Beban Hidup: Harus, Tidak Perlu, Atau Dibagi Saja
Almanak Kamis 12 November 2009:
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Hidup ini kadang diibaratkan sedang memikul atau memanggul barang di jalan jauh dan mendaki. Artinya: sangat melelahkan. Lantas apa yang harus kita lakukan?
Pertama kita baiklah kita merenung ulang tentang berbagai hal yang kita rasakan sebagai beban yang memberatkan hidup. Sebagian dari beban itu mungkin bisa dibuang atau ditinggalkan karena memang tidak perlu. Dosa dan kesalahan masa lalu, perasaan-perasaan malu, penolakan terhadap diri sendiri adalah beban berat yang harus ditinggalkan. Dengan mengakui dosa dan menerima pengampunan, menerima diri kita dikasihi Allah dan berdamai dengan diri sendiri, menghilangkan kekuatiran membuat hidup kita terasa melegakan dan ringan.
Kedua: ada beban yang memang bagaimanapun juga harus dipikul. Contoh: tugas dan tanggungjawab sebagai orangtua, pekerjaan sehari-hari. Satu lagi: konsekuensi beriman kepada Kristus atau yang biasa kita namakan salib. Dalam hal ini baiklah kita memikulnya dengan setia dan tekun memikul beban itu dan tidak bersungut-sungut atau mengeluh. Komitmen dan perasaan bertanggungjawab sering kali justru membuat beban berat itu terasa ringan.
Ketiga: mari kita bekerjasama memikul beban itu. Bukankah juga ada pameo kita: berat sama dipikul ringan sama dijinjing? Rasul Paulus mengatakan bertolong-tolongan memikul beban adalah salah satu pewujudan hukum Kristus. Ada banyak sekali beban hidup yang sebenarnya bisa dibagi-bagikan kepada saudara dan teman. Kita tidak perlu sendirian memikul seluruh beban hidup ini dan lantas terjerambab jatuh. Sebab itu saling membantulah.
Doa:
Ya Kristus, mampukanlah kami memikul tugas dan tanggungjawab kami. Biarlah kami menjadi anak-anakMu yang setia dan teguh. Ajarlah kami meninggalkan beban-beban yang tidak perlu sehingga hati kami selalu terasa lega dan ringan. Namun biarlah kami memikul salib kami masing-masing dengan gembira dan ikhlas. Dan ajarlah juga kami bertolong-tolongan sebagai wujud ketaatan kami kepada Kristus. AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
Kembali ke halaman depan:
November 12th, 2009 at 7:15 am
Uups… amang, ini masih hari Kamis lho
Daniel Harahap:
Thx atas koreksinya.
November 12th, 2009 at 7:17 am
Terima kasih amang atas renungannya. Kadang-kadang dalam kehidupan sehari-hari saya belum sanggup memilah mana beban yang harus dibuang karena memang tidak perlu, dan mana yang harus “diatasi”. Karena kadang saya terjebak dengan rutinitas aktifitas pekerjaan di kantor dan di masyarakat yang cukup padat. Tetapi renungan hari ini mengajak kita untuk “memanage” beban, dan juga mengingatkan saya untuk saling berbagi beban, dengan cara bertolong-tolongan.
NB. : Harinya dikoreksi amang, hari ini masih Kamis, belum Jumat
Horas.
November 12th, 2009 at 7:58 am
Tugas dan tanggungjawab dalam hidup ini bisa dibagi jadi dua: yang absah (legitimate, seperti tugas keluarga, tugas gereja, tugas profesi, tugas kemasyarakatan, dsb) dan taksah (illegitimate, apa saja yang berlebihan, tak wajar secara munusiawi).
Hal-hal yang absah itu menyehatkan, menumbuhkan, dan memberi kita harga dan martabat diri yang positif. Maka tugas yang begini harus disyukuri karena sesungguhnya ia adalah anugerah.
Hal-hal yang taksah itu merusak: overwork, workaholism, overambisi, kerja dengan tekanan atau paksaan, kondisi kerja yang tidak sehat, pekerja anak, dsb. Ini harus dihindari. ILO sbg badan PBB pun menentangnya. Kita semua berhak atas sebuah ‘decent work’.
Namun beban-beban yang absah pun memerlukan kerjasama dalam pemikulannya. Dalam bahasa jargon, sering kita katakan, beban-beban hidup ini harus kita bereskan dengan kerja ikhlas, kerja keras, dan kerja cerdas.
Salah satu bentuk kerja cerdas itu adalah kerjasama (teamwork) tolong-menolong, gotong-royong, marsiurupan, marsiadapari.
Ternyata itu juga Hukum Kristus.
Jadi, mari kita kerjakan dengan GOS: gembira, optmis, semangat…
November 12th, 2009 at 8:30 am
Beban hidup itu memang HARUS kita tanggung, karena memang itu sudah merupakan akibat dari dosa yang diperbuat oleh nenek moyang manusia di taman Eden (Kejadian 3). Yang pria harus kerja keras cari nafkah, yang wanita harus sakit-sakitan pada saat melahirkan.
Jika sesama kita tidak mampu menanggung beban hidupnya yang amat sangat berat, maka ada baiknya kita bantu dia dalam menanggung beban hidupnya.
November 12th, 2009 at 11:21 am
beban “penolakan terhadap diri sendiri” itu mungkin bisa dibuang. Bolehkah diberi pengertian yang lebih mendalam. Trims amang.
Daniel Harahap:
Menolak keberadaan diri sendiri sangat melelahkan dan menguras enerji, ibarat memikul beban berat. Sebab itu buang saja. Maksudnya terima saja diri sendiri supaya ringan dan rileks.
November 12th, 2009 at 9:03 pm
Membagi beban hidup kepada orang lain dapat kita lakukan kepada orang yg benar2 kita anggap tepat, krn seringkali malah kita semakin terpuruk krn bukannya menolong malah menjerumuskan ke arah yg salah, yg paling baik bagi kita bila punya persoalan yg sangat berat, bercakap2 saja dgn Tuhan kita, beban itu akan berkurang lalu akan Dibukakan jalan walau perlahan2.
Kemudian jangan pernah absen mengunjungi ruma ini, tontonlah acaranya Oprah Winfrey di Metro TV setiap Jumat,Saptu dan Minggu.
Untuk para orangtua muda yg punya anak dibawah 14 thn tonton juga Super neny( rasanya jitu benar rumus2 yg diberikan si Neny ini).
Apabila seseorang membagi bebannya untuk kita, jadilah kita pendengar yg baik krn kadang2 orang dapat bercerita kepada org yg dipercayainya saja sdh menyelesaikan lebih dari pada separoh persoalannya(kata amang pendeta ini diwaktu lalu), tetapi bila seserang itu berkali2 curhat mending tinggalkan aja,emangnya kita kurang kerjaan, pada hal kalau disuruh bertukar persoalan dgn kita tentunya dia tidak akan mau
November 16th, 2009 at 4:33 pm
BEBAN HIDUP
Salam kenal buat web Rumah Met Met, salam kenal juga buat Amang Pdt Daniel T.A. Harahap
Beban hidup seharusnya tidak perlu datang,ditanggung,atau dibagi………tapi tatkalah beban hidup datang kepada siapa saja kita harus menanggungnya, dan supaya beban yang kita tanggung tidak menjadi beban berat, kita harus menjadikan bebab itu sebagai suatu ujian dalam hidup kita dengan satu pengharapan.
Karena kalau kita sudah lulus uji kita menjadi orang yang kuat karena Tuhan telah lebih dulu menanggung beban itu di Kayu Salib. dan Tuhan juga telah berjanji untuk Turut Bekerja didalam kehidupan kita untuk mendatangkan kebaikan kepada kita semua.