Allah Hidup atau Patung Mati?
SERMON MINGGU INI:
Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Dasar: Yesaya 46:3-4
1. Teks Yesaya 46:3-4 yang sangat indah dan mengesankan ini harus kita tempatkan dalam konteksnya yaitu ketika Israel dibuang Babel. Kita tahu bahwa Israel pernah ditaklukkan oleh Babel dan sebagian besar orang-orang terbaiknya diangkut sebagai tawanan ke negeri asing itu. Bagi Israel pembuangan Babel ini adalah titik nadir atau kondisi terendah dalam kehidupan mereka yang hanya dapat diratapi ditangisi. Yerusalem kota suci mereka ternyata dapat ditaklukkan dan Bait Allah pusat dan kiblat keagamaan mereka ternyata dapat dihancurkan musuh. Orang Israel pun benar-benar terpuruk dan mengalami kehancuran di segala bidang, tidak hanya politik dan ekonomi melainkan juga sosial dan keagamaan. Kekalahan itu mereka anggap juga sebagai kekalahan Tuhan Allah Israel dan sebaliknya kemenangan dewa-dewa Babel. Sebab itu banyak orang pun berpaling dari Allah Israel menyembah dewa-dewa Babel yang dianggap mereka lebih kuat dari Allah Israel itu. Pada kondisi-kondisi sulit pengalaman Israel ini acap terulang lagi. Ingat: di saat-saat sakit (dan sangat merindukan penyembuhan), miskin (dan menginginkan kecukupan), dan sepi (membutuhkan teman) kita mudah sekali tergoda meninggalkan Allah karena menganggap ada |dewa atau ilah” yang lain yang lebih mampu menolong dan mengatasi masalah kita.
2. Para nabi mati-matian melawan pandangan ini. Mereka meneriakkan bahwa pembuangan Babel bukanlah kekalahan Allah atas dewa-dewa Babel, melainkan justru penghukuman Allah atas dosa-dosa umatNya. Sebab itu Israel diminta agar bertobat dan menyerahkan dirinya kembali kepada Allahnya. Israel tidakjangan menganggap bahwa dewa-dewa Babel, antara lain Bel dan Nebo, sebagai yang berkuasa. Tuhan pun memakai Persia atau Koresy untuk mengalahkan Babel. Dan apa yang terjadi? Dewa-dewa Babel yang mereka puja itu terbukti hanyalah patung-patung mati tak bernyawa. (lihat Yesaya 46:1-2, 5-8). Disini Nabi Yesaya sangat jelas menggambarkan perbedaan dewa-dewa Babel itu dengan Allah Israel. Jika dewa-dewa Babel dipikul dan digendong oleh penyembahnya maka Allah Israel justru mengambil tanggungjawab memikul, menggendong, menanggung dan menyelamatkan umatNya. Jika dewa-dewa Babel itu hanyalah patung-patung batu atau logam yang mati, namun Allah Israel hidup dan berkuasa. Pertanyaan: kepada siapakah kita mau menggantungkan hidup dan masa depan kita? Dewa-dewa atau berhala-berhala ciptaan manusia atau Allah Sang Pencipta kita?
3. Nabi Yesaya sengaja mengulang beberapa kali perintah Allah yang hidup itu: dengarlah (Yes 46:3, 46:12) dan ingatlah (Yes 46:8, 46:9). Berbeda dengan dewa-dewa babel yang hanya bisa dipandang dan diraba namun tidak bisa melakukan apa-apa, Allah Israel justru berwibawa menyampaikan perintahnya. Israel dan kita sekarang harus mendengar perintahnya dan mengingatnya. “Dengarlah dan ingatlah” ini adalah dua kata kunci untuk memahami dan menghayati iman kepada Tuhan Allah kita. Allah tidak menuntut dipuja-puja, disanjung-sanjung dan diberi makan (dipele). Allah ingin didengarkan dan ditaati! Renungan ini sangat relevan juga untuk peringatan hari ulang tahun gereja HKBP 7 Oktober. Yang dikehendaki Allah dari kita bukanlah puja-puji dan sorak-sorai tetapi ketaatan dan kesetiaan kepada firmanNya.
4. Allah bertindak kemarin, hari ini dan esok menyelamatkan kita. Disini kita melihat tindakan kasih Allah menyelamatkan umatNya itu tidaklah setengah-setengah dan tidak juga bersifat insidentil atau situasional, melainkan total dan abadi. Kita tahu kasih ibu sangat kuat dan selamanya. Kekuatan kasih Allah masih melampaui kasih seorang Ibu itu. Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. (Yes 49:15). Aku membisu dari sejak dahulu kala, Aku berdiam diri, Aku menahan hati-Ku; sekarang Aku mau mengerang seperti perempuan yang melahirkan, Aku mau mengah-mengah dan megap-megap. (Yes 42:14). Allah mendukung, memanggul, memundak dan menanggung umatNya seperti seorang Ibu mengasihi anaknya. Dan itu dilakukanNya tak kenal lelah sampai selamanya. Inilah sumber kekuatan dan penghiburan.
5. Kita hidup di jaman moderen yang juga acap jatuh dalam penyembahan berhala. Beberapa hal yang sering diperilah dan dianggap “dewa penyelamat” di dunia moderen ini adalah uang, kuasa, ilmu pengetahuan dan teknologi, juga pangkat dan jabatan. Hari ini kita diingatkan bahwa semua itu, termasuk yang baik sekalipun tidak berkuasa menyelamatkan kita sebab itu jangan diperilah dan jangan disembah. Ya: jangan sembah uang. Jangan sembah kekuasaan. Jangan sembah ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya Allah sajalah yang satu-satunya Allah kita yang kita sembah dan muliakan. Perintahnya kita dengarkan dan perjanjianNya akan kita ingat. Juga semua perbuatan yang telah dilakukanNya dalam hidup kita. Kita bersyukur sebab Allah mau memikul, menanggung dan menggendong serta menyelamatkan kita terus. (Pdt Daniel T.A. Harahap )

October 1st, 2009 at 12:12 pm
Sering begitu: loyang disangka emas, suasa dikira platinum.
Uang, kuasa, dan iptek pun dikira Tuhan; jadinya ngawur deh.
Let money be just money, power be just power, science be just science.
Dan tentu…
Let God be God: Junjungan kita, Pujaan kita, Sesembahan kita.
October 1st, 2009 at 12:24 pm
Syalom…! Sunggu sangat indah renungan hari ini, membuat mata iman saya terbuka akan kasih karunia Allah dalam hidup ini. Mauliate amang DTA, Tuhan memberkati.
October 1st, 2009 at 12:51 pm
Ternyata kita diingatkan kembali bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat kita bergantung, tempat kita mohon kekuatan. banyak orang yang mendewakan harta dan kekuasaan dan memperolehnya tanpa proses yang benar dan pada saat diraihnya semua harta dan kekuasaan tersebut bermunculan lah petaka dan masalah sepanjang akhir hidupnya.
October 1st, 2009 at 1:13 pm
Terima kasih utk kejelasan kontekstual perikop ini. Walau hal ini terjadi pada waktu kala itu, namun ternyata sampai saat ini masih sangat relevan utk kita/saya. Menyembah berhala yang terjadi sekarang sering tidak disadari. Misalnya mengaku Kristen tanpa disertai perilaku pengikut Kristus. Kristus Yesus belum menjadi acuan pertama dalam kehidupan. Bukankah itu juga menyembah hala/ilah lain? Pengalaman menunjukkan sering membuat keputusan yang dilandaskan dasar Kristus sangat tidak nyaman, tidak favorit, malah mungkin terasa rugi. Kekuatan dan iman bahwa Yesus menggendong, mendukung layaknya juga ada ketika ternyata terjadi suatu ketidaknyamanan seorang pengikut Kristus. Perkembangan sistem informasi, teknologi, dan juga ilmu utamanya biogenetik memang bukan suatu alasan meninggalkan KEKUATAN, DUKUNGAN, GENDONGAN, PIKULAN, dan PENYELAMATAN DIA. Justu semua kemajuan dan perkembangan itu merupakan alat yang makin meneguhkan. Karena pada hakekatnya di dalam perkembangan, di dalam kemajuan itulah Allah berdiam. Alert dan awareness.
October 1st, 2009 at 2:31 pm
Padan narobi memang penuh pemujaan berhala.
@1. …Pada kondisi-kondisi sulit pengalaman Israel ini acap terulang lagi.
Saya jadi ingat sensasinya Batu ni si Ponari dari Jombang. Mudah2an tidak ada jemaat HKBP yang ikut2an bawa embernya yg berisi air kesana.
@ 5… Kita bersyukur sebab Allah mau memikul, menanggung dan “menggendong” serta menyelamatkan kita terus.
Saya jadi ingat syair lagu yg pernah populer” Tak gendong ke mana-mana”. Namun yg saya pahami kalau yg dalam syair lagu itu, kayaknya hanya menggendong aja, keselamatan yg digendong tidak dijamin.
Tuhan terimakasih, sekalipun aku pardosa, Tuhan selalu menggendong dan menyelamatkan aku. Ampunilah dosaku.Amen
December 16th, 2009 at 7:05 pm
Pak Pendeta, apa perbedaan antara orang beragama Kristen dengan Orang yang Kristen. Saya pernah baca buku, katanya begini:
“Orang yang Kristen adalah orang yang bekerja melakukan ajaran Kristus, tetapi orang beragama Kristen adalah orang yang hanya berbicara tentang kekristenan namun tidak tercermin kehidupannya sebagai orang yang Kristen”. Henry Ward Becker menjelaskan tentang orang yang Kristen adalah mereka yang memberi makan kepada orang yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, melawat dan memberi penghiburan kepada yang sakit dan berduka, mereka mencari yang hilang. Sedangkan orang yang beragama Kristen adalh orang yang hanya suka berdalih, berbicara omong kosong, tidak peduli terhadap orang lain, dlsbg. Seperti apa yang dikatakan Yesus dalam Mat 7:20 “Oleh buah-buahnya, kamu akan mengenal Dia”. GBU.