Salib Kasih: Rumah Doa, Kuburan atau Pasar?

January 26, 2011
By

salib-kasih-siatasbarita-3.JPG

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Siapa orang Batak Kristen sekarang yang tidak tahu nama Salib Kasih? Walaupun mungkin belum pernah mengunjunginya langsung, minimal semua orang  pernah mendengar nama Salib Kasih dari saudara atau kerabatnya yang pernah ke sana. Rasanya tak lengkap ke Tarutung sekarang tanpa mengunjungi Salib Kasih. Yaitu sebuah menara berbentuk salib setinggi belasan meter, diberi nama S A L I B  K A S I H yang dibangun Pemda Taput di atas situs sejarah gereja HKBP atau kekristenan Batak di bukit Siatas Barita Tarutung.

Singkat cerita di puncak bukit Siatas Barita itulah Nommensen sebelum memulai pelayanannya di Tanah Batak berdoa kepada Tuhan sambil menatap lembah Silindung yang permai. Saat berdoa Nommensen mendapat penglihatan dari Tuhan. Tiba-tiba dia melihat gereja-gereja Tanah Batak dan mendengar lonceng gereja berdentang dari segenap penjuru. Dan puluhan tahun kemudian apa yang dilihat Nommensen itu menjadi kenyataan: Tanah Batak menjadi pusat kekristenan.

Namun jika banyak orang sukacita (atau jangan-jangan biasa-biasa saja) mengunjungi Salib Kasih (nama ini sekarang lebih dikenal daripada Siatas Barita) maka saya justru sebaliknya. Saya gundah dan susah. Dan saya punya  alasan untuk itu.

Sebagai seorang Kristen Batak, anggota HKBP, apalagi pendeta, saya merasa punya ikatan batin yang dalam dengan situs Siatas Barita. Walaupun kekristenan di Tanah Batak tidak bermula di Tarutung, namun bagaimanapun juga bukit SiatasBarita adalah salah satu situs sejarah yang bernilai sangat tinggi bagi spiritualitas kekristenan Batak. Di bukit itulah Nommensen pernah berdoa dan mendapat visi atau penglihatan yang terbukti menjadi kenyataan. Sebab itu Siatas Barita bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi orang-orang Kristen Batak moderen untuk  jugaberdoa dan menemukan visi serta melayani Kabar Sukacita dari Tuhan di masa kini dan mendatang.

Namun apa yang terjadi?  Siatas Barita sekarang  jauh dari keheningan. Yang kita temukan justru suasana hingar-bingar. Speaker-speaker penjual souvenir dipasang sekeras-kerasnya sehingga terdengar hampir sampai ke punak. Alih-alih membantu refleksi dan meditasi lagu-lagu pop batak yang katanya rohani itu malah membuyarkan semua doa pengunjung. Saya ingat pernah saya meminta pengelola agar mematikan tape di puncak bukit itu sebab menurut saya benar-benar mengganggu keheningan.

Saya tidak tahu siapa arsitek Salib Kasih. Namun kesan saya, maaf, “sang arsitek” kayaknya tidak memahami makna sejarah, seni taman apalagi doa. Saya bersyukur telah dibangun  jalan aspal yang memudahkan pengunjung sampai di puncak. Namun taman yang diciptakan kesan saya adalah taman ecek-ecek ala taman PKK yang banyak dijumpai di pinggiran jalan raya Tarutung-Siborong-borong. Bukan hanya monoton melainkan naif. Saya pikir untuk membuat taman itu “rohani” tidak harus dengan menempelkan sebanyak-banyaknya ayat Akitab apalagi dengan memakukannya ke pohon. Mungkin lebih baik meminta bantuan pematung Batak Dolorosa Sinaga membuat patung-patung  artistik di tempat-tempat perhentian pendakian.

Bukit Siatas Barita adalah tempat Nommensen berdoa dan bukan berkotbah. Dulu dan sekarang pun tempat itu masih dikelilingi hutan. Namun plaza bertangga-tangga yang dibangun dibawah salib belasan meter itu menurut saya tidak mendukung suasana doa. Mungkin karena pilihan warna putih keramik kamar mandi atau karena bentuknya yang menyerupai stadion sepak bola (KKR?).  Terus terang saya sangat terganggu dengan mimbar kotbah dari keramik yang dibangun. Dan lebih terganggu lagi dengan salib yang dibuat dengan merusak keaslian batu yang konon tempat Nommensen berdoa itu. (Soal prasasti besar dan mencolok panitia pembangunan yang dipasang disitu, Anda sajalah yang mengomentari). :-)

Di belakang salib besar ada dibangun bilik yang katanya ruang doa. Pengunjung bisa berdoa di sana menghadap ke dinding gunung dan membelakangi cahaya. Namun beberapa kali ke sana saya jarang melihat ada yang berdoa di sana. Sepintas tidak ada yang salah dengan ruang doa itu. Namun menurut saya secara simbolik ruang doa itu bertentangan dengan jiwa Nommensen. Dulu Nommensen berdoa menghadap lembah Silindung, kehidupan dan ladang pelayanan. Kini orang-orang disuruh berdoa justru membelakangi kehidupan. Teologi apa pulak yang hendak disimbolkannya?

Namun masih ada lagi rupanya yang lebih parah. Saban ke Siatas Barita (saya lebih  menyukai nama asli gunung ini daripada Salib Kasih) saya melihat bertambah saja “nisan-nisan” yang ditinggalkan oleh para pengunjung. Saya tidak tahu mengapa para pengunjung harus meninggalkan potongan marmer bertuliskan namanya atau nama kelompoknya di gunung ini yang membuatnya persis kuburan. Gejala kejiwaan apa pulak ini?

salib-kasih-seiatasbarita-1.JPG

Ah sudahlah. Terlalu banyak kejengkelan dan kesedihan saya di bukit Siatas Barita yang telah disulap menjadi pasar, taman PKK, atau malah kuburan ini. Hari sudah hujan dan senja pula. Mending saya turun cepat-cepat.  Namun hati-hati. Jalan pulang menurun tidak ada pegangan. Dan tangganya miring serta lurus ke bawah. Bila hujan itu berubah menjadi kanal air.

Syukurlah hujan tidak lebat. Saya selamat kembali di bawah. Saya tiba-tiba ingin ziarah ke Sigumpar, ke gereja dan  makam Ompu i Nommensen. Di sana kayaknya perasaan saya lebih tenang. Semoga saya tidak kecewa.

Pdt Daniel T.A. Harahap

salib-kasih-siatasbarita-2.JPG

Share on Facebook

38 Responses to Salib Kasih: Rumah Doa, Kuburan atau Pasar?

  1. Andohar Purba on January 8, 2010 at 1:43 am

    Saya juga mendapatkan kesan yang sama seperti penuturan Amang Harahap. Saya juga menyangsikan apakah pada saat pembangunannya dulu melibatkan sejumlah diskusi dan kerjasama para sejarawan, teolog dan seniman batak.

    Sesampainya di atas, waktu itu saya ingin berdoa, tetapi ruang doa ada yang menggunakan. Lalu saya ingin berdoa di lengkung tempat duduk yang menghadap ke mimbar keramik itu. Astaga, banyak sekali tempat duduk yang kotor bekas jejak-jejak sepatu berlumpur dan telah mengering. Saya harus memberikan alas sapu tangan untuk duduk lalu berdoa (menghadap ke lembah).

    Mungkin kita perlu belajar lebih baik lagi untuk menjaga kebersihan tempat-tempat seperti itu dan menjaga kenyamanannya. Ada baiknya di sana dibuat program pohon asuh. Kalaupun para donatur perlu diberikan “penghargaan” ada baiknya dalam bentuk piagam kertas saja ataupun souvenir yang dibawa pulang dan bukan ditinggalkan.

  2. JP Manalu on January 8, 2010 at 7:25 am

    Memang sangat disayangkan, dominasi “mekanisme pasar” di Dolok Siatas Barita sudah semakin menguat. Mulai dari penjualan souvenir hingga penulisan “prasasti” sebagai tanda pribadi/kelompok/punguan pernah berkunjung ke sana. Waktu saya berkunjung ke sana, berdua dengan lae saya, saat itu bukan hari libur, sehingga cukup sepi. Saya bisa membayangkan bagaimana ompu i IL Nomensen memiliki visi dan komitmen untuk menyebarkan kabar baik kepada bapa2 leluhur kita, sehingga keKristenan bertumbuh di Tanah Batak. Saya berharap agar tempat tersebut difungsikan sebagai tempat jemaat untuk membantu “mengkondisikan” terciptanya suatu refleksi pribadi, untuk meneguhkan komitmen; daripada tempat wisata (sekalipun dilabeli wisata rohani) yang mau tidak mau harus “menyesuaikan” dengan mekanisme pasar.
    Horas.

    Daniel Harahap:
    Salah satu cara termudah membantu refleksi pribadi adalah mematikan soundystem. Berdoa tidak perlu pake speaker. :-)

  3. Nainggolan Prabu on January 8, 2010 at 9:44 am

    Semalam saya menyimak acara TV.ONE dalam Acara ‘TANPA TANDA JASA”. Ternyata Tuhan telah menciptakan Taman Eden “100″ di Desa Sionggang Utara, Kec. Lumban Julu. Seorang MARANDUS SIRAIT telah menyiapkan Lahannya hampir 100 Hektar sebagai Taman Eden dengan label AGRO WISATA ROHANI.

    Taman tersebut merupakan taman yg orientasinya menyelamatkan lingkungan Danau Toba dan Sekitarnya dari kerusakan dan kepunahan hayatinya. Marandus Sirait bersama keluarganya mengusahakan Taman Eden bukan untuk Profit Oriented. Pohon langka yg dulu tumbuh disekitar Danau Toba dibudidayakan dalam Taman Eden dan akan ditanam kembali disekitar Danau Toba.

    Taman yg masih berbentuk hutan juga sebagai kebon binatang karena didalamnya terdapat Harimau, monyet dan ragam binatang lainnya. Tanaman buah yg terdapat dihutan seperti Duren, Nangka, Papaya, Pisang dan umbi-umbian bukan untuk manusia melainkan sebagai makanan untuk aneka hewan di dalam Taman.

    Aneka tanaman akan diberi gratis oleh Marandus Sirait dg syarat hrs ditanam disekitar Danau Toba. Disekitar hutan tidak ada Mall Jongkok, tak ada souvenir. Kepada Kelompok yg mendatangi Taman, Marandus selalu memberikan pengarahan unutk tidak merusak Taman, jaga dan lestarikanlah lingkungan dimanapun engkau berada.

    Marandus Sirait mengungkapkan bahwa pembentukan Taman Eden terinpirasi dari Nats kitab Kejadian 2:15:Usahai dan lestarikanlah Bumi.

    Marandus Sirait juga seorang yg menguasai kesenian Musik. Dalam acara TV tersebut ada penampilan anak penghuni hepata bernyanyi dg iringan Band dan tentunya mereka semuanya Tunanetra. Tunanetra binaan Marandus Sirait.

    Saya yakin Ompu Nomensen sedih dan menangis menyimak tempatnya berdoa dijadikan tempat yg hingar bingar. Dan saya tidak perlu hrs ke Salib Kasih jika ingin berdoa khusuk. Kalau kau berdoa masuklah kedalam kamarmu, itu kata Jesus.

  4. Dahlia Silitonga on January 8, 2010 at 10:36 am

    Waduu..h amang, prihatin saya baca tulisan amang tentang salib kasih. Terakhir saya mengunjungi salib kasih tahun 2007, masih asri dan belum banyak pedagang..sekarang telah beda jauh rupanya..begitulah Indonesia…

  5. L. Sihombing on January 8, 2010 at 10:39 am

    Horas Amang…

    Terkait dengan berziarah, akhir tahun 2009, kami sekeluarga pulang ke bona pasogit dan berziarah ke prasasti Ompung. Adapun yang ingin saya minta pendapat dari Amang adalah makna dari berziarah dan hal-hal apa saja yang boleh dan dilarang untuk kita lakukan dan percayai dalam melakukan kegiatan ziarah sesuai yang diajarkan di Alkitab,
    Banyak orangtua yang sering berbica ketika sedang berziarah “sai mangaramoti ma sahala muna”. Dengan alasan bahwa Ruh itu tetap ada. Benar bahwa Ruh itu tetap ada. Tapi bagaimana dengan “Mangaramoti”.
    Ketika saya tanya ke Ibu saya (Bapak sudah meninggal), beliau membuktikan bahwa sudah beberapa kali Alm. Bapak saya datang ke mimpi beliau untuk mengingatkan sesuatu kepada beliau ketika beliau melakukan suatu kesalahan.
    Contoh : Suatu saat Ibu salah memberikan jumlah uang kepada rekan bisnisnya. Dan malam itu juga, Ibu saya bermimpi, Bapak mengatakan bahwa Ibu sudah salam memberikan uang kepada orang tersebut. Dan pagi harinya ketika Ibu melihat kembali detail perhitungannya, dan benar terjadi kesalahan.
    Mohon diberikan sedikit penjelasan Amang.

    Terima kasih.

  6. suprama Abdin Siburian on January 8, 2010 at 10:45 am

    Saya menjadi teringat akan nama Nomensen yang membawa perubahan bagi bangso Batak yang dulunya orang Batak dominan percaya pada kepercayaan yang menyembah berhala dan setelah kehadiran Nomensen orang batak mulai mengenal Kristus yang penuh dengan kasih dan orang batak menciptakan Salib Kasih. Nah sekarang Mayoritas bangso Batak menganut Agama Kristen dan sudah nyata dalam kehidupan orang Batak.

    Yang menjadi pertanyaan . Kenapa tidak di Peringati hari masuknya Injil di Tanah Batak yang di bawakan oleh Nomensen? seperti di daerah Papua sampai saat ini masih diperingati yaitu yang di bawakan oleh Ottow & Gletser pada tgl 5 Feburuari menjadi hari Libur bagi Warga Papua Khususnya .Jadi tolonglah melalui masukan ini supaya di bawakan dalam Sidang Jemaat bahkan ke tingkat Eporus di usulkan. agar masuknya Injil di Tanah batak diperingati setiap tahunnya .sebab masuknya Injil ditanah Batak khususnya bukan saja di rasakan HKBP saja ,yang namanya Injil masuk di Tanah batak itu juga dirasakan oleh Kristen lainnya pun ikut merasakan .jadi semua Pendeta dari berbagai dominasi Gereja pun harus mendukung itu. maaf jika masukkan ini kurang berkenan bagi kita semua khususnya to Amang Pdt Danial T A Harahap Mauliate. Kiranya Tuhan memberkati Situs ini dan saya yakin pasti banyak Jiwa yang tertolong oleh kahediran Situs ini.

  7. liston sitanggang on January 8, 2010 at 2:59 pm

    Horas,

    Saya mengunjungi salib kasih pada 2 Jan 2010 lalu. Padat sekali pengunjungnya. Sayang masalah kebersihan terabaikan, para pedagang membuang sampah ke parit, kamar mandi bau dan tidak ada gayung, parkir tidak tertib. Yang paling tidak menyenangkan jika ditengah menghirup udara segar kita diganggu oleh asap rokok.

    Padahal katanya bangsa batak punya poda na lima, paias roham, paias dirim, paias paheanmu, paias jabum, paias alamanmu, tapi di salib kasih, pemandian air panas sipoholon, parapat, tomok, sampah berserakan.

    Marilah berdoa semoga bangsa batak di tapanuli makin maju, terutama digerakkan oleh kemajuan para pendetanya.

    Salam

    Liston Sitanggang

  8. Denny br Silitonga on January 8, 2010 at 3:24 pm

    Kondisi Salib Kasih Siatas Barita memang saat ini sudah mengurangi fungsi kerohaniaannya apalagi kalau kita mendengar musik yang cukup keras di pelataran Salib kasih membuat kita menajdi pusing, namun Amang Pendeta untuk tulisan2 (ayat2 alkitab) yang ditempel di pohon saya rasa cukup bagus karena pada saat kita naik tangga mau ke Salib kasih yang cukup tinggi itu sambil membaca ayat2 itu rasa capek kita hilang dan rasanya pengen cepat2 sampai diatas. Mudah2an Pemda setempat dapat mengevaluasi keberadaan Salib Kasih Siatas Barita Tuhan memberkati.

  9. Jansen Sinamo on January 8, 2010 at 5:24 pm

    Jiwa penatalayanankah yang kurang atau jiwa estetika?

  10. Gaya Hutasoit on January 8, 2010 at 10:46 pm

    Ide membangun objek wisata rohani di Siatas Barita adalah ide cemerlang. Bila kini kondisinya berkembang menjadi seperti kuburan dan pasar, itu bukan salah bunda mengandung. “Nisan” bertuliskan nama atau kelompok pengunjung, tak ada bedanya marlelang di gereja, asa di boto halak. Keberadaan pasar itu adalah hasil “tondi hepeng” membuka lowongan kerja bagi pedagang dan kroni-kroninya. Musik yang hingar bingar adalah anak cucu dari kebiasaan menyetel sound system saat pesta adat Batak.

    “Ziarah ke Sigumpar, ke gereja dan makam Ompu i Nommensen bagi amang DTA boleh bermakna karena tahu banyak sejarah Nomensen. Bagi peziarah yang buta Nomensen, akan tetap buta karena di sana pun amat sulit mencari guide atau orang yang bisa bercerita banyak tentang Nomensen. Saya sudah tiga kali berziarah ke makam itu, sekali bersama rombongan, kami dilayani Pendeta HKBP. Untuk kunjungan ini tak banyak hal yang yang bisa dibawa menjadi perenungan. Kunjungan yang kedua dan ketiga, pagar makam terkunci. Setelah agak lama menunggu barulah kami bisa masuk berkat perjuangan panjang mencari si penjaga. Gembok dibukakan, Oh, wanita yang membawakan kunci ternyata seorang Bibelvro. Apa yang bisa dijelaskan? Jauh lebih singkat dari penjelasan pendeta yang melayani kami pada kunjungan pertama. Ketika banyak pertanyaan seputar Nomensen “guide” itu pun tak mampu menjawab. Dangol nai.

    Di sana memang tak ada pasar atau “nisan-nisan jelmaan”. Sepi, tapi tak teduh alias gersang, tak ada asrinya. Mau cari buku tentang Nomensen? Tak tahu di mana. Yang kusesali, mengapa aku bodoh, tak tahu banyak tentang Nomensen.

  11. hutapea on January 9, 2010 at 9:14 am

    Syalom amang yach, mau diapakan??? sekarang tergantung Pemda maukah membenahi nya?? karena saya lihat juga penataan rumah doanya kurang pas. Tapi harapan kita bagi pengunjung yang kesana berdoalah bersama dengan rombongan atau pri badi, karena banyak saya perhatikan hanya jalan jaln saja. gbu

  12. Hodner L on January 9, 2010 at 10:59 am

    Horas Amang DTA, keluhan tentang salib kasih yang Amang paparkan juga saya rasakan ketika mengunjungi Salib Kasih. Menurut analisa saya, masalahnya adalah “pemilik” salib kasih bukan HKBP melainkan “Pemda Taput”. Salib Kasih dibuat untuk Objek Pariwisata yg nota bene menjadi salah satu sumber PAD. Idealnya memang, Salib Kasih itu harus dikelola oleh Gereja, sehingga nilai-nilai religiusnya lebih menonjol dari nilai bisnisnya. Tapi apa mau dikata, sejauh mana HKBP atau Dep Agama Taput peduli tentang masalah ini ? Mudah-mudahan keluahan Amang itu sampai kepada pengelola Salib Kasih supaya ada pembenahan ke arah yang lebih baik. Semoga.

  13. singal sihombing on January 9, 2010 at 11:27 am

    Horas Amang. Ganup mulak ahu sai husangajo do ro tu son. Mansai rotak!….
    Ra ummias do inganan on, ditingki Ompu i sahat di son najolo. Dungi martangiang ibana, huhut mambege pangkuling ni giring-giring na ro sian rura i dipingkiranna. Angur ni ramba-ramba dohot hau, alogo namangombus, pidong namarende martonga-tonga langit, dohot sude binatang namanggulmit, manangihon ibana manghatai dohot Tuhanna.
    Saonari sahat hita laho marningot ibana, jala maratangiang huhut mamereng dompak rura naung gok gareja dohot pangkuling ni giring giring. Alai i nama ribut dohot bauna.
    (Di Rura nauli on do ahu magodang…pandapothu taringot tu tano hagodangan on, “maju alai mundur” hehehe)
    Usul tu angka pandita ni HKBP, dohot pandita hombar gareja na asing na adong di tano batak, asa sai disolothon saotik dijamita, taringot tu haiason. (Haiason nisude, software, hardware hehehe..ate-ate..roha..dohot daging..)
    Si Japang-japang.

  14. elumban on January 10, 2010 at 5:15 pm

    Ah……posi nai ate pardalan ni Bangso on, tung mansai dao do tahe sian “Hasintongan”. Ise do nasala dison….boha do parsala na?……Na so tarpature be i sude asa tingkos?….ingkon songon on na ma parngolu ni bangso on saleleng ni lelengna?…..Andigan pe ro “Mesias” na boi patingkoshon sude angka na so ture di bangso on.

    Marribu-ribu angka jolma sian bangso on boi pajojorhon angka na humurang dohot angka na so ture, marribu-ribu muse angka dongan manariashon angka dalan na boi pature-ture dohot pauli-ulion bangso on, alai sai tong do ndang adong tarida adong na tumangihon, jala na ra mangharadothon paturehon jala paulihon bangso on.

    Sian dia do gogo ni si Nomensen na jolo i, boi ditangihon bangso i soarana, jala gabe ra bangso i manguba pangalahona? ra mangguruhon angka na denggan na nianjarhon ni Ompui, jala ra mangulahon angka na pinarsiajaranna?…. Naung marjugul do nuaeng bangso on, songon parjugul ni bangso israel?…gabe andul nama idaon nuaeng angka pamikirion na individualis…”Na denggan do i di hita, alai dang denggan di ahu”.

    Ra, aut disungkun hamu partiga-tiga dohot na masang speaker na gogo i di area ni salib kasih: “aut sura ho naeng martangiang di toru ni silang on, sonang do partangiangmu dohot sude angka na ribur on?”…ra, alus na tong do songon hita on. Alai molo disungkun muse tu nasida: “ua pa so hamu ma jolo sude angka speaker muna naribut i, asa sonang jo hami martangiang”. Ra, alus na sida: “ima tutu amang, binsan ribur jolma on, nanggo pala langku otik tiga2 kon”.(syukur-syukur dia ngak bilang: “tu gareja an hamu margangiang bah, sai songon na hurang gareja partangiangan mu?”, angka na mardalani do na ro tuson) Ido ra alusna.

    Alai sungkun-sungkun ma jo tu amang DTA, sian nasa parbinotoan muna, hira2 songon dia do campur tangan ni HKBP, dung jongong salib kasih, mambahen asa dolok partangiangan Salib Kasih i?….Piga ma pandita manang pareses na binoto muna di Silindung sahat tu Humbang na hea patorangkon (mensosialisasikan) dolok Siatas Barita gabe Rumah Doa?……Jangan-jangan Salib kasih memang hanya untuk tempat wisata, sama seperti tempat2 wisata lainnya yg membuka lapangan kerja bagi orang2 sekitarnya…………….

  15. richard hutahaean on January 10, 2010 at 8:31 pm

    ^_^

  16. Friska pardede on January 10, 2010 at 9:45 pm

    Membaca kegalauan hati amang dan commen2 yg masuk, andaikan saya ada kesempatan kesana mungkin akan menyiapkan diri untuk berwisata saja, kalau memang ingin berdoa yg khusuk ya….tidak usahlah mengharap akan mendapatkannya di tempat itu cukup dikamar sendiri sajalah :)

    Pertama kali melihat gambar yg satunya aku pikir itu batu nissan, mengapa orang2 menaruhnya disana?, kalau namanya/rombongannya ingin berada disana( lagian buat apa?) tulis aja pakai kertan seperti tetangga kita kalau naik haji ( nama saya kayaknya sudah banyak deh di Mekkah krn setiap teman berangkat katanya nama saya dan nama2 yg lainnya di taruh di sono)
    Kebayang ga kalau semua yg naik haji bawa batu2 seperti nissan itu :)

  17. simon on January 11, 2010 at 2:15 pm

    Saya hanya tahu “salib kasih” dari majalah HORAS. Kalau ada kesempatan suatu saat nanti, saya ingin berkunjung ke sana, tapi semoga saya sadah dibenahi dan suasananya hening sehingga nyaman untuk berdo’a

  18. Lona simorangkir on January 12, 2010 at 1:23 pm

    Salib kasih memang sudah tidak enak!! Seperti inilah kehidupan zaman sekarang..

  19. Elman P Nainggolan (wiyk 6 hkbp palembang) on January 14, 2010 at 10:31 am

    Senada dengan “Salib Kasih”, saya akan menceritakan tentang pengalaman saya di makam Nomensen. Ketika itu pukul 11.00 tanggal 30 Desember 2009, kami melintas di Sigumpar. Memang kami agak sering melintas di daerah itu, namun kali ini entah apa yang mendorong, dibelokkanlah mobil masuk dalam pekarangan gereja. Baru kali inilah kami ke tempat ini. Ada sebuah gereja yang cukup indah, bergaya “lama”, tertulis HKBP Nomensen pada gereja itu. Halamannya cukup luas dan rimbun oleh pepohonan. Di halaman, di bawah pohon ada beberapa mobil parkir, mereka juga sedang melintas di lokasi ini dan memilih istirahat di tempat ini, terlihat bentangan tikar di samping mobil. Pada seorang NHKBP boru yang sedang menyapu teras samping kanan gereja (agaknya tadi malam baru diselanggarakan acara natal di gereja ini) saya bertanya dimana lokasi makam. Rupanya lokasi makam berjarak lebih kurang 150 meter di belakang gereja. Makam ini “mungkin” tidak termasuk kompleks gereja, karena makam berada di luar pagar gereja.

    Luas lokasi makam kira -kira 400 meter kuadrat, berpagar besi dan ada gapura yang bertuliskan bahwa itu tempat Ompui Nomennsen dimakamkan. Pada saat itu gapura terkunci, kami tanyakan ke penduduk yang ada disitu apakah boleh masuk ke kompleks makam, jawabnya, ” boi, jalo hamu ma kunci tu si A”, setelah kami ke rumah si A di dekat makam, ternyata si A sedang tidak di rumah. Kata penduduk lain lagi, ” tu si B ma hamu laho”, jawab si B tidak tahu sambil menunjuk si C. Si C pun berkata, “paima hamu hamu ma jolo ro si …., manang si ….., manang si …., dinasida do maniop kunci”. Kami sepakat menunggu, hitung-hitung sambil istirahat, namun setelah 1 jam harapan tinggal lamunan, pemegang kunci tak kunjung muncul.
    Tentunya kami kecewa. Kapan lagi bisa ke sini ?, kesempatan tidak setiap waktu tersedia. Saya kira bila seperti ini keadaannya, bukan cuma kami yang pernah kecewa. Banyak orang lain juga bernasib sama seperti kami, apalagi saat di musim liburan.

    Dari situasi ini timbul anggapan saya, jangan-jangan kompleks makam memang tidak boleh dimasuki, cukup hanya melihat dari luar pagar saja. Tambahan info, bahwa atap gapura sudah mulai rusak dan ditumbuhi pakisan. Kepada kita semua mohon info, apakah memang boleh masuk ke kompleks makam, siapa tahu dilain waktu kami berkesempatan singgah lagi, terima kasih.

  20. Intan Aritonang on January 19, 2010 at 10:24 am

    Betul amang, sangat mengecewakan kondisi SALIB KASIH saat ini. Mungkin HKBP perlu memberikan masukan/saran/konsep untuk perbaikan yang ditujukan ke PEMDA setempat. Pulang kampung memang saya tidaklah terlalu sering, tapi selalu saya sempatkan berkunujung ke SALIB KASIH, terakhir saya dan keluarga berkunjung tgl. 27 Des 2009 yang lalu, dengan semangat juang walaupun terengah-engah, mendaki tetap saya jalani, namun setiba di atas, uhhh……sedih, kecewa dan kemungkinan saya tidak berminat lagi untuk berkunjung kesana.

  21. Dian Matias Saragih on January 21, 2010 at 8:49 pm

    Barangkali keberadaan salib itu belum bisa masuk ke hati sanubari orang Batak yg paling dalam.

    Barangkali salib belumlah menjadi simbol yang mewakili jiwa Batak.

    Barangkali salib masih susah dipahami di dalam kerangka berpikir Batak.

    Jadinya, salib tak terasa mistisnya. Masih kalah sama ulos.

  22. Gerda Silalahi on February 3, 2010 at 9:51 am

    sepakat, aku merasakan hal yang sama dengan abang waktu berkunjung kesana 3 tahun lalu. terutama sangat prihatin melihat prasasti itu, kalo gak salah 150,000 biaya pembuatannya. lebih baik disumbang untuk pemeliharaan salib kasih sebenarnya.

    aku ingin tahu, bagaimana posisi hubungan HKBP sebagai institusi yang dibuatkan situsnya dengan salib kasih (dalam hal ini pemda). apakah HKBP mendapat tempat sebagai rekanan / partner?

    karena kalo demikian, harusnya HKBP bisa memberikan saran2 perbaikan, dan alangkah baiknya menempatkan satu orang pendeta / pelayan firman untuk menyambut pengunjung yang ingin berdoa/bersaat teduh di salib kasih meski tidak setiap hari.

    Daniel Harahap:
    Setahu saya tidak ada hubungan HKBP dengan salib kasih kecuali hubungan historis dan emosional dengan Dolok Siatasbarita.

  23. Binsar Nababan on July 1, 2010 at 9:40 am

    Saya belum pernah ke Salib Kasih, mungkin nanti suatu waktu. Membaca tulisan dan komentar di atas, saya juga ikut prihatin. Tetapi apakah kita cukup hanya prihatin? Siapa yang mau memulai gerakan untuk melakukan perubahan? Sekecil apapun langkah untuk melakukan perubahan itu akan sangat berarti. Saya ingat potongan lirik koor yang saya tidak tau judulnya ” … pa so ungut-ungut mi pa so…”. Ayo mari kita mulai dengan menyurati Pemda Tapanuli Utara. Horas!

  24. Anak rantau on July 20, 2010 at 1:44 pm

    Saya kaget mendengar penjelasan dari amang DTA dan rekan-rekan lainnya. Walaupun saya belum pernah kesana mendengar adanya situs tersebut sungguh membuat saya tertarik untuk kesana. Bicara mengenai rasa manghobasi di halak batak (maaf seribu kali maaf) sepertinya merupakan kata hina kali ya sehingga tidak mau dikatakan sebagai pelayan. Kata pelayan tidak selalu konotasinya (maaf sebagai kata pembantu/pangurupi di perantauan) namun jiwa manghobasi/melayani lebih mulia sebab Tuhan Yesus telah memberi contoh bagaimana melayani umat seperti berkotbah dibukit, membasuh kaki murid-muridnya, membantu menyediakan anggur pada acara perkawinan, mengobati orang sakit, lumpuh, buta, dll. Artinya di lokasi situs Salib Kasih tidak ada nilai manghobasi tetapi mang….ah tak tahulah aku…Mari berubah..

  25. ucok on February 4, 2011 at 2:08 pm

    Kl kudengar cerita dari orang2 yg berkunjung ke sana dan foto2 yang banyak bertebaran di internet…aku yakin aku tak mau kesana..dan tak mau merekomendasikan supaya orang ke sana…

  26. A.K.P. Panggabean on February 6, 2011 at 1:46 pm

    Itulah salah satu kekurangan orang Indonesia (termasuk orang Batak). Dimana ada gula, disitu pasti ada semut. Dimana ada kerumunan orang (apakah itu obyek wisata, sekolah, kampus, mall, terminal atau bahkan orang berunjuk rasa) disitu pasti ada pedagang resmi atau kaki lima.

  27. sabrina.s on March 16, 2011 at 12:37 pm

    saya sangat prihatin kalau sampai masyarakat keturunan batak mengabaikan arti doa yang sesungguhnya,apakah setelah terjadi Tuhan murka maka akan terjadi pertobatan di Tarutung.kita seharusya bangga karena kalau sampai bangsa lain melawat suku Batak berarti suku pilihan Tuhan tapi jangan sia2kan berkat Tuhan terutama saudara2 di Siborong2 Tarutung.kalau daerah itu diperbaiki akan bisa menjadi tempat wisata rohani,seperti daerah Lourdes (Itali).Sudah waktunya pola pemikiran gereja lama diperbaharui,undang roh kudus.jangan jadi gereja biasa2.

  28. borneng on May 14, 2011 at 11:47 pm

    HORAS,amang pandita..
    “Saya tidak tahu siapa arsitek Salib Kasih. Namun kesan saya, maaf, “sang arsitek” kayaknya tidak memahami makna sejarah, seni taman apalagi doa.” Sebelum berkata demikian, mungkin perlu ditelusuri Amang, apakah emang yang merancang salib kasih berlatarbelakang pendidikan arsitektur atau tidak.
    Persoalan taman PKK dan penjual yang berada di area pintu masuk Salib Kasih, kalo di arsitektur itu namanya reproduksi ruang. Jadi, bisa jadi awalnya taman tersedia bukan untuk tempat pembuktian bahwa seseorang/kelompok udh pernah datang. Namun, bagi orang Batak khususnya, ada kebanggaan kalo mereka udah pernah ke suatu tempat dan mungkin di saat dia kembali ke tempat itu, ada kenangan yang berbeda yang diperoleh. Saya juga cukup kecewa dengan adanya “pasar kecil” di halaman Salib Kasih. Memang peluang ekonomi cukup besar dengan adanya pengunjung yang datang, jadi tak mengherankan ini dimanfaatkan untuk menambah pemasukan warga setempat. Permasalahan yang saya lihat adalah pola pikir dan cara pandang terhadap ruang yang dianggap sakral (dengan menjadikan Salib Kasih sebagai tempat berdoa). Masalah papan yang berisi ayat, mungkin ini karena keterbatasan dana (bisa dikaitkan dengan konteks pasar yang saya singgung tadi).

  29. jefri on October 3, 2011 at 3:35 pm

    aku sangat sayang banget ama yang namanya salib kasih.kalo bisa aku
    pengen ke salib kasih lagi……..

  30. Henry Sitorus on November 19, 2011 at 7:36 am

    Horasssssssss ma dihita saluhut.
    Kalau mau maju dalam iman dan bergereja ingot ma Ompu Nomensen. Halak Jerman ro tu tano Batak si panomba begu ( nahinan/dulu). Gereja halak Batak pe ingkon lao tu halak luar Batak mmberitakan Kasih Kristus/Almasih dan pemimpin na dang ingkon halak Batak bisa org setempat. Membangun gereja lokal sesuai budaya setempat.

    Kalau tempat wisata atw bisnis wisata belajar dari org dan daerah BALI.

    Doa sy semoga org Batak yg diberkahi ALLAH menjadi Berkah buat org lain dan mereka melhat Kristus/Almasih ada padamu shg semua suku bgs memuji Dia dgn bahasanya masing2.

    Horas ma dihita, dame ma diportibi on. Terpujilah TUHAN

    Syaloom

  31. agustina on February 3, 2012 at 4:57 pm

    Saya juga sependapat dengan bapak, bagaimana kita merasakan Hadirat Tuhan jika lingkungan seperti Pasar. Seharusnya kita harus menciptakan suasana biar dalam pujian dan penyembahan Yesus Hadir menjamah setiap umatnya, Agar kita dipulihkan. Setiap yang sakit disembuhkan dan yang beebeban berat dihiburkan. Sehingga kita menjadi berkat bagi orang lain.

  32. turman simanjuntak on April 5, 2012 at 3:44 pm

    horas….
    SALIB KASIH dibangun oleh PEMDA TAPUT yang mana Kadis Parawisatanya Bpk. Alm. TB. Pasaribu,… tujuannya antara lain menambah PAD TAPUT dari Pariwisata,….pendapat saya HKBP yang berpusat di Tarutung sudah saatnya mengambil alih pengelolaannya supaya ditata sesuai dengan visi misi ompu i (salah satunya), harapan saya kalau amang Pdt Daniel T.A. Harahap terpilih jadi Eporus HKBP berikutnya tolong dibenahi. Selain perbaikan kedalam (internal)tubuh HKBP, Bapak juga mampu menyelesaikan persoalan Pertanian, Kesehatan, Kemiskinan dan Lingkungan Hidup yang dulunya visi misi Ompu i, supaya tidak dibawah naungan politik praktis. horas, mauliate

  33. Nida Nainggolan on April 20, 2012 at 1:20 pm

    Makasi Buat Artikelnya Amang. Kalau Boleh Bisakah Saya Kopi Artikel amang ini. Kebetulan Saya akan menyusun Tugas Akhir Saya. Dan Saya ingin Mengangkat Judul Tentang Salib Kasih.

  34. budi on August 23, 2012 at 11:02 pm

    Lebih mudah mengritik dari pada membangun,..sepertinya pengkritik merasa paling tau…Untuk sesuai yang baik mari kita hargai kontribusinya…benar ada kekurangan atau penyimpangan dari visi..mari kita perbaiki sama-sama. Saya tidak yakin orang yang mengkritik kotor suatu lokasi sudah memberikan kontribusi perbaikan misalnya membantu membersihkan,biarpun cuma secuil sampah dsb.
    Yang paling penting adalah keteladanan.. sekecil apapun yang baik yg bisa kita berikan untuk salib kasih..kita sudah turut merawat dan memberikan keteladanan. Teory tidak dibutuhkan..karna pada dasarnya semua orang tau itu..Mari kita mulai dari diri kita sendiri..kita tanya apa yang sudah kita buat???

  35. Debora Tampubolon on October 16, 2012 at 9:35 am

    hay……
    saya Debora, saya pernah ke Salib Kasih pada tgl 31 juli 2011.
    hati saya sangat terharu, ketika melihat jalan menuju ke SAlib Kasih, ternyata hanya untuk melihat Salib Kasih kita harus berjuang dengan melewati jalan yang mendaki dan tepi jurang ………..
    oleh sebab itu kita harus menghargai usaha dr.i.l Nomensen yang susah payah memprotes HKBP……….

  36. hesti siregar on October 16, 2012 at 9:39 am

    hay,,………..
    aku Hesti Siregar, aku belum pernah ke salib Kasih dan aku dengar dari teman-teman yang pernah pergi ke sana Salib kasih sangat menakjubkan dan penuh makna.
    aku pengeeen bangat ke sana…
    apakah yang di katakan teman2X ku itu benar????

  37. ulyses on March 5, 2013 at 8:33 pm

    terkadang kita lebih banyak menyampaikan kritik-kritik,,,itulah sifat nya orang batak. tapi kalau misalnya ada gotong royong bersihkan sampah2 di daerah itu,pasti ada aja alasannya….yang sakitlah makanya jalan k sana,, yang sudah tualah,,, yang anu lah yang ini lah…..apalagi kalau diminta sumbangan buat bangun daerah opung itu…ada ada aja alasannya…..saya senang ada itu semua. kebaktiannya, kamar doanya, jual souvenirnya, marmer bertulis, dll. itu hanya kurang penataan aja… yang penting sudah bisa menarik banyak pengunjung yang ingin berdoa ataupun hanya sebatas jalan2 saja. Dan tempat itu bukan daerah yang harus ditakuti lagi seperti dulu kala,,sepi…( kembangkan daerahmu,,tunjukkan keindahan dan pesona daerahmu). masalah keheningan atau lainnya itu bisa kita dapatkan dimanapun kita mau. yang penting niat kita tulus dan ikhlas kepada Nya. maju terus siatas barita. ambil sisi positifnya,, buang sisi negatif dalam fikiran mu. Thanks

  38. Petrus on June 1, 2013 at 11:40 pm

    Dengan mengagungkan suatu tempat, bahkan bapak pdt meresensikan dolorosa sinaga membuat patung sebagai ganti ayat alkitab yg dipakukan di pohon, itu sama saja menduakan Tuhan.
    JANGAN PERBUAT BAGIMU PATUNG . . . Utk disembah!

    Situs rohani mmg perlu diingat , tetap bkn di Imani.
    Syalom!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*