Pemulihan Sang Penyangkal

Kotbah Perayaan Kedua Paskah Tuhan Yesus Kristus
Senin 21 April 2014

Evangelium: Yohanes 21:15-19
Epistel : Yehezkiel 34:1-6

Petrus yang tadinya  mengatakan akan tetap setia mengikut Yesus sekalipun teman-temannya sesama murid meninggalkan Sang Guru, ternyata sesumbar atau bicara besar. Takut ditangkap dan nyawanya terancam seperti Yesus, Petrus tiga kali menyangkal bahwa  dia adalah salah seorang murid Yesus. Bahkan Petrus bersumpah bahwa dia tidak mengenal Yesus. Dan sesudah penyangkalannya itu Petrus pun teringat Yesus telah mengatakannya kepadanya saat Perjamuan Terakhir sebelum penangkapan: “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali”. Hati Petrus hancur dan dia pun menangis tersedu-sedu.

Sebenarnya bukan hanya Petrus yang ketakutan setelah Yesus ditangkap oleh pasukan suruhan pemimpin  agama Yahudi. Semua murid tercerai-berai dan melarikan diri menyelamatkan dirinya masing-masing. Apalagi setelah Yesus dijatuhi hukuman mati dan disalibkan. Murid-muridNya hanya berani memandangnya dari kejauhan dan selalu berkumpul dalam ruang terpencil dan terkunci. Mereka takut dan cemas setiap saat pasukan pemimpin agama dan tentara Romawi datang menciduk mereka karena mengikut Yesus. Dan mereka tak punya kekuatan apa-apa untuk membela diri. Guru mereka sudah dinyatakan menghujat Allah sebab itu harus disalibkan. Bagaimana mereka berharap kepada Allah? Dalam Kitab Suci pun tertulis: terkutuklah orang yang digantung di kayu salib! Jadi, jika Sang Guru benar dikutuk Allah, kemana lagi mereka harus mengadu?

Namun di Minggu Paska, Yesus yang tersalib (dan ditinggalkan oleh murid-muridNya itu) menampakkan diriNya dalam wajah Allah. Dia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan yang hidup, mulia dan berkuasa. Dia kembali menghimpun murid-muridNya yang tercerai-berai dan bersembunyi ketakutan. KemuliaanNya menjadi bukti bahwa Dia tidak benar menghujat Allah (seperti dituduhkan Imam Besar Kayafas). PenampakanNya dalam rupa Ilahi atau surgawi menunjukkan Dia tidak berdosa sama sekali saat disalib. Dia menjadi kutuk bukan karena kejahatan atau dosanya sendiri. Murid-murid mulai percaya kembali kepada Yesus. Hati mereka yang sudah sempat putus asa dan apatis kembali bangkit.

Yudas Iskariot yang menjual Gurunya dengan harga tiga puluh keping perak sudah mati bunuh diri. Dari antara para murid, Petruslah yang merasa paling berdosa. Dia diangkat sebagai “ketua kelas” atau “koordinator para murid” namun ternyata dia bukan hanya tak dapat berbuat apa-apa meringankan penderitaan Yesus, melainkan malah menyangkal Nya dengan sumpah. Penyangkalan itu telah merusak dan memutuskan hubungan Petrus dengan Yesus.

Namun Yesus rupanya bukan pendendam. Dia sangat mengenal kelemahan (dan juga kekuatan Petrus). Dia mengasihi Petrus dengan kasih yang tak bersyarat dan mengharapkan balas. Dia menghendaki Petrus pulih. Sebab itulah saat Dia menampakkan DiriNya di tepi pantai, selesai sarapan Dia khusus berbicara dengan Petrus. Yesus menyapanya dengan nama kecil dan nama keluarganya, menunjuk langsung kepada pribadi Petrus: Simon anak Yona. Yesus bertanya tiga kali kepadanya: Simon, anak Yona, apakah engkau mengasihi tanpa syarat dan tanpa pamrih lebih dari murid-murid lain? Petrus kini tidak lagi congkak dan sesumbar. Dia menjawab dengan penuh kerendahan: Engkau tahu ya Tuhan, bahwa aku masih mengasihi Engkau dengan kasih yang bersyarat dan mengharap balas.  Tuhan meminta Petrus mengasihi Dia dengan kasih yang murni namun Petrus mengaku hanya bisa mengasihi Dia dengan kasih yang bercampur. (Dalam teks Yunani Yesus memakai agape untuk kasih, sedangkan Petrus memakai pilia). Dan Yesus tidak marah mendengar jawaban jujur Petrus. Dia mempercayakan dan menugaskan Petrus agar menggembalakan domba-dombaNya.

Yesus yang tersalib dan bangkit itu telah mengampuni penyangkalan Petrus. Yesus menerima keberadaan Petrus dan mengasihinya. Dia tidak menginginkan Petrus terbelenggu oleh rasa bersalah, penyesalan, dan dosa-dosa masa lalunya. Dia ingin Petrus bebas dari rasa bersalah, penyesalan dan dosa masa lalunya. Dia ingin Petrus melayani dan menggembalakan gerejaNya dengan kemampuannya yang ada dan dengan ketidaksempurnaannya itu. Sebab itulah Dia berkata: gembalakanlah domba-dombaKu.

Bagaimana dengan kita? Kita mungkin tidak lebih baik dari Petrus. Acapkali kita menempatkan kepentingan dan keamanan diri kita melampui kesetiaan kita kepada Tuhan. Acapkali kita juga berkata sesumbar mengikut Tuhan namun sangat lemah dan takut menghadapi pencobaan. Penyangkalan Petrus ini memotivasi kita lebih berani dan kuat mengalahkan diri kita dan menempatkan Kristus diatas segala-galanya, termasuk di atas keamanan dan kenyamanan diri kita.  Kita tidak harus terpenjara oleh masa lalu kita. Kekurangan dan kelemahan kita di masa silam tidak harus menjadi penghambat mengasihi Tuhan sekarang. Kita dapat mengasihi Yesus dengan ketidaksempurnaan kita. Namun kita dipanggil untuk terus-menerus memurnikan cinta kasih dan kesetiaan kita kepada Tuhan. Sama seperti Dia pernah memulihkan Petrus, maka saat ini pun Tuhan mau memulihkan hidup kita dan memberi kita kepercayaan mengasihi sesama yang dikasihi Allah, terlebih yang kecil dan papa.  Terimalah pengampunanNya dan bangkitlah lagi melayani Dia.

Pdt Daniel TA Harahap

 

 

 

Share on Facebook

1 comment for “Pemulihan Sang Penyangkal

  1. Esterlina
    April 23, 2014 at 7:49 am

    Terima Kasih amang untuk Khotbah Paskah kedua ini, saya mau tanya amang, kalau di bahasa Yunani apakah kata Kasih yg Yesus ucapkan sebanyak tiga kali itu “Agape” dan Petrus menjawab dengan “Pilia ?

    Horas
    Esterlina

    Daniel Harahap:
    Ya betul sekali Ito. Yesus bertanya memakai kata “agape” sedangkan Petrus menjawab dengan kata “pilia”. Maknanya sungguh dalam. Yesus meminta kasih yang murni namun Petrus menjawab jujur dia hanya mampu mengasihi dengan kasih yang masih mengharap balas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *