Piutang Kepada Tuhan?

Almanak Kamis 01 Oktober 2009:

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. (Amsal 19:17)

Tuhan Allah menciptakan kita. Langit dan bumi adalah kepunyaanNya. Dia yang empunya kerajaan, kuasa dan kemuliaan. Hidup dan aktifitasNya sama sekali tidak tergantung kepada uluran tangan kita. Bukan Dia namun kitalah yang membutuhkan pertolonganNya. Dia baik dan mengasihi kita, memberkati kita tak jemu-jemunya, dan bahkan mengutus AnakNya menderita dan mati untuk menyelamatkan kita. Sebagaimana kata Paulus pada dasarnya kita adalah orang yang berhutang kepada Tuhan. (Roma 1:14, 8:12, lih. Matius 18:27).

Tuhan tidak menuntut kita membalas kebaikanNya namun Dia menyuruh kita agar mengasihi dan berbuat baik juga kepada sesama terutama yang lemah dan kekurangan.  Sama seperti Dia telah rela memberi, berbagi dan berkorban demi kita, maka kita juga diminta agar mau memberi, berbagi dan berkorban demi sesama. Sama seperti Dia tidak jemu-jemu memberkati kita maka kita juga diminta tidak bosan-bosan menolong orang lain apalagi yang kecil.

Dengan kedua pengertian di ataslah kita hendak memahami dan menghayati ayat Alkitab hari ini yang mengatakan secara berani: kita memiutangi Tuhan bila menolong orang miskin. Maksudnya Allah tahu bahwa orang miskin itu tidak mampu (atau tidak tahu) membalas kebaikan kita sebab itu Allah bersedia melakukannya untuk kita. Dia sangat mengasihi orang-orang miskin (dalam Matius 25:31-46 Yesus menyatakan mereka sebagai saudaraNya) sebab itu Dia ikut bersukacita ketika kita juga mau mengasihi orang-orang miskin itu. Namun kita tidak perlu merasa bahwa Tuhan berhutang kepada kita. Kita tidak perlu menuntut balas dari Tuhan atas apa yang kita lakukan. Sebab apakah yang ada pada kita yang tidak berasal dari Tuhan? Apakah kebaikan kita kepada orang-orang kecil itu jika dibandingkan dengan pengorbanan dan pemberian Tuhan kepada kita?

Doa:

Ya Allah, apakah yang dapat kami persembahkan kepadaMu selain syukur? Apakah yang ada pada kami yang tidak berasal dari Engkau? Segalanya milik kami adalah pemberianMu. Hidup kami bersumber dari kasihMu. Engkau sangat mengasihi kami dan senantiasa memberkati kami, mulialah namaMu selama-lamanya.  Engkau sangat baik. Biarlah kasih dan kebaikanMu juga mendorong kami berbuat baik kepada sesama kami terutama yang lemah dan miskin tanpa mengharap balas apa-apa. Dalam Kristus yang telah rela mati demi kami. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

12 Responses to “Piutang Kepada Tuhan?”

  1. Pdt. Sing Han Says:

    Melalui nas ini, hati kita akan terdorong untuk menaruh belaskasihan kepada mereka yang membutuhkan bantuan. Siapakah yang harus kita bantu?
    Yesus mengatakan ’saudaraNya, yaitu ‘yang paling hina ini’ (Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku - Mat. 25:40).

    Jika kita memberikan bantuan atau memperhatikan orang yang Tuhan Yesus maksudkan, ada dua hal yang kita dapatkan:
    1. Kita memiutangi Tuhan artinya Tuhan akan balaskan yang baik bagi kita
    2. Kita melakukannya untuk Tuhan, tentu Tuhan juga akan perhitungkan itu bagi kita.

  2. Slamet Nainggolan Says:

    Nats hari ini begitu indah, untuk dapat selalu mengingatkan kita untuk saling mengasihi di antara sesama manusia.
    Dan sebagai empati saya kepada peristiwa Gempa 7.6SR di Sumatera Barat, saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas musibah yang terjadi, kiranya ALLAH memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan. Dan kiranya ALLAH pulalah yang menjauhkan segala hal yang jahat dari kita.

  3. tanobato Says:

    Di na sahali parjamita manjamitahon taringot tu ulaon parasirohaon, dipangke nasida ma ayat on laho manambai jala mangondolhon tona ni jamita na i. Tarsonggotma ahu (ala i dope binege na boi hape hita jolma mangutangi Debata …), las sai hupaimama hatorangon ni parjamita i, hape sahat tu na marujung jamita, ndang adong ianggo sangiris dipatorang. Mauliatema di Debata na boi dope dapot hatoranganna muse sian amang DTA.

    Horas jala gabe! Beta hamu tapadenggan pangantusionta be …

  4. ES Parapat Says:

    Tapi kenapa Tuhan memakai orang lain untuk membantu/menolong mereka yang miskin/lemah/bodoh, bukankah Tuhan ada diantara mereka?

    Daniel Harahap:
    Supaya bukan hanya Tuhan saja yang baik. Tetapi Saudara dan saya juga bisa melakukan yang baik. :-)

  5. Agus Karta Parulian Panggabean Says:

    Menurut saya, orang yang lemah disini bukan hanya para ekonomi lemah tetapi mereka yang lemah kesehatannya, lemah tingkat kecerdasan, lemah status sosialnya, dll.

  6. Rusman Sagala Says:

    Molo pangantusion nami taringot tu ayat na di gijangi, on ma: Wajib do hukum na hita mambahen na denggan tu saluhut halak songon gombaran naung parjolo tajalo na denggan sian Debata, ia taringot balos na sian halak manang sian Debata, urusan ni Debata sambing do i marhite TondiNa.

  7. Elman P Nainggolan (wiyk 6 hkbp palembang) Says:

    Numpang tanya Pak DTA, mohon infokan e-mail Pak Pdt Singhan Pardede, dan mohon tannyakan ke beliau, apakah akan datang ke Palembang pada pada Pesta Huria 3 - 4 Oktober 2009 ? Trims

    Daniel Harahap:
    Langsung saja ke blognya. Ada di blogroll. Tanggal 3-4 ke Palembang lagi? Lho, kan kalian sudah melepaskan beliau sebulan lalu? :-)

  8. Jansen Sinamo Says:

    Semua kita, betapapun jagonya, memerlukan belas kasihan Tuhan. Marilah menunjukkan belas kasihan kepada orang lain agar kita layak menerima belas kasihan Tuhan itu.

    Mana tahan kita menerima keadilan Tuhan setimpal dengan kelemahan, kebodohan, dan keangkuhan kita; seimbang dengan kepelitan, kedegilan, dan kejugulan kita; sesuai dengan kejahatan, pelanggaran, dan dosa kita.

    Tanpa belas kasihan Tuhan, hanguslah kita.

    Syukur Tuhan atas belas kasihan-Mu yang tiada bertara.

  9. Nainggolan Prabu Says:

    Amen. Dalam bahasa lain Robin Sharma (dlm bukunya: Family Wisdom) mengatakan:”Bahkan yg lebih penting lagi, ingatlah bahwa tangan yg memberi adalah tangan yg mengumpulkan, dan bhw memberi kpd orang lain mengawali proses menerima. Jgn menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan yg menggerakkanmu. Jadikanlah tindakan melayani orang lain dan dorongan sepenuh hati untuk memperkaya orang sebagai fokus utamamu… kemudian kebahagiaan yg sejati akan muncul”.

    Dalam hidup dan kehidupan ada yg disebut Robin Sharma sebagai Prinsip Kelimpahan, yaitu : “Semakin banyak kamu memberi kepada orang lain, pada akhirnya semakin banyak kamu akan menerima bagi dirimu sendiri”.

    Tuhan, teruslah paksa aku yg berdosa ini tuk berlaku yg baik dan ampunilah dosaku. Amen.

  10. KIMSENG MANURUNG Says:

    Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita maka kitapun wajib untuk mengasihi setiap orang.

  11. manna Says:

    Memiutangi Tuhan? Ha ha, ini sering sekali saya dengar. Bila? Pada beberapa pertemuan, pesta atau perhelatan lain, sering terdengar ucapan terima kasih. Lalu kalimat terima kasih tersebut dilanjutkan dengan : “Semoga Tuhan membalas kebaikan saudara/anda” Apakan ini bukan berarti mengalihkan hutang ke pada Tuhan? Mungkin pembaca atau pak pdt dapt berbagi dengan saya mengenai kebingungan memiutangi Tuhan konteks ini. Seiring dengan menyembah hala/ilah lain, bukankah membenarkan kebiasaan juga termasuk menyembah berhala?

  12. MD Panjaitan Says:

    apapun yang kita lakukan tak akan mampu membalas semua kebaikanMU Tuhan, Terpujilah NamaMU!

Leave a Reply