Refleksi Jumat Agung: Makna Salib Bagi Kita

Pada awalnya salib adalah bentuk hukuman mati ala Ronawi. Pemerintah Romawi menemukan cara yang paling keji dan mengerikan untuk menghukum mati para pemberontak atau penjahat kambuhan, yaitu memakukannya hidup-hidup di atas tonggak kayu yang dipacakkan di tengah keramaian kota atau pelintasan orang banyak. Tiang kayu itu bisa berbentuk palang atau cross +, huruf T atau X. Disanalah tubuh para penjahat itu dipakukan setelah disiksa, lantas dibiarkan sekarat berhari-hari sampai akhirnya mati. Selain memberi rasa sakit yang tak terperi secara fisik, hukuman salib ini benar-benar ingin memperlakukan dan menghina serendah-rendahnya si penjahat. Sebab itu pada jaman itu tak ada kematian yang lebih mengerikan dan mempermalukan daripada mati disalib. Orang Yahudi sendiri menganggap orang yang mati tergantung disalib sebagai orang yang terkutuk sebagaimana tertulis dalam Ulangan 21:23.

Sebab itu ketika Yesus dijatuhi hukuman mati disalibkan, itu merupakan peristiwa yang benar-benar mengerikan dan menghancurkan perasaan para murid. Mereka bukan saja takut kepada pemerintah Romawi dan pemimpin agama Yahudi yang menyalibkan Yesus  Gurunya itu,  melainkan lebih takut lagi kepada Allah. Jangan-jangan seperti kata Kitab Suci guru mereka yang disalib ini benar-benar dikutuk oleh Allah. Jika Sang Guru dikutuk apalagi murid atau pengikutNya. Jika Sang Guru dengan mudah dibekuk dan dibungkam apalagi para pengikutNya yang adalah orang-orang nelayan sederhana itu. Sebab itu wajar sajalah jika para murid Yesus melarikan diri sesudah Yesus ditangkap dan disalibkan. Mereka kehilangan andalan dan tumpuan hidupNya. Mereka kehilangan harapan dan tujuan serta masa depannya yang sudah sempat diserahkan kepada Yesus. Mereka sungguh seperti anak domba yang tercerai-berai setelah gembalanya dibunuh, atau dalam pameo kita ibarat anak ayam kehilangan induk.

(bersambung)

 

Murid-muridNya

 

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *