Oleh: Pdt Daniel T.A. Harahap
Sinode Godang adalah rapat terbesar dan tertinggi di HKBP. Tujuannya adalah mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut seluruh HKBP. Salah satu keputusan yang penting itu adalah rencana induk dan rencana strategis HKBP yang berlaku bagi tak kurang 2 juta jiwa umat HKBP yang dilayani melalui 3000 jemaat, 600 ressort dan 26 distrik. Pertanyaan serius: dengan kondisi sebagaimana dipaparkan dalam bagian pertama dan kedua tulisan ini apakah Sinode Godang mampu melahirkan rencana induk dan rencana strategis yang benar-benar berbobot?
Berhubung pemilihan berdasarkan voting atau suara terbanyak (dan itu digariskan oleh Aturan) maka seperti di tempat lain di manapun juga di dunia ini, maka wajar saja jika ada usaha-usaha dari calon yang bersangkutan, tentu saja secara halus dan lembut, untuk mempengaruhi orang lain memilih dia. Saya katakan secara halus dan lembut, karena dalam gereja ambisi yang terlalu tinggi apalagi telanjang dianggap kurang baik. Mengkampanyekan diri sendiri secara lantang kurang bisa diterima banyak orang. Namun pertanyaan sebaliknya: jika memang yang bersangkutan tidak ingin orang lain memilihnya mengapa mencalonkan diri? Jika yang bersangkutan sangat pasif bukankah keseriusannya mencalonkan diri justru harus diragukan?
Pemilihan di Sinode Godang HKBP pun tanpa disadari dan tanpa disengaja ikut berubah. Pemungutan suara atau votingnya sendiri sudah lama dikenal dan dihayati di Sinode Godang HKBP. Yang baru atau setengah baru adalah teknik kampanyenya. Jika jaman dulu kampanye dilakukan secara sangat tersamar dan terselubung serta rahasia maka kini – akibat perkembangan masyarakat dan teknologi – dilakukan jauh lebih terbuka dan terang-terangan serta menggunakan teknologi (ponsel salah satunya).
Sejalan dengan itu pemenangan calon dilakukan sejak dini dan dengan organisasi yang lebih rapih. Walaupun tidak pernah formal mengumumkannya (apalagi pendanaannya) namun hampir semua pendeta dan sintua utusan Sinode Godang merasakan adanya beberapa Tim Sukses. Biasanya TS ini dimotori oleh para pendeta muda (dengan berbagai motif: mulai dari idealisme, antusiasme, aktualisasi diri, sakit hati, hingga ambisi pindah ke kota dll) dan para sintua utusan SG yang memiliki kedekatan pribadi dengan calon dan siap memberikan dana. Saya tidak begitu percaya adanya “politik uang” di HKBP, namun saya percaya bahwa setiap TS dari calon manapun juga pasti membutuhkan dana untuk biaya komunikasi dan perjalanan mensosialisasikan (bahasa halus mengkampanyekan) calonnya. Pertanyaan saya menggelitik: dari mana sumber dana itu dan bagaimana pula akuntabilitasnya? Tuhanlah yang tahu.
Menjelang Sinode Godang masing-masing kelompok pun biasanya menggelar pertemuan-pertemuan informal dan semiformal dalam rangka sosialisasi dan konsolidasi. Yang hadir bukan hanya para pendeta namun juga sintua dan anggota jemaat biasa sebagai simpatisan dan penyandang dana. Masing-masing calon pun berusaha tahu siapa yang hadir di pertemuan siapa. Atau: siapa mendukung siapa. Dari sinilah berkembang pemahaman “kawan” atau “bukan kawan”. Bahasa Bataknya: “dongan” manang “ndang dongan”. “hita” manang “ndang hita”. Pendeta HKBP pun tersekat-sekat. Hubungan antar pendeta apalagi yang belum jelas pengelompokannya lantas diwarnai kecurigaan dan kehati-hatian serta kewaspadaan.
Namun separuh dari anggota Sinode Godang yang berjumlah 1300 orang itu bukan pendeta. Mereka adalah sintua. Boleh dikatakan mereka sebenarnya tidak kenal banyak pendeta-pendeta HKBP yang pantas menjadi Eforus, Sekjen, Kadep apalagi Praeses. Paling-paling yang mereka kenal adalah pendeta yang pernah tugas melayani di jemaatnya atau berkotbah di tempatnya. Sebab itu para calon Pimpinan apalagi calon Praeses harus memperkenalkan diri. Namun bagaimana caranya memperkenalkan diri kepada 650 orang secara singkat, mudah dan murah? Jika belum terlalu terkenal ya cetak saja kartu nama dan bagi-bagikan. Soal diingat atau dilupakan terserahlah.
.
Pertanyaan: apakah sumber informasi bagi para anggota Sinode Godang yang bukan pendeta ini menentukan pilihannya? Pertama: saran pendeta ressortnya. Sebab itu banyak utusan Sinode Godang yang sintua datang ke bilik pencoblosan membawa contekan).
Kedua: permargaan. Sebab itu para calon kadang sengaja memberitahu selain marga istrinya juga marga ibunya kalau perlu juga marga mertua dan menantu. Ingat ada pameo: manghuling do mudar (darah itu berbunyi).
Satu lagi: suhar bulu tarihon dongan suhar tarihoniba.
Lantas apakah sumber para pendeta menentukan pilihan? Mayoritas pendeta yang datang ke Sinode Godang adalah pendeta ressort. Sebagian mereka bertugas di kota besar dan sebagian lagi di desa atau kota kecil. Selain berdasarkan idealisme dan hati nurani, maka jujur saya katakan pilihan juga bisa ditentukan berdasarkan kepentingan pribadi si pendeta ressort. Jika si pendeta ressort kebetulan di desa dan ingin segera pindah dari desa, maka boleh jadi dia berharap bila yang dipilihnya menang maka dia pun dapat prioritas pindah ke kota besar, Medan atau Jakarta misalnya. Namun sebaliknya jika dia sedang di kota besar dia boleh jadi berharap bila calonnya menang dia tidak dipindahkan ke desa. Namun saya harus baru-buru mengatakan: tidak semua demikian. Masih banyak pendeta HKBP yang tetap menekankan integritas, kebebasan dan suara hati dalam pemilihan ini.
Sejak tahun 2004 proses penyaringan pimpinan HKBP sudah dimulai dari bawah. Sinode Distriklah yang memilih calon Pimpinan (eforus, sekjen dan tiga kepala departemen). Tanpa dicalonkan dari distrik maka nama seseorang tidak bisa muncul di Sinode Godang. Maksudnya baik, yaitu agar calon pimpinan HKBP tidak merupakan calon dadakan hasil rekayasa sesaat melainkan tokoh-tokoh yang berakar kuat di bawah. Selain itu penyaringan di bawah ini menyederhanakan dan mempermudah pemilihan di Sinode Godang sekaligus tentunya memperkuat posisi Sinode Distrik (otonomi daerah). Namun efek sampingannya: kegiatan “politik gereja” sudah dimulai dari bawah dan lebih dini dari segi waktu. Berhubung pencalonan sudah dilakukan dari distrik maka friksi di kalangan pendeta HKBP pun otomatis sudah dimulai sejak berlangsungnya sinode distrik.
Antara sinode distrik dan sinode godang ada rentang tiga bulan. Selama itu praktis seluruh enerji dan perhatian HKBP (baca: pendeta HKBP) sudah tertuju kepada pemilihan. Akibatnya banyak pelayanan terkesampingkan atau terabaikan.
Pantas dicatat: salah satu yang paling paling berperan dalam Sinode Godang HKBP adalah ponsel atau hendpon. Teknologi yang satu ini tanpa disadari berfungsi sangat penting dan menentukan dalam pemilihan. Beberapa bulan sebelum Sinode telah beredar sms-sms mengarahkan utusan memilih calon tertentu atau sebaliknya menyindir calon lain. Sebagian sms jelas mencantumkan nama, namun sebagian lagi tidak diketahui identitasnya. Bahkan ada yang memakai SMS broadcasting yang terus-menerus dikirim untuk menanamkan pesan. Berhubung dalam Aturan HKBP tidak ada larangan memakai hendpon selama sidang, maka ponsel juga dipakai untuk mengirimkan “instruksi” kemana suara harus diberikan.
Bagaimanakah respon warga jemaat terhadap keadaan ini? Tunggu di posting berikut.
(bersambung)
Tulisan ini sangat benar dan berani mengungkapkan keadaan sebenarnya ttg sinode godang. Bagaimana kalau sinode dan pemilihan hanya diikuti oleh praeses dan parhalado pusat dan utusan distrik? Seperti pemilihan Paus pada katolik, hanya di ikuti oleh uskup agung!
Soal balas budi terhadap pendeta yang memilih eporus, sudah lama bergaung di jemaat, ketika terpilih eporus baru, maka diikuti oleh mutasi pendeta resort, dan pendeta yang bertugas sebagai Tim Sukses akan mendapat “lahan basah” dikota besar. dan dia juga mungkin memberi usul kepada eporus supaya memindahkan “lawannya” ke pedalaman.
Inilah pekerjaan rohani tetapi kadang dilakukan tidak rohani.
mauliate atas tulisan nya.
Menambahi comment amang Siregar,di greja kamipun terdengar juga berita seperti ini.
Saya pikir tadinya ini hanya gossip murahan, ga taunya membaca tulisan amang….
Apakah kondisi tersebut masih kita pertahankan amang? Sebagai masukan saja amang, sudah pernahkah amang “petakan” berapa persen pendeta dan atau menginginkan adanya perubahan akan pelaksanaan SG? Saya khawatir sebagian besar utusan SG sudah ‘nyaman’ dengan kondisi ini. Jika memang sebagian besar masih ingin bertahan, daya khawatir saja; amang malah ‘asing’ sendiri dalam komunitas. Tapi kita tetap semangat ya amang untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan!
HKBP penuh dengan orang pandai, orang bijak, dan orang kaya: apa pun bisa dilakukan bersama untuk menjadi HKBP yang apik, resik, dan rahmatan buat Indonesia.
Saya menyediakan 10 jari-jari dan 1 wajah untuk bertepuk-tangan dan memberi cheers yang antusias
Selamat Siang Bapak Pendeta.
Tadi saya mengirimkan comment, tetapi saya perhatikan tidak di publikasikan.
Mengapa yah bapak?
Apakah commentya terlalu benar, atau terlalu tegas, atau mungkin dapat mempengaruhi suhu politik di Sinode Godang?
Terima kasih
Hormat saya,
Hasiholan.
Inilah realita kita dalam ber-HKBP setelah hampir berusia 150 tahun. Semoga Jubileum ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk berbenah diri, daripada sekedar berhura-hura dan mencoba memuaskan diri dengan realita di atas.
HKBP perlu meniru Katolik dalam pemilihan pimpinannya.
Semoga para pendeta HKBP ada juga yg baca tulisan diatas. Memang sangat mengkhawatirkan kalau kondisi diatas dipertahankan.
Harapan kita semua, semua keputusan yang perlu diambila melalui SG benar-benar sesuai dengan konsep Alkitab dan teratur.
Salam,
H. Tampubolon
Dalam pengarahan Sinode Godang (SG) 2004 telah disepakati agar CV (Curriculum Vitae) dari seluruh calon dan bakal calon yang diajukan distrik agar dimasukkan dalam dokumen dan dibagikan kepada anggota SG. Namun, sampai SG ditutup CV itu tidak kelihatan.
Dalam SG 2004 masih dilaporkan calon dan bakal calon diajukan oleh distrik tertentu dan jumlah distrik yang mencalonkannya. Pada SG 2008 itu tidak ada lagi.
Tahap awal SG pesertanya pendeta resort+pucuk pimpinan saja, ruas2 cukup berdoa dan support huria di ajang yang lain aja. Karena jendral di masyarakat mau jenderal juga di huria, karena bupati di masyarakat mau bupati juga di huria dll. Pikirkan juga aturan penempatan pendeta sistem rotasi kalau perlua buat golongan-nya seperti PNS, berikan insentif untuk daerah terpencil (klo nggak salah konsep ini sudah dipersiapkan Ompui SAE dulu, teruskan perjuangan beliau yang tertunda demi kebaikan HKPB ke depan)
Selama belum benar benar terpanggil untuk melayani umat Tuhan , maka wajarlah terjadi hal hal tersebut , tapi ketika seseorang apalagi dia seorang pendeta benar benar menjadi pelayan di ladang Tuhan , maka ke manapun si pelayan itu ditempatkan tdk akan pernah merasa kecewa . Jadi sudahkan para Pendeta & para parhalado kita ini terpanggil sebagai pekerja di ladang Tuhan?