Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Sinode Godang HKBP mirip pasar tradisional atau onan: hiruk-pikuk, semrawut dan juga jorok? (sekaligus menyenangkan)?
Sinode Godang HKBP tak ubah kongres atau konferensi partai politik: penuh intrik, manuver, dan jangan-jangan juga money politics. Sinode Godang HKBP tak ada bedanya dengan pesta perkawinan Batak: sesak padat, show penampilan, adu kuat suara, dan sangat bertele-tele. Begitulah kritik yang sudah terlalu acap terdengar terhadap perhelatan empat tahunan (dulu dwitahunan) gereja Protestan terbesar di Indonesia ini. Sinode Godang kadang mirip tawuran anak sekolah? Ah janganlah.
Sebagai seorang peserta Sinode Godang, saya tidak menyangkal semua kritik tajam terhadap Sinode Godang HKBP itu. Sebagian atau hampir seluruhnya ada benarnya. Namun saya berani mengatakan hal itu bukan disengaja. Namun tetap ada tanya mengapa dibiarkan berlangsung lama sampai sekarang?
Selalu berlangsung di seminarium (persemaian) Sipoholon, kurang-lebih sepuluh kilometer dari Tarutung, Sinode Godang HKBP terakhir dihadiri tidak kurang dari 1300 (seribu tiga ratus) orang peserta. Kapasitas Auditorium HKBP di Sipoholon padahal hanyalah 800 (delapan ratus) orang, disusun rapat memakai kursi ala ruang kuliah termasuk di balkon. Itu artinya ada lima ratus (!) orang peserta yang tidak kebagian tempat duduk di dalam gedung, dan karena itu harus duduk di emperan atau teras yang penuh tiupan angin “pengantuk” lembah Silindung. Dan wajar sekali jika sebagian peserta yang tidak kebagian tempat di dalam, atau tak kuat duduk berdesakan dalam ruang, sengaja tak sengaja memilih duduk-duduk di kantin-kantin dadakan yang selalu muncul saat sinode atau rapat besar di Sipoholon. Suasana disitu pastilah lebih menyenangkan dan melegakan, apalagi ngobrol dengan kawan-kawan lama seiman.
Suasana di dalam ruangan tak menjadi lebih aman dan nyaman dengan perginya menyingkirnya sebagian peserta sinode ke kantin, atau malah ke tempat pemandian air panas (aek rangat), atau membuat rapat-rapat kecil tak resmi di pemondokan atau hotel atau restoran sekitar Tarutung. Dalam ruangan masih tetap ada delapan ratus orang yang semuanya pada dasarnya ingin berbicara dan didengarkan, dan jika sudah dikasi kesempatan berbicara sangat sulit mengendalikan diri dan dihentikan. Jika satu orang peserta diberi kesempatan berbicara tiga menit saja untuk satu topik bahasan maka dibutuhkan paling sedikit 2400 menit atau 40 puluh jam. Sinode Godang sementara itu bisa harus membahas dua puluh topik. Maka itu artinya diperlukan 800 jam atau lebih dari : tiga puluh hari tiga puluh malam atau sebulan bersinode.
Sinode Godang terdiri dari sidang pleno dan sidang-sidang kelompok. Kadang dalam suatu sinode dibentuk tiga kelompok untuk melakukan pembahasan lebih mendalam. Peserta sinode 1400 orang. Artinya jika harus dibagi tiga kelompok maka satu kelompok lebih dari 400 orang. Apa dan bagaimana melakukan pembahasan mendalam terhadap suatu masalah dengan 400 orang? Alhasil yang terjadi lagi-lagi ketidakseriusan. Masalah bertambah parah sebab kampus seminarium tidak punya ruang sidang kelompok, sehingga sidang-sidang kelompok harus dilakukan di teras auditorium yang rawan angin dan tempias hujan. Dan semua orang yang belajar teknik persidangan tentu tahu betul bahwa rapat yang dilakukan di ruang terbuka tanpa dinding sangat mudah buyar perhatian.Lantas kualitas apa yang bisa diharap dari sidang kelompok Sinode Godang HKBP?
(bersambung)
Share on Facebook
Apakah SG HKBP harus di Sipoholon ?. Bila memang bisa diselenggarakan ditempat lain, ada baiknya sekali waktu diadakan di Palembang saja. Palembang sudah beberapa kali menjadi tempat perhelatan HKBP secara nasional. Lagi pula setiap penyelenggaraan SG HKBP, walaupun tak seberapa selalu ada kontribusi pendanaan dari Palembang dan kami jemaat sangat senang dalam hal ini. Semoga saja bisa SG HKBP di Palembang
Oleh sebab itu kepada para Sinodistan kami minta agar tetap mengingat dan melaksanakan nasihat Rasul Paulus berikut ini: “Janganlah kamu serupa dengan dunia ini….” agar Sinode Godang HKBP tidak ubahnya seperti kongres partai politik, pasar tradisional, dsbnya.
Memungkinkankah pelaksanaan sinode godang ke depan dengan memanfaatkan kemajuan IT? Daripada mengumpulkan 1300 orang ke Sipoholon (bisalah awak
bayangkan itu); wong di sermon, rapat seksi, rapat huria, rapat resort dll yang jumlah pesertanya tidak sebanyak itu saja; sudah susah kali kita fokus dan konsentrasi mengikutinya dengan baik, apalagi dihadiri 1300 orang lebih. Dan bisalah awak bayangkan pulak itu, sebagian besar peserta SG sudah lama tidak saling ketemu kolega, sudah lama tidak pulang kampung dll; sehingga sangat terbuka kemungkinan “sambil menyelam minum air”, sehingga kehadiran, peran serta dll di SG kurang optimal.
Menurut hemat saya, alangkah lebih baik ke depan, kita gunakan kemajuan IT untuk “mensiasati” pelaksanaan SG ke depan yang lebih berkualitas. Misalnya dengan menggunakan semua media yang ada untuk pemaparan laporan pelaksanaan program, visi dan misi calon-calon unsur pimpinan, program kerja dll, setelah itu diberikan kesempatan untuk “mereply” (menanggapi) kepada semua pihak yang berkompeten. Jika hal ini bisa diwujudkan, menurut hemat saya, semuanya bisa transparan (songon indahan di palastik), tidak ada lagi “rapat-rapat” setengah resmi, pembicaraan yang bertele-tele disertai dengan ekspresi yang kadang kurang menarik dapat diminimalkan, dan sinyalemen akan adanya “money politics” juga dapat diminimalkan.
Satu hal yang saya amati, memang “susah” kalipun orang Batak itu menghilangkan “tradisi” harus “patampaktampak bohi” dalam memperbincangkan segala sesuatu. Dan susah kalipun membiasakan untuk menulis gagasannya, kelihatannya orang kita sebagian besar masih lebih memilih hadir dan berbicara langsung (disertai dengan intonasi dan bahasa tubuh pulak) untuk “mangultophon” ide atau pendapatnya. Sehingga untuk saat ini, saya masih pesimis untuk melaksanakan SG tanpa melibatkan kehadiran 1300 orang peserta. Semoga generasi-generasi berikutnya bisa mewujudkan “mimpi” ini.
Horas.
Sebagaiman layaknya suatu pertemuan, sangat diperhatikan komponen peserta, selain komponen lain. Nah, saya pribadi tidak tahu sebenarnya siapa saja yang ditentukan mengikuti Sinode. Ini pasti terkait dengan tujuan sinode. Mungkin komponen peserta ini dapat ditinjau ulang dengan tidak mengubah terlalu signifikan tujuan Sinode. Saya merasa pasti para piminan HKBP sudah memiiki kompetensi terkait dengan persidangan. Mana pula ini adalah tahun stewardship. Bukankah hal ini juga termasuk yang harus ditingkatkan? Penetapan kriteria peserta, alur/sistim yang harus dilalui oleh peserta, hak-kewajiban yang melekat pada peserta dst. Sekjen HKBP pasti sudah mencermatinya. Semoga ulasan yad lebih bermanfaat.
Ini selalu yang menjadi tantangan besar kerohanian kita. Sesudah setuju dan amin dengan pembaharuan budi kita seturut imbauan Roma 12: 1-2 kemarin, sekarang tibalah kita pada pembaharuan (perbaikan, improvement, inovasi, kaizen kata orang Jepang) di segala bidang:
– proses berjemaat (koinonia, marturia, diakonia)
– administrasi
– keuangan
– kepemimpinan
– dan 100 hal lainnya
Yang selalu tak habis pikir buat saya ialah: kenapa bangso yang mengandalkan semangat Zen, Buddhisme, dan Shintoisme (Jepang itu) jauh lebih unggul kinerjanya daripada bangso yang konon mengandalkan semangat Alkitabiah (HKBP dkk).
Soal bagaimana bersidang, satu saja contohnya: Matsushita Group biasa melakukan konferensi yang dihadiri 6.000 orang, dan tertib.
Padahal kita diwajibkan pula: menjadi teladan (garam dan terang)
Amangoi Amang …
@ E.P. Nainggolan: Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.
@ J.P. Manalu: Setuju dengan pemanfaatan teknologi IT. Lebih efisien, lebih praktis, dan lebih terkoordinir. Daripada mengumpulkan 1.300 orang dalam satu tempat, sementara yang serius mengikuti jalannya Sinode katakanlah cuma 500 orang buat apa? Itukan suatu pemborosan. Tiap-tiap gereja telah mengeluarkan uang +/- Rp.2.000.000,- u/transportasi & akomodasi, tapi nyatanya utusannya tidak serius mengikuti Sinode. Buat apa?
Pak Sinamo, katanya sich bila melompat tak usah melompat dengan jarak besar. Nanti malah jatuh. Nah, yang saya maksud Sinode yad dilaksanakan dengan beberapa inovasi terhadap “modal” yang ada dulu. bila tindakan begini dilakukan terus menerus, kan akhirnya sum lompatannya juga besar. Apalagi bangsa/ras yang kita cintai ini sangat sensitif atau malah alergi terhadap PERUBAHAN. Penjaga Rumametmet mau mulai, kita kasih asupan Yuk!
Sungguh bagus masukan-masukan yang diberikan teman-teman diatas, dan semoga menjadi pendorong terhadap perbaikan pelaksanaan SG HKBP di masa mendatang. Namun perlu juga dipikirkan apakah memang kondisi tersebut memang disengaja oleh Panitia dan pihak-pihak yang berkepentingan atau karena keterbatasan panitia dalam mengelola acara SG tersebut.
Daniel Harahap:
Saya berani mengatakan tidak ada unsur kesengajaan disana.
Peserta sinode dibatasi saja per distrik dan resort dan disesuaikan dengan AP HKBP, memang mengkoordinir peserta 1300 orang bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi fasilitas rapat yang kurang memadai dan setiap distrik mempunyai juru bicara yang akan menyampaikan opini dlsbnya.
Kalau boleh usul, sebaiknya peserta SG bukan lagi utusan resort spt selama ini, tp peraturannya diubah menjadi utusan distrik. Tiap distrik cukup diwakili 5 orang, yaitu praeses, 1 orang pendeta, 1 orang sintua, 1 orang utusan parompuan, dan 1 orang utusan naposobulung.
Jika skrg di HKBP ada 26 distrik, berarti utusan distrik hanya 130 orang. Ditambah dgn unsur Pimpinan, utusan dari pusat dll., taruhlah sekitar 20 orang, berarti total peserta SG hanyalah 150 orang. Tentu jauh lebih mudah (dan lebih murah) dibanding 1300 orang peserta.
Untung menampung aspirasi dari tiap huria dan resort, sebaiknya sinode distrik dan sinode resort lebih dioptimalkan, dan berfungi sebagai “sinode pendahuluan” di tingkat lokal (atau meminjam istilah olahraga, semacam “babak penyisihan” dalam sebuah turnamen). Mudah-mudahan para petinggi HKBP bersedia memikirkan hal ini.
Intinya, seperti banyaknya para penatua tidak pernah siap menyampaikan Firman ALLAH bilamana dibutuhkan (“holan manjaha sian bungku impola jamita”), sinode godang (SG) juga demikian , tidak ada persiapan yang matang, hanya mengandalkan semangat.
Bila panitia atau para pendeta berfikir dalam perencanaan, tentunya sudah ada prakiraan berapa jumlah peserta yang akan datang, dan tentunya bila telah ada perencanaan, bisa ditambahkan tenda atau ruangan sementara yang dapat di bongkar pasang serta di tambahkan audio yang dapat diperdengarkan ke seluruh area SG dan di tambahkan CCTV sehingga seluruh peserta SG dapat menyaksikan seluruh acara yang ada melalui Layar TV yang ada di hadapan mereka, walaupun tidak masuk ruangan.
Ribut? Itu sich sudah tradisi halak batak, semua mau bicara, semua mau mendapat pelayanan yang terbaik, semua ingin dapat fasilitas yang terbaik, yang berpola pada psikologi Egoisme yang sangat tinggi dan tidak dapat merendahkan hati, alias tidak ada satupun yang bersedia mengikuti pola pikir Yesus Kristus.
Dengan kata lain, SG ini hanya untuk menonjolkan Ego (pengetahuan, materi, jabatan, dan lain-lain) dan bukan untuk meningkatkan pelayanan dan contoh kepada Jemaat.
Daniel Harahap:
Ini Tarutung Lae!
@Ando: Saya setuju 100% usul anda, saya kira apa yang anda sampaikan sangat tepat. Semoga usul pak Ando mendapat perhatian yang serius dari para pimpinan HKBP.
Dengan cara bersinode yang sekarang tidak akan pernah efektif untuk menghasilkan yang terbaik buat HKBP, tidak heran HKBP yang katanya “besar” tapi tidak menghasilkan apa-apa bagi bangso Batak baik dalam kwalitas kerohanian, apalagi pengembangan sosial, budaya dan ekonomi. Bahkan dengan sumber daya yang ada, kita cenderung mundur, lihat saja, sekolah-sekolah yang dibangun dari dana jemaat, sekarang diterlantarkan!
Kenapa sekolah milik gereja dan agama bisa maju sementara sekolah HKBP sekarang terbengkalai? Bukankah jika sekolah ini maju bisa membuka lapangan kerja bagi jemaat HKBP?
Kenapa organisasi agama lain yang jemaatnya tidak seberapa itu bisa menggerakkan dan mengembangkan ekonomi jemaatnya, sementara Jemaat HKBP terutama di Tapanuli, setua ini belum pernah diberdayakan ekonominya. Jangankan mengembangkan ekonomi jemaat, Kenapa gereja lain bisa membuat CU untuk membantu ekonomi jemattnya, sedangkan…HKBP…. ;(
Jadi, SG selama ini untuk apa?
Daniel Harahap:
Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada mengutuki kegelapan. Lebih baik menanam sebatang pohon daripada hanya meratapi hutan yang hilang.
@Ando, saya setuju peserta SG diwakili distrik aja, tapi usul juga biar satu mewakili ama. Kenapa wakil ina & naposobulung ada, sementara ama tidak? Apakah ama tidak perlu diwakili?? Karena praeses juga uda ada ina. Makasih.
Usul saya, study banding aja amang dengan system gereja lain yang lebih efisien seperti GPIP atau Katholik misalnya, sinode itu kan universal!