ULOS BATAK

February 12, 2011
By

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

1. HASIL PERADABAN

Ulos (lembar kain tenunan khas tradisional Batak) pada hakikatnya adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. Menurut catatan beberapa ahli ulos (baca: tekstil) sudah dikenal masyarakat Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India. Hal itu dapat diartikan sebelum masuknya
alat tenun ke Tanah Batak masyarakat Batak belum mengenal ulos (tekstil). Itu artinya belum juga ada budaya memberi-menerima ulos (mangulosi). Kenapa? Karena nenek-moyang orang Batak masih mengenakan cawat kulit kayu atau tangki. Pertanyaan: lantas apakah yang diberikan hula-hula kepada boru pada jaman sebelum masyarakat Batak mengenal alat tenun dan tekstil tersebut?


Pertanyaan itu hendak menyadarkan komunitas Kristen-Batak untuk menempatkan ulos pada proporsinya. Ulos pada hakikatnya adalah hasil sebuah tingkat peradaban dalam suatu kurun sejarah. Ulos pada awalnya adalah pakaian sehari-hari masyarakat Batak sebelum datangnya pengaruh Barat. Perempuan Batak yang belum menikah melilitkannya di atas dada sedangkan perempuan yang sudah menikah dan punya anak atau laki-laki cukup melilitkannya di bawah dada (buha baju). Ulos juga dipakai untuk mendukung anak (parompa), selendang (sampe-sampe) dan selimut (ulos) di malam hari atau di saat kedinginan.


Dalam perkembangan sejarah nenek-moyang orang Batak mengangkat kostum atau tekstil (pakaian) sehari-hari ini menjadi simbol dan medium pemberian hula-hula kepada boru (pihak yang lebih dihormat kepada pihak yang lebih menghormat).


2. MAKNA AWAL

Secara spesifik pada masa pra-kekeristenan ulos atau tekstil sehari-hari itu dijadikan medium (perantara) pemberian berkat (pasu-pasu) dari mertua kepada menantu/ anak perempuan, kakek/nenek kepada cucu, paman (tulang) kepada bere, raja kepada rakyat. Sambil menyampaikan ulos pihak yang dihormati ini menyampaikan kata-kata berupa berkat (umpasa) dan pesan (tona) untuk menghangatkan jiwa si penerima. Ulos sebagai simbol kehangatan ini bermakna sangat kuat, mengingat kondisi Tanah Batak yang dingin. Dua lagi simbol kehangatan adalah: matahari dan api.


Bagi nenek-moyang Batak yang pra-Kristen selain ulos itu an sich yang memang penting, juga kata-kata (berkat atau pesan) yang ingin disampaikan melalui medium ulos itu. Kita juga mencatat secara kreatif nenek-moyang Batak juga menciptakan istilah ulos na so ra buruk (ulos yang tidak bisa lapuk), yaitu tanah atau sawah. Pada keadaan tertentu hula-hula dapat juga memberi sebidang tanah atau ulos yang tidak dapat lapuk itu kepada borunya. Selain itu juga dikenal istilah ulos na tinonun sadari (ulos yang ditenun dalam sehari) yaitu uang yang fungsinya dianggap sama dengan ulos.

Ulos yang panjangnya bisa mencapai kurang lebih 2 meter dengan lebar 70 cm (biasanya disambung agar dapat dipergunakan untuk melilit tubuh) ditenun dengan tangan. Waktu menenunnya bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan tergantung tingkat kerumitan motif. Biasanya para perempuan menenun ulos itu di bawah kolong rumah. Sebagaimana kebiasaan jaman dahulu mungkin saja para penenun pra-Kristen memiliki ketentuan khusus menenun yang terkait dengan kepercayaan lama mereka. Itu tidak mengherankan kita, sebab bukan cuma menenun yang terkait dengan agama asli Batak, namun seluruh even atau kegiatan hidup Batak pada jaman itu. (Yaitu: membangun rumah, membuat perahu, menanam padi, berdagang, memungut rotan, atau mengambil nira). Mengapa? Karena memang mereka pada waktu itu belum mengenal Kristus! Sesudah nenek moyang kita mengenal Kristus, mereka tentu melakukan segala aktivitas itu sesuai dengan iman Kristennya, termasuk menenun ulos!

3. PERGESERAN MAKNA ULOS

Masuknya Injil melalui para misionaris Jerman penjajahan Belanda harus diakui sedikit-banyak juga membawa pergeseran terhadap makna ulos. Nenek-moyang Batak mulai mencontoh berkostum seperti orang Eropah yaitu laki-laki berkemeja dan bercelana panjang dan perempuan Batak (walau lebih lambat) mulai mengenal gaun dan rok meniru pola berpakaian Barat. Ulos pun secara perlahan-lahan mulai ditinggalkan sebagai kostum atau pakaian sehari-hari kecuali pada even-even tertentu. Ketika pengaruh Barat semakin merasuk ke dalam kehidupan Batak, penggunaan ulos sebagai pakaian sehari-hari semakin jarang. Apa akibatnya? Makna ulos sebagai kostum sehari-hari (pakaian) berkurang namun konsekuensinya ulos (karena jarang dipakai) jadi malah dianggap “keramat”. Karena lebih banyak disimpan ketimbang dipergunakan, maka ulos pun mendapat bumbu “magis” atau “keramat”. Sebagian orang pun mulai curiga kepada ulos sementara sebagian lagi menganggapnya benar-benar bertuah.

4. ULOS DAN KEKRISTENAN

Bolehkah orang Kristen menggunakan ulos? Bolehkah gereja menggunakan jenis kostum atau tekstil yang ditemukan masyarakat Batak pra-Kristen? Jawabannya sama dengan jawaban Rasul Paulus kepada jemaat Korintus: bolehkah kita menyantap daging yang dijual di pasar namun sudah dipersembahkan di kuil-kuil (atau jaman sekarang disembelih dengan doa dan kiblat agama tertentu)? Jawaban Rasul Paulus sangat tegas: boleh. Sebab makanan atau jenis pakaian tidak membuat kita semakin dekat atau jauh dari Kristus (II Korintus 8:1-11). Pertanyaan yang sama diajukan oleh orang Yahudi-Kristen di gereja Roma: bolehkah orang Kristen makan babi dan atau bercampur darah hewan dan semua jenis binatang yang diharamkan oleh kitab Imamat di Perjanjian Lama? Jawaban Rasul Paulus: boleh saja. Sebab Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus (Roma 14:17). Analoginya sama: bolehkah kita orang Kristen memakai ulos? Jawabnya : boleh saja. Sebab Kerajaan Allah bukan soal kostum, jenis tekstil atau mode tertentu, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.


Sebagaimana telah dikatakan di atas, pada masa lalu ulos adalah medium (pengantara) pemberian berkat hula-hula kepada boru. Pada masa sekarang, bagi kita komunitas Kristen-Batak ulos bukan lagi medium, tetapi sekedar sebagai simbol atau tanda doa (permohonan berkat Tuhan) dan kasih hula-hula kepada boru. Dengan atau tanpa memberi ulos, hula-hula dapat berdoa kepada Allah dan Tuhan Yesus Kristus memohon berkat untuk borunya. Ulos adalah simbol doa dan kasih hula-hula kepada boru. Kedudukannya sama dengan simbol-simbol lainnya: bunga, cincin, sapu tangan, tongkat dll.

5. NILAI ULOS BAGI KITA ORANG KRISTEN MODEREN

Sebab itu bagi kita komunitas Kristen-Batak moderen ulos warisan leluhur itu tetap bernilai atau berharga minimal karena 4 (empat) hal:


Pertama: siapa yang memberikannya. Ulos itu berharga karena orang yang memberikannya sangat kita hargai atau hormati. Ulos itu adalah pemberian mertua atau tulang atau hula-hula kita. Apapun yang diberikan oleh orang-orang yang sangat kita hormati dan menyayangi kita – ulos atau bukan ulos – tentu saja sangat berharga bagi kita.

Kedua: kapan diberikan. Ulos itu berharga karena waktu, even atau momen pemberiannya sangat penting bagi kita. Ulos itu mengingatkan kita kepada saat-saat khusus dalam hidup kita saat ulos itu diberikan: kelahiran, pernikahan, memasuki rumah dll. Apapun pemberian tanda yang mengingatkan kita kepada saat-saat khusus itu – ulos atau bukan ulos – tentu saja berharga bagi kita.


Ketiga: apa yang diberikan.
Ulos itu berharga karena tenunannya memang sangat khas dan indah. Ulos yang ditenun tangan tentu saja sangat berharga atau bernilai tinggi karena kita tahu itu lahir melalui proses pengerjaan yang sangat sulit dan memerlukan ketekunan dan ketrampilan khusus. Namun tidak bisa dipungkiri sekarang banyak sekali beredar ulos hasil mesin yang mutu tenunannya sangat rendah.

Keempat: pesan yang ada dibalik pemberian ulos. Selanjutnya ulos itu berharga karena dibalik pemberiannya ada pesan penting yang ingin disampaikan yaitu doa dan nasihat. Ketika orangtua atau mertua kita, atau paman atau ompung kita, menyampaikan ulos itu dia menyampaikan suatu doa, amanat dan nasihat yang tentu saja akan kita ingat saat kita mengenakan atau memandang ulos pemberiannya itu.


Disini kita tentu saja harus jujur dan kritis. Bagaimana mungkin kita menghargai ulos yang kita terima dari orang yang tidak kita kenal, pada waktu sembarangan secara masal, dengan kualitas tenunan asal-asalan? Tidak mungkin. Sebab itu komunitas Batak masa kini harus serius menolak trend atau kecenderungan sebagian orang “mengobral ulos”: memberi atau menerima ulos secara gampang. Ulos justru kehilangan makna karena terlalu gampang memberi atau menerimanya dan atau terlalu banyak. Bagaimana kita bisa menghargai ulos sebanyak tiga karung?

6. SIAPA MEMBERI – SIAPA MENERIMA?

Dalam Batak ulos adalah simbol pemberian dari pihak yang dianggap lebih tinggi kepada pihak yang dianggap lebih rendah. Namun keadaan kadang membingungkan. Ulos diberikan juga justru kepada orang yang dianggap pemimpin atau sangat dihormati. Dalam kultur Batak padahal ulos tidak pernah datang dari “bawah”. Lantas mengapa kita kadang memberi ulos kepada pejabat yang justru kita junjung, atau kepada pemimpin gereja yang sangat kita hormati? Bukankah merekalah yang seharusnya memberi ulos (mangulosi)? Kebiasaan memberi ulos kepada Kepala Negara atau Eforus (pimpinan gereja) selain mereduksi makna ulos juga sebenarnya merendahkan posisi kepala negara dan pemimpin gereja itu.

7. HANYA SALAH SATU CIRI KHAS

Ulos memang salah satu ciri khas Batak. Namun bukan satu-satunya ciri kebatakan. Bahkan sebenarnya ciri khas Batak yang terutama bukanlah ulos (kostum, tekstil), tetapi bius dan horja, demokrasi, parjambaran, kongsi dagang, dan dalihan na tolu. Posisi ulos menjadi sentral dan terlalu penting justru setelah budaya Batak mengalami reduksi yaitu diminimalisasi sekedar ritus atau seremoni pernikahan yang sangat konsumtif dan eksibisionis. Hanya dalam rituslah kostum atau tekstil menjadi dominan. Dalam aksi sosial atau perjuangan keadilan politik, ekonomi, sosial dan budaya kostum nomor dua. Inilah tantangan utama kita: mengembangkan wacana atau diskursus kebatakan kita yang lebih substantif atau signifikan bagi kemajuan masyarakat dan bukan sekadar meributkan asesori atau kostum belaka.


8. ULOS DITERIMA DENGAN CATATAN

Ekstrim pertama: Sebagian orang Kristen-Batak menolak ulosnya karena dianggap sumber kegelapan. Padahal darah Tuhan Yesus yang tercurah di Golgota telah menebus dan menguduskan tubuh dan jiwa serta kultur Batak kita. Ulos artinya telah boleh dipergunakan untuk memuliakan Allah Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus.

Ekstrim yang lain: Sebagian orang Kristen-Batak mengeramatkan ulosnya. Mereka menganggap ulos itu keramat, tidak boleh dijual, tidak boleh dipakai. Mereka lupa bahwa Kristus-lah satu-satunya yang berkuasa dan boleh disembah, bukan warisan nenek moyang termasuk ulos.


Sikap kristiani: Tantangan bagi kita komunitas Kristen-Batak sekarang adalah menempatkan ulos pada proporsinya: kostum atau tekstil khas Batak. Tidak lebih tidak kurang. Bukan sakral dan bukan najis. Jangan ditolak dan jangan dikeramatkan! Jangan dibuang dan jangan cuma disimpan!


(Pdt Daniel.T.A.Harahap)

Catatan:

Tulisan ini saya posting kembali untuk mengenang Ibunda Humara Sereuli Hutabarat, Ompu Paganda, yang telah mengajarkan saya hidup beradat berdasar kasih.

Share on Facebook

Tags: , , , , , , , , ,

37 Responses to ULOS BATAK

  1. ondut on November 16, 2007 at 7:36 am

    Salam sejahtera,

    Bagus sekali postingnya Amang Pandita, semoga berguna bagi yang membacanya.

    Saya bersyukur karena sudah banyak orang Batak yang tahu adat tapi nggak keukeuh dengan adatnya. Maksudnya : Kalo nggak ada HEPENG ndang pola hita mambahen PESTA NA BALGA…karena dulu masih ada yang nggak bisa MENIKAH karena NDANG CUKUP HEPENG alai NDANG OLO TARUHON JUAL..:) gengsi ni na:)..terkadang saya kasihan dengan keadaan seperti itu ,, kayak nggak ada jalan tengah aja.Memang namanya MENIKAH yah harus ada MODAL.. nggak CINTA aja.. hahaha..

    Terima kasih buat POSTINGnya yang indah .. biar banyak jiwa muda yang bisa mengerti dan membuat PARENTSnya ngerti juga.

    salam kasih
    -ondut-

  2. tiur on November 16, 2007 at 9:43 am

    wah bagus sekali nih keteranganya. summer kemarin saya melihat tayangan tari batak memakai ulos oleh voice of america bagian negara Indonesia. Aduuuhhh mak ……mereka (orang2 batak berdomisili disini red.)salah total menerangkan apa arti ulos yang sebenarnya…..!!! mudah2an para crew dari VOA lebih aktif mencari inforamsi yang lebih baik…..!
    thanks pak pdt.

  3. yudi on March 8, 2008 at 3:10 am

    Salam sejahtera,

    Bagus sekali postingnya Amang Pandita, semoga berguna bagi yang membacanya.

    Dan alangkah baiknya keterangan ini sampai kepada setiap orang batak, entah bagaimana caranya, mungkin waktu amang Pandita khotbah di gereja-gereja, ibadah-ibadah atau forum-forum.

    Salam Kasih.

  4. vivi on June 11, 2008 at 11:34 am

    z agak sedikit kontra dengan ulos walaupun z bangga dgn kebudayaan kita ini. namun menurut saya ulos itu di jadikan ato di anggap keramat karena menurut beberapa hamba2 Tuhan pada saat pemberian ulos ini kepada orang yang di tuju mereka akan mengeluarkan beberapa kata atau dalam beberapa sumber mengatakan bahwa itu hanyalah pantun. tapi menurut saya itu bukanlah kata2 biasa namun kata2 yang mengikat seseorang yang di beri ulos itu dengan arwah nenek moyang dan lainnya. sampai saat ini anggapan saya tentang ulos adalah pengikat seseorang dengan penguasa alam belumlah hilang. tapi z cukup banggalah dengan informasi yang sudah di berikan. thx banget yau………… GBU

  5. na Poso Do hami on August 10, 2008 at 12:15 pm

    saya adalah salah satu orang yang pernah membakar banyak ulos di rumah saya..
    UPS,…jangan langsung sinis dulu donk..
    Ulos di rumah saya da tersimpan berpuluh-puluh tahun di dalam lemari kayu, eh satu waktu kami mencoba meliatny ternyata sdh melapuk dan penuh rayap dan jadi sarang tikus berana- pinak…dari pada mengganggu kesehatan maka saya bakar lah itu ulos ( sebelumnya saya pilih dulu yang masih bisa dipakai)
    Yg menarik, menurut cerita ortu saya itu ulos pemberian tanda berkat dari Ompung, Tulang, Namboru dan banyak lagi saudara-saura kami di kampung…
    Ortu sedih juga ulos itu dibakar….
    Jadi kalo ulos nga mau jadi korban api, dirawat dan sering dipakai donk..jangan cuma buat di simpan-simpan doank, kan kasihan juga itu ulos da di tenun sampai berbulan-bulan…

    Daniel Harahap:
    Oke deh, selamat membakar eh merawat ulos baik-baik. Namun, kayaknya ulos itu tidak pernah datang dari namboru. Mungkin maksudnya: Nantulang. :-)

  6. asido marpaung on August 23, 2008 at 1:18 pm

    bagus sekali jika orang orang batak bisa berpikiran luas seperti pak pendeta. maksud saya berpikiran luas disini adalah bisa memandang ulos itu dari berbagai sudut pandang yang positif, bukan hanya dari sudut pandang negatif dan sempit yang pada saat sekarang ini byk dianut oleh orang2 batak kristen dari sekte tertentu. mereka selalu mengkaitkan dan tak henti2nya menghujat dan menuduh org2 batak yang masih memakai ulos batak itu “masih bersekutu dgn iblis dan primitif”. padahal mereka tidak menyadari bahwa merekalah sebenarnya yang berpikiran “primitif” dan “mundur” krn mereka masih sangat meyakini dan percaya makna mistis yang dikandung ulos batak tsb. hehehe …ironis hian ate????…
    mauliate ma di amang Pandita Daniel..

  7. Sonya Rapinta Manalu on January 14, 2009 at 11:37 am

    Makasih amang buat artikelnya, sangat berguna. Apalagi kemaren aku sempat mulai berpikir negatif tentang ulos itu sendiri setelah berbincang-bincang dengan seorang teman yang pelayanan di salah satu gereja di luar HKBP.

    Yah.. mereka masih menganggap jika saya menerima atau memberikan ULos itu, berarti roh saya tunduk pada kuasa kegelapan yang ada di Ulos itu. Padahal Ulos itu sendiri simbol pengayoman yang diberikan melalui nasehat dan doa sewaktu pemberiannya.

    Daniel Harahap:
    Ulos itu berharga karena orang yang memberikannya adalah orang yang sangat kita hormati, peristiwa saat diberikan sangat spesial, pesan yang hendak disampaikan begitu kuat dan dalam, dan juga tenunannya berkualitas. :-)

  8. Daniel on January 19, 2009 at 4:20 pm

    Sekedar usul usil bagaimana jika para Pendeta HKBP menggunakan ulos sebagai stola….

    Daniel Harahap:
    Bagus juga. Tapi ulos dengan ragi atau motif apa? Atau harus membuat motif baru sesuai dengan kalender ibadah gereja.

  9. Daniel on January 19, 2009 at 11:16 pm

    Bagusnya memang buat motif baru sesuai kalender ibadah. Entahlah secara teknis pembuatan ulos ini mudah atau tidak, namanya juga usul-usil hahahaha

  10. t.m.sihombing on February 19, 2009 at 7:54 am

    Peran ulos saat ini menjadi pudar karena ulah para handai tolan harus memberikan ulos, sebenarnya untuk melestarikan pemberian ulos ini supaya bermakna maka harus dimulai dari kesepakatan keduabelah pihak hasuhuton (paranak /parboru), dan menurut saya ulos itu cukup 7 lembar saja yang diuloskan pihak parboru ke pihak paranak, dan untuk pengantin cukup dari Hasuhuton marompu-ompu sedangkan dongan tubu/ale2 lainnya pakai amplop(ampau), kalau dari pihak hula-hula hanya dari Tulang Kandung(atau bapa/mama/saudara dari ibu kita) dan dari hula2 lainnya cukup pakai amplop.

    Namun perlu juga dipikirkan sosialisasi kepada semua orang kristen Batak karena merasa : tidak oke kalau ulos yang diterima sedikit (seperti tidak martondong), tidak puas kalau memberi amplop, merasa uloslah yang paling tinggi dari uang (walaupun dia hanya tulang2an), sosialisasi ini bisah juga dilakukan para pendeta melalui khotbah atau acara partangiangan wijk (karena dapat didiskusikan).

    Sebenarnya di Gereja kita HKBP ini para parhalado sering juga salah menerapkan pemberian ulos misalnya pada saat pesta huria ada acara lelang, karena nilai lelangnya besar maka ulos yang dilelangkan diuloskan juga kepada penyumbang. (tidak jelas peruntukkannya) dan juga terhadap pejabat , ephorus sebaiknya pemberian ulos ditiadakan.

  11. Harisan Parhusip on April 16, 2009 at 11:21 am

    ulos merupakan karya nenek moyang kita yang tidak dapat kita gantikan, oelh karenanya mari kita lestarikan dan kembangkan ulos sebagai sarana budaya dan pengikat rasa solidaritas. akhir-akhir ini ada sebagian warga gereja yang sudah anti menggunakan ulos, dimana mereka berpandangan ulos adalah pakaian yang penuh mistik. hal ini perlu disikapi secara sigap oleh gereja. ulos tidak hanya sebagai pengikat sosial tetapi juga peningkat sentra usaha kecil ekonomi masyarakat.

  12. napit on November 18, 2010 at 2:12 pm

    amang pdt,

    saya mau bertanya:

    bukankah sesuatu yang pernah dipakai untuk sesuatu yang berhala, seharusnya tidak lagi digunakan oleh orang yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai juruslamat (oran percaya), bukankah seharusnya kita meninggalkan cara hidup kita yang lama yang kita warisi dari nenek moyang kita ??

    mohon penjelasan.

    buat semua: apakah abang/kakak sudah bertanya pada Tuhan Yesus dalam doa?

    GBU

  13. suprama simatupang on February 16, 2011 at 10:34 am

    Wahh baik juga ini menambah wawasan dimana sekarang ini sudah banyak yang membakar ulos , mudah-mudahan orang-orang yang membakar ulos dengan mengatasnamakan gereja atau kepercayaan baru.
    bagi kita orang kristen marilah kita selalu minta tuntunan kuasa roh kudus agar Tuhan memampukan kita dalam mengartikan akan segala peninggalan nenek moyang kita dan selalu tahu memilah-milah mana yang bekenan dan yang tidak berkenan dihadapan_Nya.

  14. Maruhum Sidauruk on February 19, 2011 at 9:44 pm

    Trimakasih atas muatan tulisan tentang ulosnya Pak Pendeta.. smoga kaum muda Batak semakin mengerti dan memahami dan melestarikan penggunaan Ulos secara baik. Untuk informasi tambahan tentang Ulos bisa juga baca buku karangan(disusun) Pak RHP.Sitompul,BSC judul “ULOS BATAK Tempo dulu-masa kini.
    Termasuk didalamnya penjelasan tentang ULOS paling tinggi kelasnya walupun saat ini banyak yang tidak mengenal ULOS ini lagi yakni” ULOS RAGI JUGIA”. Bukti terkenal dan hebatnya Ulos ini ada pada umpasa” Nunga pitu lilinami paualu jugianami, Nunga uli nipi nami Ai gohan muna hajut nami.

  15. suryati marpaung on February 23, 2011 at 3:06 pm

    saya sangat setuju dengan penjeasan amang, sy juga pernah menulis di majalah Bonanipinasa, intinya adalah ulos itu pertanda kasih bagi yang memberi dan yang menerima, tidak lebih. Horas

  16. demak benny lumbantoruan on March 9, 2011 at 8:08 pm

    horas aman pandita..
    sya sngt brtrima ksh se x pda aman pndita..
    slny, dri dlu sya pngn cri tw apa mkna n arti ulos batak bagi orng batak..saya dri dlu tidak tw, tp stlh mmbaca postingan amang pandita, sya jdi tw..
    mauliate godang da amang pandita…
    horas..
    Tuhan memberkati..

  17. oloan siregar on March 23, 2011 at 12:20 pm

    mauliate amang…mantap…bener sekali penjelasan amang…memang terkadang kurangnya informasi dan pengetahuan membuat sebagain orang salah memhami nilai atau makna sesuatu….sehingga didalam ketidak mengertian byk orang menghakimi terlebih dahulu dp belajar untuk menyelami…Jesus blees you..amin!

  18. Hendra Tuan Simare on April 14, 2011 at 1:50 pm

    saya sangat setuju dengan postingan ini amang pendeta.
    pada adat batak khususnya pesta pernikahan, sebaiknya ulos itu cukup hanya ulos tohonan saja. yang lainnnya lebih baik di gantikan dengan ulos tonunan sadari (uang). toh sehabis pesta juga paranak atau hasuhuton kerepotan / keberatan juga bawa ulos2 tersebut yang seperti amang pendeta katakan sampai 3 karung. hahah ..

  19. Henry Simamora on April 26, 2011 at 12:18 pm

    Ktemu lagi amang PDT. DTA. Harahap yth. Ulos yang paling banyak dipakai pada acara ” PESTA ADAT PERKAWINAN BATAK”. Ada singkatan U.L.O.S yang saya ingat : Unang Loas OraoanMU Sirang ….mantap khan amang pdt. Terimakasih atas pencerahannya.

    Salam.

  20. Punguan L on April 29, 2011 at 5:26 pm

    Dang maraprap naso magulang ..,, sebagai orang batak harus bangga akan kebudayaan kita.Biarpun setinggi apa gelar dan jabatan,sebagai orang batak takkan bisa lepas dari adat batak ,dan semua hal yang baik dan buruk tergantung kita mengajarkannya sama anak cucu kita nantinya dan itulah yang diharapkan oleh nenek moyang kita untuk selalu berbuat baik dan itu juga yang diajarkan patik palimahon.

  21. jon robet on June 4, 2011 at 8:13 pm

    mauliate atas postingannya amang

  22. PARLAPO TOGA SIMAMORA on June 23, 2011 at 11:41 pm

    saya sangat setuju dengan penjeasan amang Pdt Daniel T.A. Harahap, Tulisan ini akan saya bagikan di Lapo (forum toga simamora) kami http://www.togasimamora.ucoz.org untk berbagi ilmu, terimakasih amang

  23. Parningotan Siahaan on June 29, 2011 at 7:40 pm

    mantap amang..berarti wrga batak sudah banyak yg keliru selama ini dalam penggunaan olos.

  24. Eric J.H. Egne on October 14, 2011 at 11:55 am

    Terima kasih atas; artkel yang sangat indah dan sangat memberi pencerahan. saya pendeta yang melayani jemaat kebanyakan orang batak. meski saya sendiri BUKAN orang batak namun sangat berkomitmen untuk memelihara “tradisi dan existensi” kita sebagai orang Indonesia yang …. (sesuai sukunya) termasuk batak. Kita mesti menjadi KRISTEN sekaligus ORANG BATAK yang tidak kehilangan KE-BATAK-ANNYA. Sayang banyak anak2 orang batak yang lahir dan besar di jakarta tidak mengerti bahasa Batak apalagi tradisi dan adat.Sekali lagi Terima kasih, tulisan2 bapak sangat menolong buat saya untuk meneguhkan kembali umat kristen (batak) untuk tidak melupakan tradisi ; melupakan tradisi berarti melupakan asal kedirian kita. Tuhan berkati.

  25. Rufinus Nainggolan on March 20, 2012 at 12:01 am

    Horas amang Pandita,

    Pemaparan amang sangat bagus dan memberi pemahaman yang dalam bagi saya. Saya sangat setuju untuk semua yang amang sampaikan tengtang makna ulos di kehidupan orang Batak.
    Bukankah itu salah satu menunjukkan budaya Batak seperti orang China dengan kostumnya bahkan dengan barongsai yang mereka pertontonkan.
    Saya kira jika kita orang Batak dapat lagi berkreasi seperti orang China untuk penggunaan ulos tersebut, bukan tidak mungkin semakin banyak turis datang ke Tapanuli, apalagi orang Batak juga mau berubah dari sikap kasar menjadi memiliki sikap hati yang lemah lembut dan tidak ada lagi late dan elat di tanah Batak, maka tanah Batak itu saya kira akan berubah menjadi lebih maju.
    Semoga HKBP juga menjadi motivator dan inisiator yang dapat memanfaatkan budaya Batak untuk memajukan kehidupan orang Batak itu sendiri..termasuk untuk dapat menambah variasi penggunaan cuma sangsang untuk lauk pesta orang Batak…artinya bagaimanakah kita dapat lebih baik ya amang?

  26. hardi on August 7, 2012 at 1:14 pm

    saya punya ulos dari teman batak, sayangnya saya cuci……ups justru rontok, yah terpaksa saya jahit dan simpan, mungkin kainnya tua……jadi cari lagi yang lebih ringan……ada tulisan damemadihita……horas…horas……

  27. Hasiholan Simanjuntak on December 18, 2012 at 12:06 pm

    Sudah terbukti, sampai jaman globalisasi ini, ternyata ulos masih sarana untuk menunjukkan simpati kita kepada boru atau bere. Sebelum ulos diberikan biasanya ada doa permohonan kepada Tuhan Allah supaya yang di ulosi selalu dilindungi Tuhan. Ketika saya di ulosi hula2, saya menerima ulos itu sambil berdoa Kiranya Tuhan Yesus mendengar doa hula2 yang memberi ulos kepada saya, hati saya bergetar, kadang menangis karena terharu oleh kesadaran betapa sayang nya pemberi ulos itu kepada saya.

  28. bagudung on December 29, 2012 at 1:50 am

    Saya masih tanda tanya ada bilang bahwa jaman dahulu pembuatan ulos menggunakan darah, apa benar itu? saya cari-cari sumber nya di internet tentang fakta sejarah yang menyatakan bahwa pembuatan ulos jaman dahulu menggunakan darah, apakah itu darah manusia atau hewan, namun belom ada ketemu sampe sekarang.
    yang lebih parah di gereja-gereja karismatik mereka melarang orang batak memakai ulos dengan alasan ulos jaman dulu di buat menggunakan darah, sungguh naif menurut ku aliran mereka. besok-besok batik pun di larang di pakai, sekalian aja mereka melarang jemaatnya memakai baju, sepatu, dan perlengkapan yang terbuat dari kulit binatang, kan itu lebih parah kulit binatang loh di jadikan sepatu, baju, tas dll

  29. Pan Toen Sinaga on January 31, 2013 at 11:41 am

    Horasss jala mauliate godang ma tu amang Pandeta Daniel Harahap. saya sebagai orang kristen-batak sangat bangga dan setuju sekali atas penjelasannya seputar ulos batak yang sangat bermakna itu dan bagaimana keterkaitannya dengan agama kita. Jelas tidak bertentangan seperti yang saudara2 kita (sektelain) defenisikan.Semoga postingan amang Pendeta ini dapat menjadi pencerahan untuk kita seluruh umat kristen (khususnya Batak).MAJU MA TORUSSS BANGSO BATAK…. G B U

  30. Raja P Simbolon on February 22, 2013 at 8:51 am

    Hanya satu kalimat untuk Amang Pendeta… Amang benar-benar seorang pencerah…. Saya kadang miris dengan mereka yang menghujat ulos. Bukan hujatannya yang saya protes, karena itu hak mereka. Yang saya tidak habis pikir, kenapa mereka menghujat ulos dengan masih memakai MARGA mereka di belakang nama….?
    Syalom…

  31. dewanto sinurat on March 17, 2013 at 5:18 pm

    salam kenal

  32. dewanto sinurat on March 17, 2013 at 5:22 pm

    mungkin ulos akan berbeda makna kalau sudah mulai bicara harga jenis ulos dari yg murah sampai yang mahal , sehingga ke “simbol” annya bisa berbeda makna ,karena akan menilai suatu maksud dan tujuan ulos itu akan berubah jaadi lambang derajat ,dan yang tidak elok baik pemberi maupun penerima bisa berbeda arti dgn harga ulos tersebut ,kalau dapat yg murah yang menerima bisa kurang di hargai atau tersinggung ,kembali ke kalimat rasul paulus ,kasih tidak di tentukan harga ulos.

  33. Daniel Lubis on March 20, 2013 at 6:25 pm

    Kerabat dekat saya ada beberapa yang membakar Ulos.
    Dulu mereka saya kenal cukup cerdas di sekolah, sekarang otak mereka telah di “cuci” oleh sang “Gembala” nya.
    Ketika saya ajak adu argumentasi, ternyata sekarang mereka menjadi bodoh, seakan otaknya berada di dengkul.

  34. riswan daniel on May 31, 2013 at 2:06 pm

    Horas Amang Pendeta dan semua saudara/i ku, saya Riswan Halomoan Daniel Hutagaol yang bekerja di bidang sandang di PIK jakarta timur, yang ingin saya tanyakan adalah: apakah ulos bisa saya kombinasikan kedalam bentuk tas atau topi dan dalam bentuk lain?
    Satu sisi saya melihat langkah yang saya ambil merupakan pelestarian dengan memanfaatkan kain ulos sebagai motif pada tas atau topi produksi saya, dan pada hakikatnya ulos juga adalah sebagai pakaian sehari-hari orang batak, namun di satu sisi hal yang akan saya lakukan ini di anggap melecehkan ulos itu sendiri, saya membacanya di salah satu blog yang mengatakan bahwa ulos tidak boleh di jadikan taplak meja, di gunting-gunting menjadi sarung bantal dan lainnya. Mohon pencerahannya Amang Pendeta dan semua saudara/iku, apa yang harus saya lakukan?
    0852 8248 8815
    275F40DF

  35. RIJONO SIANTURI on August 21, 2013 at 10:01 pm

    sebelumnya saya berterima kasih Amang pendeta,atas posting yang anda buat.saya suka dan setuju dengan posting yang anda buat,kebetulan saya kuliah di di bagian sosial dan budaya.yang menjadi pertanyaan saya kenapa banyak orang batak berprasangka dengan ulos,apakah ini ujung mula nya menghapus adat batak.Padahal orang batak dari dulu-dulunya sudah kenal ulos,saya yakin pengaruh dari luar sangat merubah persepsi tentang ulos,
    saya mengarapkan yang seharusnya dibahas oleh orang batak terhadap adat kita,tentang orang yang ttinggal dikota tidak tau lagi berbahasa batak,terus dimasa sekarang ini banyak orang kita menikah tidak sesama orang batak,dan mengikut agama calon istrinya,dan pernikahan orang batak diperantauan tidak mengikuti acara pernikahan secara adat batak,apalagi yang banyak menikah dengan orang-orang disini,tidak menutup kemungkinan marga yang turun-temurun itu akan hilang dan tidak diturunkan kepada anaknya,
    sekian dari saya mohon respon,untuk sebgai acuan

  36. Herlina Nora Simamora on October 3, 2013 at 12:19 pm

    Syalom amang,saya benar2 merasa diberkati dengan postingan ini Sebelumnya saya merasa seram liat ulos karena keluarga saya mayoritas karismatis Namun setelah aktif menjadi jemaat HKBP,jadi terbiasa dengan ulos Bahkan saya memodifikasi bahan ulos dengan bahan kain dan songket dari daerah lain dalam busana saya Hasilnya jadi kelihatan lebih mewah dan menarik Ulos juga OK untuk fashion Terimakasih ya amang GBU

  37. james on October 31, 2013 at 1:56 pm

    horas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*