Jangan Lupa!
Almanak Rabu 18 Juni 2008:
Sama seperti umat Israel kita percaya kepada Allah yang menciptakan kehidupan, yang berkarya dalam sejarah, tinggal serumah dan sekota dengan kita, hadir dalam suka duka kita, dan membantu kita berjuang. Ya, kita percaya kepada Allah yang terus-menerus mencipta, membebaskan dan membaharui dunia. Allah kita bukan duduk tenang-tenang di sorga yang jauh, bersikap acuh tak acuh, dan hanya menonton kita manusia menjalani “takdir”.
Sebab itu percaya atau beriman bagi kita berarti hidup bersama Allah di dunia, mengalami dikasihi-mengasihiNya, menghayati hukum-hukumNya, dan merespon rahmat dan kebajikanNya. Iman Kristen bukanlah sebuah teori abstrak tentang Allah tetapi kehidupan konkret dalam Allah. Iman Kristen bukanlah sekadar pengetahuan tentang Allah tetapi terutama pengalaman hidup bersama Allah sebagaimana dihayati oleh umat Tuhan yang disaksikan Alkitab.
Alkitab mengajak kita agar mencatat (agar tidak mudah lupa) pengalaman-pengalaman iman kita, dan juga pengalaman iman orangtua kita, dengan Allah yang secara khusus telah menyatakan DiriNya dalam Yesus Kristus. Apa saja yang telah dilakukanNya di dalam sejarah atau perjalanan hidup kita? Apa sajakah berkat dan kemurahan yang telah diberikanNya? Apa sajakah petunjuk, peringatan, nasihat dan teguran yang telah disampaikanNya kepada kita yang pantas kita masukkan ke dalam “biografi” atau riwayat hidup kita?
Umat Israel disuruh mencatat dan merenungkan perbuatan-perbuatan Allah dalam sejarah mereka (pemanggilan bapa leluhur, pembebasan dari mesir, tuntunan di gurun, penyataan kemuliaan dan pemberian hukum di sinai, pemberian tanah, penghukuman ke babel dll). Kita, gereja atau orang-orang Kristen moderen pun diajak menuliskan sejarah iman kita. Itulah bekal dan modal yang sangat besar dan berharga bagi kita melangkah ke masa depan. Namun masalahnya seringkali kita malas atau enggan melakukannya. Padahal jika kita mau menuliskan doa-doa kita sejak muda dan bagaimana Allah mengabulkannya, perkataan-perkataan Allah yang kita dengar dan bagaimana kita merespon-nya, tentulah spiritualitas kita benar-benar kaya. Catatan pengalaman iman itu mendorong kita bukan hanya selalu bersyukur, tetapi juga menjauhkan kita dari sungut-sungut, di saat hidup terasa berat dan sulit. Lebih dari itu catatan iman itu kelak juga bisa diwariskan kepada anak dan cucu, sehingga mereka pun ikut bersyukur.
Doa:
Ya Allah, Engkau telah memberikan kami begitu banyak. Kami mohon ampun jika kami sering melupakannya. Ajarlah kami mencatat dan menuliskan kebaikan-kebaikanMu, pengalaman iman kami hidup bersamaMu, agar dapat kami kenangkan dan selalu syukuri. Bukalah mata, telinga, dan hati kami menyaksikan kehadiranMu menuntun sejarah hidup kami. Doronglah hati dan tangan kami menuliskan jawabanMu terhadap doa-doa kami, respon kami terhadap firmanMu, dan berbagai pengalaman indah kami bersamaMu. Dalam Yesus kami selalu bersyukur! AMIN.
Pdt Daniel T.A. Harahap
June 18th, 2008 at 8:18 am
Dulu iseng, pernah saya coba menghitung & menuliskan berkat2 dan kesusahan yg saya peroleh 24 jam berjalan, dalam sebuah catatan kecil dan belajar mengerti. Awalnya pengaruh dari sebuah artikel dan lagu kidung jemaat (ga ingat no brp). Sekarang ga tau napa kegiatan itu sdh tidak pernah lagi saya lakukan.
Daniel Harahap:
Sori, bercanda.
Makanya jangan iseng, Flora.
June 18th, 2008 at 11:44 am
Seandainya kita mau sadar akan apa yg sudah Tuhan beri buat kita dan pengalaman hidup yg sungguh membuat kita takjub akan kebaikan Tuhan tak akan tertuliskan itu hanya dalam secarik kertas tp baiklah kita selalu menyimpan dalam hati yg paling dalam yg tak terhapus oleh apapun.
Daniel Harahap:
Nana, menuliskan di kertas adalah langkah pertama sebelum menuliskannya di hati.
June 19th, 2008 at 5:09 pm
Yang saya tahu Manusia menghitung yang ada kaitan dengan diri nya saja jadi saya pikir lebih baik menghitung dalam sebagai dasar iman kita bahwa masa depan kita ditangan Tuhan, gitu siiiih
June 25th, 2008 at 1:59 pm
[…] Kuhitung Berkat-Nya June 25, 2008, 1:30 pm Filed under: RUPA-RUPA Ketika membaca renungan ini di blog favoritku, akupun merasa tersentak dan mengingat serta menghitung kembali berkat-berkatnya […]