Lebih, Cukup, atau Kurang

Almanak Kamis 30 April 2009:

domba-di-padang-hijau.jpg

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. (Mazmur 23:1)

Apakah kita harus memakan sebanyak-banyaknya agar tidak merasa kurang? Apakah kita harus memiliki segala-galanya agar merasa cukup? Dan memuaskan seluruh keinginan agar merasa senang? Jika jawabannya ya, percayalah, walaupun tidak ada satupun yang bisa membuat kita merasa cukup, termasuk Tuhan dengan seluruh kebajikan dan berkatNya. Walaupun kita telah memiliki, mencapai dan memperoleh begitu banyak kekayaan, prestasi dan kesenangan tetap saja kita akan merasa kurang, kurang dan kurang.

Namun jika kita menjawab “tidak” terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, maka dengan mudah kita mengaminkan mazmur Daud di atas. Orang-orang yang tahu merasa cukup bukan saja akan selalu bersyukur tetapi juga membuka mata dan hatinya terhadap berbagai kebajikan dan kemurahan Tuhan. Bagi orang yang mampu mengatakan cukup, pemberian kecil akan sangat dirasa besar dan bermakna. Apalagi pemberian besar dari Tuhan, yaitu: keselamatan, keampunan dosa, hidup baru dan kekal, damai sejahtera. Jika berkat kecil saja mendorong orang-orang yang merasa cukup bersukacita dan bersyukur, apalagi berkat besar dan berkelimpahan. Sebaliknya orang-orang yang tidak pernah merasa berkecukupan tidak mampu mensyukuri apapun yang baik dalam hidupnya.

Daud menghayati Tuhan adalah gembala, pemimpin dan pengasuhnya. Dibawah tuntunan Tuhan dia tidak pernah merasa berkekurangan. Tuhan menuntun dia kepada hidup yang sejahtera sebagaimana para gembala menuntun domba-dombanya ke padang rumput hijau yang segar dan air yang tenang. Tuhan sangat tahu apa yang dibutuhkannya dan mencukupkannya. Bahkan Tuhan memberi sukacita dan damai berlimpah-limpah. Bagaimana dengan Saudara dan saya? Apakah bersama dan dalam Tuhan kita selalu merasa kekurangan, kecukupan atau malah berkelebihan? Mampukah kita mengatakan sama seperti Daud dari kedalaman hati kita: Tuhan adalah gembalaku, aku tidak pernah kekurangan.

Doa:

Tuhan, Engkaulah gembala kami. Biarlah kami percaya bahwa hidup kami aman dan tenteram serta berkecukupan di tanganMu. Engkau tahu dan mencukupkan kebutuhan kami. Engkau menghendaki kami hidup sejahtera dan sukacita, Pimpinlah kami dan ajarlah kami taat kepadaMu. Dalam Kristus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Kembali ke halaman depan:

20 Responses to “Lebih, Cukup, atau Kurang”

  1. abrianto nababan Says:

    Nafsu atau keinginan daging yang sering membuat manusia lupa diri terhadap berkat yang telah diterima, sehingga perasaan kekurangan setiap hari melekat dihati dan pikirian manusia

    Tuhan adalah gembalaku, aku tidak pernah kekurangan

  2. ruly Says:

    jadi teringat amang, seribu dan satu juta, bedanya cuma di ucapan syukur saja..

  3. Panca Bonar Says:

    Pagi ini saya baru saja dapat ilmu baru dari maaf panangga atau dog atau maaf guk guk, yang menurut saya sangat berhubungan dengan renungan hari ini.

    Sudah tujuh tahun si iteng dan si abu dua ekor guk guk yang menjadi satpam paling setia pada saya yang menjadi teman setia saya sejak keduanya saya ambil untuk dipelihara.

    Setelah sekian tahun ada satu hal yang menarik dalam pola makannya yakni setelah dewasa mereka tidak serewel waktu kecil dalam meminta makanan dan semakin dewasa mereka hanya makan sedikit atau secukupnya, dan akhir-akhir ini dengan setangkap roti saja sudah cukup bagi mereka, dan tetap setia menjadi satpam yang bisa dipercaya dan tetap menyambut saya setiap hari denggan suara yang khas.

    Apa yang saya petik dari pengalaman ini adalah , sangat ironis memang di saat panangga saja tahu dan mengerti arti cukup bagi kebutuhannya agar sehat secara lahiriah, namun pada saat yang sama umumnya manusia yang dikatakan ber-akal, bermoral dan mahluk paling mulia banyak yang tidak paham apa arti kata cukup.

    Tuhan berilah makanan kami yang secukupnya. Amin

  4. Go thie Says:

    Ya trimakasih atas seluruh berkat anugrah yang boleh kami terima sepanjang hidup ini, termasuk pola pikir yang selalu mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kami, karena bersyukurlah orang yang mempunyai “sikap,pikiran selalu bersyukur” atas apa yang Tuhan berikan kepadanya. Bagaimana dengan orang yang serakah orang yang selalu merasa kurang, orang yang selalu mau lebih pasti merasa menderita dan tidak menikmati hidup ini, persis seperti kata mutiara dari India “Dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh penghuninya tetapi akan kurang bagi satu orang yang serakah”

  5. Panca Bonar Says:

    INDONESIA SIAPKAN 3 JUTA DOSIS

    Pagi ini saya tertawa kecil membaca halaman depan harian kompas dengan judul Indonesia siapkan 3 juta dosis. Emang apa hubungannya dengan renungan hari ini, itu pasti menjadi pertanyaan.

    Saat ini manusia tidak pernah merasa cukup, tidak pernah merasa puas, dan selalu ingin mempunyai lebih dari yang ada hari ini , dan pola inilah yang menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri yang salah mengartikan bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini, hari esok harus lebih banyak penghasilan dari hari ini, hari esok harus mengambil lebih dari hari ini, hari esok harus lebih kaya secara material dari hari ini, dst…dst.

    Kekeliruan semboyan inilah yang membuat manusia jatuh dalam jurang yang sangat seram dan hingga hilang akal, sehingga melakukan segala cara seperti korupsi, mencuri, merampok, membunuh secara langsung dan hingga mencari akal dengan rekayasa berbagai cara termasuk mungkin merekayasa biologi demi melaksanakan semboyan hari esok harus lebih kaya dari hari ini.

    Semoga kejadian luar biasa kasus flu burung dan flu babi bukan salah satu rekayasa manusia baik pribadi maupun kelompok dalam semboyan hari esok harus lebih kaya dari hari ini. Pakailah mata hati dalam menyikapi sekecil apapun di sekitar kita, agar kita tetap waspada dan tetap diberi Tuhan akal budi dalam memahami apa arti kata cukup.

  6. Victor Pakpahan Says:

    Bersyukur kepada Tuhan….sebab Ia baik….Bersyukur kepada Tuhan…(mengutip pujian dlm Kidung Jemaat). Saat dimana kita sdh mengenal dan merasakan kebaikan Tuhan dlm hidup kita, saat itulah kita dimampukan utk bersyukur dan punya keyakinan yg sangat bahwa tuntunan Tuhan membawa kita kepada kebaikan, kedamaian, kesejahteraan dan suka cita. Apa yg membuat kita gelap hati dan merasa tidak puas dengan hidup ini adalah karena hati kita selalu dibumbui dan dijanjikan dgn kemewahan, kekurangpuasan dan tidak dengan RASA SYUKUR KEPADA TUHAN!

  7. Panca Bonar Says:

    MENGAPA MANUSIA TIDAK PERNAH MERASA CUKUP

    Cobalah flash back kehidupan pribadi masing-masing sejak kecil, masuk ke tingkat remaja, kemudian dewasa, apa kira-kira penyebab mengapa tidak pernah merasa cukup? Dulu , sewaktu di kampung bertani, ada makan, minum dan pakayan seadanya dan bersih rasanya sudah nikmat, terlalu primitif memang kalau kita sadari.

    Setelah kita pindah ke daerah urban perkotaan, maka mulailah kita masuk dalam lingkaran setan penciptaan kebutuhan oleh dunia bisnis yang dikatakan innovasi. Nah buah dari dunia innovasi kebutuhan inilah yang menjebabkan manusia terjebak pada kondisi membutuhkan kebutuhan yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan jatuhlah pada situasi yang tidak akan pernah merasa berkecukupan.

    Waspadalah menyikapi kebutuhan, jauhkanlah diri dari budak kebutuhan , rasakanlah apa arti kata cukup seperti yang Yesus ajarkan: Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.

    Daniel Harahap:
    Lae hari ini merasa cukup? :-)

  8. Panca Bonar Says:

    Daniel Harahap:
    Lae hari ini merasa cukup? :-)

    Menarik sekali pertanyaan Lae pandita, saat ini saya sangat-sangat merasa cukup setelah memahami apa sebenarnya arti kebutuhan.

    Saya pernah terjebak sebagai budak kebutuhan dan tidak pernah puas hingga pada akhirnya saya berkata : maaf…maaf seribu kali maaf keluar dari mulut saya F…CK you money, dan setelah itu malah menjadi kaya tidak kurang suatu apapun. Gila kan Lae?

    Dulu saya pengen ini, itu, dan pengen handphone keluaran terbaru, model terbaru,namun akhirnya saya geli melihat diri sendiri dan saat ini saya sangat geli melihat orang yang masih saja diperdaya oleh pencipta kebutuhan yang memperdaya manusia yang setiap tiga bulan harus dipaksa berganti handphone seharga puluhan juta rupiah.

    Nah kalau mau merasakan cukup, cobalah merenung dan buatlah list mengenai apa sih yang telah anda pikir butuhkan dan setelah kebutuhan ini diwujudkan coba deh dipikirkan matang-matang , pasti kita ketawa dan malu pada diri sendiri. Nah resep ini mungkin bisa menjadi salah satu cara untuk memahami apa arti kata cukup yang Yesus ajarkan.

    Daniel Harahap:
    Jujur, kadang saya tidak mau mengatakan kepada diri sendiri: cukuplah Dan. :-)

  9. Meb Says:

    Saya punya pendapat yang berbeda amang..
    Manusia cenderung merasa kurang dengan kehidupan yang telah dicapainya, menurut saya baik2 saja dan perlu. justru dengan itu dia/manusia akan terpacu/termotivasi menjadi lebih baik lagi. lantas kapan kita merasa cukup? pada saat kita ‘belum’ diberikan kesempatan untuk mendapatkan hal-hal yang ingin kita raih, artinya usaha yang sudah kita lakukan dengan segenap hati dan kemampuan tentunya tidak semata-mata ‘pasti’ berhasil/terwujud.

    Daniel Harahap:
    Iya juga ya?! Jadi gimana dong?! :-)

  10. A.K.P. Panggabean Says:

    Jika berdoa dan bekerja sudah kita lakukan, maka kita tidak akan merasakan apa yang kurang. Sebab DIA telah memimpin kita ke padang rumput yang hijau sehingga kita tidak akan kekurangan apa-apa.

  11. Bonar Nainggolan (Parprabumulih) Says:

    Memang sangat berat untuk memahami secara mendalam makna sesungguhnya dari Ayat yang Amang sampaikan hari ini. Dalam kehidupan keseharian, saya jujur mengakui jawaban yang menucul pertama adalah “ya”. sering terlupakan bahwa Manusia hidup bukan hanya dari Roti akan tetapi dari yakin dan percaya akan Firman Tuhan. (lupa saya Nomor Ayatnya Amang}. Sebagai manusia saya sangat berat untuk mengatakan “Tidak”, sekalipun pada dasarnya setiap hari Tuhan telah memberikan pemberian yang sangat besar dalam kehidupan saya dan keluarga.(Keselamatan, Keampunan dosa, Hidup baru dan kekal serta damai sejahtera). Saya sering merasa sombong dan Superior bahwa segala sesuatu dapat saya raih tanpa campur tangan Tuhan. Dari fakta yang saya alami, sikap seperti itu ternyata sangat sangat keliru dan berakhir dengan kekecewaan. sekalipun saya sombong dan Superior Tuhan senantiasa bersabar dan sangat kasih dengan selalu memlimpahkan “pemberian besar” itu. Itulah kelemahan saya. Tapi Amang, ditengah kesombongan saya terhadap Tuhan, saya masih ingat pesanNya, yaitu “bersyukur dalam segala hal”. dengan demikian puas tidak puas dalam dinamika hidup dan kehidupan ini, menurut saya, akan terasa manakala kita bersyukur atau tidak bersyukur. Saya sebagai manusia yang lebih banyak tidak berterimakasih kepada Tuhan “berpikir” memang sangat berat menghayati apalagi implementasi Ayat yang Amang sampaikan. Amang Mohon Pencerahan , saya yakin banyak juga umat Tuhan yang seperti saya, mangasahon gogo.Tks

  12. Bonar Nainggolan (Parprabumulih) Says:

    For. Panca Bonar : Mungkin kita harus membedakan antara Keinginan dan Kebutuhan. Dari paparannya saya menangkap bahwa yang dimaksud adalah diperbudak keinginan. bukan diperbudak oleh kebutuhan.Karena Kebutuhan dengan keinginan memang berbeda. Kebutuhan memang harus dipenuhi, sementara keinginan tidak harus dipenuhi, boleh ditunda kalu belum mampu memenuhinya. Mauliate horas.

  13. Lala Says:

    Tuhan selalu cukupkan kita dengan apa yang kita butuhkan…ga lebih dan gak kurang…Passss bangeettt…(gaya dave hendrik di idola cilik…). Trima kasih Yesusku.

  14. elumban Says:

    Ayah saya mengajarkan arti ayat ini kepada kami bukan berorientasi pada kuantitas atau volume kecukupan yg diberikan oleh Tuhan.Ibarat makanan yg lezat, diramu oleh berbagai rasa, ada pahit, asam, asin bahkan cabe yg pedas. Seperti itulah “parmahanion” dari Tuhan kepada kita, dalam keadaan pahi dan manisnya kehidupan yg kita hadapi, sehingga kita layak mengatakan “Jahowa tutu Sipormahan Ahu, dang hurang manang aha”.

  15. Friska pardede Says:

    Buat kami PNS rendahan hari ini,nga diendehon dongan ende diujungan ende “bidang dope naholomi” Sambil makan siang dgn tempe dan tahu saja alai mersogot endehonon nami ma” ria ma hita sasude” mungkin lauknya sdh bisa dgnayam bloiler.

  16. t.m.sihombing Says:

    Horas Amang Pdt DTA.
    Kerinduan duniawi pingin mengalami sesuatu seperti acara di TV berganti Nasib sementara yaitu Orang Kaya merasakan penderitaan orang miskin dan orang miskin merasakan kebahagiaan orang kaya. Keadaan seperti ini tidak bisah dipaksakan karena ada Talenta ataupun nasib yang berbeda-beda. Sebagai orang beriman bahwa tidak pernah bahwa Orang miskin meminta menjadi orang kaya dan orang kaya supaya tambah kaya dan doa kita selalu memohon ‘Lehon ma tu hami hangoluan siganup ari’ dan dituntut kepada kita mensyukuri apa yang kita peroleh , dan bila iman kita penuh dengan buah-buah roh kudus tentu Tuhan akan menambahkan berlipat ganda seperti kesehatan, ketenangan, keberadaan,.dsb.

  17. J. Sitorus Says:

    Horas Amang Pdt. DTA Harahap,

    Terima kasih untuk renungan Amang Pendeta. Salam saya dari Vienna untuk jemaat Resort HKBP Serpong dan teman-teman pecinta Rumamatmet. Saya ingin berbagi pengalaman juga tentang hal tersebut, saat saya selalu merasa diri kurang maka timbul keinginan keras untuk memenuhi kekurangan diri tersebut dengan berbagai cara seperti mendorong diri untuk bekerja lebih keras lagi, membangun semangat pantang menyerah, melawan segala rintangan, muncul keinginan untuk membuktikan bahwa saya mampu bahkan ingin mengalahkan orang lain. Tetapi ketika secara sengaja mengatakan bahwa saya sudah dicukupkan Tuhan bahwa pagi ini ada udara segar, ada makanan maka timbul keinginan dalam diri saya menanyakan Tuhan apa lagi yang dapat saya lakukan hari ini untuk memuliakan Tuhan dan tentu akan muncul banyak hal yang menyenangkan hati Tuhan, termasuk bekerja lebih keras dan bertanggung jawab. Salam.

    Daniel Harahap:
    Horas ma nang di hamu di Sintuanami. Mansai las roha pajumpang hita muse di jabu na metmet on. Beres do sude dibahen dongan di Serpong on. Pasonang hamu ma disan sahat tu taon baru on. :-)

  18. Kimron Manik Says:

    Siapa yang selalu berdoa dan bekerja dengan baik serta berani mengucap syukur kepada Tuhan dengan kekurangan dan kelebihan yang ada padanya, maka dia tidak akan pernah kekurangan, semua pasti dicukupkan oleh Tuhan.

  19. Rachman Tua Munthe Says:

    percuma Dia Gembalaku bila Dia tidak menuntun aku untuk memperoleh secukupnya bagiku hari ini (setiap hari …). Dia sebagai Gembala kupikir lebih mengetahui apa yang kubutuhkan dan menuntun aku untuk memperoleh kebutuhan itu, lebih, cukup atau kurang, tentu aku akan terima seadanya. Yang kupikirkan sekarang bagaimana supaya banyak orang juga mau digembalai dan dituntunNya … bukan ke tempat yang dikehendakinya sendiri tetapi ke tempat yang dikehendaki Dia si Penggembala itu sendiri … Dalam TUHAN penuh stamina, kekuatan …. hidup selalu segar dan aman dalam perlindunganNya ….

  20. Jansen H. Sinamo Says:

    Saya kira Tuhan pun belum merasa cukup. Persisnya, Tuhan belum merasa puas atas kondisi gereja-Nya, atas kondisi dunia, atas kondisi Indonesia.

    Khususnya, Tuhan belum puas atas kondisi saya. Ketidakpuasan Tuhan itu menjadi ketidakpuasan saya juga. Therefore, I need to grow. Kebutuhan semacam ini saya sebut “kebutuhan yang kudus” yang menjadi semangat dan energi perubahan dan perbaikan pada semua aspek kedirian saya dan lingkungan saya.

    Tapi sabar-Nya setinggi langit ke atas dan sedalam langit ke bawah maka saya pun harus sabar juga atas kondisi saya kini — dan atas kondisi yang lain-lain tadi — tanpa kehilangan rasa butuh primordial yang berkobar abadi di inti keinsananan saya.

    Hanya orang mati yang sungguh-sungguh merasa cukup, merasa puas, lelap dan lelas.

Leave a Reply