Berkat Bagi Yang Mengasihi Kerabat
SERMON MINGGU INI
Bahan: Rut 2 : 8 – 16
1. Alkisah ada sepasang suami istri yang harus meninggalkan tanah airnya karena mengalami paceklik atau kekeringan. Nama orang itu Elimelekh dan istrinya bernama Naomi. Mereka memiliki dua orang anak laki-laki yaitu Mahlon dan Kilyon. Di negeri Moab itu mereka hidup sebagai orang asing kurang-lebih sepuluh tahun. Lantas matilah Elimelekh. Naomi pun tinggal dengan kedua anaknya yang kemudian masing-masing memperistiri perempuan Moab, yaitu Rut dan Orpa. Lantas mati pulalah kedua anak lelaki Elimelekh itu tanpa meninggalkan keturunan. Sehingga tinggallah Naomi dan kedua menantu perempuannya.
2. Naomi pun menjadi orang asing sekaligus janda miskin. Dia benar-benar sebatang kara. Dia tidak memiliki ayah atau suami atau anak laki-laki yang bisa melindunginya di negeri asing itu. Maka dia pun merencanakan pulang ke negeri leluhurnya walaupun dengan tangan hampa. Dia tidak tega kepada kedua menantu perempuannya itu yang menderita bersamanya sebab itu dia menyuruh keduanya pulang ke rumah orangtua mereka masing-masing dan menikah lagi di sana. Orpa mengikuti nasihat Naomi dan pamit penuh kesedihan dengan mertuanya. Namun Rut bersikeras mengikut Naomi pulang ke Israel walaupun itu berarti baginya meninggalkan keluarganya, tanah air dan agamanya.
3. Kedua janda miskin ini pun pulang ke tanah leluhurnya. Namun mereka tidak memiliki apa-apa lagi disana. Tanah peninggalan Elimelekh sudah tergadai. Sebab itu mereka pun hidup dari belas-kasihan atau kemurahan orang lain yang membiarkan mereka memungut sisa-sisa panenan. Menurut hukum Yahudi yang tertulis dalam Ulangan 24:19: Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda — supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu.
4. Suatu kali Rut memungut sisa-sisa panenan di ladang milik Boas, seorang kaya raya yang rupanya kebetulan kerabat dari mendiang ayah mertuanya. Mengetahui bahwa Rut adalah menantu mendiang Elimelekh dan Naomi, dan mengetahui bagaimana Ruth berkorban demi mertuanya, Boas pun tergerak untuk membela dan melindunginya sebagaimana diaturkan oleh adat Yahudi. Dia memerintahkan pengerja-pengerjanya laki-laki agar tidak mengganggu Rut dan pengerja-pengerjanya perempuan membantu Rut agar mendapatkan sisa panen yang banyak. Nanti kita lihat bahwa Boas bersedia menjadi penebus bagi ladang Elimelekh yang tergadai dan memperistri Rut, perempuan Moab itu, agar Elimelekh dan kedua anaknya memiliki keturunan untuk meneruskan namanya. Kita tahu menurut adat Yahudi bahwa jika seorang meninggal dunia dan meninggalkan ladang maka kaum kerabatnya harus menebusnya, dan jika dia meninggalkan istri tanpa keturunan maka penebusnya itu juga harus memperistirinya. Dan itulah yang dilakukan Boas.
5. Kisah Naomi, Rut dan Boas ini menginspirasi kita tentang kasih kepada keluarga dan kerabat. Naomi sangat mengasihi mendiang suaminya dan juga menantunya. Rut sangat mengasihi mertuanya sekalipun suaminya telah meninggal dan tidak meninggalkan anak. Lebih dari itu Rut demi kasihnya kepada Naomi itu Rut bersedia meninggalkan keluarganya sendiri, negerinya dan agamanya. Boas mengasihi mendiang Elimelekh dan bersedia menjadi penebus bagi keluarganya. (walaupun dia tahu bahwa tanah yang ditebusnya tidak akan menjadi miliknya dan anak yang akan dilahirkan dalam pernikahannya dengan Rut tidak akan menjadi anaknya.). Dan kita lihat Tuhan rupanya memberkati orang-orang yang penuh kasih kepada kaum kerabat dan keluarga ini. Naomi, Rut dan Boas diganjar oleh Tuhan dengan berkat.
6. Kisah ini menginspirasi kita tentang makna kasih yang sangat dalam. Kasih pertama-tama berarti kemurahan hati. Boas menunjukkan kemurahan hatinya kepada Rut. Dia bukan saja mengijinkan Rut memungut sisa-sisa panenan di ladangnya (walaupun hal itu memang diatur dalam hukum agama Yahudi – lihat Ulangan 24:19-21), melainkan juga menyuruh para hambanya agar menjaga Rut dan memberinya makan. Kasih juga bermakna tidak egoistis namun memperhatikan kebutuhan, hidup dan masa depan orang lain. Itulah yang dilakukan Naomi. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan juga nasib dan masa depan kedua menantunya. Sebab itulah dia mendesak mereka agar menikah lagi dan membangun rumah tangga bahagia. Selanjutnya kasih juga bermakna berkorban. Itulah yang dilakukan Rut. Demi kasihnya kepada mertuanya dia rela meninggalkan kenyamanan dan keamanan di kampungnya sendiri dan hidup sebagai orang asing di negeri mertuanya. Pada akhirnya kasih berarti penebusan. Dan itu yang dikerjakan Boas. Dia rela menebus tanah saudaranya yang telah meninggal dunia yaitu Elimelekh dan memperistri Rut agar nama Elimelekh dapat diteruskan.
7. Kasih selalu bergerak dari dalam ke luar, dari lingkaran terkecil ke lingkaran besar. Dalam keluarga intilah kita terutama memahami dan menghayati kasih yang tak berpamrih, kasih yang berkorban, dan kasih yang menebus itu. Namun kasih tidak pernah berhenti atau statis. Kasih kita kepada keluarga dan kaum kerabat tidak akan menghalangi kita mengasihi orang-orang lain di luar keluarga dekat kita. Rasul Petrus mengatakan: tambahkanlah kepada kesalehan, kasih kepada saudara-saudara dan tambahkanlah kasih kepada saudara-saudara kasih kepada semua orang. (2 Petrus 1:7) Rasul Paulus mengatakan: selama masih ada kesempatan marilah kita berbuat baik kepada semua orang terutama kawan-kawan seiman (Galatia 6:10). Rasul Yohanes mengatakan: Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:20).
Pdt Daniel T.A. Harahap
September 28th, 2009 at 8:59 am
Kitab Ruth meskipun pendek tetapi dahsyat, kaya, dan elok. Di zaman mahasiswa kitab Ruth pernah jadi bahan PA kami dan baru tuntas sesudah 3 bulan, sekali seminggu, @ dua jam.
Rindu kembali akan saat-saat indah membedah kisah itu.
Untuk pagi ini saya mau mengatakan: Tuhan menjalin rencana-Nya lewat kisah-kisah keluarga kita; mewujudkan maksud-Nya lewat kisi-kisi pengalaman kita.
Terpujilah Tuhan.
September 28th, 2009 at 8:57 pm
kotbah inang pendeta kami digreja kemarin diperuntukkan kepada kaum parompuan, mengapa Rut(saking terkesannya aku kepada tokoh ini maka nama boru bungsuku kunamai Ruth) sangat menyayangi mertuanya, krn memang mertuanyapun sangat sayang padanya, inang pendeta kami bilang bw kita pernah jadi anak, jadi menantu dan banyak yg sdh jadi mertua, seperti apakah kita ingin dikenang oleh orang tua kita oleh menantu kita/anak2 kita dan oleh cucu kita, kotbah yg sangat dalam untuk kita pikirkan
September 29th, 2009 at 12:01 am
Jadi teringat lagu Paduan Suara berjudul RUT, karya siapa ya? Pokoknya komposer besar, Simanungkalit apa ya? Lupa. Yang jelas, lagunya sangat dramatis. Indah. Penuh spirit. Walaupun penempatan nama Mahlon dan Kilyon tertukar. Sungguh menggugah kalbu. Ah, jadi teringat mendiang.
September 29th, 2009 at 5:33 pm
Ya, saya jd pengen punya mertua…. Kl saya punya mertua, saya akan baik & setia pdnya spt Rut…. Mudah2an Tuhan memberikan mertua kpd saya…
Tp kebanyakan zaman skrg, 99% tdk cocok dgn mertua, terutama mertua perempuan…. tdk usah jauh2, 3 parumaen mama saya hny 1 yg cocok dgn mama saya, & nama eda ku itu Rut… Rupanya dia membawa sikapnya spt Rut jg… saya jd termotivasi bhw saya jg bisa spt RUT….!