Rufinus Nainggolan on February 12, 2012 at 4:08 pm
Santabi ma tu amang Pendeta Harahap, bukankah HKBP telah menjadi berkat selama ini? Bukankah visi itu visioner amang dengan bahasa yang sangat sederhana tapi sangat mudah dicerna oleh semua jemat? Apakah nama “Tuhan Jahowa”, “Jesus Kristus” tidak menjadi pertimbangan bagian dari redaksinya? Yang lama bagaimana? Horas.
Togu Silitonga on April 9, 2012 at 8:15 am
Saya sudah sejak lama menginginkan perubahan sikap dan pemikiran (pimpinan) HKBP. Tentu, jika pemimpin mau berubah sikap/pemikiran dengan sendirinya HKBP sebagai institusi juga berubah. Pengertian berubah, bukanlah dalam tata ibadah. Sejak terjadi awal pergumulan (era TD Pardede), HKBP tidak lagi membangun Bangso Batak. Kemunduran pola pikir, ekonomi dsbnya yang terjadi di orang Batak adalah akibat hal tersebut ditambah (tentunya) politik orde baru. Andai saja sejak dulu HKBP mau menjembatani kemajuan ekonomi (pertanian) Tano Batak dengan pengusaha kristen yang ada di eropa,tentu kita tidak akan pernah mendapat julukan kabupaten termiskin di Indonesia di era Soeharto.
Masih banyak lagi, namun terlalu panjang kalau dijabarkan disini. Sebagai orang Batak (walau kini bukan jemaat HKBP), saya sedih melihat kemunduran yang terjadi di Tano Batak dan pola pikir Bangso Batak (tentu tidak semua org Batak). Lihat saja Ruhut Sitompul, Gayus Tambunan, Hotman Paris, Sutan Batugana,Jend. TB Silalahi (dgn manuver politik ingin menjadikan SBY sbg si Raja Batak. Baaah…… Raja Batak cuma satu! Jangan buat jadi dua; jawa lagi…..), ulah mereka ini “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.
Saya sangat mendukung perubahan di HKBP karena itu adalah “harta warisan” pemberian Tuhan kepada kita yang harus kita jaga dan lestarikan.
Santabi ma tu amang Pendeta Harahap, bukankah HKBP telah menjadi berkat selama ini? Bukankah visi itu visioner amang dengan bahasa yang sangat sederhana tapi sangat mudah dicerna oleh semua jemat? Apakah nama “Tuhan Jahowa”, “Jesus Kristus” tidak menjadi pertimbangan bagian dari redaksinya? Yang lama bagaimana? Horas.
Saya sudah sejak lama menginginkan perubahan sikap dan pemikiran (pimpinan) HKBP. Tentu, jika pemimpin mau berubah sikap/pemikiran dengan sendirinya HKBP sebagai institusi juga berubah. Pengertian berubah, bukanlah dalam tata ibadah. Sejak terjadi awal pergumulan (era TD Pardede), HKBP tidak lagi membangun Bangso Batak. Kemunduran pola pikir, ekonomi dsbnya yang terjadi di orang Batak adalah akibat hal tersebut ditambah (tentunya) politik orde baru. Andai saja sejak dulu HKBP mau menjembatani kemajuan ekonomi (pertanian) Tano Batak dengan pengusaha kristen yang ada di eropa,tentu kita tidak akan pernah mendapat julukan kabupaten termiskin di Indonesia di era Soeharto.
Masih banyak lagi, namun terlalu panjang kalau dijabarkan disini. Sebagai orang Batak (walau kini bukan jemaat HKBP), saya sedih melihat kemunduran yang terjadi di Tano Batak dan pola pikir Bangso Batak (tentu tidak semua org Batak). Lihat saja Ruhut Sitompul, Gayus Tambunan, Hotman Paris, Sutan Batugana,Jend. TB Silalahi (dgn manuver politik ingin menjadikan SBY sbg si Raja Batak. Baaah…… Raja Batak cuma satu! Jangan buat jadi dua; jawa lagi…..), ulah mereka ini “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”.
Saya sangat mendukung perubahan di HKBP karena itu adalah “harta warisan” pemberian Tuhan kepada kita yang harus kita jaga dan lestarikan.