menyusuinya sesering mungkin juga memandikan sendiri.
Para ayah bisa membantu berinteraksi utk hal2 yg bisa dilakukan, misalnya mengantar dan mendampinginya saat sekolah minggu gantian antara kedua orangtua.
Biasakanlah mendengar tentang apapun yg mereka ceritakan, ketika mereka ingin bercerita tinggalkan apapun kegiatan kita dgn begitu mereka merasa sangat dihargai dan akan membuat mereka selalu terbuka pada arangtuanya sehingga dia tidak membutuhkan orang lain utk dijadikan tempat curhatnya dan kita bisa sisipkan nasihat yg alkitabiah, dapat dipastikan antara anak dan orang tua terbangun hubungan yg sangat harmonis dan orangtua tdk perlu takut bicara pada anak2nya, satu lagi agar cintanya besar terhadap HKBP beri mereka kursus orgen sejak kecil
November 16th, 2009 at 6:52 pm
Memang mewartakan dan mengajarkan firman Tuhan bukanlah hak istimewa segelintir orang misalnya Pendeta, Sintua, Evanggelis dan gelar lain yang melekat pada pribadi seseorang dimana gelar itu menjadikan mereka beda dengan orang lain.
Alangkah ironisnya bila mereka yang menyandang gelar itu tidak menunjukkan kelebihannya dari orang yang tidak melekatkan gelar itu didepan namanya. Jadi , lebih bagus gelarnya tidak dicantumkan tapi perilaku, perkataan dan sikapnya menunjukkan sebagai pewarta atau pengajar firman Tuhan.
November 17th, 2009 at 1:40 am
Mewartakan dan atau mengajarkan Firman selalu berdampak ganda. Ke luar, pada tataran komunal-sosial, ia menggarami dan menerangi sekitar sehingga bertambah banyak orang mengenal dan percaya serta bertumbuh di dalam Kristus.
Ke dalam, pada tataran personal, ia justru meneguhkan si pewarta/pengajar di dalam Kristus. Bukankah cara terbaik untuk menguasai sebuah subyek ialah dengan men-sharing-kan dan mengajarkannya?
Menjadi orang yang aktif-proaktif mewartakan/mengajarkan Firman sesungguhnya membangun dirinya tiada henti, yaitu totalitas dirinya (mindset, bodyset, behaviorset) semakin bertumbuh secara koheren berbasiskan Firman itu. Demikianlah kita menjadi manusia Kristus.
Melewati ambang batas tertentu maka sharing/teaching ini menjadi kebiasaan alamiah, habitus yang built-in, atau etos yang terintegrasi dengan seluruh kedirian kita: tubuh-jiwa-roh, mental-intelektual-spiritual, being-doing-speaking, thinking-feeling-communicating.
Beta hita lam ringgas marbarita nauli