Kantor Pusat HKBP Pindah Ke Jakarta?

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

lonceng-hkbp-menteng.jpg

Ini masalah sensitif di HKBP? Ya. Sejak dulu. Sebab itu tidak perlu takut membicarakannya. Wacana pemindahan Kantor Pusat HKBP dari Pearaja-Tarutung (kurang-lebih 300 kilometer, delapan jam perjalanan dari Medan) bukan isu baru. Sebagian berpendapat, termasuk saya dulu, HKBP bagaimanapun juga harus tetap berkantor pusat di Pearaja. Alasan utama ada dua. Pertama: alasan historis. Bagaimanapun HKBP harus menghargai sejarahnya yang bermula dari Tanah Batak. Lahan sempit Pearaja itu telah menjadi saksi dan simbol sejarah HKBP yang sangat panjang. Dan walaupun tidak pernah diformalkan Pearaja yang menjadi kediaman Eforus atau pemimpin tertinggi HKBP dalam hati dianggap menjadi “kampung suci” HKBP yang sangat berguna memberi ketenteraman hati bagi warga HKBP di Tanah Batak dan di daerah-daerah perserakannya. Kedua: alasan keberpihakan. Dengan tetap memilih secara sadar berkantor pusat di kampung Tarutung, jauh dari pusat kekuasaan, ekonomi dan informasi (juga hiburan), HKBP mau menyatakan keberpihakannya kepada petani-petani desa sederhana di Tapanuli. HKBP tetap ingin tinggal bersama warganya yang miskin dan sebagian besar tertinggal itu. Secara teologis saya pikir itu baik.

Namun saya mengaku telah berubah pikiran dan tidak lagi kukuh berpendapat bahwa Kantor Pusat HKBP harus di Pearaja Tarutung. Saya sekarang malah mau menyarankan agar Kantor Pusat dipindahkan - bukan ke Pematang Siantar atau Medan seperti pernah dulu diwacanakan - tetapi sekalian ke Jakarta. Alasan saya ada beberapa:

Pertama: Jakarta adalah ibukota negara dan pusat pemerintahan serta perekonomian. Itu adalah alasan saya yang pertama dan terutama. Sebagai “gereja besar berskala nasional dan bahkan global” HKBP harus hadir di ibukota negara dan menunjukkan eksistensinya sebagai gereja yang ditempatkan Tuhan di negara Indonesia berdasar Pancasila ini. Dengan berkantor pusat di Jakarta HKBP, melalui Pimpinannya, menurut saya bukan saja akan lebih efektif menyampaikan tugas dan tanggungjawabnya menyampaikan suara kenabian, imamat dan pastoral kepada pemerintah , namun juga untuk menunjukkan kepada seluruh bangsa bahwa HKBP ada dan merupakan bagian integral negara dan bangsa majemuk ini. Memang di jaman moderen ini kita telah memiliki teknologi telekomunikasi yang membuat hubungan Tarutung-Jakarta sangat cepat dan mudah. Namun bagaimanapun juga kehadiran fisik pimpinan HKBP di even-even nasional di Jakarta sangat dibutuhkan bukan saja untuk HKBP tetapi terutama untuk memberikan kontribusi kepada negeri ini.

Kedua: potensi HKBP sebagian besar di Jakarta. Suka tak suka kita harus jujur mengatakan bahwa potensi HKBP sebagian besar ada di Jakarta. Sumber dana Kantor Pusat sebagian besar dari jemaat-jemaat HKBP di Jakarta sekitarnya. Tokoh-tokoh HKBP yang dapat diajak Eforus berdiskusi khususnya dalam rangka hubungan HKBP dengan masyarakat dan negara juga ada di Jakarta. Sederhana saja: saya membayangkan HKBP akan jauh lebih mudah menggalang dana pelayanannya jika kantor pusatnya ada di Jakarta. Usaha Pimpinan yang sekarang membangun sistem administrasi pelayanan HKBP yang moderen juga akan menjadi sangat mudah jika Kantor Pusat HKBP di Jakarta. Dan dengan sistem yang lebih kuat itu maka Kantor Pusat juga justru lebih bisa berperan di daerah-daerah tertinggal di Tapanuli dan bukan hanya sekadar mengeluhkannya. Dan kalau perlu HKBP bikin komitmen persepuluhan. Artinya: sepuluh persen pemasukan HKBP harus disisihkan untuk dana membangun Tapanuli.

Ketiga: efisiensi organisasi dan kepemimpinan. Berhubung sebagian besar HKBP sudah berada di luar Tapanuli maka urusan Pimpinan HKBP juga sudah lebih banyak di luar Tapanuli. Dan apa yang terjadi? Sejak beberapa periode terakhir waktu Pimpinan HKBP lebih banyak di luar Tarutung. Itu tidak bisa disalahkan. Sebab untuk hanya untuk urusan dua jam di Medan saja Pimpinan HKBP harus rela paling sedikit enam belas jam di jalan pulang pergi. Padahal jika Pimpinan di jakarta maka waktu ke Medan mungkin hanya perlu enam jam pp.

Keempat: orientasi masa depan. Tuhan menganugerahkan warga HKBP yang sebagian besar Batak itu dengan jiwa perantau. HKBP telah tersebar di seluruh Indonesia dan bahkan di Amerika Serikat. Warga HKBP bahkan sudah ada dan banyak di Timur Tengah. Menurut saya dengan memindahkan Kantor Pusat ke Jakarta kita akan lebih fokus membangun masa depan dan tidak hanya tenggelam dalam persoalan-persoalan masa lalu tanpa ada jalan keluarnya. Masa lalu adalah sejarah. Dan sejarah kita catat dan simak serta jadikan pelajaran. Namun kita sebagai gereja dipanggil bergerak ke masa depan. Saya tidak mengatakan Jakarta adalah tujuan terakhir dari HKBP. Namun dari Jakartalah HKBP lebih baik memandang ke seluruh dunia termasuk ke akarnya di Tanah Batak. Dan hanya dengan berkedudukan di Jakartalah Kantor Pusat HKBP tidak terperangkap dalam sekat-sekat sangat sempit dan sangat primordial. Bagaimana?

Ini hanya saran saya saja berdasarkan sejumlah pertimbangan (termasuk kasus pembatalan IMB gereja di Depok). Yang harus mengambil keputusan adalah seluruh warga HKBP. Dan sebelum mengambil keputusan tentu kita perlu mengadakan percakapan, perhitungan dan perencanaan yang sangat matang, dan terutama berdoa mencari bimbingan Roh Tuhan. Namun saya bermimpi Sinode Godang 2010 telah mampu mengambil keputusan. Dan kita merayakan Jubileum 150 Tahun HKBP tahun 2011 nanti benar-benar dengan semangat dan tekad benar-benar baru menjadi gereja meng-indonesia dan meng-global. Dan sepenuhnya melayani Tuhan.

Horas HKBP.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

115 Responses to “Kantor Pusat HKBP Pindah Ke Jakarta?”

  1. Panca Bonar Says:

    Janganlah kamu seperti dunia ini, ungkapan itulah saya ingat sebagai awam dalam perihal tulisan di atas.

    Ke-4 point sebagai alasan untuk memindahkan kantor pusat HKBP bisa dipahami untuk efektivitas kegiatan operasional sebagaimana yang dilakukan oleh organisasi keagamaan lainnya seperti NU,KWI,Muhammadyah dll.

    Terpikirkah kita kalau seandainya suatu saat Jakarta harus dievakuasi sebagai dampak perubahan iklim dan pindah ke daerah lain, apakah kantor pusat HKBP juga harus pindah lagi?

    Kita boleh-boleh saja merencanakan sesuatu dengan akal pikiran yang berasal dari otak belaka, tapi kita harus tetap ingat dan sadar bahwa kita hanya bisa mengantisipasi. Bukan kebetulan Munson-Leyman dan Nommensen menuju Tapanuli atau Tarutung dan sekarang berdiri kantor pusat HKBP di Pearaja Tarutung, tapi hendaknya kita sikapi itu sebagai hasil karya tangan Tuhan bukan untuk tujuan sesaat saat ini akan tetapi untuk hari yang akan datang.

    Hal apa yang penting kita perhatikan adalah berdoalah supaya HKBP berjalan sesuai dengan perintah Tuhan, supaya pimpinan HKBP benar-benar yang ditunjuk Tuhan bukan dipilih oleh angka belaka , agar tercipta leadership yang benar-benar dipimpin oleh Tuhan dan HKBP bisa bekerja sebagaimana yang dimaksud dalam ke-4 point diatas.

  2. Mula Harahap Says:

    Kalau manajemen terkelola baik, dengan berdomisili di Pearaja pun para Pucuk Pimpinan HKBP sudah bisa mengendalikan organisasinya secara efektif. Apalagi sekarang ini adalah abad teknologi informasi dan komunikasi. Setiap waktu Ephorus dan Sekjen bisa berkomunikasi dengan jajarannya.

    Kalau pun harus sering pergi ke Medan atau Jakarta, maka yang perlu diusahakan adalah bagaimana membuat agar frekwensi penerbangan Medan-Siborong-borong menjadi lebih banyak. (Kayaknya, umat pasti akan ribut kalau untuk mobilitas Ephorus dan Sekjen, terpaksa harus dibeli pesawat jet eksekutif).

    Jakarta adalah tempat yang paling tidak efisien untuk bekerja. Dan dari mana pulak lagi harus dicari uang untuk membangun kantor di Jakarta?

    Bagaimana pun kehadiran kantor pusat di Peraja tentu akan memberi stimulus ekonomi bagi daerah itu. Semakin sering para pengerja HKBP melapor ke Pearaja, dan semakin besar uang saku mereka, maka semakin berdenyut pula ekonomi kota Tarutung.

    Lagipula, nama Pearaja itu sudah mendarah-daging bagi umat. Akan dibutuhkan lagi waktu bertahun-tahun untuk membiasakan mereka menerima kalau–misalnya–kantor pusat berlokasi di Rawabangke, Rawabuaya, Petojo Jaga Monyet, atau Pedongkelan.

  3. anggun purba Says:

    kalau pendapat saya..HKBP lebih baik di Tarutung saja..mengikuti alasan amang sebelum berubah pikiran Kantor Pusat Hkbp di Jakarta

    maaf amang bukan saya menjengkali..tidak hanya warga Hkbp nya saja yang kita perhatikan dan urusan kerja pimpinan HKBP ke luar kota Tarutung
    tapi juga calon-calon pelayan Hkbp amang..yang berasal dari daerah-daerah kecil dan kehidupan ekonomi yang masih dalam taraf pas-pasan…untuk ujian menjadi seorang Pelayan HKBP saja sudah berat dengan dana yang besar..lain hal sih kalau HKBP mau membiayai smua perjalanan untuj ujian :-D..ini cuma pemikiran saya amang…karena saya pernah mengcap pendidikan di salah satu badan pendidikan HKBP di laguboti.. hehehehh. tengkiu.

    Daniel Harahap:
    Beberapa urusan kan masih bisa tetap dilakukan di Laguboti eh Tarutung. :-)

  4. Tumpal Silitonga Says:

    Saya tidak setuju kantor pusat HKBP dipindah ke jakarta.
    Alasan-alasan amang dibawah ini saya akan berikan kontra:
    1. Dengan berkantor pusat di Jakarta HKBP, melalui Pimpinannya, menurut saya bukan saja akan lebih efektif menyampaikan tugas dan tanggungjawabnya menyampaikan suara kenabian, imamat dan pastoral kepada pemerintah ,
    Tumpal: Keefektifan menyampaikan suara kenabian oleh hkbp tidak perlu sampai harus memindahkan kantor pusat ke jakarta. Hari begini masih harus mendekatkan gereja ke pusat kekuasaan?
    Kapan gereja bisa belajar memisahkan diri dari kekuasaan dunia? Sejak dahulu, gereja jatuh karena terlalu dekat dengan kekuasaan (note: pemerintah).
    Apakah masih mau terulang lagi sejarah gereja bahwa hkbp hancur karena pejabatnya asik masyuk dengan kekuasaan?

    2. Sederhana saja: saya membayangkan HKBP akan jauh lebih mudah menggalang dana pelayanannya jika kantor pusatnya ada di Jakarta.
    Tumpal: Jadi alasan utama adalah uang lagi. Ah amang ini kurang imannya.
    Persoalan dana pelayanan di tarutung aja belum beres, apakah dengan memindahkan kantor pusat semua persoalan keuangan akan beres?
    SDM hkbp yang harus diperkuat. Bukan hanya dalam pelayanan sekolah pendeta) tapi juga dalam mengelola keuangan, TI, audit, dll.
    Apakah ada sdm di hkbp yang punya kemampuan khusus (punya titel SE., Ak.) dalam pengelolaan keuangannya?

    3. Sebab untuk hanya untuk urusan dua jam di Medan saja Pimpinan HKBP harus rela paling sedikit enam belas jam di jalan pulang pergi.
    Tumpal: Amang, sekarang jaman internet. Apalagi yang kurang dengan internet?
    Kembangkan TI di hkbp, gunakan internet dalam komunikasi antar distrik, resort dan kantor pusat.

    4. Masa lalu adalah sejarah. Dan sejarah kita catat dan simak serta jadikan pelajaran. Namun kita sebagai gereja dipanggil bergerak ke masa depan.
    Tumpal: Justru masa lalu itulah yang masih membuatku berkata aku orang batak.
    Selama masih ada yang menyebut kampungku di sipahutar dan sipahutar masih ada orang-orangnya, aku akan tetap berkata aku orang batak.
    Peduli amat kata orang aku orang melayu karena aku sudah lahir di pontianak dan bekerja di jayapura dan sekarang di jawa, aku tetap merasa orang batak.
    HKBP lahirnya dan berkembang di tapanuli. Ingat katolik sebutannya adalah katolik roma karena mereka tetap pada kantor pusat di roma. 2000 tahun katolik ada di dunia, mereka tetap ada di roma.Jadi apakah pindah ke jakarta, kita akan disebut maju? Tanpa kantor pusat hkbp di tapanuli, entah bagaimana kehidupan orang-orang batak disana nantinya. Ada kantor pusat aja sudah rusak/tidak maju-maju, apalagi kalau kantor pusat dipindahkan.

    Daniel Harahap:
    Pertanyaan saya sederhana: Lae masih di Sipahutar? Jika tidak, kenapa? :-)

  5. Rim M Napitupulu. Says:

    Saudara2 seiman: Tolong bara harian media Indonesia hari ini tgl 1 Mei 2009 hal.5 dan warta kota hal 27, terkait dengan masalah pencabutan IMB HKBP Cinere tgl 13 Maret 09 oleh walikota Depok Nurmahmudi Ismail, padahal IMB tersebut sdh berumur 10 tahun (sejak Bupati Bogor mengeluarkannya tgl 13 Juni 99, saat Depok masih bagian dari kota Bogor), alasannya karena warga tidak setuju. Semua kita tau prosedur IMB tidak bisa dicabut karena tekanan dari sekelompok orang. Saudara2 seiman mari kita dukung HKBP Cinere dalam memperjuangkan haknya untuk beribadah yg dijamin UUD 45 yg merupakan sumber dari segala sumber hukum di Negara yg ……………. ini.

    (Maaf amang Pendeta jika response yg saya tulis ini tidak ada hubunggannya dengan topik diatas, saya cuma ikut meras prihatin terhadap situasi dan kondisi HKBP Cinere.)

  6. A.K.P. Panggabean Says:

    “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”, begitu ungkapan mantan orang nomor satu di negeri ini. Jika para pendeta HKBP tahu bahwa sejarah perkembangan pekabaran Injil di tanah Batak berawal dari Lembah (Rura) Silindung atau tepatnya di kota Tarutung atau lebih tepatnya lagi dari tanah pemberian Raja Pontas Lumbantobing, maka mau tidak mau suka atau tidak suka PARA PENDETA HKBP HARUS MENGHARGAI SEJARAH BERKEMBANGNYA PEKABARAN INJIL DI TANAH BATAK YANG DIMULAI DARI KOTA TARUTUNG.

    Dengan dipindahkannya kantor pusat HKBP ke Jakarta maka habatahonta i akan semakin memudar dalam jangka waktu 100 tahun ke depan. Bisa jadi HKBP ganti nama menjadi Gereja Protestan Indonesia atau apa namanya.

    Rasul Paulus menasihatkan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…” Jika KWI, Muhammadiyah, NU, dll berkantor pusat di Jakarta, biarlah mereka berkantor pusat di Jakarta. Mereka itukan organisasi keagamaan berskala nasional, sementara HKBP adalah organisasi gereja walaupun sudah menyebar ke seluruh pelosok tanah air namun tetap berciri khas Batak bukan berciri khas nasionalis.

    Daniel Harahap:
    HKBP tetap Huria, Kristen Protestan dan Batak. Satu lagi: HKBP yang Kristen Batak itu harus meng-Indonesia dan moderen.

  7. elumban Says:

    Saya sangat setuju untuk pemindahan kantor pusat HKBP ke Jakarta. Dalam kondisi saat ini, memaksakan berkantor di Pearaja disamping tidak effective karena alasan penyebaran jemaat HKBP, juga pemborosan.
    Bagaimana tidak, untuk mengimplementasikan IT saja ke Kantor Pusat HKBP Pearaja sangat lah mahal.
    Ide ini dulu terpikir, ketika saya berada di HKBP Jend. Sudirman. Saya coba berangan-angan seandainya tanah HKBP Sudirman bisa kita optimalkan dengan sistem BOT kepada orang-orang yang punya uang untuk membangun sebuah gedung tingkat yang sangat tinggi dengan beberapa lantai diperuntukkan buat HKBP, baik untuk Gereja, Kantor Pusat HKBP, dan space-space yang diperuntukkan untuk untuk kebutuhan operasional pelayanan HKBP, saya pikir sangat-sangat mungkin.

    @Panca Bonar says: …”Janganlah kamu seperti dunia ini”…. dalam konteks apa Boss?. Perilaku?….Ya…saya setuju. Tapi keduniaan itu mungkin diperlukan seperti posisioning HKBP untuk bisa eksis dan melayani sebagai mana fungsinya terhadapa jemaat. Kalau saja posisioning HKBP dengan jemaat terbesar di Negeri ini bisa kita bangun dengan kuat, saya yakin IMB HKBP Cinere tidak akan di cabut….Memang, pemindahan kantor pusat HKBP ke Ibukota negara harus juga diikuti dengan perubahan cara pikir pimpinan dan organisasi HKBP - seperti bagaimana pengelolaan sumberdaya manusianya, keuangan, pelayanannya dll. Kalau dengan cara pikir seperti sekarang,……..di Pearaja pun Kantor HKBP terlalu mahal…..mungkin lebih tepat di pindahin aja ke Pagar batu…

  8. Rim M Napitupulu. Says:

    Nilai Historis tdk dapat diukur dgn apapun takarannya. Nilai Historsi HKBP jgn kita korbankan dgn memindahkan kantor HKBP ke Jakarta. HKBP bukanlah suatu organisasi politik melainkan organisasi keagamaan, kalau kantor HKBP di pindahkan ke Jakarta, menurut saya HKBP akan semakin rentan oleh pengaruh politik padahal HKBP harus benar2 steril dari pengaruh politik.

    Daniel Harahap:
    Asal tahu saja. Di Tarutung Kantor Pusat HKBP juga sangat rentan kepada pengaruh politik kabupaten dan kecamatan. :-)

  9. Tumpal Silitonga Says:

    Saya sudah tidak di sipahutar lagi, sekarang sudah di jawa untuk bekerja. Itu jawaban saya.

    Daniel Harahap:
    Kalau memang sudah tidak lagi di Sipahutar, ya seharusnya dukunglah ide ini. :-)

  10. bresman sianipar Says:

    Terimakasih amang atas wacana untuk memindahkan kantor pusat HKBP dari Tarutung ke Jakarta,saya sependapat dengan komentator sebelumnya untuk tetap di Tarutung saja dan saya malah berpikir bagaimana agar ibu kota negara kita dipindah dari Jakarta kedaerah sekalian dengan kantor2 pemerintahan,biarlah Jakarta menjadi pusat bisnis. Dengan demikian,hingga saat ini yang benar adalah HKBP yang tdk ikut2an menambah padat Jakarta ini.

    Daniel Harahap:
    Saya tidak melihat sama sekali peluang memindahkan ibukota dari Jakarta tiga puluh tahun ini. Artinya Jakarta akan tetap pusat pemerintahan, kenegaraan, keuangan, informasi dan pendidikan. Kantor Pusat HKBP sebab itu harus dekat dengan pusat2 itu. (bukan untuk menghamba atau menjilat, tetapi untuk mengkritisi dan menyampaikan pesan profetik dan pastoralnya. Jangan lupa gereja HKBP saat ini di Jakarta saja sudah lebih seratus!

  11. abrianto nababan Says:

    Amang, mohon maaf apabila saat ini saya katakan bahwa saya tidak setuju kantor pusat HKBP pindah ke Jakarta, yang perlu dibenahi di HKBP adalah apakah fungsi struktural yang ada di HKBP sudah berjalan sesuai fungsinya ? HKBP Depok adalah salah satu kasus, kalau kita ungkit lagi yang lain masih banyak problem yang gagal di selesaikan HKBP,

    Bagaimana Praeses yang membawahi Depok ? harusnya sebagai pimpinan tertinggi HKBP di Distrik,bisa dikatakan bahwa Praeses adalah Ephorus di Distrik tersebut, sudah maksimalkah dalam membina hubungan dengan pemerintah setempat ? ( maaf bukan bermaksud menyalahkan Praeses Depok )

    Usul saya amang, lebih baik biaya untuk perpindahan ke Jakarta dialokasikan ke hal2 lain yang dapat memajukan pelayanan HKBP, sekolahkan para Pendeta2 muda untuk mendapatkan ilmu diluar dari teologi, jangan tabu merubah aturan peraturan yang sudah tidak layak diterapkan pada saat ini karena menurut saya hanya Bibel yang tidak dapat dirubah

    Tingkatkan kualitas pelayanan kepada umat, pernahkah amang bepikir kalau gereja HKBP itu cuma terbuka pada saat hari minggu ? senin s/d sabtu pintu gereja selalu tertutup

    Mohon maaf apabila ada tutur kata saya yang menyinggung atau tidak pada tempatnya, ini semata2 saya sampaikan demi kemajuan HKBP

  12. Andy Harahap Says:

    Saya agak kurang setuju untuk usulan yang satu ini :

    Untuk alasan yg pertama, saya kurang bisa mengerti point inti yang Amang angkat sebagai kenapa alasan pertama ini menjadi alasan pindahnya HKBP ke Jakarta.

    untuk alasan yang kedua, kan di Jakarta sudah banyak perpanjangan tangan Pusat untuk menggali potensi penggalangan dana (Contohnya kan bisa pake konsep gadong manginsir) dan dgn berdomisili di Tarutung, bukannya lebih mudah untuk bisa berperan bagi tapanuli? sistem yang kuat bisa dibuat dimana saja, tinggal penerapannya saja. sistem Windows aja dibuat di US dan bisa dipakai dipapua sekalipun.

    untuk alasan ke tiga, efisiensi akan secara otomatis mulai begitu system yg kuat diterapkan, terutama dalam sistem kominfo.

    dan menurut saya pernyataan inilah yang paling mengecewakan : “Dan hanya dengan berkedudukan di Jakartalah Kantor Pusat HKBP tidak terperangkap dalam sekat-sekat sangat sempit dan sangat primordial.” Apa iya..?? apa para pemimpin HKBP begitu sempit jiwanya sampai tidak bisa keluar dari sekat2 tsb? Kenapa Amang koq sepertinya putus harapan?

  13. abrianto nababan Says:

    maaf amang.saya gabung dengan diskusi antara amang dengan lae Tumpal !
    Pertanyaan saya ke amang , kenapa HKBP mendirikan Distrik di Jakarta?

    Daniel Harahap:
    Pertanyaannya saya tambah: kenapa dulu HKBP mendirikan jemaat di Jakarta? Sesudah jemaat banyak, kenapa HKBP mendirikan resort di Jakarta? Sesudah resornya tambah banyak, kenapa HKBP mendirikan distrik di Jakarta? Jawabnya untuk pelayanan. Pertanyaan kenapa sekarang ingin memindahkan kantor Pusat ke Jakarta? Sebab HKBP akan jauh lebih berkembang pelayanan dan kesaksiannya juga organisasinya jika berkedudukan di Jakarta.

  14. A.K.P. Panggabean Says:

    Masalah efisiensi organisasi dan kepemimpinan bisa diselesaikan dgn pesawat helikopter, agar perjalanan Ephorus dari Tarutung ke Medan atau sebaliknya bisa dikurangi durasinya dari yang tadinya 8 jam menjadi 1-2 jam.

    Daniel Harahap:
    Tarhona naeng manuhor manang manewa helikopter. Haru… :-)

  15. Bonar Nainggolan (Parprabumulih) Says:

    Saya tidak setuju. Saya ….. Tidak…… Setuju!. Alasan Historisnya itu lho Amang. Menindahkan Kantor Pusat sebesar HKBP bukan seperti pindah kontrakan. Bisa dibayangkan berapa banyak urusan 2 yang harus dilakoni utamanya aspek hukumnya. Berapa banyak akte Notaris yang harus dirobah dsbnya. Zaman teknologi canggih seperti sekarang ini, jarak satu kota dengan kota lainnya bukan masalah yang serius lagi.

    Aspek apapun yang disodorkan, HKBP tidak usah dipindah ke Jakarta. Bagaimanapula para pegawai yang bekerja di Kantor Pusat HKBP itu, apakah HKBP sanggup mempasilitasi mereka di Jakarta?. Kalo mau sering2 soan ke Jajaran Pemerintahan di jakarta, saya kira bisa dibuka semacam Kantor Perwakilan di Jakarta, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa Pemda Propinsi. Saya tidak tau apakah selama ini ktr perwakilan itu dah ada ato belum.

    Merujuk pada Alasan ke- 2 yang Amang ungkapkan. maka hari ini yang sebenarnya harus kita kerjakan adalah bagimana kita bisa membangun fasilitas di Jakarta yang dapat menunjang operasional VISI & MISI HKBP sekaligus menambah pendapatan Kas Kantor Pusat HKBP itu. Mungkin bisa dibangun Fasilitas Kesehatan berupa, Klinik Kesehatan, atau Rumah Sakit, dan kalo ditambah Fasilitas Pendidikan akan lebih bagus.

    Daniel Harahap:
    Saya juga memahami aspek historis. Namun perasaan historis tidak boleh mengungkung kita bergerak ke masa depan. Masa depan HKBP ada di Jakarta, Balikpapan, Dubai, Cina dan California. Dengan berkedudukan di Jakartalah HKBP lebih bebas bergerak termasuk menunjukkan perannya di tengah-tengah bangsa ini.

  16. abrianto nababan Says:

    Pertanyaan saya jawab, berarti tanpa harus pindah secara fisik HKBP ke Jakarta bahwa pelayanan sudah cukup bagus perkembangannya di Jakarta, jadi ngapain pula kantor Pusat HKBP pindah? Amang, yang paling penting itu bukan fisiknya / kantornya harus pindah ke Jakarta, kalau hanya dengan alasan amang yang 4 poin diatas alasannya, aktifkankanlah struktural yang ada di HKBP saat ini, agar lebih kelihatan gregetnya.

    Daniel Harahap:
    Saya tidak loja-loja mengatakan bahwa struktur dan sistem HKBP mudah dibereskan jika kantor pusatnya di Jakarta.

  17. Friska pardede Says:

    Saya belum pernah ke Pearaja Tarutung, bayangan saya tentang tempat tsb adalah satu tempat yg indah, asri dan fasilitas2nya sangat memadai (kantor pusatnya HKBP na boloni), tetapi alangkah kagetnya saya ketika mendengar dari saudara yg diundang “oppui” untuk menginap di sana desember lalu dan menceritakan kondisi yg sangat jauh dari pandangan saya tadi, butuh biaya yang amat banyak untuk membuat kantor itu layak sesuai dgn kebutuhan saat ini dan seratus thn kedepan (menurut hitungan2 kira2 saat itu),jadi saya tidak berani berkomentar soal lainnya.

  18. abrianto nababan Says:

    Kalau begitu amang, bereskan saja dulu yang mudah2 itu, dan untuk membereskan itu menurut saya nggak harus pindah ke Jakarta di tarutung juga bisa/

    Daniel Harahap:
    Itu kan perasaan abrianto. Boleh2 saja. :-) Berdasarkan pengamatan mendalam dan perhitungan sebagai “orang dalam”, saya sudah sampai pada kesimpulan: HKBP harus pindah jika ingin berubah dan berkembang. Tapi itu pendapat saya. Yang menentukan di HKBP bukan saya tapi semua warganya, termasuk yang hanya suka bernostalgia tentang keindahan masa lalu namun tidak cukup mau bergumul apalagi terlibat sungguh2 dengan kondisi HKBP masa kini. :-)

  19. florasilaban Says:

    Kalau pindah ke Jakarta, berapa biaya yang harus dikeluarkan , dengan kondisi saat ini saja, Jakarta sudah sangat sumpek, belum lagi menghadapi izin-izin yang harus diurus, saat ini HKBP di Cinere sedang dalam pergumulan karena IMB dicabut oleh Walikota. Oh Tuhan Yesus, kami datang kepadaMU tolonglah umatnya yang saat ini sedang bergumul di Bekasi dan semoga acara Do’a bersama dapat berlangsung dengan hikmat dan Tuhan mau mendengarkan do’a kami, datanglah KerajaanMU.

    Daniel Harahap:
    Kalau menurut saya biaya yang dibutuhkan memindahkan kantor pusat ke jakarta masih lebih murah dibandingkan jika membiarkan HKBP makin keropos makin menciut karena tak berani keluar dari nostalgia masa lalu. :-)

  20. Meb Says:

    tempat itu merupakan salah satu simbol dari eksistensi, untuk contoh liat aja Katolik, dari jaman batu sampe kapanpun akan eksis di roma sana.., dan jadi bisa membantu warga sekitar juga dalam hal pariwisatanya, jangan ada wacana atau pemikiran lah, untuk memindahkan kantor pusat HKBP, mudah-mudahan ke depan bisa jadi tempat wisata yang menarik bagi umat kristiani yang ingin tau sejarah dari HKBP.. semoga..
    btw mindahkan ke jakarta biar struktur dan sistem mudah dibereskan?!
    Cabe eh cape deh.. :)

    Daniel Harahap:
    Saya jadi terpikir jangan2 orang Batak2 di Jakarta menganggap kantor pusat hkbp itu seperti tugu nenek moyang di kampung, keramat dan dipuja, namun sebetulnya dibiarkan tarulang eh berlalang. Tidak perduli fungsingnya yang penting bisa memberi rasa aman dan bangga yang tak jelas. Seperti itukah? Saya membayangkan kantor pusat bukan tugu atau tambak hamatean, tetapi suatu sistem yang benar2 kuat dan mampu menggerakkan seluruh HKBP ke masa depan.

  21. Jansen H. Sinamo Says:

    Homo aviator [manusia peziarah] itulah kita menurut E.F. Schumacher. Abraham, Yakub, Musa, bangsa Israel begitu.

    Orang Batak pun begitu, berkembang seperti jelok, sesuai semboyan kuno sjolo-jolo tubu: pabolak haumam, pabidang jampalanmu, gagati papaga nalumomak.
    Sampai-sampai Amang Mula Harahap berpendapat: habatahon bukan lokalitas — seperti Protap — tetapi sebuah spirit: keterbukaan, egalitarianisme, kejujuran, keberanian, dsb.; hal yang saya amini dengan mantap. Gereja juga bergerak terus: dari Yerusalem, ke Antiokia, ke Roma, ke Konstantinopel, ke Jenewa, ke Amerika, ke Seoul, dan sebagian ke Pearaja.

    Akankah ke Jakarta? Yang menentukan tentu warga HKBP, dituntun Sang Gembala Agung. Kuat dugaan saya: ke Jakarta kantor pusat HKBP akhirnya ‘kan pindah.

  22. suprama Siburian Says:

    Memang alamat kantor itu dimana sajapun bagi kita sama. hanya perlu di ketahui semudah itukah memindahkan Kantor Pusat HKBP ini?

    Inilah awal terpecahnya Organisasi terbesar di Tanah Batak ini.jangan salahkan jika Jemaat akan berpaling ke Gereja lain. Sebab Gereja itu adalah tempat Orang beribadah. Gereja mana pun itu sebab yang di puji dan di sembah adalah Tuhan Yesus Kristus. Jadi tolong di pertimbangkan secara matang .dan harus dibuat Sidang Jemaat Luar Biasa untuk mengambil keputusan ini Kiranya Tuhan Yesus Menuntut Para Pimpinan Organisasi ini. Jangan Tinggalkan Kampung halamanmu.

    Daniel Harahap:
    Ini ide saya pribadi. Dan menyampaikan ide betapapun terasa “asing” bagi sebagian bukan suatu dosa atau kejahatan. Ini bukan rencana pimpinan. Saya dan kita semua sadar bahwa seandainya Kantor Pusat sepakat kita pindahkan, perlu proses yang sangat panjang. Dan keputusannya bukan di blog ini. :-) Namun jangan lupa. Warga HKBP-lah yang duluan pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di perantauan. Dan HKBP harusnya bergerak mengikuti warganya dan bukannya diam-diam bagaikan patung batu yang banyak dibangun orang batak kota di kampung.

  23. Jalinthar Says:

    Kalau namanya masih pake HKBP, harusnya pusatnya yah tetap di pearaja. Masak kuria/huria/curiae batak ada di jakarta. :-)

    Daniel Harahap:
    Emangnya kenapa? Buktinya sebagian besar orang Batak ada di Jakarta.

  24. t.m.sihombing Says:

    Ide memindahkan Kantor Pysar HKBP ke Jakarta kelihatannya masih belum saatnya dan kalau harus ke Jakarta dengan alasan seperti diatas juga sangat relatip, Kalau memang mau pindah kenapa tidak dekat dengan Siantar atau Balige.

    Persoalan2 HKBP banyak diselesaikan oleh Internal HKBP Sendiri tanpa HKBP Pusat. Pertanyaan lain sampai sejauh mana peranan pusat HKBP dapat menyelesaikan masalah misalnya HKBP Riau Bandung , HKBP Cinere atau HKBP yang lainnya yang mendapat masalah ? dan bagaimana peranannya dalam mengurus masalah HKBP ke Pemerintahan RI ? Demikian juga Distrik yang telah dibentuk di Jakarta sudah sampai berapa jauh kontribusi yang telah diberikan ? Rumah dinas ephorus memang ada di Pearaja Tarutung akan tetapi kesahariannya adakah disana ? (hanya sekedar bertanya).

    Sangat mendukung ada perobahan yang besar dalam tubuh HKBP Pusat tetapi harus lebih dahulu pembenahan kualitas SDM diluar parmahanion yaitu yang berkaitan dalam pengembangan percetakan, rumah sakit maupun pendidikan, karena sumber pendanaan pembangunan HKBP Pusat terlebih dahulu harus bersumber dari bisnis komersil tersebut dan wajarkah HKBP Pusat memberikan informasi yang transparan atas hasil pendapatan dari sektor bisnis ini ?

    Daniel Harahap:
    Porsea ma eh percayalah selama Kantor Pusat HKBP diwajibkan di Tapanuli sebagai “tugu peringatan” bagi warga Batak yang sudah merantau, tak ada perubahan besar yang bisa diharap terjadi di HKBP. Namun jika Kantor Pusat di Jakarta bukan saja dekat dengan pusat pemerintahan namun juga akan lebih mudah dibantu dan sekaligus diawasi oleh warganya yang cerdik cendekia dan memiliki banyak kemampuan. Namun, maaf, masalahnya banyak orang Batak tanpa sadar menganggap kantor pusat mirip tugu atau tambak. :-)

  25. abrianto nababan Says:

    Betul yang amang katakan, bahwa yang menentukan adalah seluruh warganya, mudah2an pendapat warga yang tercatat di ruma kita yang metmet ini bisa jadi masukan untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi HKBP

  26. Diana JPS Says:

    Menurut saya Kantor pusat tidak perlu pindah ke Jakarta, namun SDM nya lah yang perlu ditingkatkan, sebab sekarang sudah jaman teknologi, banyak fasilitas yang dapat kita gunakan untuk pengembangan HKBP. ” BIAYA” tidak menjadi masalah bagi HKBP, sebab yang saya tahu warga HKBP itu punya hobby menyumbang, iyakan ….? Masukan : STT HKBP perlu diperhatikan, supaya menghasilkan PIONIR HKBP yang kualitasnya tidak ketinggalan jauh dari STT lain .

    Daniel Harahap:
    Menurut saya, kalau HKBP mau berkembang perlu langkah berani menatap ke masa depan. Bukan hanya diam di comfort zone tanpa berbuat apa-apa.

  27. Go thie Says:

    kalo usulan itu saya pikir itu hanya cara amang DTA memanasmanasi jemaat ruma metmet sebab tidak ada urgensinya, kecuali jika kelak amang dta menjadi pucuk pimpinan HKBP mungkin merasa tidak cocok tinggal di Tarutung mungkin saja ,lebih cocok sebagai wacana saja.

    nanti kalo kantor pusat pindah ke Jakarta, kita pindahkan lagi Jerusalem ke tarutung biar lebih dekat dengan bangsoi. angan angan ni si jonaha…

  28. rumanap Says:

    Menurut saya cukup dengan mengganti istilah Kantor Pusat HKBP menjadi.. pusatnya HKBP di Tarutung.. kantornya banyak.. misalnya Divisi Sejarah dan Budaya di pusat Tarutung,– SDM & Keuangan.. di Serpong.. dst… trus Ephorusnya dimana ??
    Saya juga sudah jarang di kantor pusat sekarang.
    He-he-he– pasti disensor.

  29. Victor Pakpahan Says:

    Wacana pindah aja koq repoot…..!? Sangat kelihatanlah kita orang batak ini membahas pindah2an, yang satu setuju yang lain tidak, mungkin juga seandainya wacana ini kita satu meja akan terjadi suara teriak dan pukul meja. Semua alasan setuju atau tidak atas dasar kepentingan. Dan semuanya benar…cuma, kita jadi lupa pada pokok persoalan yaitu kenapa bukannya kinerja pucuk pimpinan yg lima itu kita persoalkan??? Bukan masalah tempat berkantor, efektivitas dan efisiensi tapi masalah…apa yang telah diperbuat oleh pucuk pimpinan kita yg lima itu untuk menyelesaikan masalah dalam tubuh hkbp terutama masalah hkbp cinere…????

    Daniel Harahap:
    Saya hanya mau mengatakan pendek: seandainya Kantor Pusat HKBP di Jakarta, masalah di HKBP Cinere itu dengan mudah bisa diatasi. Namun karena Kantor Pusat HKBP sangat jauh dari pusat kenegaraan dan pemerintahan, maka Pimpinan kesulitan membangun hubungan dengan lembaga pemerintahan maupun keagamaan lain. Akibatnya HKBP dianggap asing atau kecil dan bisa dimainin.

  30. Ruas-Bandung Says:

    Kalau memang Para Praeses adalah “Eforus” untuk tingkat distrik, apakah eforus HKBP harus berkantor di Jakarta?
    Kasus-kasus yang terjadi di HKBP baik gedungnya atau jemaatnya akan terminimalisir bila para praesesnya memang menjalankan tugas ke-praeses-annya dengan baik. Yang menjadi pertanyaan apakah para praeses sudah bekerja/melayani dengan optimal?

  31. elias Says:

    Berkembanglah HKBP-ku, yang terpenting pemahamanya donk, walau dimanapun kantornya, tetap saya ini orang Tarutung dan huria HKBP. Saya setuju kantor pusat HKBP dipindah ke Jakarta. Suatu saat nanti klo perlu kantornya bisa di Timteng/ke Israel barangkali?

  32. jeremy Says:

    Bagaimana kalau kita mencontoh Muhammadiyah amang?? Jalan tengah sih… Kantor PP Muhammadiyah ada di Yogyakarta, tetapi dia juga ada Kantor PP 2 di Jakarta… Sehingga ada sedikit kontrol juga di Jakarta. Atau semacam Kantor Perwakilankah atau gimana… Memang sih habis di jalan, perjalanan yang meletihkan dan lain-lain, kecuali lah dari Tarutung itu ada highway 3 tingkat yang bisa bikin cepat perjalanan… mimpi mimpi….

  33. eric arac Says:

    Wacana pindah? Sejujurnya, menurut hemat saya keempat alasan amang DTA Harahap di atas belum cukup kuat untuk mengusulkan wacana pindah. Keempat alasan itu masih perlu diuji sejauh mana kepentingannya/urgensinya buat HKBP saat ini.

    Saya ingin menyampaikan beberapa bahan pemikiran dan perenungan bagi kita semua.
    1. Gereja HKBP di Sumatera Utara sangat banyak jumlahnya, kita dapat melihat di Almanak HKBP. Sebagai perbandingan di Distrik II Silindung saja ada 201 gereja.
    2. Apakah pengurusan ijin untuk mendirikan Gereja, pencabutan IMB Gereja, konflik intern Gereja menjadi tugas dari pucuk pimpinan HKBP, atau sebaliknya, apakah masalah-masalah seperti itu serta merta bisa diselesaikan oleh pucuk pimpinan HKBP, sekalipun berkantor di Jakarta.
    3. Asumsi yang mengatakan bahwa tanpa sadar orang Batak menganggap kantor pusat mirip tugu atau tambak perlu diteliti, apakah benar demikian, atau asumsi itu yang tidak tepat.
    4. Adakah kita yang mempunyai ide bagaimana caranya supaya wilayah Pearaja itu layak dan pantas disebut sebagai Kantor Pusat HKBP. Maksud saya secara fisik, penataan bangunan dan tamannya/landscape.
    5. Sekedar tambahan, bagi yang berminat pergilah ke Tarutung, naiklah ke Salib Kasih di Siatas Barita, ada batu besar yang diduduki Nommensen dulu, dari sana memandang ke arah baratdaya, anda akan menemukan keajaiban. Di sana ada Edensor-nya Andrea Hirata.

    Daniel Harahap:
    Kalau untuk ziarah ya silahkan saja ke Parausorat, Sipirok, Tarutung, Sigumpar dll. Tapi untuk sebuah kantor yang menggerakkan 4000 jemaat HKBP yang tersebar di seluruh Indonesia dan dunia (apalagi untuk menarik pulang warga yang sudah sempat pergi) tidak bisa lagi dilakukan dari Tarutung. Kita perlu gerakan yang lebih berani. Pimpinan langsung memimpin gerakan HKBP ke masa depan langsung di pusat pemerintahan, politik dan ekonomi indonesia.

  34. Ninggor Pardede Says:

    Menurut saya, setelah mengikuti sebagian besar tulisan di rumametmet ini, inilah suatu ide atau wacana yang sangat berani. Mauliate ma di hamu amang pandita.
    Tetapi menurut saya yang penting adalah menjadikan Jakarta satu distrik saja (distrik khusus) bukan 3 seperti sekarang. Semoga distrik ini nanti bisa menjadi citra dan perwakilan HKBP secara keseluruhan.

    Daniel Harahap:
    Saya pikir HKBP harus berani berpikir Lae. (Bayangkan berpikir memindahkan Kantor Pusat saja sudah takut, apalagi bertindak hahaha.) :-) Ide menata ulang distrik HKBP di Jabotedabek sudah pernah saya lontarkan (DKI, Bekasi dan Banten). Namun saya pikir agar tidak ada dualisme antara Praeses DKI (jika ada kelak) dengan Pimpinan Pusat HKBP mending Kantor Pusat saja dipindahkan ke Jakarta. Namun beberapa unit harus tetap di sana. Misalnya: persemaian (Sekolah Tinggi Teologi, Pendidikan Diakones, Sekolah Bibelbvrouw, Sekolah Guru Huria, dan Sekolah Pendeta). Situs-situs sejarah dipertahankan. Rapat2 akbar tetap bisa dilaksanakan di Tapanuli. Dan banyak lagi usaha lain memajukan HKBP. Yang penting bagi saya: kita mesti mengubah mental memandang Kantor Pusat sebagai tugu ompung atau tambak hamatean yang pantang dipindah walau dibiarkan tarulang (terbengkalai) dan kurang berfungsi. :-)

  35. Jansen H. Sinamo Says:

    Orang Batak sintas melalalui jalan panombangon, sudah dikisahkan dalam kunjungan DTA ke DOHA, sekarang kantor pusat digagas pula untuk manombang ke Jakarta.

    Buat saya, mengasyikkan pikiran ini: go out, reach out, explore to the farthest. Begitulah Homo sapiens berkembang dari desa primordialnya di Afrika sana. Kini sudah sampai ke Bulan dan Mars.

    Tunggu saja gagasan berani lainnya.

  36. Bang Tampu Says:

    wah rame nih, emang amang Pendeta ini selalu piawai memilih topik, yang membuat ingin martokkar. heheheheehe.

    Menurut saya jika HKBP jadi di pindah ke Jakarta, yang merupakan kampung asli orang betawi, maka kepanjangan dari HKBP akan menjadi Huria Kristen Betawi Protestan. Kalau ini yang menjadi kepanjangan HKBP, ya mungkin kami yang ada di pinggiran kota tangerang ini akan merubah nama gereja itu.
    Menurut hemat saya, nama gereja itu tidak lepas dari asal muasalnya.

    Beberapa alasan yang dikemukakan oleh Amang Pendeta diatas belumlah cukup dan tidak akan cukup untuk memindahkannya ke Jakarta. Jakarta itu sudah terkontaminasi buruk oleh keadaan. Bicara efisiensi Jakarta lebih bagus? masak sih, satu satunya musim tambahan yang ada di Indonesia adalah musim Bajir dan itu di Jakarta, dulu banjir besar terjadi 5 tahun sekali, belakangan tiap tahun, sekarang tiap hujan 15 menit air sudah menggenangi dimana-mana. efisien??????
    Sudahlah hentikan sajalah amang pemikiran diatas, dari pada capek kita menambah permasalahan baru, lebih baik memperbaiki permasahan yang ada sekarang, terutama masalah yang ada di Kantor pusat sana. Mari kita terapkan gadong mangincir ke Pearaja sana.Tunggulah sedikit lagi waktu daerah Pearaja akan menikmati Perkembangan Propinsi baru, sudah tahu kan Amang yang kumaksud. Peace.

    Daniel Harahap:
    Di Jakarta ada hampir 200 gereja HKBP. Apakah Lae mau mengatakan semua HKBP di Jakarta tidak lagi Batak? Batak itu adalah semangat. Dimana-mana dia bisa menjadi Batak. Alasan agar HKBP tidak terkontaminasi tidak tepat. Di Tarutung atau bahkan di Lumban suhisuhi pun HKBP bisa terkontaminasi politik. Malah bisa lebih parah sebab tidak ada yang mengawasi. :-)

  37. A Napitupulu Says:

    dari sisi management ada benarnya kalau Kantor Pusat HBP dipindahkan ke Jakarta sebagai ibukota negara…..tetapi dari sisi yang lainnya seperti sosial, budaya, dan historis hal tersebut kurang tepat.

    Yang kurang bukan dimana kantor itu berada tetapi orang yang ditempatkan dan ditugaskan ditempat itu.

    Perlu di ingat HKBP itu kan gereja “akar rumput’. Artinya, bahwa sebagaian jemaat HKBP itu orang desa, orang kampung dengan pemahaman terhadap segala sesuatu dengan sederhana, dan dalam hal ini kedudukan Kantor Pusat HKBP di “desa” Pearaja harus mempunyai peranan yang dapat mengakomodasi hal tersebut.

    Tapi semua itu harus dipertimbangkan denagn baik, perlu adanya studi kelayakan kalau memang harus dipindahkan. Kalau memang demi kemajuan yang positif, mengapa tidak.

    Bagaimana dengan teman-teman di Cinere…apakah tidak ada upaya dari Induk HKBP?

    Daniel Harahap:
    Untuk yang terakhir: Kalau saja Kantor Pusat HKBP ada di Jalan Kramat Raya atau Salemba, hal itu mungkin tidak terjadi Amang.

  38. rjh Says:

    - sintong do i, ndang sai sala paandarhon angka pandapot nionjar ni pamingkirion mangeahi na ummuli boi do i angka na so hea tubu dope di bagasan pingkiran ni angka dongan jala boi do i mangulakhon angka pingkiran ni dongan naung parjolo.
    - tutu do, hirahira 30 taon na salpu nunga dipingkiri angka amanta papinda Kantor Pusat i tu Medan marojahan tu panatapan na hira dos dohot panatapan ni amang DTA na di ginjang i . nunga dipajongjong na naeng gabe kantor i, jala lobi sian i, nunga mamungka di kantor na imbaru i mangula sada biro ni HKBP uju i. na huingot holan sada do mambahen sundat i ma ’sejarah’. umbalga do sejarah i gabe dasor panundati ni parpindaan i sian saluhut angka pamingkirion na marragam uju i. gabe
    kantor distrik x Medan-Aceh ma nuaeng kantor pusat na sundat i.nuaeng pe, tung sura lam tumorop mamingkiri parpindaon i, tong do sejarah i panundati na umbalga.
    - di na mamungka hita mamingkiri paimbaru aturan ni hkbp, i ma aturan 2002, sinuaeng, sai taondolhon do di angka panghataion asa distrik nama pamusatan ni sandok panggulmiton di hkbp so pola sumoadahon parsidohoton ni kantor pusat hombar tu ringkotna. satolop do hita disi jala gabe alani i lam mangerbang ma torop ni distrik/praeses sian 18 gabe 26 nuaeng. alani i hot ma hita disi, tapahinsat ma ulaon di distrik ai molo songon i ndang sai laho be rohanta papinda kantor pusat i.
    - udut tusi tapingkiri do di tingki i ianggo uluan ni hkbp holan uju mangompoi dohot mameakhon batu ojahan nama i ro mangebati huria dohot ulaon na masuk tu horong ‘na ringkot situtu’ nda tung be dohot nasida mangojakhon angka partohonan, mangaresmihon huria/resort, pesta pembangunan lumobi molo sai majotjothu mamasumasu na marbagas. aut sura di Jakarta kantor pusatta i, jala maol angka uluan mangotapi dirina tu angka ulaon na ginoaran na di ginjang i, nda lalap disi ma ? beha ma si-4 dasor ni pamingkirion ni amang DTA i ?
    - nian, songon na nidok ni angka dongan tong do ingkon mulak tu sdm i alai nda ‘panghirimon, do i ?. bah… ai na so ‘marpanghirimon’ do hamu rjh ? nina hamu, ra, tu iba. alushu, adong do panghirimonhu, holan na hujagahon do unang ‘tarhirim’. ai didok natuatua molo marsahit jolma ala tarhirim, ndang malum sahit i saleleng so dapot na hinirimna.
    - gabe songon on ma pingkiranhu nuaeng, atik pe sipata laho do rohangku tu pingkiran ni amang DTA i, manang di dia pe kantorta i molo tahaburjuhon ulaon i jala tahabiari Debata mangulahon i, marture do i jala marune. nunga didok dongan ianggo angka ulaula na pasaorhon hita tu angka dongan na dao marhite hamajuon on nunga sungkup so pola ingkon sai ro iba tumopot dongan i, lumobi molo ingkon bungkas iba asa sai jumonok.
    - molo pahatinggalanhu pingkiranhon beha bahenon ai sai huadophon do panghirimon tu hataridaan na adong i. angkup ni hagaleon/hahurangan ni angka parhalado di hurianta ruasta pe godang dope hagaleon dohot hahuranganna be. martangiang ma hita huhut mangula asa lam matoras parhalado, tang ma dohot ruasna.

    Horas ma inang, amang da !

    Daniel Harahap:
    Na hutangkup, satuju do hamu di bagasan rohamuna di pinghiranku dumenggan do molo pinapinda kantor pusat tu Jakarta. Songon i do Amang kan? :-)

  39. Hod L T Says:

    Horas di hita sude !!
    HKBP Pindah kantor Pusat ke Jakarta ? Menurut saya Amang, mungkin belum saatnya. Alasan Amang yang 4 point di atas, belum tentu serta merta beres jika kantor Pusat ada di Jakarta. Menurut hemat saya, segala persoalan yang ada di HKBP saat ini sulit diselesaikan bukan karena faktor tempat, melainkan adanya faktor “komunikasi yang tidak lancar” antara Pusat dan daerah pelayanan. Saya jadi teringat masalah “ProTap”, dan saya lihat agak mirip kasusnya. Untuk kemajuan Tapanuli, bentuk propinsi, untuk kemajuan HKBP pindahkan kantor pusatnya, sepertinya bukan solusi yang tepat. Jarak, ruang dan waktu saat ini bukan lagi halangan untuk komunikasi dan pelayanan, tinggal kemauan dan kemampuan kita mempergunakannya secara efektif,”masih jauh ketinggalan”. Saat ini, yang sangat perlu dibenahi untuk kemajuan HKBP adalah “wibawa” kantor pusat yang sangat “rendah”, dan jalinan komunikasi yang harmonis antara pusat dan Distrik, Resort dst. Lokasi kantor pusat bukan alasan yang tepat (kambing hitam) atas persoalan-persoalan yang dihadapi HKBP saat ini, apalagi alasan “Kemajuan”. Mauliate, Horass.

  40. Mula Harahap Says:

    Diskusi tentang memindahkan Kantor Pusat HKBP (dari Pearaja ke Jakarta) semakin menarik untuk diikuti. Dan seraya membaca berbagai pendapat yang dilontarkan, muncul beberapa pikiran di kepala saya.

    Barangkali sebelum tiba pada kesimpulan apakah Kantor Pusat perlu dipindahkan atau tidak, baik juga kalau kita berpikir ulang tentang hal-hal berikut ini: Apa itu gereja? Apa yang harus dilakukan gereja di dunia ini? Dan dalam mengerjakan tugas dan panggilannya itu, bagaimana pula gereja harus mengorganisir atau memanajemeni dirinya?

    Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas tentu sudah ada sejak jaman gereja mula-mula. Tapi di tengah dunia yang berubah dengan pesat ini, tidak ada salahnya kalau pertanyaan-pertanyaan tersebut senantiasa dimunculkan kembali. Dan saya rasa itu jugalah yang dilakukan oleh para reformator seperti Luther, Calvin dsb

    Pertanyaan-pertanyaan di atas juga perlu senantiasa dimunculkan karena sudah menjadi fakta bahwa setiap organisasi (organisiasi apa pun itu) selalu berkecenderungan untuk menjadi semakin besar, semakin ruwet dan semakin sibuk untuk mengurusi dirinya sendri. Dan hal itu terutama sangat mungkin terjadi karena manusia yang menjalankan roda organisasi memang selalu punya kecenderungan untuk semakin berkuasa dan semakin dihormati.

    Di dalam organisasi militer (yang paling punya kecenderungan untuk semakin besar dan ruwet) pun pertanyaan seperti di atas acapkali dimunculkan.

    Kita tentu masih ingat bahwa pasukan elit kita yang bernama Kopasus itu dulunya adalah sebuah resimen yang dipimpin oleh seorang kolonel. Tapi kemudian dia berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah divisi yang harus dipimpin oleh seorang mayor jenderal.

    Lalu timbullah diskusi di kalangan militer: Apakah sebenarnya pasukan elit itu? Apa tugas-tugasnya? Berdasarkan diskusi tersebut maka pimpinan TNI-AD kembali mereorganisasi Kopasus menjadi sebuah resimen.

    Pendeta juga adalah manusia yang juga sangat menyukai kekuasaan dan kehormatan.Kalau mereka dibiarkan untuk mengurusi sendiri sebuah organisasi, mereka juga punya kecenderungan (seperti Mayjen Prabowo Subianto semasa menjadi Danjen Kopasus) untuk membuat organisasi menjadi semakin besar, semakin ruwet dan semakin tak efisien. Apalagi (menurut pengamatan saya) pendeta juga suka sekali mengurusi hal-hal yang bukan bidangnya. Di banyak organisasi gereja saya sering melihat pendeta yang selalu berbicara tentang hukum, keuangan, manajemen dsb.
    tapi nyaris tak pernah berbicara tentang doa, meditasi, percakapan pastoral dsb.

    Kalau kita mau mengajukan ulang pertanyaan-pertanyaan tentang hakekat dan tugas panggilan gereja di dunia–terutama di Indonesia–yang sedang mengalami perubahan pesat ini, barangkali akan banyak sekali pikiran baru yang kita peroleh:

    -Barangkali sebagian dari tugas yang selama ini dikerjakan oleh pendeta bisa diberikan kepada kaum awam.

    -Barangkali sebagian dari beban pekerjaan Kantor Pusat bisa dibagi dan disebar kepada distrik, resort atau jemaat.

    -Barangkali sebagian dari beban pekerjaan Kantor Pusat bisa dibagi kepada berbagai yayasan dan lembaga yang ada.

    -Barangkali para pendeta akan punya lebih banyak waktu untuk mengurusi hal-hal yang memang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

    -Barangkali (karena gereja itu adalah sebuah organisasi spiritual) Ephorus bisa lebih banyak diam di kantornya di Pearaja; menerima tamu, melakukan percakapan pastoral, berpikir, merenung, menulis dan menyebarkan pesannya kepada umat, dan mengisi waktu luangnya dengan terus-menerus berdoa.

    -Barangkali otak yang mengatur dasar moral dan etika, serta jantung yang
    memompa darah spiritualitas kepada seantero organisasi gereja, sampai kepada “anggota lepas anggota”, biarlah tetap berada di Pearaja, sementara ginjal, paru-paru, usus dsb biarlah tersebar di berbagai yayasan, lembaga dan (bahkan) pribadi-pribadi warga gereja di manapun mereka berada. (Dus, bukan hanya di Jakarta).

    -Barangkali Kantor Pusat (dalam pemahaman yang baru tentang hakekat, tugas dan panggilan HKBP) memang tak perlu pindah ke Jakarta

    Itulah beberapa catatan saya tentang isyu pemindahan Kantor Pusat dari Pearaja ke Jakarta.

  41. Salngam Says:

    Menurut hemat saya,
    1. Biarlah kantor pusat tetap di Tarutung ai ido pusok ni umat HKBP (agar semua umat tau dimana pusoknya) dan siapa suatu ketika terjadi balkanisasi di Indonesia ini, serta kemungkinan Ibukota Negara juga tidak lagi di Jakarta.
    2. Solusi mendekatkan Ephorus ke pusat kekuasaan bolehlah dibangun Kantor Penghubung (Liasson Office) di Jakarta terpisah dari Kantor Distrik.
    3. Perlu juga diingat membuat pusat HKBP di Jakarta dengan harga tanah yang mahal saya kira butuh pemikiran matang.
    Tuhan memberkati HKBP

  42. jpsimangunsong Says:

    Saya Pro dengan Amang Mula Harahap, apa sebenarnya tugas gereja yang ada di dunia ini ? Kalau tak salah untuk mengembala umatnya agar selalu taat,percaya, kuat menghadapi penderitaan dan selalu berpengharapan akan harapan diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus tentang kerajaanNya. Jadi masalah tempat Kantor Pusat HKBP tidak ada pengaruhnya untuk membawa umat itu ke Kerajaannya

    Daniel Harahap:
    Memang lokasi Kantor Pusat tak berpengaruh membawa ke sorga, tetapi berpengaruh kepada pembangunan sistem dan struktur gereja.

  43. S. Marihot Hutahayan Says:

    Masalah lokasi kantor pusat tidaklah terlalu terkait dengan sejarah masa lalu, sejarah toh akan terus terbentuk lebih baru. Pengembangan dan strategi pelayanan yang lebih termudahkan, itulah yang akan menjadi dasar pindah tidaknya suatu kantor pusat, di luar alasan ‘darurat’. Tersebar dimana mayoritas jemaat HKBP saat ini dan ke depan? Jenis pelayanan seperti apa yang paling banyak dilakukan para pimpinan HKBP saat ini dan ke depan? Masalah-masalah ril seperti apa yang sedang adan akan dihadapi HKBP? Ketersediaan fasilitas IT dan transportasi seperti apa yang dibutuhkan saat ini? Sehingga saya pribadi lebih melihat Jakarta atau Medan yang paling berdayaguna menjadi Kantor Pusat HKBP saat ini.

  44. Jansen H. Sinamo Says:

    Hidup semakin beragam dan kompleks [diversity n complexity] itu sudah menjadi karakter dasarnya baik di tingkat biologi, bahasa, keilmuan, sosial, dan organisasi, termasuk gereja. Artinya hakikat perubahan memang begitulah: semakin beragam dan kompleks.

    Apakah menjadi lebih baik juga? Belum tentu. Bisa malah kolaps sesudah mencapai titik kritisnya. Di sinilah penjernihan pikiran — seperti diusulkan Amang Mula — harus dilakukan dulu secara rigor dan seksama.

    Sejarah perubahan akhirnya punya maksimnya yang tersohor: kesintasan penyesuai [survival of the fittest] — buat saya berarti: sintas bila sesuai dengan tuntutan efisiensi dan tuntutan efektivitas dalam mencapai misi, visi, dan ambisi gereja itu sendiri.

    Dan dugaan saya masih tetap: di Jakarta HKBP akan berkantor pusat.

  45. Parbatamsenter Says:

    Kantor pusat biarlah tetap di Pearaja, dan Ephorus janganlah terlalu sering keluar dari Pearaja. Kalau mau melantik Praeses, cukuplah di Pearaja saja sekaligus semua praeses-praeses. Bila perlu jabatan Ephorus dan Praeses itu sepuluh tahun, diharapkan program pelayanannya bisa maksimal. Idealnya Praeses itu mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai pimpinan HKBP di distriknya, setara dengan pimpinan-pimpinan yang lain di daerahnya, seperti gubernur, pangdam, kajati, Ketua PT, kapolda, tentunya dengan dukungan jemaat, harus percaya diri. Mengadakan pendekatan-pendekatan, menarik simpati, menjalin hubungan silaturahmi. Praeses diberikan wewenang yang lebih luas lagi. Sejalan dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, akan terlihat, distrik mana yang lebih maju. Kantor pusat tinggal membuat program DMD (distrik mangurupi distrik) atau subsidi silang yang dipakai Roman Chatolic.

  46. rjh Says:

    @ dta
    - ndang apala na sai pintor satuju iba di pamingkirion i. na mangalusi do ahu di angka pandapot i marhite angka naung hea masa, dohot manguji mamereng tu jolo beha ma tutu molo saut songon i. tardia ma na dapot hita na ummuli molo songon i, jala tarbeha muse molo hot di Pearaja.

  47. Palubis Says:

    Horas Amang maaf ini saya termasuk orang yang tidak setuju Kantor PUSAT HKBP dipindahkan ke Jakarta berikut alasannya:

    Pertama: Jakarta adalah ibukota negara dan pusat pemerintahan serta perekonomian
    ini bukan alasan yang baik menurut saya dan tidak mendasar. Memang orang Batak banyak di jakarta, SDM2 terbaik banyak di Jakarta baik yang berpendidikan, dan berpenghasilan. Namun jumlah masyarakat Batak Jemaat HKBP di Jakarta apakah lebih banyak dari yang di Bona Pasogit? terus terang kehadiran Kantor Pusat HKBP di Tapanuli lebih dibutuhkan Kehadirannya disana ketimbang di Jakarta. apa kata orang di kampung kira2 nanti, yang pintar pindah ke Jakarta, anakku pindah ke Jakarta, sekarang HKBP pun pindah ke Jakarta. maaf saya masih melihat Kantor Pusat HKBP masih dibutuhkan disana bukan di Jakarta. Kehadirannya merupakan simbol peneguhan orang Toba (suka ato tidak suka) saya seorang Batak warga Jakarta terus terang tidak membutuhkan Kantor Pusat HKBP disini. kehadiran fisik Ephorus pada event2 nasional seperti yang amang sampaikan bukan alasan untuk memindahkan Kantor pusat ke Jakarta. apakah ada pengaruh yang besar pada pelayanan HKBP dengan hadirnya Ephorus pada event2 nasional tersebut???

    Pemindahan Kantor Pusat juga akan menegaskan sentimen yang ada selama ini di naposobulung bahwa pendeta HKBP lebih SENANG MELAYANI di JAKARTA. kebayang kan pendeta yang nggak ditugaskan di Jakarta akan merasa terbuang??? semua pendeta akan berebut menjadi pegawai KANTOR PUSAT HKBP JAKARTA,ato jangan2 amang melempar crita ini agar bisa berkarya terus hanya di JAKARTA sampai pensiun nanti?

    Kedua: potensi HKBP sebagian besar di Jakarta. ini jelas berorientasi dana. Kantor pusat masih di Tapanuli saja HKBP tidak mampu memberi kontribusi yang baik,apalagi di Jakarta. apakah dengan dana yang banyak di Jakarta bantuan dana akan mengalir ke tapanuli??? hehehe maaf amang tidak akan terjadi, yang merantau saja jarang mengirim uang ke orangtua di kampung halaman, apalagi pake embel2 HKBP, dana tetap tidak akan mengalir…kecuali dari pejabat2 Batak Koruptor yang cari nama dan pengampunan, kalo itu yang amang dambakan ya pindahkan saja kantor pusat itu…

    Ketiga :perampingan dan efisiensi: belajar lagi manajemen amang, semua urusan tidak perlu dengan kehadiran EPHORUS. emang tiap hari EPHORUS itu pergi dinas keluar? apa gunanya Praeses? apakah perlu EPHORUS dateng menabalkan Praeses? menurut saya praeses2 baru itu dilantik di Tarutung serentak, jadi ga makan biaya yang membebani jemaat yang dikunjunginya. saya liat kehadian ephorus selama ini tidak menghasilkan apa2, beda ama Nommensen.

    Keempat: Orientasi Masa Depan
    apakah dengan tidak memindahkan Kantor Pusat tidak bisa berorientasi masa depan? orientasi masa depan apakah yang HKBP dambakan sampai harus memindahkan Kantor Pusat di Jakarta? agar bisa dapat menentukan arah politik? hhehehe agar bisa menarik pulang jemaatnya di California? (berapa sih jumlah jemaat yang di luar tapanuli amang?)

    maap amang saya rasa Bona Pasogit yang membutuhkan kantor pusat, bukan Jakarta. Bona Pasogit akan merasa semakin ditinggalkan apabila kantor pusat HKBP dipindahkan ke Jakarta. masyarakat Batak itu paling banyak masih di Tapanuli amang, jadi pelayanan ya mesti berPUSAT di Tapanuli bukan di Jakarta. amang mungkin menyanggah bahwa KANTOR PUSAT HKBP itu bukan tugu ya memang, tapi bukan juga KENDARAAN POLITIK para pendeta2. percayalah akan makin banyak pendeta BEREBUTAN MINTA GAWE DI JAKARTA.

    MOLIATE GODANG
    HORAS HKBP

  48. r.h. sibuea Says:

    HORASSSSSSS!

    Sengit perdebatan pindah atau tidaknya KP HKBP ke luar Tarutung…itu artinya bahwa kita masih peduli dengan HKBP bukan seperti masyarakat Indonesia yang mulai apatis kepada pemerintahnya!

    Bagi saya pindah atau tidak sebaiknya kita serahkan kepada pimpinan yang tinggal dan bekerja disanalah! Dalam pelayanan modern faktor efisiensi dan efektivitas menjadi hal yang mengubah baik misi/visi maupun rencana strategis jangka panjang dan jangka pendek.

    HKBP adalah lembaga service, “pelayanan alkitabiah” adalah produk-jasanya dan masyarakat batak yang beriman adalah “goal settingnya” oleh karena itu efisiensi dan efektivitasnya KP akan menentukan apa dan bagaimana pelayanan itu dilakukan.

    Kita bisa mengatakan “hal sentimentil”, hubungan sejarahlah, historislah, ke “batakan” lah dan sebagainya tapi ingat produk dan kualitasnya harus tetap di jaga mutunya bahkan ditingkatkan!

    Jika menurut pemimpin HKBP dengan tetap di Pearaja sulit untuk mencapai pelayanan dan “goal setting” yang di amanatkan dalan Sinode? Kenapa harus “haram” hukumnya pindah? Kenapa langsung berpikiran negatif?

    Menjawab sentimentil hubungan historis/sejarah:
    Apa bedanya rumah tinggal saya masa kecil dulu dibona pasogit kini tidak berpenghuni dan dibuatkan plakat “rumah parsaktian” karena anak-anaknya sudah merantau ke pejuruh tanah air? dan saya dan saudara saya memindahkan “pertemuan keluarga” di Jakarta?

    Menjawab kedekatan HKBP dengan halak kita yang miskin:
    Bukan tugas utama gereja! Tapi tugas pribadi warga HKBP dan lainnya dan melalui “pelayanan alkitabiah” maka kita jadi dimampukan untuk mengasihi orang lain dan menolong mereka!

    Akan mendekatkan dengan kekuasaan politik, uang dan kejahatan lainnya:
    Disinilah keuggulan Iblis dari pada manusia, perbedaan pemikiran dua atau lebih orang yang berserikat akan dimanfaatkannya! Coba kalau hanya satu manusia yang tinggal di dunia, tak ada cemburu, tidak ada kecurangan, tidak ada intrik, tidak ada prasangka buruk, ketamakan dan lainnya. Demikian kehidupan sekarang, apakah jika KP tetap di Pearaja maka KP bebas dari korupsi, intrik politik dan sebagainya? Siapa yang tahu jaman orde baru, HKBP pecah karena intrik politik berskala nasional sudah dimainkan di Pearaja Tarutung?

    Efisiensi dan High Economic Cost!
    Bayangkan pendeta resort Irian Jaya (Jaya Pura ) jika mengikuti Sinode di Pearaja, rata-rata harus menghabiskan 30 juta, jika wakilnya 3 orang artinya 90 Juta, berapa minggu melalui kantong persembahan di HKBP Serpong 90 juta terkumpul? High Cost !!! Belum lagi berapa lama mereka harus meninggalkan jemaat? mau dalam sebulan hanya di Jamitai Sintua?

    Bapak/Ibu: Pindah HKBP artinya mendudukkan meja dan kursi pimpinan, bukan menganti nama HKBP…walaupun di Jakarta HKBP. Warga HKBP Amerika nggak mungkin lupa asal HKBP tetap dari Tarutung!

    HORAS…GBU!

  49. D.A. Pandjaitan Says:

    Setelah membaca 4 alasan pemindahan, aku setuju kalo kantor pusat dipindah ke Jakarta. Jakarta sebagai lokasi strategis bagi HKBP yg berusia hampir 150 tahun untuk mengembangkan diri (struktur dan sistem) HKBP sendiri sehingga dapat meningkatkan pelayanan di seluruh gereja HKBP, dan mudah2an menjadi lebih diperhitungkan dalam kehidupan bernegara (bukan berpolitik praktis lho). Semoga..:)

  50. Friska pardede Says:

    Setelah pendapat ni angka dongan godang baru pe barani ma iba mandok hata, apalagi pandapot ni amanta Sibuea pas hian huhilala. Songon jabu parsaktian nabiasa di halak hita tutu ujung2na gabe tarulang do ai soadong be na olo angka ianangkonna tinggal disi( tentunya agar lebih maju) bukan bararti kita akan lupa dgn sejarah nenek moyang kita, apalagi sejarah HKBP.

  51. rozald Says:

    Menurut saya apa yang diusulkan pak pendeta itu amat baik. Progresif. Namun dengan membawa kata ‘batak’ pada HKBP, terlihat agak kurang pas ide tsb jadinya. Kecuali ‘B’ pada HKBP tsb dihilangkan menjadi HKP (saya serius), atau berubah nama sekalian. Mungkin kelihatannya terlalunaif, tapi itulah kenyataannya.
    Harus dicari jalan tengahnya (?), karena semua pendapat yang masuk bagus-bagus.

  52. esra nababan Says:

    kalau seumpamanya jadi pindah..kira2 beginilah bunyi tingting di gareja: Pinabotohon tu sude ruas ni huria, nungga pindah kantor Pusat HKBP sian Pearaja - Tarutung tu Jl. Sudirman/Gatot Subroto/Mh.Thamrin/Medan Merdeka/Sisingamangaraja/dll Jakarta. tatangiangkon ma asa lam maju HKBP tu joloan ni ari on

  53. Erpesim Says:

    Sebagai Organisasi Pelayanan,maka HKBP HARUS memperoleh akses dan fasilitas terbaik yang bisa diperolehnya untuk melayani jemaatnya.Akses dan fasilitas adalah sarana dan bukan tujuan.Jakarta sbg Pusat kekuasaan dan juga sekaligus “pusat” kebudayaan bangsa ini,dmn kita orang batak pasti tersosialisasi didalamnya.Untuk ukuran Indonesia,maka Akses dan fasilitas ada di Jakarta.Disisi lain,sbg Organisasi HKBP mutlak perlu POWER,spt Uang,Pena,Jabatan dan Senjata.Akses,Fasilitas dan sumber POWER itu ada di Jakarta.Sejujur-jujurnya sebagai Organisasi Pelayanan Masyarakat di Bangsa ini,HKBP tidak mungkin lepas dan bebas dari denyut nadi pembangunan di Jakarta.HKBP harus “in” spt domba ditengah-tengah kawanan serigala.Tapi HKBP tidak akan pernah takut atau gentar karena Dia adalah Gerejanya Tuhan.Jika kita mau rasionil dan positif thinking,ide Tuan Rumah (Amang DTA ) ini harus kita perkaya dengan hal2 positif dan konstruktif.Hira dang suman jika kita tanggapi negatif apalagi ada yang terjebak jadi sinisme-personal atau melankolis tak berdaya bahkan arogan scr rohani.Amang DTA salut utk idenya dan juga respon2 yg elegan atas comment para tamu Rumah Metmet ini.HKBP lam tu majuna.

  54. Gabarel Sinaga Says:

    Ide memindahkan kantor Pusat HKBP dari Tarutung, memang sudah lama terdengar. Perlu kita diskusikan gagasan ini dengan seksama. Menurut saya COCOK dengan berbagai argumen demi masa depan HKBP yang lebih baik. Jikalau pindah ke Jakarta , nantinya banyak yang dihadapi berupa tantangan. Ai anggo dang, olo do HKBP “MODOM” , RENGES…torus jala “MARUKKOR”….. b’canda..

    Setiap warga memang merindukan “Perubahan” di HKBP ke arah yang lebih baik. Untuk itulah dengan berbagai pertimbangan memang cocok itu kantor pusat dipindahkan ke Jakarta agar Pimpinan HKBP lebih Semangat dan punya Mitra langsung yang lebih tinggi, sehingga berani menyuarakan masalah2 umat seperti masalah sosial kemasyarakatan, dll. Menurut hemat saya, dalam pelayanan ini perlu mitra tanding yang lebih, agar tidak hanya Bupati Taput mitra (ehh. maaf..)
    Ini saya katakan karena saya warga HKBP yang rindu agar pelayanan HKBP baik (agar naik kelasnya….) Karena Ironis… HKBP, Gareja naboloni alai holan bolon…aha do tahe???

    Selama ini tidak salah kalau saya katakan HKBP kurang berdampak dengan sekitarnya/lingkungannya. Hal lain, agar Pimpinannyapun agar tidak hanya jago kandang.. Dan banyak lagi…. Jadi unang pintor mabiar.. hita. Biasanya orang Batak cepatnya menerima/ melakukan perubahan.
    Kita sudah harus melupakan/menghapuskan bahwa di HKBP takut nanti begini… takut pecah..takut.. dll, takut terus dan akhirnya sangat jauh mundur. Misalnya lembaga NHKBP jangan maju, takut beginilah…… Akhirnya lahirlah Pimpinan HKBP yang syukur2 selevel dengan Bupati molo ditoruna beha nama i… I ma jolo….ate di angka dongan sa haporseaon/sa huria. Unang hamu mabiar….(hata ni Tuhan i do i)

  55. nalom(RN) Says:

    Diama mungkin lapoon ndang rame, ai parlapoon holan na mambahen “ide-ide gila” do. Asalma tambul dohot tuakna ndang habis asa niarahaon angka dongan minum dohot markombur di lapoon. Selamat Amang…dari hari-ke hari kian ramai aja pengunjungnya. Untuk topik ini, holan mambege-bege ma jo au……

  56. robert sibarani Says:

    Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya., Saya yakin pernyataan ini masih jelas di ingatan kita, hendaknya pernytaan ini juga masih bisa kita pegang sebagai dasar untuk mempertahan kan eksistensi kantor Pusat HKBP di Tarutung. Tanpa harus pindah ke Jakarta pun , saya kira tidak menjadi penghalang bagi perkembangan HKBP itu sendirii, baik dari sisi pelayanannya, dari sisi perkembangan informasi, sebab semua faktor pendukung saat ini sudah ada.

    Bahkan dengan status HKBP yang sdh mengglobal saat inipun , saya rasa bukan suatu alasan untuk memindahkan Kantor Pusanya ke Jakarta.
    Banggalah kita dengan Bonapasogit kita, Banggalah kita dengaa tanah kelahiran kita. Belum lagi berbicara dari sisi biayanya , berapa banyak biaya yang harus kita keluarkan, belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk sosialisasi , belum lagi kepastiamn perijinan yang ada sekarang ini, minta ijin bangun gereja aja susah di Jakarta ini, apalagi yang namanya Kantor Pusat HKBP. Kalo boleh sumbangn saran , kantor HKBP biarlah tetap di Tarutung, tapi pembenahan di tubuh HKBP itu sendiri yang harus dilakukan secara baik dan benar. Coba kalo kita lihat sekarang yang namanya Rotasi penempatan Tugas pendeta aja masih banyak mengundang kontra…
    Apalagi nanti kalo kantor Pusat ditetapkan di Jakarata, jangan jangan para pendeta kita ini tidak adala lagi yang mau ditempatkan di kampung / Bonapasogit, kecuali Pendeta 2x yang baru dapat Tohonan.

    Menunjukkan eksistensi kita tidak harus pindah ke Jakarta Toh?, dulu ingat Siapa yang tidak kenala yang mnamanya “DANAU TOBA” dan hampir seluruh belahan bumi ini pada masa jaya nya melancong ke sana, Tapi seiring dengan semakui majunya jaman , Nama Danau Toba sdh semakin surut. bahkan sudah tidak terdengar lagi gaungnya. Ini karena apa ?…..faktor Sumber daya sangat berpengaruh sekali.

    nah demikian juga dengan HKBP kita ini, benahi dululah …Sumber daya yang sudah ada sehingg bisa memberikan kontribusi yang benar benar membrikan nilai lebih terhadap jemaaat dan juga lingkungan sekitarnya.

    HKBP adalah salah satu lembaga yang telah lama berpartisipasi dalam membangun tanah batak, dan masih diperlukan keberadaanya disana, dan akan diperlukan terus. dan biarlah dia tetap sebagi Tuan Rumah di Tanah sendiri.

    Daniel Harahap:
    Tole ma. Bahen ma hamu torus HKBP holan gabe sijaga tambak ni ompung dohot huta na tarulang ala naung ditinggalhon hamu i. :-)

  57. tanobato Says:

    Baguslah masih ada di HKBP yang berfikir a la “thinking out of the box”. Teruslah datang dengan ide-ide brilian dan rada “gila” dikit. Aku suka itu. Persiapkan saja segala sesuatunya dengan matang. Dengan tulus hati, bukan dengan agenda tersembunyi. Kepala Gereja pasti memutuskan yang terbaik. Pun kalau Pemimpin HKBP (Eforus and the gang …) akan sampai pada kesimpulan pemindahan kantor pusat, namun kalau Beliau tidak berkenan, harap bersabarlah sampai HKBP mempunyai Pemimpin yang punya kualifikasi untuk berdiam di Jakarta.

    Jarak bukan menjadi penyebab utama terjadi kasus-kasus pelecehan HKBP seperti yang dialami saat ini di Cinere, tapi kompetensi pemimpin HKBP belum sekaliber orang yang seharusnya mengelola wilayah yang sesuai dengan tingkatan jabatan yang disandangnya (apalagi kalau jabatan yang diemban sekarang bukanlah didapat secara benar …). Selama ber-HKBP, yang aku lihat memang pemimpin HKBP (hampir pada semua tingkat) tidak punya kemampuan yang memadai untuk menangani isu-isu seputar kehidupan gereja. Apalagi berhadapan dengan pejabat pemerintah, mentalnya langsung ciut, karena tidak punya posisi tawar yang memadai. Kebanyakan adalah jago kandang (ma’af, ma’af, ma’af …)

    Aku bangga jadi warga HKBP sehingga harus berani sabar menunggu datangnya sang pemimpin sejati yang dihasilkan Sinode Godang yang diperkenan oleh Kepala Gereja. Kesadaran seperti ini yang seringkali aku sampaikan kepada beberapa orang kawan yang sering memrihantinkan situasi dan kondisi pemimpin HKBP yang masih “jauh panggang dari api”.

    Horas jala gabe, beta tapadenggan hakabepe!

  58. Daniel Says:

    Sebagai perbandingan mungkin bisa dilihat juga bagaimana Gereja Ortodoks tidak memindahkan pusatnya dari Istanbul (Byzantine) walau umatnya di daerah itu sangat sedikit sekali.

    Atau bagaimana Gereja Anglikan tidak memindahkan pusatnya dari Canterbury ke London.

  59. A.K.P. Panggabean Says:

    Dengan pindahnya kantor pusat HKBP ke Jakarta apakah masalah pengurusan atau pencabutan IMB gereja oleh walikota bisa lancar jika pucuk pimpinan turun tangan mengatasinya?

  60. RT Says:

    sekiranya gereja termasuk HKBP selalu melakukan “fungsi kontrol” dan “pengawasan” agar roda pemerintahan, perekonomian dan segala atfitas dari pusat jakarta dapat berjalan dengan baik, sesuai yang diharapkan dan tidak berlawanan terhadap kehendak Tuhan sebagaimana diyakini HKBP, justru lebih baik dan lebih leuasa HKBP menyampaikan suara kenabiannya dari Pearaja Tarutung. Kalau soal kedekatan fisik untuk menyelesaikan masalah di Tapanuli Utara saja yang setiap jam bisa ketemu, kalau yang namanya masalah belum tentu terus dapat diselesaikan. Dan bila desa dan kecamatan di mana tinggal pimpinan dapat mempengaruhi, apalagi tinggal di kota besar dan metropolitan pasti lebih besar dapat mempengaruhi, bukan saja untuk kebaikan hkbp, tetapi bisa saja sebaliknya “mempengaruhi dengan mudah untuk merusak hkbp melalui pimpinannya”, alangkah kemungkinan yang terakhir ini sulit terjadi bila tetap pimpinannya di pearaja tarutung. Memang dari jakarta, apalagi salah satu ressort di jakarta sulit melihat dan mengetahui informasi mengenai seluruh jemaat/gereja, ressort dan distrik hkbp. kalau sudah di Pearaja tarurung pasti lebih mudah. Sekiranya pengasuh “ruma metmet” ini tinggal di pearaja tarutung, pasti lebih cepat mengendalikan seluruh informasi dan visi misi hkbp ke semua jemaat dan daerah, karena cakupannta sama sebagaimana istana presiden ri mengatahui situasi keadaan daerah ri sampai pelosoknya ri, demikian juga dari pearaja tarutung mudah melihat dan mengenai dan mengetahui semua jemaat hkbp. karena arah informasi dan data dari setiap jemaat, ressort, distrik adalah ke pusat hkbp.
    Itu saja pemikiran saya pribadi setelah membaca “nonang-nonang” ini semuanya. Bagaimana kantor pusatnya hkbp difungsikan dengan baik seperti kantor pusatnya (istananya) ri, barangkali itu yang paling perlu dan dibutuhkan. tarsingotna ma i …. horas ma …

  61. jeremy Says:

    saya dengar sendiri dari pendeta-pendeta… mereka bilang gak efektif loh di Tarutung… Medan atau Jakarta itu idea yang terlontar dari pendeta-pendeta HKBP yang saya tanya… Mereka merasakan 12-15 jam terbuang sia-sia di jalan yang sempit antara Polonia sampai Tarutung (kecuali seperti saya bilang kalau ada Federal Highway bertingkat 3 mungkin akan hanya 2 jam) he he he he….. Jadi??????

  62. S. Marihot Hutahayan Says:

    Betapa stratejiknya Jakarta sekitarnya sebagai “lokomotif” pertumbuhkembangan HKBP ke depan, terlihat dengan bermukimnya 3 orang Pareses di wilayah ini. Persoalan keberadaan dan pertumbuhkembangan HKBP sebagai organisasi ke masa depan akan lebih mudah dikelola dari Jakarta, daripada di Pearaja. Kompleksitas persoalan sebagai akibat ‘marserak’ yang mulai dihadapi HKBP dan ‘terpencar’ dari pusat-pusat kota, seperti Jakarta, akan semakin terasa ‘ruwet’ di masa depan. Sehingga akan jauh lebih efisien sekaligus efektif jika para pemimpin HKBP bermukim di wilayah ‘persinggungan’, Jabodetabek! Pengelolaan dari Jakarta lebih memudahkan bagi hampir semua organisasi bisnis dan sosial, dan saya yakin HKBP juga akan merasakan kemudahan yang sama. Kalau memang bisa menjadi lebih mudah, kenapa masih harus terpaku dengan hal yang lebih sulit?

  63. t.m.sihombing Says:

    Seru kalilah wacana perpindahan HKBP pearajaon ate !

    Perlu dipertanyakan lagi latar belakang wacana perpindahan ini, apakah Ephorus dan pimpinan departemen, para pendeta lainnya tidak ingin berkantor di Pearaja ? ataukah si humisik untuk kesejahteraan yang selalu kurang ? Sistim imformatikah yang kurang memadai ? kalau dibilang supaya dekat dengan pusat pemerintahan ? Kalau itu yang menjadi alasan , bisah kita lakukan : perbaikan bangunan, perbaikan informatika, tingkatkan kesejahteraan, binalah hubungan ke tingkat propinsi / nasional melalui perangkat SDM yang berkualitas. kabar yang dapat kita peroleh bahwa kantor pusat dapat berhubungan dengan baik baru tahap tingkat BUPATI yang ada sebagian di Tapanuli, hubungan baik dengan BUPATI itu banyak berkaitan karena keluarga atau dongan tubu.

    Sebetulnya kita mempunyai fasilitas : Percetakan, Rumah Sakit, Pendidikan, mari kita tingkatkan fasilitas seperti ini untuk tujuan penggalangan DANA sehingga akan mampu mengurus Gereja yang tidak mampu,dsb. Bisakah rumametmet ini menjelaskan apa aktifitas fasilitas ini dan kemana uangnya ? Perpindahan HKBP Pusat Pearaja ke Jakarta bolehlah angan2 dulu dan kalau harus pindah kenapa tidak dipikirkan ke Pematang Siantar atau Balige? Tentang rapat besar yang dihadiri oleh para pendeta bisa saja dilaksanakan di Medan , Pematang siantar, Jakarta atau kota lainnya dan para pendeta utusan resort ataupun pagaran telah dibiayai oleh gereja HKBP yang bersangkutan. Memang pendeta dari Pearaja Tarutung akan memakan waktu yang lama melakukan perjalanan dinas ke suatu daerah HKBP, akan tetapi bagaimana pula para pendeta yang datang ke pearaja Tarutung tentu memakan waktu yang lama juga.

    Daniel Harahap:
    Ide pemindahan Kantor Pusat ini adalah ide saya pribadi dan setahu saya selama sepuluh tahun terakhir tidak pernah dibicarakan lagi di forum resmi HKBP. Pimpinan yang sekarang atau mendatang belum tentu juga setuju. Saya cuma mau mengatakan kepada semua par-Jakarta (juga par-Bandung, par-Lampung, par-Batam, dohot par-Riau dna): Nunga dison hamu sude, na gabe sijaga tambak do dietong hamu kantor pusat i? :-)

  64. Luhut Says:

    Dari komentar-komentar yang ada, saya melihat bahwa topik ini adalah topik yang sangat hangat, panas bahkan sensitif.

    Dari 62 komentar di atas:
    Setuju : 13 coment (21 %)
    Tidak setuju : 35 coment (56 %)
    Tidak memihak : 10 coment (16 %)
    Tidak jelas : 4 coment (7 %)

    Dari persentase komentar di atas, kira-kira apa yang akan terjadi seandainya dalam waktu dekat KP HKBP dipindahkan ke Jakarta…?

    Daniel Harahap:
    Dimana-mana agen perubahan memang sekitar 10%. :-)

  65. AHG Says:

    Ate par-jakarta, ala naung di jakarta hita, las gabe papindaotta na ma KP HKBP tu Jakarta? Egois kali kita.
    Saya setuju pendapat tanotabo : Jarak bukan menjadi penyebab yang utama, tp kompetensi pimpinan2 HKBP.

  66. Abed Says:

    Horas HKBP,
    semoga semakin bersatu dan saling mengasihi, dimanapun letak KP HKBP ditempatkan.
    beda pendapat boleh tapi jangan jadi parbadaan. ( jangan sampai terulang lagi )

  67. eric arac Says:

    Kantor Pusat HKBP perlu pindah atau tidak, ke Jakarta atau tempat lain, sangat tergantung kepada dasar berpikir/alasan dan tujuannya.
    Seperti yang dikatakan sdr. S.Marihot Hutahayan, jenis pelayanan seperti apa yang akan dilakukan oleh pimpinan HKBP ke depan.

    Apakah pelayanan yang lebih pragmatis dan sekuler, dimana sebuah kegiatan gereja dianggap bukan lagi pelayanan tetapi menjadi program yang dinilai dengan kata ’sukses’? Ironinya pengertian sukses tergantung pada jumlah dana yang dihasilkan seperti yang banyak dilakukan oleh gereja-gereja HKBP di Jakarta sekarang ini. Kalau demikian Kantor Pusat bagusnya pindah ke Jakarta.

    Kalau jemaat HKBP masih sependapat bahwa HKBP adalah organisasi Spiritual (yang tidak bisa diperbandingkan dengan organinasi Politik, Massa, Pemerintahan atau Militer), maka sebaiknya seperti yang dikatakan sdr. Mula Harahap. Ephorus lebih banyak berdiam di kantornya
    menerima tamu, melakukan percakapan pastoral, berpikir, merenung, banyak berdoa, menulis dan menyampaikan pesannya kepada Jemaat. Pekerjaan lain didelegasikan kepada Preases/Pendeta dan lembaga-lembaga atau yayasan-yasasan dibawah naungan HKBP. Kalau demikian
    Kantor Pusat tidak harus pindah.

    Potensi HKBP sebagian besar di Jakarta? Kita lihat SDM.
    Dari sudut kwantitas/jumlah anggota jemaat, tidak. Anggota jemaat HKBP di Jabodetabek tidak sampai 15 % dari seluruh Jemaat HKBP.
    Dari sudut kwalitas, SDM berkwalitas banyak di Jakarta, ya. Tapi yang anggota HKBP dan memberi perhatian tanpa pamrih untuk kebaikan HKBP? Mohon maaf, termasuk para Pendeta dan Sintuanya, jauh lebih banyak dan potensial di luar kota Jakarta, seperti Medan, Palembang, Pekanbaru, Riau, Surabaya dll.
    Dari sudut dana.
    Di Jabodetabek banyak jemaat HKBP yang berkecukupan, punya banyak sumber dana, kaya dan mau menyumbang. Benar, sangat banyak.
    Tapi, dimanakah Gereja HKBP yang membuat rencana pelayanannya dalam satu tahun dengan anggaran biaya paling besar, sampai ratusan juta rupiah? Bukan di Jabodetabek. Gereja HKBP itu merencanakan pelayanannya dan berjalan baik dengan mengandalkan jemaatnya sendiri. Gereja HKBP itu ada di Distrik XV Riau.

    Sangatlah patut untuk kita renungkan kalimat bijak yang disampaikan amang @ rjh
    molo tahaburjuhon ulaon i jala tahabiari Debata mangulahon i, marture doi jala marune.
    Seperti Hana yang selalu berdoa kepada Tuhan meminta berkat melalui anak, kitapun berdoa kepada Tuhan, agar Tuhan selalu memberkati Pimpinan dan Jemaat HKBP, di manapun Kantor Pusatnya.

  68. robert sibarani Says:

    Daniel Harahap:
    Tole ma. Bahen ma hamu torus HKBP holan gabe sijaga tambak ni ompung dohot huta na tarulang ala naung ditinggalhon hamu i,

    Bah boasa gabe songoni alus muna Amang, gabe si jaga tambak ninna hamu HKBP i, tidak ada hubungan nya sama sekali, justru itulah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh HKBP itu sendiri, Bagaimana kita bisa berkembang kalau rasa pesimis sdh menghantui pikiran kita.

    Kalo menurut saya amang, untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk pemindahan kantor pusat HKBP ke Jakarta. Masih banyak persoalan persoalan HKBP yang belum tuntas, yang lebih membutuhkan perhatian, itu aja dulu diselesaikan bagaimana supaya pada saat HKBP itu mau membangun suatu gereja itu tidak dipersulit IMBnya kemudian , bagaimana supaya seluruh ruas bisa menikmati ibadahnya dengan tenang tanpa adanya gontok gontokan di intern HKBP itu sendiri. kemudian tunjukkan dulu kwalitas pelayanan HKBP terhadap sekeliling nya dan ruasnya se optimal mungkin.

    Tanpa dipindahkan pun kantor pusat itu ke Jakarta , gak ada masalah , dan tidak menjadi penghalang atas kemudahan penjangkaun pelayanan itu sendiri, jangan jangan dengan kepindahan kantor pusat ke Jakarta nanti akan menjadi pemicu permasalahan baru di HKBP itu sendiri.

    Molo tung pe tarulang tano di hitaan, jadi tinggal hononton ma , Ai dungi muse didok hamu muse: ” Bahen ma hamu torus HKBP holan gabe sijaga tambak ni ompung ., Bah….nunga sala be Amang ai dang si jaga on tambak!

    Dungi molo tung adong pe Tambak disi so na HKBP manjagai nasalelengon kan?

    Ai namansai borat situtu sipingkiran : Biaya pemindahan pasti Besar, Masalah perijinan belum pasti ( nunga taboto negara ta on songon dia molo tu Gareja), Marsigulut ma annon angka Pandita i holan tu Jakarta, dang adong be na olo annon tu huta an. Gabe mago marsigulut tu Jakarta ma sude.

    Daniel Harahap:
    Kalimat itu bukan saya tujukan kepada Lae pribadi, tapi kepada semua orang Batak yang selalu mendaku mencintai kampung halamannya tapi meninggalkannya, mendaku menghargai sejarah tapi tidak mau ziarah. :-)

  69. richard hutahaean Says:

    Horas…
    Kalian semua pengunjung “Rumametmet”, tahu ngga enak nya ngobrol di “lapo Rumametmet” ini? Jawab nya : Si empunya “lapo” ikut bertengkar dengan pengunjung “lapo”. :)

  70. Poltak Hasudungan Says:

    Saya pikir jarak bukan lagi hal yang mendasar di jaman ini, HKBP organisasi besar, manfaatkan IT. Fokuslah pada hal yang berhubungan dengan peningkatan pelayanan jiwa per jiwa, jangan berfokus untuk membesarkan organisasinya. Sebagaimana halnya renungan/artikel yang Amang sering lontarkan selama ini sangat banyak membantu pengembangan rohani, saya sangat banyak terbantu berkat artikel amang selama ini. Saya berfikir apakah amang sudah kehabisan “ide”, sehingga amang beralih pada topik yang tidak penting ini.

    Daniel Harahap:
    Justru menurut saya topik ini sangat penting dibicarakan. Dan karena itulah juga jadi pembicaraan hangat di sini maupun di milis hkbp apalagi di facebook. Ambal ni hata eh baidewei sudah berapa lama Lae Poltak meninggalkan huta? Masih tahu kondisi sebenarnya di sana? :-)

  71. Chena Says:

    Kepada Yth Seluruh pengunjung Ruma Metmet,

    Kalo membahas tentang tradisi dan kampung halaman, pasti banyak komentar2nya….

    Kenapa kita takut meninggalkan kampung halaman? Histori? Histori HKBP bukan tentang tempat dimana kantor pusat HKBP berada. Histori HKBP tentang perjalanan hidup HKBP itu sendiri. Jadi histori itu ngk akan pernah hilang.

    Apakah kita semua tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya kantor pusat HKBP di Pearaja? Apakah kita semua tahu bagaimana capeknya perjalanan ke kantor pusat pulang pergi?

    Apakah bila HKBP itu pindah ke Jakarta, Ke-HKBP-an itu akan hilang? Bagi perantau yang pindah ke Jakarta, apakah kita mau dibilang “bukan batak lagi”? Sekali batak akan selalu batak.

    Kita semua cinta HKBP. Kita mau terbaik buat HKBP. Kita mau merantau ke Jakarta untuk lebih maju lagi, kenapa kita takut membawa HKBP kita yang kita cintai untuk lebih maju?

    Saya penasaran, apakah kita semua yang kasih komen sudah memberikan yang terbaik buat Tuhan dan HKBP?

  72. Victor Tinambunan Says:

    Untuk sementara, tanggapan saya singkat saja. Apakah ada kemungkinan Amang Pdt Daniel Harahap pindah ke Tarutung atau bonapasogit beberapa tahun ke depan ini? Kalau kemungkinannya ada, maka kemungkinan akan munculnya ide baru –yang berbeda dengan gagasan di atas masih mungkin :)

  73. rumanap Says:

    Asa lebih hangat , mungkin lebih maksimal dope pelayanan ni HKBP molo markantor di Kapal ( sejenis Kapal pesiar), tatuhor kapal pesiar namura-mura i. Sadia tehe naummura nuaeng Kapal pesiar Burger ( buruk-buruk ni Germany).

  74. Jaloonta Says:

    Baiknya emang ibukota negara itu digilir tiap2 propinsi. Kalo dah gitu kan gak ada alesan KP HKBP pindah dari pearaja. Hehehehe, maksa.

  75. Palubis Says:

    Ya mungkin bila HKBP sudah tersebar ke seluruh asia tenggara dan Orang Batak bnyk di singapur, suatu saat Kantor Pusat HKBP dipindahkan ke Singapura,agar bisa bkembang bukan untuk kepentingan nasional tapi juga internasional….hehehehe

  76. Salngam Says:

    Komentar tentang jarak,
    Kayaknya naik pesawat dari Silangit ke Medan cuma 45Menit!!!. Itu pun bukan Foker 28.
    Kalau mau cepat lagi Silangit diimprove airportnya, Jalan Raya Siantar-Tarutung diimprove dst. Molo boi nian i ma jolo di usahahon angka halak hita na mangakku hebat di Jakarta on. Unang holan hata. Peace

  77. Mula Harahap Says:

    Pada akhirnya, saya pikir-pikir, persoalan pindah atau tidak pindah kantor pusat ini sangat tergantung kepada apa tugas yang diberikan kepada ephorus, sekjen serta kepala-kepala departemen itu, dan bagaimana mereka menafsirkan serta mensiasati tugas tersebut.

    Kalau hal-hal yang harus mereka kerjakan itu lebih banyak menuntut mereka untuk keluar dari dari kantornya, yah pergilah mereka keluar (ke Jakarta, Jenewa, Barmen, dsb). Mengapa pula mereka harus “monggop” di Pearaja?

    Kalau hal-hal yang harus mereka kerjakan itu lebih banyak menuntut mereka untuk berdiam di Pearaja, yah di Pearaja-lah mereka duduk dengan manis. Mengapa pula mereka harus berpergian ke luar?

    Kata kuncinya barangkali adalah bagaimana membuat diri selalu hadir dimana diperlukan, bisa dihubungi setiap saat, dan pekerjaan beres.

    Saya sendiri, sejak mulai bekerja di tahun 1970-an dulu sampai sekarang, adalah orang yang tak pernah betah duduk terus-menerus di meja dan ruangan kerja saya lebih dari 1 jam. Saya suka keluyuran kemana-mana demi dan atas nama pekerjaan :-)

    Daniel Harahap:
    Hasil keluyuran itu lantas apa? :-)

  78. tanobato Says:

    Seperti yang aku bilang kemarin, aku sangat menyukai ide-ide yang brilian dan juga “kontroversial”. Bukan sekadar (atau asal) kontroversial, namun yang dapat membuka pemikiran yang keluar dari pakem yang ada dan dianut bertahun-tahun sehingga sudah menjadi suatu keyakinan yang harus diikuti terus dan tabu untuk diubah. Selain memindahkan Kanpus HKBP, bagaimana kalau diwacanakan mengangkat Sekretaris Jenderal HKBP yang bukan dari kalangan pendeta? Melalui www.tanobato.wordpress.com sudah aku lontarkan sejak tahun lalu (dalam tulisan Sekjen Non-Pendeta, Beranikah?) di samping mendiskusikannya dengan parhalado na poso (bukan hanya sekadar muda usia, namun juga yang muda pemikirannya, yang terbuka untuk hal-hal yang baru). Dilihat dari fungsinya (dan judul jabatannya), yang diperlukan adalah kemampuannya dalam mengelola administrasi. Dengan demikian, Sekjen tidak akan mencalonkan diri untuk pemilihan Eforus. Sebagai “penjaga dogma”, memang Eforus haruslah dari kalangan pendeta senior namun tidak usah diwisuda dengan gelar “Ompu i” (sampai saat ini menurut saya belum ada yang pantas menyandang gelar itu …).

    Jika ini dapat terwujud, maka satu faktor pemecah belah gereja sudah dapat diminimalkan. Menengok sejarah HKBP, hampir selalu dwitunggal (Eforus dan Sekjen) ini tidak akur. Dan itulah yang menjadi pemicu keretakan. Sada tu dolok, sada nari tu toruan. Apalagi ditambah dengan “tiga jagoan” Ketua Dewan, semakin bertambahlah kerunyaman pengambilan keputusan di HKBP. Hari-hari belakangan ini, Sekjen melakukan “koalisi” dan “konsolidasi” dengan menggunakan SK mutasi sebagai pedang pamungkasnya. Kalau dilakukan dengan proses yang benar dan sesuai dengan prinsip pengembangan dalam manajemen organisasi, boleh jugalah. Tapi melihat begitu banyaknya pendeta yang selalu datang menghadap Eforus di rumah beliau, membuktikan bahwa mutasi dilakukan dengan agenda tersembunyi (apalagi tujuannya, kalau bukan persiapan Sinode Godang mendatang?). Dan ini juga membuktikan tidak solidnya kepemimpinan HKBP, sehingga yang lebih tepat adalah pemegang kekuasaan HKBP (bukan pemimpin …). Mudah-mudahan pak DTA tidak termasuk daftar yang harus dipindahkan secara paksa …

    Horas jala gabe, tatangiangkonma asa ro partigor di hakabepe!

  79. Carl Tampubolon Says:

    Horas ma di hita.
    Menarik sekali topik ini. Saya hanya mau mengatakan. Kantor Pusat HKBP terletak di Tarutung aja sebahagian besar pendeta berebut untuk ke Jakarta. (Mungkin hal ini menjadi salah satu sebeb Jakarta menjadi 3 Distrik……hehehehehe……). Setelah ditempatkan ke Distrik Jakarta 1, maka berusaha agar ditempatkan di Distrik Jakarta 2, lalu kemudian berusaha lagi kalau pindah tidak keluar dari Distrik Jakarta 3, hal itu berulang-ulang sampai pensiun. Kalau ada isu mau ditempatkan atau bahkan sudah keluar SK penempatan di luar ke-3 Distrik Jakarta tsb, maka melobi jemaat agar dibiayai kuliah di STT Jakarta, sehingga ada alasan untuk tetap bertugas di Jakarta. Kalau kantor pusat ada di Jakarta, maka menurut saya maka hal tersebut akan semakin “parah” karena “jemaat-jemaat hebat/berpengaruh” akan semakin”menancapkan kukunya” kepada pimpinan HKBP karena akses yang semakin mudah. Hal yang utama untuk membangun HKBP adalah membangun sikap mental pimpinan, pendeta, bibelvrow, sintua, termasuk jemaat. Namun yang terutama adalah sikap mental para pimpinan dan pendeta…….perihal IMB yg dicabut, saya yakin pimpinan HKBP sudah mendengarnya. Pertanyaannya sudahkah ada langkah konkrit untuk mencari tahu duduk persoalannya..? menurut saya tidak perlu pimpinan HKBP langsung turun ke Cinere, Pimpinan HKBP dapat mengutus distrik, jika diperlukan pimpinan HKBP dapat membentuk Tim Hukum (bukankah pengacara banyak dari jemaat HKBP?)……Pimpinan HKBP harus peka dengan gejala sosial di masyarakat….beberapa saat yg lalu seorang anak yg terusir dari kampungnya karena mengidap HIV yg diturunkan dari org tuanya…kampung tersebut sangat dekat dengan kantor pusat HKBP, sayangnya HKBP tidak membuat suatu langkah nyata untuk menolongnya - mungkin takut dihujat masyarakat sekitar…hmmmmmmmm… (padahal HKBP mempunyai suatu komisi HIV/AIDS). Hal ini membuktikan letak kantor pusat HKBP tidak berpengaruh terhadap tindakan nyata HKBP terhadap suatu peristiwa sosial. (Saya yakin seandainya Kantor Pusat HKBP ada di Jakarta kasus Cinere akan tetap terjadi, dan HKBP kebingungan mencari jalan keluarnya…atau lebih parah lagi seolah-olah tidak mau tahu….). Beberapa hal yg saya usulkan untuk membangun HKBP :
    1. Untuk menjadi Eforus adalah pendeta senior yang tidak mempunyai tanggungan untuk mengurus keluarganya lagi (seluruh anak2nya telah memiliki penghidupan, penghasilan, dan pendidikan yang cukup sendiri). Dengan demikian Eforus hanya memikirkan tugas pelayanan, tidak lagi memikirkan “perut” keluarganya karena sudah terpenuhi. (Bila perlu tidak perlu ada batas pensiun untuk menjadi Eforus. Yang memilih Eforus adalah kemufakatan para pendeta senior (60 thn ke atas). Dan dia menjadi Eforus selama dia hidup/ seperti Paus dalam Roma Katolik. Jika Eforus meninggal, maka dipilih lagi oleh para pendeta senior untuk bermufakat menunjuk salah seorang dari antara mereka. )
    2. Untuk menjadi sekretaris tidak harus dari pendeta. HKBP dapat menunjuk seorang yang profesional dan diberi pendapatan yang cukup untuknya. Tidak harus jemaat HKBP, bahkan seorang yang bukan Kristen namun memiliki profesionalisme dapat menjadi sekretaris HKBP
    3. Pimpinan HKBP turut berperan serta mendukung program pemerintah untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Misalnya mengakomodasi program PNPM Mandiri, CSR, pendidikan dasar, kesehatan, dll. Hal ini dimulai dari lingkungan Kantor Pusat HKBP Pearaja.
    4. Menambah jam mata kuliah manajemen organisasi dan psikologi dalam sekolah Pendeta/ Guru Huria).

    Demikian pendapat saya……..

    Pertanyaan saya kepada amang DTA, jika dalam waktu dekat ini atau yang akan datang amang ditugaskan ke “kampung”, misalnya Huta namora, Harian Boho, Parbubu, dll, apakah amang bersedia..?

    Daniel Harahap:
    Sebagai pendeta HKBP saya tidak bisa mengatakan “tidak” kepada SK pimpinan. :-) Tetapi Carl sendiri kok meninggalkan kampung?

  80. RT (=RTM) Says:

    Di mana pun tempat tinggal rumah dinas Pimpinan HKBP atau Kantor Pusat HKBP tentu cakupan pelayanannya adalah seluruh Jemaat HKBP. Pimpinan tidak hanya dibutuhkan di wilayah Jawa, tetapi di Sumatera. Bukan hanya menyelesaikan masalah dalam kota besar, tetapi juga di pedesaan yaitu ressort yang jemaat induknya bukan pada ibu kota kecamatan, kabupaten atau propinsi.

    Sekiranya berangkat dari Jakarta ke desa Parlilitan Distrik Humbang, dibutuhkan kehadiran fisik Pimpinan HKBP menyelesaikan persoalan atau melakukan tugas pelayanan, apakah Jakarta atau jemaat-jemaat di Jakarta sudah bersedia menanggung segala perongkosan dan yang diperlukan tanpa membebaninya ke kas Kantor Pusat HKBP. Karena Jemaat Parlilitan belum tentu, misalnya, mampu menanggung segala yang dibutuhkan. Barangkali wibawa Pimpinan itu di mata orang luar, katakanlah institusi lain seperti pemerintahan dan lembaga swasta lainnya, bukanlah terletak pada pribadi, titel atau kemampuan diri si Pimpinan tersebut. Tetapi wibawa itu ada padanya karena jabatannya, apalagi bila dia hadir dan berbicara atas nama jabatannya yang mewakili seluruh umat/jemaat HKBP.

    Daniel Harahap:
    Saya tidak naif mengatakan Pimpinan HKBP harus menyelesaikan seluruh masalah termasuk masalah2 kecil di seluruh jemaat. Yang saya katakan masalah terbesar dan terberat HKBP sekarang ada di Jakarta sekitarnya, di pusat pemerintahan RI. Dan saya berpendapat masalah ini hanya bisa diatasi oleh Pimpinan. Sebab itu saya mengusulkan agar Pimpinan “turun gunung” memimpin langsung pergumulan HKBP di Jakarta sekitarnya ini. Jika tidak HKBP akan semakin menciut dan menciut. Jemaat2 HKBP di bona pasogit relatif lebih “aman” dibanding yang di kota2 besar.

    Mengenai pembiayaan justru dengan di jakarta Kantor Pusat tidak perlu lagi “mengemis” minta bantuan jemaat2 di kota. Dia bisa langsung menggalang dana besar-besaran yang sebagian justru bisa dipakai membangun Tapanuli.

  81. Rico Says:

    Mungkinkah RTM adalah Pdt. Rahman Tua Munthe par distrik Sumbagsel?

    Daniel Harahap:
    Saya tidak berhak menjawab.

  82. Parbatamsenter Says:

    Masalah terbesar dan terberat berada di Jawa, Jemaat terbesar dan terkuat berada di Jawa juga, silahkan dukung praeses-praeses yang di Jawa, mengerjakan itu semua. Ris do bagianna. Janganlah nanti sampai ada : HKBP Jakarta, HKBP Pearaja. Mari tenangkan hati dulu.

  83. rjh Says:

    - saya tidak dapat memastikan jika pimpinan pusat HKBP berkantor /berdomisili di Jakarta maka serta-merta, atau perlahan-lahan, persoalan yang dihadapi HKBP di sana dan diseluruh dunia akan dapat teratasi. Masalah apa sih yang dapat selesai di Jakarta walaupun pimpinan HKBP itu sudah berkali-kali ke Jakarta/Jawa/Kalimantan/Amerika ?. Bukankah mereka lebih sering mengatakan : “pinasahat ma tu praeses i, tu pandita resort i, tu parhalado i, tu ruas i. Pada umumnya masalah yang dihadapi HKBP di tempat-tempat itu menjadi selesai oleh peranan para pelayan dan anggota jemaat di sana (yang barang tentu oleh penyertaan Tuhan ?)
    - khusus persoalan Cinere, tidak terlepas dari kekurangan kita. Membangun gereja kok harus besar-besar. Sudah diingatkan juga agar gereja yang dibangun itu tidak usah terlalu megah tapi kita tidak mau dengar apalagi selalu bercita-cita membangun gereja yang menjadi semacam katedral HKBP. Kita kan tidak boleh hanya mengandalkan ijin, pancasila, SKB menteri, dsb. Dan persoalan hambatan pembangunan gereja bukan hanya milik HKBP. Gereja GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) saja di Jawa Timur yang kantor sinodenya dan pimpinan pusatnya berada di sana (sudah di kampung sendiri) mengalami banyak hambatan dalam pembangunan gereja
    - harapan sih harus selalu ada tapi kita tidak boleh, seperti pepatah lama, “menggantang asap” (sorry for a little bit hard)
    - saya, sepertinya, tidak setuju jika kita beranggapan bahwa masalah terbesar dan terberat di HKBP ada di Jakarta. “masiboan boratna be do i” hombar tu angka na ringkotna be dohot angka hajongjonganna be.
    - seperti saya katakan pada kommentar terdahulu tidak ada salahnya memikirkan, mengusulkan, atau mendiskusikan apa, yang menurut kita, sebagai skala prioritas. Tapi mari kita lihat dulu pola pelayanan kita. Jika pimpinan pusat datang ke suatu distrik, resort, persoalan mana yang lebih banyak dibicarakan, persoalan yang ada di distrik, resort atau jemaat itukah ? atau masalah yang mereka hadapi di pusat sana atau malah masalah pribadi. Saya juga pernah ngomong-ngomong dengan para pendeta sambil bertanya :”kalo amang mengunjungi satu keluarga” masalah apa yang paling banyak amang bicarakan dengan keluarga itu, masalah yang dihadapi keluarga itukah ? atau bahkan masalah amang hadapi sendiri, keuangan, mutasi, hubungan dengan sesama parhalado ?” para pendeta itu berfikir dan tidak menjawab.
    - disamping, sebenarnya, HKBP sudah harus berfikir mengenai ke-4 alasan amang dta di atas, masalah kita kan masih konvensional, yaitu, mutasi, kesejahteraan pendeta di desa, kesejahteraan para pensiunan HKBP, perhatian terhadap sesama (partohonan atau jemaat) yang masih jauh dari memadai.
    - apakah bukan hal itu yang lebih dahulu kita tangani, atau mungkinkah hal-hal tersebut tak teratasi lagi maka kita berfikir agak melompat lebih jauh dengan harapan bahwa hal-hal konvensional itu akan teratasi dengan cara lompatan ini ?
    - okelah, saya usulkan, jika nanti kp kita harus pindah, masih jauh lebih baik di Medan dengan alasan : 1. Transportasi ke mana-mana sudah tersedia. 2. Anggota jemaat kita di Sumut masih jauh lebih banyak dibanding prov. lainnya di Indonesia. 3. HKBP masih memiliki lahan yang luas di Tanjung Morawa, apalagi bandara sedang dalam proses pembangunan di Kualanamo Deli Serdang, 4. Anggota jemaat di Tapanuli tidak terlalu sulit datang ke kp itu.

    Horas ma.

  84. Juanto Sitorus Says:

    Selamat Siang,

    Menarik membaca komentar para pelintas dunia maya tentang “Kantor pusat HKBP pindah ke Jakarta”.

    Saya punya pendapat, bahwa harusnya salah satu misi HKBP adalah untuk mewujudkan salah satu pasal di UUD 45 perubahan, yaitu kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama dan menjalankan keyakinan beragama di negara ini. Seperti kita ketahui bahwa pemeluk agama minoritas (kristen, Budah, Hindu) belum mendapatkan kebebasan dan persamaan hak didalam memeluk dan menjalankan keyakinan bergama di Indonesia. Untuk mewujudkan hal tersebut organisasi yang punya warga atau jemaat sebesar HKPB punya kapasitas dan hak untuk menyeruakan hal ini kepada para pembuat kebijakan di DPR dan Pemerintah.

    Untuk menjalankan hal tersebut dibutuhkan lobby atau pendekatan langsung atau tatap muka, tidak bisa lewat e-mail, lewat internet, atau lewat perwakilan atau Praeses. Para pembuat kebijakan/undang-undang di DPR adalah “Penguasa” dan Menteri Agama serta President adalah juga “penguasa”, didalam tatakrama diplomasi, Praeses tidak sama tingginya dengan DPR atau Menteri Agama dan bahkan dengan Presiden.

    Pertemuan juga tidak bisa dilakukan sambil lalu, harus intensif yang tentunya di dahului dari saling mengenal, dalam konteks Negara, HKBP yang harus memperkenalkan diri dan mendekatkan diri dengan para ‘penguasa” negara RI adalah HKBP yang di wakili oleh Ephorus bukan oleh Praeses. Kenal bukan hanya ketemu pada saat pembukaan acara Synode atau acara-acara tertentu, harus bisa minum teh bersama di istana Negara atau di Balkon DPR dengan pimpinan DPR, sehingga tercipta dan terbina hubungan, dan tentu saja pada saat “minum teh” akan tercipta pembicaraan yang lebih intens dan akhirnya “penguasa” akan tahu apa yang ada dalam tubuh HKBP, apa masalahnya, apa cita citanya dan mau ke mana HKBP. Karena adalah kewajiban Kepala Pemerintahan dan Kepala Negara untuk mengayomi seluruh masyarakat yang ada di negara ini termasuk HKBP. Bagaimana para “penguasa” negera ini tahu HKBP hanya dengan pertemuan ‘jabat tangan” beberapa menit???

    Harus ada kelompok penekan atau kelompok lobby yang sering bertemu dengan Ephorus untuk teman berdiskusi dan hasilnya di teruskan kepada para Pemimpin Fraksi din DPR, ketua dan wakil ketua DPR, Kapolri, Dirjen Bimas Kristen Protestan di Depag, Sekjen Depag, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Sekretaris Negara. Ingat bahwa Undang-undang atau kebijakan atau peraturan yang disahkan di negara ini ada yang berasal dari inisiatif anggota DPR dan ada yang datang dari pemerintah lewat kementrian. Jadi HKBP harus intens melakukan pendekatan kepada para “penguasa” dan sumber pembuat kebijakan ini agar segala undang-undang/peraturan/kebijakan sebelum di undangkan sudah diwarnai oleh HKBP, baik pada saat penyusuan Draft Undang-undang/peraturan/keibjakan maupun saat membahas. Sehingga sebaiknya HKBP lebih banyak melakukan tindakan preventif dan bukan reaktif ketika sudah di undangkan.

    Ada kalimat yang tertulis pada spanduk dihalaman sebuah Gereja HKBP, ” Sejahtera Masyarakat Sejahtera Gereja” berarti kepentingan ‘Masyarakat HKBP” harus bagian integral dari Kebijakan Pemerintah.

    Banyak nya kasus yang menimpa masyarakt minoritas, terutama dalam hal ini HKBP, di dalam melaksanakan “kebebasan beragama” harus di sikapi dengan tindakan nyata dari pimpinan HKBP, terhadap para “penguasa” negara ini. Sebenarnya Ephorus HKBP dan para pemimpin lainnya di tubuh HKBP menyadari bahwa tindakan dan perlindungan mereka terhadap warga jemaat HKBP yang menderita ketidakadilan di negara ini sangat minim. Ambil contoh, kalau suatu Gereja HKBP mulai berdiri di suatu tempat, HKBP kantor pusat hampir tidak melakukan apa apa dalam urusan legal, ijin dari RT/RW, lurah, camat, walikota/bupati sampai keluar IMB, semuanya dilakukan oleh warga gereja dengan bantuan yang nyaris nol dari kantor pusat. Kemudian ketika ada masalah dengan suatu Gereja, misalnya ijinnya di cabut, atau penutupan paksa, apa yang dilakukan oleh “para petinggi HKBP???” nyaris nol. Untuk itulah dibutuhkan kehadiran phisik seorang Ephorus yang “dekat” dengan para “penguasa” negeri ini. Ingat negara ini diatur dari Jakarta, bukan dari Peraja. Segenap kebijakan, kemananan, perekonomian termasuk kebebasan beragama di atur dari Jakarta bukan dari Peraja.

    Jadi kantor pusat HKBP harus pindah ke Jakarta.

  85. nalom(RN) Says:

    Alasan yang selalu diberikan Amang DTA, adalah pusat yg di pearaja sekarang sudah jadi penunggu atau sijaga tambak dohot tugu. Saya jadi curious, apakah emang sudah seperti itu kondisinya? Ephorus dan staf itu merasa jadi sijaga tambak ya? :s Kalo emang iya, trus yang salah siapa? HKBP? Tambak/tugunya? ato krn pelosok/dusunnya? ato pimpinannya? ato jangan-jangan yg salah adalah Jakartanya krn tidak ditarutung? Bg saya gak keberatan kok kalo kntr pusat dipindahkan ke jakarta, tapi kalo hanya krn alasan sijaga tambak, ih….

  86. RT (=RTM) Says:

    Kita berharap semua masalah memang dapat diatasi, dan semoga masalah di Depok itu segera teratasi, oleh petunjuk Tuhan, dan oleh segala sesuatu yang berkaitan dengannya yang dapat dipakai Tuhan.
    Saya hanya mau memberi pendapat sama seperti teman-teman kita dengan pendapat masing-masing… ada yang pro ada yang kontra … tentu hak masing-masing menentukan pilihannya dalam diskusi ini. Benar yg dikatakan Rico, saya lama bekerja di Kantor Pusat HKBP di Pearaja Tarutung melihat HKBP pada waktu itu dari Kantor Pusatnya. Saya pernah melayani di Jakarta dengan menghadapi kemajuan-kemajuan yang pesat dan expert yang banyak termasuk warga HKBP dengan ide-ide dan pendapat briliyan memajukan HKBP. Saya bergabung dan mendukung ide-ide yang memajukan HKBP menyongsong masa depan yang lebih indah dan baik. Saya senang dan bergembira atas semua warga jemaat HKBP yang haus selalu akan keadilan dan kebenaran. Dan yang mendukung bila HKBP ikut menyuarakan keadilan dan kebenaran sebagaimana dinubuatkan melalui Alkitab, bukan hanya ditengah-tengah warga jemaat HKBP atau orang Batak atau pun orang Indonesia, tetapi untuk seluruh umat manusia di dunia … Syalom.

  87. Carl Tampubolon Says:

    Senang sekali membaca pernyataan amang DTA yang tdk dapat mengatakan “Tidak” terhadap SK dari pimpinan. Semoga pimpinan HKBP membaca ini, karena pasti mengurangi beban pikiran mereka dalam hal mutasi. Saya meninggalkan kampung karena saya juga tidak dapat mengatakan “Tidak” terhadap SK dari pimpinan saya amang. Jikalau pimpinan mengeluarkan SK mutasi, saya siap ditempatkan dimanapun, termasuk di kampung.

  88. rio pasaribu Says:

    maaf amang sebelumnya. walaupun saya bukan berasal dari jemaat HKBP, saya merasa pemindahan kantor pusat HKP bukanlah solusi yang terbaik untuk meningkatkan kinerja HKBP. karena saya melihat selama ini HKBP sudah identik dengan pearaja. lagian sejarah datangnya agama kristen ketanah batak juga bisa dikatakan bermula dari pearaja. Jadi sebaiknya kita harus lebih menghargai sejarah nenek moyang kita dahulu yang telah mewariskan harta yang tidak ternilai ini. sebaiknya yang kita harus pikirkan adalah mengajak seluruh umat kristiani untuk berdoa dan berkarya buat Tuhan supaya kita tidak terpecah - pecah yang dapat mengakibatkan umat kristen semakin menjauh dari Tuhan.

    Daniel Harahap:
    HKBP tidak bermula di Pearaja, tetapi di Parausorat dan Sipirok. Dan pada jaman Nommensen pun Kantor Pusat pernah pindah ke Sigumpar Porsea. Menghargai sejarah? Ya. Terpenjara oleh masa silam? Tidak.

  89. Victor Tinambunan Says:

    Tanggapan singkat saya terhadap ide Amang DTA, mohon diakses pada http://victor-tinambunan.blogspot.com

    Salam sejahtera seturut rahmat Kristus, Tuhan kita.

  90. Victor Tinambunan Says:

    Salah satu komentar saya di http://victor-tinambunan.blogspot.com berbunyi:

    Kata-kata ‘potensi HKBP sebagian besar di Jakarta’ merupakan penghinaan kepada warga bonapasogit dan Sumatra, dan pengingkaran akan penghargaan Allah akan setiap dan semua manusia. Dunia ini mengukur ‘potensi’ berdasarkan seberapa banyak uang yang dimiliki, seberapa tinggi jenjang pendidikan, seberapa tinggi jabatan yang diduduki. Ini bukan ukuran ‘potensi’ secara kristiani. Potensi hanya bersumber dari Roh Tuhan, yang diberikan kepada orang Jakarta dan Sitakka.

    Daniel Harahap:
    Ah jangan terlalu sensi eh sensitif-lah Amang Pendeta. :-) Tentu saja semua kita orang beriman setuju bahwa Roh Kuduslah sumber segala kebajikan dan berkat. Namun kita tidak bisa bergerak di awang-awang namun harus berpijak di bumi. Dalam pembangunan organisasi (termasuk gereja sekalipun) kita harus menghitung jumlah warga, pendidikan dan kemampuan ekonomi. Dengan jujur kita harus mengatakan: bahwa dari segi jumlah warga, pendidikan dan kemampuan ekonomi potensi HKBP memang ada di Jakarta sekitarnya (karena sebagian besar orang Batak sudah meninggalkan kampungnya merantau atau manombang). Contoh lain: Kalau memang potensi untuk mendapatkan ilmu bukan di Singapur, capek kali Amang Pendeta S3 ke Singapur? Kenapa tidak kursus di Sitakka saja? :-)

  91. Victor Tinambunan Says:

    Beda Singapur dan Sitakka jelas ada. Di Singapur ada perguruan tinggi di Sitakka ada tanjakan tinggi; Singapur menggunakan berbahasa Inggris, Sitakka menggunakan linggis. Tetapi tidak berarti Singapur ‘LEBIH POTENSIAL’ dari Sitakka. Masing-masing orang ada potensinya, meski berbeda. Potensi orang-orang Sitakka dalam ‘ketabahan’ dan ‘kearifan’ menyikapi hidup, kelihatannya kurang dimiliki sebagian orang Singapur.

    Dan yang lebih penting, saya tidak akan mempromosikan Singapur menjadi tempat Kantor Pusat HKBP walaupun Singapur bergelimang dollar, ada warga HKBP yang ‘potensial’, tiap hari ada pesawat ke seluruh dunia. Yang lebih realistis dan teologis adalah supaya potensi yang Tuhan anugerahkan kepada warga HKBP Singapur ‘mengalir’ ke Pearaja dan ke bonapasogit.

    Daniel Harahap:
    Saya juga tidak pernah mempromosikan Singapur menjadi tempat Kantor Pusat HKBP. Saya menunjuk Jakarta. Karena ini ibukota Indonesia. Dengan berkantor Pusat di Jakarta HKBP lebih dipaksa berpikir skala nasional dan internasional. Masalah besar sedang dihadapi 200 jemaat HKBP di Jakarta sekitarnya yang tidak bisa lagi diatasi hanya oleh Praeses apalagi para pendeta resort.

  92. Imanuel Manalu Says:

    Dengan berkantor Pusat di Jakarta HKBP lebih dipaksa berpikir skala nasional dan internasional.
    ==memangnya di tarutung mereka tidak bisa dipaksa beripikir secara nasional dan internasional?

    Masalah besar sedang dihadapi 200 jemaat HKBP di Jakarta sekitarnya yang tidak bisa lagi diatasi hanya oleh Praeses apalagi para pendeta resort.
    =ganti saja pendeta resor apalagi praeses yg tidak mampu tersebut

    Banyak aspek yg harus dipertimbangkan dengan perpindahan ini. Apa saja yang ingin dicapai dan apa saja yang harus dikorbankan (seperti materi). Kalau pusat dipindah ke jakarta, biayanya berapa besar? Apa tidak lebih baik biaya yang besar itu dipakai untuk pemberdayaan pendeta2 agar mereka siap berpikir secara nasional dan internasional? sehingga mereka mampu untuk memimpin di ibukota negara kita ini…

    Daniel Harahap:
    Kantor Pusat ibarat orang sedang stroke. Harus pergi opname dulu di Jakarta. Tidak bisa berobat kampung. :-)

  93. Ellys L Panjaitan Says:

    he he he, gabe hera angan-angan ni parsendor ate, so nanggo beha do pe nga tarida parbadaan (maaf apakah ini sekedar beda pendapat ala orang batak, atau keukeuh kata orang Sunda).
    Mengenai respon partohonan dalam menjalankan SK pimpinan, dulu ada nyanyian 2 orang diakones yang sebelum berangkat ke Mentawai dalam rangka menjalankan SK sempat bermalam di rumah kami di Padang, bunyinya : “Kerja buat Tuhan selalu manis e, biar tanpa gaji selalu manis e”, saya tidak tahu persis apakah ini nyanyian yang sungguh2 dalam hal menerima SK dan menjalankan tugas pelayanan, atau pelampiasan rasa untuk menghibur diri sendiri. Yang jelas mereka berdua menerima tugas itu dan berangkat untuk melayani ke Mentawai, demikianlah harusnya semua partohonan ate Amang.
    Untuk KP HKBP pindah ke Jakarta, no comment buat saat ini, maju terus HKBP

  94. Imanuel Manalu Says:

    brarti ada sesuatu di jakarta dan tidak ada di kampung yg bisa mengobati stroke nya si HKBP?
    :-?

  95. Elman P Nainggolan (wiyk 6 hkbp palembang) Says:

    Di Palembang suatu kali dulu, pernah juga kami bicarakan tentang seperti ini, hasilnya sama seperti yang tampil pada media ini. Ada yang setuju ada yang menolak, ada yang menolak tidak menerima pun tidak dan ada juga yang ngawur. Saya termasuk yang ngawur, karena memang sulit rasanya menentukan, bagi saya lebih baik mendengar dan membaca kajian orang lain saja.
    Namun yang ingin saya sampaikan bahwa bila wacana tentang hijrahnya kantor pusat HKBP dari Tarutung ke tempat lain, maka ini merupakan signal atau alarm bagi Pemda Taput. Bagaimana pun kehadiran HKBP berkantor pusat di Tarutung (Pearaja) telah memberikan banyak hal dan amat besar bagi Kab. Taput dan Kota Tarutung sendiri. Bayangkan bagaimana jadinya Tarutung tanpa HKBP berkantor pusat di sana. Apalagi yang bisa dibicarakan tentang Tarutung……….., Tarutung akan sama seperti kota-kota kecamatan lainnya di Taput dan di kabupaten eks Taput. Pokoknya Tarutung nggak ada apa-apanya lagi, karena sudah terjadi bahwa Tarutung itu icon-nya adalah HKBP. Semoga para pejabat di Pemkab Taput tahu akan wacana ini, oleh karenanya Pemkab Taput agar membuat nyaman orang-orang HKBP berkantor di Tarutung, sehingga HKBP nggak mau hijrah dari Pearaja.

  96. Victor Tinambunan Says:

    Teman-teman di Jakarta, dukunglah keberadaan HKBP dalam segala hal, termasuk kantornya di Pearaja. Soal perizinan tidak dapat diselesaikan dengan pindahnya kantor pusat ke Jakarta. Di samping ketidaksetujuan kita terhadap sikap mereka yang mempersulit bahkan menolak kehadiranaa gereja, kita juga perlu dengan sadar memeriksa kehidupan kita, apakah sungguh-sungguh sudah menjadi berkat bagi sesama kita. Kalau kita sudah benar-benar menjadi garam dan terang bagi sesama manusia, apa pun latar belakang agama, ras dan keyakinan politiknya, tetapi kita tetap menghadapi hambatan, itu adalah salib yang kita pikul. Pelarangan dan pembatasan kekristenan sejak dulu biasanya justru menguatkan orang-orang percaya. Justru ketika gereja sedang berada dalam zona ‘nyaman’, mereka terkadang saling hadang dan berebut.

  97. untung Says:

    Biarkan aja pendeta HKBP berlomba lomba ke jakara…kalau bisa pikirkan juga pendeta yg bertugas di bona pasogit.

  98. Erpesim Says:

    Ratusan tahun HKBP telah berdiri dan Puluhan tahun lebih hidup dan berada dalam dinamika pembangunan IPOLEKSOSBUD Negara Kesatuan Republik Indonesia.Apa manfaat yang diperoleh dan kontribusi yang diberikan HKBP terhadap negara ini? Apa benar dan mungkinkah HKBP lepas atau steril dari dinamika dan dampak permainan politik bangsa ini? Sekali-kali tidak,tapi kenapa setengah hati? Pada prinsipnya, Organisasi yang berpusat jauh (secara infrastruktur dan komunikasi tidak memadai) dari pusat kekuasaan negaranya jelas dan pasti akan tertinggal.

    Roma sbg pusat Agama Katolik,lokasi nya jelas berbeda dgn Tarutung. Pembangunan Infrastruktur di Tarutung sdh, sdg dan selalu ada terus tetapi “diklasifikasikan” tidak penting dan tidak Urgent. Tak ada stimulusnya. Kecuali jika ada halak kita yang bisa dan mau seperti JK yg membangun kampungnya di Makassar. Penjelasan Lae Juanto Sitorus diatas cukup jelas dan lugas. Saya sbg anggota HKBP sejak lahir,terus terang merespon sosok Ephorus dan petinggi Gereja sebagai pribadi-pribadi yang luhur,mulia dan teladan. Tetapi sampai umur mendekati senja,saya tidak pernah merasakan adanya tali kasih dgn mereka. Seakan jauh sekali, seperti peribahasa “Tak kenal maka tak sayang”. Namun dlm keseharian,saya melihat dan alami begitu pahit dan sengsara perjalanan perjuangan pembangunan Gereja bahkan sekedar beribadah pun kita dianggap “kuman penyakit”, namun tidak pernah ada usaha konkrit utk “menuntut” ke petinggi negara ini. Kita-kita yang berumur 40-50 an tahun adalah saksi kebisuan dan aniaya ini,bgmn sikap dan reaksi anak-keturunan kita dikemudian hari? Saya berpendapat Pimpinan HKBP harus lebih “in” dgn jemaatnya dan juga keseharian dunia jemaatnya.Akses dan fasilitas untuk suatu kemajuan ada di Jakarta, kenapa kita mengingkarinya? Seandainya dan hanya seandainya,ibukota negara ini bisa pindah ke Tarutung.

    Mari buka hati dan ingatlah ini baru wacana. Pekerjaaan Rumah masih banyak. Syaloom-HKBP lam tu majuna.

  99. Mangara Pakpahan Says:

    Wah..:-) Saya sungguh mendapat pembelajaran dari hasil buah pikiran Pak Pdt DTA, sehingga menghasilkan debat pendapat yang membuka cakrawala berpikir banyak orang (yang sudah masuk di dalam lapo ini). Terimakasih ya Pak Pdt atas gagasannya. Apakah sudah menjadi solusi atas beberapa alasan yang dikemukakan tersebut, jika KP HKBP dipindahkan ke Jakarta ??? …… Karena sudah dimunculkan ide seperti itu, ijinkan saya kasi ide yang lain lagi…bolehkan ?…. :-) (Berkaitan dengan soal penggalanan dana - salah satu alasan tadi) Bagaimana kalau yang dibahas selanjutnya, soal rencana HKBP ke depan yang belum kesampaian dalam meng-goal-kan program “DANA ABADI” sebagaimana yang tertera jelas di Almanak. Aduh kapan ya terwujud ?…. KAPAN YA ….. :-/

    Daniel Harahap:
    Kalau Kantor Pusat HKBP di Jakarta saya pikir dengan mudah HKBP mngumpulkan dana abadi hingga Rp 30M. Namun saya tidak setuju dana abadi untuk sentralisasi penggajian pendeta. Saya lebih setuju jika untuk membantu jemaat2 yang “minus” atau kekurangan saja. :-)

  100. Sonya Rapinta Manalu Says:

    Plok… Plok… Plok

    Udah lama aku baca blognya amang, dan mengikuti tulisan-tulisan amang di FS mau pun FB.
    Amang emang kritis dan punya visi yang menarik tentang HKBP kedepannya.

    Tapi amang, aku lebih setuju jika SI/TI(Sistem Informasi/Teknologi Informasi) HKBP lah yang perlu di perbaiki dan ditingkatkan ketimbang harus ‘pindah’ kantor pusat. Kayaknya menariklah dan menurut aku akan lebih majulah pelayan-pelayan Tuhan HKBP klo peka dan mengerti serta menggunakan SI/TI itu (maaf amang jika kata-kataku salah). Dengan begitu HKBPnya sendiri tetep hadir dan bisa mengatasi pengaruh perkembangan zaman.

    Soal event-event kenegaraan yang tak dihadiri pimpinan HKBP, menurut aku sih pertimbangan event HKBP lain yang lebih penting kali itu amang. Hehehehhe.

    Klo soal tokoh-tokoh yang diajak bertukar pendapat oleh petinggi KHBP ada di Jakarta sih amang kayaknya masih bisa diatasi dengan SI/TI tadi, yah klo harus tatap-tatapannya pake videocomfrence sajalah.

    Tapi memang amang ku akui juga, untuk menghadiri event tertentu para petinggi HKBP emang keseringan ‘lelengan di dalan’.. heheheheeh. Tapi amang sama sajalah itu kurasa, klo kantor pusat di Jakarta, petinggi HKBP mau ke Ambarita tong do lelengan di dalan. hehehhehhehe… Sepertinya bukan harus pindah lokasi sih amang solusi yang tepat…. Demikian juga untuk orientasi masa depan.
    Justru jemaat HKBP yang banyak berdomisili di Jakarta pastinya akan mengingat bona pasogitnya, yah paling tidak diantaranya dengan keberaan pusat organisasi gerejanya(HKBP) disana.

    Sekarang hal yang perlu kita renungkan, apa yang harus kita lakukan untuk memajukan HKBP itu sendiri amang!!!
    Mencari solusi yang tepat..

    Hehehhehehehheeheehee

    Soksokan aku neh..

    Makasih yah amang…

    God bless

  101. Hitler P. Sigalingging Says:

    Mengapa Amang berpikiran seperti itu?
    Ada dua hal yg coba sy angkat:
    1. Kita masih memerlukan akar histori kita yg notabene Tarutung itu. Mungkin ide Amang bisa saja terjadi bila HKBP melakukan perubahan total dan terjadi minimal 10 poin perubahan mendasar seperti pemberdayaan, kemiskinan, peran serta sosial, perencanaan, pelatihan, lapangan pekerjaan, masyarakat luas, bangsa dan negara, dll.
    2. Bisa saja dalam 2-3 tahun ini kita pindahkan ke Jakarta. Kita sebutlah HKBP Representative. Namun ini juga tidak mudah. Buatlah semacam Renstra HKBP bila Jakarta menjadi pemegang kendali untuk tahun2 ke depan.
    Pada dasarnya, ide Amang kulihat baik namun kita buatlah sematang dan sebaik mungkin visi-misi ke depannya.
    Jangan sampai gagal!

  102. Mangara Pakpahan Says:

    Menanggapi respon di atas Pak Pdt DTH, bukankah program DANA ABADI tersebut sudah diputuskan dalam agenda kerja HKBP ? Artinya, yang sudah diputuskan berarti harus dijalankan…. :-) Jangan-jangan program tersebut lambat tercapai disebabkan karena masih banyak di antara kalangan pelayan sendiri yang kurang setuju (seperti Pak Pdt DTH contohnya … he..he..he…) Bukankah kalau pelayannya sudah sejahtera, maka pelayanan pun juga ter-sejahterahkan…? Kan sedikit ganjil juga amang, kalau Pdt muda yang baru ditahbiskan bertugas di kota besar sama balanjonya dengan Pdt Ressort na matua di huta…… Bagaimana ya…?

    Daniel Harahap:
    Saya setuju program dana abadinya. Namun tidak sentralisasi penggajian pendetanya. Menurut saya dana abadi itu sebaiknya hanya untuk membantu penggajian pendeta di daerah2 terpencil dan miskin demi keadilan dan pemerataan. Yang saya tolak bukan dana abadinya, tetapi konsep sentralisasinya.

  103. Imanuel Manalu Says:

    Saya tetap tidak setuju. Biarkanlah KAntor Pusat HKBP berada di Tarutung dan persoalan yg ada di ibukota ini diselesaikan oleh Pendeta REsor atau Praeses yang bersangkutan. Apalagi Jakarta sudah dibagi menjadi tiga Distrik, kurang apalagi?
    Kecuali memang petinggi2 HKBP itu sudah bosan di kampung dan juga mau merasakan “nikmatnya” hidup di ibukota sebagai petinggi salah satu organisasi besar di Asia Tenggara ini

    Daniel Harahap:
    Immanuel kan sudah beberapa kali bilang tidak setuju? Ya sudahlah. Toh di blog ini kita tidak hendak mengambil keputusan. :-)

  104. Imanuel Manalu Says:

    Menambahkan, memang kasus Cinere itu cukup membuat kita prihatin, tapi tidak serta merta itu mendukung rencana perpindahan kantor pusat ke Jakarta. bagaimana seandainya ada kasus serupa di makasar?apakah kantor pusat akan dipindah ke makasar juga?
    Kembali saya tekankan,masalah regional biarlah menjadi tanggung jawab penedta resor dan Praeses setempat, ephorus hendaknya memberi saran dan nasihat saja, dan kalau memang sangat diperlukan dan bila kedatangannya dapat menyelesaikan masalah,barulah beliau datang ke jakarta.
    Masalah cinere bukan lah rahasia umum, memang pendirian gereja dmana2 selalu saja ada tantangannya, saya cuma ingat satu ungakapan mengenai org Kristen yang saya yakini sampai sekarang : “Semakin dibabat semakin merambat”

  105. Hitler P. Sigalingging Says:

    Sejauh ini sistem desentralisasi (pemekaran) pun banyak kekurangannya. Bayangkan RI dulunya ada 12 provinsi menjadi 20 provinsi lalu menjadi 27 dan akhirnya sekarang ada 33 provinsi. Memang semakin maju jaman, semakin melek orang akan kebutuhan pemekaran, tapi usahakan tidak karena faktor keetnikan atau permainan pusat.

    HKBP kan masih bisa dikendalikan secara sentralistik… termasuk keuangannya. Yang harus kita pikirkan adalah bgmn pengelolaan sumber dana yg belum ada (seperti dari perpuluhan) dan bagaimana sistem audit keuangannya yg berjalan baik.

    Daniel Harahap:
    Seumur hidup keuangan HKBP belum pernah dikendalikan secara sentralistik.

  106. Ricky Says:

    Daniel Harahap:
    Tole ma. Bahen ma hamu torus HKBP holan gabe sijaga tambak ni ompung dohot huta na tarulang ala naung ditinggalhon hamu i,

    Daniel Harahap:
    Kalimat itu bukan saya tujukan kepada Lae pribadi, tapi kepada semua orang Batak yang selalu mendaku mencintai kampung halamannya tapi meninggalkannya, mendaku menghargai sejarah tapi tidak mau ziarah.

    –> dari kalimat di atas, sebagai orang awam saya jadi tau, rupanya amang lah yg merasa kalo HKBP pusat itu cuma tambak belaka and ujung2 nya menyalahkan kami orang batak yg perantau yg tidak pernah atau mungkin jarang atau mungkin tidak mau “ZIARAH” kesana.

    selain itu saya juga menilai kalo amang tidak bisa menerima kalo ide amang ini tidak bagus and salah sehingga setiap ada pendapat di cari kesalahannya untuk di comment. padahal keterangan dari abang amang sendiri (Pdt. Mula Harahap tanggal May 2nd, 2009 at 11:28am) sudah cukup jelas and tepat.

    mungkin perlu di pertanyakan tujuan amang menjadi pendeta itu apa? janganlah liat wadah or organisasinya cukup lah tanya ke diri sendiri apa tujuan kita jadi pendeta. kalo menurut aku sih, peduli amat dengan organisasi nya. kalopun organisasi yg kita ikuti jadi besar biarlah karena banyaknya jiwa2 yg sudah kita menangkan untuk Tuhan.

    Banyak sekali penyangkalan yg dapat di tulis mengenai ide amang daripada sekedar alasan history belaka. malah timbul pertanyaan saya: “kalo sudah mencoba nasionalis, kenapa kita gak fokus untuk memenangkan jiwa2 yang bukan orang batak untuk menjadi bagian dari HKBP?” jangan bilang HKBP sekarang ini sudah bertambah besar. Dengan banyaknya gereja kharismatik + banyak juga pendeta batak berkotbah di sana ini harusnya jadi tantangan bagi HKBP bagaimana caranya untuk berintropeksi tentang hal ini.

    saya yakin jika di itung persentase para kawula muda batak yg bergereja di hkbp dengan yg di bukan hkbp akan lebih banyak yg bergereja di bukan hkbp.
    fokuslah akan hal ini, karena bisa jadi sekarang ini yg bergereja di sana hanyalah para orang tua saja and yg memang rindu untuk berbicara or mendengar bahasa batak saja daripada membicarakan tentang topik pemindahan gereja.

    mohon maaf kalo kurang berkenan, saya tidak ada maksud apa2 dan hanya ingin hkbp tetap eksis dmn pun berada. seperti kata Mama ku bilang: “mengalah bukan berarti kalah”

    Daniel Harahap:
    Mamaku bilang: “jangan pernah lelah mengatakan kebenaran”. :-)

  107. Ricky Says:

    hehehe, ini mah ujung2nya malah jadi berbalas pantun aja amang.

    Daniel Harahap:
    Mamaku bilang: “jangan pernah lelah mengatakan kebenaran”.

    menimpali pendapat amang di atas: berarti amang udah merasa seperti Tuhan tau mana yg benar atau tidak. karena amang merasa pendapat amang itu benar, padahal menurut sebagian besar orang di sini adalah salah.
    tapi meski begitu aku gak bisa menilai benar atau salah, karena benar salah itu kalo yg nilai diri sendiri berarti kurang subjektif.

    justru malah saya balik bertanya: “tau dari mana amang kalo pendapat amang itu benar?” sementara lebih dari 50% tidak setuju.

    sekali lagi, saya hanya merasa and merenungkan bahwa: keterangan dari abang amang sendiri (Pdt. Mula Harahap tanggal May 2nd, 2009 at 11:28am) sudah cukup jelas and tepat.

    jangan bilang keterangan Pdt. Mula Harahap itu hanya untuk amang saja, tapi itu juga untuk kami semua, yang notabene harus mengerti and memahami fungsi or capability kita dalam suatu subjek. yang mana biarlah kita mengurusi apa yg menjadi keahlian kita saja.


    Daniel Harahap:
    Ricky, kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang dan juga tidak tergantung Abang. :-) Catatan tambahan: Mula Harahap itu bukan pendeta. :-)

  108. Ricky Says:

    Yah wis lah… yang penting saya dan banyak orang di sini sudah berpendapat, di terima atau tidak itu tergantung Amang, karena toh amang yg punya forum ini.

    Mengenai Amang Mula Harahap saya mohon maaf, tapi jadi bahan renungan nih buat saya. cos seharusnya Amang yg notabene seorang pendeta lah yg harusnya lebih wise, tapi kok……? sekali lagi mohon maaf kalo kurang berkenan, and semoga sukses.

  109. jeremy Says:

    Wah, makin menarik nih amang, makin banyak berbalas komen2nya…

    tidakkah menjadi pemikiran mereka, kalau waktu hampir 16 jam pp pearaja polonia habis begitu saja??? dengan 16 jam itu, pimpinan mungkin bisa mengunjungi 5-6 gereja satu hari… ( iya kalau dikunjungi :P )

    pemikiran ricky juga harus dipikirkan amang, cobalah lihat gereja berbahasa batak, isinya sekarang hanya orang tua, kemana yang muda??
    Semoga HKBP di umur yang mau 150tahun ini tidak menjadi seorang yang terlalu uzur, tua, susah bergerak dan tidak pikun….

    Daniel Harahap:
    Makanya saya usulkan supaya sekalian Pusat dipindahkan ke Jakarta agar lebih mudah mengadakan pembaharuan termasuk mengajak anak2 muda HKBP yang “berkeliaran” dimana-mana pulang ke HKBP. Tapi banyak orang lebih suka bernostalgia tentang kampung yang sunyi dan damai semu. :-)

  110. Imanuel Manalu Says:

    kalau nanti ada apa2 di tarutung dan sekitarnya atau medan, brarti eporus jg sibuk pp jakarta medan 2 jam +6 jam ke tarutung juga lah…sama2 capek lah beliau
    urusan jakarta dimintakan kepada Praeses yg 3 org itulah untuk menyelesaikan. kl mereka tidak bisa, gabung aja lagi itu 3 distrik di jakarta dengan distrik VIII jawa kalimantan, atau minimal,diganti dengan org lain yg dirasa lebih capable

  111. Hitler P. Sigalingging Says:

    Sdr Ricky, tak usahlah banyak protes mengenai Amang DTA.
    Yang kutahu dari diri manusia itu ada hak dan kewajiban. Mereka seiring, sejalan.
    Mengenai komen Amang saya rasa itu karakternya. Yang tahu hanya beliau dan Tuhan.
    Oiya mengenai komen Jeremy, tunjukkanlah HKBP mana? Biar menjadi tugas para Pdt untuk memperbaikinya.. :)
    Sekali lagi : “lanjutkan” Amang hak dan kewajibannya maniroi angka biru2 na…

  112. Ricky Says:

    Daniel Harahap:
    Makanya saya usulkan supaya sekalian Pusat dipindahkan ke Jakarta agar lebih mudah mengadakan pembaharuan termasuk mengajak anak2 muda HKBP yang “berkeliaran” dimana-mana pulang ke HKBP. Tapi banyak orang lebih suka bernostalgia tentang kampung yang sunyi dan damai semu.

    –> coba amang kasih link ini ke ephorus or ke orang yg berkepentingan yg bisa mengakomodir usul amang ini.
    Amang bisa debat kusir dengan mereka dengan alasan yg Amang berikan di sini jikalau mereka menolak. and tolong beritahu kami alasan yg signifikan dari para pemimpin HKBP mengenai usulan Amang ini jikalau jawaban mereka menerima or menolak. (kalo menerima, kapan rencana mereka akan melaksanakannya).

    Dan kalo bisa jangan mengecilkan peran penting dari kampung kita, meskipun di sana jauh dari maju di banding di ibukota, tapi terbukti di sanalah tercipta orang2 Batak yg hebat. Jangan terlalu silau dengan kemilau ibukota. harusnya mumpung amang bagian dari HKBP and pendeta di HKBP yg punya akses untuk menyampaikan langsung pendapat ke Ephorus.

    Aku sih melihat untuk Gereja2 yg di latarbelakangi dengan embel2 daerah sangat wajar jika masih terlalu ke adat or dalam hal ini HKBP ke batak2an.
    ini sangat wajar. saya melihat ini hampir sama dengan gereja Katolik yg masih menganut sistem atau budaya yg sudah turun temurun. (sorry kalo salah, ini hanya pendapat saya saja). Jadi, kalo melihat hal seperti ini jangan dari satu sisi or mungkin 4 alasan yg di berikan oleh Amang. tapi di lihat juga dari beratus alasan selain itu.

    bisa jadi, dengan adanya pusat HKBP di sana, lingkungan di sana jadi cepat berkembang di banding tidak adanya pusat HKBP di sana. (sekali lagi ini hanya pendapat saya karena melihat tujuan pemerintah untuk pembangunan merata yg mana salah satu yg di aplikasikan adalah dengan memindahkan universitas negeri ke pinggir kota or bahkan di luar ibukota provinsi di mana tujuannya untuk membangun lingkungan sekitar)

    so, ini masalah kompleks yg mungkin bisa amang kemukakan ke Pimpinan HKBP. Sekali lagi, kita harus fair. memang yg Amang kemukakan mungkin sisi positif yg menurut Amang, tapi kalo mo membandingkan or mo fair kita semua juga harus lihat ada tidak sisi negatif nya jika memang pindah ke Jakarta. biar kalopun jadi pindah HKBP bisa mengantisipasi sisi negatif dari hal ini.

    Daniel Harahap:
    Ricky, ada pertanyaan: kau tinggal dimana sekarang? Jakarta atau Tapanuli. Jika kau sekarang di Tapanuli, aku akan menyimak. Tapi kalau kau ada di Jakarta dan memposting dari Senayan City saranku: pulanglah dulu ke sana dan tinggal dua bulan saja di sana untuk belajar banyak. :-)

  113. Erpesim Says:

    Saat ini saya mempersepsikan posisi Gereja HKBP sbg Organisasi Pelayanan sdg “Krisis” karena teraniaya dan kehilangan Idola Spritual. Teraniaya, tanyakanlah suka duka atau tipu muslihat yg “harus” dilakoni Panitia Pembangunan untuk bekerja. Kadang-kadang bisa lebih Ular dari Ulok.Hal Idola Spritual,karena sosialisasi aktivitas Pimpinan Gereja yg sangat jarang atau nyaris tidak pernah terdengar. Jika HKBP tidak berbuat dan melakukan perubahan yg signifikan,maka cepat atau lambat HKBP akan kehilangan “drive” atas jemaat terutama generasi mudanya. Bukankah sudah cukup banyak domba2 HKBP yang pergi mencari rumput di halaman tetangga? Kita perlu solusi,kita perlu “CHANGE”. Saya berpendapat,bahwa kita memerlukan Pemimpin yang mau kerja keras untuk menggerakkan semua potensi jemaat yang ada secara konsisten dan terpadu. Menindaklanjuti upaya2 semua pihak memajukan HKBP selama ini,mk salah satu langkah konkrit yg dapat dilakukan adalah memindahkan Poskonya ke Ibukota negara ini. HKBP lam tu majuna.

  114. Ricky Says:

    Aku pernah tinggal di sumatera hampir 6 tahun di tempat terpencil dan 2 bulan KKN di tempat yg lebih terpencil lagi dengan saya satu2nya yg beragama Kristen (ujung2nya malah banyak orangtua di situ mengangkat saya jadi anaknya). and beberapa kali berkunjung ke Tapanuli and sebagian lebih dari 2 bulan.
    Memang aku sekarang tinggal di jakarta, tapi bukan berarti aku gak peduli tentang HKBP.

    Amang mungkin melihat dari satu sisi, kalo kantor pusat di tapanuli sana banyak kekurangannya (dlam hal ini kalo aku liat cuma dari segi praktis and ekonomi yang mana itu belum terbukti benar seandainya memang pindah ke Jakarta) justru aku melihat banyak sisi negatifnya jika HKBP Pusat pindah ke Jakarta.
    Ok, memang perlu mem blow up masalah 200 Jemaat di cinere sana, tapi bagaimana dengan nasib jutaan Jemaat HKBP lainnya?
    mending kita ambil hikmahnya aja and anggap aja ini salah satu ujian dari iblis yg kalo nanti kita lolos dan tidak terpancing untuk melakukan hal2 yg negatif tentunya rencana besar sudah di siapkan oleh Tuhan.

  115. Daniel T.A. Harahap Says:

    Kawan-kawan, diskusi tentang perlu tidaknya pemindahan Kantor Pusat ke Jakarta saya pikir sudah cukup. Jumlah komen yang masuk sudah 114 komen. Terima kasih atas semua partisipasinya. Saya diskusi dan debat ini sangat berguna bagi kita. Blog ini bukan tempat mengambil keputusan namun sekadar wacana. Mari kita merenung dan berpikir serta bertindak nyata, demi gereja dan juga bangsa. Sekali lagi terima kasih atas komen-komennya. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang salah dalam merespon atau mengusik pemikiran lanjutan. :-)

    Horas HKBP

    Pdt Daniel T.A. Harahap