Merayakan Natal Sebelum 25 Desember? Jangan Dong!

natal-75.jpg

Oleh : Pdt Joas Adiprasetya

Selalu saja ada ketegangan yang terjadi sejak awal bulan Desember, ketika acara Natal dirancang untuk komunitas-komunitas yang anggotanya terdiri dari banyak gereja. Pasalnya, banyak umat Protestant yang tidak terlampau peduli bahwa Natal harus dirayakan pada atau sesudah tanggal 25 Desember. Alasannya sederhana saja. Mereka akan berdalih: Bukankah yang penting hatinya, bukan tanggalnya. “Bagaimana” dan bukan “kapan.” Apalagi, bukankah tanggal faktual kelahiran Yesus tak lagi bisa dilacak. Mereka cukup memiliki informasi bahwa 25 Desember dipilih berdasarkan tradisi Barat pra-Kristen yang kemudian dikristenkan dan diadopsi menjadi tanggal kelahiran Sang Juruselamat. Cukup beralasan. O, ya, ada alasan praktis lainnya. Yaitu: kita harus merayakan natal-natal kecil ini sebelum akhirnya memuncak pada perayaan Natal “besar” pada tanggal 24 Desember malam di gereja masing-masing.

Namun, alasan-alasan tersebut tak cukup kuat bagi sebagian umat Katolik, misalnya, yang cukup ketat mempertahankan kebiasaan mereka untuk tidak merayakan Natal sebelum 25 Desember. Orangnya belum lahir kok dirayakan, demikian kilah mereka. Alasan yang juga masuk akal.

Bagaimana posisi saya sebagai seorang Protestant? Jelas saya memihak pada pendirian gereja Katolik! Lho, kok? Apakah ada pertimbangan lainnya? Jelas ada. Baiklah saya uraikan apa yang saya pahami.

Pertama, saya amat menyadari nilai praktis dari perayaan Natal sebelum tanggal 25 Desember. Karena setelah tanggal tersebut, praktis keluarga-keluarga Kristen berkeinginan untuk menghabiskan liburan bersama keluarga hingga tahun baru menjelang. Bagaimana bisa berlibur dengan tenang, bahkan bagaimana bisa berlibur, jika pada tanggal 26 Desember si kecil harus ikut Natalan Sekolah Minggu, lalu keesokan harinya giliran si kakak yang ikut Natalan Pemuda, dan seterusnya. Alasan ini bisa saya pahami sepenuhnya. Toh saya juga punya keluarga. Namun, alasan praktis ini tidak punya bobot teologis yang cukup kuat, yang sebentar akan saya paparkan. Tapi, ketahuilah, saya sepenuh-penuhnya memahami cara berpikir ini.

Kedua, saya juga paham bahwa 25 Desember bukan tanggal faktual kelahiran Yesus. Banyak orang yang bahkan beranggapan bahwa Yesus sesungguhnya lahir pada bulan April. Sekali lagi tanggal berapa pun bukan poin yang terpenting. Yang terpenting adalah, bahwa secara global, ekumenis dan tradisional, gereja-gereja telah menyepakati bahwa tanggal 25 Desember menjadi tanggal peringatan kelahiran Sang Juruselamat. Tentu dengan pengecualian gereja-gereja Orthodoks Timur yang merayakannya pada awal bulan Januari. Singkatnya, 25 Desember adalah sebuah konsensus orang beriman, yang memandang perlu untuk memiliki satu tanggal bersama untuk memusatkan ibadah dan iman mereka pada momen di mana Sang Anak Allah lahir di tengah dunia.

Dalam kaitan dengan itu, lantas gereja memasukkan tanggal 25 Desember ke dalam kalendar gerejawi. Iman kristen diasuh berdasarkan rentetan peristiwa imani yang diungkapkan lewat kalendar gerejawi tersebut. Bahkan, bukan hanya 25 Desember, kalendar gerejawi kemudian juga meletakkan 4 minggu sebelum 25 Desember sebagai masa Pra-Natal atau yang lazim kita kenal dengan sebutan Minggu-Minggu Adventus. Selama empat minggu itu, kita mempersiapkan diri menyambut Natal (memperingati kelahiran Yesus sekitar dua ribu tahun silam) serta menyambut kedatangan Kristus kembali (mengharapkan kedatangan-Nya di masa depan). Jadi, masa adventus adalah masa di mana masa silam (peringatan) dan masa depan (pengharapan) menyatu. Dan semua proses ini memuncak pada perayaan Natal itu sendiri, yaitu mulai dari Malam Natal (24 Desember malam, Christmas Eve) dan Hari Natal (25 Desember). Singkatnya, seluruh struktur kalendar gerejawi tersebut turut membentuk struktur iman kristiani kita.

Nah, kini bayangkan kekacauan yang bakal muncul jika Natal dirayakan sebelum tanggal 25 Desember—katakanlah tanggal 16 Desember—yaitu ketika kita masuk pada masa adventus, yang pada intinya mempersiapkan diri kita untuk menyambut Natal dengan baik. Lalu setelah itu (17 Desember) kita kembali memasuki masa persiapan Natal (masa Adventus) menurut kalendar gerejawi. Apa bukan sebuah kekacauan? Jika ini dilangsungkan, maka kacaulah seluruh struktur kalendar gerejawi dan penghayatan kita terhadap makna Adventus dan Natal menjadi kabur dan tak lagi bermakna.

Jika penjelasan yang saya paparkan bisa diterima (harapan saya demikian), maka bagaimana secara praktis menyiasati kebutuhan perayaaan-perayaan Natal yang begitu banyak itu (natalan komisi, natalan wilayah, natalan marga, natalan keluarga, natalan kantor, natalan klub golf, natalan kelompok PA, natalan ini dan natalan itu)? Pertama-tama, perlu dipertanyakan apakah memang mengikuti perayaan natal yang berjibun itu merupakan sebuah kebutuhan yang musti dipenuhi? Atau apakah memang itu kebutuhan? Saya kok curiga bahwa itu semua bukan kebutuhan kita. Lebih tepat, mungkin, itu semua merupakan sebuah kebiasaan yang lantas kita anggap sebagai kebutuhan. Jadi, bagaimana?

1. Buatlah prioritas, perayaan Natal mana yang memang butuh Anda ikuti. Jika memang tidak benar-benar butuh, tidak perlulah mengikutinya.

2. Jika perayaan Natal tertentu dirasa memang sebuah kebutuhan (atau keharusan), maka jika Anda termasuk orang yang terlibat dalam perencanaannya, berikanlah argumentasi Anda untuk tidak merayakannya sebelum tanggal 25 Desember. Syukur-syukur kemudian bisa dialihkan setelah tanggal 25 Desember, tentu dengan konsekuensi minimnya pengunjung yang bakal datang.

3. Atau, jika perayaan setelah 25 Desember tetap tidak mungkin, opsi lain adalah menyelenggarakannya bukan sebagai perayaan Natal, namun perayaan persiapan Natal, yang isinya bernuansa Adventus. Strategi ini memiliki nilai ekumenis, karena lantas mereka yang berasal dari Gereja Katolik tidak mengingkari apa yang mereka praktikkan selama ini.

4. Atau pilihan lain: Alih-alih membuat perayaan Natal yang menghabiskan banyak uang yang tak perlu, buatlah perayaan (menyambut) Natal yang berbentuk aksi nyata demi sesama yang membutuhkan. Strategi ini mulia sifatnya, karena menggeser kebiasaan yang konsumtif dan egoistik menjadi kebiasaan yang produktif dan altruistik (berorientasi pada sesama).

Bagaimana dengan gereja? Selain beberapa pemikiran di atas, menurut saya sudah sejak lama gereja-gereja (termasuk GKI Pondok Indah) berpikir untuk mengubah kesalahan selama ini, yang memusatkan perhatian lebih pada Natal tinimbang Paska, padahal pada momen Paska-lah iman kita memperoleh perhatian paling penting. Natal bermakna dalam terang Paska. Paska tetap bermakna tanpa perayaan Natal. Palang Salib lebih penting dari Palungan. Maka, usulan konkret saya:

5. Jika memang perayaan-perayaan Natal untuk komunitas-komunitas tertentu tidak mungkin dilakukan setelah tanggal 25 Desember, karena alasan praktis atau alasan-alasan lain, maka sebaiknya apa pun yang diselenggarakan sebelum tanggal 25 Desember menjadi kegiatan Adventus (persiapan Natal).

6. Atau tiadakan sama sekali semua perayaan “kecil” tersebut dan dipusatkan secara lebih meriah pada Malam Natal dan Hari Natal, bersama-sama sebagai satu umat. Perayaan Natal yang terpusat pada tanggal 25 Desember kemudian musti children-friendly, lansia-friendly, singkatnya, mengakomodasi seluruh anggota keluarga dari semua usia dan semua latar-belakang. Jika ini dikerjakan, maka Anda bisa bayangkan betapa makna “gereja sebagai keluarga” menjadi begitu bermakna. Selain itu, strategi ini memungkinkan gereja kita untuk menjalankan keinginannya sejak dulu untuk menggeser pusat perhatian pada Paska dan bukan Natal. Keuntungan lain: hemat. Uang yang mustinya dipakai untuk hiasan natal, hadiah natal, konsumsi, dan lain-lain di perayaan-perayaan kategorial, kini bisa dialihkan untuk tugas sosial gereja ke masyarakat. Dan keuntungan teologis yang terutama: kekacauan struktur iman kristiani terhindarkan. Masa adventus tetap menjadi masa penantian dan pengharapan, yang memuncak pada Natal itu sendiri.

Apakah usulan saya ini bisa dilaksanakan? Tentu saja bisa. Anda tentu dengan mudah melihat bahwa usulan-usulan di atas membuat kepeningan persiapan Natal berkurang. Tapi, ‘kan masalah selama ini bukan soal bisa atau tidak bisa, melainkan mau atau tidak. Soal yang satu ini terus-terang hanya kita masing-masing yang bisa mengaturnya.

Akhirnya, selamat (mempersiapkan) Natal. Salam dari kami berlima yang tengah kedinginan di Boston.

Catatan: penulis adalah pendeta GKI Pondok Indah, dosen di STT Jakarta, tulisan dikutip penuh dari milis hkbp, ijin sedang diurus. :-)

Share on Facebook

33 comments for “Merayakan Natal Sebelum 25 Desember? Jangan Dong!

  1. Andar
    October 15, 2008 at 8:38 pm

    Kalau masih ada yang tidak paham, atau berusaha untuk tidak memahami tulisan ini (karena sebahagian kita lebih suka membenarkan kebiasaan daripada membiasakan kebenaran), orang Batak bilang: “Ndang huboto be mandok, lok ma dituntun lomona.” Biarlah Roh Tuhan yang mampu melembutkan dan lebih menjelaskan kepada hati dan pikiran saudara, agar kita mau berubah. Mengutip kata Alkitab: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.”

  2. Oce D. Komarsyah
    October 16, 2008 at 6:40 am

    Sungguh suatu penjelasan yang sangat tepat, tetapi jangan lupa alasan yang sama akan dikemukakan juga, yaitu tiadakan masa raya adven, karena tanpa ada masa raya adven-pun natal tetap bermakna. Kan sama juga dengan meniadakan natal-natal lainnya.
    Tapi saya tetap setuju dengan tulisan tsb., hanya saja tentu akan ada juga pernyataan yang saya sampaikan itu.
    Harap Tuhan Yesus dapat membaringkan kepalaNya karena tubuhNya mulai bersatu.

    Daniel Harahap:
    Tanpa didahului Adven Natal akan kehilangan maknanya. Sebab Adven justru menyimbolkan penantian umat yang sangat panjang akan Natal (kelahiran) Juruslamat.

  3. St.Manullang
    October 16, 2008 at 9:32 am

    Bagi yang membaca tulisan ini, harusnya paham dan mudah2an mau mulai melaksanakannya sesuai ditempat masing2( tentunya uluan di hurialah yang sangat diharapkan sebagai ujung tombak untuk mau memulai dan merubahnya, sebagaimana yang pernah di lakukan oleh amang Pdt Andar P di HKBP Sidoarjo). Persoalannya sebagian besar uluan huria yang ada di HKBP tidak membaca tulisan ini. Dari sisi jemaatpun mungkin akan timbul persoalan khususnya dari generasi yang lebih tua, mungkin mereka akan mengatakan” pajagojagohon do angka na umposo nuaeng on, ai sian mulai masa ni ompung nami na jolo nunga sai di patupa angka pesta natal andorang so tanggal 25 des dope, hape nuaeng ndang boi be ninna patupaon andorang so tanggal 25 Des, aha do kamsudna?????. Untuk itu di perlukan adanya sosialisasi perihal tulisan2 tersebut diatas kepada warga jemaat.

    Daniel Harahap:
    Pastilah yang mengatakan itu yang berusia di bawah 60 tahun. Mereka yang berusia lebih lanjut akan mengatakan: ido tutu. najolo pe hami dung pe tanggal 24 asa marnatal manang manutung lilin di gareja. Bahasa Indonesia: ya benar. dulu kami pun baru sesudah tanggal 24 baru bernatal yaitu memasang lilin di gereja. :-)

  4. October 16, 2008 at 10:12 am

    Tema serupa silahkan akses pada website hkbp, klik di sini:
    http://www.hkbp.or.id/index.php#

  5. Johnson Sitorus
    October 16, 2008 at 10:30 am

    Merubah sebuah kebiasaan memerlukan waktu yang lama. Dan perlu sosialisasi untuk memperkenalkan kebiasaan/aturan baru. Mungkin bertahun-tahun. Bila perayaan Natal di seluruh HKBP haram hukumnya sebelum tgl 25 Des, mestilah keputusan itu ditelurkan oleh Forum tertinggi HKBP, misal SG. Kalau hanya keputusan Praeses sebagai payung hukumnya, bisa saja para pendeta ressort mengabaikannya. Dulu kami (pernah) merayakan Perayaan Adven, waktu itu minggu I Des. Namun, perayaan adven itu diisi juga dengan aneka acara yg menggambarkan kelahiran Yesus (ya drama, ya kotbahnya, etc).Judulnya saja Perayaan Adven namun isinya ya perayaan Natal. Bisa ndak gitu ya?

    Daniel Harahap:
    Di HKBP menyangkut dogma atau ajaran forum pengambilan keputusan tertinggi bukan Sinode Godang tetapi Rapat Pendeta.

  6. Kimron Manik
    October 16, 2008 at 12:21 pm

    Memang sudah waktunya kita harus berani melakukan yang
    benar sesuai aturan gereja. Kenapa kita takut untuk mencobanya?

  7. Ruas-Bandung
    October 16, 2008 at 5:21 pm

    Buat saya perayaan natal di HKBP cenderung kehilangan makna-nya sebab acapkali lebih terfokus pada “makna-nya” (makanan natalnya).

  8. Humgu
    October 16, 2008 at 8:45 pm

    Memang arti natal sudah hilang. Sebab natal saat ini hanya kemeriahannya

  9. Mangara Pakpahan
    October 16, 2008 at 11:11 pm

    Wah….saya sungguh bersyukur sekali atas tulisan ini… Trims saya utarakan buat pak Pdt Joas yang sudah berusaha membuka cakrawala berpikir pembaca tentang perayaan natal ini. Saya jadi teringat ketika pernah mempelejarai teologi liturgi (sec khusus ttg tahun liturgi gereja barat)… Namun seperti pendapat teman2 yang lain, saya lebih cenderung “PESIMIS” … kalau mau menghidupi perayaan advent atau pun “merayakan natal dengan benar”… he..he..3X :-) Perlu ada yang namanya sosialisasi dari gereja secara resmi …. Mengapa? oleh karena di gereja sendiri tidak di dukung oleh para pelayanNya (sec.khusus Pendetanya…bila perlu sintua atau pelayan tahbisan lainnya juga ikut2an) Jangan2 pimpinan tertinggi gereja saja pun juga belum……????? :-) lho kok???? Kalau diperhadapkan dengan warga jemaat saya pikir mereka itu hanya ikut arus saja, sebab yang diberikan tugas penyelenggaraan perayaan2 di gereja adalah pelayan2Nya. Jadi…..saya pikir kalau di gereja2 protestan sec.khusus HKBP (tempatnya saya bergereja) perlu diputuskan dalam RAPAT PENDETA, yang saya dengar akan diselenggarakan tahun depan. Saya benar2 bingung setelah mencoba mempelajarinya…sebab terkadang bisa muncul dalam pikiran ini, yang mananya yang benar? kata bapak dosen STT sanakah? atau kata bapak/ibu pendeta ressort ini? Benar-benar bingung…., satu gereja, satu tahbisan tapi bisa beda……… Ya semogalah tercipta adanya kesepakatan bersama tentang perwujudan ajaran gereja yang benar.

  10. October 16, 2008 at 11:37 pm

    Benar, kalau disebut Pesta Perayaan Natal, maka cocoknya setelah tanggal 25 Desember. Tapi kalau disebut Pesta Natal, tanpa kata Perayaan, maka tentulah boleh sebelum tanggal 25 Desember.

    Bagi HKBP, Puncak Pesta Natal adalah tanggal 25 Desember, disebut Natal Umum. Setelah itu tidak ada lagi Pesta Natal yang selenggarakan oleh Gereja.
    Sebelum tanggal 25 Desember, acara Pesta Natal boleh dilakukan oleh Sekolah Minggu. Juga diberi kesempatan pada NHKBP, Punguan Ina, Punguan Ama ( kalau mampu dan berkeinginan ).

    Kalaupun ada Punguan punguan lain yang menyelenggarakan Pesta Natal, maka itu hanya sebagai peminjam Gedung Gereja, bukan diselenggarakan oleh Gereja. Kita harus bedakan.

    Sewaktu saya anak-anak, saya sangat senang dengan Pesta Natal Sekolah Minggu, saya senang bila mendapat kue Natal. Bahkan saya sangat senang walaupun hanya mendapatkan lilin Natal. Saya masih hapal dengan harum pohon Natal ( dulu di Tapanuli Gereja selalu pakai pohon yang asli ).

    Liturgis Natal : Penciptaan, kejatuhan manusia kedalam dosa, akibat dosa, janji / nubuat akan kedatangan Juru Selamat, kelahiran Sang Juru Selamat . ( TOLONG DILENGKAPI AMANG PENDETA ).

    Kalaupun pada acara Natal tesebut ada kemeriahan, apa salahnya ? tak bolehkah umat kristen bergembira pada saat menerima Berita Keselamatan? Kenapa kita selalu menghakimi HKBP ? cobalah kita renungi lebih dalam !

    Daniel Harahap:
    Siapa sih yang mengangkat dirinya menjadi hakim? Inti wacana sebenarnya: perlu atau tidaknya gereja mentaati kalender liturgi atau kalender ibadah. Menurut saya perlu. Sangat perlu. Harus.

  11. Jeremy
    October 17, 2008 at 8:00 am

    Kalaulah semua Pendeta di HKBP sudi membaca minimal lah artikel Bapak Pdt. Joas Adiprasetya ini (iya kalau baca yah amang?? he he he)… Pastilah jemaat kita sudah mengerti, saya pernah juga diperingatkan oleh Pdt. MFL Sinaga semasa jadi panitia Natal marga, untuk mengganti tata ibadah dan judul Perayaan Natal menjadi Peraayaan Advent Punguan ….. Dulu saya sih menggerutu aja, tetapi kalau direnungkan benar adanya… Hmm bagaimana dengan konsep seperti ini amang, karena di Jogjakarta sudah berjalan cukup lama, yaitu Perayaan Natal dan Tutup Buka Taon yang disatukan dan biasanya dilakukan pada bulan Januari… :)

    Daniel Harahap:
    Sebenarnya semua atau katakanlah hampir semua pendeta tahu tentang hal ini. Masalahnya hanya kurang berani saja menyuarakannya apalagi memperjuangkannya. Mengenai perayaan yang digabungkan, gimana ya. Menurut saya natal ya natal sajalah. Pesta Tahun Baru ya tahun baru sajalah. :-)

  12. warman
    October 17, 2008 at 10:46 am

    Percuma saja kita komentari dan usul mengenai boleh tidaknya perayaan /pesta Natal sebelum 25 Desember. Kenapa saya katakan seperti itu, karena jawaban2 yang saya baca tidak ada kata kompromi, selalu menuruti jawaban yang telah di format sebelumnya, diluar itu EGP,
    pokoknya setelah 25 Des..pokoknya hrs adven dulu…pokoknya…..
    he…he…he… songonima akka parhata sada…..Natal ya Natal… Tahun Baru ya Tahun Baru…. Itulah jawaban EGP………..

    Daniel Harahap:
    Warman sudah baca tulisan Pdt Joas Adiprasetya yang berjudul: Natal Sebelum 25 Desember? Jangan Dong! Jika sudah, bacalah sekali lagi dengan rileks dan tarik nafas berulang. :-)

  13. rumanav
    October 17, 2008 at 3:41 pm

    Berusaha mengajak jemaat utk merayakan Natal setelah tgl 25 Des.08 Silahkan saja, tapi sosialisasikan dulu lah dengan benar.
    Sewaktu sy jadi kuli di satu perusahaan, sy pernah ditugaskan menangani suatu proyek di luar Jakarta. Dari Jakarta sy bawa pekerja sekitar 80 orang. Setelah tiba di lokasi proyek, kami menemukan fasilitas yg sangat tidak memadai khususnya kamar mandi dan terjadilah apa yg menurut sy lucu dan menjadi kenangan indah.
    Misalnya ada teman yang bangun jam 3 pagi langsung mandi kemudian tidur lagi..ada juga yang sarapan dulu baru mandi pokoknya semrawut lah.
    Sy tau apa yg harus sy kerjakan bukanlah mengajari mereka dengan ucapan : ” Teman2,.. setelah bangun tidur mandi dulu ya, jangan lupa sikat gigi, habis ,mandi rapihin tempat tidur ya.. dst.dst. Tapi sy harus menambah kamar mandi.
    Mungkin pengalaman lapangan ini bisa menjadi alasan sy utk mengatakan Sebelum tersosialisasi dengan benar merayakan Natal sebelum tgl 25 Des. boleh dong..”

    Daniel Harahap:
    Apa yang kita diskusikan di sini bagian dari pengkondisian itu. Bahkan dalam surat saya kepada Ketua Rapat Pendeta, seandainya Rapat memutuskan kembali ke kalender liturgi, saya tetap meminta agar ada masa transisi selama setahun atau dua tahun.

  14. October 18, 2008 at 12:02 am

    Setelah membaca tulisan Pak pendeta diatas saya kaget juga walaupun amang DTA sendiri beberapa hari yang lalu sudah pernah juga membahasnya.

    Ah andaikan setengahn aja sintua kami tdk gaptek juga jemaatnya pastilah bisa merayakan Natal setelah tgl 25.

    Mudah2an }orang penting” gereja kami yang menganggap gereja kami adalah gereja keluarganya membaca urayan diatas dan menyampaikanya dgn baik ke Pendeta uluan kami yg gaptek, karena kotbah sorepun beliau tidak pernah karena katanya kurang bisa berbahasa Indonesia, jadi boro2 mengunjungi rumah tempatku curhat ini. Eh kok jadi ngawur ya amang,tapi enggak melanggar hukum kan amang.

  15. meyrish
    November 4, 2008 at 9:32 am

    saya sangat berterimakasih atas tulisan ini. karena memang rata-rata jemaat hkbp masih beum memahami tentang kapan diadakan perayaan perayaan natal. Terutama untuk natal dari kumpulan marga-marga bahkan tanggal-tanggal 5des sudah menyanyikan lagu malam kudus, dan kedengaran sangat janggal 3 minggu sebelum masa kelahiran sudah dinyanyikan kelahiran (dalam bahasa batak dang tubu dope alai nunga dibahen ese-esekna). Lucu memang, tapiSemogalah dengan ini suatu saat saat akan ada kesamaan pemikiran tentang perayaan natal ini. Boleh saja merayakan tapi ada baaiknya disebut perayaan Advent.

  16. Pangondian Ritonga
    November 11, 2008 at 9:12 pm

    Saya sekarang berumur 48 tahun, seingat saya waktu anak-anak di kampung sekitar tahun 70-an, perayaan Natal pertama dilaksanakan malam 25 Desember oleh anak-anak Sekolah Minggu dan kemudian Natal ke-2 dilanjutkan malam berikutnya yang diselenggarakan oleh Naposo. Akan tetapi setelah tahun 80-an (saya sudah merantau), jika pulang kampung, anak-anak sekolah lanjutan akan merayakan pesta natal sebelum tgl.25 Desember dan itu berlangsung hingga saat ini. Dulu pernah ada larangan/anjuran HKBP untuk tidak merayakan Natal sebelum tgl.25 Desember, meski kurang disukai tetapi gereja-gereja HKBP ditempat saya mengikuti untuk tidak merayakan Natal sebelum tgl.25 Desember, tetapi saya kurang faham kenapa tidak dilanjutkan karena kemudian perayaan Natal dilaksanakan kembali sebelum tgl.25 Desember. Menurut saya bila para pengambil keputusan dapat menjelaskan tentang makna Natal yang sebenarnya kepada ruas, pastilah ruas akan mengikuti arahan “uluan”nya. Saya sendiri merasa para pelayan gereja kurang bisa menjelaskan arti minggu-minggu Advent yang sesungguhnya agar ruas lebih memahami minggu-minggu Advent tersebut

  17. Nelson Sidauruk
    November 24, 2008 at 8:33 am

    Setuju sekali jika perayaan Natal dilaksanakan setelah tanggal 25 desember dengan pertimbangan2 :
    1. Jika kita menanyakan kepastian tanggal kelahiran Juru Selamat, tentu kita pun akan bisa menjawab pertanyaan itu sendiri, yaitu kenapa kita tidak melaksanakan perayaan natal pada bulan-bulan yang lain, misalnya oktober, sepetember, agustus..atau bulan2 lain selain desember…? terlalu naif jika kita beralasan, bahwa Yesus tidak pasti tanggal 25 des lahir, jadi suka-suka merayakannya.
    2. Kalender Gerejawi jadi ngawur dan tidak lagi terfokus, padahal para teolog sudah penuh pertimbangan menyusun Kelender Gerejawi untuk mendukung pemeliharaan dan perkembangan Iman Kristen.
    3. Memang di dalam Alkitab, tidak ada tertulis bahwa tgl 25 merupakan kelahiran Jurus Slamat, tetapi jika kita melihat isi Alkitab tentang penciptaan apakah ada tertulis bahwa kita harus beribadah setiap hari Minggu…? tidak ada, yang ada adalah hari sabbath, atau hari ketujuh…. dan hari apakah itu…? sabtu..
    4. Jika kita mendengar ada yg menyebutkan bahwa yang pentingkan Imannya, bukan tanggalnya…? hahahahaha. saya bisa mengatakan hal itu dengan tegas…. ” jangan munafik”, karena berbicara tentang Iman, tidak merayakan Natalpun tidak apa-apa, karena isi alkitab tidak ada tertulis ” barang siapa yang tidak merayakan natal akan masuk neraka”

    Daniel Harahap:
    Hampir saban hari saya minimal menolak satu permintaan merayakan natal sebelum tanggal 25 Desember. Sebenarnya dari segi “ekonomi keluarga” saban kali melakukan penolakan itu sangat “menyakitkan”. Namun saya sudah tekad secara pribadi tidak akan berpesta natal sebelum tanggal 25 (kecuali dua perayaan natal yang sudah saya sepakati beberapa bulan sebelumnya) sebagai tanda kesungguhan hati saya menyatukan doa dan rintihan dengan semua jemaat yang sedang bergumul menantikan penyembuhan, penghiburan dari Tuhan, kelahiran anak, jodoh, pendamaian, dan juga jemaat HKBP yang sampai sekarang tidak diijinkan menempati rumah ibadahnya (al: Mataram, Bekasi Timur, Cisauk). Juga sebagai masa doa saya pribadi dan keluarga.

  18. Albert_Siregar
    January 29, 2009 at 2:12 pm

    Wah, saya merasa senang nich membaca-baca dan menyimak apa yang terjadi dalam konteks ini. Ada Pesta ada Perayaan ada sebelum dan sesudah tgl 25 Des. Pokok e.. semuanya mantap ghitu loh…
    Pada kesempatan dan saat ini saya sarankan, apabila hendak melaksanakan perayaan itu, carilah ketua panitia yang memang berfikir sperti topik diatas dan punya power yang mampu menjelaskan hal-hal tsb. dan mulailah dulu dari parmargaon, parsahutaon.
    Kalau sudah tercipta seperti itu, lama kelamaan Huria akan mengikut juga. Itulah namanya bottom up.
    Saya mendengar cerita tentang sejarah masuknya agama kristen protestan ke salah satu daerah. Anak daerah tsb sekarang sudah pada maju-maju, karena pesatnya kemajuan tsb tidak terbendung lagi, akibatnya banyak anak-anak daerah tsb yang pindah gereja setelah diperantauan, yah…. ini lebih baik dari pada mempertahankan kebiasaan yang tak sesuai lagi dengan zaman sekarang.
    Untuk itu saya sarankan, marilah kita bekerja dan berdoa.

    UNDANGAN :
    Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, kami Panitia “Perayaan Natal & Tutup Buka Taon 2008/2009” Punguan Toga Nainggolan_Siregar, Boru, Bere dan Ibebere sekotamadya Makassar dan sekitarnya masih diberi kesempatan untuk mengundang Bapak/Ibu/Sdr(i) untuk ikut berpartisipasi dalam acara yang akan dilaksanakan pada :

    Hari / tanggal : Sabtu / 07 Februari 2009
    Waktu : Pukul 12.00 WITA s/d selesai
    Tempat : Gedung Sekolah Minggu Gereja HKBP Resort Makassar, Jln Rajawali no14.
    Makassar (Sulawesi Selatan)

    Daniel Harahap:
    Saya sebenarnya mau datang kesana, tapi ongkosnya terlalu mahal dari Serpong. :-)

  19. December 7, 2009 at 11:20 am

    Natal 25 Des (bukan sebelumnya) memang
    — lebih pas
    — lebih tertib
    — lebih ekonomis pula :)

    Senang bahwa gereja reformasi pun membiasakan dirinya mereformasi diri jika memang ada yang perlu direformasi.

    Saya teringat ucapan Pdt Dr Eka Darmaputera (kini alm) bbrp tahun lalu di depan sidang raya gereja Katolik di Caringin, in effect, “Sesudah 5 abad reformasi gereja, kini yang paling memerlukan reformasi adalah gereja reformasi sendiri.” Pendeta Eka memuji gereja Katolik yang terus menerus mereformasi diri sehingga semakin relevan dengan pergumulan dunia terkini.

    Dunia bisnis terus berlari kencang dengan ideologi Continuous Improvement Process, memperbaiki diri terus menerus, termasuk meninggalkan apa-apa yang kurang pas, kurang berkualitas, kurang benar.

    Semoga gereja-gereja Protetan tak semakin jauh panggang dari api tapi semakin pas, semakin kena, dan semakin jitu melayani dunia.

  20. H. Sinaga
    December 7, 2009 at 5:07 pm

    Waktu saya tinggal di Palembang, saya pernah ikut teman ber-natal di salah satu gereja katolik, kami sampai di gereja jam 11.oo WIB 24 Desember, dan acara kebaktian baru dimulai jam 00.oo WIB 25 desember tahun tersebut, ketika saya tanyakan hal itu ke teman saya yang katolik ini, jawabannya adalah bahwa hari Natal adalah tanggal 25 Desember. Seperti disebut sebelumnya. orang-orang beriman sudah sepakat bahwa kelahiran Tuhan Jesus adalah 25 Desember, maka alangkah baiknya jika perayaan Natal itu kita rayakan pada 25 Des dan sesudahnya. Saya selalu mengucapkan selamat ulang tahun kepada istri dan anak-anak saya pada jam 00.oo ketika hari telah memasuki tanggal ulang tahun tersebut. Apakah kita akan mengucapkan selamat ulang tahun kepada seseorang sebelum tanggal dan hari ulang tahun tersebut tiba?. Mengubah kebiasaan lama memang memerlukan waktu dan reserve, tapi kita harus memulai. Mauliate godang.

  21. John hutapea
    December 7, 2009 at 5:15 pm

    Sangat setuju kita kembali ke makna Advent dan Natal yang benar. Jadi Natal tgl 25 Desember setelah melewati empat Advent. Saran saya yang setuju(apalagi sdh baca tulisan diatas dan tulisan lain tentang Natal) kita mulai dari diri/gereja sendiri nanti yang lain “Manut”. kemarin di gereja kami amang Pdt Dta juga sudah menjelaskan hal ini dalam Khotbahnya.

  22. Nakita
    December 9, 2009 at 10:18 am

    Natal anak-anak di HKBP Bintara akan berlangsung 12 Desember.
    Sebenarnya saya setuju juga tentang ide tulisan ini. Namun khusus anak-anak, saya tetap ikutkan karena setting Natal anak berbeda dengan Natal dewasa (yang tgl. 25 Desember 2009).

  23. aris
    December 9, 2009 at 5:03 pm

    Sebenarnya bisa saja diterapkan NATAL dirakan Setelah 25 DES secara menyeluruh oleh Kristen “Protestan” seperti yang telah dilakukan KATOLIK Roma (RK), tinggal kesadaran semua petinggi Greja untuk membuatkan aturan dan penjelasan bagi umatnya masing-masing, hal yang sama juga dialamai oleh Katolik sebelumnya, namun oleh kajian Theologis dan pendekatan para Imam/Pastor terhadap umatnya, maka dapat juga dilaksanakan natal Setelah tanggal 24/25 Des setiap tahunnya (Sebelumnya katolik juga pernah merayakan natal pada masa Advent berlangsung…., (Komitmen bersama)

  24. David Jerry
    December 10, 2009 at 12:36 pm

    Saya setuju tanggal perayaan Natal adalah pada tanggal 25 Desember. Meskipun kita tidak mengetahui dengan pasti tanggal berapa Yesus lahir, tetapi Gereja sudah menetapkan tanggal 25 Desember jauh-jauh sebelum Gereja-Gereja Reformasi lahir pada tahun 1517. Natal ini pun sudah diumumkan ke surga, dan Tuhan Yesus pun tahu bahwa pada tanggal 25 Desember Gereja-Nya merayakan Hari Raya Kelahiran-Nya.

  25. syema
    December 12, 2010 at 11:22 am

    tulisan ini menepatkan hakekat minggu adven sebagai masa refleksi dan perenungan sekaligus penantian akan parusia. praktek yang dilakukan selama ini adalah dalam masa advent dilakukan natal bahkan syukuran natal. masa advent tidaklah sama dengan perayaan natal. jika jemaat memaknai makana advent itu dan mempersiapkan hati maka ketika natal tiba ada sukacita. selamat beradventus , Imanuel Allah beserta kita. makanailah minggu – minggu adventus sebagai moment perenungan.

  26. Tiolina Siregar
    December 7, 2011 at 3:49 pm

    Tak habis-habisnya pro & kontra perayaan Natal sblm atau ssdh 25 Desember. Proses yg sgt panjang akan terjadi, hingga tiba pd kesepakatan bersama, bhw Perayaan/Kebaktian Natal 25 Des. Semua perayaan sejenisnya sebaiknya dilaksanakan ssdh tgl tsb. Bagi banyak org waktu utk perayaan Natal selama Desember, bahkan hingga Januari pun masih kurang, khususnya bagi orang Batak, yg merayakan secara marga per marga, kerukunan tetangga, dll. Biarlah Perayaan Adven 4 minggu sungguh utk mempersiapkan hati dan iman kita menyambut kedatangan Mesias, Juruselamat manusia. Mauliate. Horas!

  27. Tiolina Siregar
    December 7, 2011 at 3:52 pm

    Disarankan semua umat Kristiani merayakan Natal setelah 25 Desember, sehingga umat dapat lebih mempersiapkan hati sebelum tiba pada hari “H” nya.

  28. Tiolina Siregar
    December 7, 2011 at 3:54 pm

    Terlalu banyak perayaan Natal sebelum tiba hari “H”, sehingga makna Natal itu sendiri bisa melemah (menurun), karena sudah terlalu “lelah” baik jasmani maupun “ekonomi” dihari-hari sebelumnya.

  29. vincensius sihombing
    December 10, 2011 at 4:49 pm

    DESAKAN UNTUK MERINTIS DIALOG WELTANSCHAUUNG NATAL
    “IMAN, AKAL SEHAT DAN TRADISI GEREJA”

    LEPASKAN NATAL DARI BISNIS, AROGANSI SPIRITUAL N MOMEN PEMISKINAN IMAN

    sjauh smua denominasi kristen, trtama pimpinannnya insaf akan hakikat natal, tentu sj tradisi mrayakn natal pd 25 des tdk akan treduksi pd determinasi yg bernuansa show of force, “mencari delegitimasi” bagi denominasi trtentu di tenagh keterbatsn byk umat kristen ttg hakikat natal, mbersihkan ritual natal dr dimensi poltik ritual yg dangkl-sempit, apalgi mdjikan natal setara degn seremonial sekularitas sklipun dikemas dgn “dalam nama yesus”, toh yg trjdi adalh pemenuhan hasrat pribadi atau kelompok. akibatnya natak tdk lg mjd peristiwa terang n damai sejati ttpi mjd akrobatik teologis….

  30. sonson
    January 7, 2012 at 5:48 pm

    tapi, bolehkah kita mengkritisi masa Advent yang ditetapkan oleh gereja? bukankah ini juga jadi sebuah tradisi?

  31. jhon
    November 9, 2012 at 1:12 pm

    bukan tanggalnya yang perlu.. bagi saya sendiri natal adalah apakah kamu telah menerima Yesus sebagai Juruslamatmu atau tidak.

  32. aris
    November 20, 2013 at 5:36 am

    Kenapa nggak boleh rayakan natal sblm tgl 25 des? Apakah theologically incorrect? Apakah tgl 25 itu theologically correct?
    Jangan pasang pohon natal sblm tgl 25 donk! Atau pasang status bernuansa natal….pasang yg bernuansa advent……emang ada?
    Lalu kl ada yg merayakan natal sblm tgl 25……pak pdt terus tegur: maaf bp……jgn merayakan natal……ini msh advent…….., jawab aja : …….maap pak pdt…..saya reformed……bukan advent…..:-)

  33. M.SINAGA
    December 2, 2013 at 12:13 am

    Ima da tutu, kalau mengamati komentar dari sebagiaan besar akka umat tadi, sdh kelihatan titik terangnya.Tinggal tehnis pelaaksanaanya dan
    ada keinginan yang kuat untuk memulainya.Mari kita biasakan mengorbankan, merelakan, bahkan sampai merugikan secara ekonomi pun harus kita relakan demi waktu untuk menyambut dan merayakan kedatangan Yesus.tapi yg terjadi sekarang ini, kita yang set/atur/arange supaya sesuai keinginan badaniah kita,disitulah akarnya dabo….!Kalau semakin banyak orang pergi kegereja, tentu ada kegembiraan akan iman yang menyebar kesesama,tetapi jika perayaan natal semakin “rame”yg merayakannya,natal punguan marga,natal INA, Natal AMA, Natal Remaja,Natal warga ini, Natal PT.ini, Natal Instansi ini,bukankah ini yang namanya semakin mengkotak-kotak dan
    menegaskan batasan si anu dan si itu,jadinya natal seperti “show”
    ma ate lae…!Didiado makna natalnai,,, Boasa ikkon asing natalni buruh,natalni pangaratto, natalni par beacukai,labu tu lelengna adong ma muse natalni anggota Dewan,dang boi hita biasakan marsada roha disude akka perbedaan di joloni Tuhani.Nasa RT pe beda-beda perayaan natalna, asa bohama maksudni????.Jadi para hamba Tuhan lah
    yang harus memulainya,,dengan cara bagaimana? inilah tantangan,,,
    jangan hanya “emenamasak igagat ursa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *