Yesus dan Emansipasi Perempuan

Di Hari Kartini 21 April ini, baiklah umat Kristen kembali mengingat bahwa Yesus yang tersalib dan bangkit itu sangat menghormati dan mengasihi perempuan. Dia punya banyak murid perempuan. Tiga diantaranya: Maria, Yohanna dan Suzanna. (Lukas 8:2-3). Dia mau duduk sejajar dan berdiskusi dengan seorang perempuan yang tak jelas statusnya dan berasal delompok Samaria yang sangat dihinakan (Yohanes 4:4-30).  Dia menganggap perempuan sebagai mitra dalam perkawinan, bukan sekadar objek atau properti milik laki-laki (Markus 10:6-9). Sebab itu perzinahan bukanlah masalah pencurian properti melainkan pelanggaran komitmen pribadi (Matius 5:27-28). Dalam suatu kasus ketika massa hendak merajam atau melempari batu seorang perempuan yang kedapatan berzinah, sementara laki-lakinya entah bebas entah dimana, Yesus menolak diskriminasi hukum dan kekerasan terhadap perempuan itu. (Yohanes 8:7). Dia menolak domestikasi dan marjinalisasi perempuan, dan menganggap perempuan harus juga belajar dan mendengar firman. Sebab itulah Dia memuji pilihan Maria untuk duduk mendengarkan Firman dan mengecam Martha yang sibuk di dapur sehingga tidak mendapatkan pengajaran. (Lukas 10:38-41).

Di saat penyalibanNya perempuan2 jugalah yang berani mendekat kepada salibNya (sementara murid laki-laki melarikan diri, dan bersembunyi) (Lukas 23:49). Para perempuan itu jugalah yang berusaha menghormati dan meminyaki jasadNya.  Para perempuan jugalah yang menjadi saksi pertama kebangkitanNya (Markus 16:1-8).

Sebab itu gereja yang mengaku pengikut Yesus hendaklah juga menghormati dan mengasihi perempuan sebagaimana telah diteladakan oleh Tuhan. Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia mulia yang diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:27). Dalam Kristus tidak ada lagi perbedaan kemanusiaan laki-laki dan perempuan (Galatia 3:28). Semua, baik laki-laki dan perempuan harus saling mengasihi dan menundukkan diri dalam ketaatan kepada Allah.

Dalam terang Firman  dan  kebangkitan Kristus inilah kita merayakan Hari Kartini ini dan meneruskan perjuangan kita akan keadilan gender dan juga keadilan dibidang lainnya. Sebab itu hari ini kita diingatkan hari Kartini bukanlah sekadar pameran apalagi kewajiban berkebaya. Paskah dan kebangunan perempuan bukan sekadar memberi peran artifisial (palsu) dan tempelan kepada kaum perempuan, apalagi untuk meneguhkan domestikasi dan marjinalisasi perempuan melalui ritual lomba masak, lomba bersanggul dan lomba merangkai bunga hias, yang tidak bermakna banyak apalagi bagi perempuan miskin yang harus berjuang untuk hidupnya dan hidup keluarganya.

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *