Berakar Dalam Kristus (2)

January 13, 2011
By

Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap

Ada dua gambaran yang dipakai oleh Rasul Paulus dalam surat Kolose, yaitu pohon dan bangunan. Pohon memerlukan akar yang kuat agar dapat bertahan menghadapi angin dan banjir, serta bertumbuh sehat. Bangunan memerlukan fondasi yang tertancap kuat dalam tanah agar tahan terhadap gempa atau angin. Apapun gambarannya, intinya disini adalah kehidupan yang tertanam atau tertancap kuat dalam Kristus.

Dari pelajaran Biologi dan pengalaman sehari-hari kita tahu betul makna akar bagi pohon. Banyak pohon jaman sekarang tumbang di saat angin kencang melanda karna disetek atau dicangkok sehingga tidak punya akar yang dalam dan kuat.  Dari pengetahuan Teknik kita juga tahu banyak bangunan di negeri kita roboh karena fondasinya lemah dan rapuh (akibat dikorupsi). Sebab itu lukisan yang disampaikan Rasul Paulus dengan mudah kita pahami dan hayati (walau tetap tak mudah juga dilaksanakan).

Namun baiklah kita sadar bahwa kita bukanlah pohon dan bukan juga bangunan. Kita adalah manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah. Kita dikaruniai akal budi dan hati nurani serta kebebasan. Kita dapat belajar dan berkarya. Kita sanggup melakukan yang baik namun bisa juga berbuat jahat. Sebab itu pertumbuhan kita sedikit-banyak berbeda dengan pertumbuhan pohon. Pembangunan kita manusia juga berbeda dengan pembangunan gedung. Sebab itu kita jangan larut dan terjebak hanya dalam lukisan akar pohon dan fondasi bangunan ini.

Baiklah kita sadar salah satu akar kelemahan kita orang Kristen baik sebagai perseorangan maupun persekutuan adalah karna kita tidak berakar dalam Kristus. Sebab itu kita mudah sekali diombang-ambingkan oleh masalah, godaan atau kesusahan.  Memiliki gairah atau antusiasme beribadah adalah sangat baik namun tidak cukup. Kita harus punya akar yang semakin dalam agar tahan uji dalam godaan kenikmatan ataupun kesukaran.

Paulus menasihati jemaat Kolose (dan kita sekarang) agar jangan statis. Jemaat harus semakin berakar dalam Kristus. Maksudnya: makin lama kita harus makin tertanam dalam Kristus. Hidup kita semakin waktu harus semakin jalin-menjalin dan menyatu dengan Kristus. Pertanyaan: bagaimana caranya? Apa yang harus kita lakukan agar semakin tertanam dalam Kristus? Apa yang tidak boleh kita lakukan lagi agar kita semakin kuat dalam Kristus? Kebiasaan salah apa yang harus dihentikan sekarang juga dan kebenaran apa yang harus dibiasakan mulai hari ini? Apakah treatmen atau usaha sengaja yang mesti dimulai dan dilakukan secara berdisiplin agar makin kuat dalam Kristus? Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita jawab dengan kata dan tindakan agar tidak tinggal tema jubileum dan wacana belaka.

Berhubung kita bukan pohon atau bangunan melainkan manusia, maka hanya ada satu cara untuk semakin dalam tertanam pada Kristus, yaitu pendidikan iman. Sewaktu kita kecil maka orangtua kitalah yang bertanggungjawab mendidik kita memasuki dan hidup dalam realitas Kristus. Namun setelah kita dewasa, maka pendidikan iman adalah tanggungjawab kita masing-masing. Dan Tuhan telah menganugerahi kita kemampuan belajar dan mendidik diri sendiri termasuk untuk beriman kepada Tuhan. Masalahnya tinggal: mau atau tidak.

Dalam rangka semakin berakar atau tertanam dalam Kristus itu menurut saya ada 2(dua) hal yang mesti kita lakukan:

(1)      Latihan atau pembiasaan. Pepatah lama kita mengatakan: bisa karena biasa. Sebagian dari hidup beriman itu juga merupakan hasil pembiasaan atau pembentukan. Bagi kita yang telah dibiasakan oleh orangtua sejak kecil untuk berdoa secara teratur, beribadah ke gereja saban minggu, melakukan pembacaan Alkitab harian, menabung untuk persembahan, baiklah kita bersyukur dan bersukacita. Kebiasaan baik sejak dini itu sangat berguna bagi kita setelah dewasa dan memudahkan kita untuk melanjutkan melatih diri dan membiasakan diri beribadah dan hidup dalam Tuhan. Namun bagi kita yang sejak kecil tidak dibiasakan demikian, tidak perlu kecewa dan jangan juga membuat dalih. Kita dikaruniai Tuhan membentuk kebiasaan baru. Kita (dengan tekad dan perjuangan) dapat dibentuk-membentuk diri melalui doa dan bacaan harian, ibadah mingguan, dan persekutuan rutin lainnya.

(2)      Pendalaman. Tuhan memberi kita kemampuan terus tumbuh dan berkembang, maju dan dewasa. Sebab itu kita tidak boleh  merasa berpuas diri dan menganggap iman kita telah mapan serta sempurna. Kita masih harus belajar lagi secara sengaja dan ikhlas. Kita harus semakin mendalami makna beribadah: berdoa, memuji, mengaku dosa dan menerima pengampunan, menyaksikan iman, memberi persembahan dan menghayati berkat Tuhan. Penulis Ibrani mengatakan kita harus semakin dewasa dan cakap membedakan kebaikan dan kejahatan (Ibrani 5:14).

Agar kita memiliki alat untuk mengukur keberhasilan kita melakukan pendalaman ibadah ini, di akhir tahun kelak kita dapat mengevaluasi 9 (sembilan) ungkapan ibadah kita kepada Tuhan:

(1)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna pujian?
(2)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan  makna doa?
(3)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna hukum?
(4)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna pengakuan dan pengampunan
(5)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna kesaksian iman?
(6)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna persembahan?
(7)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna berkat?
(8)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna baptisan?
(9)   Apakah kita makin memahami, menghayati dan mempraktekkan makna perjamuan?

Share on Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*