Persembahan HKBP: Tiga, Dua, Satu Kali?

December 12, 2011
By Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Begitu ditempatkan sebagai Pimpinan Jemaat di HKBP Serpong Maret 2008,  satu hal yang pertama kali saya lakukan adalah menertibkan persembahan minggu khususnya menghentikan praktek “pencurian” persembahan kedua sesudah kotbah yang seharusnya diperuntukkan bagi Kantor Pusat HKBP. Sebagaimana semua orang HKBP tahu kegiatan pengumpulan persembahan minggu di HKBP dilakukan dengan 3(tiga) kantong: dua sebelum kotbah dan satu sesudah kotbah. Dua yang pertama (dengan nama persembahan 1A dan 1B untuk jemaat setempat), satu yang terakhir yaitu sesudah kotbah untuk Pusat. Kebiasaan di banyak jemaat HKBP, dengan berbagai alasan yang baik dan rasional, persembahan untuk Pusat diam-diam dengan berbagai teknik dikurangi dan dialihkan untuk kepentingan jemaat lokal.

Tegas saya katakan kepada kawan-kawan Parhalado bahwa kita tidak boleh main-main dengan persembahan walau pun itu bukan diambil untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan huria Serpong juga. Saya tahu betul sebagian atau sebagian besar kawan Parhalado Serpong tidak menyetujui sikap saya, dan  itu mereka sampaikan terus terang. Alasannya: “ini sudah biasa”, ” ini adalah kesepakatan  bersama dan sebenarnya distrik juga maklum”, “jemaat kita sedang butuh dana sangat besar untuk pelayanan dan pembangunan”. Alasan sinis: “emangnya Pusat sudah bikin apa kepada jemaat lokal Serpong”? Namun karena mereka lihat saya sebagai pimpinan jemaat bergeming dan bersikukuh, kawan-kawan Parhalado akhirnya mengalah dan tidak lagi “menyetel” (begitu istilahnya) persembahan yang sudah terkumpul itu di konsistori. Apalagi saya tidak bosan-bosannya mengingatkan kawan-kawan saat penghitungan persembahan dilakukan agar memelihara sikap lurus dan tulus.  Dampaknya jika sebelumnya jumlah persembahan ke Pusat antara 15-20% dari total persembahan minggu (suatu hal tidak logis), maka sesudah saya bertugas di Serpong persembahan ke Pusat selalu di atas 35 % dari total persembahan minggu. Bahkan jika kotbah pendeta dianggap bagus maka persembahan ke Pusat yaitu sesudah kotbah itu naik sampai 40 atau bahkan pernah 45%. Sebab itu kadang mereka bercanda. “Orui hamu saotik jamita i Amang, ai nga pagodanghu pelean na tu pusat on”. Artinya: kurangilah sedikit mutu kotbah itu Amang sebab sudah terlalu banyak persembahan ke pusat. Rupanya bagus-tidaknya kotbah dianggap berpengaruh kepada jumlah persembahan sesudah kotbah itu. :)   Namun saya tetap bergeming.

Demikianlah keadaan berlangsung terus minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan berganti tahun. Saban minggu saat menghitung persembahan maka pembicaraan di kalangan parhalado pastilah menyinggung persembahan ke pusat yang dianggap sudah terlalu banyak ini (apalagi bila sudah di atas 40%). Saya pun terus-menerus didesak lagi agar membuat “kebijaksanaan” mengijiinkan parhalado kembali menyetel persembahan itu demi kepentingan huria lokal kami. Sekali lagi: demi kepentingan jemaat HKBP Serpong. Apalagi HKBP Serpong memiliki begitu banyak program pelayanan dan juga butuh dana sangat besar untuk membangun gereja baru. Saya katakan menggeser-geser isi kantong pelean diam-diam di konsistori sebenarnya sama saja dengan penipuan dan pencurian. Dan itu dosa. Lantas bagaimana? Saya tidak mau membohongi diri sendiri, jemaat, pimpinan apalagi Tuhan soal persembahan. Namun saya juga sadar bahwa jemaat lokal kami butuh dana dalam jumlah besar dan sumber dana tetap huria itu salah satu persembahan minggu. Akhirnya saya tawarkan kepada kawan-kawan Parhalado: daripada mencuri atau berbohong mari kita baharui saja sistem persembahan kita. Bagaimana caranya? Kita jujur saja dan berterus terang kepada warga jemaat, kepada pimpinan distrik dan pusat membagi persembahan minggu  itu memakai sistem prosentase. Namun semua harus dilakukan secara terus terang tidak sembunyi-sembunyi. Saya usulkan agar  dalam ibadah minggu cukup mengumpulkan satu kali persembahan memakai satu kantong dalam satu kebaktian. Pembagiannya: 50% untuk huria, 25% untuk pusat dan 25% untuk pembangunan.

Mula-mula kawan-kawan parhalado ragu. Ada dua alasan keraguan. Pertama: dikuatirkan jika persembahan hanya satu kantong maka pemasukan HKBP Serpong akan berkurang. Kedua: penyederhanaan kantong menyalahi ketentuan Pusat. Sebab semua tahu ada keputusan sinode godang yang mengharuskan persembahan kedua sesudah kotbah seluruhnya untuk Pusat. Saya katakan: daripada mengijinkan parhalado “manangkoi pelean”  (walaupun bukan untuk pribadinya melainkan untuk huria) mending kita membuat terobosan dengan risiko ditegur atau malah dihukum Pimpinan karna melanggar konsensus sinode godang. Sebagian langsung setuju namun sebagian kawan parhalado masih  tetap ragu. Saya pikir kami harus sepakat bulat untuk melakukan perubahan ini. Akibatnya kami tidak bisa ambil keputusan sampai hampir dua tahun. Namun saban minggu saban penghitungan persembahan tetap terdengar sungut dan keluhan, bahwa ini sistem yang ada selama ini tidak adil. Akhirnya saya menantang kawan-kawan: kenapa Parhalado takut mencoba sesuatu yang baru dan baik? Bukankah kalau sistem baru ini gagal yang kena akibatnya hanya saya sebagai pendeta? Bukankah tidak ada risiko apa-apa kepada kawan-kawan selain kepada saya? Namun bagaimanapun saya tidak mau mengijinkan parhalado  kembali  memain-mainkan persembahan ke pusat dengan alasan apa pun sebab itu tidak baik bagi iman kita secara keseluruhan. Akhirnya rapat parhalado setuju menerima sistem baru dan rapat pun memutuskan bahwa mulai tahun baru 1 Januari 2011 HKBP Serpong akan mengumpulkan persembahan satu kali memakai satu kantong dalam satu kebaktian minggu. Pembagiannya: 50% untuk huria, 25% untuk Pusat dan 25% untuk Pembangunan. Saban persembahan minggu dilakukan memakai amplop. Itu berlaku di semua kebaktian minggu termasuk kebaktian sekolah minggu dan kebaktian remaja. Namun semua sepakat bahwa keputusan menyangkut perubahan sistem persembahan ini harus dibawakan ke Rapat tertinggi yaitu Rapat Jemaat. Hasil rapat parhalado pun dibawa ke Rapat huria Oktober berikutnya. Warga jemaat HKBP yang memang sudah lama “lelah” dengan banyaknya kantong persembahan yang beredar tentu saja dengan senang hati menyambut ide penyederhanaan ini.  Keputusan pun diambil dengan mudah. Warta jemaat untuk sosialisasi terus-menerus dilakukan selama Oktober sd Desember.

Hati kecil saya mengatakan gereja HKBP memang harus membaharui sistem persembahannya. Jumlah tiga kantong persembahan dalam satu kebaktian minggu itu bukan saja terlalu banyak melainkan juga sangat mengaburkan makna persembahan sebagai penyerahan diri, pernyataan syukur dan komitmen iman. Apalagi dengan penamaan persembahan 1A dan 1B (dua-duanya untuk huria!) yang ecek-ecek dan tidak masuk akal itu. Saya entah kenapa sangat yakin jika persembahan hanya satu kali jumlahnya pasti lebih banyak. Warga jemaat akan benar-benar menghayati makna persembahan dan tidak lagi sibiuk mencari uang kecil agar mencukupi mengisi banyak kantong yang diedarkan. Namun saya terus-menerus berdoa agar hal ini berhasil supaya saya tidak disalibkan pagi-pagi buta. :)

Sesuai dengan keputusan rapat parhalado partohonan dan rapat huria mulai 1 Januari 2011 lalu HKBP Serpong pun mengumpulkan persembahan satu kali memakai satu kantong dalam satu kebaktian minggu. Bila ada hal2 luar biasa (misalnya kebakaran gereja Pangururan kemarin, membantu HKBP Jatimurni dan HKBP Cilangkap, komisi beasiswa, poliklinik dan bantuan kedukaan) kami akan mengumpulkan persembahan khusus sehingga dua kali. Apa yang terjadi?

1. Pada awalnya setelah diubah menjadi satu kantong (dari sebelumnya tiga kantong) jumlah persembahan relatif tetap. Kami semua menarik nafas lega. Kekuatiran sebelumnya bahwa anggota jemaat akan mengurangi persembahannya tidak terbukti. Namun minggu demi minggu (parartaon, tim perencanaan keuangan, dan saya terus memantau seksama) persembahan minggu kami terus merangkak naik. Kini setelah hampir setahun persembahan minggu HKBP Serpong naik signifikan. Jika sebelumnya rata2 jemaat memberi 3X Rp 5000 maka kini rata2 memberi 2X Rp 25.000. Saya yakin tahun depan sejalan dengan peningkatan pelayanan jumlah persembahan minggu ini akan naik lagi. Puji Tuhan!

2. Kami Parhalado dan terutama Bendahara Huria kami sangat dimudahkan. Jika dulu lembar uang terbanyak persembahan adalah pecahan Rp 1.000 maka kini di HKBP Serpong pecahan terbanyak adalah Rp 20.000 dan Rp 50.000. Saban minggu uang seribuan tinggal empat atau lima lembar saja! Parhalado sangat cepat dan mudah melakukan penghitungan. Bendahara tidak lagi repot mencari stasiun pomba bensin dan warung yang mau menerima penukaran uang kecil. (Catatan: bank jaman sekarang sangat resek dan tidak mau repot menerima uang kecil dan lusuh dalam jumlah besar!)

3. Waktu kebaktian pun dihemat 15-20 menit. Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga di kehidupan moderen. Waktu selang antara kebaktian pagi dan siang menjadi lebih longgar sehingga tidak ada benturan kendaraan yang keluar dan masuk.  Waktu penghitungan pun lebih cepat sehingga parhalado bisa pulang lebih awal melakukan aktifitas lainnya. Suasana kebaktian lebih khidmat. Semua happy.

4. Ternyata sesudah diubah menjadi satu kali persembahan dengan satu kantong, dan penetapan 25% persembahan ke pusat, maka secara nominal persembahan ke pusat itu pun malah naik atau lebih besar lagi. Apalagi prosentase itu benar-benar diberlakukan di semua kebaktian minggu termasuk sekolah minggu dan remaja serta sore.

5. Yang paling membahagiakan warga jemaat semakin menyadari dan menghayati makna persembahan sebagai ungkapan penyerahan diri, pernyataan syukur, dan komitmen iman. Persembahan sudah direncanakan dan disiapkan dari rumah. Berhubung saban minggu persembahan dilakukan memakai amplop (amplopnya bisa dipakai berulang2) maka jemaat yang msikin dan hanya mampu memberikan sedikit tidak perlu lagi meremas-remas atau “manggopu” uang persembahannya supaya tidak kelihatan.

6. Semua diajar jujur dan adil. Jika persembahan banyak maka bagian ke huria, pusat dan pembangunan juga naik. Jika persembahan berkurang maka bagian masing2 juga berkurang. Semua dilakukan secara transparan dan akuntabel. Tak ada permainan atau pembohongan. Demikianlah ceritanya.

Namun jika karena melakukan yang baik ini (mencegah parhalado menyetel2 dan “mencuri” uang persembahan pusat) saya ditegur atau dikenakan sanksi, maka saya dengan iklas menerimanya sebagai salib. Namun pertanyaan saya: bagaimana tindakan Pusat terhadap pendeta yang parhaladonya diam2 di konsistori masih saja memindahkan sebagian persembahan ke pusat (untuk memudahkan aksi warna kantong persembahan dibuat sama atau tanpa tanda, atau dikurangi saja seenaknya toh tak ada yang mengawasi dari Distrik atau Pusat) untuk kepentingan jemaat lokalnya?

Selamat Jubileum!

Share on Facebook

17 Responses to Persembahan HKBP: Tiga, Dua, Satu Kali?

  1. Ninggorr Pardede on December 12, 2011 at 1:45 pm

    Mantap. Setuju untuk sekali saja persembahan

  2. H. Sinaga on December 12, 2011 at 1:56 pm

    Saya yg juga “kelelahan” dengan banyaknya kantong persembahan di HKBP sangat setuju, dan sangat yain jumlah nominal persembahan akan bertambah.

  3. H. Sinaga on December 12, 2011 at 2:08 pm

    Ilustrasi sederhana dan pengalaman pribadi : Molo arga 20 ribu do hepeng ni iba, ikkon jolo tuhoron ma jo aqua asa dapt 3 lbr 5 ribu. hape molo sahali do durung2 nga ittor leanon 20 ribu i, nga moru 5 ribu. Asing dope haretuhon na asing / efisiensi. Songonna nidokni dongannami par Palembang (dang par Medan amang)”Lantake bae lah”.

  4. Marbuah Damanik on December 12, 2011 at 4:10 pm

    terobosan yang jitu amang. semoga bisa diterapkan juga di huria HKBP yang lainnya.

  5. Ronal B Hutagaol on December 12, 2011 at 4:20 pm

    Wahhh ide cemerlang nih pak Pendeta. Kayaknya boleh juga nih dibawakan ke gereja kami tentang hal ini.

    Terima kasih atas sharingnya amang…

  6. gloria on December 12, 2011 at 4:40 pm

    setuju bangetttt amangg!!!
    cuma mungkin untuk memudahkan pusat untuk menyetujui ini.. mungkin perlu dilakukan uji coba dibeberapa gereja. trus dibuat statistik nya..krn mungkin yg paling ditakutkan parhalado ya itu tadi amang, persembahan jadi berkurang.

  7. Evi Nansi Siagian on December 13, 2011 at 9:35 am

    Saya sangat setuju dengan sistem persembahan satu kali saja dalam setiap kebaktian (diluar hal-hal yang khusus). Alasannya sudah sangat jelas, sesuai dengan pemaparan yang diberitakan di atas. Jadi hal ini memang harus “diperjuangkan” hingga kelak bisa diaplikasikan di seluruh gereja HKBP. Horas

  8. raja on December 14, 2011 at 1:00 am

    Selamat buat HKBP Serpong yang sudah dapat melakukan ini dengan baik, tentu saja ini tidak mudah bagi “parmahan” kebanyakan yang masih mengutamakan quantitas persembahan. Di gereja jemaatku sekarang Gepsultra-Jempol takut melakukan ini karena takut juga akan konsistensi pelayanan. Barang bagus pasti mahal, dan barang mahal belum tentu bagus.

  9. Oriental marolop siregar on December 14, 2011 at 9:32 am

    Selamat buat terobosan amang , satu hal yang sangat sulit dalam merubah aturan atau kebiasaan yang sudah sangat melekat disatu “punguan”atau kelompok yang sudah sangat mendarah daging….

  10. Friska Medi Pardede on December 15, 2011 at 1:27 pm

    Sebagai jemaat biasa,aku anar setuju dgn persembahan yg hanya sekali
    bagi anak2 yg blm kerja rata2 memberikan perdembahannya 2 rb x 3, jika hanya sekali maka mereka pasti dimodali org tuanya 10 rb, demikian juga para ortu mungkun perembahannya masimg2 5 rb atau 10 rb, kalau hanya sekali mungkin akan memberi 20 rb atu 5o rb, dan jamin perdembahannya tak di untel2, semoga gereja ka,i juga segera menirunys, hal2 yg mengarah ke kebaikan kenapa tidak kita tiru, ijin share ke grejaku iya amang.

  11. Hendrawati Situmorang on December 20, 2011 at 8:25 am

    Sangat setuju dgn persembahan satu kali saja.Selain hemat waktu, para naposo bilang acara bikin pusing aja. Apalagi jika mandurung tu jolo acara fashion show deh, kapan berubahnya ya ……

  12. Jonni Silaen on December 22, 2011 at 2:15 pm

    Apa yang sudah amang ungkapkan dan implementasikan, rasanya sangat-sangat bagus, hal ini perlu disosialisasikan ke seluruh jemaat. Namun saat ini ada sesuatu yang sangat menggelitik di hati saya, yaitu tentang Manghatindanghon Haporseaon (Malua). Di gereja kami ada satu keluarga yang 3 orang anaknya mau ikut Malua pada tgl 25 Des. ini, dimana pendapatan keluarga ini hanya dari mengutil sawit. Tapi pada saat ke 3 anaknya mau ikut Malua, Sintua lingkungan terus meminta Biaya Administrasi sebanyak 3 kali 2 kaleng beras. Hal ini sangat memberatkan orang tua si anak. Mendengar hal ini saya bertanya kepada Sintua Lingkungan, tapi beliau hanya menjawab : “itu sudah keputusan parhalado”. Saya coba bilang kepada Sintua tsb, bahwasanya “orang jualan saja bisa kasi korting kalau beli lebih dari satu, masa gereja tak bisa ambil kebijaksanaan,jangan nanti karena uangnya tidak ada, tak jadi anaknya malua”, kata saya, tapi beliau tetap menjawab : “itu sudah keputusan parhalado”. Nah disini saya mohon penjelasan dari amang tentang kasus ini, mauliate.

    Daniel Harahap:
    Tak ada keharusan jemaat (yang tidak mampu) untuk memberikan hamauliateon atau pengucapan syukur kepada gereja. Dan di gereja yang saya layani sejak awal saya tegaskan pelayanan huria (pandidion, manghatindanghon haporseaon, parbagasan apalagi ulaon na manghobasi na marsahit dohot na monding) tidak boleh dikaitkan dengan persembahan atau ucapan syukur. Dengan atau tanpa hamauliateon gereja wajib melayani sebaik-baiknya. Namun saya percaya jika gereja melayani warga jemaat dengan sukacita akan memberikan persembahannya sebagai tanda syukurnya kepada Tuhan walau tak diminta apalagi dituntut

  13. Daniel Batubara on January 2, 2012 at 11:21 am

    Sama seperti yang dialami lae Jonni silaen,
    Di gereja kami juga amang hkbp Perdagangan Resort bandar Maratur, setiap ada pelayanan huria (pandidion, manghatindanghon haporseaon)dikenakan biaya administrasi, (pandidion 100 rb, manghatindanghon haporseaon 200rb) Sejak kapan amang di gereje ada biaya administrasi? Kok kayak kantor pemerintahan yah, buat ktp misalnya biaya adm 100rb. kalo ditanya ke sintua, jawabnya beragam amang, “ai ima, lomo2 ni pandita i do mambaen peraturan”, “ai imada da dang adong keputusan ni rapat parhalado taringot tu si.

  14. Lamsito on January 10, 2012 at 4:58 pm

    Setuju sekali dengan pembaharuan yang di buat amang.
    cuman masalahnya gimana mensosialisasikan dengan gereja HKBP yang lain, tak semua pimpinan gereja mempunyai pola pikir dan pengetahuan seperti amang, apa tak sebaiknya di bawa aja prinsip ini ke sinode godang, dengan data dan hasil dari HKBP serpong, pusat juga pasti akan setuju dan merobah sistem untuk persembahan, mauliate

  15. Marbun on February 7, 2012 at 3:11 pm

    Saya sangat setuju amang, 3 tahun yang lalau hal ini sdh pernah saya usulkan ke Pendeta Huria dan Pendeta Resort. Saya sdh buat pertimbangan yang logis dan memang kenyataan. Alasan yang paling nyata saya sampaikan ada anggota jemaat yang bawa uang persembahan 5ribu. Sementara di gereja 4 kali persembahan supaya dia bisa mengisi ke 4 kantong persembahan dia harus beli permen 1.000 dan sisanya 4.000 untuk persembahannya. Seandainya 1 kali persembahan maka jemaat tersebut tidak perlu menukarkan uangnya dia akan memberikanpersembahan 5.000 maka secara hitungan total persembahan sudah naik 1.000/orang. Alasan Pendeta dan Pendeta Resort menyalahi aturan HKBP. Dan Alasan yang kedua belum ada hkbp melakukan seperti ini. Dan alasan yang terakhir kalau di buat satu kali persembahan tetap jemaat itu menukarkan uang lima ribu tersebut dan hanya memberikan 1.000 untuk persembahan. Dan pengalaman yang saya lihat di gereja di luar HKBP yang hanya sekali persembahan jumlah persembahannya jauh lebih besar di bandingkan HKBP yang melakukan persembahan 3 kali bahkan sampai empat kali. Jadi saya sangat setuju di HKBP perlu perobahan sesuai dengan perkembangan jaman. Jangan sedikit usul slalu bertentangan dengan Aturan. Dan saya usul juga amang setiap huria bisa membuat aturan yang lebih bermanfaat di huria masing masing tetapi tidak bertentangan dengan prinsip dasar HKBP. Salah satu contoh Usia Pensiun Sintua 65 Tahun. Usul saya diserahkan ke internal parhalado setempat untuk menentukan sesuai kondisi pelayanan masing masing, Bisa 45 Tahun, Bisa 50 Tahun, bisa 55 Tahun dst.

  16. juliaman hutabarat on March 8, 2012 at 7:13 pm

    Terobosan yang baik, tetapi yang paling menarik adalah bagian dimana terbukti bahwa orang batak sesungguhnya ‘Flexible’ dan ‘Adaptable’ bagi segala kebaikan yg ada…
    Pastilah di waktu kedepan, jika kecendrungan ini terus ditularkan kesegala aspek kehidupan… orang batak akan mewarnai negeri ini dengan fantastis…
    GBU amang pendeta!

  17. Limrod E Matondang on March 30, 2012 at 2:03 pm

    Terobosan yang sangat bagus dan patut untuk di implementasikan pada semua huria HKBP, berani bertindak demi terobosan baru. Tuhan Memberkati Amang dan semoga membawa perobahan di huria yang kita cintai HKBP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*