MARI MERAYAKAN NATAL (1)

December 3, 2010
By

christmas-balls-2.jpg

Home: http://rumametmet.com

1. Tanya:
Ada yang mengatakan bahwa seharusnya kita merayakan Natal sesudah tanggal 25 Desember dan bukan sebelumnya. Bagaimana yang benar?

Jawab:
Yang benar adalah masa raya natal itu dari tanggal 25 Desember sampai 6 Januari (hari raya epifanias). Dalam gereja purba (yang sampai saat ini secara konsisten diikuti oleh gereja katolik) natal tidak boleh dirayakan sebelum tanggal 25 Desember. Mengapa? Karena kalender gereja itu adalah masa adven atau masa penantian kedatangan Juruslamat. Masa adven itu adalah empat minggu berturut-turut, tiap minggu gereja menyalakan lilin simbol penantian akan Juruslamat. Pesta dilakukan pada tanggal 25 Desember dan sesudahnya.


Namun keadaan dalam gereja-gereja protestan sekarang sangat semrawut. Berhubung natal sudah dirayakan dimana-mana sebelum tanggal 25 Desember maka makna minggu Advend menjadi kabur atau hilang. Akibat selanjutnya makna Natal juga tidak jelas lagi. Kita harus berdoa dan berupaya sungguh-sungguh untuk kembali ke rel yang sesungguhnya.


2. Tanya:
Saya seorang Ketua Panitia Natal di gereja saya. Pengalaman tahun-tahun lalu perayaan Natal di gereja apalagi tanggal 24 Desember malam dan 25 Desember selalu saja “amburadul” atau “kacau-balau”. Bisakah membantu saya?


Jawab:
Menyelenggarakan suatu even termasuk Ibadah Natal yang dihadiri oleh ratusan apalagi lebih dari seribu orang tentu butuh perencanaan dan pengorganisasian yang benar-benar matang dalam segala hal. Dan inilah yang sering dilupakan oleh banyak Majelis Gereja. Berhubung perayaan Natal itu terjadi saban tahun sejak dulu-dulu maka seringkali tanpa sadar mengurangi keseriusan mereka membuat perencanaan dan pengorganisasiannya.


Salah satu yang perlu dipersiapkan tentu adalah acara ibadah natal itu sendiri. Para pendeta dan penatua serta pelayan lain harus benar-benar mempersiapkan dirinya bukan hanya memahami dan menguasai skenario acara dan apa yang menjadi tugas dan tanggungjawabnya, tetapi juga menghayatinya dengan baik sebagai panggilan Tuhan.


Selanjutnya yang tak kalah penting dipersiapkan adalah hal-hal pendukung acara ibadah itu sendiri, mulai dari kesiapan ruang dan peralatan (soundsystem, multi media dll) sampai pengaturan bangku dan alur keluar-masuk jemaat, serta parkir kenderaaan. Juga keamanan. Seringkali yang membuat acara natal terganggu justru karena faktor-faktor pendukung acara ini. Misalnya: soundsystem macet atau mengulah. Akibatnya jemaat tidak bisa mengikuti ibadah dengan baik dan pulang dengan kecewa. Atau masalahnya terletak di luar gedung gereja, yaitu pengaturan parkir yang sangat semrawut yang membuat jemaat datang dengan muka masam. Ada lagi: masalah kepadatan. Natal gereja selalu penuh sesak dan banyak orang (apalagi yang jarang ke gereja) bingung tidak tahu mau kemana. Alih-alih membantu para majelis malah duduk-duduk tenang di depan.


3. Tanya:
Saya ingin dalam perayaan Natal Sekolah Minggu menghadirkan Santa Claus atau sinterklas. Namun saya masih ragu.


Jawab:
Sebelumnya baiklah kita memahami bahwa Sinterklas dan Santa Claus adalah dua tokoh yang berbeda.


Pertama: Sinterklas atau St Nicholas menurut legenda adalah seorang uskup pada abad ketiga di Myra Binzantium. Dia dikenal sebagai seorang yang sangat baik dan murah hati dan selalu membagi-bagikan hadiah kepada orang-orang miskin. Hari kelahirannya diperingati tanggal 6 November. Dalam lukisan-lukisan dia digambarkan mengenakan pakaian dan topi kebesaran uskup ditemani oleh seorang hambanya yang berkulit hitam.


Kedua: Santa Claus adalah tokoh khas “produk” Amerika yang selalu muncul di musim natal. Dia digambarkan berjanggut putih, berpipi tembem kemerah-merahan, dan berbaju merah dengan topi beruntai. Kenderaannya adalah kereta salju yang ditarik oleh rusa. Dia dikisahkan tinggal di kutub utara sepanjang tahun membuat mainan. Yang mempopulerkan Santa Claus ini sejak dulu adalah perusahaan minuman Coca Cola. Kedua tokoh ini tidak berhubungan sama sekali. Sekarang Santa Claus lebih populer dibandingkan St Nicholas sendiri.


Dari penjelasan di atas maka nampaklah bahwa tradisi menghadirkan Sinterklas (St Nicholas) maupun Santa Claus tidak ada hubungannya dengan peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Sebab itu tidak ada maknanya juga jika hendak dimasukkan ke dalam acara natal anak-anak. Jika alasannya untuk membuat anak-anak gembira tentu masih banyak acara lain yang bisa dipilih.

4. Tanya:
Natal menurut saya merupakan salah satu pemborosan yang paling besar di gereja. Bagaimana gereja menghemat biaya natal?

Jawab:
Ya, mungkin Anda benar. Dalam banyak gereja anggaran natal memang sangat besar (belum termasuk yang dikumpulkan menjelang natal oleh berbagai seksi dan tidak ada dalam anggaran). Ini memang seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Bagaimana solusinya?


Menurut saya pertama-tama kita dapat mensosialisasikan makna natal yang sesungguhnya sebagai perayaan mengingat kelahiran Tuhan Sang Penebus dalam kerendahan dan kesederhanaan. Natal semakin dihayati maknanya justru dalam kesederhanaan. Sehubungan dengan itu gereja harus belajar memelihara
inventaris natal. Seringkali saban tahun gereja harus membeli asesori
natal yang baru karena yang lama hilang atau rusak tidak terawat.


Kedua: mengetatkan disiplin anggaran gereja. Tuhan tidak suka kita memboroskan uang gereja. Uang gereja harus digunakan secara baik dan benar. Salah satu cara menggunakan uang gereja dengan baik dan benar itu adalah sesuai anggaran. Sebab itu gereja-gereja harus berusaha membuat anggaran natal seoptimal mungkin dan tidak melampuinya.


Ketiga: mengurangi kegiatan natal yang bersifat seremonial namun memperbanyak kegiatan yang bersifat aksi. Seringkali setiap unit gereja memaksa untuk membuat perayaan natal sendiri. Kita bisa mulai menganjurkan agar perayaan masing-masing unit dikurangi sekali dalam dua tahun (sebab perayaan natal umum toh berjalan) dan diganti dengan aksi pengumpulan dana diakoni misalnya.


Keempat: menertibkan “kenakalan”. Jika kita mau jujur, kadang kala natal dijadikan “proyek” untuk mencari keuntungan sendiri bagi sebagian aktivis gereka. Kita harus menertibkan panitia-panitia natal dari godaan melakukan korupsi atau pencurian dengan mengatasnamakan Natal.


5. Tanya:
Sebenarnya puncak perayaan natal tanggal 24 atau tanggal 25 Desember?

Jawab:
Menurut kalender gereja sebenarnya Natal tanggal 25 Desember (gereja Katolik menyelenggarakan misa natal tengah malam pergantian 24 Desember ke 25 Desember). Namun kini memang di gereja-gereja Protestan seolah-olah kita merayakan Natal dua kali, yaitu: tanggal 24 Desember malam dan tanggal 25 Desember. Malah dalam prakteknya kini acara malam natal (dulu di kampung kita diberi nama malam pagalakhon lilin – menyalakan lilin) sudah menggeser kebaktian natal 25 Desember. Di gereja HKBP keadaannya lebih rumit, sebab masih ada lagi perayaan Natal 26 Desember, yang tidak bisa tidak akan jadi antiklimaks.


6. Tanya:
Apakah guna pohon natal? Wajibkah orang Kristen memasang pohon natal di rumahnya saban Desember?

Jawab:
Jawabannya tentu bukan wajib atau tidak wajib. Ada baiknya kita melihat sejarah pohon natal dulu secara sekilas. Sejarah memasang pohon natal berasal dari abad-abad silam di Eropah. Banyak sekali legenda tentang pohon natal ini. Salah satu adalah yang mengatakan bahwa tadinya pohon Natal ini merupakan kebiasaan bangsa Romawi kuno untuk menghormati dewa Matahari (Saturnalia). Mereka merayakan hari lahir dewa matahari Mithras pada tanggal 25 Desember dengan memotong pohon cemara dan memberinya hiasan. Selanjutnya kebiasaan ini diadosi gereja dan diberi muatan yang baru, yaitu mengenangkan kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruslamat Terang yang sejati itu. Namun ada kisah lain dari abad pertengahan: suatu hari Martin Luther, bapa gereja sedang berjalan-jalan di hutan cemara. Dia sangat terkesan dengan pemandangan bintang berkelap-kelip di atas pepohonan cemara yang tetap menghijau di musim salju itu. Lantas Martin Luther menebang sebatang cemara dan membawanya ke rumahnya dan menghiasinya dengan lilin-lilin.


Dari penjelasan di atas tentu kita memahami pohon natal adalah simbol kepada keabadian dan kehidupan yang dianugerahkan Allah dalam Yesus. Kita tahu di Eropah hanya pohon cemaralah yang bisa tetap menghijau di musim dingin. Lantas bagaimana dengan kita orang-orang Kristen di negara-negara tropik? Kita dapat meneruskan tradisi ini tentu saja dengan memberinya makna baru, yaitu: pohon natal adalah simbol kehidupan kita yang diberkati oleh Tuhan Yesus. Hidup kita ibarat pohon. Tuhan menyelamatkan, merawat dan memeliharanya agar kita berbuah banyak.


7. Tanya:
Bagaimanakah membuat Natal SM yang khidmad dan tidak berisik? Pengalaman saya Natal SM di HKBP dimana-mana berisik dan bising sekali.


Jawab:

Saya tidak bisa membayangkan jika ada puluhan apalagi ratusan anak-anak berkumpul dapat tercipta suasana hening, khidmad dan khusuk apalagi berlama-lama. Anak-anak dimana-mana selalu bergerak, bersuara spontan, riang gembira. Memaksa anak-anak diam selama sejam sama saja dengan menyiksa. Sebab itu pokok masalahnya bukanlah membuat natal Sekolah Minggu yang khidmat dan hening, tetapi Natal SM yang asyik, ramai dan membahagiakan serta mengesankan (salah satu alat ukurnya: tanya kepada anak-anak sesudah natal berakhir apa kesannya).


Anak-anak sangat mudah terganggu konsentrasi atau pecah perhatiannya. Sebaliknya juga mudah sekali berkonsentrasi. Lihat saja perangai anak-anak ketika menonton televisi kegemarannya atau sibuk dengan mainan yang disukainya. Karena itu tugas kita sebagai pelaksana adalah membuat acara Natal SM itu sangat menarik dan bagus sehingga anak-anak tanpa disuruh-suruh atau dibentak dengan senang hati berkonsentrasi mengikutinya. Di sini kita bisa menggunakan segala alat bantu yang ada untuk menarik perhatian anak-anak. Saran saya gunakanlah segala kekayaan warna, corak dan gambar, bentuk, nada dan irama, gerak dan tari untuk mengajak anak-anak merayakan kedatangan Yesus.


Salah satu hal yang patut dicatat adalah pengaturan waktu. Seringkali acara natal SM itu (berhubung banyaknya anak yang harus dilibatkan) terlalu lama sehingga melelahkan. Kebetulan di HKBP kita memiliki tradisi bahwa dalam acara natal SM selalu ada kegiatan anak-anak maju ke depan mendeklamasikan ayat firman Tuhan. Itu tradisi baik dalam rangka pemerataan peran. Namun dampaknya kadang acara menjadi sangat membosankan. Pertanyaan: acara apakah yang bisa tetap melibatkan semua anak (orangtuanya pasti senang, sebaliknya jika anaknya tidak terlibat orangtuanya akan menggerutu) namun dikemas singkat dan padat.

8. Tanya:
Bolehkah kita bermain drama di altar? Majelis atau parhalado gereja kami melarangnya?


Jawab:
Ini pertanyaan sulit yang tidak bisa dijawab hanya memakai kata boleh atau tidak boleh. Altar adalah bagian dari gereja yang digunakan sebagai simbol kehadiran Allah dalam Yesus Kristus dalam jemaat. Seluruh perlengkapan yang ada di altar menunjuk kepada pengurbanan Yesus menebus dan menyelamatkan kita dari dosa. Meja altar dan salib besar di atasnya adalah simbol mezbah pengurbanan Kristus yaitu Golgota. Secara psikologis jemaat memandang dan menghayati altar sebagai tempat kudus dan terhormat dimana Tuhan digambarkan hadir.


Pertanyaannya karena itu harus digeser: apakah drama yang hendak dimainkan di altar bagian dari ibadah? Jika jawabannya ya, tentu jawabannya diperbolehkan memainkan drama itu di altar. Sebab drama itu memang bagian dari liturgi atau kotbah. Namun jika jawabannya tidak pertanyaan selanjutnya: apakah memainkan drama yang tidak berhubungan dengan ibadah di altar bisa dijamin tidak akan merusak pemahaman dan sikap hormat jemaat kepada altar yang menunjuk kepada simbol kehadiran Tuhan?


Berdasarkan pemahaman itu maka kita diajak memahami lebih mendalam: apakah dan bagaimana sesungguhnya tempat drama dalam ibadah. Gereja purba selalu menggunakan drama sebagai bagian ibadahnya. Drama dipentaskan di dalam gereja bukan sebagai pertunjukan hiburan tetapi bagian dari liturgi yang membantu mengekspresikan iman jemaat dan sekaligus menyampaikan firman Tuhan. Ini adalah tantangan bagi gereja-gereja moderen untuk mengembalikan drama ke dalamtata ibadah dan bukan sekadar menjadi sandiwara hiburan belaka. Kebetulan saya dan teman-teman beberapa kali mempergumulkannya. Boleh dilihat dalam bagian blog ini bagaimana memasukkan drama itu menyatu dengan ibadah sehingga ibadah tidak terkesan monoton dan verbalistik tetapi tidak kehilangan kekhusukan dan kekudusannya.

9. Tanya:
Ada ide dalam perayaan Natal pemuda tahun ini kami menetapkan dress code: jins. Bagaimana pendapat Amang?

Jawab:
Suatu ide yang bagus sekali. Jins adalah simbol anak muda. Natal dengan blue jins merupakan pesan yang sangat kuat tentang natal anak muda. Yesus sayang kepada anak-anak muda. Jika Yesus datang pada jaman sekarang tentulah Dia juga akan mengenakan jins menyapa anak-anak muda. :-)

10. Tanya:
Bagaimana caranya agar dalam ibadah natal tidak ada orang yang keluar dari ruangan untuk merokok atau ngobrol dan kembali lagi setelah acara ramah-tamah dan hiburan?

Jawab:

Ya bagaimana ya? Pertama-tama tentu panitia dan pelaksana natal itu sendiri yang mesti berdisiplin mengikuti ibadah. Dalam banyak acara Natal, panitia malah tidak ikut ibadah, dengan alasan sibuk bertugas ke sana-kemari. Menurut saya: alangkah ruginya membuat natal jika kita sendiri tidak bisa mengikuti ibadah natal dan mendengar kotbah natal. Atau jangan-jangan ibadah apalagi kotbah natal dianggap tidak penting? Jika begitu, moga-moga tidak, pantaslah banyak perayaan natal tidak mendatangkan berkat sesudahnya bagi pelaksananya.


Kedua: ketertiban dan keheningan mengikuti ibadah juga ditentukan oleh kualitas acara dan penyelenggaraannya. Makin baik dan seksama acara dipersiapkan makin tenang dan tertib pula jemaat mengikutinya. Seringkali jemaat berisik atau malah bosan karena tidak dapat mendengar suara dengan baik, tidak dapat melihat dengan baik, tidak dapat memahami dengan baik apa yang terjadi, dan juga tidak banyak aktifitas selain diam menonton. Selain itu acara yang bertele-tele juga dengan mudah menggoda orang yang tidak kuat imannya dan tidak serius beribadah keluar.


Ketiga: Ibadah harus dibuat menjadi sentrum atau pusat acara. Bukan acara ramah-tamah atau hiburannya. Ini pekerjaan yang sangat berat. Seharusnya setiap ibadah menjadi pusat kegiatan natal namun kenyataan yang ada menunjukkan ibadah dianggap nomor dua. Yang utama malah: drama atau hiburan (apalagi memanggil artis). Dalam banyak acara natal pemain dramanya sering tidak ikut ibadah namun sibuk di ruang rias!

(bersambung)

Home: http://rumametmet.com/

Share on Facebook

Tags: , , , , , ,

24 Responses to MARI MERAYAKAN NATAL (1)

  1. todungrs on October 9, 2008 at 3:25 pm

    Rasa-rasanya sangat jarang ada rasa ‘adven’ di HKBP kita ini. Ketika tanggal 1 Desember atau masa adventus setiap tahun tiba, maka yang ada adalah rasa ‘Natal’ dan perayaan-perayaannya.

    Nyanyian-nyanyian ibadah juga kurang menggambarkan adven itu. Malah kadang-kadang nyanyian adven tidak diperdengarkan. Setiap kali saya selalu menuggu pengaturan nyanyian yang pas pada masa adven. Juga menunggu koor atau paduan suara menyanyikan lagu adventus.

    Pada suatu saat saya gereja di salah satu gereja denominasi lain di Bandung pada masa adventus. Paduan suara (choir leader) di altar menyanyikan lagu Lo How A Rose Er Blooming (versi batak Martumbur tungko tungko). Kemudian diikuti nyanyian dan pembacaan alkitab pada masa adventus dari kitab Yesaya. Saat itu adalah Minggu adventus yang paling menyentuh dalam ‘karier’ saya sebagai jemaat :-)

    Sama seperti ibadah pada masa-masa sengsara sebelum Yesus disalibkan, ibadah pada masa-masa adventus adalah ibadah yang ‘entah kenapa’ selalu saya tunggu-tunggu. Bukan mengatakan minggu-minggu lainnya beda, akan tetapi mendengar pembacaan alkitab berupa hiburan dan pengharapan kepada umat pada masa adventus, dan mendengar kisah sengsara Yesus selalu memberikan makna yang berbeda setiap tahunnya

    Untuk perayaan Natal pada masa dewasa saya – (baca: bukan ibadah Natal), menurut saya, hanya mengingatkan saya pada kebahagiaan Natal sekolah minggu pada waktu saya masih sekolah minggu di Dolok Sanggul dulu. Tak ada yang bisa menggantikan kenangan perayaan Natal masa kecil itu.

    Kadang supaya kenangan masa kecil itu tidak pudar, ironisnya saya malah malas mengikuti perayaan Natal. Lebih suka memilih lagu-lagu Natal lama, sehingga memori itu tidak hilang. Memang agak sentimentil…tapi itulah memang adanya.

    Daniel Harahap:
    Di gereja-gereja protestan termasuk hkbp makna adven memang telah hilang sejak perayaan natal diijinkan sebelum tanggal 25 Desember 2008. Bayangkanlah: sabtunya kita sudah merayakan kelahiran dengan menyanyikan lagu malam kudus di pesta natal seksi, punguan atau marga. Tetapi besoknya hari minggu: kita masih menantikan kelahiran lagi dan menyanyikan Paruak ma Harbangan. Amburadul jadinya. Saya belum tahu bagaimana jalan keluarnya.

  2. Ninggor Pardede on October 9, 2008 at 6:57 pm

    1. Suasana ADVEN kurang atau tdk terasa kalau belum ada keputusan dari pihak gereja untuk melarang perayaan Natal sebelum tgl 25 desember. Tetapi kalau kita tdk pernah mengikuti perayaan natal sebelum tgl 25 desember dan hanya mengikuti kebaktian minggunya mungkin akan bisa dihayati. Karena menurut saya HKBP sangat baik dalam menata ibadahnya, mulai dari kain penutup meja, jumlah lilin yg dinyalakan, lagu, sampai kepada Nats khotbah.
    Usul saya sebelum ada larangan, rayakanlah perayaan natal yg diadakan sebelum tgl 25 hanya pada hari yg telah ditentukan dan pada besok harinya kembali ke masa penantian. (dipilah-pilahjo utokutok i sementara sampai ada keputusan melarang perayaan Natal sebelum tgl 25 Desember)
    2. Saya selalu memimpikan perayaan Natal di Gereja hanya dilakukan oleh Singkola Minggu dan Gabungan (Remaja, Naposo, Ina, Ama) aja. Digereja kami tahun 2007 sdh dilaksanakan. Tdk perlu di pisah2, sekalian untuk menghemat biaya. Pagodang hu pe perayaan Natal diikuti adong do tong hurang denggan na.
    3. Hatangki hata tambahan. Diuduti angka dongan ma. Mauliate

  3. Agus Karta Parulian Panggabean on October 10, 2008 at 9:17 am

    Saya sangat setuju dengan pendapat Lae Pardede dimana kantor pusat HKBP hendaknya mengeluarkan peraturan yang melarang perayaan Natal sebelum tgl. 25 Desember dan sesudah minggu Epiphanias. Karena saat ini ada yang merayakan natal di bulan Januari bahkan Februari. Ini sangat baik demi tertibnya perayaan natal itu sendiri.

    Jika HKBP bisa tertib dalam menetapkan tanggal perayaan natal, maka gereja-gereja tetangga akan mengikutinya.

    Memang sih tidak ada yang tahu mengenai tanggal kelahiran Yesus, tapi berhubung gereja-gereja ala Barat sudah merayakannya pada tgl. 25 Desember s/d 6 Januari tiap tahunnya selama berabad-abad maka marilah kita teruskan tradisi itu sampai ke anak-cucu kita.

    Daniel Harahap:
    Yang paling tepat membuat larangan itu bukan Eforus, tetapi Rapat Pendeta HKBP karena itu menyangkut dogma dan ajaran. Jadi doronglah agar Rapat Pendeta HKBP mengambil langkah berani menghargai tradisi kalender liturgi sebelum Jubileum 150 Tahun HKBP.

  4. Agus Karta Parulian Panggabean on October 10, 2008 at 9:21 am

    LUKAS 2:8-14
    D = do. Lagu & Arr. : Agus Panggabean
    3/4.
    . .
    S. 3 . 3 4 3 4 5 . 6 5 . 1 1 . 1 7 . 6 5 . . . . .
    A. 1 . 1 1 1 1 1 . 1 1 . 1 1 . 1 2 . 2 1 . . . . .
    T. 5 . 5 5 5 5 5 . 4 5 . 5 6 . 6 5 . 5 5 . . 3 . .
    B. 1 . 1 2 1 2 3 . 4 3 . 3 4 . 4 5 . 7 1 . . . . .
    .
    1. Kaum gem-ba – la kaum yang hi - na , ren dah , ke cil , le – mah
    2. Da - tang -lah ma- lai kat Tu han ke pa - da me - re - ka
    3. Ja - ngan-lah ka - mu ta - kut ku kan mem-bri - ta - kan
    .
    S. 4 . 4 4 3 2 3 . 4 5 . 5 4 . 6 1 7 6 5 . . . . .
    A. 2 . 2 2 1 7 1 . 2 3 . 3 2 . 2 2 2 1 7 . 1 2 . .
    . .
    T. 5 . 5 5 5 5 5 . 5 5 . 5 6 . 6 6 6 4 5 2 3 4 . .
    B. 7 . 7 7 1 5 1 . 7 1 . 1 2 . 4 4 4 2 5 . . . . .
    . . . . .
    1. kaum yang tak di -per - ha - ti -kan o -leh du -nia se - ki - tar
    2. ba - wa ka - bar su - ka - ci - ta ten - tang ke - la - hir - an - NYA
    3. Ha - ri i - ni tlah la - hir ba - gi - mu Kris - tus, Tu - han
    . .
    S. 3 . 3 4 3 4 5 . 6 5 . 1 1 . 1 7 . 6 5 . . . . .
    A. 1 . 1 1 1 1 1 . 1 1 . 1 1 . 1 2 . 2 1 . . . . .
    T. 5 . 5 5 5 5 5 . 4 5 . 5 6 . 6 5 . 5 5 . . 3 . .
    B. 1 . 1 2 1 2 3 . 4 3 . 3 4 . 4 5 . 7 1 . . . . .
    .
    1. ta - pi me - re - ka o - rang per - ta - ma me - ne - ri - ma
    2. ta - pi ta - kut meng-han – tu - i pi - kir - an me - re - ka
    3. Di - a - lah yg men – ja - di Ju - ru - sla- mat du - ni - a

    S. 4 . 4 4 3 2 3 . 4 5 . 1 4 . 4 3 . 2 1 . . . . .
    A. 2 . 2 2 1 7 1 . 2 3 . 6 2 . 2 7 . 7 5 . . . . .
    . . . . .
    T. 6 . 6 5 5 5 5 . 5 5 . 3 6 . 6 5 . 4 3 . . . . .
    B. 6 . 6 7 1 5 1 . 7 1 . 6 4 . 4 5 . 5 1 . . . . .
    . . . . . . . . . .
    1. Ka - bar ten- -tang ke - la - hir - an A- nak Dom - ba Al -lah
    2. kar - na me- li -hat ca - ha - ya me- nyi - lau- - kan ma - ta
    3. su - ka - ci - ta be -sar ba - gi se lu - ruh du - ni - a

    S. 5 5 5 5 4 3 5 5 5 5 4 3 6 6 6
    A. 3 3 3 3 2 1 3 3 3 3 2 1 4 4 4
    T. 1 5 5 1 5 5 1 5 5 1 5 5 1 6 6
    B. 1 3 3 1 3 3 1 3 3 1 3 3 1 4 4

    1. Sbab me -re- ka yg me - nen- tu - kan dan me- nyi - ap - kan dom
    2. Sbab me -re- ka tak tau sia - pa yg da - tang i - tu ma- lai
    3. Ha - ri i - ni te - lah la - hir ba - gi - mu Kris-tus Tu

    S. 6 5 4 5 . 5 5 . . 4 4 4 4 3 2 3 . 4 5 . 5
    A. 4 3 2 3 . 3 3 . . 2 2 2 2 1 7 1 . 2 3 . 3
    .
    1. ba yg tak ber -ca -cat , sba- gai per -sem -bah-an pa- da - NYA di
    2. kat da - ri Sor - ga , da - tang mem-be- ri - ta - kan ke - da - tang -
    3. han di ko - ta Daud ter-bung - kus de - ngan kain lam -pin di pa -

    T. 1 6 6 1 5 5 1 5 5 7 5 5 7 5 5 1 5 5 1 5 5
    . .
    B. 1 4 4 1 3 3 1 3 3 7 2 2 7 2 2 1 3 3 1 3 3
    . .
    1. ba yg tak bercacat (2x) sba - gai per - sem-bah- an pa daNYA di
    2. kat da - ri Sor - ga (2x) da - tang mem-be- ri - ta - kan ke-da-tang
    3. han di ko ta Daud (2x) ter-bung - kus de - ngan kain lam - pin di pa -
    .
    S. 4 . 6 1 7 6 5 . . . . .
    A. 2 . 4 6 5 4 5 7 1 2 . .
    .
    1. Ba - it Su - ci - NYA …..
    2. an A - nak Al - lah …..
    3. lung- an tem- pat -NYA….

    T. 2 6 6 2 6 6 5 2 3 4 . .

    B. 2 4 4 2 4 4 5 . . . . .

    1. Ba - it Su ci - NYA …..
    2. an A nak Al- lah …….
    3. lung- an tem - pat- NYA …..

    S. 3 . 3 4 3 4 5 . 6 5 . 1 1 . 1 7 . 6 5 . . . . .
    A. 1 . 1 1 1 1 1 . 1 1 . 1 1 . 1 2 . 2 1 . . . . .
    T. 5 . 5 5 5 5 5 . 4 5 . 5 6 . 6 5 . 5 5 . . 3 . .
    B. 1 . 1 2 1 2 3 . 4 3 . 3 4 . 4 5 . 7 1 . . . . .
    .
    1. i - tu - lah u - pah me - re - ka da - ri Al - lah Ba – pa
    2. se - te - lah ma - lai - kat ber - ka - ta pa - da me - re - ka
    3. ke - mu - lia - an ba- gi Al - lah di Sor - ga nan ba - ka

    S. 4 . 4 4 3 2 3 . 4 5 . 1 4 . 4 3 . 2 1 . . . . . ║
    A. 2 . 2 2 1 7 1 . 2 3 . 6 2 . 2 7 . 7 5 . . . . . ║
    . . . . . ║
    T. 6 . 6 5 5 5 5 . 5 5 . 3 6 . 6 5 . 4 3 . . . . . ║
    B. 6 . 6 7 1 5 1 . 7 1 . 6 4 . 4 5 . 5 1 . . . . . ║
    . . . . . . . . . .
    1. me - re - ka - lah yg per - ta - ma te - ri - ma be - ri ta
    2. ba - ru -lah me - re - ka tau i - tu ma - lai - kat Tu han
    3. dan da mai ba - gi ma - nu -sia ber - ke - nan pa - da - NYA

    Anda berminat? Hubungi 0858 88225688

  5. Mula Harahap on October 10, 2008 at 5:04 pm

    Saya pernah berada di kota Pontianak pada masa Natal. Ketika itu saya dan teman saya (seorang Amerika) masuk ke sebuah restoran. Di sana ada sebuah pohon Natal yang diberi kapas (menyerupai salju), patung Santa Klaus dan lagu “White Christmas”.

    Kata kawan saya itu, “I’am on the equator and listening to the White Christmas. Oh, I like it very much…” :-)

  6. Leo Herman Sianturi on October 10, 2008 at 9:49 pm

    Saya tertarik dgn topik kali ini…

    Saya Mahasiswa Teknik Elektro USU Medan. Setiap tahunnya kami mahasiswa sll mengadakan perayaan natal gabungan dengan jurusan lain.
    yg menjadi pokok permasalahan, kami selalu merayakannya setiap sebelum ujian semester,dan ujian semester sebelum tgl 25 desember.
    dengan alibi,jika setelah tgl 25 desember otomatis semua mahasiswa sudah PULKAM (Pulang Kampung) alias mudik.

    Sesuai dengan topik “Ada yang mengatakan bahwa seharusnya kita merayakan Natal sesudah tanggal 25 Desember dan bukan sebelumnya. Bagaimana yang benar?” Mohon Tanggapannya.

  7. arto simanjuntak on October 11, 2008 at 6:31 am

    Khususnya di greja Lutheran makna natal itu jd hilang, ga ada aturan yg jelas yg mengatur kpn sebaiknya perayaan natal itu dimulai.
    Ini adalah tugas greja utk menyamakan persepsinya, jgn membiarkan ini trz terjd..

    Daniel Harahap:
    Setahu saya gereja Lutheran di Eropah dan AS tetap setia dengan kalender ibadah yang merayakan natal antara 25 Desember s/d Epifanias. Yang tidak sabaran merayakannya hanya gereja2 protestan di Indonesia. :-)

  8. todungrs on October 11, 2008 at 9:36 am

    Ya, saya sangat setuju kalau ada putusan para pendeta HKBP untuk merayakan Natal setelah 25 Desember.

    Amat susah mencuci otak berkali-kali. Malam ini merayakan Natal, besoknya adventus. Memang lucu. :-)

  9. John Hutapea on October 11, 2008 at 6:14 pm

    Merayakan Natal Kalau kita melihat saudara saudara kita Roma Khatolik Sangat Ketat,Tidak Boleh Merayakan Sebelum tgl 25 Desember tiap Tahun.
    Dari beberapa Cerita dan saya pernah mendengarkan cerita Teman teman Roma Khatolik memang masa Advent tsb sangat Sakral. Di HKBP juga saya lihat Sangat Memaknai Advent dan merayakannya 4 Minggu berturut turut dengan Jumlah lilin sesuai dengan minggu Adventnya, lagu lagunya juga, Bahkan Kalender HKBP mungkin satu satunya di dunia yang membuat tgl 25 dan 26 Desenber merah, berarti merayakan Natal dua Hari. Cuma Sangat Sulit merubah kebiasaan ini apalagi kalau dari Segi Bisnis/kebiasaan , justru mereka Menawarkan Produknya saat Advent dan terjadilah Natal sebelum tglnya (mabiar Hatinggalan) :)
    Saya Setuju kalau merayakan Natal mulai tgl 25 Desember , tapi perlu pemahaman dan sosialisasi yang tentunya pasti banyak Protes sana sini, Yah Apa karena kita Kaum Protestan :)

    Daniel Harahap:
    Bukan karena protestan tetapi karena kita lebih suka “membenarkan kebiasaan daripada membiasakan kebenaran”

  10. Ramouthy on October 13, 2008 at 9:23 am

    Halo Amang.
    Di gereja kami sedang mempersiapkan acara natal untuk Sekolah Minggu. Setelah membaca tanya jawab di atas ada beberapa yang ingin saya tahu bagaimana tanggapan Amang tentang pendapat dari salah satu GSM di gereja saya ketika kami sedang berdiskusi tentang konsep natal Sekolah Minggu tahun ini. Ada pendapat yang mengatakan kalo Drama yang digabung dengan acara kebaktian akan membuat acara natal jadi lebih semrawut karena pemain drama dari SM, bila kita buat mereka sibuk di tengah ibadah malah akan membuat anak2 tidak berkonsentrasi dalam kebaktian. Selain itu, penyatuan drama dan Ibadah membuat kami harus mengawinkan antara tatacara ibadah seperti lagu yang dinyanyikan di tengah ibadah dengan alur cerita drama dan itu malah bisa memperberat konsep acara anak2 yang seharusnya ringan dan menyenangkan.

    Selain itu, tentang kehadiran Santa Claus dan Sinterklas di acara ibadah anak. Apakah perwujudan Santa Claus itu menjadi lambang Kapitalisme di dalam gereja?
    Karena jujur saya selain seorang GSM juga Anak Sekolah Minggu yg dibesarkan dengan Masa lalu Sinterklas juga. Apakah ada pengaruh yg buruk dengan kehadiran Santa Claus dan Sinterklas sebagai kepribadian atau cara kita berpikir seutuhnya?

    Daniel Harahap:
    Pada dasarnya drama memang harus menjadi bagian dari liturgi atau ibadah. Masalahnya bagaimana menjalinnya. Dan disinilah perlunya peran pendeta untuk membantu GSM membuat ibadah natal yang benar dan baik secara liturgis dan psikologis anak. Masalah lain: bagaimana agar natal SM tidak terlalu panjang agar anak-anak tidak terlalu lelah dan tidak bosan.

    Santa Claus (Amerika yang berpipi tembem dan perut buncit dan bertopi merah, pertama kali dipopulerkan oleh Coca cola) dan Sinterklas (yang dipahami sebagai salah seorang santo oleh katolik) tidak ada hubungannya dengan ibadah natal. Kalau memang tak ada kenapa harus dimunculkan dalam natal sehingga menggeser perhatian bukan lagi kepada bayi yang lahir di kandang domba itu? :-)

  11. Ferry Siahaan on October 13, 2008 at 2:43 pm

    Setuju sekali dg berbagai pendpt di atas. Saya rasa kita tdk perlu terlalu lama menunggu Rapat Pendeta atau keputusan Pimpinan HKBP. Cukup majelis jemaat saja yg membuat peraturan bahwa di gerejanya tdk boleh diadakan perayaan Natal sebelum tgl 25 Desember.

    Bagi warga jemaat, unit pelayanan, punguan, organisasi, lembaga, & instansi yg mau mengadakan perayaan di gereja sebelum tgl 25 Desember, bisa saja, tetapi dgn mengganti “judul” acara tsb menjadi “Perayaan Advent”. Ini berarti seluruh rangkaian ibadah, seperti tema, doa, nyanyian, khotbah, dan bahkan hiasan gereja pun harus bertema Advent, bukan Natal. Konsekuensinya tdk ada lagu Malam Kudus (dan lagu2 Natal lainnya, diganti lagu2 bertema Advent), tidak ada pohon Natal, hiasan gua dan palungan, dsb. Sebaliknya bagi yg mau mengadakan perayaan setelah tgl 6 Januari, maka acaranya hrs bernama “Perayaan Epifania”, dgn ketentuan yg sama spt Perayaan Advent.

    Yg jadi masalah adalah kita belum terbiasa (bahkan mungkin hampir tdk pernah) merayakan Advent & Epifania, shg tdk tau harus dirayakan dgn cara spt apa.
    (Mungkin Amang Harahap bisa membuatkan sebuah contoh liturgi perayaan Advent & Epifania.) :)

  12. Jetro M on October 15, 2008 at 2:03 pm

    Untuk mengambil keputusan yg tepat dalam hal perayaan natal, sebaiknya diputuskan dalam rapat pendeta. setelah ada keputusan dihimbau pendeta-pendeta resort untuk mensosialisasikan ditempatnya masing-masing, tentu harus terlebih dahulu memberikan penjelasan secara lugas sesuai dengan pedoman yg sebenarnya.

  13. Ramouthy on October 20, 2008 at 1:51 pm

    Amang menyambung argumen saya tentang sinterklas di perayaan natal, saya lihat memang tak ada hub langsung antara sinterklas dan santa claus dengan kelahiran Tuhan Yesus.
    Tapi bagaimana jika begini:
    1. Sinterklas sebagai lambang kepribadian seorang yg murah hati yg mau saling berbagi dengan anak2 yg tidak dapat merayakan natal karena kemiskinan dan kekurangannya sebagai rasa syukur atas Kasih yg begitu besar dari Allah yg lebih dulu kita terima melalui kelahiran AnakNya yg tunggal supaya yang percaya tidak binasa tetapi beroleh hidup yang kekal.
    2. Adalah baik mengarahkan anak2 melalui berbagai sarana untuk menyadari akan kasih yg begitu besar dari Allah untuk kita dan mau brbagi atas dasar kasih itu dengan sesama.
    3. Memang yg perlu ditekankan di sini adalah tokoh utama Natal bukan Sinterklas atau Santa Clause tapi Yesus Kristus.
    4. Karena sebenarnya kalau pengakuan dari mantan Anak Sekolah Minggu yg pernah merayakan natal dengan Sinterklas masih menempatkan Yesus di depan Pribadi lain yg penuh kasih sampai mau lahir di Kandang Domba.
    5. Terakhir untuk menyatukan 2 tokoh ini, Santa Claus adalah perwujudan Sinterklas ala america yg atas dasar capitalisme, mengangkat tokoh Sinterklas sebagai salah satu tokoh yg dapat diambil contoh baiknya untuk berbagi dan peduli terhadap sesama.

  14. R.Siburian on November 22, 2008 at 3:02 pm

    Ya saya kurang setuju dengan statemen diatas yang mengatakan bahwa natal dirayakan tanggal 25 des s/d 6 jan. Ada beberapa hal ini yang membuat saya tidak setuju :
    1. Sejarah mengatakan bahwa tahun Masehi ada setelah Yesus Lahir itu berarti bahwa Yesus Lahir tanggal 1 Jan.
    2. Di Alkitab dikatakan bahwa pada saat Yesus lahir ada bintang yang sangat terang menuntun para gembala ketempat Yesus lahir tapi kenapa kita merayakan natal dengan ada salju brarti tidak sesuai dengan sejarah Alkitab donk natal kita sekarang.
    3. Sejarah dunia mengatakan bahwa tanggal 25 Des adalah hari lahirnya anak dari Dewa matahari kerajaan Romawi yang pada saat itu pula masuknya Raja Romawi menjadi Kristen maka moment tersebut dibuat sekalian menajdi hari raya natal dan kita mengikuti sampai sekarang.
    4. Tidak ada yang mengatakan bahwa Yesus lahir tanggal 25 Des (tolong tunjukkan di Alkitab Ayat mana????).
    Kesimpulan : Dari pernyataan saya diatas maka saya simpulkan bahaw natal dapat kita rayakan kapan saja, dimana saja karena pada saat kapan Yesus lahir di dalam diri kita maka pada saat itulah kita maerayakan NATAL.

  15. agustino on November 25, 2008 at 9:17 am

    Pertama, Rasa saya, adalah baik merayakan natalan setelah tanggal 25 desember. Memang tak ada alasan biblis tgl 25 desember hari lahirnya Yesus karena waktu Yesus lahir tidak ada kelender sebagaimana kita pakai sekarang. (asal tahu aja kitab suci bukan buku sejarah, tidak berisi riwayat hidup atau curiculum vitae dari Yesus…ya kan?) Kalau alasan bahwa tahun masehi ada setelah Yesus lahir maka lalu muncul kesimpulan Yesus lahir tanggal 1 januari rasanya adalah kesimpulan yang gegabah. Yesus tidak menciptakan tahun masehi. Manusialah yang membuat penanggalan dan menggunakan patokan adanya Yesus di dunia ini untuk memulai suatu era yang disebut tahun Masehi, tapi itu bukan berarti tanggal 1 januari kan? Siapa jamin? diambilnya tgl 25 desember untuk merayakan kelahiran Yesus tentu ada asal usulnya sebagaimana sudah disampaikan dalam beberapa tanggapan di atas
    Kedua, gereja mempunyai penanggalan liturgi. Dalam penganggalan liturgi, gereja berusaha menuntun jemaatnya untuk merenungkan karya keselamatan Allah yang berpuncak dalam peristiwa Yesus Kristus. Maka muncullah masa adven, natal, masa biasa, prapaskah dan paskah yang tentu saja ada “logika” dan tradisi dibaliknya. itu semua menjadi suatu lingkaran liturgi yang menuntun jemaat untuk fokus/konsentrasi pada tema masa tertentu. saya setuju bahwa natal dapat dirayakan kapan saja, dimana saja pada saat Yesus lahir dalam diri kita, tetapi itu secara PRIBADI. jangan lupa kita berada dalam institusi yang bernama gereja dimana pendapat pribadi tidak bisa menjadi kesepakatan bersama.
    Ketiga, gereja katolik Roma paling setia dan tegas dalam hal ini. tidak ada natalan sebelum tanggal 25 desember atau dalam masa adven, sebab itu hanya merusak fokus yang mau dirayakan. ga lucu kan, kalau hari ini natalan, besok eh adven lagi….lama-lama pasakahan dirayakan pada masa adven juga…..ga fokus……atau kita mau sekedar tampil beda????

  16. maria on September 27, 2009 at 11:21 pm

    bagaimana ya membuat dekorasi untuk natal remaja yang bertemakan adat batak? saya sudah kehabisan ide nih
    trims

  17. grace on October 18, 2009 at 3:21 pm

    shalom…
    saya mau tanya, tata acara natal untuk pemuda gimana ya biar gak membosankan?
    kira2 buat acara apa aja selain persembahan pujian?
    gak ada ide nih….

  18. mega on October 23, 2009 at 5:37 pm

    syalom….

    saya mau tau liturgi kebenaran apa yang cocok untuk natal mudika nanti…??

    dan kira kira konsep bagaimana n acara apa aja yang bisa di tampilkan pada acara natal..???

    trimakasih…
    syalom

  19. Agustin Hutabarat on December 4, 2010 at 11:01 pm

    Syalom Amang Pdt DTA..
    Secara pribadi, ada dua hari besar umat Kristen yang bagi saya sendiri nilai nya sama, yaitu Natal dan Paskah. Tetapi yang saya lihat, di gereja Lutheran, seperti HKBP, GKPI, HKI dan lain2, Natal lebih meriah dibanding Paskah. Jika saya memahami (mohon maaf Amang, pemahaman saya masih dangkal tentang Kekritenan), semestinya Paskah lah yang lebih meriah dari Natal, karena Paskah adalah simbol kemenangan iman kita atas Maut. Karena itu saya menjadi bingung, mohon pemahamannya Amang.

    Daniel T.A. Harahap:
    Sebenarnya yang pertama dan terutama harus dirayakan adalah Paskah. Dan saya sangat setuju gereja2 mulai memberikan perhatian yang lebih besar kepada Paskah daripada Natal. Sebab Paskah itulah inti kekristenan kita.

  20. Agustin Hutabarat on December 7, 2010 at 6:22 pm

    Mauliate Amang…

    Syalom…

  21. ARTHUR on December 11, 2010 at 3:55 pm

    Natal memang hanya satu kali yaitu natal raya. tepatx di adakan oleh bangsa di muka bumi ini setiap tgl 25 Des. tapi kelahiran Yesus bukan pada tgl tsb. ada yg menyelidiki Yesus lahir bertepatan dengan hari raya tabernakel/ SUKKOT. Jk anda ingin menyelidiki lihat Lukas 1:5 kemudian 1 Tawarikh 24:10.
    Zakharia adalah imam di rombongan Abia. masing2 rombongan mendapat tugas rutin 1 minggu, 2 X setahun dan jadwal tugas imam ditetapkan menurut kalender keagamaan yang dimulai dengan bulan Nisan yaitu pertengahan Maret. jadi setelah dihitung2 zakharia bertugas pada pertengahan Mei. tetapi karena bertepatan denang hari raya syavuot, semua iman diminta bertugas bersama dan zakharia harus menetap di bait suci selama 2 minggu.akibatnya ia baru pulang ke rumah untuk menemui istrinya pada awal minggu ke2 bulan Juni.
    selanjutnya,
    Luk 1 : 24, Luk 1:35-36
    Elizabetth mulai mengandung pertengahan Juni. Pada saat Elizabet hamil 6 bulan. Gabriel datang pada Maria. yaitu pertengahan Desember, dan Mariapun mulai mengandung saat itu. Yesus dilahirkan pada akhir bulan september atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan hari raya Tabernakel (Hnoror. R.A,. 1997, “THE RETURN OF THE MESSIAH”)
    Hari raya tersebut dilakukan pada tanggal 15 bulan Tishri dan dirayan selama 1 minggu) jadi menurut ketentuan Taurat tanggal kelahiran Yeshua HaMashiach jatuh pada taggal 15 Tishri 5776
    Pada jaman Kaisar Roma Konstantin 285-337 menyatakan diri menjadi kristen. dan sudah menjadi tradisi setiap tanggal 25 Desember penduduk kota Roma merayakan pesta besar yang disebut Saturnalia Romawi yang menyambut kembalinya matahari kebelahan bumi utara setelah mencapai garis balik selatan.
    ntar…… kusambung lagi ya…. aq ada tugas….. nich :)

  22. BUDI SETIAWAN on November 5, 2011 at 12:54 pm

    KONSEP NATAL SEPERTI APA SICH YANG SESUAI DENGAN ANAK SEKOLAH MINGGU…SEHINGGA MAKNA NATAL YANG SESUNGGUHNYA DAPAT DINIKMATI OLEH ANAK??

  23. Frans on July 21, 2012 at 3:23 pm

    Kenapa kita harus merayakan natal…?

  24. rich sihombing on January 2, 2013 at 5:50 pm

    horas amang
    ‘membenarkan kebiasaan bukan membiasakan kebenaran’
    jika kita mengikuti kebiasaan gereje purba untuk merayakan natal tgl 25-6 januari.pertanyaanny sudh benar kh kebiasaan itu??.jika kebiasaan gereja purba itu benar apakh kebiasaan gereja hkbp sudah pasti salah??. apa yg menjadi dsr kebenaran tersebut??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*