Rayakan Natal Dengan Benar

November 30, 2010
By

Oleh: Pdt Bonar H. Lumbantobing

natal-mosaik.jpg

Melalui:
1. Sungguh-sungguh menjalani masa persiapan rohani (dalam waktu 4 minggu Adven)
2. Sungguh-sungguh merayakan Natal hanya 12 (duabelas) hari
3. Sungguh-sungguh merayakan penampakan Tuhan Yesus (epifania) sejak tanggal 6 Januari s/d Minggu Septuagesima

BUKAN PERAYAAN ULANG TAHUN:
Pengertian banyak orang selama ini adalah, bahwa Natal hanyalah perayaan tanggal lahir Tuhan Yesus (sebagaimana kita merayakan ulang tahun kita). yaitu tanggal 25 dan 26 Desember saja. Lalu “karena satu dan lain hal” maka perayaan “ulangtahun” itu dimajukan jauh hingga awal Desember. Pusat perhatian adalah Lukas 2: 1-14 dan Lagu Malam Kudus. Tanpa kedua hal tersebut rasanya tidak ada Natal. Acara lainnya disusun menurut selera setiap kelompok yang merayakannya. Dengan demikian Natal marak di mana-mana dengan berbagai cara dan nama, dan tanggal 24 Desember semuanya istirahat, dan ke gereja dan menyebutnya sebagai “Natal Umum”.

Pada hal yang dirayakan dalam Natal bukan tanggal lahir Yesus, tetapi merayakan keselamatan manusia melalui kelahiran Yesus. Itulah sebabnya tanggal perayaan Natal setiap tahun tidak tepat pada waktu tanggal lahir Yesus.


BUKAN PADA TANGGAL LAHIR YESUS:
Tanggal lahir Yesus tidak diketahui. Lukas 2 aya 1-14 menunjukkan bahwa itu terjadi pada suatu musim panas; buktinya, para gembala tinggal bermalam di tempat terbuka di Efrata. Tanggal 25 Desember adalah musim dingin, jadi tidak mungkin itu tanggal lahir Yesus. Gereja memilih tanggal itu berkaitan dengan perayaan Terang Dunia. Penentuannya pun berlangsung sangat panjang, tidak ditentukan satu orang saja. Tentang itu ada latarbelakangnya, yang tidak akan dituliskan di sini.


RANGKAIAN PERAYAAN KEBAKTIAN:
Umat Kristen bukan bermaksud merayakan tanggal lahir, tetapi sekali lagi, adalah untuk merayakan keselamatan melalui kelahiran Yesus. Oleh karena itu perayaan keselamatan mempunyai bentuk yang khusus, tidak seperti pesta ulang tahun. Bentuknya adalah “rangkaian perayaan” kebaktian (perayaan liturgis). Kebaktian itu tidak hanya dijalankan di gedung gereja, tetapi terutama di rumah melalui doa-doa dan perenungan serta pembacaan Alkitab. “Rangkaian perayaan” itu dijalani dalam tiga tahap:
Masa Advent (Empat Minggu sebelum tanggal 25 Desember)
Masa Raya Natal (12 hari, dimulai tanggal 25)
Masa Epiphanias (Mulai 6 Januari sampai 2-4 Minggu sesudahnya).

Penjelasannya adalah sebagai berikut:


Advent: Persiapan Rohani sebelum Natal
Karena Natal itu adalah perayaan keselamatan, maka ada persiapan rohani. Persiapan itu berlangsung setiap hari (di rumah, di tempat kerja, di mana saja kita hidup), mulai hari Minggu, yang dihitung 4 hari Minggu sebelum tanggal 25. Untuk tahun 2003, jatuh pada tanggal 30 November. Persiapan itu dibagi dalam 4 thema perenungan, dan setiap thema itu direnungkan mulai hari Minggu sampai hari Sabtu. Thema yang direnungkan , didoakan dan dibaca dari Alkitab adalah sebagai berikut:

Advent I: Tuhan yang akan datang pada akhir zaman
Advent II: Pertobatan untuk menyongsong Tuhan
Advent III: Kedatangan Tuhan di dunia ini sebagai Penyelamat
Advent IV: Sukacita menyongsong Tuhan (Pujian Maria)

Bacaan ayat Alkitab melalui Almanak menolong kita untuk mempersiapkan diri. Bila Sektor kita, atau Sekolah, Kantor, dan kelompok marga ingin berpesta pada saat itu, mereka dapat merayakan tetapi bukan Natal, melainkan perayaan menyongsong Natal. Orang Kristen tidak mau langsung merayakan Natal tanpa benar-benar mempersiapkan diri. Kebiasaan merayakan Natal sebelum tiba waktunya masih baru terjadi, kira-kira 50 tahun belakangan ini. Kalau pun itu sudah terjadi, kita tidak perlu melanjutkannya.

Pada waktu Advent, kita belum menyanyikan Malam Kudus, belum membaca Lukas 2, tetapi Gereja kita sudah mempersiapkan Nyanyian-nyanyian indah untuk Advent. Isinya sangat bagus, karena di dalamnya terlihat bagian mana yang harus kita renungkan dalam mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Yesus. Itu ditemukan dalam Buku Ende no. 38-45, atau dalam Kidung Jemaat no. 76-91, juga terdapat di dalam Buku Doding Haleluya.

Bila tahun depan Saudara/i terpilih menjadi Panitia Natal, ingatlah, berikan nama perayaan itu :P erayaan Menyongsong Natal”. Themanya sesuaikan dengan tangalnya. Bila Kantor/Sekolah menentukan tanggal 12 Desember misalnya, lihatlah jatuhnya pada Minggu ke berapa dalam Advent, maka themanya pun disesuaikan. Bila Saudara/I mengalami kesulitan menyusun Acaranya, hubungi Majelis Jemaat setempat atau LPW-STT-HKBP Pematangsiantar.

Dengan singkat, jangan lagi Saudara/i mengikuti orang-orang yang melecehkan Natal dan memperkecilnya menjadi perayaan sesuka-hatinya.

Kita harus mempersiapkan hati kita dengan sungguh-sungguh. Bukan “Malam Kudus” dan Lukas 2 yang penting, tetapi keselamatan kita yang kita rayakan, dan perayaan seperti itu membutuhkan persiapan.

Masa Raya Natal (12 hari)

Masa Raya Natal itu sendiri pun beralngsung 12 hari. Penekanannya pun beraneka ragam, karena perayaan itu adalah untuk merayakan keselamatan kita, jadi themanya bukan hanya Lukas 2 saja, tetapi sangat luas, satu thema setiap hari.

Perayaan Natal itu dibuka pada Kebaktian Malam (Parpunguan Bodari) tanggal 24 Desember. Di sanalah Malam Kudus dinyanyikan, dan Lukas 2 dibacakan. Jadi tanggal 24 Desember bukan pentup Natal-natal liar yang sudah dilangsungkan sebelumnya. Dalam Almanak kita, juga dalam Agenda, Natal Pertama adalah tanggal 25 Desember, disusul Natal hari Kedua tanggal 26 Desember. Sebelumnya tidak ada Natal, tetapi yang ada ialah persiapan!.

Gereja-gereja Protestant yang tua mendaftarkan thema-thema itu sebagai berikut:

Hari Pertama:25 Desember: Kelahiran Yesus.
Hari Kedua: 26 Desember Kematian Stefanus (martir pertama).
Hari Ketiga: 27 Desember Yohannes (murid yang dikasihi).
Hari Keempat: 28 Desember Kematian anak-anak yang tidak bersalah di Betlehem
Hari Kelima: 29 Desember Simeon
Hari Keenam: 30 Desember Hanna
Hari Ketujuh: 31 Desember Firman menjadi daging
Hari Kedelapan: 1 Januari Nama Yesus (Yesus di Bait Suci)
Hari Kesembilan: 2 Januari Yohannes 3: 1-8
Hari Kesepuluh: 3 Januari Yoh. 3:9-15
Hari Kesebelas: 4 Januari Yoh. 3:16-21
Hari Keduabelas: 5 Januari Yoh. 3:22-36

Minggu-minggu Epifania:

Memang 1 Januari adalah Tahun Baru, tetapi itu adalah perayaan tahun baru umum, sementara Tahun Baru Gerejawi adalah Advent Pertama. Tahun Baru kita bisa juga rayakan, tetapi jangan lupa, itu dirayakan masih dalam masa raya Natal. Kalau, Kantor/ Sekolah/ atau instansi lain tidak sempat bernatal pada awal Desember, masih ada waktu pada bulan Januari hingga tanggal 5.

Perayaan Penampakan (Epiphania) adalah perayaan penampakan Yesus di dunia ini. Perayaan ini dimulai tanggal 6 Januari. Hari itu, entah dia jatuh hari Minggu atau tidak, maka thema perayaan adalah penampakan Yesus, yang dilihat oleh orang-orang Majus.

Pada hari Minggu sesudah tanggal 6 Januari kita memasuki Minggu I sesudah Epiphania. Pada hari itu kita merayakan Baptisan Yesus. Perayaan itu dilanjutkan melalu renungan dan doa, serta bacaan Alkitab pad hari Seninnya sampai Sabtu.

Kemudian menyusul Minggu II sesudah Epiphania . Di sini thema Perayaan adalah Perjamuan Kana, yaitu di mana Yesus secara nyata mengadakan tanda ajaib yang pertama dalam sebuah pesta perkawinan di Kana. Perayaan dilanjutkan lagi hingga hari Sabtu. Minggu Epiphania akan berakhir, bila Minggu Septuagesima muncul. Itu dihitung 9 Minggu sebelum Paskah. Terkadang Minggu Epiphania bisa juga sampai Minggu ke III dan IV (tergantung mulainya minggu Septuagesima).

Selesai Minggu Epiphania, selesailah kita merayakan Natal, yang hari-harinya begitu panjang, yang didahului oleh persiapannya (Advent), dilanjutkan perayaan Masa Raya Natal itu, dan kemudian penampakan Yesus. Demikianlah bentuk perayaan Natal. Jadi sangat berbeda dengan merayakan ulang tahun. Tidak bisa sesuka-suka hati kita merubahnya, kapan kita ingin rayakan. Langkah-langkahnya sudah tertentu.

Jangan lagi turut ambil bagian dalam merayakan Natal sebelum waktunya!

Pdt Bonar H Lumbantobing

Catatan: pendeta Bonar H Lumbantobing adalah pendeta HKBP, dosen di STT HKBP Pematang Siantar. Tulisan ini baru sampai pagi ini dan langsung saya posting.

Share on Facebook

27 Responses to Rayakan Natal Dengan Benar

  1. Ninggor Pardede on October 24, 2008 at 10:21 am

    Akhirnya datang juga. Trimakasih buat Amang Pdt. Bonar Lumbantobing. Ahlinya tata ibadah gereja. Singkat, jelas.

  2. Ique on October 24, 2008 at 11:04 am

    Saya jg mendapat pelajaran ini ketika dpt mata kuliah keagamaan dari pak bonar sendiri. Pendeta Bonar kalau tidak salah mengajar keagamaan di Del jg, salam ya amang ama bapak bonar..: -) Thanks buat pengetahuannya..

  3. Bang Poltak on October 24, 2008 at 11:31 am

    Pencerahan yg sangat mudah dicerna. Nanti saya foward ke pengurus PMK kampus kami Amang.

  4. Hermin on October 24, 2008 at 11:41 am

    Satu lagi pemaparan yang sangat jelas. Terima Kasih buat semua yang berusaha meluruskan kebiasaan2 yang salah dan dipaksakan menjadi kebenaran karena terasa lebih nyaman.

  5. Abed on October 24, 2008 at 12:35 pm

    Beginilah type pelayan yang peduli dan menyadari akan tugas pelayanannya. tks

  6. Rudi Juan Carlos Sipahutar on October 24, 2008 at 1:29 pm

    Kalo ada gejala sakit konsultasilah ke dokter..
    Kalo mau tahu tata letak konsultasi ke arsitek
    kalo soal film ya datang ke sineas
    dan kalo mau tahu banyak tentang liturgika ya tanyalah Pak Bonar Tobing..
    bukan begitu Pak???

  7. elumban on October 24, 2008 at 5:41 pm

    Terus terang baru sekali ini saya mendengarkan penjelasan ini. Begitu sok pintarnya kita selama ini memahami perayaan Natal.
    Sayang sekali, artikel seperti ini tidak tersosialisasi kepada jemaat HKBP na bolon i.

    Daniel Harahap:
    Saatnya sudah tiba. :-)

  8. lulu on October 24, 2008 at 9:18 pm

    Horas borngin…

    Mangido tolong jo Pdt nami, lehon hamu jo alamat email-ni amang Pdt Bonar Lumbantobing tu ahu..
    ThaksB4!

  9. Ban suhi opat on October 25, 2008 at 9:20 pm

    Terimakasih atas penejlasan Pak Pdt Bonar Tobing, namun saya mau menggugat juga,
    1. Bahwa Perayaan Natal yang bapak sebut liar itu sudah lama berlarut-larut, bahkan ketika Pak Tobing masih kanak-kanak dan sampai sekarang sudah tua mungkin Ya…? tapi mengapa Perayaan Natal itu khususnya di HKBP maupun di tempat-tempat lain disekitar HKBP berada tidak bisa dirubah? Bahkan jangan-jangan di STT juga terlaksana Natal “liar???
    2. Menurut Bapak Natal itu adalah perayaan keselamatan bukan perayaan kelahiran Yesus, untuk itu nama Natal juga harus dirobah, karena Natal artinya lahir jadi Perayaan Natal adalah Perayaan Lahir….maaf kalau salah.
    3. Menurut saya, yang namanya Perayaan bisa saja kita rayakan sebelum dan sesudah hari yang ditentukan, toh tahun gereja juga manusia yang membuatnya…ia toh bukan Tuhan?

    Daniel Harahap:
    Yang membuat tahun gereja memang manusia, tepatnya bapa-bapa gereja. Yang ingin menabraknya dan mengabaikannya juga manusia.

  10. Andar on October 26, 2008 at 7:27 am

    Sekedar tambahan atas pertanyaan bapak Ban Suhi Opat. Uraian pak Bonar Tobing sudah sangat analitis dan mudah dipahami bagi yang mau membuka hatinya merayakan Natal dengan benar.
    Saya pikir sudah jelas bahwa istilah Natal bukanlah tertuju pada tanggal kelahiran Yesus, tetapi “Dies Natalis Solis Invicti,” hari lahirnya terang dunia yang dirayakan oleh masyarakat Roma (abad ke-2). Dalam tradisi Inggris terkemudian di tahun 1038, Natal lebih ditegaskan lagi dengan Christmas, berasal dari X-Mas (X berarti XRISTOS, Kristus, dan Mas=Misa atau ibadah). Jadi, sama sekali makna Natal bukanlah secara langsung merayakan hari kelahiran Kristus, tetapi sebuah misa, ibadah, dan perenungan akan keselamatan oleh Kristus. Apakah nama Natal harus diubah? Menurut saya tidak perlu, karena kita memang sedang merayakan sebuah keselamatan melalui kelahiran sang Juruselamat, sama seperti kita mengenang keselamatan melalui Paskah, kebangkitan sang Juruselamat.

  11. ama ni amsal siregar on October 27, 2008 at 1:56 pm

    terimakasih atas informasinya bapak pendeta.

  12. nalom (RN) on October 27, 2008 at 5:21 pm

    Thanks banget untuk penjelasannya, jadinya ada tambahan ilmu nih. Tapi menyambung sungkun-sungkun ni Ban Suhi Opat, Apakah kita harus membutakan mata, menulikan telinga dan menutup diri ketika memasuki bulan desember suasana Festive natal sudah terasa. Di pasar, mall, bank, kantor pun kecriaan suasana natal sudah ditampilkan dgn dekorasi hijau-merah,pohon-pohon Natal yang sudah banyak dijajakan, konon dari palastik pula puhon-pohon instan ini. Apakah kita harus menutup telinga ketika lagu-lagu natal (eh.. maaf lagu-lagu dengan nuansa natal) mulai diperdengarkan? Apakah kita juga harus mematikan TV ketika ada iklan TV yang memanfaatkan keceriaan suasana natal. Di gereja kami HKBP Batu Aji batam pun, perayaan natal sdh dimulai dari tanggal 5 Des. Natal Gabungan Ama,Ina,NH tanggal 20-Des, Natal Anak-anak SM tanggal 23-Des. Apakah aku harus tdk mengikutinya, trus protes ke pangula ni huria/parhalado bahwa perayaan-perayaan natal itu salah. Bagai mana pula caranya melarang Anak-anak SM yang berumur 3thn-12 thn itu untuk tak usah bernatal. Apakah dgn menerangkan Advent dan segala massam teologisnya ke anak-anak itu. Ah… massamlah.

    Bagiku pribadi, tidaklah menjadi masalah kapan natal itu mau dirayakan, sblm tgl 25-Des atau ssdh 25-Des. (tolong jangan dibilang rayakan saja tgl 17_agust atau pada saat paskah. Kalau ada yg bilang seperti ini lagi maka dlm hati hrs kukatakan, na oto do jolma namandok sisongonon. Lah wang yang dibahas adlah merayakan Natal mulai awal des utk yg sblm 25-Des dengan yg merayakan natal ssdh 25-Des sampai dgn 6 januari, kok yah masih tega-teganya menghina dgn menyuruh merayakan tgl 17 agust atau pd saat paskah, ini namanya sipanggaron, sijugul baut, tdk mau melihat realita yang ada). Yang penting bagiku bgm aku enjoy menikmati semua suasana natal (eh..menjelang natal ini) dengan sukacita. Menikmati dng pengertian yg disampaikan oleh Amang Tobing, setidaknya masa advent ini tdk akan kujalani dngan kesendirian dan pengucilan diri hanya krn tak boleh merayakan natal sblum 25 Des.

    Makanya nanti pada saat Rapat Pendeta, kalau ini dibahas maka tolong lah dibahas dengn seksama, arif dan bijaksana, tolong juga dilihat alasan-alasan mengapa banyak orang,instansi, punguan merayakannya (harus merayakan) sblm 25 Des. Songon na hea hudok di komenthu na salpu, Natal ni Pimpinandan staf HKBP di Pearaja (angka pandita do on da) taon on tgl 18 Des do. Massam mana pula lah aku hrs bilang ke teman-temang/org lain bhwsanya sblm 25-Des kita itu hendaknya Mar-Advent bukan nya Marnatal. Ah..tahe… Sai na adong do….

    Daniel Harahap:
    Cappe de… :-) Masalahnya hanya satu: kita harus melewati empat minggu adven (penantian) sebelum merayakan natal. Itu adalah masa-masa permenungan, pertobatan dan persiapan. Menghilangkan Adven akan membuat kita kehilangan makna Natal sejati.

    Saya bukan Pimpinan HKBP. Seandainya saya Pimpinan HKBP saya tidak akan merayakan Natal di Kantor Pusat sebelum 25 Desember (seperti pada periode-periode sebelumnya). Masa Adven bukanlah masa pesta tetapi masa permenungan dan pertobatan dalam keheningan. Sampai hari ini saya sudah menolak sembilan permintaan kotbah natal sebelum 25 Desember. Dari segi finansial saya “rugi” atau kehilangan. Namun dari segi spiritual dan moral saya merasa mendapat banyak. Kini pada masa Adven saya akan dapat benar2 menyatukan doa saya dengan semua orang yang ber-adven atau menanti-nantikan Tuhan dalam hidupnya (untuk menyembuhkan, memberikan anak, mempertemukan dengan jodoh, memulihkan rumah tangga, memberi jalan keluar dll).

    Ambal ni hata: sasintongna ise do sijogal baut? Na unduk tu aturan ni partingkian huria manang na so sabar naeng marpesta? :-)

  13. nalom (RN) on October 28, 2008 at 1:34 pm

    Ya… sudahlah kalau sdh cape… Sejauh ini juga semua tanggapan Amang yang saya lihat hanya ingin mempertahankan Pendapat Amang saja, tanpa pernah mau memberikan solusi bagaimana kami-kami ini yg hidup di alam realita yg masih merayakan natal sblum 25 Des. Punguan-2an, anak-anak SM, bahkan Gereja HKBP di tempat kami yg katanya mewarisi kalender gerejawi juga masih mempersilahkan/melakukan perayaan natal sblum 25-Des. Bagaimana kah kami harus menyikapi situasi yg sedemikian. Tidak ikut? Katanya harus berperan aktif mendukung kegiatan gereja. Mengucilkan diri?? Ah.. sudahlah…… Berbeda pendapatkan boleh…

    Maksud saya dngan sijogal baut adalah orang yg dgn seenaknya bilang rayakan saja natal tgl 17 agust atau pada saat paskah, padahal yg sedang dibahas/didiskusikan adalah natal yg dilakukan awal des untuk yg sebelum 25 des dan natal yg sesdah 25 des (masih diminggu awal Jan). Kenapa gak sekalian saja bilang rayakan saja Natalnya di Mars atau di Pluto. Dapat point yang say maksudkan??? Kalau tak juga dapat, ya sudahlah….

    Daniel Harahap:
    Saya semakin hari semakin yakin bahwa banyak orang Kristen (Batak pulak lagi) tak bisa sabar. Merayakan Natal sebelum waktunya sama dengan memetik buah sebelum matang, melakukan hubungan seks sebelum hari pernikahan. Kalau memang hasrat tak bisa ditahan sedikit pun, ya sudahlah, lantak kalianlah…. :-) Bikinlah pesta natal suka-suka di pluto (yang sudah dipecat jadi planet oleh para astronom itu) atau di mars. :-)

  14. JP Manalu on October 28, 2008 at 3:07 pm

    Dalam 2 Parsermonan terakhir di HKBP Solo diskusi mengenai topik ini saya cetak kemudian saya bagikan kepada majelis yang bersedia membacanya (tulisan amang Pdt DTA dan Bpk Pdt Joas AP), minggu I respon cukup baik, sebagian besar majelis “memaknainya” sebagai tambahan pemahaman. Minggu II saya tambah lagi “bobot”-nya dengan menyertakan tulisan amang Pdt. DR. B. Lumbantobing, saya lihat majelis yang pada minggu sebelumnya telah memperoleh “print2-an” merasa semakin “dilengkapi”. Tapi salah seorang St yang sudah cukup lama “nyaman” dengan keadaan perayaan Natal sebelum 25 tahun mengeluarkan pendapat (dengan modal hanya membaca judul tulisan ditambah membaca bagian awal tulisan amang Pdt. Dr. B. Lbn Tobing) yang kelihatannya kurang begitu setuju dengan isi tulisan tersebut. Untungnya amang Pdt. kami tidak begitu memperdalam diskusi mengenai tanggapan salah seorang sintua (sekitar 1,5 lagi pensiun) tersebut. Beliau cukup menyatakan, nanti secara pelan-pelan dengan menggunakan media rapat huria dan forum-forum huria lainnya, akan dilakukan sosialisasi mengenai advent dan natal. Saya cukup lega dengan penjelasan amang Pdt. tersebut, karena tujuan saya mencetak tulisan-tulisan tsb untuk tahun ini adalah dalam rangka melakukan ‘sosialisasi’ kepada sebanyak mungkin orang tentang perayaan Natal yang seharusnya berikut kalender gerejawi serta perbedaan advent dan natal. Selain melalui print-2an, saya juga menyebarluaskan tulisan tersebut (tanpa ijin pula’ lagi dari amang Pdt :) ) kepada teman-teman Kristiani saya.
    Untuk perayaan Natal di HKBP Solo tahun ini, kami ambil sikap untuk tidak secara “frontal” menolak jika perayaan dilakukan sebelum tanggal 25 Des, untuk seksi-seksi yang sudah mengajukan proposal perayaan Natal sebelum “tambahan pemahaman” ini, tetap berlangsung untuk tahun ini (harapannya tahun depan, dilakukan penyesuaian).

    Memang benar, untuk “mengubah” sesuatu yang sudah “terlanjur” dianggap “kebenaran” dibutuhkan upaya yang lebih maksimal untuk “mengembalikannya” menjadi yang seharusnya.

  15. nalom (RN) on October 28, 2008 at 4:25 pm

    Ha…ha…. :-) Sialnya Amang DTA orang Kristen dan Batak Pulak, mau tak mau masuk juga dalam kriteria yg tak sabar ini ha..ha…

    Kembali keahlian Amang DTA “menjudge” batak dgn konotasi minus karena tak sepaham dgn Amang, terlihat “cantik” disini.(aku masih ingat debat kita tentang adat batak, peran perempuan yang minor dalam adat batak adalah pelecehan seksual)

    Sedikit miris dan sedih melihat persamaan yg dibuat amang. Memetik buah sebelum matang masih ada baiknya, tergantung buah apa yang dipetik. Adakalanya buah mangga mentah yg dipetik malah lebih enak apalagi kalau dibuat rujak. Tapi persamaan merayakan Natal sblum 25 des dgn melakukan seks sebelum nikah, wah…. hueabat tenan persamaannya, konon pula persamaan ini keluar dr seorang Pdt HKBP dimana masih banyak Gereja HKBP yg masih “latah” merayakan natal sblum 25-des, bahkan pimpinan HKBP pun masih merayakan natal tgl 18-des, tidak kah ini hendak mengatakan bahwa pimpinan HKBP dan gereja-geraja yang “latah” ini sedang melakukan………. (ah tak sampai hati aku menuliskannya). Tiga kali aku tuliskan kata sudahlah… dikoment ku yang terakhir, dengan maksud untuk kita “calm-down” sambil merenung dan “manulingkit” apa point/alasan dibalik koment-koment yang pro dan kontra itu. Bolehkan kalau kita harus berbeda dalam menyikapi perayaan natal ini, konon pula kita sambil menunggu keputusan Rapat Pendeta 2009, kalau pun hal ini dibahas dan diputuskan di rapat itu.

    Daniel Harahap:
    Okelah, sudahlah dan bolehlah. :-) Tapi nanti kalau ketemu Pimpinan saya akan bilang supaya Natal Kantor Pusat ditunda lewat 25 Desember dan sebelum 6 Januari.

  16. Daniel on October 31, 2008 at 10:37 pm

    Tahun Liturgi dibuat dengan tujuan agar misteri-misteri utama dalam agama Kristen dirayakan dalam kurun waktu setahun agar dikenal oleh Jemaat lebih baik dan dapat dihayatinya dalam kehidupan sehari-hari.

    Jadi sepanjang tahun bagian-bagian Alkitab yang utama terbaca dalam ibadat Gereja. Belum lagi doa-doa liturgi bukan hanya sekedar doa tapi menyingkapkan makna dari bacaan dan tema hari yang bersangkutan

    Leksionari HKBP masih mengikuti model Roma abad pertengahan yang dibagi menjadi Epistle (aslinya Surat-surat Rasuli) dan Evangelium (Injil) meskipun terakhir saya tahu seringkali ada Epistle dari Perjanjian Lama dan Injil dan ada Evangelium dari Perjanjian Lama dan Surat Rasuli. Usulan mungkin Leksionari ini perlu ditertibkan dan ditata lagi, mungkin mengacu kepada RCL (Revised Common Lectionary) yang dipakai di misalnya Lutheran Church of Australia atau OLM (Ordo Lectionum Missae) atau mungkin malah sudah diperbarui, saya gak tahu..

    Soal Perayaan Natal yah kalau Natal diadakan sebelum waktunya jelas permenungan masa Adven hilang jatahnya…yang dirugikan adalah pewartaan Firman Tuhan jadi tidak utuh dan menyeluruh lagi dan jemaat makin kesulitan menangkap arti Natal yang sebenarnya karena persiapannya dirusak secara gegabah. Hal yang sama juga berlaku untuk sesudahnya.

    Terus terang saya cukup heran dengan beberapa yang ngotot untuk membenarkan perayaan Natal salah kaprah ini…..

    Masalahnya bukan tahun liturgi buatan manusia atau sudah terlanjur salah, tetapi masalahnya adalah tanggung jawab Gereja untuk mendidik anggota-anggotanya mengenal misteri iman dan menghidupinya dengan baik. Gereja punya kewajiban untuk melaksanakan tugasnya mewartakan Firman dengan benar dan menertibkan tahun liturgi (termasuk Perayaan Natal terlalu awal) adalah langkah bagus ke arah sana walaupun ini bukan satu-satunya

    Tahun Liturgi adalah sarana yang sangat efektif untuk mengatur kurikulum pewartaan Firman Tuhan. Melaluinya doa, bacaan, khotbah ditata dengan baik. Alat ini sudah efektif bekerja selama hampir satu setengah milenium dan merusaknya untuk alasan sepele terlihat tidak masuk akal.

    Tulisan artikel dari Pdt Bonar ini sangat bagus dan sederhana

    Horas

  17. smoel on November 8, 2008 at 7:07 pm

    sedikit komentar OOT saia ttg natal,
    natal itu utk anak2 !!
    hehehe….

    Amang,
    perayaan natal sebelum waktunya bukan selalu karena tidak sabar.
    saia melihat ini disebabkan terlalu banyak organisasi/komunitas yg ingin merayakan natal dan panitianya tidak ingin ada bentrok acara di tempat lain. panitianya kan itu2 aja orangnya….. :)

    Amang mengatakan:
    Soal Perayaan Natal yah kalau Natal diadakan sebelum waktunya jelas permenungan masa Adven hilang jatahnya…yang dirugikan adalah pewartaan Firman Tuhan jadi tidak utuh dan menyeluruh lagi dan jemaat makin kesulitan menangkap arti Natal yang sebenarnya karena persiapannya dirusak secara gegabah. Hal yang sama juga berlaku untuk sesudahnya.

    Itu kan tergantung pendeta yg kotbah. lewat perayaan natal tsb, pendetanya tetap bisa menyampaikan renungan ttg adven/ pengantar natal.
    panitia juga punya peran disini agar perayaan tsb substansinya tetap berfokus pada masa adven.
    bungkusnya Natal, isinya Adven.

    terkesan menipu ya?
    abis mau gimana lagi, gereja (dlm hal ini HKBP) telah kalah dgn dunia bisnis.
    harus cerdik kan spy searah dgn tahun gereja ….

    tapi kok kita berdebat soal tanggal perayaan natal sih…. kayak saudara sebelah kita aja….
    kalo tanggalnya sudah benar, apakah merayakannya sudah benar?

    permasalahan terbesar natal adalah natal dijadikan komoditas. barang dagangan. dan kita ikut sibuk dalam transaksi2 utk merayakan natal dgn meriah. baju baru, belanja aksesoris natal, bikin kue, dll. belum lagi ikut natal disana-natal disini. natal akhirnya menjadi seremoni rohani.

    soal rapat pendeta,
    cara yg paling efektif menurut sy bukan hanya larangan merayakan natal sebelum tgl 24 di gedung HKBP, tapi juga larangan kpd semua pendeta HKBP memberikan pelayanan natal sebelum tgl 24 Des. kalo yg tua sudah menunjukkan contoh yg baik, kami, yg muda, pasti meniru. dan mudah2an institusi2 gereja yg lebih muda umurnya mengikuti hal ini.
    akankah keputusan itu diambil oleh lulusan2 STT yg paham arti tahun liturgi? kita tunggu pembuktian mereka…..

    anyway, tks utk Amang Bonar dan Amang Daniel.

    Daniel Harahap:
    Cappe de. :-) Tapi tetap terima kasih mau meninggalkan komen di sini. :-)

  18. smoel on November 15, 2008 at 9:25 am

    Amang ternyata sudah tua yack….
    mudah cape…. :)

    ya sudahlah.
    selamat beristirahat….. :)

  19. agnes sekar supenni on November 20, 2008 at 5:03 pm

    Untuk panduan ada baiknya, tetapi tidak mutlak, karena yang penting bukan pengaturannya tapi kesiapan hatinya. Apa pun yang dilakukan semuanya untuk kepujian Nama Jesus, sah sah saja.

    Daniel Harahap:
    Lakukanlah segala sesuatu dengan tertib dan teratur, kata Paulus kepada jemaat Korintus.

  20. dinandjait on November 18, 2009 at 8:32 am

    Saya setuju dengan pak BLT.

    Plus, ada link bagus untuk dilihat di http://www.sarapanpagi.org/natal-vf18.html
    Rayakan Natal dengan benar… :)

  21. Tio on November 20, 2009 at 1:07 pm

    Salam….
    Membenarkan yang biasa atau membiasakan yang benar???
    Kita benar2 prihatin buat perayaan2 Natal yang ada sekarang ini. begitu banyaknya perayaan natal dan bahkan sudah dimulai dari hari pertama bulan desember, hingga akhirnya kita tidak ‘memiliki’ semangat lagi pada puncak perayaan Natal 24 dan 25 Desember… sudah capek. lama-kelamaan kita merasa bahwa natl itu tidak berarti lagi selain hanya seremonial keagamaan….
    Kepada para pemimpi Gereje; Pendeta, Guru Jemaat, Bibelvrouw, Diakones, Evangelis, Majelis dan mungkin Jemaat HKBP yang terkasih,,,,
    Marilah kita kembali ke jalan yang benar.
    Terima kasih Bapak Pdt. Bonar Lumbantobing yang terkasih…
    Terima kasih Bapak Pdt. Danial T. Harahap….
    Terima kasih Sobat2pecinta RumaMetmet…
    Salam

  22. Banjarnahor on December 8, 2009 at 1:47 pm

    Syalom !
    Kita tidak perlu berdebat Perayaan Natal sebelum dan sesudah tgl 25 Desember. Menurut saya mari kita perbaiki di masa yang datang, terutama mayoritas halak hita adalah anggota jemaat HKBP. Jadi harus HKBP yang memulai yaitu kesepahaman antara seluruh pendeta HKBP melalu Rapat Pendeta tidak di perkenankan Pendeta HKBP melayani perayaan Natal sebelum Tgl 25 Desember, Dan melalui Sinode Godang seluruh Gedung Gereja HKBP dan Asset lainnya milik HKBP tidak menerima Perayaan Natal sebelum Tgl 25 Des. Jadi menurut saya apabila ini di terapkan Oleh HKBP lama kelamaan peryaan Natal akan bergeser setelah tgl 25 Des. Kita tidak ada gunanya adu argumentasi tetapi secara institusi Gereja HKBP masih membenarkan Perayaan natal sebelum tgl 25 Des.
    Horas!!

  23. LOREN SITUORANG on November 30, 2010 at 10:36 am

    di buatkan ajalah peraturan dari HKBP pusat,melarang mreyakan NATAL di masa ADVEN dan penjelasannya,supaya tidak ada kesan menonjolkan seseorang:-) klw ada peraturan resmi dari HKBP pusat pasti ruas HKBP di seluruh dunia pasti bisa mengerti….HORAS..:-)

  24. roosbine simanjuntak on December 1, 2010 at 4:05 pm

    HKBP adalah Gereja Terbesar di Indonesia bahkan Asean..kenapa masalah peranyaan Natal baru dipermasalahkan sekarang?..dan kemana aja selama ini?..saya percaya..mengapa Natal sdh diaryakan sblm tgl 25 Des, karena banyaknya seksi2 dan kelompok yg mau merayakan..yg tdk mungkin mendapat tempat dan waktu yg saat bersamaan, akhirnya lahirlah perayaan sejak masuk ke bl Desember..agar dapat pelayanan dari Pdt di Gereja masing2..dan setelah Natal Umum..kebiasaan bagi Orang Batak..adalah merayakan Tahun Baru sebagai puncak kebahagiaan Penyertaan Tuhan..disanalah berkumpul seluruh sanak-saudara saling mengoreksi perilaku dan saling memaafkan..setelah itu..pada umumnya paguyuban marga2 dan kumpulan2 yg lain..akan mengadakan doa ucapan syukur awal tahun (Pesta Bona Taon) jadi kesemuanya itu..khususnya bagi HKBP sepertinya sdh ada rangkaian sukacita tadi dari mulai Merayakan Natal sebelum Tgl.25 s/d Pesta Bona Taon sepertinya telah berjalan sedemikian dan dinikmati bersama..untuk itu…masalah yg telah terjadi selama ini sepanjang tdk mengganggu pada kenyamanan masing2 sebaiknya tdk perlu di perdebatkan. karena segala sesuatu yg dilakukan di dalam Nama Tuhan pasti mendapat KEBAHAGIAAN. AMIN.

  25. hardiman nainggolan on December 2, 2010 at 8:22 pm

    khotbah Ephorus di penahbisan tgl 28 November 2010, merayakan natal itu terserah, asal sudah minggu parningotan na monding. Boha do panditanami i?

  26. richard hutahaean on December 2, 2010 at 8:53 pm

    @Hardiman Nainggolan : Mungkin atau sangat mungkin Eforus berpendapat seperti itu karena dan atau seperti diibaratkan Musa yg mengijinkan bangsa Israel kawin lebih dari sekali. Alani jugul ni bangso i do… :)

  27. verlynca togatorop on November 26, 2013 at 10:06 am

    natal tanpa memasuki dan menghidupi advent sama dengan pergi beribadah minggu ke gereja tanpa mandi dan mengenakan pakaian tidur, toh di ibadah minggu tidak ada aturan tertulis jenis pakaian yang dilayakkan.
    mari mempersiapkan diri untuk memasuki minggu-minggu advent sehingga ketika natal tiba, sukacita keselamatan akan semakin nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*