Menutup Pintu Hati Menyuruh Kasih Pergi

January 25, 2011
By Daniel T.A. Harahap

Almanak Selasa 25 Januari 2011:

Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? (1 Yohanes 3:17)

Allah kita mengasihi. Sebab itu barangsiapa mengasihi sesamanya, dia ada dalam Allah dan sebaliknya Allah dalam  dia. Allah lebih dulu mengasihi kita sebab  itu kita pun harus mengasihi. Hanya dengan mengasihi sesamalah kita dapat mengenal Allah dan dengan mengasihi juga kita hidup baru. Allah tidak dapat kita lihat sedangkan sesama manusia nyata di depan mata kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengasihi yang tidak terlihat sedangkan mengasihi yang nyata-nyata saja kita tidak dapat? Demikianlah pernyataan-pernyataan luar biasa yang kita baca dalam surat Rasul Yohanes. Dengan sederhana ada kaitan yang sangat erat antara kasih kita kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Petikan surat Rasul Yohanes yang menjadi ayat harian kita saat ini mengatakan: jika kita menutup pintu hati tidak mengijinkan saudara kita masuk itu sama saja artinya menyuruh Allah pergi dari dalam hati kita! Allah sangat mengasihi manusia yang kecil, miskin dan menderita (bukan kerena mereka otomatis lebih baik, melainkan karena mereka sering menjadi korban). Allah memihak mereka. Yesus Putra Allah bahkan mengidentifikasi diriNya dengan mereka yang kecil, miskin dan menderita (Mat 25:31-46). Menolak orang kecil, miskin dan menderita masuk sama atinya dengan menyuruh Allah keluar. Siapa mau?

Namun bagaimana jika Saudara dan saya justru yang kekurangan, miskin dan menderita? Bagaimana kita memperlakukan ayat ini? Apakah kita merasa setara an sebab itu harus diperlakukan sama dengan Allah? Apakah kita menganggap saudara kita wajib bahkanmutlak menolong kita?  Jawabnya: TIDAK. Allah mengasihi kita dan mengangkat kita menjadi manusia terhormat, berharga dan mulia. Dia tidak suka kita meminta-minta dan tidak mau juga jika kita merampas yang bukan milik kita termasuk dengan alasan kebutuhan. Lantas bagaimana? Bekerja keras dan kreatif. Hidup disiplin dan hemat. Berbahagialah dengan apa yang ada dan belajarlah memberi dari kekurangan.

Doa:

Ya Allah, kami mau membuka hati kami terhadap saudara-saudara kami yang miskin, kecil dan lemah, agar Engkau tetap mau tinggal dalam hati kami. Kami ingin  mengikut PutraMu Yesus mengasihi, berbagi dan berkorban dengan kasih. Penuhilah hati kami dengan kasihMu.  Namun, jika saat ini kami kekurangan, jadikanlah kami tetap anak-anakMu yang terhormat, mulia dan berharga. Jauhkan dari kami sikap meminta-minta, merampas atau mengiba kepada sesama. Berkati kami agar bekerja keras dan kreatif, hidup disiplin dan hemat, serta bahagia dengan semua yang karuniaMu hari ini. Dalam Yesus. AMIN.

Pdt Daniel T.A. Harahap

Share on Facebook

2 Responses to Menutup Pintu Hati Menyuruh Kasih Pergi

  1. Heince T. Simanjuntak on January 25, 2011 at 9:54 am

    Tuhan menginginkan kita saling memperhatikan satu sama lain dalam hidup ini. Mari kita melawan kepelitan hati kita dan kebiasaan berhitung dalam membantu. Uang hanya berfungsi di dunia, utk itu mari kita sering memperhatikan keluarga, sesama yang berkekurangan agar semakin byk anak2 Tuhan yang tersenyum menjalani hidup ini, Amin.

  2. CN on January 25, 2011 at 8:19 pm

    “Belajarlah memberi dari kekurangan” sederhana bahasanya tapi sungguh dalam artinya. Mudah2an jemaat serpong dapat melakukan ini khususnya saya pribadi dan keluarga. Jadilah pemberi jangan jadi peminta. Thanks amang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

*