Modus Baru Pencurian Pulsa?

Saya dan Kika barusan kembali dari Grapari Telkomsel BSD. Ceritanya Minggu pagi kemarin paket internet ponsel Kika habis. Kika lupa memberitahu dua hari sebelumnya agar pulsanya diisi Rp 130.000 supaya paket internetnya secara otomatis berlanjut. Minggu siang Mamanya mengisi pulsa Kika Rp 100.000 supaya besok saya bisa membawanya ke Grapari untuk melanjutkan paketnya. (Di ponsel Kika masih ada sisa pulsa Rp 60.000. Tapi apa yang terjadi? Pagi tadi, artinya nggak sampai 24 jam seluruh pulsa itu sudah tersedot “hantu” disisakan Rp 59 saja. Istri saya tentu saja mengomel. Saya bilang itu bukan sepenuhnya salah Kika. Saya sudah punya pengalaman bahwa perusahaan raksasa telekomunikasi di negeri ini sangat suka memanfaatkan sedikit pun kealpaan atau kekeliruan pelanggan demi keuntungannya.  Saya pun mengambil-alih tugas menemani Kika ke Telkomsel untuk bertanya apa yang terjadi (walau saya sebenarnya dalam hati sudah tahu).

Penjelasan petugas counter Telkomsel itu “ponsel pintar” jaman sekarang dirancang untuk selalu terkoneksi dan atau mencari koneksi internet. Sebab itu walaupun paketnya sudah habis, si ponsel (entah bagaimana caranya) selalu mencari koneksi internet dan memakai pulsa yang ada untuk membayar koneksi internetnya. Oh jadi itulah yang membuat pulsa ponsel Kika  Rp 160.000  lenyap dalam sekejap. Saya bertanya kepada petugas di counter apakah saya bisa melihat URL mana saja yang diakses Kika dan berapa biaya masing2. Dia mengatakan dengan sopan bahwa dia tidak punya akses untuk membukanya. Namun dia mengajak saya melihat layar komputernya. Disana ada tertera ponsel Kika dicharge Rp 57.000, kemudian ada lagi Rp 40.000 sekian dan ada lagi Rp 14.000 lengkap dengan masing2 jamnya. Namun saya tetap tidak tahu apa dan darimana serta bagaimana munculnya besaran pembayaran itu. Saya bertanya apakah dan bagaimanakah saya bisa melihat masing2 URL itu dan biaya spesifiknya? Dia tak bisa menjawab.

Saya juga bertanya mengapa Telkomsel membuat koneksi internet berharga mahal penyedot pulsa ini secara otomatis memotong pulsa pelanggan tanpa persetujuan pelanggan? Bukankah seharusnya opsional? Bukankah seharusnya pelanggan lebih dulu ditanya setuju atau tak setuju? Bukankah kesepakatan Kika dan Telkomsel paket Rp 130.000. Jika memang dananya sudah habis, kenapa dialihkan ke paket lain tanpa meminta persetujuan Kika atau pelanggan? Dia lagi-lagi tak bisa menjawab. Apakah dengan cara ini perusahaan seraksasa Telkomsel sengaja memanfaatkan celah keterbatasan dan kealpaan masyarakat akan hal2 yang sangat detil dan teknis dalam sistem paket internet melalui ponsel untuk meraup uang dan itu sebenarnya bertentangan dengan prinsip moral bisnis yang baik? Atau, maaf: apakah ini modus baru pencurian pulsa???

Saya hanyalah salah seorang Rakyat kecil. Saya juga sangat awam dalam hal teknologi tinggi apalagi kaitannya dengan akumulasi uang. Namun hari ini saya merasa diperlakukan secara tidak adil oleh sebuah perusahaan raksasa telekomunikasi. Dan betapapun kecil dan lirihnya suara dan kekuatan saya hari ini, saya tetap menyuarakan komplain saya di lembar keluhan Telkomsel, dan di semua media yang saya miliki. Saya percaya suatu saat suara kecil dan lirih akan sampai ke puncak2 kekuasaan negeri ini. Dan saya berharap presiden dan wakil presiden yang akan terpilih Juli nanti adalah orang2 yang punya sejarah perduli kepada kepentingan Rakyat betapa pun lemah dan kecilnya kami. Dan benar2 punya nyali berhadapan dengan perusahaan raksasa yang suka mengerjain Rakyat kecil.

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *